Hari Santri dan Insiden Bendera

Hari Santri dan Insiden Bendera

Oleh: Agastya Harjunadhi, Former Sekjen Young Islamic Leaders. Duta Pemuda Indonesia untuk Malaysia 2014.

JURNALISLAM.COM – Salah satu kekayaan Indonesia yang unik adalah menjadi negara dengan populasi muslim terbesar di Indonesia. Semakin unik karena muslim terbesar ini terdiri dari masyarakat yang sangat heterogen baik dari sisi budaya, adat, suku, bahasa, dan tentunya daerah. Dari Sabang hingga Merauke, dari Pulau Sumatra hingga Papua, rata memiliki jejak Islam yang membuatnya menjadi agama mayoritas negeri zamrud khatulistiwa ini.

Sejak diresmikannya oleh Presiden Jokowi tahun 2015 lalu, Hari Santri Nasional disambut dengan sangat gembira oleh kalangan santri juga Kyai. Hari Santri juga telah menjadi momen ekspresi bagi kaum pelajar khususnya Islam di kalangan pesantren. Walaupun begitu, tetap ada sebagian masyarakat yang menilai tak perlu.

Terlepas dari opini masyarakat, penulis yang juga pernah menjadi santri melihat bahwa Hari Santri Nasional patut diapresiasi. Karena ini adalah momen untuk kita semua agar terus menerus diingatkan akan sejarah masa lalu. Jelas bahwa landasan penentuan Hari Santri adalah ketika lahirnya Resolusi Jihad dari Nadlatul Ulama.

Ketika itu, Jendral Soedirman yang dikenal sebagai guru SD Muhammadiyah yang memimpin perang gerilya memohon pada utusan dari arek Suroboyo untuk menghadap ke KH Hasyim Asyari, pendiri NU, tentang fatwa membela negara. Atas dasar itu para Kyai se-Jawa Madura berkumpul dan kemudian merumuskan fatwa untuk merespon penjajahan atas Negara Indonesia yang baru berdiri.

Maka, setelah pertemuan panjang, dicetuskanlah Resolusi Jihad yang menggetarkan sanubari dan membakar jiwa. Isinya adalah tentang fatwa perjuangan melawan penjajah mempertahankan tanah air Indonesia. Resolusi Jihad dengan cepat disebarkan kepada masyarakat luas. Bahkan yang tersebar ke seluruh penjuru Indonesia melalui pidato fenomenal dari Bung Tomo, yang sangat luar biasa membakar.

Perjuangan ketika itu banyak dipimpin oleh para Kyai, tokoh masyarakat, dan diikuti oleh kalangan santri, dan tak ketinggalan pemuda masyarakat pada umumnya. Tua muda bahkan sebagian perempuan ikut berjuang. Mereka bersemangat menjemput syahid di medan juang. Puncaknya adalah pertempuran 10 November yang dahsyat, yang kemudian kita kenang menjadi hari Pahlawan.

Kontribusi besar NU mengeluarkan Resolusi Jihad telah menjadi catatan sejarah gemilang umat Islam membela NKRI. Namun sayang hari ini, ada oknum dalam organisasi underbow NU melakukan tindakan yang kurang pantas. Tersebar video dengan durasi 2 menit 30 detik merekam adanya oknum Banser (Barisan Pemuda Ansor) Garut, organisasi kepemudaan binaan NU, melakukan adegan pembakaran bendera berwarna hitam bertuliskan kalimat tauhid “Laa ilaaha illallaah, Muhamadarrasuulullah”.

Dalam insiden itu, mereka sembari menyanyikan lagu hubbul wathan dan mengibar-kibarkan bendera besar merah putih. Pemandangan ini sangat disayangkan karena tidak mencerminkan sama sekali kearifan lokal Indonesia yang menjunjung tinggi toleransi dan saling menghormati. Indonesia, negeri yang terkenal santun, tepa slira, bhineka tunggal ika, seyogyanya tak melakukan tindakan yang menyudutkan pihak tertentu atau merusak simbol tertentu, apalagi simbol Islam.

Simbol agama mereka (para pelaku) sendiri. Simbol bendera berlafalkan kalimat tauhid tersebut menurut keyakinan Islam merupakan simbol agama, berlandaskan hadist rasululla shalallahu alayhi wasallam: “Panjinya (râyah) Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam– berwarna hitam, dan benderanya (liwâ’) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “lâ ilâha illaLlâh Muhammad RasûluLlâh”.” (HR. Al-Thabrani)

Setelah penulis teliti lebih lanjut dan mengikuti perkembangan, ada keterangan yang tidak sama dari pihak-pihak yang terkait. Dikutip dari Vivanews, Ketua Umum GP Ansor, Gus Yaqult menerangkan pembakaran itu benar, karena dianggap itu bendera ormas HTI. Ketua GP Ansor Saiful Rahmat Basuki dalam wawancaranya di salah satu stasiun tv swasta, tajuk Kabar Petang, menyatakan pembakaran diniatkan untuk menyelamatkan kalimat tauhid.

Dalam konteks hari ini, pembakaran bendera bermakna menghinakan. Kita ambil contoh seperti pembakaran bendera Israel, adalah cara mengungkapkan kebencian kita kepada negara tersebut yang menjajah Palestina. Maka sungguh sangat disayangkan apabila oknum Banser membakar bendera bertuliskan kalimat tauhid apabila disertai niat memang ingin menghinakan karena menganggap bahwa bendera itu tidak layak dikibarkan dengan landasan bahwa itu adalah bendera ormas radikal. Jika ingin menyelamatkan kalimat tauhid, harusnya disimpan, bukan dibakar.

Apapun alasannya, jika sebagai seorang muslim yang diajarkan sikap hormat, seharusnya tak perlu melakukan pembakaran terhadap bendera yang bertuliskan kalimat simbol keimanan. Saya berhusnudzan semoga memang karena ketidaktahuan. Tapi jika karena niat benci terhadap HTI, seharusnya kita semua bisa lebih menahan diri. Sikap hati-hati ini perlu disosialisasikan kepada ummat, agar tidak terjerumus dan menjadi fitnah terhadap agama kita. Karena kewajiban menjaga martabat/kemuliaan agama adalah bagian dari keimanan.

Kami menyayangkan tindakan oknum Banser melakukan tindakan tersebut. Kami mendukung aparat melakukan penegakkan sesuai hukum yang berlaku. Kami juga mendukung pihak internal Banser melakukan sanksi dalam rangka menghormati kalimat kita bersama, kalimat tauhid, dan kemudian memberikan klarifikasi yang menenangkan dan menyejukkan ummat. Bahkan perlu memberikan pernyataan maaf kepada ummat Islam Indonesia dan seluruh dunia tersebab telah melakukan tindakan yang menyinggung. Mari kita saling menghormati, dalam bingkai saudara sebangsa dan terlebih saudara seiman.

Janganlah keluhuran momen Hari Santri Nasional ternodai dengan insiden yang menodai kalimat tauhid. Padahal tanggal 22 Oktober 1945 lalu, kalimat inilah yang menjadi landasan utama bertempur melawan penjajah membela NKRI. Justru jika ingin membela NKRI itu adalah dengan memuliakan agama.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X