Berita Terkini

Dituding Perusak dan Anti Pancasila, Deklarasi FPI Semarang Dijegal

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Rencana pembentukan Front Pembela Islam (FPI) di kota Semarang, Kamis (14/4/2017) mendapat reaksi penolakan oleh beberapa ormas. Mereka menuding FPI anti Pancasila dan dapat merusak kota Semarang.

Menanggapi itu, Zainal Petir, ketua advokasi FPI Jawa Tengah mengatakan, penolakan tersebut tidak berdasar. Menurutnya FPI adalah organisasi kemasyarakatan yang sedang memperjuangkan moral Pancasila.

“Penolakan itu menurut saya tidak berdasar yang katanya anti pancasila, padahal FPI itu adalah organisasi kemasyarakatan yang pancasilais,” tegasnya saat ditemui jurniscom di rumahnya, Jl Pergiwati I no. 19 Bulu Lor Semarang Utara, Kamis (13/4/2017).

“Seringkali kita menghalau kegiatan-kegiatan yang berbau komunis,” tambahnya.

Ia mengatakan, sikap anarkis yang disematkan juga oleh berbagai ormas ini salah alamat. FPI, kata dia, sudah membangun organisasi yang lebih humanis dan menjauhi sikap anarkis.

“Kalau anarkis itukan oknum, makanya saya selalu minta teman-teman FPI jangan anarkis, kita sudah bangun FPI yang humanis,” terangnya.

Diketahui, pihak kepolisian datang untuk menjembatani penolakan ormas dan FPI sendiri. Kendati FPI sudah membantah dengan tegas alasan berbagai ormas, FPI lebih memilih untuk membubarkan diri untuk alasan keamanan dan kondusifitas.

Rusia Panik Negara Balkan Gabung ke NATO

MOSKOW (Jurnalislam.com) – Kementerian luar negeri Rusia pada hari Kamis (13/4/2017) memprotes Amerika Serikat bahwa aksesi Montenegro ke NATO adalah “kesalahan fatal” yang menciptakan perpecahan di Eropa.

Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menandatangani aksesi oleh negara Balkan ke Pakta Pertahanan Atlantik Utara pada hari Selasa “mencerminkan logika konfrontasi di benua Eropa dan menciptakan garis pemisah yang baru,” kata kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan, lansir World Bulletin.

“Kami menganggap bergabungnya Montenegro dengan NATO sangatlah keliru, secara fundamental melawan kepentingan masyarakat di negara ini dan membahayakan stabilitas di Balkan dan di Eropa secara keseluruhan,” katanya.

Populasi Montenegro, di Laut Adriatik, kebanyakan adalah Orthodox Slavia dan Moskow telah lama menganggapnya sebagai wilayah yang berada di bawah pengaruhnya.

Gedung Putih pada hari Rabu berbalik menuduh Moskow berada di balik percobaan kudeta selama pemilihan Montenegro bulan Oktober, yang mengakibatkan sekelompok warga Serbia dipenjara bulan lalu.

Jet Tempur AS Bunuh 18 Pasukan Koalisinya di Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – Serangan udara oleh koalisi yang dipimpin A.S. menewaskan 18 pejuang Kurdi di Suriah, kata militer Amerika dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis (13/4/2017).

Serangan tersebut salah menargetkan posisi IS dan malah mengarah ke posisi Pasukan Demokratik Suriah di selatan Tabqah, Komando Pusat A.S. mengatakan insiden “tragis” tersebut. Pasukan Demokratik Suriah (the Syrian Democratic Forces-SDF) yang sebagian besar Kurdi didukung oleh AS dalam pertempuran untuk merebut Raqqa dari IS.

“Ucapan dukacita kami sampaikan kepada anggota SDF dan keluarga mereka,” kata pernyataan tersebut. “Koalisi berhubungan erat dengan mitra SDF kami yang telah menyatakan keinginan kuat untuk tetap fokus pada perang melawan IS meski terjadi kejadian tragis ini.”

Serangan tersebut merupakan ketiga kalinya dalam sebulan A.S. atau mitranya menyerang warga sipil atau pasukan sekutu mereka dengan konsekuensi mematikan.

Pada pertengahan Maret, puluhan warga sipil dilaporkan tewas saat sebuah masjid di Aleppo dibom jet tempur AS. Militer A.S. mengatakan bahwa pihaknya menargetkan sebuah pertemuan al-Qaeda di daerah tersebut namun salah sasaran, penyelidikan atas kematian puluhan warga sipil yang sedang sholat sedang dilakukan.

Bunuh 58 Anggota Jamaah Tabligh Sedang Shalat, Rusia: Serangan Udara di Masjid Aleppo oleh AS

Beberapa hari kemudian serangan udara lain di Mosul, Irak, dilaporkan membunuh lebih dari 100 warga sipil saat serangan udara A.S. diyakini telah menghancurkan sebuah bangunan. Serangan itu juga sedang diselidiki.

Komandan koalisi Letnan Jenderal Stephen Townsend mengatakan pada akhir Maret bahwa militer A.S. “mungkin memiliki peran dalam jatuhnya korban ini” karena organisasi internasional telah mendesak koalisi untuk menghentikan meningkatnya korban sipil.

Serangan yang salah arah tersebut menimbulkan pertanyaan tentang apakah peraturan kerja sama dalam operasi di Suriah menjadi lebih santai di bawah Presiden Donald Trump, yang menjanjikan sebuah operasi yang tak henti-hentinya di sana.

Pasukan Irak Kuasai Benteng Strategis IS

NINEVEH (Jurnalislam.com) – Pasukan Irak telah menguasai beberapa wilayah Al-Tanak di kota Mosul, Irak utara, kata seorang pejabat polisi kepada Anadolu Agency, Kamis (13/4/2017).

Pasukan khusus yang berafiliasi dengan tentara Irak terlibat bentrokan selama lebih dari 13 jam hingga Kamis siang dengan gerilyawan Islamic State (IS) di lingkungan tersebut, yang dianggap sebagai salah satu benteng terpenting IS di bagian barat kota, Kapten Polisi Said Kamel al-Alusi mengatakan.

Tujuh jalan di lingkungan tersebut dikuasai kembali, al-Alusi mengatakan, menambahkan bahwa pasukannya membunuh 15 milisi IS dan menangkap tiga lainnya; Mereka juga menghancurkan sebuah mobil penuh bahan peledak dimana seorang pembom mencoba untuk menargetkan tentara Irak.

Seorang kapten polisi juga tewas dan empat lainnya cedera dalam operasi tersebut, tambahnya.

Mengenai koalisi pimpinan A.S. yang berkoordinasi dengan pasukan Irak dalam operasi Mosul, al-Alusi mengatakan: “Kondisi cuaca buruk di kawasan ini mengurangi serangan udara pesawat tempur koalisi internasional terhadap situs-situs yang didominasi IS di Mosul barat.”

Bentrokan diperkirakan akan terus berlanjut di daerah tersebut.

Dalam perkembangan terkait, komando polisi federal mengumumkan pada hari Kamis bahwa pasukan Irak menembus kota tua tersebut hingga Masjid Nuri di bagian barat Mosul.

“Polisi federal menembus kota tua tersebut dan membunuh 13 milisi, serta menghancurkan 7 kendaraan IS yang terjebak dalam kegelapan di Bab al-Jadid menuju Masjid al-Nuri di Mosul barat,” komandan polisi Mayor Raed Shaker Jawdat mengatakan dalam sebuah pernyataan singkat.

Dia menambahkan: “Polisi federal berhasil menembak jatuh sebuah drone IS di distrik Al-Tayaran utara dan meluncurkan serangan artileri yang menargetkan markas besar IS di kota tua tersebut.”

Pada bulan Februari, pasukan darat Irak – yang didukung oleh koalisi pimpinan A.S. – memulai operasi baru yang bertujuan mengeluarkan IS dari Mosul barat, benteng terakhir kelompok tersebut di Irak utara.

Serangan tersebut merupakan bagian dari operasi lebih luas yang diluncurkan Oktober lalu untuk merebut kembali seluruh kota, yang dikuasai IS pada pertengahan 2014.

AS Jatuhkan Bom Non-Nuklir Terbesar di Afghanistan

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Militer A.S. menjatuhkan bom non-nuklir terbesar di gudangnya pada target kelompok Islamic State (IS) di Afghanistan, Pentagon mengkonfirmasi pada hari Kamis (13/4/2017).

Ini adalah pertama kalinya GBU-43 yang dijuluki “ibu dari semua bom” digunakan, juru bicara Pentagon, Adam Stump mengatakan kepada Anadolu Agency.

Lebih dari 21.000 pon Massive Ordnance Air Blast Bomb berisi 11 ton bahan peledak dijatuhkan pada pukul 7.32 waktu setempat (1502GMT) oleh sebuah pesawat militer MC-130 di sebuah kompleks terowongan di distrik Achin di provinsi Nangarhar.

Gedung Putih mengatakan bahwa kompleks terowongan dan gua tersebut memudahkan IS dalam menargetkan perwira militer A.S. dan pasukan Afghanistan.

“Amerika Serikat memerangi IS dan untuk mengalahkan kelompok tersebut, kami harus mematahkan unit operasional mereka, seperti yang kami lakukan saat ini,” kata juru bicara Sean Spicer.

Di Pentagon, Stump mengatakan: “Serangan tersebut dirancang untuk meminimalkan risiko terhadap pasukan Afghanistan dan A.S. yang melakukan operasi pembersihan di wilayah tersebut sekaligus memaksimalkan penghancuran pasukan dan fasilitas ISIS-K.”

ISIS-K adalah singkatan dari cabang Khorasan Negara Islam Irak dan Syria, nama lain kelompok IS.

A.S. “mengambil setiap tindakan pencegahan” untuk menghindari korban sipil, kata Stump.

Taliban Rilis Info Grafik Terbaru Wilayah Imarah Islam Afghanistan

Bom tersebut dikembangkan hanya dalam waktu sembilan pekan di tahun 2003 untuk digunakan selama perang Irak dan diuji dua kali di sebuah pangkalan udara di Florida. Bom ini dilaporkan menghasilkan asap setinggi 10.000 kaki (3.000 meter) yang terlihat sejauh 40 mil (64 kilometer).

Bom buatan AS ini dilaporkan diikuti oleh “bapak semua bom” yang dikembangkan oleh Rusia, yang mengklaim bahwa bahan peledaknya empat kali lebih kuat dari buatan AS.

Jawara Betawi Resmi Jadi Tersangka dan Ditahan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Penasehat hukum Pembina Jawara Betawi, Nasrulloh Nasution membenarkan penetapan tersangka dan penahanan H. Abu Bakar bin Sadelih oleh Polres Jakarta Selatan.

“Iya benar, bang Haji Abu sudah ditetapkan jadi tersangka dan malam ini resmi jadi tahanan Polres Jaksel,” katanya, Rabu (13/4/2017) dikawasan Jakarta.

Tim advokasi GNPF MUI ini mengatakan, dugaan unsur diskriminasi etnis, dan SARA yang disematkan kepada kliennya ini sarat dengan kepentingan politik. Sebab, pimpinan Jawara Betawi ini hanya berikrar memilih pemimpin Muslim dan tidak melakukan sebagaimana yang dituduhkan.

(Baca juga: Ikrar Pilih Pemimpin Muslim, Jawara Betawi Dipanggil Polisi)

“Ini bukan tentang hukum, tapi tentang kepentingan pihak-pihak yang tidak menginginkan gubernur Jakarta muslim,” ungkap Nasrulloh.

Oleh sebab itu, ia bersama tim advokasi GNPF MUI akan berupaya untuk membantu serta melawan perlakuan “sepihak” dan penuh rekayasa itu.

“Tim Advokasi GNPF MUI tidak akan berdiam diri atas perlakuan tidak adil ini, kita akan cermati proses ini lebih dalam dan segera akan kita tindak lanjuti dengan upaya hukum,” pungkasnya

Reporter: HA

Keterangan Saksi Meringankan, Ranu Muda Berharap Majelis Hakim Bijaksana

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Wartawan Panjimas.com, Ranu Muda Adi Nugroho berharap Majelis Hakim bersikap bijaksana setelah mendengarkan keterangan para saksi. Pernyataan itu disampaikan usai menjalani sidang lanjutan kasus nahi munkar di Kafe Social Kitchen di Pengadilan Negeri Semarang, Kamis (13/4/2017) siang.

Dalam persidangan, keterangan saksi bisa disebut meringankan para terdakwa. Pasalnya, tak satu pun dari mereka yang melihat para terdakwa melakukan pelanggaran yang didakwakan Jaksa Penuntut Umum (JPU), yakni perusakan dan penganiayaan.

Alhamdulillah, saksi menyebutkan tidak mengetahui kami melakukan pelanggaran yang didakwakan oleh jaksa penuntut umum, baik perusakan dan penganiayaan itu sendiri,” kata Ranu kepada Jurniscom di PN Semarang.

Endro Sudarsono: Keterangan Saksi Meringankan Kami

Oleh sebab itu, Ranu berharap Majelis Hakim dapat bersikap bijaksana dan mempertimbangkan kembali tuntutan JPU.

“Saya berharap hakim berlaku bijak, sebab dari keterangan beberapa saksi, tidak ada satupun saksi mengatakan kami terbukti melakukan pelanggaran,” tuturnya.

Reporter: Agus Riyanto

Endro Sudarsono: Keterangan Saksi Meringankan Kami

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Sidang lanjutan kasus nahi munkar di Kafe Social Kitchen dengan terdakwa para tokoh Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) dan seorang wartawan Panjimas.com, kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Kamis (13/4/2017).

Agenda sidang mendengarkan keterangan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU). Ada 4 saksi yang dihadirkan, diantaranya Purwoko seorang polisi, Supardi S.H dari Polsek Banjarsari, Reni Oktavia karyawati Social Kitchen, dan Junaidi Rahmat Manager Social Kitchen.

Semua keterangan saksi menyatakan bahwa para pengurus LUIS tidak terlibat perusakan maupun penganiayaan seperti yang dituduhkan oleh JPU. Hal itu seperti yang disampaikan Manager Social Kithcen Solo, Junaidi Rahmat.

“Saya tidak melihat mereka (terdakwa) melakukan kekerasan,” ungkapnya.

Pernyataan itu juga diperkuat oleh keterangan saksi lainnya, Supardi, dari Polsek Banjarsari. Supardi mengatakan, LUIS selalu berkoordinasi dengan kepolisian setiap kali akan melakukan kegiatan amar ma’ruf nahi munkar dan tidak terlibat dalam perusakan di Kafe Social Kitchen Solo.

“Jika melakukan aksi pasti berkoordinasi dengan polisi. Mereka (LUIS) tidak terlihat melakukan tindakan apapun,” katanya.

Mendengar keterangan saksi tersebut, Humas LUIS Endro Sudarsono yang merupakan salah satu terdakwa, menyatakan keterangan saksi meringankan.

“Saksi itu menyampaikan bahwa kita tidak berbuat, mereka tidak mengetahui tentang apa yang dituduhkan oleh jaksa baik penganiayaan maupun pengrusakan. Dan itu jelas meringankan kami,” ujarnya kepada Jurniscom usai sidang.

Reporter: Agus Riyanto

Habib Rizieq Bagikan ‘Amunisi’ di Masjid Sunan Ampel Surabaya

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Meski sempat mendapat penolakan dari sekelompok orang, Tabligh Akbar Habib Rizieq Shihab di Masjid Sunan Ampel Surabaya, Selasa (11/4/2017) malam berlangsung lancar. Dalam kesempatan itu, Imam besar Front Pembela Islam (FPI) itu membagikan ‘amunisi’ bagi umat Islam Surabaya.

“Sebelum saya akhiri, saya akan membagikan satu amunisi untuk Anda semua,” kata Habib.

Ketua Pembina GNPF-MUI itu kemudian membacakan firman Allah dalam Surat An Nisa ayat 104:

Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu rasakan, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.”

Habib menjelaskan, ayat tersebut menyeru agar umat Islam tidak merasa lemah dalam mengejar dan menghadapi musuh.

Lebih lanjut, Habib Rizieq menegaskan bahwa melalui ayat ini Allah membongkar rahasia musuh. Yakni, jika umat Islam merasa sakit saat melawan musuh, musuh-musuh Islam juga merasa sakit.

“Allah memberi tahu, kalau kita sakit melawan musuh, musuh lebih sakit dari kita. Kita pusing, musuh lebih pusing. Kita pusing mikir musuh, musuh lebih pusing lagi. Kadang-kadang kita bergetar sedikit takut kepada musuh, musuh lebih takut dari kita, sampai terkencing-kencing,” tegasnya.

Namun, kata dia, perbedaannya adalah umat Islam mempunyai harapan untuk dapat ridha Allah dan surga Allah, sedangkan musuh-musuh Islam tidak.

Reporter: Yan Aditya

Perjanjian Damai Bersyarat Hekmatyar dengan Afghanistan Belum Tuntas

KABUL (Jurnalislam.com) – Butuh bertahun-tahun bagi pemerintah Afghanistan untuk mencapai kesepakatan damai dengan bekas pemimpin pejuang Gulbuddin Hekmatyar, tetapi menemui kebuntuan dalam melaksanakan isi perjanjian tersebut, khususnya pembebasan tahanan Hezb-e-Islami, yang mempertaruhkan segalanya.

Akhir-akhir ini, pasukan Hekmatyar telah mengungkapkan penjelasan mereka kepada pemerintah Kabul di depan publik, lansir Anadolu agency, Rabu (13/4/2017).

Hashmatullah Arshad, salah satu juru bicara Hekmatyar, mengatakan pemerintah seharusnya melepaskan tahanan Hezb-i-Islami pada hari Senin, tapi janji itu tetap tak terpenuhi.

“Pemerintah berjanji bahwa sejalan dengan kesepakatan damai, tahanan politik kami akan dibebaskan, tetapi tampaknya beberapa ‘lingkaran’ dalam pemerintah menciptakan rintangan,” Arshad mengatakan dalam konferensi pers, yang diselenggarakan oleh kelompok di hari terakhir.

Dia memperingatkan bahwa penundaan lebih lanjut akan membahayakan proses perdamaian.

Hekmatyar membentuk Hezb-e-Islami di pertengahan 1970-an, yang secara ideologis terinspirasi oleh Ikhwanul Muslimin Mesir dan Jamaat-e-Islami Pakistan.

Michael Kugelman, wakil direktur Program Asia di The Wilson Center, mengatakan kesepakatan dengan Hekmatyar selalu sangat “lemah”.

“Dan tidak mengherankan bahwa kesepakatan itu akan menghadapi tantangan di menit terakhir. Saya rasa bahwa ada ketidaksepakatan antara pemerintah dan Hekmatyar tentang ketentuan kesepakatan dan konsesi apa yang akan dibuat dan oleh siapa,” kata Kugelman.

Sementara itu, panglima perang tetap tenang dan belum keluar ke hadapan publik.

Pengamat percaya Hekmatyar sedang menunggu saat yang tepat untuk tampil di depan umum dan aktif di arena politik Afghanistan.

Sejak kesepakatan damai yang kontroversial itu ditandatangani pada September tahun lalu, potret Hekmatyar, yang digunakan sebagai anak poster jihad Afghanistan melawan Uni Soviet pada 1980-an, telah muncul kembali di ibukota Kabul dan di seluruh negeri.

Meskipun suara ketidakpuasan muncul dari kubu Hekmatyar, seorang pembantu presiden Afghanistan mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa pemimpin Hezb-e-Islami akan segera mengunjungi Kabul.

“Dia datang, dia akan datang ke Kabul dalam dua pekan ke depan, kami telah menetapkan waktu dan segala sesuatu lainnya, tapi aku tidak bisa memberikan rincian,” diplomat itu mengatakan dengan syarat anonim karena pembatasan berbicara dengan media.

Pemerintah menegaskan penundaan atas permintaan pembebasan tahanan disebabkan oleh kesulitan teknis tertentu saja dan bahwa mereka tidak memiliki niat buruk.

Ahmad Farzan, juru bicara komisi pelaksana kesepakatan damai, mengatakan kepada Anadolu Agency: “Sampai dengan 70 tahanan akan dibebaskan dalam beberapa hari mendatang; penundaan terjadi hanya karena kita ingin jaminan tertulis dari Hezb-e-Islami dan anggota masyarakat yang relevan bahwa tahanan ini tidak akan melakukan kegiatan anti-negara.”

Presiden Mohammad Ashraf Ghani telah menghadapi kritik keras dari kelompok hak asasi di dalam dan luar negeri atas gencatan senjata dengan Hekmatyar.

Sejauh ini, Ghani – yang telah diberi label sebagai “arsitek tertinggi Afghanistan” oleh The New Yorker atas perannya dalam membangun kembali negeri ini – telah memberikan kesempatan kedua bagi pemimpin Hezb-e-Islami.

Salah satu insentif terbesar yang diberikan pemerintahnya adalah penghapusan nama Hekmatyar dari daftar hitam PBB.