Berita Terkini

Hari Santri dan Insiden Bendera

Oleh: Agastya Harjunadhi, Former Sekjen Young Islamic Leaders. Duta Pemuda Indonesia untuk Malaysia 2014.

JURNALISLAM.COM – Salah satu kekayaan Indonesia yang unik adalah menjadi negara dengan populasi muslim terbesar di Indonesia. Semakin unik karena muslim terbesar ini terdiri dari masyarakat yang sangat heterogen baik dari sisi budaya, adat, suku, bahasa, dan tentunya daerah. Dari Sabang hingga Merauke, dari Pulau Sumatra hingga Papua, rata memiliki jejak Islam yang membuatnya menjadi agama mayoritas negeri zamrud khatulistiwa ini.

Sejak diresmikannya oleh Presiden Jokowi tahun 2015 lalu, Hari Santri Nasional disambut dengan sangat gembira oleh kalangan santri juga Kyai. Hari Santri juga telah menjadi momen ekspresi bagi kaum pelajar khususnya Islam di kalangan pesantren. Walaupun begitu, tetap ada sebagian masyarakat yang menilai tak perlu.

Terlepas dari opini masyarakat, penulis yang juga pernah menjadi santri melihat bahwa Hari Santri Nasional patut diapresiasi. Karena ini adalah momen untuk kita semua agar terus menerus diingatkan akan sejarah masa lalu. Jelas bahwa landasan penentuan Hari Santri adalah ketika lahirnya Resolusi Jihad dari Nadlatul Ulama.

Ketika itu, Jendral Soedirman yang dikenal sebagai guru SD Muhammadiyah yang memimpin perang gerilya memohon pada utusan dari arek Suroboyo untuk menghadap ke KH Hasyim Asyari, pendiri NU, tentang fatwa membela negara. Atas dasar itu para Kyai se-Jawa Madura berkumpul dan kemudian merumuskan fatwa untuk merespon penjajahan atas Negara Indonesia yang baru berdiri.

Maka, setelah pertemuan panjang, dicetuskanlah Resolusi Jihad yang menggetarkan sanubari dan membakar jiwa. Isinya adalah tentang fatwa perjuangan melawan penjajah mempertahankan tanah air Indonesia. Resolusi Jihad dengan cepat disebarkan kepada masyarakat luas. Bahkan yang tersebar ke seluruh penjuru Indonesia melalui pidato fenomenal dari Bung Tomo, yang sangat luar biasa membakar.

Perjuangan ketika itu banyak dipimpin oleh para Kyai, tokoh masyarakat, dan diikuti oleh kalangan santri, dan tak ketinggalan pemuda masyarakat pada umumnya. Tua muda bahkan sebagian perempuan ikut berjuang. Mereka bersemangat menjemput syahid di medan juang. Puncaknya adalah pertempuran 10 November yang dahsyat, yang kemudian kita kenang menjadi hari Pahlawan.

Kontribusi besar NU mengeluarkan Resolusi Jihad telah menjadi catatan sejarah gemilang umat Islam membela NKRI. Namun sayang hari ini, ada oknum dalam organisasi underbow NU melakukan tindakan yang kurang pantas. Tersebar video dengan durasi 2 menit 30 detik merekam adanya oknum Banser (Barisan Pemuda Ansor) Garut, organisasi kepemudaan binaan NU, melakukan adegan pembakaran bendera berwarna hitam bertuliskan kalimat tauhid “Laa ilaaha illallaah, Muhamadarrasuulullah”.

Dalam insiden itu, mereka sembari menyanyikan lagu hubbul wathan dan mengibar-kibarkan bendera besar merah putih. Pemandangan ini sangat disayangkan karena tidak mencerminkan sama sekali kearifan lokal Indonesia yang menjunjung tinggi toleransi dan saling menghormati. Indonesia, negeri yang terkenal santun, tepa slira, bhineka tunggal ika, seyogyanya tak melakukan tindakan yang menyudutkan pihak tertentu atau merusak simbol tertentu, apalagi simbol Islam.

Simbol agama mereka (para pelaku) sendiri. Simbol bendera berlafalkan kalimat tauhid tersebut menurut keyakinan Islam merupakan simbol agama, berlandaskan hadist rasululla shalallahu alayhi wasallam: “Panjinya (râyah) Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam– berwarna hitam, dan benderanya (liwâ’) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “lâ ilâha illaLlâh Muhammad RasûluLlâh”.” (HR. Al-Thabrani)

Setelah penulis teliti lebih lanjut dan mengikuti perkembangan, ada keterangan yang tidak sama dari pihak-pihak yang terkait. Dikutip dari Vivanews, Ketua Umum GP Ansor, Gus Yaqult menerangkan pembakaran itu benar, karena dianggap itu bendera ormas HTI. Ketua GP Ansor Saiful Rahmat Basuki dalam wawancaranya di salah satu stasiun tv swasta, tajuk Kabar Petang, menyatakan pembakaran diniatkan untuk menyelamatkan kalimat tauhid.

Dalam konteks hari ini, pembakaran bendera bermakna menghinakan. Kita ambil contoh seperti pembakaran bendera Israel, adalah cara mengungkapkan kebencian kita kepada negara tersebut yang menjajah Palestina. Maka sungguh sangat disayangkan apabila oknum Banser membakar bendera bertuliskan kalimat tauhid apabila disertai niat memang ingin menghinakan karena menganggap bahwa bendera itu tidak layak dikibarkan dengan landasan bahwa itu adalah bendera ormas radikal. Jika ingin menyelamatkan kalimat tauhid, harusnya disimpan, bukan dibakar.

Apapun alasannya, jika sebagai seorang muslim yang diajarkan sikap hormat, seharusnya tak perlu melakukan pembakaran terhadap bendera yang bertuliskan kalimat simbol keimanan. Saya berhusnudzan semoga memang karena ketidaktahuan. Tapi jika karena niat benci terhadap HTI, seharusnya kita semua bisa lebih menahan diri. Sikap hati-hati ini perlu disosialisasikan kepada ummat, agar tidak terjerumus dan menjadi fitnah terhadap agama kita. Karena kewajiban menjaga martabat/kemuliaan agama adalah bagian dari keimanan.

Kami menyayangkan tindakan oknum Banser melakukan tindakan tersebut. Kami mendukung aparat melakukan penegakkan sesuai hukum yang berlaku. Kami juga mendukung pihak internal Banser melakukan sanksi dalam rangka menghormati kalimat kita bersama, kalimat tauhid, dan kemudian memberikan klarifikasi yang menenangkan dan menyejukkan ummat. Bahkan perlu memberikan pernyataan maaf kepada ummat Islam Indonesia dan seluruh dunia tersebab telah melakukan tindakan yang menyinggung. Mari kita saling menghormati, dalam bingkai saudara sebangsa dan terlebih saudara seiman.

Janganlah keluhuran momen Hari Santri Nasional ternodai dengan insiden yang menodai kalimat tauhid. Padahal tanggal 22 Oktober 1945 lalu, kalimat inilah yang menjadi landasan utama bertempur melawan penjajah membela NKRI. Justru jika ingin membela NKRI itu adalah dengan memuliakan agama.

Muhammadiyah : Wajar Umat Islam Marah Karena Bendera Kalimat Tauhid Dibakar

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengatakan bahwa sangat wajar kalau umat Islam kini marah karena bendera tauhid dibakar.

“Sangat wajar apabila sebagian umat Islam marah terhadap aksi pembakaran kalimat tauhid,” kata Sekum PP Muhammadiyag, Abdul Mu’ti dalam keterangan tertulis yang diterima Jurnalislam.com, Selasa (23/10/2018).

Walapun demikian, kata Mu’ti, masyarakat, khususnya umat Islam, tidak perlu menanggapi persoalan pembakaran bendera secara berlebihan.

Kata Mu’ti, aksi massa tandingan dan kemarahan yang berlebihan berpotensi menciptakan perpecahan dan kekisruhan yang berdampak pada rusaknya persatuan umat dan bangsa.

“Bagi masyarakat yang berkeberatan dan melihat persoalan pembakaran sebagai tindak pidana penghinaan, sebaiknya menyelesaikan melalui jalur hukum, dan menghindari penggunaan kekuatan massa dan kekerasan,” pungkasnya.

PP Muhammadiyah : Banser Harus Meminta Maaf kepada Umat Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pimpinan Pusat Muhammadiyah meminta Banser meminta maaf atas aksi pembakaran bendera berlafaz tauhid.

“Pihak Banser Garut harus meminta maaf kepada umat Islam atas tindakan tidak bertanggung jawab anggota mereka dan  melakukan pembinaan agar masalah serupa tidak terjadi lagi pada masa yang akan datang,” kata Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti memberikan keterangan resmi, Selasa (23/10/2018).

Menurutnya, Muhammadiyah menganggap aksi tersebut kebablasan, apalagi ini terjadi di hari santri. “Kalaupun yang mereka melakukan itu sebagai bentuk nasionalisme, ekspresi dan aktualisasinya keliru. Nasionalisme seharusnya dilakukan dengan cara-cara yang santun dan tetap dalam bingkai akhlak yang luhur,” kata Mu’ti.

Jika yang mereka maksudkan adalah membakar bendera HTI, tambah Mu’ti,  maka ekspresinya bisa dilakukan dengan cara yang lain.

“Kalaupun dengan membakar bendera cukup dengan simbol atau tulisan HTI, bukan dengan membakar bendera bertuliskan kalimat  maka cukup ditulis Tauhid/Thayyibah,” pungkasnya.

Selain Muhammadiyah, MUI pun telah melakukan konferensi pers, dan menyayangkan kejadian tersebut dan meminta pelaku pembakaran agar meminta maaf. Sejumlah demonstrasi besar-besaran terjadi di beberapa daerah di Indonesia hari Selasa ini.

 

Desainer Grafis Protes Font AGA Islamic Phrases Malah Dituding Bendera HTI

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Desainer grafis profesional Kreathifa Studio, Ally M Abduh ikut angkat suara soal tudingan sekelompok orang yang menuding font dalam bendera kalimat tauhid  adalah bendera HTI.

Menurutnya, font kalimat tauhid yang ditudingkan bendera HTI sebenarnya sudah ada sejak lama, didigitaliasi dan dikenal dengan font AGA Islamic Phrases.

“Bendera yang dituduh bendera HTI, nggak ada bedanya dengan bendera tauhid secara umum karena font/khotnya sama. Lihat saja bendera tentara Hizbullah pada jaman kemerdekaan dulu, kan sama. Memang pasti sama karena isi kalimatnya sama dan khotnya sama,” kata Ally kepada Jurnalislam.com, Selasa (23/10/2018).

Desain kalimat tauhid itu, kata berawal dari hadits Rasul tentang bendera Islam yg isinya dua kalimat syahadat itu.  Jenis khotnya itu, didigitalisasi oleh desainer, dan salah satu desainer yang  membuat font itu adalah Mohammad Alagha.

“Font itu dibuat pada tahun 1994 oleh Mohamad Alagha dari Almeida Interactive, seorang desainer grafis keturunan yang tinggal di Inggris. Dia telah banyak membuat font-font arab yang bisa dinikmati oleh para desainer secara cuma-Cuma,” tambah Ally.

Font yang berisi karakter-karakter seperti kaligrafi atau gambar-gambar arab, kata Ally disebut. Dingbat ini, tambahnya  sangat bermanfaat karena formatnya sudah vector.

“Dingbat kaligrafi dua kalimat tauhid itu adalah salah satu karakter dari font yang namanya AGA Islamic Phrases,” kata Ally.

Adalah aneh, kata Ally kalau sekarang font AGA Islamic Phrases malah dituding font-nya HTI, padahal font tersebut bebas digunakan siapapun untuk memudahkan para desainer.

“Alagha tidak ada hubungan dengan HTI. Fontnya pun bebas, bisa digunakan siapa saja, silakan gunakan AGA Islamic Phrases. Kalau font itu dituduh bendera HTI ya nggak bisa dong. Lalu, kami para desainer mau pake font apalagi? Saya yakin semua desainer muslim di dunia saat ini memakai font AGA Islamic Phrases untuk kebutuhan desainnya,” pungkasnya.

Selain Garut, Ribuan Warga Soloraya Juga Gelar Aksi Bela Tauhid

SURAKARTA (Jurnalislam.com) – Ribuan Umat Islam Soloraya berunjuk rasa di Mapolresta Surakarta, Selasa (23/10/208). Kehadiran massa ini untuk menuntut keadilan atas tindakan anggota Banser yang telah membakar bendera tauhid di Garut beberapa waktu lalu.

“Siapa saja yang telah menghilangkan kalimat tauhid dan menghilangkan panji-panji tauhid maka kalian akan berhadapan dengan kami,” ujar Syamsudin Asrori, salah seorang orator dari mobil komando.

“Karena dengan kalimat tauhid itu kita hidup dan kita akan mati,” tambahnya.

Sementara itu, orator lain Muhammad Taufiq mengatakan saat ini adanya ketidak adilan kepada umat Islam menyoal bendera.

“Kita ini sedang berada di dunia terbalik, orang yang mengibarkan bendera PKI, Papua Merdeka dibiarkan saja, tetapi orang yang membawa bendera tauhid dikriminalisasi.”

“Orang yang menurunkan bendera PKI itu seorang Patriot, sedangkan orang yang membakar bendera tauhid adalah seorang idiot,” ujar pakar Hukum Universitas Djuanda Bogor tersebut.

Sampai berita ini diturunkan, Aksi unjuk rasa bertajuk ‘Bela Kalimat Tauhid Bertajuk ‘Lawan Penista Simbol Agama’ dilokasi masih banyak umat Islam yang terus berdatangan ke tempat Aksi.

Ribuan Warga Garut Demo Kutuk Pembakaran Bendera Tauhid

GARUT (Jurnalislam.com) – Siang ini, Selasa (23/10/2018) ribuan warga Garut berunjuk rasa di Simpang Lima, Garut. Aksi ini untuk menolak pembakaran bendera tauhid oleh anggota banser Garut beberapa waktu lalu.

Hampir semua peserta aksi membawa bendera tauhid, mereka berkonvoi dari Simpang Lima menuju Alun-alun kota Garut.

“Kami aliansi umat Islam Bela Tauhid mengutuk keras pembakaran bendera tauhid yang dilakukan oleh Banser, siap bela tauhid samordarna (sampai mati-red)?” teriak seorang orator dari mobil komando.

Massa yang didominasi oleh kaum lelaki itu terus berdatangan dari seluruh penjuru Garut.

“Saya mah teu ridho we lafadz laa illa ha illalloh diduruk (saya tidak rido lafadz laailaha illalloh dibakar),” kata Ujang, seorang warga yang sedang menyaksikan konvoi.

Penjagaan ketat pun dilakukan oleh aparat gabungan TNI-Polri. Terlihat beberapa mobil dalmas mengikuti konvoi dari belakang. Hingga berita ini diturunkan aksi masih berlangsung.

Reporter: Ally Muhammad Abduh

Buat Gaduh Umat Islam, MUI Minta Pelaku Pembakaran Bendera Tauhid Minta Maaf

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI), meminta pelaku pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid untuk meminta maaf kepada seluruh umat Islam dan mengakui kesalahannya.

“Karena aksi pembakaran bendera (tauhid) telah menimbulkan kegaduhan di kalangan umat Islam. Maka MUI meminta pelaku segera meminta maaf dan mengakui kesalahannya,” kata Sekjen MUI, Anwar Abbas saat konferensi pers di Kantor MUI, Cikini, Jakpus, Selasa (23/10/2018).

MUI mengimbau kepada semua pihak untuk menyerahkan masalah ini kepada pihak kepolisian agar diproses secara adil dan profesional.

“Ini untuk menghindari kegaduhan yang semakin memanas dan menjaga persatuan bangsa,” pungkasnya.

Agar suasana tetap kondusif, kata dia, MUI memohon kepada semua pihak untuk dapat menahan diri, tidak terpancing dan tidak terprovokasi oleh pihak-pihak tertentu agar tali persaudaraan di kalangan umat serta bangsa tetap terjaga dan terpelihara.

“Kami juga mengimbau kepada Pimpinan ormas Islam, para ulama, kyai, ustaz dan ajengan untuk membantu mendinginkan suasana dan menciptakan kondisi yang lebih kondusif sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” pungkasnya.

Desainer Grafis Bantah Tudingan Font Kalimat Tauhid Identik Bendera HTI

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com)–Desainer grafis professional Kreathifa Studio, Ally M Abduh membantah keras pernyataan yang menyatakan bahwa bendera dengan font kalimat tauhid adalah bendera HTI.

Font kalimat tauhid, menurut Ally sangat beragam. Para desainer dengan kreatifitasnya terinspirasi dari berbagai font yang beredar dan sudah dibuat sejak lama, bahkan zaman Rasulullah.

“Tidak ada yg mengetahui siapa desainer awalnya, tapi yang pasti desain dua kalimat tauhid itu berawal dari hadits Rasul tentang bendera Islam yg isinya dua kalimat tauhid itu. Jenis khotnya (font) Tsulutsh,” kata Ally kepada Jurnalislam.com, Selasa (23/10/2018).

Kaligrafi / khot kalimat tauhid, kata Ally, akhirnya didigitalisasi oleh para desainer sehingga menjadi file TTF dan OTF. Hal itu katanya untuk memudahkan para desainer.

“Font yang berisi karakter-karakter seperti kaligrafi atau gambar-gambar itu disebut Dingbat,” tambahnya. Dingbat, tambahnya sangat bermanfaat karena sudah berformat vector, sehingga para desainer tidak perlu lagi meng-trace kaligrafi yang sudah ada.

“Dingbat kaligrafi dua kalimat tauhid itu adalah salah satu karakter dari font yang namanya AGA Islamic Phrases.Dibuat pada tahun 1994 oleh adalah Mohamad Alagha dari Almeida Interactive, seorang desainer grafis keturunan yang tinggal di Inggris. Dia telah banyak membuat font-font arab yang bisa dinikmati oleh para desainer secara cuma-Cuma,” ungkapnya.

Alagha, kata Ally jelas bukan anggota HTI, dan ia adalah desainer profesional yang  menghasilkan banyak karya kaligrafi, salah satunya kalimat tauhid. Tentu saja, kata Ally, kalimat tauhid yang ditrace Alagaha sudah ada sejak lama, dan Alagha hanya melakukan digitalisasi.

Ally jelas menyesalkan tudingan pihak tertentu kalau font AGA Islamic Phrases malah dituding font khas HTI.

“Kalo font itu dituduh bendera HTI ya nggak bisa dong. Terus kami para desainer mau pake font apalagi?” tanyanya.

“Saya yakin semua desainer muslim di dunia saat ini memakai font AGA Islamic Phrases utk kebutuhan desainnya,” pungkasnya.

 

Peduli Simbol Agama Islam, Warga Soloraya akan Gelar Aksi ‘Bela Kalimat Tauhid’

SOLO (Jurnalislam.com) – Kasus pembakaran bendera aksara Arab tauhid menuai reaksi dari berbagai pihak. Diantaranya, Komunitas Nahi Mungkar Surakarta (Konas). Ketua Konas, Dadyo Hasto mengaku umat Islam khususnya Soloraya geram dengan tindakan yang diduga menistakan agama tersebut.

“Dan kasus ini sudah tidak bisa ditolerir lagi, mohon maaf saudaraku, oknum-oknum organisasimu telah melukai terlalu dalam keimanan kami, maka kami menuntut agar pelaku dihukum dan dipidana serta permintaan maaf secara resmi dari organisasi,” katanya kepada Jurnalislam.com, Senin, (22/10/2018).

Hasto menjelaskan, bentuk reaksi peduli agama umat Islam di Soloraya dengan melakukan aksi Bela Kalimat Tauhid pada hari ini, Selasa (23/10/2018). Aksi yang rencananya akan konvoi menggunakan kendaraan bermotor dan membawa bendera tauhid itu, dikatakannya sebagai bentuk respon atas dugaan penistaan agama yang dilakukan oknum Banser di Garut.

Undangan aksi Bela Kalimat Tauhid Umat Islam Soloraya

“Aksi ini sebuah kepedulian dan perhatian elemen Islam Soloraya kepada keimanan saudara kita, agar kasus seperti ini jangan terulang lagi, jika belum faham ilmunya maka belajar, itulah fungsi pembinaan organisasi,” ungkapnya.

“Kita ingin menunjukkan keimanan sebagai umat Islam Ahlu Sunnah wal jamaah, bahwa tidak ada yg boleh menghina serta melecehkan ajaran Islam dan simbol-simbol Islam, siapapun itu dan atas dasar alasan apapun itu,” imbuhnya.

Lebih lanjut, aksi yang dimulai pada pukul 12.30 wib di Lapangan Kartopuran ini dikatakannya akan berjalan damai dan tertib.

“Aksi spontanitas elemen Islam Soloraya akan berjalan tertib dan aman, karena kita kedepankan akhlak dan adab dalam bergerak, semoga pihak terkait bisa membantu memperlancar aksi spontanitas ini, dan tidak perlu khawatir berlebihan,” tandasnya.

Diketahui, aksi ‘Bela Kalimat Tauhid Lawan Penista Agama’ ini akan melewati rute lapangan Kartopuran, lalu kantor PCNU dan dilanjutkan menuju Mapolresta Surakarta.

4 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK, KAMMI: Kinerja Alami Kemerosotan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) menggelar aksi unjuk rasa di empat tahun masa pemerintahan Jokowi-JK di depan Istana Negara, Senin (22/10/2018).

Dalam aksinya, mereka melakukan long march dari Patung Kuda di Jl. Medan Merdeka Barat menuju depan Istana Merdeka. Selain itu mereka menyatakan saat ini kondisi Indonesia dalam kondisi yang memprihatinkan.

KAMMI menyerukan lima poin yang membuat rakyat Indonesia prihatin. Yaitu utang negara, kedaulatan pangan, kedaulatan hukum, tenaga kerja asing, dan narkoba.

KAMMI menjelaskan, meningkatnya utang negara semakin membuktikan bahwa kinerja pemerintahan saat ini cenderung mengalami kemerosotan dalam pengelolaan negara. Utang luar negeri Indonesia pada akhir Agustus 2018 tercatat sebesar USD 360,7 miliar atau Rp 5.484 triliun (estimasi kurs 15.206 per dolar AS). Utang tersebut terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar USD 181,3 miliar atau Rp 2.756 triliun dan utang swasta termasuk BUMN sebesar USD 179,4 miliar atau Rp 2.727 triliun. Bahkan, analisa Moody’s dari Bloomberg pada Mei 2018 bahwa Indonesia dalam kondisi berbahaya jika dilihat dari jumlah utang luar negerinya.

“Rakyat tidak dapat dibohongi dengan angka-angka yang diciptakan oleh pemerintah, tapi rakyat dapat merasakan secara langsung efek dari kebijakan-kebijakan yang dilontarkan pemerintah,” ungkap koordinator lapangan Aksi Mahasiswa, Deni Setiadi.

Mengenai kedaulatan pangan, KAMMI menyindir drama Menteri Perdagangan dengan Kepala Bulog yang sempat ‘panas’ beberapa waktu lalu.

Menurut KAMMI, hari ini ketidakkompakan birokrasi secara nyata dipertontonkan melalui perseteruan tersebut.

Deni memaparkan, Data Angka Ramalan (ARAM) I 2018 BPS yang menyebut, produksi padi diperkirakan meningkat dari tahun sebelumnya menjadi 83,0 juta. Mengacu data produksi ini, diperkirakan pada 2018 produksi beras mencapai 48 juta ton, sementara kebutuhan beras dalam negeri sekitar 30 hingga 33 juta ton per tahun.

“Ini menunjukkan produksi dalam negeri sudah jauh melebihi kebutuhan dalam negeri. Stok beras tidak hanya ada di gudang Bulog, tetapi juga ada di rumah tangga, industri, hotel, restoran, dan katering. Sehingga Indonesia tidak perlu lagi harus Impor Beras, namun fakta yang terjadi Kemendag tetap ngotot dengan kebijakan Impor Beras, ada apa?,” tuturnya.

Sedangkan di bidang kedaulatan hukum, KAMMI menilai pemerintah saat ini telah gagal paham dalam mengamalkan sila ke-5 pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal ini dikarenakan tak adanya satu kasuspun pelanggaran HAM masa lalu yang diselesaikan tuntas selama pemerintaan Jokowi.

Padahal, pada masa kampanye Pilpres 2014, Jokowi berkomitmen menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran berat HAM masa lalu dan menghapus impunitas. Komitmen tersebut juga tercantum dalam visi, misi, dan program aksi Nawa Cita milik Jokowi.

“Salah satu poin dalam sembilan agenda prioritas Nawa Cita, Jokowi berjanji akan memprioritaskan penyelesaian secara berkeadilan terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM pada masa lalu,” ungkapnya.

Soal tenaga kerja asing, KAMMI menyebut Peraturan Presiden (Perpres) No 20 tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA) itu cenderung mempermudah masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia. Padahal, banyak tenaga kerja lokal masih butuh lapangan pekerjaan.

Poin terakhir soal narkoba, KAMMI mengungkit pernyataan Badan Narkotika Nasional (BNN) yang menyatakan bahwa bandar narkoba yang tertangkap sampai saat ini baru 20%. Sisanya masih berkeliaran mengoperasikan jejaring peredaran narkoba di semua golongan usia dan profesi.

“Ironisnya, bandar yang sudah dipenjara pun masih bisa mengatur bisnis ilegal dari balik bui. Sementara jumlah pengedar dan gembong narkoba yang ditangkap masih sangat sedikit. Kerugian negara mencapai puluhan triliun setiap tahunnya,” ucap Deni.