Krisis Qatar: Arab cs Cantumkan Jabhah Nusrah dan Al Qaeda ke 18 Daftar Baru

26 Juli 2017
Krisis Qatar: Arab cs Cantumkan Jabhah Nusrah dan Al Qaeda ke 18 Daftar Baru

RIYADH (Jurnalislam.com) – Arab Saudi, Bahrain, Mesir dan Uni Emirat Arab telah menambahkan 18 individu dan kelompok ke dalam “daftar teror”, menurut Saudi Press Agency (SPA) yang dikelola negara, Selasa (25/7/2017).

Keempat negara Arab tersebut memutuskan hubungan dengan Qatar pada 5 Juni lalu. Selain menjatuhkan blokade politik dan ekonomi, negara-negara tersebut menempatkan 71 organisasi dan individu yang didanai Qatar atau berbasis di Qatar ke dalam daftar terlarang karena diduga memiliki hubungan dengan Qatar dalam hal “terorisme.”

Pendatang baru dalam daftar terlarang tersebut termasuk entitas dari Libya dan Yaman dan individu dari Qatar, Yaman dan Kuwait yang dituduh memiliki hubungan langsung dan tidak langsung dengan otoritas Qatar, sebuah pernyataan bersama oleh kelompok pimpinan Saudi tersebut mengatakan, menurut SPA.

Qatar menolak keras tuduhan kelompok tersebut bahwa mereka mendanai “terorisme” karena tidak berdasar.

Penambahan daftar hari Selasa tersebut mencakup tiga organisasi yang berbasis di Yaman dan enam berbasis di Libya, yang dituduh oleh empat pemerintah Arab tersebut memiliki hubungan dengan al-Qaeda.

Mereka juga melarang tiga warga Qatar, tiga orang Yaman, dua warga Libia dan seorang Kuwait yang mereka katakan terlibat dalam “kampanye penggalangan dana untuk mendukung pejuang Jabhah Nusrah dan milisi Islam lainnya di Suriah,” kata SPA.

Langkah keempat pemerintah Arab tersebut tetap dilakukan meski mendapat tekanan internasional untuk berkompromi dalam blokade mereka di Qatar yang memasuki bulan kedua.

Pada 22 Juni, kelompok yang dipimpin Saudi mengeluarkan daftar permintaan 13 poin, termasuk menutup Al Jazeera, membatasi hubungan dengan Iran dan mengusir tentara Turki yang ditempatkan di negara tersebut, sebagai prasyarat untuk mencabut sanksi embargo.

Doha menolak menerima tuntutan tersebut.

Awal bulan ini, Qatar dan AS menandatangani sebuah kesepakatan untuk membantu memerangi “pendanaan pada pejuang Islam”.

Namun kelompok yang dipimpin Saudi tersebut menyebut kesepakatan itu “tidak mencukupi” dan mengatakan bahwa pihaknya akan “dengan hati-hati memantau keseriusan otoritas Qatar dalam memerangi segala bentuk pembiayaan, dukungan dan membantu milisi Islam”.