Berita Terkini

Penasihat Kontraterorisme Donald Trump Mengundurkan Diri

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Sebastian Gorka telah meninggalkan posisinya sebagai penasihat kontraterorisme untuk Presiden Donald Trump, menurut sebuah pernyataan Gedung Putih pada Jumat malam.

Gorka, sekutu dekat mantan ahli strategi Trump Stephen Bannon, “tidak mengundurkan diri, tapi saya bisa memastikan dia tidak lagi bekerja di Gedung Putih”, seorang pejabat mengatakan kepada Anadolu Agency Sabtu (26/8/2017) dengan syarat untuk tidak disebut namanya.

Gorka, yang sering tampil di TV untuk membela kebijakan dan pernyataan Presiden Trump, terkenal dengan gaya blak-blakan dan agresifnya dalam melawan teror.

Dia telah dituduh memiliki hubungan dengan kelompok anti-Semit dan menghadapi tantangan terhadap kepercayaannya sebagai pakar terorisme.

Kepergian Gorka terjadi sepekan setelah Bannon meninggalkan Gedung Putih untuk kembali ke Helm Breitbart News, tempat Gorka pernah bekerja sebagai editor.

Pada bulan Mei, 55 Demokrat House menandatangani sebuah surat yang meminta Trump untuk memecat Gorka. “Sebagai anggota Kongres AS yang kritis dalam memerangi anti-Semitisme di dalam dan di luar negeri, kami mendesak Anda untuk segera menolak penasihat kontraterorisme Gedung Putih Sebastian Gorka,” kata surat tersebut.

Kongres ini selanjutnya menuduh Gorka dikaitkan dengan “mantan anggota terkemuka partai anti-Semit di Hungaria”.

Di antara beberapa rekan yang mempertanyakan keahlian dan ketepatan Gorka untuk posisi Gedung Putih, peneliti keamanan Michael S. Smith menulis sebuah email ke Gorka pada bulan Februari meminta pengunduran dirinya.

Smith menulis bahwa selama Gorka dan Bannon tetap berada di Gedung Putih, “saya akan doakan keberuntungan, untuk semua orang Amerika”.

Bannon, tokoh terkemuka dalam gerakan “alt-right” yang digambarkan sendiri, telah menjadi titik fokus kontroversi setelah menguasai Breitbart News – gerai berita utama gerakan tersebut.

Sepanjang masa jabatannya, Bannon telah mendorong agenda kanan jauh (far-right), mendesak Trump untuk mengeluarkan AS dari Perjanjian Iklim Paris (the Paris Climate Agreement) dan menetapkan larangan perjalanan yang banyak dikritik sebagai aturan yang menargetkan Muslim.

Dalam sebuah wawancara dengan reporter Fox News ‘Sean Hannity pada bulan Februari, Gorka dengan tegas membela larangan perjalanan tersebut, dengan mengatakan: “Inilah rumah Amerika dan gagasan bahwa kita tidak mengendalikannya adalah gila.”

Militer Perancis Terlibat dalam Serangan ke Tal Avar, Ini Laporannya

BAGHDAD (Jurnalislam.com) – Militer Prancis terlibat dalam upaya merebut kembali Tal Afar di kota Mosul barat dari cengkeraman kelompok Islamic State (IS) Menteri Luar Negeri Ibrahim al-Jaafari mengatakan pada hari Sabtu (26/8/2017) , dengan mengatakan bahwa 70 persen distrik tersebut telah dibebaskan.

Tal Afar terletak kira-kira 60 kilometer sebelah timur perbatasan Irak-Suriah.

Berbicara pada sebuah konferensi pers bersama dengan mitranya dari Prancis dan menteri pertahanan Prancis di ibukota Baghdad, al-Jaafari mengatakan bahwa dia memperkirakan seluruh distrik akan dibebaskan segera, lansir Anadolu Agency.

Pada hari ini Ahad (27/8/2017), pemerintah Irak akan melancarkan serangan besar untuk merebut kembali Tal Afar, dengan melibatkan tentara, unit polisi federal, pasukan kontra IS dan milis Syiah Hashd al-Shaabi – pasukan Syiah yang dimasukkan ke dalam tentara Irak tahun lalu.

Tentang peran Prancis dalam operasi militer saat ini di Tal Afar, al-Jaafari mengatakan: “Prancis telah menyediakan dukungan logistik dan udara dalam pertempuran melawan IS.

“Kami meminta lebih banyak kerjasama antara Irak dan Prancis, dan negara-negara lain, untuk mencegah anggota organisasi IS melarikan diri dan tidak membiarkan mereka melakukan operasi teroris di negara lain,” tambahnya.

Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly mengucapkan selamat kepada rakyat Irak dan pihak berwenang atas “komitmen mereka terhadap perang melawan IS,” dengan hormat, yang disebutnya sebagai “kemenangan besar di Mosul”.

Bulan lalu, Perdana Menteri Haidar al-Abadi secara resmi mengumumkan kemenangan melawan IS di Mosul setelah sebuah operasi militer sembilan bulan yang didukung oleh koalisi internasional yang dipimpin AS.

“Semua upaya sekarang terfokus pada pembebasan Tal Afar dan saya tidak ragu lagi tentang kemenangan yang dicapai oleh pasukan Irak dengan dukungan koalisi internasional,” kata Parly.

“Perancis dalam kerangka koalisi sangat berkomitmen dalam hal pelatihan dan operasional.

“Pasukan Perancis melalui koalisi internasional telah memberikan dukungan udara serta artileri dalam pertempuran Tal Afar, dan kami datang hari ini ke Irak untuk mengkonfirmasi kelanjutan dukungan Prancis terhadap Irak pada tahap berikutnya.”

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian mengatakan Irak sekarang berada dalam fase antara akhir perang dan awal rekonsiliasi.

Mujahidin Kashmir Serbu Basis Militer India, Sedikitnya 8 Pasukan Tewas

Srinagar (Jurnalislam.com) – Empat polisi dan empat personil paramiliter India tewas saat pejuang Kashmir menyerbu sebuah instalasi polisi di bagian selatan wilayah yang disengketakan.

Serangan tersebut dimulai sekitar pukul 4 pagi pada hari Sabtu (26/8/2017) ketika sekelompok pejuang Muslim Kashmir menerobos basis polisi distrik yang sangat dijaga di Pulwama, 35 km dari kota utama Kashmir Srinagar.

Penduduk desa setempat mengatakan bahwa mereka terbangun pada dini hari oleh deru tembakan dan ledakan yang intens.

“Kami sedang tidur saat mendengar suara tembakan dan kemudian terdengar suara ledakan. Kami pikir suara-suara ini akan berakhir tapi terus berlanjut berulang kali,” kata Abdul Rashid, warga kota Pulwama. “Kami belum pernah mendengar intensitas tembakan seperti itu.”

Pejabat mengatakan pejuang masuk dengan cepat ke kompleks yang luas, yang juga merupakan tempat tinggal para polisi dan keluarga mereka dan berhasil membuat barikade di dalam sedikitnya dua bangunan bertingkat.

Dalam baku tembak sengit yang terjadi, empat polisi dan empat personil paramiliter terbunuh saat daerah tersebut bergema dengan ledakan besar.

“Empat polisi dan empat personil Polisi Pusat Cadangan (Central Reserve Police Force) tewas dan empat lainnya luka-luka,” kata Direktur Jenderal Polisi Shesh Paul Vaid kepada Al Jazeera. “Kami juga telah menemukan mayat dua pejuang tidak dikenal yang terlihat asing.

“Operasi masih berlangsung saat kita mencari di bangunan ketiga untuk menemukan mayat pejuang ketiga,” katanya.

Keluarga polisi dievakuasi dan tidak ada situasi penyanderaan.

Dalam sebuah pernyataan ke surat kabar lokal, kelompok Jaish-e-Mohammad mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Operasi untuk mengakhiri serangan terhadap pejuang berlanjut sepanjang hari karena ratusan pasukan keamanan dan tentara mengepung daerah tersebut.

Pertarungan senjata juga memicu protes di desa Pulwama saat penduduk yang simpatik melemparkan batu ke polisi dan tentara paramiliter serta konvoi yang menuju ke lokasi pertempuran.

Serangan tersebut terjadi saat tentara India meluncurkan serangan besar-besaran di distrik Kashmir selatan, yang menjadi pusat pejuang sekarang di kawasan ini.

Serangan hari Sabtu tersebut adalah salah satu yang mematikan melawan pasukan India di wilayah yang disengketakan di mana mereka memerangi perjuangan yang bangkit kembali.

Tahun lalu, pejuang Muslim Kashmir menyerbu sebuah pangkalan militer India di dekat kota perbatasan Uri, menewaskan 18 tentara. Serangan pada September tahun lalu menyebabkan gejolak baru dalam hubungan dingin antara India dan Pakistan.

Kelompok pejuang telah berjuang sejak tahun 1989 di wilayah yang dikelola India untuk menjadi independen atau bergabung dengan Pakistan. Hampir 70.000 orang terbunuh dalam perjuangan tersebut dan tindakan militer India selanjutnya.

India mempertahankan sekitar 500.000 tentara di wilayah jajahannya itu.

Sentimen anti-India berkembang jauh di kalangan mayoritas Muslim Kashmir dan sebagian besar mendukung pejuangan melawan pemerintah India tersebut meski militer meluncurkan tindakan keras selama beberapa dekade terhadap perjuangan bersenjata tersebut.

India menuduh Pakistan mempersenjatai dan melatih pejuang, sebuah tuduhan yang disangkal Pakistan.

Black Hawk AS jatuh di Lepas Pantai Yaman

YAMAN (Jurnalislam.com) – Sebuah helikopter Black Hawk milik AS jatuh pada Jumat malam di lepas pantai selatan Yaman, dan pencarian awak helicopter sedang berlangsung, Komando Pusat AS mengumumkan pada hari Sabtu (26/8/2017), World Bulletin melaporkan.

Helikopter tersebut jatuh sekitar 20 mil (32 km) di lepas pantai selatan Yaman pada pukul 7 malam. (1600 GMT) saat latihan militer di wilayah tersebut, kata CentCOM dalam sebuah pernyataan.

Lima awak lainnya di dalam helikopter diselamatkan setelah kecelakaan tersebut, pernyataan tersebut menambahkan.

Penyebab kecelakaan masihdalam penyelidikan.

Kasus Alfian Tanjung, Majelis Mujahidin: Pemerintah Diskriminatif!

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin, Irfan S Awwas mengatakan, pemerintah telah melakukan diskriminasi terhadap pegiat anti-komunis, Ustadz Alfian Tanjung.

Menurutnya, Ustadz Alfian hanya mengungkapkan fakta sejarah tentang Partai Komunis Indonesia (PKI). Akan tetapi pemerintah justru membiarkan aktivis-aktivis anti-Islam yang kerap menyerukan permusuhan dan pelecehan terhadap Islam.

Nota Keberatan Kuasa Hukum Alfian Tanjung : Dakwaan JPU Batal Demi Hukum

“Kenapa Victor Laisdokat tidak ditangkap oleh pemerintah. Sedangkan Alfian Tanjung hanya menyampaikan dalam ceramahanya fakta sejarah tentang komunisme malah ditangkap,” ujar Irfan kepada Jurnalislam.com di Ponpes Benda Tasikmalaya, Sabtu (26/8/2017).

Padahal, lanjut Irfan, fakta-fakta sejarah yang disampaikan oleh Ustadz Alfian bertujuan untuk menyelamatkan bangsa dari partai yang telah dinyatakan dilarang melalui TAP MPRS No 25 Tahun 1966 itu.

Sidang Kedua, Ini 7 Poin Penting Nota Keberatan Ustaz Alfian Tanjung

“Sementara si Victor ini yang justru mengancam pembunuhan tapi dibiarkan bebas. Ini tindakan diskriminatif dan ini tidak akan menjadi baik bagi masa depan Indonesia,” kata Irfan.

Sebagaimana diketahui, Ustadz Alfian Tanjung dijerat dengan Pasal 156 KUHP dan Pasal 16 juncto Pasal 4 UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi dan RAS, Pasal 45 junto 28 UU 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Irfan S Awwas: Kerjasama Pemerintah dengan Komunis Merusak Moral Bangsa

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin, Irfan S Awwas mengatakan, kerjasama pemerintah dengan Negara-negara komunis tidak membawa manfaat bagi bangsa Indonesia. Bahkan, kata dia, kerja sama itu hanya akan membawa kerusakan moral.

Irfan menyinggung soal dibebaskannya visa masuk bagi 169 negara yang membuat Cina leluasa membawa narkoba ke Indonesia.

Umat Islam Magelang Tolak Kedatangan Sekjen Partai Komunis Vietnam ke Indonesia

“Tahun 2016 sudah dibuat Undang-undang bebas masuk Indonesia tanpa visa bagi 169 negara. Dan kita lihat akibatnya Cina masuk bawa narkoba, bawa bibit beracun, bibit wortel, bibit cabe, kemudian bawa pelacur juga,” papar Irfan kepada Jurnalislam.com di Ponpes Benda, Tasikmalaya, Sabtu (26/8/2017).

Irfan juga menanggapi kerjasama terbaru antara pemerintah Indonesia dengan negara komunis Vietnam.

“Anda bisa bayangkan nanti jika betul hasil pertemuannya dengan komunis Vietnam ini, lalu akan ada pesawat yang pramugarinya berbikini masuk ke Indonesia, ini kerusakan moral yang sangat dahsyat,” ungkapnya.

Irfan menilai, kerjasama pemerintah Indonesia dengan negara-negara komunisitu hanya akan merusak pembinaan moral yang dibangun umat Islam melalui lembaga-lembaga pendidikan dan pesantren.

Maskapai Bikini Bertentangan dengan Budaya Bangsa, ISAC : Jangan Rusak Generasi Muda!

“Jadi pembinaan moral yang kita bangun melalui lembaga pendidikan, pesantren itu akan hancur dalam satu hari saja,” tegas Irfan.

Oleh sebab itu, sambungnya, hubungan pemerintah dengan negara-negara komunis tidak hanya melanggar Undang-undang No. 27 tahun 1999, akan tetapi menjerumuskan Indonesia ke dalam perpecahan.

Majelis Mujahidin: Pemerintah Semakin Mesra dengan Komunis

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Ketua Laznah Tanfidziyah Majelis Mujahidin, Irfan S Awwas mengatakan, rezim Jokowi semakin mesra dengan komunis. Hal itu dikatakan Irfan menanggapi penyambutan Presiden Jokowi atas kunjungan Sekjen Partai Komunis Vietnam (PKV), YM Nguyen Phu Trong di Indonesia belum lama ini.

“Dari kunjungan tersebut kita bisa melihat bahwa rezim Jokowi ini semakin mesra dengan komunis,” kata Irfan kepada Jurnalislam.com di Ponpes Benda, Tasikmalaya, Sabtu (26/8/2017).

Presiden Bertemu Sekjen Partai Komunis Vietnam, Ini Pernyataan Sikap Forsika Jatim

Irfan menjelaskan, kemesraan rezim Jokowi dengan komunis itu dapat dilihat dari dua segi. Pertama, pada tahun 2016 pemerintah membuat Undang-undang bebas masuk Indonesia tanpa visa bagi 169 negara, termasuk Cina.

“Dan kita lihat akibatnya Cina masuk bawa narkoba, bawa bibit beracun, bibit wortel, bibit cabe, kemudian bawa pelacur juga,” tegasnya.

Kedua, lanjut Irfan, adalah kerjasama pemerintah dengan negara-negara komunis, yang terbaru dengan Vietnam. Padahal, kata dia, Undang-undang No. 27 Tahun 1999 mengatakan, siapa saja untuk yang berhubungan dengan komunisme atau bekerja sama baik di dalam maupun di luar negeri akan dipidana 15 tahun penjara.

Jalin Kerjasama dengan Komunis, DSKS Tegur Presiden

“Tetapi bukan hanya rezim pemerintah yang bekerja sama dengan komunis sekarang ini, komunis Cina maupun komunis Vietnam atau komunis Korea Utara, tetapi juga partai,” ungkap Irfan.

PDIP dan Nasdem diketahui berulang kali mengirimkan kadernya ke Cina untuk mengadakan ‘diklat kepempinan’ bersama Partai Komunis Cina. “Karena itu rakyat Indonesia seharusnya memprotes pemerintahan ini dan juga PDIP dan Nasdem,” pungkasnya.

Ungkapan Syukur Kepala Suku Kokoda Berada di Tanah Suci

Catatan Perjalanan Haji 1438 H Jurnalis Islam Bersatu (JITU) 5

“Apakah kita sudah sampai di Madinah?” kata Ibrahim Wugaje Haruna, kepala suku Kokoda, salah satu suku di Sorong, Papua Barat, kepada penulis saat bis yang mengantarnya dari Jeddah berhenti di depan Kantor Pusat Penerimaan Haji dan Umroh, di jalan al Hijrah, Selasa (22/8/2017).

“Ya,” jawab penulis singkat.

“Alhamdulilah… alhamdulillah,” kata Ibrahim berulang kali. “Saya harus ceritakan ini kepada orang-orang di kampung saya.”

Ibrahim lalu menempelkan ujung jarinya ke tanah, menciumnya, dan mengusapkan telapak tangannya ke muka. Mungkin itu bentuk rasa syukurnya sebab Allah SWT telah menakdirkanya tiba di kota yang dulu pernah dibangun Rasulullah SAW.

Penulis kemudian berkata kepada pria berusia 66 tahun itu. “Tempat yang Bapak injak ini, mungkin dulu pernah dilalui oleh Rasulullah SAW.”

Ibrahim terdiam.

“Dan bukit itu …” penulis lalu menunjuk sebuah bukit gersang berbatu di kejauhan, “… mungkin seperti itulah jalan yang dulu dilalui oleh Rasulullah SAW saat hijrah dari Makkah ke Madinah. Ceritakan juga itu kepada orang-orang di kampung Bapak.”

Ibrahim mengangguk.

Perjalanan hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah bukanlah proses yang mudah. Proses itu telah dipersiapkan secara matang oleh Rasulullah SAW selama berminggu-minggu. Sebab, risiko yang akan dihadapi tidaklah kecil.

Peristiwa hijrah ini dimulai dengan pemberangkatan secara diam-diam bersama Abu Bakar Ra pada malam hari menuju arah selatan Makkah. Pada saat itu sebagian besar Sahabat sudah lebih dahulu hijrah ke Madinah.

Percobaan pembunuhan pertama berhasil dielakkan setelah Rasulullah SAW meminta sepupunya Ali bin Abu Thalib menggantikan dirinya tidur di ranjang yang biasa ia tiduri.

Setelah berhasil menjauh, Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ra bersembunyi di sebuah gua di Bukit Tsur yang terletak sekitar lima kilometer dari Makkah.

Selama di gua tersebut Rasulullah SAW telah merancang strategi penyelamatan dengan melibatkan putra Abu Bakar Ra yakni Abdullah bin Abu Bakar, sang pengembala kambing bernama Amir bin Fuhairah, dan sang penunjuk jalan bernama Abdullah bin Ariqat.

Setelah itu, Rasulullah SAW tiba di kampung Quba dan mendirikan masjid seserhana bernama Masjid Quba serta shalat Jumat di wadi Ranuna. Barulah kemudian Rasulullah SAW berhasil mencapai Madinah dengan sambutan ramai mayarakat setempat.

Kisah hijrah Rasulullah SAW ini tak sekadar harus diceritakan Ibrahim Wugaje Haruna kepada masyarakat suku Kokoda saja, tetapi juga kepada seluruh Muslim, terutama kaum muda. Mengapa? Sebab, Dr ‘Abdul ‘Azhim Mahmud al-Dayb pernah berkata, sejarah bukan sekadar pengetahuan masa lalu, melainkan ilmu masa kini dan masa depan. Dengan sejarah, kita bisa mengetahui masa lalu, menafsirkan masa kini, dan merancang masa depan.

Di dalam al-Qur’an surat Hûd [11] ayat 120, Allah SWT berfirman, “Dan semua kisah tentang Rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat (pelajaran), dan peringatan bagi orang yang beriman.”

Dan, bagi Ibrahim, perjalanan haji bukan sekadar perjalanan ibadah, namun perjalanan sejarah yang harus ia ceritakan kepada masyarakat kampungnya.

Hari ini, Kamis (24/8/2017), Ibrahim telah menikmati dan meresapi indahnya shalat di Masjid Nabawi, masjid yang dibangun oleh Rasulullah SAW dengan segala keutamaannya. Hari ini Ibrahim akan bertolak dari Madinah menuju Makkah untuk menunaikan haji.

Penulis: Mahladi | Islamic News Agency (INA)

Kainama, Mantan Pendeta yang Melepas Kerinduannya kepada Baitullah

Catatan Perjalanan Haji 1438 H Jurnalis Islam Besatu (JITU) #4

Rasa rindu Agustinus Christofel Kainama kepada Ka’bah pagi ini (25/8/2017) terobati. Usai shalat subuh, mantan pendeta Gereja Zebaot, Bogor, Jawa Barat, ini memasuki Masjidil Haram.

Sebetulnya, Kainama sudah pernah melihat Ka’bah sebelumnya. Tahun 2012, pria kelahiran Ambon ini mendapat kesempatan mengunjungi Baitullah.

Tapi selepas itu, Kainama mengaku selalu rindu dengan Baitullah. “Saya selalu ingin ke sini dan berdoa agar bisa ke sini lagi,” jelas pria yang pernah kuliah di jurusan Liturgi Teologi, Leiden ini. Seluruh biaya kuliah ketika itu ditanggung oleh Gereja Zebaot.

Tahun Ini Yayasan Al-Manarah Al-Islamiyah Hajikan 123 WNI

Allah SWT ternyata mengabulkan doanya. Kedutaan Besar Arab Saudi mengundangnya untuk berhaji tahun ini. “Ini benar-benar seperti mimpi. Allah ternyata memberi kesempatan kepada saya untuk melihat Ka’bah lagi,” tutur Kainama

Kainama memeluk Islam pada tahu 2011. Namun, beberapa tahun sebelum itu, ia sudah gundah gulana dengan agamanya yang lama.

Setelah memeluk Islam, Kainama malah gencar mengajak teman-temannya untuk memeluk Islam. Ia bahkan tak sungkan berdakwah di gereja. “Yang paling mengedankan adalah ketika kita mensyahadatkan orang di bawah Salib,” tutur Kainama.

Buat mualaf seperti dirinya, Ka’bah adalah sesuatu yang menakjubkan. “Ketika seorang mualaf baru pertama kali melihat Ka’bah, dia bisa menangis,” cerita Kainama saat berbincang dengan penulis menjelang memasuki gerbang Masjidil Haram.

Mengapa? Sebab, melihat Ka’bah di depan mata terasa seperti Allah SWT memperlihatkan seluruh kesalahan kita di masa lalu, lalu kita menyesalinya. Bahkan, seorang mualaf seperti dirinya bisa pingsan ketika shalat di dekat Ka’bah.

Rindu untuk kembali ke Baitullah sebetulnya hal yang wajar. Bukankah semua Nabi pernah mendatangi Ka’bah dengan bersusah payah, meskipun wujud Ka’bah ketika itu hanya berupa dataran yang lebih tinggi dibanding sekitarnya?

Bukti sejarah tentang ini telah ditulis oleh Ibnu Katsir. Katanya, tak ada seorang Nabi pun kecuali telah berhaji ke Baitullah (Ka’bah).

Mahmud Sangaji, Nelayan Sorong yang Berhaji Tahun Ini

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa dalam perjalanan hajinya, Rasulullah SAW sampai ke sebuah lembah (wadi) dan bertanya kepada Abu Bakar, “Wahai, Abu Bakar, wadi apakah ini?”

Abu Bakar menjawab, “Ini adalah Wadi Asfan.”

Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan, “Sesungguhnya Nuh, Hud dan Ibrahim telah melewati wadi ini dengan mengendarai onta-onta merah mereka yang dikendalikan dengan tali kekang. Sarung-sarung mereka berasal dari Aba’ dan selendang-selendang mereka dari Nimar. Mereka berhaji ke al Baitul-Atiq (Ka’bah)”.

Bahkan Allah SWT memperbolehkan kaum Muslim untuk berpayah-payah mengunjungi Ka’bah, selain Masjid Nabawi dan Masjid Al Aqsa.

Ka’bah, menurut sejumlah liteatur Islam, dibangun pertama kali oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Keduanya memulai proses pembangunan dengan menambah tinggi Ka’bah menjadi 9 hasta dan lebarnya menjadi 32 hasta dari rukun Aswad sampai rukun Syami.

Beliau melebarkan antara rukun Syami dengan rukun Gharbi (Barat) menjadi 22 hasta, dan antara rukun Gharbi dengan rukun Yamani menjadi 31 hasta, serta antara rukun Yamani dengan rukun Aswad menjadi 20 hasta.

Nabi Ibrahim membuat dua pintu untuk Ka’bah dengan ukuran yang sama. Satu dari arah timur dekat Hajar Aswad, dan yang lainnya dari arah barat dekat rukun Yamani.

Beliau juga membuat lubang di dalam Ka’bah. Yaitu di sebelah kanan orang yang masuk dari pintu timur yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan harta Ka’bah. Kala itu, Ka’bah belum diberi atap.

Setelah pembangunan oleh Ibrahim, Ka’bah sempat beberapa kali dibangun atau direnovasi. Yang pertama, pembangunan oleh bangsa Amaliq dan Jurhum. Pembangunan ini dikarenakan munculnya bencana banjir yang dahsyat dan telah menghancurkan tembok Ka’bah.

Eduard, Mualaf Keturunan Yahudi yang Menginjak Tanah Suci

Setelah itu dilanjutkan pembangunan-pembangunan berikutnya, termasuk kala Rasulullah SAW 35 tahun. Kita kerap mendengar kisah fenomenal di mana Rasulullah SAW ketika itu dipilih oleh masyarakat Quraisy untuk memutuskan siapa di antara mereka yang paling berhak meletakkan hajar aswad di tempatnya.

Ada beberapa lagi pembangunan Ka’bah setelah peristiwa itu. Yang terakhir dilakukan oleh Sultan Murad IV karena beberapa bagian Ka’bah roboh oleh hujan yang amat deras. Sejarah mencatat peristiwa ini terjadi pada Rabu 19 Sya’ban 1039 Hijriah. Setelah itu, hingga Kainama menginjakkan kakinya ke Masjidil Haram, tak ada lagi perombakan terhadap kiblat umat Islam ini.

Sungguh beruntung Kainama. Allah SWT telah memberangkatkannya dengan mudah. Allah memang Maha Berkehendak dan Maha Bijaksana.

Labaik Allahumma labaik.*

Penulis: Mahladi | Islamic News Agency (INA)

Haji dan Insiden Merah Putih Terbalik

Catatan Haji Jurnalis Islam Bersatu (JITU) #3

SAAT berada di shaf awal di Masjid Nabawi, sebelah saya orang India berperawakan gempal. Azan Ashar masih dua jam lagi, ketika ia pamit berwudhu. “Tolong jaga tempat ini. Nanti saya akan kembali,” pesannya. Tak berapa lama, kakek-kakek berwajah etnis China pun mengikuti jejaknya.

Yang saya kuatirkan saat itu, bagaimana kalau nanti mereka terlalu lama pergi, sedangkan shaf awal ini menjadi incaran banyak orang? Bagaimana saya menjelaskan kepada jamaah yang ingin mengambil tempat itu. Atau kepada kedua orang itu ketika nanti ada yang “menyerobot” tempat mereka?

Apa yang saya khawatirkan terjadi. Seorang Negro bertubuh tinggi besar menduduki tempat si India. Si India sendiri belum kembali, padahal kakek-kakek China tak berselang lama kembali ke posisi semula. Ah, bodo amat… lagian siapa suruh berlama-lama wudhu.

Insiden Bendera Terbalik, KH Cholil Ridwan: Jangan Sampai Nasionalisme Kalahkan Keislaman

Kira-kira 10 menit jelang azan, si India kembali. Mengetahui tempat duduknya dihuni, ia pun tak kalah akal. Duduk di antara saya dan si Negro, menghadap arah berlawanan kiblat. Dan saat iqomat dikumandangkan, bisa dibayangkan bagaimana sesak dan berhimpitannya shaf.

Si Negro protes karena menuding si India memaksakan tempat. Si India membela diri, bahkan menodongkan sikutnya. Si Negro cuma bilang, “Ittaqillah…!” Setelah itu keduanya takbiratul ihram. Begitu selesai salam, si Negro mengulurkan tangan dan disambut senyum si India. Jamaah di samping kanan-kiri mereka—termasuk saya, pun turut senyum lega.

Itu cerita dua hari lalu di Masjid Nabawi. Sementara tadi pagi saat thawaf di Masjidil Haram, ada juga sedikit insiden. Rombongan saya memilih thawaf di lantai atas karena anggota kami ada anak kecil penyandang difable. Tiba-tiba kawan saya bernama Yusuf yang persis di samping saya, diseruduk kursi roda milik jamaah berwajah India, tepat di otot di atas tumit kanannya.

Sontak, Yusuf mengaduh kesakitan sambil berusaha memegang tangan saya agar tidak jatuh. Saya pun menatap si India. “I am sorry… maaf.. maaf,” katanya berulang-ulang sambil menghentikan kursi roda yang di dorongnya.

Yusuf masih kesakitan, tapi sedikitpun tak menatap wajah penyeruduk. Sepertinya ia sudah memaafkan, meski sakitnya tidak tertahan. Sesaat kemudian, thawaf pun berjalan kembali. Si India berlalu meninggalkan saya dan Yusuf yang masih tertatih kesakitan.

***

Ibadah haji dengan segenap kompleksitas masalah di dalamnya memang seringkali menimbulkan kejadian-kejadian yang kurang menyenangkan. Jutaan manusia datang dari beragam negara, bangsa, warna kulit dan bahasa. Meski beragam, tujuan mereka hanya satu: memenuhi panggilan Allah untuk datang ke Tanah Haram serta memproklamirkan tauhid dalam lantunan talbiyah yang berulang-ulang.

Kesamaan itulah mungkin yang membuat berbagai insiden yang kurang mengenakkan dapat berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak kesumat apalagi perseteruan. Semangat persaudaraan yang dibangun di atas pondasi tauhid membuat para jamaah mudah untuk saling memaafkan dan merelakan haknya. Itulah salah satu yang membuat orang tahan menempuh kerasnya tempaan fisik selama melaksanakan manasik haji di Tanah Suci.

Mahmud Sangaji, Nelayan Sorong yang Berhaji Tahun Ini

Renungan saya tiba-tiba bubar saat saya coba buka-buka kabar berita di tanah air tercinta!

Ada yang mau berencana menggasak zakat untuk sebagai kas negara seperti pajak; ada pula prahara fitnah pembuat hoax yang diarahkan ke kelompok Muslim berjuluk Saracen. Atau, heboh insiden bendera merah putih yang dicetak dengan warna terbalik oleh panitia SEA Games 2017 di Malaysia.

Insiden itu memicu hujatan sengit, terutama di jagat media sosial. Hujatan itu seperti gendang mengiringi pejabat pemerintah yang kemudian ikut-ikutan mengecam. Gayung pun bersambut. Entah benar atau tidak, sebuah screenshot yang beredar mengabarkan warga Malaysia etnis “nganu” (yang jelas bukan Melayu), meneriakkan yel-yel “Indonesia anj*ng!” saat menyaksikan sebuah laga di acara tersebut.

Keresahan pun menyeruak, terutama dari tokoh dan komunitas Muslim. Disengaja atau tidak, insiden itu sepertinya menjadi lahan empuk untuk memperlebar jurang Malaysia-Indonesia, dua negara dengan warga serumpun. Tak hanya rumpun, secara keyakinan, Islam menjadi agama terbesar di kedua negara itu.

Ingatan saya kembali ke tahun 2013 silam, saat meliput kegiatan bersama NGO kemanusiaan Malaysia dan Indonesia di Patani, Thailand. Saat misi selesai, salah satu warga Patani menyampaikan kalimat perpisahan yang mengaduk-aduk emosi. Katanya:

“Terimakasih kepada kakak-kakak sekalian. Orang Patani menganggap orang Indonesia sebagai kakak tertua, dan orang Malaysia sebagai kakak tengah. Pesan kami, tolong jangan lupakan kami… Kalian punya adik bungsu di sini. Kami ini adik bungsu kalian…”

Tahun Ini Yayasan Al-Manarah Al-Islamiyah Hajikan 123 WNI

Istilah kakak tertua, kakak tengah dan adik bungsu menggambarkan bahwa tanpa ada ikatan agama pun, sesungguhnya mereka itu satu keluarga. Apalagi, nyatanya agama mereka juga sama, Islam. Nenek moyang dan orangtua mereka sama, hingga akhirnya badai fitnah kolonialisme kaum kafir Eropa menyekat mereka dalam bilik sempit bernama negara. Sampai detik ini.

Sekat-sekat itulah yang kemudian membuat adik-kakak dan anggota keluarga itu melupakan identitas dan sejarahnya. Yang ada dalam benak mereka adalah kebanggaan dan kehormatan sebagai sebuah negara atau bangsa. Ketika itu diganggu muncul reaksi yang tidak lagi memedulikan identitas dan sejarah tersebut.

Padahal, sekali lagi sekat itu dibuat oleh “perampok” yang datang ke rumah mereka. Setelah puas menguras isi rumah, “perampok” itu merampas sertifikat dan kemudian memecahnya menjadi sekian bagian. Sebelum badannya benar-benar pergi, para “perampok” itu meninggalkan doktrin yang membuat masing-masing merasa bangga dengan pecahan sertifikatnya. Doktrin itu mulai dari undang-undang buatan mereka hingga yel-yel semangat nasionalisme dan kebangsaan—yang hingga kini terus diawasi dari kejauhan.

***

Terlepas dari siapa dan bagaimana penguasanya hari ini, Al-Haramain (Tanah Suci) dengan ritual ibadah haji yang dijalankan, menjadi momentum kebersamaan yang tepat untuk kembali merenung tentang hakikat diri kita sebagai umat yang satu. Memang banyak bertebaran bendera atau syal yang menunjukkan asal negara. Namun saya merasakan hari ini, di sini, negara hanya sebuah sarana untuk membantu menjawab pertanyaan darimana kita berasal. Bukan standar apa yang membuat kita menjadi cinta atau benci.

Penulis: Tony Syarqi | Islamic News Agency (INA)