Berita Terkini

PDIP Siapkan Langkah Hukum kepada Penuduh Keluarga Jokowi PKI

PANGANDARAN (Jurnalislam.com) — PDI Perjuangan (PDIP) mengancam akan mengambil langkah hukum terkait isu yang dikaitkan dengan calon presiden Joko Widodo (Jokowi).

Hasto menyebutkan seperti isu keterkaitan Jokowi atau keluarganya  dengan PKI. Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto dalam rangkaian Safari Kebangsaan tahap kedua di Pangandaran, Ahad (25/11), mengatakan hal tersebut dilakukan untuk pendidikan politik.

“Tentu bagi mereka yang menyebarkan hoaks dan fitnah, bukti-bukti ada, kemudian kami laporkan ke polisi,” ujar Hasto.

Jalur hukum disebutnya jalan yang paling bermartabat dan berkeadilan untuk memberi efek jera pada penyebar hoaks. Terkait pernyataan Presiden Jokowi menabok penyebar hoaks, dijelaskan Hasto hal tersebut berkaitan dengan mengambil langkah hukum.

“Pernyataan Pak Jokowi untuk menabok tentu saja dengan jalan hukum. Itu tidak bisa dipandang remeh, itu adalah racun bagi demokrasi. Itu adalah hoaks dan fitnah,” ucap Hasto.

Kata-kata keras dari Jokowi disebutnya merupakan upaya untuk mengingatkan berbagai pihak, bahwa pemilu merupakan tanggung jawab bersama karena pemilu mencerminkan peningkatan peradaban.

Hasto menegaskan, kata-kata keras yang dilontarkan Jokowi bukan merupakan kampanye negatif, melainkan untuk saling mengingatkan agar tidak mengorbankan pemilu dengan mengumbar kebencian.

“Pemilu jadi sarana demokrasi rakyat untuk mencari pemimpinnya. Itu yang diingatkan Pak Jokowi dengan kata-kata yang keras. Mumpung kita masih punya waktu beberapa bulan ke depan,” ujar dia.

Jokowi dalam sambutannya saat penyerahan sertifikat tanah di Gunungsugih, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung, Jumat (23/11), mengungkapkan keprihatinannya pada saat memasuki tahun politik yang cenderung tersebar fitnah, beredar kabar bohong dan saling hujat melalui media sosial. Presiden juga geram akan adanya fitnah yang menyebarkan dirinya terkait PKI.

“Fitnah-fitnah seperti itu. PKI itu dibubarkan 1965-1966. Lahir saya itu tahun 61, berarti umur saya baru empat tahun. Lah kok bisa diisukan Presiden Jokowi aktivis PKI,” katanya.

sumber: republika.co.id

 Kader Hidayatullah Komitmen Rutinkan Baca Qur’an hingga Shalat Malam

BALIKPAPAN (Jurnalislam.com) – Silaturahmi Nasional (Silatnas) Hidayatullah yang dimulai sejak Kamis (22/11/2018) lalu di Pondok Pesantren Hidayatullah Induk, Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, telah berakhir pada Ahad (25/11/2018) sore tadi.

Ketua Stering Commitee Kepanitiaan, Ustad Tasyrif Amin, menyebut seluruh rangkaian acara yang menghadirkan ribuan peserta yang merupakan kalangan dai dari sejumlah provinsi, telah berjalan sesuai dengan agenda perencanaan.

“Alhamdulillah, bapak Wakil Presiden RI, HM Jusuf Kalla, hadir membuka acara. Ustad Bachtiar Nasir, Profesor Din Syamsuddin, tokoh dari Turki, Qatar dan Rohingya, semuanya datang,” ujarnya di depan jamaah usai shalat Dluhur di Masjid Agung Ar Riyadh Hidayatullah.

Ustad Tasyrif pun menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh peserta, tamu dan undangan Silatnas, apabila ada sesuatu yang dirasa kurang berkenan dalam hal pelayanan selama pelaksanaan kegiatan berlangsung.

Pada sesi penutupan, jajaran pimpinan ormas Hidayatullah, masing-masing Ustad Abu Ala, Ustad Abdul Mannan, serta KH Abdurrahman Muhammad, secara bergantian naik ke atas mimbar menyampaikan tausiyah dan pesan bernilai penguatan dakwah kepada para dai Hidayatullah.

Kyai Abdurrahman mengatakan, penguatan dakwah itulah yang menjadi kenang-kenangan sekaligus bekal kepada para dai Hidayatullah untuk dibawa kembali ke medan dakwah tempat mereka membina dan membimbing ummat agar lebih mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Adapun Ketua Umum Hidayatullah, Ustad Nashirul Haq, tampil membacakan Piagam Gunung Tembak, sebuah komitmen ketaatan yang dicetuskan pada Silatnas Hidayatullah lima tahun lalu, serta Gerakan Nawafil Hidayatullah, yang lagi-lagi merupakan komitmen ketaatan juga, yang dirumuskan dan dihasilkan pada Silatnas tahun ini.

Poin-poin Gerakan Nawafil Hidayatullah yang dibacakan Ustad Nashirul itu diikrarkan juga oleh ribuan kader laki-laki dan perempuan yang memadati ruang masjid lantai 1 dan 2. Mereka semua berdiri dan mengikuti apa yang diucapkan Ustad Nashirul.

Di antara poin Gerakan Nawafil Hidayatullah itu, yakni setiap kader Hidayatullah wajib memakmurkan masjid,
membaca kita suci Alqur’an setiap hari sebanyak satu juz, rutin mendirikan shalat malam dan membaca wirid pagi dan petang.

“Mari kita membangun komitmen untuk bersama-sama mewujudkan komitmen itu,” tutur Ustad Nashirul.

Alumnus Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia, itu menyebutkan bahwa pelaksanaan atau realisasi dari semua poin yang menjadi komitmen seluruh kader Hidayatullah itu sebenarnya mudah, namun yang berat adalah konsistensi atau istiqomahnya.

Sehingga, Ustad Nashirul pun meminta kepada jamaah Hidayatullah untuk membiasakan dan menyiasati.

“Misalnya dalam membaca Alqur’an satu juz satu hari, bisa mempergunakan kesempatan sebelum dan sesudah shalat fardhu hingga mampu menyelesaikan satu juz sehari,” ucapnya.

Laporan : Irfan

Unik, Ini Cara Lidmi Bangkitkan Semangat Shalat Subuh Berjamaah di Posko Pengungsian

PALU  (Jurnalislam.com)– Strategi unik dijalankan oleh Pimpinan Daerah Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (PD Lidmi) Palu di posko pengungsian Lapangan Mister, Kelurahan Tipo, Palu, Sulawesi Tengah, untuk mengajak warga pengungsian meramaikan kegiatan Shalat Subuh berjamaah, Ahad (25/11/2018).

Strategi yang digunakan adalah dengan menyediakan sarapan pagi berupa bubur kacang hijau hangat kepada warga yang menghadiri shalat Subuh berjamaah di Musholla darurat yang didirikan.

Suguhan sarapan pagi ini digelar setelah Tausiyah subuh yang disampaikan langsung oleh Ketua Lidmi Palu, Ahmad Muslimin.

Tausiyah berjalan 30 menit dengan mengajak warga untuk mentadabburi Nama dan Sifat Allah taala.

“Bapak dan Ibu, diantara nama Allah taala adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang berarti Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Maha pengasihnya Allah taala adalah kasih yang diberikan kepada seluruh makhluknya, baik ia manusia, hewan maupun tumbuhan. Baik ia beriman kepada Allah atau tidak,” jelasnya.

Sedangkan Ar-Rahim atau Maha Penyayangnya Allah, lanjut Ahmad, berlaku hanya kepada orang-orang pilihan Allah taala.

“Maka mari ibu dan bapak sekalian, kita berupaya menjadi orang-orang pilihan yang akan mendapatkan Ar-Rahimnya Allah taala. Maka di momen Shalat subuh ini, kita rebut pilihan Allah taala dengan tampil sebagai HambaNya yang taat dan selalu bertakwa,” pesannya.

Setelah mendengar tausiyah subuh, Tim Lidmi Peduli PD Lidmi Palu kemudian menyuguhkan bubur kacang hijau hangat Bersama hidangan sederhana kepada seluruh jamaah.

“Apa yang kami sajikan mungkin tidak seberapa, ala kadarnya dari kami, semoga menjadi sedikit penyemangat bagi kita semua,” pungkas Muhammad Ridho, relawan Lidmi Peduli, saat menutup Tausiyah Subuh dan mengajak warga untuk sarapan bersama.

Mengenai tujuan suguhan ini, Ridho mengatakan, untuk membina keakraban dengan seluruh warga yang berada di posko pengungsian, terutama bapak-bapak dan ibu-ibu, para orang tua yang mendiami posko.

“Pembinaan Alquran kepada anak-anak dan remaja sedang kami jalankan, maka kami mengharap dukungan dari orang tua mereka, bahkan pembinaan Alquran juga kami rencanakan kepada orang-orang tua tersebut,” ungkap Alumni Fakultas Hukum Universitas Tadulako 2013 ini.

Warga setempat, Ardi mengatakan, gempa dan tsunami yang menerjang warga di Kelurahan Tipo meninggalkan banyak hikmah. Namun menurut beliau, masih banyak warga yang belum bermuhasabah karenanya.

“Kejadian kemarin itu pak betul-betul luar biasa, seperti Kiamat. Allah ingin menunjukkan sebagian dari kuasanya. Maka terimakasih sekali sudah hadir untuk membantu kami untuk selalu ingat Allah, dengan kegiatan-kegiatan keagamaan,” pesannya.

Diantara program Lidmi Peduli yang dijalankan secara rutin di posko ini adalah dalam bidang dakwah dan Pendidikan, yakni permainan edukasi kepada anak-anak, pembinaan Alquran anak-anak dan remaja, serta Pendidikan Alquran Orang Dewasa (DIROSA).

Eggi Sudjana : “Tidak Ada yang Salah dengan Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir”

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Senat mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Perguruan Tinggi Dakwah Islam Indonesia (PTDII) menggelar bedah buku “Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir” yang ditulis oleh Indra Martian, Sabtu (25/11/2018) di Kampus STAI PTDII Jl. Tawes, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Hadir sebagai pembicara, pakar hukum Eggi Sudjana dan penulis buku Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir, Indra Martian, Sayyid Hamidan sebagai keynote speaker.

Dalam paparannnya, Sayyid Hamidan yang pernah menjadi ketua Majelis Mujahidin Wilayah Jakarta ini mengatakan, inti perjuangan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir adalah untuk menjadikkan syariat Islam sebagai hukum positif di Indonesia.

“Inti perjuangan ustadz Ba’asyir terletak pada keinginannya untuk tathbiqus syariah di lembaga formal negara, namun inilah yang tidak diinginkan dan disukai oleh orang kafir dan semi kafir,” kata dia.

Penulis buku, Indra Martian menggambarkan sosok Abu Bakar Ba’asyir sebagai ulama yang istiqomah

“Hari ini yang membawa ustadz Ba’asyir ke penjara adalah keyakinannya terkait konsep negara,  pemerintahan dan kepemimpinan yang berlandaskan syariat Islam dan kepemimpinan Islam yang saya tulis dalam buku ini,” ujar Indra.

Sementara itu, Eggi Sudjana dalam paparannya mengatakan, tidak ada yang salah dengan pemikiran politik Abu Bakar Ba’asyir. Menurutnya, memperjuangkan syariat Islam selaras dengan Pancasila dan UUD 1945.

“Pemikiran politik Abu Bakar Ba’asyir tidak ada yang salah. Perjuangan memperjuangkan syariat Islam selaras dengan Pancasila sila 1 : Ketuhanan Yang Maha Esa, sesuai dengan UUD 1945 pasal pasal 29 ayat 1 dan 2,” paparnya. Ia menjelaskan, Tuhan yang dimaksud dalam pasal 1 adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dalam pasal 2 pun, lanjut Eggi, Undang-undang menjamin setiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadah menurut agamanya.

Bahkan, kata dia, dalam muqodimah UUD 1945 alinea ketiga menyebutkan ‘Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa’

“Jadi penerapan syariat Islam di lembaga negara tidak bertentangan dengan undang-undang,  peraturan yang berada di atasnya yaitu pancasila, UUD 1945 bahkan muqaddimah UUD 1945,” tegas Eggi.

Wow, Ada “Pembakaran Bendera PKI” di Aksi 1000 Bendera Tauhid Solo

SOLO (Jurnalislam.com) – Ribuan umat Islam Soloraya mengikuti tabligh akbar dan longmarch bertajuk ‘Seribu Mujahid Seribu Bendera Tauhid’ di Bundaran Gladak, Surakarta, Ahad (25/11/2018). Disela-sela aksi, ada acara teatrikal pembakaran bendera Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Disini kami berdiri dan konsisten memerangi musuh Allah dan rasulnya. Atheisme, komunisme tidak boleh berkembang dan akan selamanya menjadi musuh kita karena ulah PKI yang sangat keji tehadap bangsa Indonesia,” kata panitia aksi, Sigit sesaat melakukan aksi teatrikal yang disambut antusiasme peserta.

Sementara itu, ketua DSKS Muinudinillah Basri mengungkapkan, adanya ribuan bendera tauhid di acara maulid nabi itu sebagai bentuk cinta kepada Rasulullah.

Orasi ketua DSKS, Muinudinillah Basri. Foto: Arie/Jurnis

“Jangan ngaku cinta nabi jangan ngaku maulid-an kalau tidak menegakkan kalimat tauhid, maka kalau maulid-an jangan lupa tegakkan dalam kehidupan kita,” tegasnya.

Sebelumnya, aksi yang diinisiasi oleh Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), ini juga dilakukan dalam rangka maulid nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam.

Massa yang sudah berkumpul sejak pukul 06.30 wib itu, kemudian melakukan aksi longmarch melewati Mangkunegaran, Jalan Kartini, Slamet Riyadi dan kemudian kembali menuju Bundaran Gladak.

Sejumlah pimpinan ormas Islam dan Tokoh Islam turut hadir dalam acara tersebut, diantaranya ustaz Masud Izzul Mujahid, Tengku Azhar, Faiz Baraja, Sigit, ustaz Irfan S Awwas, Kyai Umar Said, dan Ahmad Rofi’i.

Reporter: Hasan Shogir

Fahri Hamzah dan Fadli Zon Ngopi Bareng Dai Hidayatullah di Arena Silatnas Balikpapan

BALIKPAPAN (Jurnalislam.com) – Ngopi Bareng Kawan Lama berlangsung meriah di pelataran Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat, Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu (24/11/2018) malam tadi.

Rangkaian acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Hidayatullah yang menghadirkan dua Wakil Ketua DPR RI itu, yakni Fadli Zon dan Fahri Hamzah, berupa bincang santai tapi serius ditemani seduhan kopi, pisang rebus, dan jagung rebus.

Kegiatan itu dipandu oleh Dzikrullah W Pramudya, salah seorang wartawan senior Majalah Suara Hidayatullah, yang dihadiri ribuan dai Hidayatullah sebagai peserta Silatnas yang datang dari berbagai provinsi.

Sebelum berbagi, Fahri melantunkan ayat-ayat kitab suci Alqur’an, sedangkan Fadli Zon membacakan puisi.

Mantan Pemimpin Redaksi Majalah Suara Hidayatullah, Hamim Thohari, yang memulai obrolan, membeberkan secara singkat perjalanan karir Fahri yang pernah menjadi wartawannya.

Fahri pun mengamini, dan menyebut, pertama kali mengenal media ormas Hidayatullah itu saat sempat mengenyam pendidikan di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat, sebelum hijrah ke Jakarta.

“Itulah kenapa saya cerewat di Twitter karena pernah diajari menulis oleh Pak Hamim,” tutur Fahri.

Demikian juga Fadil Zon. Keterlibatannya di Majalah Suara Hidayatullah dan Tabloid IQRA dikarenakan ajakan dari Dzikrullah, yang merupakan sohibnya sejak di bangku sekolah menengah atas di Jakarta.

“Wawancara pertama saya dengan Lukman Harun (seorang tokoh Muhammadiyah saat itu) untuk Tabloid IQRA,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Fahri dan Fadli bercerita banyak hal, di antaranya tentang kegiatan politik, masa perjodohan, hingga ide-ide mereka untuk bangsa ini.

Obrolan itu diselingi dengan pembagian buku karya Fadli Zon dan Fahri Hamzah serta foto bersama.

Di pengujung acara, Hamim Thohari memberikan hadiah kepada Fahri, Fadli dan Dzikrullah, berupa kain kafan.

“Ini akan mengingkatkan kalian bahwa di akhir dari tujuan hidup ini dalah kematian,” kata Hamim, yang disusul dengan pelukan hangat dengan ketiganya..

Berkah Silatnas, Hidayatullah Jajaki Kerjasama Internasional Bidang Pendidikan

BALIKPAPAN (Jurnalislam.com) – Menandai perjalanan 45 tahun, Hidayatullah kembali meneguhkan komitmen untuk berkhidmat seluasnya untuk bangsa.

Hal itu setidaknya ditandai dengan menjajaki kerjasama dengan Islamic Online University di tengah arena Silaturahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah, di kampus Gunung Tembak, Balikpapan, 17/11 lalu.

Diketahui, Islamic Online University adalah perguruan tinggi berbasis online yang didirikan oleh Dr. Bilal Philips, dai kelahiran Jamaika.

Tawaran kerjasama tersebut mencakup beberapa program antara lain, pengadaan learning centre (pusat pembelajaran), program S2 (Magister) para dai, pembelajaran Bahasa Inggris Islami, digitalisasi modul kuliah, hingga pendirian universitas berbasis online.

“Ada banyak perubahan sosial yang mesti disikapi dengan baik. Salah satunya adalah kemajuan era digital dan networking,” jelas Bilal Philips, dalam sambutannya.

Menurut Abu Ameenah, demikian sapaannya, universitas yang didirikannya sejak 2001 hingga saat ini sudah menampung tak kurang dari 45.000 mahasiswa dari berbagai negara.

Saat ini mahasiswa, lanjut Bilal, tidak mesti hadir di satu tempat di waktu tertentu. Sebab belajar sekarang bisa dilakukan di mana saja, secara online.

Lebih jauh, Bilal mengingatkan, bagi mahasiswa yang belum punya budaya belajar secara swadaya, masih membutuhkan learning center (pusat pembelajaran) sebagai pengikat mereka.

“Alhamdulillah. Ini menjadi berkah buat Hidayatullah. Semoga kami bisa segera menindaklanjuti tawaran mahal ini,” ucap Muhaimin, mewakili Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah.

Hadir di Silaturahmi Nasional, Din Syamsuddin Puji Perkembangan Gerakan Dakwah Hidayatullah

BALIKPAPAN (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Profesor Muhammad Sirajuddin Syamsuddin atau yang akrab disapa Din Syamsuddin, hadir dalam acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Hidayatullah di Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat, Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimanta Timur, Sabtu (24/11/2018).

Usai shalat Dluhur berjamaah, mantan ketua umum Muhammadiyah dua periode itu pun menyampaikan sejumlah pesan dan kesan di depan ribuan kader Hidayatullah di Masjid Agung Ar Riyadh Hidayatullah.

Didampingi Ketua Umum Hidayatullah, Ustad Nasirul Haq, Din menganggap Hidayatullah telah mampu memperlihatkan jati diri sebagai ormas Islam dengan kader dan pendukung yang banyak serta telah memberikan kontribusi yang nyata kepada bangsa dan negara.

Ia mengatakan, dengan beragamnya amal usaha dan pendidikan yang Hidayatullah telah bangun, maka lembaga yang sudah berumur 45 itu sudah mampu disejajarkan dengan ormas Islam lainnya di Indonesia.

“Sungguh ini menarik bagi saya. Hidayatullah telah menjadi ormas besar. Kalau ke depan semua ormas Islam bersatu dan bekerjasama, saya yakin izzul Islam wal Muslimin akan mampu tercapai, khususnya di Indonesia,” kata Din disambut pekikan takbir peserta Silatnas yang memadati lantai 1,2 dan 3 masjid besar itu.

Selain itu, ia menyebut, antara Muhammadiyah dan Hidayatullah memiliki banyak kesamaan yang berhimpitan. Din Mafhum, sebab memang Hidayatullah ini didirikan oleh kader Muhammadiyah juga, yakni mendiang Ustad Abdullah Said.

“Oleh karena itu, saya berkeyakinan, ada bagian tertentu yang sudah hilang di Muhammadiyah tetapi dimiliki oleh Hidayatullah. Tetapi ada yang dimiliki Muhammadiyah, dan tidak dimiliki Hidayatullah,” ucap Din mengundang senyum Ustad Nasirul Haq dan memancing tawa ribuan dai Hidayatullah.

Seperti Din berkelakar soal pernikahan antara sesama santri di kalangan Pondok Pesantren Muhammadiyah. Itu yang tidak dimiliki Muhammadiyah.

“Andaikan masih bisa, saya ingin jadi santri di Hidayatullah,” ujar Din, yang lagi-lagi mengundang tawa.

Ketua Konferensi Asia dan Dunia untuk Perdamaian dan Agama itu menuturkan, dakwah Islamiyah sekarang mengalami tantangan yang cukup berat dan sangat kompleks.

Padahal, ia mengimbuhkan, dakwah Islamiyah itu bertujuan mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada terang benderang.

Olehnya, Din juga sangat berharap kepada Hidayatullah agar terus mengembangkan gerakan dakwah pencerahan.

“Kalau ini yang kita lakukan, maka saya yakin cita-cita utuk membangun ummat itu akan tercapai karena itulah yang pernah dilakukan Rasulullah di Madinah,” terang Din.

Ustad Nasirul memastikan pihaknya akan terus menerus berjuang membangun peradaban ummat yang tetap beracuan kepada Alqur’an dan Sunnah sebagaimana yang telah digariskan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam.

Reporter : Irfan | INA News Agency

Bawa Isu Palestina ke Luar Negeri, Biro Politik Hamas Siapkan Tur Internasional

GAZA (Jurnalislam.com) – Pemimpin Hamas Mousa Abu Marzook pada hari Kamis (22/11/2018) berbicara kepada Anadolu Agency tentang perkembangan terkini terkait dengan masalah Israel-Palestina.

Menurut Abu Marzook, Ismail Haniyeh, kepala biro politik Hamas yang berpengaruh, sedang mempersiapkan untuk melakukan tur internasional untuk membahas Palestina di luar negeri.

“Negara-negara Arab dan Muslim, bersama dengan beberapa negara lain, telah menyatakan kesiapan untuk menerima Haniyeh dan delegasi yang menyertainya,” katanya.

Mengomentari pembicaraan baru-baru ini dengan para pejabat Mesir yang bertujuan untuk menerapkan perjanjian sebelumnya antara Hamas dan faksi Fatah, Abu Marzook mengklarifikasi bahwa pembicaraan di Kairo telah menghasilkan “pemahaman kemanusiaan dan bukan sekedar perjanjian yang ditandatangani”.

Pembicaraan itu, katanya, ditujukan untuk “mengakhiri blokade krisis kemanusiaan Gaza … tanpa membuat konsesi politik apa pun”.

Abu Marzook juga mencatat bahwa upaya Eropa sekarang sedang berlangsung – dipimpin oleh Norwegia – bertujuan untuk mengurangi situasi di Gaza dan meredakan situasi kemanusiaan yang mengerikan.

Dia melanjutkan untuk memuji Mesir dan Qatar, bersama dengan utusan perdamaian PBB Nikolay Mladenov, atas upaya mediasi mereka baru-baru ini.

Pada hari Rabu, satu delegasi Hamas yang dipimpin oleh wakil ketua kelompok Saleh al-Arouri tiba di Kairo untuk pembicaraan lebih lanjut.

Khususnya, pemerintah AS baru-baru ini menawarkan hadiah $ 5 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapan al-Arouri.

Mengomentari langkah itu, Abu Marzook mengatakan iming-iming hadiah tersebut “tidak akan membatasi pergerakan al-Arouri atau sebaliknya mempengaruhi dia, terutama mengingat bahwa dia tidak menyimpan dana di bank AS atau afiliasi mereka”.

“Pembicaraan kami dengan Mesir, sementara itu, telah membuahkan hasil,” tambahnya. “Mereka telah membuka penyeberangan komersial dan memungkinkan pengiriman bahan bakar ke Gaza, memungkinkan kami untuk menghasilkan listrik yang sangat dibutuhkan.”

Dana segar baru-baru ini diizinkan masuk ke jalur itu, katanya, “akan secara langsung mencapai 50.000 keluarga miskin di Gaza dan menciptakan lapangan kerja bagi ribuan orang muda”.

Abu Marzook juga menepis laporan media baru-baru ini bahwa zona penyangga 300 meter akan dibentuk antara Gaza dan Israel.

“Hamas belum – dan tidak akan – menerima ini,” katanya.

Dia juga membantah laporan baru-baru ini bahwa pihak berwenang Jerman menengahi pembicaraan tidak langsung antara kelompoknya dan Israel untuk pembebasan tentara Israel yang ditangkap oleh Hamas pada 2014.

Mengenai “proses rekonsiliasi” terhambat dengan Fatah, Abu Marzook mengatakan bahwa Fatah menolak mengadakan pertemuan dengan para pejabat Hamas.

“Kami hanya melihat kemajuan dalam hal gencatan senjata yang ditengahi Mesir dengan Israel,” katanya, mengacu pada kesepakatan penghentian-permusuhan yang disepakati awal pekan lalu.

Dia melanjutkan dengan harapan bahwa Fatah akan “meninggalkan prasyaratnya, berhenti menghukum Gaza, dan menerapkan ketentuan perjanjian rekonsiliasi masa lalu”.

“Kami tidak ingin mem-bypass Otorita Palestina (the Palestinian Authority PA) [yang dipimpin Fatah], tetapi isolasi saat ini – dan penolakannya secara terus-menerus terhadap solusi praktis apa pun terhadap krisis di Gaza – hanya memperparah situasi,” kata Abu Marzook.

Hamas, tambahnya, menginginkan “kemitraan nasional” dengan Fatah dengan tujuan untuk membangun “pemerintah persatuan nasional dengan tujuan yang jelas dan mampu menyelenggarakan pemilihan umum”.

Baca juga:

Abu Marzook juga menunjukkan bahwa serangan darat Israel yang gagal pekan lalu – di mana seorang perwira Israel tewas di Gaza – telah melihat pasukan Israel memasuki jalur itu melalui penyeberangan perbatasan yang dikendalikan oleh PA.

“Pengendalian PA atas penyeberangan perbatasan dan ketiadaan pasukan keamanan [Hamas] kami… telah berdampak negatif terhadap situasi keamanan Gaza,” katanya.

Mengenai hubungan Hamas dengan Kairo, Abu Marzook mengatakan bahwa hubungan telah meningkat secara mencolok setelah Mesir membuka perbatasan Rafah (menghubungkan Gaza ke Semenanjung Sinai Mesir) secara semi permanen untuk pertama kalinya sejak blokade Israel diberlakukan pada 2006.

Mengomentari rencana perdamaian AS sewenang-wenang yang dikenal sebagai “Kesepakatan Abad Ini (the Deal of the Century)” yang rinciannya belum dipublikasikan, Abu Marzook mengisyaratkan bahwa komunikasi “tidak langsung” sekarang sedang berlangsung antara Hamas dan pemerintah AS.

Masuknya Hamas ke dalam daftar “terduga kelompok teroris” oleh Washington melarang para pejabat AS berbicara langsung dengan kelompok perlawanan itu, yang telah mengatur Jalur Gaza sejak 2007.

Abu Marzook juga menekankan komitmen berkelanjutan Hamas terhadap hak para pengungsi Palestina untuk kembali ke rumah mereka di Palestina yang bersejarah, sejak mereka diusir pada tahun 1948 untuk membuka jalan bagi negara baru Israel.

“Kami tidak akan pernah menjatuhkan permintaan kami yang sudah lama atas hak para pengungsi untuk kembali,” katanya, melanjutkan dengan membunyikan tanda bahaya atas apa yang disebutnya sebagai “serangan aneh oleh rezim Arab pada hak-hak pengungsi Palestina”.

Dia juga menepis laporan the Deal of the Century yang disebut akan menghasilkan negara Palestina yang terpotong di Jalur Gaza.

“Jika kami menginginkan itu, kami akan menerima proposal sebelumnya yang didukung oleh ibukota asing tertentu,” katanya.

“Tapi tujuan kami adalah pembebasan Palestina – secara keseluruhan – yang ingin kita lihat bersatu, tidak terbagi,” Abu Marzouk menyimpulkan.

Erdogan: Wanita dalam Islam Tidak Seperti Barat yang Mengkomoditasi Perempuan

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Agama Islam tidak membenarkan diskriminasi gender terhadap perempuan, kata Presiden Turki, Jumat (23/11/2018).

Membahas ‘KTT Wanita dan Keadilan’ di Istanbul, Recep Tayyip Erdogan menggarisbawahi persamaan wanita dan pria dalam Islam.

“Sebagai anggota dari sebuah keyakinan [Islam] yang melihat setiap manusia, di luar semua perbedaan gender hingga warna kulit mereka, sebagai makhluk Allah, tidak mungkin bagi kita untuk mendiskriminasi perempuan,” kata Erdogan.

Presiden memuji wanita sebagai hal yang tak terpisahkan untuk keluarga dan kehidupan bisnis.

Erdogan mengatakan keluarga itu dibentuk dengan upaya bersama antara wanita dan pria dalam budaya Turki dan Islam.

“Pemahaman yang mengisolasi wanita dari kehidupan bisnis dan mengisolasi pria dari rumah menyerang konsep keluarga di awal,” katanya.

Baca juga: 

Presiden juga mengatakan bahwa Turki harus menerapkan sejarah dan budayanya sendiri dalam upaya meningkatkan posisinya pada hak asasi manusia, perempuan, anak-anak, dan hewan; bukan dari negara-negara barat, yang terguncang dengan diskusi besar tentang mereka.

Erdogan mengatakan barat mengkomoditisasi perempuan, mengingat bahwa perempuan dijual dan dipaksa bekerja selama berabad-abad.

“Tidak mengherankan bagi kita bahwa mentalitas yang menggunakan wanita sebagai komoditas di masa lalu menggunakan wanita dengan konsep meta yang sama dengan kedok kesetaraan hari ini,” katanya.

Presiden juga menyebutkan peran perempuan Turki dalam politik, akademisi dan banyak bidang lainnya.

Dia mengatakan 104 wanita melakukan tugas mereka sebagai anggota parlemen di parlemen dengan 600 kursi Turki.

“Angka ini adalah 17,5 persen dari parlemen Turki. Ini menetapkan rekor baru, meskipun tidak cukup,” kata Erdogan.

Presiden mengatakan tingkat partisipasi perempuan Turki ke dalam angkatan kerja meningkat selama pemerintahan Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) sejak akhir 2002.

“Di universitas-universitas Turki, hampir setengah dari akademisi – sedikitnya 44 persen – adalah perempuan,” katanya, menambahkan tingkat yang sama berlaku untuk arsitek dan pengacara.

“Lebih dari 20 persen diplomat Turki adalah wanita juga,” tambahnya.

Erdogan mengatakan bahwa sekarang ada 9,1 juta wanita memperkuat kekuatan Turki dalam kehidupan bisnis.