Berita Terkini

Penghayat Kepercayaan Dicantumkan di KTP, MUI Solo : Aliran Sesat Bisa Makin Marak

SOLO (Jurnalislam.com)- Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta Drs. Subari menyayangkan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait penyantuman penghayat kepercayaan pada kolom KTP yang disejajarkan dengan agama

Menurutnya, bisa jadi aliran sesat yang menyimpang dari ajaran agama bisa semakin banyak. Apalagi, menurutnya, di Solo saja ada 10 ribu penganut aliran yang menyimpang dari ajaran Islam.

” Kalau secara hitung-hingan meskinya iya, karena mereka merapat ke payung hukum, dan di Solo atau Soloraya ini ada lebih dari 10 ribu,” ujarkatanya Jurnalislam.com di Gedung Balai Muhammadiyah, Rabu, (22/11/2017).

Padahal, menurut Drs. Subari, dalam Undang-undang Dasar 1945 diatur tentang agama, dan bukan aliran sesat. Apalagi kepercayaan bukanlah agama dan tidak bisa disejajarkan dengan agama.

” Dan secara konstitusi kalau itu dicantumkan ke UUD 45 nggak ada yang nyantol, karena di UUD 45 itu, pasalnya itu pasal agama dan bukan pasal aliran kepercayaan, kata kepercayaan itu di artinya agama,” pungkasnya.

Pencantuman Penghayat Kepercayaan di KTP Berdampak Luas, Mulai dari Pernikahan hingga Kematian

SOLO (Jurnalislam.com)- Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta Drs. Subari menyayangkan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait penyantuman penghayat kepercayaan pada kolom KTP yang disejajarkan dengan agama

Menurutnya, selain gegabah, putusan MK tersebut akan menimbulkan masalah baru yang sangat banyak mulai dari pernikahan hingga masalah kematian.

“Nanti impikasinya menjadi jauh, karena setelah mereka ditulis satu kolom dengan agama itu, berikutnya meski pernikahannya seperti apa, kalau pernikahan secara Islam bukan Islam dinikahkan secara Kristen bukan Kristen, dan seterusnya,” katanya kepada Jurnalislam.com di Gedung Balai Muhammadiyah, Rabu, (22/11/2017).

Malah, kata Drs. Subari, saat kematian bias jadi orang mengklaim penghayat kepercayaan ini bisa jadi memiliki kuburan tersendiri. Karenanya, MUI sangat menyayangkan keputusan MK tersebut.

KONAS Desak Pemerintah Tangkap Victor Laiskodat

SOLO (Jurnalislam.com) – Ketua Komunitas Nahi Mungkar Surakarta (Konas) Ustadz Dadyo Hasto mendesak pemerintah untuk segera menangkap politisi partai Nasdem Victor Laiskodat yang telah melakukan penistaan agama dan ujaran kebencian.

“Kami meminta kepada Presiden Republik Indonesia dan Kapolri bahwa penegakan hukum haruslah profesional dan tidak diskriminasi,” terangnya melalui pesan siar yang diterima Jurnalislam.com, Jum’at (23/11/2017)

“Demi tegaknya rasa keadilan di masyarakat, dimohon sesegera mungkin dilakukan penahanan kepada Viktor Laiskodat,” imbuhnya.

Baca juga: “Pemeriksaan dan Penggeledahan Terhadap Jonru Tidak Manusiawi”

Menurut Ustadz Hasto, tidak dilanjutkannya kasus tersebut oleh aparat dengan alasan hak imunitas adalah tidak tepat, anggota DPR RI yang terkena kasus pidana dan korupsi, kata dia, tidak bisa mengunakan UU MD3 tentang hak Imunitas.

“Bahwa Penerapan hak Imunitas anggota DPR RI tidak berlaku bagi perkara pidana dan korupsi,” paparnya.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan Laporan Polisi Nomor LP/775/VIII/Bareskrim tertanggal 4 Agustus 2017, dengan terlapor Viktor Laiskodat telah dilaporkan dengan tuduhan dugaan tindak pidana pencemaran nama baik melalui media elektronik atau penghinaan dan kejahatan tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis, pelanggaran dalam hal penyampaian pendapat di muka umum.

Viktor Laiskodat melanggar UU No. 19/2016 Tentang Perubahan Atas UU No. 11/2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), UU No. 40/2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, UU No. 1/1946 Tentang KUHP 28 Ayat (2) Jo Pasal 45 Ayat (2) Pasal 4 dan 16, Pasal 156 dan Pasal 156A.

 

Inilah Komunike Oposisi Suriah Hasil Konferensi di Arab Saudi

ARAB SAUDI (Jurnalislam.com) – Oposisi utama Suriah mendesak permintaannya pada hari Kamis (23/11/2017) yaitu Presiden Bashar al-Assad tidak boleh berperan dalam periode interim di bawah kesepakatan damai yang disponsori PBB, meskipun ada spekulasi bahwa mereka dapat melunakkan pendiriannya, lansir Al Arabiya.

“Para peserta menekankan bahwa transisi tidak dapat terjadi tanpa kepergian Bashar al Assad dan sekutunya di awal masa interim,” kata kelompok oposisi dalam sebuah komunike saat akhir pertemuan di Arab Saudi.

Kelompok oposisi mengadakan pertemuan untuk mencari posisi terpadu menjelang perundingan perdamaian yang didukung PBB, setelah militer Rusia melakukan intervensi selama dua tahun untuk membantu rezim Assad merebut kembali semua kota besar di Suriah.

Komunike tersebut mengatakan bahwa para peserta mendukung sebuah proses politik berbasis PBB yang memungkinkan Suriah menjalani “transisi politik radikal” dari sebuah “sistem otoriter” ke sebuah demokrasi di mana pemilihan bebas akan dijunjung tinggi.

Oposisi Suriah di Arab Saudi: Hapus Bashar Assad dalam Rancangan Resolusi

Komunike terakhir mencakup hal-hal berikut:

– Memulai negosiasi tanpa prasyarat
– Referensi untuk negosiasi adalah keputusan Konferensi Riyadh
– Mengatasi krisis sesuai dengan resolusi internasional
– Menolak intervensi regional dan internasional, yang dipimpin oleh Iran
– Mundurnya pasukan yang didukung Iran
– Iran ditetapkan membuat perubahan demografis dan menyebarkan terorisme
– mencela peran Iran dalam mendestabilisasi wilayah tersebut
– Menekankan pertanggungjawaban atas kejahatan perang
– Mempertahankan institusi Negara, termasuk keamanan dan reformasi

Pertemuan lebih dari 140 peserta dari spektrum oposisi mainstream yang luas, termasuk anggota independen dan faksi militer Free Syria, juga menyalahkan rezim Suriah karena kurangnya kemajuan dalam perundingan berbasis Jenewa yang diadakan di masa lalu.

“Proses politik belum mencapai tujuannya karena pelanggaran yang dilakukan rezim,” kata komunike tersebut, mengutip pemboman wilayah sipil, pengepungan daerah oposisi dan penahanan puluhan ribu pasukan oposisi.

Perang Suriah, yang sekarang berada di tahun ketujuh, telah membunuh ratusan ribu orang dan menciptakan krisis pengungsi terburuk di dunia, yang membuat lebih dari 11 juta orang keluar dari rumah mereka.

Ada spekulasi bahwa oposisi dapat melunakkan tuntutannya agar Assad meninggalkan kekuasaan sebelum transisi pada pertemuan tersebut. Riyad Hijab, seorang pemimpin garis keras oposisi yang memimpin Komite Negosiasi Tinggi yang mewakili oposisi pada putaran perundingan sebelumnya, tiba-tiba berhenti pekan ini.

Serangan Martir Taliban di Kabul Bunuh 6 Pasukan AS

KABUL (Jurnalislam.com)Al-Emirate News mengatakan pada hari Kamis (23/11/2017) bahwa sedikitnya 6 orang penyerang AS tewas dalam serangan martir di distrik Qarabagh, provinsi Kabul, Rabu.

Hafiz Mohammad Ilyas, seorang Mujahid yang tak kenal takut dari devisi syahid Imarah Islam (Taliban) meledakkan roketnya pada Rabu malam di dekat sekelompok personil militer Amerika yang sedang turun dari tank mereka. Sedikitnya 6 teroris AS terbunuh, koresponden melaporkan.

Serangan Bom Mobil Taliban Hantam Konvoi Pasukan NATO di Kabul

Sementara sehari sebelumnya, sekitar pukul 09:00 waktu setempat Selasa pagi hari, seorang infiltrator heroik mujahid Imarah Islam – Muhammad Azam Khadim Helmandi – melepaskan tembakan ke pasukan musuh di dalam sebuah pos pemeriksaan di dekat pusat distrik Marjah.

Menurut rincian koresponden, sebanyak 27 personil ANA dan ANP tewas sang mujahid gugur dalam baku tembak tersebut.

Juga dilaporkan infiltrator lain telah menewaskan dan melukai beberapa pasukan boneka di dalam markas polisi distrik tersebut beberapa hari lalu.

Operasi ini sangat mempengaruhi operasi musuh di distrik tersebut.

Perundingan Damai Suriah di Sochi dalam Pemberitaan Media di Dunia

ANKARA (Jurnalislam.com) – Media dunia meliput pertemuan puncak trilateral yang diadakan di resor Sochi, Laut Hitam, yang dihadiri Presiden Recep Tayyip Erdogan, Vladimir Putin dan Hassan Rouhani untuk membahas masa depan Suriah.

Di Amerika Serikat, New York Times menempatkan KTT tersebut sebagai berita utama dengan judul ” Rusia, Turki dan Iran Usulkan Konferensi tentang Masa Depan Suriah Pasca Perang (“Russia, Turkey and Iran Propose Conference on Postwar Syria’s Future,),” dengan mengatakan bahwa ketiga pemimpin tersebut mengumumkan sebuah kesepakatan pada hari Rabu untuk mensponsori sebuah konferensi demi mencapai penyelesaian damai perang Suriah, Anadolu Agency, Kamis (23/11/2017)

The Washington Post menulis: “Pembicaraan Suriah di Rusia dan Arab Saudi bermaksud menyatukan semua pihak,” seraya menambahkan:

“Para pemimpin Rusia, Turki dan Iran pada hari Rabu membahas cara untuk mempromosikan penyelesaian damai di Suriah, termasuk kembalinya pengungsi, bantuan kemanusiaan dan pertukaran tahanan, sementara kelompok-kelompok oposisi Suriah lainnya bertemu di Arab Saudi untuk mengatasi masalah perpecahan dan membentuk front persatuan sebagai persiapan perundingan damai Suriah di Jenewa.”

Oposisi Suriah di Arab Saudi: Hapus Bashar Assad dalam Rancangan Resolusi

CNN International, di situs mereka, menggunakan tajuk utama “Rusia, Iran, Turki setuju untuk mengadakan kongres Suriah ‘untuk pembicaraan damai”. Laporan tersebut melaporkan: “Ketiga pemimpin telah mengeluarkan sebuah pernyataan bersama yang bertujuan untuk melanjutkan perundingan damai Suriah dan menemukan solusi berkelanjutan untuk periode pasca konflik dengan mengadakan ‘Kongres Nasional Dialog Suriah,” kata Putin.

Surat kabar Suddeutsche Zeitung di Jerman mengklaim bahwa Rusia, Iran dan Turki duduk di meja Kongres Rakyat di Suriah, sambil mengajukan pertanyaan apakah Kongres akan berkumpul dalam konstitusi baru dengan partisipasi sekitar seribu orang di Sochi di awal Desember.

The Times di Inggris menulis sebuah judul “Putin menyerukan reformasi Suriah di pertemuan puncak pemimpin di Sochi,” menekankan bahwa ketiadaan AS “dipertanyakan”, mengingat kehadiran militernya di Suriah.

“Putin membawa Iran dan Turki bersama dalam rencana perdamaian Suriah yang berani,” tulis Guardian, menambahkan bahwa presiden rezim Suriah, Bashar al-Assad, juga telah bertemu Putin menjelang KTT tersebut.

El Mundo Spanyol menulis: “Iran dan Turki mengajukan tawaran untuk ‘pax Rusia’ di Suriah,” sementara La Vanguardia menulis: “Putin mendapat dukungan dari Erdogan dan Rouhani untuk meluncurkan proyek perdamaian mereka di Suriah.”

Die Presse di Austria menyatakan sebuah opini mengenai KTT Sochi. Sambil merefleksikan foto yang diambil saat KTT, Martin Gehlen menulis: “Mediator internasional terpenting di masa depan Suriah adalah bos Kremlin, itulah pesan dari gambar-gambar ini.”

Koran RBK menerbitkan sebuah analisis yang mengatakan bahwa dampak Rusia terhadap Assad tidak terbatas dan Assad berkewajiban memberikan beberapa konsesi selama negosiasi yang akan datang; Jika tidak, Rusia bisa menarik dukungannya.

Perundingan Damai Suriah Mencapai Titik Kritis

Koran Kommersant menulis topik yang paling penting di KTT mengenai sensibilitas Turki terhadap organisasi teroris.

Situs yang berbasis di Moskow Gazeta.ru mengatakan dalam analisisnya yang berjudul “Peace from Russia” bahwa dengan pertemuan puncak Sochi, Rusia memperkuat tangannya dalam negosiasi internasional.

Media Georgia mengatakan bahwa KTT di Sochi merupakan indikator nyata untuk menemukan solusi bagi perang Suriah.

Menurut kantor berita Georgia Interpressnews, Erdogan, Putin dan Rouhani menyetujui sebuah perjuangan bersama untuk mengakhiri konflik di Suriah.

Surat kabar Azerbaijan Sark mengucapkan terima kasih kepada Erdogan atas konsultasi konstruktifnya.

Ketegangan Meningkat, Korea Utara dan Kuba Tolak Tuntutan AS

KUBA (Jurnalislam.com) – Menteri luar negeri Kuba dan mitranya dari Korea Utara menolak tuntutan ‘sepihak dan sewenang-wenang’ Amerika Serikat pada hari Rabu saat mengungkapkan kekhawatiran tentang meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea, kementerian tersebut mengatakan.

Korea Utara mencari dukungan di tengah tekanan AS dan masyarakat internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menghentikan program senjata nuklir dan rudalnya, yang bertentangan dengan resolusi Dewan Keamanan PBB.

Negara tersebut, yang tidak merahasiakan rencananya untuk mengembangkan rudal yang mampu mencapai daratan AS, telah mempertahankan hubungan politik yang hangat dengan Kuba sejak 1960, terlepas dari penentangan Kuba terhadap senjata nuklir.

Beberapa diplomat mengatakan Kuba juga merupakan salah satu dari sedikit negara yang mungkin bisa meyakinkan Korea Utara untuk menjauh dari pertarungan dengan AS yang mengancam perang saat ini.

Para menteri, yang bertemu di Havana, menyerukan “penghormatan terhadap kedaulatan rakyat” dan “penyelesaian sengketa damai,” menurut sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh kementerian luar negeri Kuba.

Donald Trump: Kami akan Hancurkan Korea Utara

“Mereka menolak keras daftar dan sebutan unilateral dan sewenang-wenang yang ditetapkan oleh pemerintah AS yang menjadi dasar pelaksanaan tindakan pemaksaan yang bertentangan dengan hukum internasional,” kata pernyataan tersebut.

Presiden Donald Trump juga telah meningkatkan tekanan pada Kuba sejak menjabat, memutar kembali sebuah detente yang rapuh yang dimulai oleh pendahulunya, Barack Obama dan kembali ke retorika Perang Dingin yang mencekam.

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan bahwa AS telah menjelaskan bahwa mereka menginginkan sebuah resolusi damai untuk masalah nuklir Korea Utara.

“Perilaku berperang dan provokatif DPRK menunjukkan bahwa pihaknya tidak berminat untuk berusaha menuju solusi damai,” kata pejabat tersebut.

DPRK adalah nama resmi Korea Utara, Republik Rakyat Demokratik Korea (the Democratic People’s Republic of Korea).

Kuba mengatakan dalam pernyataannya bahwa menteri luar negeri Kuba dan Korea Utara telah “menyatakan keprihatinannya tentang eskalasi ketegangan” di Semenanjung Korea.

Menteri Pertahanan AS Tegang Lihat Kekuatan Nuklir Korea Utara

“Para menteri membahas upaya masing-masing yang dilakukan dalam pembangunan sosialisme sesuai dengan realitas yang melekat pada negara masing-masing.”

Kuba dan Korea Utara adalah dua negara terakhir di dunia yang mempertahankan ekonomi pemerintah bergaya Soviet. Walaupun di bawah Presiden Raul Castro, negara Karibia itu telah mengambil beberapa langkah kecil menuju komunisme China yang berorientasi pasar.

Kuba mempertahankan kedutaan di Korea Utara, namun perdagangan umum hampir secara eksklusif dilakukan dengan Korea Selatan. Tahun lalu, perdagangan dengan Korea Selatan berjumlah $ 67 juta dan dengan Korea Utara hanya $ 9 juta, menurut pemerintah Kuba.

Korea Utara membela program persenjataannya karena sebagai pertahanan yang diperlukan melawan rencana AS untuk menyerang. AS, yang memiliki 28.500 tentara di Korea Selatan, sebagai warisan perang Korea 1950-53, membantah tuduhan rencana penyerangan tersebut.

Bangladesh akan Pulangkan Ratusan Ribu Pengungsi, Aktivis Rohingya: Nyawa Mereka Belum Terjamin

BANGLADESH (Jurnalislam.com) – Bangladesh dan Myanmar telah menandatangani kesepakatan untuk mengembalikan ratusan ribu pengungsi Rohingya, yang berlindung di kota perbatasan Cox’s Bazar setelah tindakan keras brutal oleh militer Budha Myanmar.

Kementerian luar negeri Myanmar mengkonfirmasi penandatanganan kesepakatan tersebut pada hari Kamis (23/11/2017), tanpa menjeaskan rinciannya.

“Saya tidak menemukan pernyataan yang jelas bagaimana pengungsi ini akan dipulangkan. Saya tidak yakin apakah mereka akan diizinkan untuk kembali ke desa asal mereka,” kata aktivis Rohingya Nay San Lwin kepada Al Jazeera.

“Sepertinya mereka akan ditempatkan di kamp-kamp sementara, dan kemudian para pengungsi akan dikurung di kamp-kamp untuk waktu yang lama seperti warga Rohingya di Sittwe yang sekarang ini telah dikurung selama lebih dari lima tahun.

Menteri Myanmar untuk pemukiman dan kesejahteraan mengatakan mereka akan memulangkan maksimal 300 pengungsi setiap hari. Jadi diperlukan waktu hingga dua dekade untuk memulangkan semua pengungsi tersebut.”

Scott Heidler dari Al Jazeera, melaporkan dari Yangon, mengatakan kesepakatan tersebut merupakan hasil dari tekanan internasional yang terus meningkat terhadap Myanmar.

“Bagi Myanmar, sangat penting untuk menunjukkan beberapa kemajuan dalam menanggulangi krisis Rohingya,” kata Heidler.

San Lwin mengatakan bahwa pengungsi seharusnya tidak kembali jika kewarganegaraan dan hak dasarnya tidak dijamin.

“Bangladesh seharusnya tidak mengirim kembali pengungsi Rohingya ke Myanmar kecuali jika kewarganegaraan dan hak-hak dasar mereka dijamin. Orang-orang yang melarikan diri ke Bangladesh tinggal di penjara udara terbuka selama hampir tiga dekade, sekarang sepertinya mereka akan dikirim kembali ke kamp konsentrasi.”

Inilah Kabar Terakhir Pengungsi Muslim Rohingya di Cox’s Bazar, Bangladesh

Kesepakatan tersebut terjadi setelah pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi bertemu dengan menteri luar negeri Bangladesh untuk menyelesaikan masalah pengungsi yang merupakan salah satu krisis pengungsi terbesar di masa modern.

Lebih dari 620.000 orang telah mengungsi ke Bangladesh sejak Agustus, menghindari tindakan brutal militer Budha Myanmar yang dikatakan AS pekan ini “jelas-jelas merupakan pembantaian etnis terhadap Muslim Rohingya.”

Perundingan antara Aung San Suu Kyi dan rekannya dari Bangladesh terjadi sebelum kunjungan Paus Fransiskus ke kedua negara yang sangat dinantikan. Paus Fransiskus terang-terangan telah meyatakan simpatinya atas penderitaan Rohingya.

Myanmar yang mayoritas beragama Buddha, menyangkal melakukan kekejaman terhadap minoritas Muslim, dan telah sepakat bekerja sama dengan Bangladesh untuk memulangkan sebagian warga Rohingya yang menumpuk di kamp-kamp pengungsi yang sudah sangat kelebihan beban.

Namun kedua negara telah berjuang untuk menyelesaikan rincian, termasuk berapa banyak warga Rohingya yang akan diizinkan kembali masuk Rakhine di mana ratusan desa telah hangus dibakar.

Pekan lalu, kepala militer Myanmar Min Aung Hlaing mengatakan “tidak mungkin menerima orang sejumlah yang diusulkan oleh Bangladesh.”

Dengan dibiarkan tanpa kewarganegaraan, warga Muslim Rohingya telah menjadi sasaran kekerasan komunal dan sentimen anti-Muslim yang ekstrem selama bertahun-tahun.

Inilah Kesepakatan Myanmar dan Bangladesh Terkait Krisis Pengungsi Muslim Rohingya

Mereka juga secara sistematis ditindas oleh pemerintah, yang menelanjangi kewarganegaraan dan sangat membatasi gerakan mereka, serta menutup akses layanan dasar bagi mereka.

Krisis terakhir meletus setelah pejuang Rohingya melakukan perlawanan, menyerang pos polisi pada 25 Agustus.

Tentara Myanmar menyerang dengan menghujani keganasannya di Rakhine utara, dimana para pengungsi menceritakan kejadian mengerikan, tentara Budha dan massa Buddhis membantai penduduk desa dan membakar seluruh komunitas.

Militer membantah semua tuduhan namun membatasi Internasional akses ke zona konflik.

Pemerintah Aung San Suu Kyi juga telah berjanji untuk menolak visa bagi misi pencari fakta PBB yang bertugas memeriksa laporan penganiayaan oleh militer.

Jamaah Asharusyariah: Reuni 212 adalah Momentum Umat Kembalikan Kedaulatan

SOLO (Jurnalislam.com) – Juru bicara Jamaah Ansharusy Syariah, Ustaz Abdul Rochim Ba’asyir mengatakan, acara reuni 212 mendatang diharapkan menjadi momen umat Islam untuk merebut kembali kedaulatannya.

“Reuni 212 adalah momentum besar kaum muslimin untuk membangkitkan kembali semangat ukhuwah Islamiyah umat Islam dan memperjuangkan kedaulatan kaum muslimin,” katanya kepada Jurnalislam.com di Solo, Kamis (23/11/2017).

Ia menegaskan, umat Islam lah yang telah memerdekakan negeri ini. Untuk itu, kata dia, umat Islam harus merebut kembali kedaulatannya dari tangan-tangan perusak yang saat ini bercokol di tampuk kekuasaan.

“Jika umat Islam tidak memimpin negeri ini maka yang memimpin adalah orang-orang bejat yang hanya memanfaatkan suara umat Islam untuk kemudian berbuat kerusakan di negeri ini,” tegasnya.

Selain itu, ustaz Iim, sapaannya, berharap reuni 212 dapat menjadi momentum untuk membangkitkan ekonomi umat. Ia mengaku miris dengan potensi besar ekonomi umat Islam yang hanya dimanfaatkan oleh kepentingan ekonomi non-muslim.

“Untuk itu, sudah saatnya kita bangkit merebut kembali kedaulatan kaum muslimin,” ujarnya.

Lebih jauh, putra ulama sepuh, Ustaz Abu Bakar Baasyir ini menjelaskan, reuni 212 adalah salah satu syiar umat Islam yang sangat membanggakan. Ia berharap, kegiatan ini berlangsung setiap tahun guna menjaga semangat kebersamaan umat dalam rangka membangun Indonesia yang penuh barokah.

“Semoga ini menjadi momentum tahunan yang akan menyalakan semangat ukhuwah kaum muslimin. Sampai bertemu di Monas Insya Allah,” tutupnya.

OPM, Organisasi Separatis Pengancam Kedaulatan NKRI

Oleh : Zainuddin Arsyad, Presiden ASEAN Muslim Students Association/Aktifis Mahasiswa Nasional

JURNALISLAM.COM – Organsasi ini telah nyata melakukan makar terhadap negara. Memiliki bendera, struktur pemerintahan, militer dan itu semua pasti melalui rentetan kesepakatan bersama. Jadi bukan lagi Kelompok Kriminal Bersenjata tapi segerombolan pelaku makar dan Separatis.

Seharusnya pemangku kebijakan telah mengeluarkan darurat militer dan mengeluarkan keputusan Politik bahwa Organisasi Papua Merdeka gerakkan makar separatis yang harus kita hadapi secara bersama-sama.

Organisasi Papua Merdeka (OPM) adalah organisasi yang didirikan pada tahun 1965 untuk mengakhiri Pemerintahan Provinsi Papua dan Papua Barat yang saat ini di Indonesia, yang sebelumnya dikenal sebagai Irian Jaya, bahkan sempat menyatakan untuk memisahkan diri dari Indonesia.

Organisasi Papua Merdeka (OPM) memiliki sayap organisasi Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dibentuk pada 26 Maret 1973. Sejak 2012 melalui reformasi TPN, Jenderal Goliath Tabuni diangkat menjadi Panglima Tinggi Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat.

Sejak awal OPM telah menempuh jalur dialog Diplomatik, melakukan upacara pengibaran Bendera Bintang Kejora, dan dilakukan aksi militan sebagai bagian dari konflik Papua. Pendukung secara rutin menampilkan bendera Bintang Kejora dan simbol lain dari kesatuan Papua, seperti lagu kebangsaan “Hai Tanahku Papua” dan lambang negara yang telah diadopsi pada periode 1961 sampai pemerintahan Indonesia dimulai pada Mei 1963 di bawah Perjanjian New York.

Para pimpinan OPM telah mendeklarasikan untuk tetap berjuang memisahkan diri dari Indonesia sampai kemerdekaan itu mereka capai :

1. Kampanye untuk meminta dukungan internasional terus mereka lakukan sehingga negara-negara yang tergabung dalam negara di kawasan Pasifik terus mengangkat isu kemerdekaan bagi Papua.

2. Aksi kampanye melalui demonstrasi baik ditingkat internasional seperti di Australia protes “Bebaskan Papua Barat” di Melbourne, Australia, Agustus 2012. Dan aksi di dalam negeri yang pernah dilakukan mahasiswa Papua di Yogyakarta, Jakarta, dan Sulawesi Utara dengan tuntutan yang sama kemerdekaan Papua. Karena aksi tersebut berdampak secara sosial mengakibatkan terjadinya benturan antara mahasiswa Papua dengan masyarakat sekitarnya khususnya yang terjadi di Yogyakarta berujung terjadinya pengepungan asrama mahasiswa Papua di Yogyakarta 14 Juli 2016.

3. Aksi militer separatis terus dilakukan, yang terbaru penyanderaan 1.300 warga dan mengakibatkan seorang anggota Brimob tewas.

Persoalan Papua harus segera diselesaikan, setelah sekian tahun terjadi konflik sejak 1965 yang telah merenggut ribuan nyawa anak-anak bangsa Indonesia dan bangsa asing bertepuk sebelah tangan yang juga ikut terlibat memainkan dinamika konflik demi keuntungan kepentingan mereka. Ketegasan dan kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat khususnya mahasiswa dan pemuda untuk meredam bahkan mengakhiri konflik ini sangat dibutuhkan.

Dan dampak konflik politik, sosial akan berdampak pula dalam penyelsaian konflik Papua yang telah menjadi persoalan internasional. Maka dari kita butuh ketegasan pemerintah dengan mengharapkan dapat melakukan tindakan diantaranya :

1. Pemerintah dan DPR sebaiknya segera mengeluarkan keputusan politik bahwa OPM bukan hanya Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) tapi pelaku makar/separatis yang harus dilakukan tindakan militer. Jumlah mereka secara kekuatan orang dan persenjataan tidak seberapa di bandingkan dengan kekuatan militer TNI ditambah dukungan personil Polri. Kualitas secara individu sangat jauh berbeda.

2. Cegah semua bentuk aksi demonstransi mahasiswa dan pemuda Papua baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Asrama mahasiswa dan organisasi mahasiswa Papua yang tersebar di berbagai pusat kota pendidikan di negeri ini seharusnya dibina secara langsung dengan mewajibkan pendidikan bela negara Indonesia. Khususnya di Yogyakarta yang pernah terjadi konflik dengan masyarakat setempat dan juga Jakarta sebagai langkah awal dan menjadi percontohan untuk di beberapa daerah.

3. Transmigrasi penduduk dari pulau Sumatera, Sulawesi, Jawa, Kalimantan, Maluku harus tetap dilakukan ke Papua sehingga asimilasi kebudayaan terus berjalan dengan cepat.

4. Pembangunan ekonomi dan pendidikan bagi daerah Papua yang dilakukan pemerintah saat ini masyarakat Indonesia harus terus mendukung program pemerintah yang telah berjalan dengan baik.

5. Pemerintah juga harus mendapatkan dukungan semua kalangan khususnya umat Islam untuk menjaga keutuhan NKRI di Papua. Umat Islam yang jumlahnya hampir mencapai 90 persen dan di Papua sebesar 50 persen sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas politik didalam negeri khususnya di daerah Papua.

6. Tekanan terhadap negara yang mendukung kemerdekaan Papua ditambah Australia dan Inggris harus ditingkatkan dengan dorongan seluruh element bangsa Indonesia.

Permasalahan yang terjadi di Papua sangatlah serius dan harus menemukan formula baru untuk mengatasi konflik yang berkepanjangan. Melalui keputusan politik yang tegas antara Pemerintah dan DPR menjadi bagian dari solusi. Pemerintah juga seharusnya mampu meredam gejolak politik yang terjadi. Tidak seperti kasus korupsi Seperti Setya Novanto dan KPK yang menjadi polemik membingungkan masyarakat. Kerugian korupsi yang didugakan Setya Novanto tidak begitu besar jika dibandingkan dampak sosialnya dan pemecahan kosentrasi menjaga kedaulatan NKRI di Papua.

Dengan merangkul semua kalangan khususnya umat Islam yang sempat mengalami kekecewan besar terhadap pemerintah dalam kasus penistaan agama yang dipandang keberpihakannya sehingga kalangan umat islam melakukan aksi sampai berjilid-jilid yang diikuti jutaan umat Islam.

Jika kalangan umat Islam tidak dirangkul serta aspirasi umat Islam diabaikan maka akan berdampak buruk terhadap keberlangsungan berbangsa dan bernegara karena menimbulkan ketidakpastian politik serta akan terus menimbulkan gejolak berdampak pada stabilitas negara yang membuat fokus kita mempertahankan kedaulatan papua tidak fokus.

Maka disinilah kita melihat pemerintah dan DPR dimana keberpihakannya terhadap bangsa dan negara atau kepentingan kelompoknya serta politiknya. Manajemen kepemimpinan saat ini sangat dibutuhkan bangsa dan negara di masa-masa banyaknya konflik politik hingga konflik dengan para pelaku makar atau separais di Papua.

Bangsa ini butuh pemimpin yang memiliki seni kemampuan dalam memimpian, seni meredam konflik politik, seni merangkul lawan politik, seni menerima aspirasi rakyat, seni mengendalikan amarah rakyat, seni menjalankan pemerintahan yang berwibawa termasuk berwibawa didalam mengatasi para pemberontak di Papua di hadapan rakyatnya dan seluruh masyarakat dunia.

Dan bagi para mahasiswa dan pemuda untuk terus menerpa diri selama berada dibangku kuliah khususnya mengembangkan kualitas kepemimpinan dalam, keilmuan, moralitas, seni kepemimpian dan keberanian dalam kewibawaan dan ketegasan sehingga ketika kita melanjutkan estapet kepemimpinan dimasa akan datang jabatan yang di amanahkan kepada kita atau status sosial yang diemban bukan lagi tempat baru belajar, tapi sudah menjadi ladang amal kita dari ilmu yang kita dapatkan selama berada di bangku kuliah.