Berita Terkini

Krisis Qatar: Arab cs Cantumkan Jabhah Nusrah dan Al Qaeda ke 18 Daftar Baru

RIYADH (Jurnalislam.com) – Arab Saudi, Bahrain, Mesir dan Uni Emirat Arab telah menambahkan 18 individu dan kelompok ke dalam “daftar teror”, menurut Saudi Press Agency (SPA) yang dikelola negara, Selasa (25/7/2017).

Keempat negara Arab tersebut memutuskan hubungan dengan Qatar pada 5 Juni lalu. Selain menjatuhkan blokade politik dan ekonomi, negara-negara tersebut menempatkan 71 organisasi dan individu yang didanai Qatar atau berbasis di Qatar ke dalam daftar terlarang karena diduga memiliki hubungan dengan Qatar dalam hal “terorisme.”

Pendatang baru dalam daftar terlarang tersebut termasuk entitas dari Libya dan Yaman dan individu dari Qatar, Yaman dan Kuwait yang dituduh memiliki hubungan langsung dan tidak langsung dengan otoritas Qatar, sebuah pernyataan bersama oleh kelompok pimpinan Saudi tersebut mengatakan, menurut SPA.

Qatar menolak keras tuduhan kelompok tersebut bahwa mereka mendanai “terorisme” karena tidak berdasar.

Penambahan daftar hari Selasa tersebut mencakup tiga organisasi yang berbasis di Yaman dan enam berbasis di Libya, yang dituduh oleh empat pemerintah Arab tersebut memiliki hubungan dengan al-Qaeda.

Mereka juga melarang tiga warga Qatar, tiga orang Yaman, dua warga Libia dan seorang Kuwait yang mereka katakan terlibat dalam “kampanye penggalangan dana untuk mendukung pejuang Jabhah Nusrah dan milisi Islam lainnya di Suriah,” kata SPA.

Langkah keempat pemerintah Arab tersebut tetap dilakukan meski mendapat tekanan internasional untuk berkompromi dalam blokade mereka di Qatar yang memasuki bulan kedua.

Pada 22 Juni, kelompok yang dipimpin Saudi mengeluarkan daftar permintaan 13 poin, termasuk menutup Al Jazeera, membatasi hubungan dengan Iran dan mengusir tentara Turki yang ditempatkan di negara tersebut, sebagai prasyarat untuk mencabut sanksi embargo.

Doha menolak menerima tuntutan tersebut.

Awal bulan ini, Qatar dan AS menandatangani sebuah kesepakatan untuk membantu memerangi “pendanaan pada pejuang Islam”.

Namun kelompok yang dipimpin Saudi tersebut menyebut kesepakatan itu “tidak mencukupi” dan mengatakan bahwa pihaknya akan “dengan hati-hati memantau keseriusan otoritas Qatar dalam memerangi segala bentuk pembiayaan, dukungan dan membantu milisi Islam”.

Erdogan pada Umat Islam Dunia: Melindungi Masjid Al Aqsha adalah Masalah Iman

ANKARA (Jurnalislam.com) – Presiden Recep Tayyip Erdogan mendesak umat Islam di dunia untuk memainkan peran mereka dalam melindungi Masjid Al-Aqsha di Yerusalem, Anadolu Agency melaporkan, Selasa (25/7/2017).

Kemarahan menyebar di Tepi Barat sejak pekan lalu ketika Israel menutup Masjid Al-Aqsha, yang dihormati oleh umat Islam diseluruh dunia – menyusul baku tembak mematikan. Yahudi mengklaim Masjid Al-Aqsha adalah situs Temple Mount.

Masjid tersebut dibuka kembali setelah ditutup dua hari, dengan Israel memasang detektor logam dan kamera di gerbangnya.

Tiga warga Palestina tewas pada hari Jumat dalam demonstrasi menentang tindakan Israel di sekitar tempat suci tersebut. Tiga orang Israel juga tewas dalam serangan di sebuah pemukiman di Tepi Barat.

Menghadapi pertemuan kelompok parlementer Keadilan dan Pembangunan (AK) di Ankara pada hari Selasa , Erdogan mengatakan: “Tentara Israel secara sembarangan mencemari lantai Al-Aqsha dengan sepatu tempur mereka dengan menggunakan isu-isu sederhana sebagai dalih dan kemudian dengan mudah menumpahkan darah di sana. Alasan [mereka melakukan itu] adalah karena kita [Muslim] tidak berbuat banyak untuk mempertaruhkan klaim kita atas Yerusalem.”

Erdogan mengatakan bahwa perlindungan situs suci umat Islam bukan hanya masalah apakah mungkin melakukan lebih banyak untuk melindungi tapi juga masalah iman yang penting.

“Mereka yang mampu harus mengunjungi Al-Aqsha, sedangkan mereka yang tidak dapat mengunjungi Al-Aqsa harus mengirim bantuan bagi saudara-saudara Muslim kita di sana.”

Kabinet keamanan Israel memutuskan untuk melepas detektor logam tersebut Senin malam. Sebuah pernyataan yang dikeluarkan setelah pertemuan tersebut mengatakan 100 juta syikal Israel akan dialokasikan untuk sistem pengawasan baru dengan menggunakan “pemeriksaan cerdas” berdasarkan teknologi maju.

Yerusalem suci bagi umat Islam, Yahudi dan Kristen, dan lingkungan Masjid Al-Aqsha merupakan wakaf kaum Muslim yang mewakili situs tersuci ketiga di dunia Islam setelah kota Mekah dan Madinah.

Utusan Palestina untuk PBB: Krisis Al-Aqsha pada Titik Kritis

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Utusan Palestina untuk PBB mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa kompleks gabungan Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur berada pada titik kritis, mendesak anggota dewan untuk membantu melindungi warga Muslim Palestina dan tempat-tempat suci mereka dari “agenda nekat dan destruktif Israel”.

Riyad Mansour memperingatkan dalam pidatonya kepada Dewan pada hari Selasa (25/7/2017) bahwa “konflik agama berkembang dengan cepat saat Israel terus melakukan tindakan ilegal di Yerusalem Timur yang dijajah,” lansir Aljazeera.

Dia mengatakan Israel melakukan “perilaku agresif dan pelanggaran provokatif” terhadap status quo bersejarah di kompleks Masjid Al-Aqsha yang diamanahkan oleh kaum Muslim, merujuk pada penutupan singkat Masjid Al Aqsha pada hari Jumat lalu setelah sebuah penembakan mematikan di sana yang diikuti oleh pemasangan kamera CCTV dan detektor logam.

“Kami jelas-jelas berada di titik kritis,” katanya. “Oleh karena itu kami sekali lagi harus memperingatkan terhadap bahaya provokasi dan hasutan Israel semacam itu, yang memicu siklus kekerasan lagi yang pastinya akan memiliki konsekuensi luas.”

Di Yerusalem Timur, para pemimpin Muslim mendesak umat pada hari Selasa untuk terus melakukan protes dengan sholat di luar rumah dan menghindari memasuki kompleks tersebut, bahkan setelah Israel membongkar detektor logam yang pada awalnya memicu ketegangan.

Sheikh Najeh Bakirat, direktur Masjid al-Aqsha, mengatakan pada hari Selasa bahwa tindakan Israel membongkar detektor logam tidak memenuhi tuntutan para jamaah Muslim karena kamera keamanan tetap ada.

Sheikh Raed Saleh, seorang pejabat al-Aqsha, mengatakan bahwa warga Muslim Palestina “tidak akan pernah menerima status saat ini, kecuali jika semua aturan yang ditambahkan setelah 14 Juli telah dihapus total.

“Gambar tersebut sampai saat ini tidak jelas, mereka melakukannya di tengah malam, di dalam kegelapan, seperti kelelawar. Hanya Allah yang tahu apa yang akan kita hadapi saat bangun keesokan paginya,” kata Saleh.

Puluhan jamaah Muslim terus melakukan shalat di jalanan di luar kompleks hingga hari Selasa.

Imran Khan dari Al Jazeera, melaporkan dari Yerusalem Timur yang diduduki, mengatakan bahwa saat detektor logam dilepaskan, ratusan orang Palestina memprotes kamera pemantau yang masih berada di tempat.

Israel mengatakan akan mengganti detektor logam dengan pengaturan keamanan baru berdasarkan “teknologi maju”, yang dilaporkan termasuk kamera canggih, namun mengatakan dibutuhkan waktu hingga enam bulan untuk memasangnya.

Kapolres Semarang Arogan, FA-UIB Desak Reformasi Polri Agar Tak Jadi Alat Penguasa

MAGELANG (Jurnalislam.com) – Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abioso Seno Aji dinilai arogan karena telah mengucapkan ucapan bernada provokasi saat melarang unjuk rasa menolak Perppu dengan salah satu ucapannya, “Saya tidak ijinkan demo, Demo baru boleh selasa kliwon 2030.”

Menanggapi hal tersebut, Ketua Forum Aliansi Umat Islam Bersatu (FA UIB) Magelang Ustadz Ammang Immamudin mengaku prihatin dan menyesalkan permyataan arogan tersebut..

“Saya sangat prihatin, tidak pantas seorang pimpinan polisi membuat pernyataan yang arogan serta kasar, tidak mencerminkan polisi sebagai pengayom dan pelindung masyarakat,” katanya pada Jurnalislam.com, Sabtu,(22/7/2017).

Selain itu, Anang mengatakan seharusnya kepolisian adalah abdi masyarakat sekaligus penegak hukum yang seharusnya bisa lebih ramah dan sabar ketika menanggapi aspirasi dari masyarakat.

“Pernyataan pimpinan Polisi harusnya teduh dan santun, serta lebih profesional dalam menyikapi setiap masalah,”tambahnya.

Untuk itu, Anang mendesak pihak Polri agar melakukan transisi di tubuh kepolisian. Ia mengatakan, kepolisian saat ini lebih cenderung tunduk pada perintah penguasa daripada mendengarkan aspirasi dari masyarakat kalangan bawah.

“Kita mendesak reformasi Polri, yang sekarang lebih cenderung ke alat penguasa, bukan sebagai abdi masyarakat,”pungkasnya.

Erdogan Temui Amir Qatar Bahas Krisis Teluk di Doha

DOHA (Jurnalislam.com) – Qatar dan Turki membahas krisis Teluk dan upaya yang dilakukan untuk meredakan perselisihan antara Doha dan sekelompok negara Arab yang dipimpin Saudi melalui dialog dan sarana diplomatik.

Pembahasan ini terjadi saat pertemuan antara Sheikh Qatar Tamim bin Hamad Al Thani dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Doha, Senin (24/7/2017).

Kedua belah pihak memuji mediasi Kuwait untuk mengakhiri perselisihan. Erdogan sedang dalam tur Teluk yang membawanya ke Arab Saudi dan Kuwait.

Kedua pemimpin tersebut juga membahas usaha bersama Qatar-Turki dalam perang melawan “terorisme dan ekstremisme”, menurut kantor berita negara Qatar.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu, yang menemani Erdogan, mengatakan bahwa Turki berusaha untuk mengatur pembicaraan langsung antara pihak yang bersengketa.

“Cara yang paling tepat adalah duduk bersama di sekitar meja dan [melakukan] pembicaraan langsung. Inilah hambatan utama di depan kita dan saya berharap akan ada kesempatan untuk format seperti itu segera,” katanya.

Pada hari Ahad, Erdogan bertemu dengan Raja Saudi Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman secara terpisah di kota Jeddah, Saudi.

Dia kemudian melakukan perjalanan ke Kuwait – mediator utama di barisan Teluk – untuk bertemu dengan Emir Sheikh Sabah al-Ahmad Al Sabah di negara itu.

Emir Qatar mengatakan dalam sebuah pidato kepada negara tersebut pada hari Jumat bahwa Doha terbuka untuk melakukan pembicaraan dengan blok yang dipimpin Saudi dengan syarat bahwa “kedaulatan” negaranya dihormati.

Marwan Bishara, analis politik senior Al Jazeera, berbicara dari London, mengatakan: “Semua pihak sekarang mengerti bahwa Kuwait harus menjadi tempat bagi Arab Saudi, UEA dan negara-negara lain duduk bersama Qatar dan menyelesaikan perbedaan mereka secara diplomatis dalam meja negosiasi.”

Dia mengatakan blokade di Qatar harus dicabut agar hal itu bisa terjadi.

Embargo udara, darat dan laut diberlakukan terhadap Qatar oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir setelah mereka menuduh Qatar mendukung “ekstrimis” di wilayah tersebut dan memutuskan hubungan dengan Qatar. Qatar membantah keras tuduhan tersebut.

Utusan PBB: Krisis al Aqsha Harus Diselesaikan Sebelum hari Jumat

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Utusan Timur Tengah PBB mengatakan sebuah solusi dibutuhkan sebelum hari Jumat untuk menghadapi krisis senyawa Masjid al-Aqsa di Yerusalem, yang mengancam akan memiliki “dampak bencana potensial jauh melampaui tembok Kota Tua”.

“Sangat penting bahwa solusi terhadap krisis saat ini dapat ditemukan sebelum hari Jumat,” kata Nickolay Mladenov kepada wartawan pada hari Senin (24/7/2017) setelah memberikan briefing kepada Dewan Keamanan PBB di balik pintu tertutup, lansir Aljazeera.

“Bahaya di lapangan akan meningkat jika kita melewati siklus sholat Jumat berikutnya tanpa resolusi untuk krisis saat ini.”

Juga pada hari Senin, duta besar Inggris untuk PBB telah meminta “semua pihak untuk mengecam kekerasan Israel”.

Matthew Rycroft mengatakan kepada wartawan di markas besar PBB di New York City bahwa penting agar seluruh Dewan Keamanan “berdiri bersama untuk melakukan apa yang kita bisa untuk membantu membawa perdamaian ke Timur Tengah”.

Kuartet Timur Tengah Rusia, AS, Uni Eropa dan PBB dalam sebuah pernyataan mendorong Israel dan Yordania untuk bekerja sama demi de-eskalasi, mencatat peran khusus Kerajaan Hashemite sebagaimana diakui dalam perjanjian damai dengan Tel Aviv.

Sementara itu, Pengadilan Tinggi Yordania mengeluarkan sebuah pernyataan pada hari Senin yang mengatakan bahwa Raja Abdullah II membahas krisis tersebut dengan Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu, yang menekankan perlunya menghapus tindakan baru yang diambil oleh pasukan penjajah Israel di Masjid Al Aqsha.

Dia juga menyoroti pentingnya menyetujui langkah-langkah di masa depan untuk mencegah terulangnya eskalasi tersebut dan untuk memastikan penghormatan terhadap situasi bersejarah dan hukum di tempat suci tersebut, kata pernyataan tersebut.

Ketegangan meningkat sejak Israel memasang detektor logam dan kamera CCTV di tempat masuk menuju kompleks Masjid al-Aqsha yang dikelola kaum Muslim setelah dua pasukan zionis ditembak mati oleh beberapa orang bersenjata di sana pada 14 Juli.

Warga Palestina melihat langkah tersebut adalah upaya penjajah Israel untuk menegaskan penguasaan lebih jauh atas Masjid Al Aqsha tersebut.

Warga Muslim Palestina menolak masuk kompleks tersebut sebagai protes dan sebagai gantinya melakukan sholat di jalan-jalan di luar.

Bentrokan pecah saat unjuk rasa mengenai tindakan tersebut, menyebabkan empat warga Muslim Palestina tewas dan ratusan lainnya cedera.

Tiga orang Israel juga tewas ketika seorang warga Palestina menyelinap masuk ke sebuah rumah di permukiman illegal Yahudi di Tepi Barat yang dijajah dan menikam para pemukim Yahudi.

Ketua Liga Arab Ahmed Abul Gheit pada hari Ahad mengatakan bahwa Israel “bermain dengan api” dengan alasan langkah-langkah keamanan baru di Masjid Al Aqsha, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut langkah tersebut sebagai penghinaan terhadap kaum Muslim (agama Islam).

5 Hal Penting Tentang Masjid Al Aqsha yang Mungkin Belum Kamu Ketahui

JURNALISLAM.COM – Beberapa pekan terakhir ini telah terjadi unjuk rasa dan konfrontasi harian antara pasukan zionis Yahudi dan warga Muslim Palestina di wilayah Palestina yang dijajah oleh Israel.

Ketegangan meningkat di Kota Tua Yerusalem Timur yang diduduki setelah pasukan zionis menutup kompleks Masjid Al Aqsha untuk pertama kalinya sejak 1969, setelah baku tembak senjata antara warga Muslim Palestina dan pasukan Israel.

Serangan yang terjadi pada 14 Juli tersebut berakhir dengan kematian dua pasukan penjajah Israel dan tiga warga Palestina. Israel kemudian menutup situs tersebut untuk sholat Jum’at dan membuka kembali hari Ahad berikutnya dengan aturan baru, termasuk detektor logam dan kamera tambahan, di pintu masuk kompleks.

Warga Muslim Palestina menolak memasuki kompleks Masjid Al Aqsha sampai Israel menghapus aturan baru tersebut, yang dipandang sebagai tindakan terbaru oleh Israel untuk menguasai dan me-Yahudisasi kota tersebut. Sudah lebih dari sepekan kaum Muslim Palestina sholat di luar gerbang Masjid Al Aqsha untuk menyatakan protes.

Selama sholat Jum’at pada 21 Juli, ribuan orang Palestina keluar untuk sholat di jalan-jalan di luar Gerbang Singa (Lion’s Gate), salah satu pintu masuk ke Kota Tua. Ketegangan berkecamuk setelah unjuk rasa damai ditindas dengan brutal oleh pasukan penjajah Israel, mengakibatkan ratusan korban luka-luka. Empat orang Muslim Palestina sejauh ini telah ditembak mati di Yerusalem Timur yang diduduki dan Tepi Barat, yang salah satunya ditembak oleh seorang pemukim Yahudi Israel.

Berikut ini adalah rincian mengapa kompleks Masjid Al Aqsa merupakan titik pertikaian yang konstan dalam konflik Palestina-Israel.

  1. Apa itu Masjid al Aqsha dan mengapa Masjid al Aqsha penting?

Al-Aqsa adalah nama masjid berkubah perak di dalam kompleks seluas 35 hektar yang disebut al-Haram al-Sharif, atau Tempat Suci, oleh umat Islam, dan diklaim sebagai Bukit Kuil (Temple Mount) oleh Yahudi. Kompleks ini terletak di Kota Tua Yerusalem (Al Quds), yang telah ditetapkan sebagai situs Warisan Dunia oleh badan budaya PBB, UNESCO, dan penting bagi tiga agama Ibrahim.

Situs ini telah menjadi bagian wilayah yang paling banyak diperebutkan di Tanah Suci sejak Israel menjajah Yerusalem Timur, termasuk Kota Tua, pada tahun 1967, bersama dengan Tepi Barat dan Jalur Gaza. Namun, konflik di sana bahkan jauh lebih luas, sebelum pencaplokan Israel.

Pada tahun 1947, PBB menyusun sebuah rencana partisi untuk memisahkan Palestina yang bersejarah, kemudian di bawah kendali Inggris, menjadi dua negara: satu untuk orang Yahudi, terutama dari Eropa, dan satu lagi untuk orang-orang Palestina. Negara Yahudi ditetapkan mendapat 55 persen dari tanah tersebut, dan sisanya 45 persen adalah untuk sebuah negara Palestina.

Yerusalem, yang menampung kompleks al-Aqsa, termasuk dalam komunitas internasional di bawah pemerintahan PBB. Ini diberikan status khusus ini untuk kepentingannya terhadap tiga agama Ibrahim.

Perang Arab-Israel yang pertama pecah pada tahun 1948 setelah zionis Yahudi mendeklarasikan kenegaraan, merebut sekitar 78 persen tanah, dengan hanya menyisakan wilayah-wilayah Tepi Barat, Yerusalem Timur dan Gaza yang berada di bawah kontrol Mesir dan Yordania.

Perambahan wilayah Israel semakin meningkat pada tahun 1967, setelah perang Arab-Israel kedua, yang mengakibatkan pendudukan Israel di Yerusalem Timur, dan akhirnya aneksasi ilegal Yerusalem, termasuk Kota Tua dan al-Aqsha.

Pengawasan ilegal Israel terhadap Yerusalem Timur, termasuk Kota Tua, melanggar beberapa prinsip hukum internasional, yang menguraikan bahwa kekuasaan penjajahan tidak memiliki kedaulatan di wilayah yang dijajahnya.

Selama bertahun-tahun, pemerintah zionis telah mengambil langkah lebih jauh untuk mengendalikan dan memperebutkan Kota Tua dan Yerusalem Timur secara keseluruhan. Pada tahun 1980, Israel mengeluarkan sebuah undang-undang yang mengumumkan Yerusalem sebagai ibukota Israel yang “lengkap dan bersatu”, yang melanggar hukum internasional. Saat ini, tidak ada negara di dunia yang mengakui kepemilikan Israel atas Yerusalem atau atas upayanya untuk mengubah susunan geografi dan demografi kota.

Warga Palestina di Yerusalem, yang jumlahnya sekitar 400.000, hanya memiliki status residensi permanen, bukan kewarganegaraan, meski lahir di sana – berbeda dengan orang Yahudi yang lahir di kota tersebut. Dan sejak 1967, Israel telah memulai pendeportasian kota Palestina dengan menerapkan kondisi sulit bagi mereka dalam mempertahankan status tempat tinggal mereka.

Pemerintahan zionis Yahudi juga telah membangun sedikitnya 12 permukiman ilegal khusus-Yahudi di Yerusalem Timur, yang menampung sekitar 200.000 orang Yahudi, sementara menolak izin bangunan bagi warga Palestina dan menghancurkan rumah mereka sebagai hukuman karena bangunannya dianggap tidak sah oleh penjajah Israel.

  1. Pentingnya al Aqsha bagi agama Ibrahim

Bagi umat Islam, Suaka Suci (the Noble Sanctuary) adalah lokasi situs tersuci ketiga Islam di dunia, Masjid al-Aqsha, dan Kubah Batu (the Dome of the Rock), sebuah struktur abad ketujuh yang diyakini sebagai tempat Nabi Muhammad SAW naik ke Sidratul Muntaha.

Orang-orang Yahudi percaya bahwa kompleks tersebut adalah tempat kuil Yahudi yang pernah ada, namun hukum Yahudi dan Rabbinate Israel melarang orang Yahudi masuk ke kompleks dan beritual di sana, karena dianggap terlalu suci untuk dilalui.

Bangunan Tembok Barat (Western Wall), yang dikenal sebagai Tembok Ratapan (the Wailing Wall) bagi orang-orang Yahudi, diyakini merupakan sisa-sisa Kuil Kedua (the Second Temple), sementara umat Islam menyebutnya sebagai Tembok Buraq dan di situlah Nabi Muhammad SAW mengikat Buraq, makhluk yang membawanya naik ke langit dan bertemu kepada Allah SWT.

  1. Status quo

Sejak 1967, Yordania dan Israel sepakat bahwa lembaga Wakaf Islam, akan memiliki kendali penuh atas masalah-masalah di dalam kompleks tersebut, sementara Israel akan mengendalikan keamanan eksternal diluar komplek. Orang-orang non-Muslim diizinkan masuk ke tempat itu selama jam kunjungan, tapi tidak diizinkan untuk melakukan ritual di sana.

Namun, gerakan-gerakan Kuil yang meningkat, seperti Temple Mount Faithful dan the Temple Institute, telah menantang larangan pemerintah Israel untuk mengizinkan orang-orang Yahudi memasuki kompleks, dan mereka bertujuan untuk membangun kembali Kuil Yahudi Ketiga di kompleks tersebut.

Kelompok tersebut didanai oleh anggota pemerintah Israel itu sendiri, walaupun mereka mengklaim ingin mempertahankan status quo di lokasi tersebut.

Saat ini, pasukan zionis Yahudi secara rutin mengizinkan beberapa kelompok, terkadang berisi ratusan pemukim Yahudi illegal yang tinggal di wilayah Palestina yang mereka jajah, untuk masuk ke kompleks Masjid al-Aqsha di bawah perlindungan polisi dan tentara zionis, meningkatkan ketakutan warga Palestina bahwa Israel akan mengambil alih kompleks tersebut.

Pada tahun 1990, Temple Mount Faithful menyatakan bahwa mereka akan meletakkan batu penjuru untuk Bait Suci Ketiga di lokasi Dome of the Rock, yang menyebabkan konflik dan pembantaian di mana 20 warga Muslim Palestina dibunuh oleh pasukan penjajah Israel.

Pada tahun 2000, politisi zionis Ariel Sharon memasuki tempat suci diikuti oleh sekitar 1.000 polisi Israel, dengan sengaja mengulangi klaim Israel terhadap tempat suci ke tiga umat Islam di dunia sehubungan dengan perundingan damai yang diperantarai Perdana Menteri Israel Ehud Barak dengan pemimpin Palestina Yasser Arafat, yang mencakup diskusi tentang bagaimana kedua belah pihak bisa berbagi Yerusalem. Masuknya Sharon ke kompleks tersebut meletuskan Intifadah Kedua, di mana lebih dari 3.000 warga Muslim Palestina dan sekitar 1.000 orang Yahudi Israel terbunuh.

Dan yang paling baru di bulan Mei, kabinet Israel mengadakan pertemuan pekanan mereka di terowongan di bawah Masjid al-Aqsa, pada peringatan 50 tahun pendudukan Israel di Yerusalem Timur, “untuk menandai pembebasan dan penyatuan Yerusalem” – sebuah langkah yang membuat warga Palestina marah.

Militer Israel membatasi masuknya warga Palestina ke dalam kompleks tersebut melalui beberapa metode, termasuk tembok pemisah, yang dibangun pada awal tahun 2000an, yang membatasi masuknya warga Palestina dari Tepi Barat ke Israel.

Dari tiga juta orang Muslim Palestina di Tepi Barat yang diduduki, hanya mereka yang berusia di atas batas usia tertentu yang diizinkan masuk ke Yerusalem pada hari Jumat, sementara yang lain harus mengajukan permohonan izin ketat dari pihak berwenang Israel. Pembatasan sudah menyebabkan kemacetan dan ketegangan serius di pos pemeriksaan antara Tepi Barat dan Yerusalem, di mana puluhan ribu orang harus melewati pemeriksaan keamanan untuk memasuki Yerusalem demi menunaikan sholat Jumat.

Langkah terakhir, termasuk detektor logam baru, dilihat oleh Palestina sebagai bagian dari cara Israel untuk menerapkan kontrol lebih lanjut (menguasai) lokasi tersebut, dan merupakan pelanggaran terhadap kebebasan beribadah, yang dilindungi oleh hukum internasional, menurut para ahli di dunia.

Presiden Mahmoud Abbas baru-baru ini mengumumkan bahwa pimpinan Palestina telah membekukan semua kontak dengan Israel karena ketegangan yang meningkat di kompleks al-Aqsha, mengatakan bahwa hubungan tidak akan berlanjut sampai Israel menghapus semua tindakan pengamanan di komplek Masjid Al Aqsha.

  1. Ketegangan baru-baru ini

Ketegangan telah bergejolak di dekat al-Aqsha selama dua tahun terakhir. Pada tahun 2015, bentrokan pecah setelah ratusan orang Yahudi ekstrem mencoba memasuki kompleks Masjid untuk memperingati hari raya Yahudi.

Setahun kemudian, unjuk rasa juga meletus setelah kunjungan pemukim illegal Yahudi di kompleks tersebut selama 10 hari terakhir bulan suci Ramadhan, bertentangan dengan tradisi Yahudi itu sendiri.

Sebagian besar bentrokan di kompleks tersebut terjadi karena pemukim Israel mencoba untuk melakukan ritual di dalam kompleks tersebut, yang secara langsung melanggar status quo.

Selama dua pekan terakhir, pasukan penjajah Israel menembakkan amunisi, gas air mata dan peluru baja berlapis karet ke arah warga Muslim Palestina yang berunjuk rasa, termasuk pembatasan pria Muslim di bawah usia 50 tahun dari tempat suci tersebut.

Setelah kejadian baru-baru ini, Militer zionis telah mengerahkan 3.000 polisi Israel dan unit polisi perbatasan di sekitar kompleks tersebut.

  1. Konteks yang lebih besar

Al-Aqsha hanyalah sebuah wilayah kecil di Palestina, tapi ini adalah wilayah yang amat penting bagi umat Islam dan juga sebagai bagian simbolis dari konflik antara Yahudi Israel dan Muslim Palestina.

Masjid itu sendiri sangat penting bagi umat Islam di seluruh Dunia, bahkan orang-orang Kristen Palestina turut memprotes perambahan Israel di kompleks tersebut, dan bergabung dengan umat Islam dalam sholat di luar Gerbang Singa pada hari Jumat.

“Isu al-Haram al-Sharif berdiri sebagai katalisator simbolis, namun sangat kuat akibat rutinitas ketidakadilan dan penindasan yang dihadapi oleh warga Muslim Palestina di Yerusalem, dan ini menyebabkan letusan kemarahan dan perlawanan umat Islam Palestina yang terus berlanjut,” Yara Jalajel, seorang Mantan penasihat hukum menteri luar negeri Palestina, mengatakan kepada Al Jazeera.

Bentrokan baru-baru ini di dekat kompleks al-Aqsha juga menyebabkan unjuk rasa dan konflik di seluruh Tepi Barat dan jalur Gaza.

Dengan lebih banyak pembatasan bagi akses Muslim Palestina ke kompleks Masjid Al Aqsha dan seruan yang terus berlanjut oleh kelompok agama Yahudi Israel untuk mengizinkan orang zionis Yahudi beribadah di lokasi tersebut, banyak warga Palestina kuatir akan pengambil alihan Masjid tersebut.

Waqf Al Aqsha menyatakan pada hari Rabu lalu bahwa semakin lama Israel menunda penghapusan tindakan baru di Masjid Al Aqsha, maka akan semakin buruk situasinya.

Al Shabaab Bebaskan 8 Petugas Kemanusian Somalia

MOGADISHU (Jurnalislam.com) – Tujuh pekerja kemanusiaan Somalia dibebaskan oleh al-Shabaab afiliasi al-Qaeda di Afrika setelah delapan hari ditahan pada hari Senin (24/7/2017), kata pihak berwenang.

Para petugas bantuan tersebut diculik pada 16 Juli di dekat kota Baidoa 250 kilometer barat daya ibukota Mogadishu.

Mohamed Isak Ibrahim, direktur Badan Intelijen Nasional dan Keamanan (National Intelligence and Security Agency-NISA) di Baidoa, mengatakan kepada Anadolu Agency melalui telepon bahwa tujuh pekerja bantuan telah dibebaskan oleh al-Shabaab pada hari Senin.

“Tujuh pekerja kemanusiaan lokal dibebaskan pada hari Senin dan mereka tiba di kota Baidoa dengan selamat. Ada dua wanita dan lima pria,” kata Isak.

Para sandera dibebaskan setelah kedua belah pihak sepakati perjanjian pertukaran dengan senjata sebagai tebusan, kata seorang perwira polisi kepada Anadolu Agency yang tidak bersedia disebut namanya karena pembatasan untuk berbicara kepada media.

Mantan Ketua MPR: Anak Bangsa yang Paling Pancasilais Adalah Umat Islam

BONDOWOSO (Jurnalislam.com) – Mantan Ketua MPR RI, Prof. Dr. Amien Rais mengatakan, anak bangsa yang paling cinta kepada Indonesia adalah umat Islam.

“Anak bangsa yang paling nasionalis, yang paling cinta kepada bangsa, yang paling Pancasilais, yang paling setia kepada Indonesia itu adalah UII (Umat Islam Indonesia),” tegasnya dalam acara Halal Bi Halal Alumni 212 di Ponpes Al-Ishlah Bondowoso, Jawa Timur, Ahad (23/7/2017).

Oleh sebab itu, kata dia, umat Islam tidak mungkin menghancurkan bangsa yang telah diperjuangkannya .

“Orang Islam itu mesti cinta kebaikan, tidak mungkin orang Islam merencanakan untuk menghancurkan negaranya. Tetapi saat ini kita dituduh sebaliknya,” imbuhnya.

Tokoh reformasi itu menyinggung adanya sekelompok orang yang mengklaim Pancasilais dan menuding umat Islam sebagai kelompok anti-Pancasila dan intoleran.

“Mereka yang disebut sebagai ‘Sembilan Barongsai’ itu mengatakan bahwa Indonesia adalah bapak tiri kami dan Cina adalah Bapak kandung kami. Kalau mereka mengklaim lebih Pancasilais dari kita itu orang gila. Nah, kalau ada pimpinan negara yang lebih percaya pada si cebong ini daripada kepada umat Islam, itu pemimpin yang setengah sinting,” terangnya.

“Karena itu, kita harus memilih pemimpin yang tidak munafik, yang tidak cinta kepada asengwan dan asengwati,” tukasnya.

Amien Rais merujuk pada pernyataan salah satu taipan, Sukanto Tantoto dalam sebuah wawancara di stasiun TV China yang beredar di Youtube pada Agustus tahun lalu.

Dalam video tersebut Tantoto mengatakan, Indonesia adalah ayah angkat dan Cina ayah kandungnya.

“Saya lahir dan besar di Indonesia. Menempuh pendidikan, menikah dan memulai bisnis juga di sana. Tetapi Indonesia adalah ayah angkat bagi saya, karena itu ketika pulang ke Cina saya merasa menemukan ayah kandung. Itu karena saya masih merasa orang Cina,” demikian diucapkan konglomerat Sukanto Tanoto saat tampil sebagai narasumber dalam sebuah acara televisi di Cina.

Eksekusi 18 Tahanan dengan Cara IS, Jenderal Pemberontak Libya Dituntut PBB dan HRW

LIBYA (Jurnalislam.com) – Jenderal pemberontak Libya Khalifah Haftar menghadapi tekanan untuk menyerahkan komandan lapangan pasukan khusus setelah muncul serangkaian video yang menunjukkan anak buahnya mengeksekusi puluhan tahanan kelompok Islamic State (IS) dengan cara kelompok tersebut .

PBB pekan lalu meminta Haftar, yang didukung oleh Mesir dan UEA, untuk menyerahkan Mahmoud al-Warfalli, beberapa hari sebelum video anak buahnya yang mengeksekusi 18 anggota IS muncul di media sosial, lansir Middle East Eye, Senin (24/7/2017).

Dalam video tersebut pasukan Tentara Nasional Libya (Libyan National Army -LNA) milik Haftar tampak menembak dari jarak dekat 18 tahanan yang terikat dan berlutut di kepala, sebelum mereka tersungkur ke tanah. Namun, video tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen oleh MEE. Peringatan dalam rekaman video itu adalah sebagai berikut:

Video tersebut merupakan yang terbaru dari sejumlah insiden yang terkait dengan Warfalli, yang secara resmi merupakan komandan lapangan pasukan khusus Haftar LNA, yang mengatakan bahwa pihaknya memerangi Islamic State dan kelompok lain yang dianggapnya sebagai “teroris”, sambil juga menentang pemerintah persatuan yang didukung PBB berkuasa di Tripoli.

Human Rights Watch (HRW) menyerukan penyelidikan pada tanggal 22 Maret, dan memanggil Warfalli menyusul tuduhan kejahatan perang yang dilakukan oleh pasukan LNA dalam pertempuran terakhir memperebutkan Ganfouda, setelah lama mengepung kota tersebut.

“Pasukan Tentara Nasional Libya (LNA) kemungkinan telah melakukan kejahatan perang, termasuk membunuhi dan memukuli warga sipil, dan dengan sewenang-wenang mengeksekusi dan menyiksa kelompok pejuang oposisi di kota Benghazi di timur pada dan sekitar tanggal 18 Maret 2017,” kata HRW dalam sebuah laporan pemanggilan Warfalli sebagai penembak di video lain.

Warfalli menjadi terkenal karena video yang menunjukkan eksekusi dan penyiksaan terhadap tahanan.

Video yang beredar luas di media sosial pada bulan Maret tersebut diduga menunjukkan bahwa Warfalli mengeksekusi tiga orang dengan menembak mereka “di belakang kepala dengan senapan mesin saat mereka berlutut menghadap dinding dengan tangan terikat di belakang punggung mereka”, Human Rights Watch melaporkan.

Juru bicara Pasukan Khusus LNA mengeluarkan sebuah pernyataan pada tanggal 21 Maret untuk membela tindakan Warfalli karena terjadi “di dalam medan perang”.

Human Rights Watch mengatakan bahwa dengan mengeluarkan pernyataan yang membenarkan tindakan barbar ini, pimpinan LNA mengimplikasikan diri mereka dalam “apa yang tampaknya merupakan kejahatan perang”.

“Jurnalis setempat mengatakan kepada Human Rights Watch bahwa eksekusi tersebut terjadi di Benghazi selama pertempuran terakhir memperebutkan Ganfouda pada atau sekitar tanggal 18 Maret 2017,” kata laporan tersebut.

Haftar dijadwalkan untuk bertemu dengan kepala Pemerintah Accord Nasional (Government of National Accord) yang didukung oleh PBB pada hari ini Selasa (25/7/2017) di Prancis untuk pertama kalinya setelah lebih dari setahun.

Video terbaru ini muncul pada hari Ahad (23/7/2017) setelah gelombang bentrokan terbaru di kota terbesar kedua di Benghazi di negara itu, antara pasukan Haftar dan kelompok-kelompok saingannya.

Dua pekan yang lalu Haftar menyatakan “pembebasan” Benghazi dalam pidato di televisi setelah tiga tahun pertempuran, namun pertempuran berlanjut saat pasukannya menghadapi perlawanan di kota tersebut.

LNA juga melakukan serangan udara di kota Derna, yang mereka kepung.

Hamza al-Dernawy menjelaskan kepada Middle East Eye bahwa sebuah kota diisolasi oleh pasukan yang setia kepada Haftar, dengan toko-toko cepat kehabisan makanan dan obat-obatan.

“Derna dikepung oleh milisi Haftar,” kata Dernawy. “Siapa pun yang berusaha pergi akan diculik atau disiksa oleh tentara.”

“Ada kerusakan material besar pada infrastruktur, rumah, dan sekolah. Seorang wanita mengalami keguguran karena serangan tersebut, tapi untungnya tidak ada warga sipil yang terbunuh.”

Banyak pengguna media sosial menarik perbandingan antara taktik yang ditunjukkan di video, dan video lainnya yang menunjukkan eksekusi IS.

Rekaman telepon yang bocor sebelumnya juga berisi bahwa Haftar mengizinkan pasukan IS melarikan diri dari timur Libya dan mencapai Sirte yang masih menjadi benteng bagi mereka di negara tersebut selama berbulan-bulan.