Berita Terkini

Ricuh! Banteng Muda Indonesia Pasang Spanduk Tolak Reuni Akbar 212 di Jakpus

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Malam sebelum Reuni Akbar 212, Sabtu (1/12/2018) di Jakarta diwarnai konsentrasi massa di bilangan Penjernihan, Jakarta Pusat. Hal itu menyusul pemasangan spanduk dan selebaran mengenai penolakan aksi reuni 212 yang dilakukan oleh ormas Banteng Muda Indonesia (BMI) di depan sekretariat BMI.

“Mereka memasang spanduk dan menyebarkan brosur tersebut di depan Jalan Raya Penjernihan dan sudah ditegur, namun mereka kembali memasang dan menyebarkan,” kata anggota Brigade Jawara Betawi (BJB) 411 sesaat ditemui dilokasi bentrokan.

Atribut yang dipakai oknum Banteng Muda Indonesia (BMI)

Sebelumnya, BJB 411 mendengar kabar konsentrasi massa di daerah tersebut pada jam 21:00. Kemudian sejumlah anggota BJB mendatangi lokasi tersebut untuk merelai permasalahan.

Menurut informasi yang kami terima, hingga kini, sejumlah pelaku sudah dibawa ke Polsek terdekat untuk dimintai keterangan.

Spanduk bernada perpecahan oleh BMI sudah diamankan Polsek setempat.

Terlihat massa BMI menggunakan atribut bertuliskan nada perpecahan. Selain itu, spanduk bertuliskan Menolak Khilafah, Menolak HTI, Menolak Reuni 212 dengan tagar #JakartaBernyali sudah diamankan pihak kepolisian setempat.

 

Menggunakan “Biaya Pribadi”, 2000 Warga Soloraya Berangkat ke Jakarta untuk Ikuti Reuni Akbar 212

SOLO (Jurnalislam.com) – Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) memberangkatkan 2000 lebih muslim Soloraya untuk mengikuti acara Reuni Akbar 212 di Monas, Jakarta, Ahad (2/12/2018).

“Ini tadi sudah berangkat semua, total yang kordinasi dengan kami (DSKS), ada 38 bus dan 8 mobil Elf atau sekitar 2000-an lebih muslim Soloraya yang berangkat,” kata kordinator Reuni 212 dari DSKS, ustaz Surawijaya di Jongke, Kartasura, Sabtu (1/12/2018).

Menurut Cak Rowi, sapaan karibnya, setidaknya ada 38 elemen Soloraya yang tergabung dalam reuni akbar 212 bersama DSKS kali ini.

“Kita mengkoordinir semua elemen muslim ada sekitar 38 elemen yang berpartisipasi,”Jelasnya.

Ustaz Surawijaya atau Cak Rowi

Ia menegaskan keberangakatan semua elemen tersebut atas biaya pribadi dan juga ada beberapa aghniya (dermawan) yang membantu.

“Alhamdulillah kami berangkat ke Jakarta atas inisiatif dan dana sendiri di samping ada aghnniya yang membantu kami,” ungkapnya.

Lebib dari itu, Cak Rowi mengimbau masyarakat, khususnya umat Islam untuk mendukung aksi Reuni Akbar 212 ini. Sebab, agenda tahunan sejak 2016 ini merupakan agenda keumatan non-politis.

Akan Ikuti Aksi Reuni Akbar 212 di Monas, LUIS: Ini Pembelaan Terhadap Tauhid

SOLO (Jurnalislam.com) – Sebanyak 51 anggota Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) akan mengikuti aksi Reuni Akbar 212 di Monas, Jakarta, pada Ahad (2/12/2018). Mereka berangkat mengunakan armada bus dari Solo pada Sabtu, (1/12/2018) pagi.

Humas LUIS Endro Sudarsono menjelaskan, selain sebagai bentuk ukhuwah kaum muslimin, aksi reuni 212 juga sebagai bentuk pembelaan terhadap simbol-simbol tauhid yang marak dilecehkan oleh berbagai pihak saat ini.

“Bahwa reuni 212 adalah wahana silaturahmi dan konsolidasi nasional umat Islam untuk pembelaan terhadap tauhid,” katanya kepada jurnalislam.com di halaman masjid Baitussalam, Tipes, Solo, Sabtu (1/12/2018).

Endro mengatakan, pemerintah harus dapat bersikap adil dalam menangani berbagai kasus hukum, seperti permasalahan penistaan agama yang muncul.

“Pemerintah harus mendengar dan menangkap aspirasi umat Islam terkait isu sensitif di masyarakat khususnya masalah SARA,” tandas Endro.

Selain LUIS, sebanyak 2000 orang dari berbagai elemen umat Islam Soloraya dibawah kordinasi Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) akan mengikuti aksi reuni 212 di Monas. Mereka berangkat menuju dari Solo pada Sabtu (1/12/2018).

Bendera dan Krisis Kepemimpinan

Oleh : Daniel Mohammad Rosyid, (Guru Besar ITS)

 

Insiden bendera di Garut saat Hari Santri Nasional beberapa waktu mencerminkan sebuah krisis kepemimpinan, tidak saja di tingkat nasional namun juga ditingkat global. Hal ini anehnya justru ditunjukan oleh insiden simbolik berupa pembakaran bendera : penolakan atas kepemimpinan Islam.

 

Krisis kepemimpinan global ditandai oleh kebangkitan trumpism yang disimbolkan oleh sikap _sak karepe dewe Presiden Donald Trump yang mengantarkan ummat manusia makin terperosok dalam ancaman perang nuklir dan keruntuhan lingkungan hidup.

Bahkan Prof. Noam Chomsky  dari MIT mengatakan bahwa Partai Republik AS adalah organisasi yang paling berbahaya di atas planet ini karena mengancam keberlangsungan manusia sebagai organized species.

Saat ini juga Presiden AS tsb sedang menghadapi ancaman pemakzulan ( impeachment ) secara tidak langsung oleh special counsel Robert Mueller  (mantan Ditektur CIA) karena pencurangan yang dibantu Russia dalam Pilpres yang memenangkan dirinya melawan Hillary Clinton.

 

Krisis kepemimpinan global juga sekaligus ditandai oleh kebangkitan China tidak hanya sebagai raksasa ekonomi tapi juga raksasa militer. Perang dagang antara AS dan China beberapa bulan terakhir telah menimbulkan kelesuan ekonomi dunia yang dampaknya juga terasa di Indonesia.

Trump mungkin tidak menyadari bahwa sikapnya yang makin nasionalistik dengan semboyan Making America Great Again telah mengasingkannya dari komunitas dunia, termasuk Eropa sebagai mitra tradisionalnya selama ini.

 

Di tingkat nasional, kita juga mengalami krisis kepemimpinan. Presiden Jokowi tampak semakin sektarian, bukan negarawan. Banyak kasus yang terjadi dibiarkannya terjadi dengan berlindung dari slogan “saya netral, itu bukan urusan saya”, padahal keberpihakannya penting untuk menghadirkan kepemimpinan nasional yang mengambil tanggungjawab.

Saat ini, pemerintah selalu punya kambing hitam untuk hampir semua masalah : radikalisme, intoleranisme, dan trumpisme. Juga sontoloyoisme dan gendruwoisme. Pemerintah makin otoriter. Kehidupan berbangsa dan bernegara kita makin menjauhi demokrasi secara substantif sementara Pemerintah justru ngotot dengan demokrasi prosedural. Siapapun yang terpilih nanti sebagai presiden akan mengalami krisis legitimasi karena pemilihan umum dilakukan di atas data pemilih yang sulit dipercaya.

 

Kepemimpinan adalah soal kesanggupan mengambil tanggungjawab. Tidak kurang tidak lebih. Inipun dihadapi oleh ummat Islam Indonesia dan juga dunia. Dunia Islam membutuhkan waktu lebih dari satu dekade untuk melahirkan satu kepemimpinan Islam pasca peristiwa 9/11/2001 yang meruntuhkan 2 menara kembar World Trade Centre di New York. Peristiwa ini tentu jauh lebih dahsyat daripada pembakaran bendera di Garut. Kedua peristiwa ini bukan kebetulan, tapi very well organized.

 

Ummat Islam Indonesia mengalami fragmentasi serius sejak negeri ini diproklamasikan. Ada agenda internasional di balik keterpecahan ummat Islam Indonesia agar tetap mudah ditaklukkan dan dijarah. Fragmentasi ini diperparah oleh UU politik yang makin liberal yang dimungkinkan oleh perubahan mendasar atas UUD45 selama 5 tahun pertama masa reformasi sejak 1998.

Organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdhatul Ulama, kini secara terang-terangan partisan memihak Pemerintahan Jokowi, tidak sesuai dengan khittah nya.  Sementara itu, Muhammadiyah walaupun secara resmi netral, terpaksa mengambil posisi oposan. Akibatnya, keduanya gagal melambungkan diri sebagai representasi kepemimpinan ummat Islam Indonesia.

Di atas lahan kering kepemimpinan Islam nasional ini lahirlah Hizbut Tahrir Indonesia. Adalah HTI yang akibat keterpaksaan sejarah berhasil menarasikan kepemimpinan baru ummat Islam Indonesia. Ini tentu berbahaya sehingga HTI harus dibubarkan. Faktor Ahok menjadi papan lontar persatuan ummat Islam Indonesia dengan Habib Rizieq Shihab sebagai tokoh utamanya.

 

Sejak keruntuhan kekhalifahan Ottoman di Turki 1924, dunia Islam praktis terpecah belah menjadi banyak negara-bangsa ( nation states) yang sengaja dimerdekakan oleh para penjajahnya.

Perlu dicatat bahwa kelahiran negara-negara bangsa ini justru dilakukan untuk mencegah kebangkitan kembali khilafah Islam sebagai sebuah kekuatan yang melampaui negara-bangsa. Karena dunia tidak mungkin berlanjut tanpa kepemimpinan global maka diciptakanlah Liga Bangsa-Bangsa yang kemudian menjadi Perserikatan Bangsa Bangsa atau United Nations.

 

Dalam perspektif inilah pembakaran bendera Tauhid  di Garut ini dapat dipahami : ada kekhawatiran islamophobic atas gejala kebangkitan Islam di Indonesia dan dunia sebagai kepemimpinan alternatif bagi kepemimpinan global nekolimik saat ini.

 

Menurut vexillology,  bendera bukan sekedar selembar kain biasa. Jika dia berkibar bebas di angkasa,  bendera menginspirasikan semangat kepemimpinan tertentu yang sublim dan sulit dibayangkan oleh mereka yang jiwanya terjangkar oleh tanah di bumi.

Kalimat Tauhid adalah kalimat yang mengungkapkan kemerdekaan jiwa, dan jiwa merdeka adalah ancaman bagi penjajahan dan kedzaliman yang kini  menjadi peristiwa sehari-hari. Apalagi kalimat itu ditulis di atas bendera. Kibaran bendera Tauhid itu menggelorakan semangat para mu’min tapi menggetarkan musuh mereka.

MUI Minta Peserta Reuni Akbar Alumni 212 Jaga Akhlak

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas mengimbau kepada para peserta Reuni Akbar Aksi 212 untuk menjaga akhlak yang baik dengan menaati aturan-aturan yang berlaku. Ia mempersilahkan umat Islam mengikuti acara yang akan digelar di Monumen Nasional (Monas) Jakarta pada Ahad (2/12/2018) besok.

“Asal jangan melanggar undang-undang yang berlaku, jangan chaos, dan harus memperhatikan rambu akhlakul karimah,” kata Buya Anwar kepada Jurnalislam.com, Jumat (30/11/2018).

Para peserta juga diimbau untuk tidak mengeluarkan ujaran kebencian terhadap pihak-pihak yang tidak sependapat. Menurutnya, kegiatan itu dijamin kebebasannya oleh undang-undang.

“Aksi tersebut sah-sah saja selama massa aksi tidak mengeluarkan ujaran kebencian, saling mencela atau mengejek pihak-pihak lain,” pungkasnya.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini juga meminta kepada pihak yang tidak sependapat untuk tetap menghormati aksi tersebut.

“Tapi yang diimbau bukan cuma yang ikut 212, yang tidak ikut juga harus menghormati, tidak mencaci, mencela, mengumpat. Kalau enggak suka, silakan buat saja hal serupa. Jadi jangan yang enggak ikut mencela Ini kan negara demokrasi,” tuturnya.

Hidayatullah : Semoga Reuni 212 Bisa Membangun Persatuan Ummat

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Peserta Aksi Bela Islam 212 akan menggelar reuni akbar pada Ahad, 2 Desember 2018 di lapangan Monas, Jakarta. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr Nashirul Haq, menilai reuni akbar ini penting karena bisa membangun kembali persatuan umat.

“Persatuan itu perlu dijaga. Jika kaum Muslim bersatu maka insya Allah negara ini akan kuat. Sejarah membuktikan, kemerdekaan Indonesia bisa diraih setelah bangsa Indonesia, utamanya kaum Muslim, bersatu. Penjajah bisa kita pukul mundur,” jelas Nashirul saat dihubungi Jumat (31/11).

Reuni 212, kata Nashirul lagi, adalah momen yang bagus untuk mempererat ukhuwah. Kaum Muslim dari berbagai penjuru daerah berdatangan. Mereka yang tak bekesempatan hadir, bisa ikut mendukung dengan doa atau bantuan dana. “Yang penting tak boleh melakukan tindakan anarkis, dan tetap menjaga ketertiban,” jelas Nashirul lagi.

Hidayatullah sendiri mengikutkan kader-kadernya yang berada di wilayah Jabodetabek dalam reuni ini. “Saya mengimbau kepada seluruh kader dan simpatisan Hidayatullah yang berada di wilayah Jabodetabek untuk ikut serta sebagai wujud kebersamaan dan persatuan ummat. Tak boleh membawa atribut organisasi. Kita melebur menjadi satu dengan kaum Muslim yang lain,” kata Nashirul.

Jangan lupa persiapkan bekal sehingga tidak merepotkan orang lain. Bahkan bila perlu, tutur Nashirul, bawa bekal lebih, sehingga bisa berbagi kepada peserta yang lain. “Saatnya kita tunjukkan kepedulian kita. Jangan sekadar memikirkan diri sendiri, apalagi sampai merepotkan orang lain. Jiwa pengorbanan kita diuji. Karakter berbagi harus dimiliki oleh kader-kader Hidayatullah,” jelas pimpinan organisasi yang baru saja menggelar Silaturahim Nasional di Balikpapan, Kalimantan Timur ini.

Adapun kader-kader Hidayatullah yang berada di propinsi yang jauh dari Jakarta, dipersilahkan jika ingin ikut serta. Bahkan keikutsertaan mereka bernilai lebih, karena pengorbanan mereka tentu lebih besar. “Saya mendengar ada juga kader-kader Hidayatullah dari Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan Sumatera yang berencana datang ke Reuni 212. Silahkan! Semoga kedatangan mereka dimudahkan oleh Allah Ta’ala,” ungkap Nashirul.

Ansharusyariah: Reuni 212 Adalah Momen Persatuan Umat untuk Memenangkan Islam

SOLO (Jurnalislam.com) – Juru bicara Jamaah Ansharusy Syariah, Abdul Rachim Ba’asyir mengajak umat Islam untuk memanfaatkan Reuni Alumni 212 sebagai momen untuk menyatukan hati kaum muslimin. Menurutnya, Aksi 212 pada tahun 2016 lalu adalah aksi suci yang patut dibanggakan oleh umat Islam Indonesia.

“Jamaah Ansharu Syariah melihat bahwa ini adalah sebuah aksi yang suci, sebuah aksi yang murni dari kaum muslimin, maka Jamaah Ansharusy Syariah mengajak semua pihak agar mengunakan acara 212 sebagai ajang menyatukan kaum muslimin mendekatkan hati hati kaum muslimin,” katanya kepada Jurnalislam.com, Jumat (30/11/2018).

Ustadz Iim, sapaannya, menyampaikan, reuni 212 juga sebagai momen untuk memperjuangkan Islam negeri ini. Ia menilai, Islam dan umat Islam sebagai penduduk mayoritas di Indonesia kerap menjadi korban kedzaliman.

“Sudah lama sekali kaum muslimin di negeri ini didzalimi, dituding sebagai pengacau dan selalu dianggap pembawa onar di negara kita, padahal justru negara kita ini ada karena perjuangan kaum muslimin,” paparnya.

“Maka ini adalah sebuah titik pijakan sama untuk berangkat dalam memperjuangkan hak-hak kaum muslimin dan memenangkan Islam dan kaum muslimin serta menghadirkan pemimpin yang adil yang sholeh, dan kemudian bisa membela hak-hak kaum muslimin di negara kita ini. Itu harapan kita,” sambungnya.

Jamaah Ansharusy Syariah sendiri menjadi salah satu elemen umat yang berada di garis depan dalam mengawal Aksi bela Islam (ABI) pertama ABI 3 yang dikenal dengan Aksi 212 dua tahun silam.

“Semoga kehadiran kita dalam kegiatan reuni 212 ini menjadi bagian dari upaya kita menyatukan tetap menjaga kesatuan dan kebersamaan umat Islam dan dalam rangka menyongsong kemenangan dan kedaulatan Islam wal muslimin,” jelas Ustadz Iim.

Bank Wakaf Mikro Jatim Sudah Himpun Dana Rp2,4 Miliar

MALANG (Jurnalislam.com)–Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 4 Jawa Timur (Jatim), Heru Cahyono, mengatakan saat ini total pembiayaan bank wakaf mikro di wilayahnya sudah mencapai Rp 2,4 miliar. Jumlah ini berasal dari beberapa donatur dan tersebar di sembilan bank wakaf mikro se-Jatim.

“Lumayan itu (jumlahnya), kalau masing-masing satu juta rupiah berapa itu nasabahnya? Cukup banyak juga,” kata Heru, saat Cangkrukan Media Jatim OJK di The Onsen Resort, Kota Batu, Malang, Rabu (28/11) malam.

Seperti diketahui, saat ini di Jatim terdapat sembilan bank wakaf mikro di sejumlah daerah. Kesembilan lembaga keuangan mikro syariah ini tersebar dengan jumlah angka yang sama di pondok pesantren Jatim.

Di samping itu, terdapat pula satu bank wakaf mikro di Tuban yang telah mendapatkan izin tapi belum diresmikan sehingga operasinya masih tertunda. Menurut Heru, keberadaan bank wakaf mikro ini pada dasarnya untuk menyasar masyarakat kalangan paling bawah.

Terutama warga yang berada di sekitar pondok pesantren (ponpes) di Jatim. Sumber dana lembaga ini berasal dari para donatur yang mewakafkan uangnya lalu menyerahkan melalui Lembaga Amil dan Zakat (LAZ). “Uangnya kemudian diputar untuk salurkan ke masyarakat pesantren,” tambah dia.

Pada sisi lain, masyarakat paling bawah seperti penjual bakso, gorengan, dan lain-lain biasanya agak kesulitan mendapatkan pinjaman. Hal ini terutama dari BPR dan lembaga jasa keuangan formal lain.

Karena kondisi itu, maka muncul lembaga bank wakaf mikro untuk membantu perekonomian kalangan tersebut. “Jadi mereka bisa mengajukan kredit melalui bank wakaf mikro di ponpes yang dikelola para santri setempat,” ujar dia.

Para pengelolanya, kata dia, telah mendapatkan pembinaan terlebih dahulu dari OJK. Dari pembinaan ini, para santri dapat membantu menyejahterakan warga sekitar. Antara lain membantu mengembangkan usaha mereka dengan memberikan pinjaman maksimal Rp 1 juta per nasabah.

Sumber : republika.co.id

Rektor UIN Jakarta : Perlu Kesepakatan Bersama Soal Makna Radikal

JAKARTA (Jurnalislam.com)– Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah Jakarta, Dede Rosyada mengatakan perlu ada pedoman bagi pengelola masjid dan penceramah.

“Memang saat ini yang menjadi problem terbesar dari pengurus masjid adalah memilih dan menyeleksi para penceramah atau pengkhotbah,” kata Dede dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (30/11).

Ia mengatakan Kementerian Agama telah menyusun daftar penceramah yang direkomendasikan, tetapi mendapatkan kritikan bahkan penentangan dari banyak pihak.

Padahal, menurutnya, sebenarnya ada baiknya juga ketika Kementerian Agama mengeluarkan rekomendasi itu sebagai panduan bagi para pengurus masjid untuk menentukan penceramah sekaligus menyeleksi materi khotbah yang akan disampaikan.

“Tiba-tiba penceramah langsung berbicara di mimbar, pengurus masjid sebelumnya tidak tahu materi yang akan disampaikan, dan ternyata yang disampaikan penceramah itu sedikit masuk domain-domain radikalisme dan sebagainya,” ujar peraih gelar Doktor dari McGill University, Kanada ini.

Terkait dengan batas materi khotbah itu masuk kategori radikalisme atau tidak, menurut Dede perlu ada kesepakatan dari organisasi Islam dan dikeluarkan oleh instansi yang berwenang, yakni Bimas Islam Kementerian Agama.

“Sehingga nantinya akan ada gambaran untuk membandingkan misalnya penceramah A khotbahnya bagus, penceramah B berbicara begini, lalu penceramah C berbicara di mimbar seperti mengandung unsur radikal atau intoleransi sehingga tidak direkomendasikan lagi ke depannya,” ujar Dede.

sumber: republika.co.id

3 Tahun Perang di Yaman, Akhirnya Syiah Houthi dan Arab Saudi Ingin Perundingan Damai

RIYADH (Jurnalislam.com) – Pihak-pihak yang berseteru di Yaman telah mengindikasikan bahwa mereka akan menghadiri pembicaraan perdamaian yang disponsori Perserikatan Bangsa-Bangsa di Swedia pekan depan sebagai upaya yang bertujuan mengakhiri konflik yang telah mendorong jutaan orang ke tepi jurang kelaparan.

Delegasi pemerintah Yaman yang didukung Saudi dan UEA akan tiba di kota Stockholm untuk KTT pekan depan setelah Houthi muncul lebih dahulu, saluran televisi Al-Arabiya milik Saudi melaporkan pada hari Kamis (29/11/2018).

Laporan Al-Arabiya muncul beberapa jam setelah duta besar Inggris untuk Yaman, Michael Aron, mengatakan faksi-faksi yang bertikai akan menghadiri KTT di Stockholm menyusul diskusi dengan perwakilan masing-masing.

“Konsultasi di Swedia yang dipimpin oleh utusan PBB [Martin Griffiths] akan dilakukan pekan depan … solusi politik adalah cara untuk bergerak maju,” kata Aron di Twitter.

Harapan untuk KTT, yang akan menjadi yang pertama sejak tahun 2016, tampaknya didukung oleh kepala komite revolusioner tertinggi Houthi, yang mengatakan pada hari Kamis bahwa delegasi kelompok dapat menghadiri pembicaraan jika pintu keluar dan kembali bagi mereka terjamin dengan aman.

“Saya pikir delegasi nasional [Houthi] akan berada di Swedia pada tanggal 3 Desember jika ada jaminan bahwa mereka dapat pergi dan kembali,” kata Mohammed Ali al-Huthi di Twitter.

Baca juga:

Houthi juga menyerukan “indikasi positif tentang pentingnya perdamaian dari sisi lain”.

Perkembangan hari Kamis tersebut terjadi dua bulan setelah upaya sebelumnya untuk mengamankan pembicaraan damai gagal pada bulan September, ketika perwakilan Houthi menolak menghadiri pertemuan puncak yang diselenggarakan di kota Jenewa, Swiss, mengatakan PBB telah gagal memenuhi permintaan kelompok tersebut.

Sejak itu, konflik di Yaman terus berlanjut, dengan Arab Saudi dan pasukan yang dipimpin UEA meluncurkan serangan terhadap kota pantai Laut Merah Hodeidah, yang saat ini di bawah kendali Houthi.

Kelompok-kelompok bantuan telah memperingatkan bahwa kota itu, yang berfungsi sebagai titik masuk untuk sebagian besar impor komersial Yaman dan pasokan bantuan penting, beresiko “musnah” di tengah pertempuran yang sedang berlangsung.

PBB telah menyatakan keprihatinan bahwa serangan habis-habisan terhadap Hodeidah dapat menyebabkan bencana di Yaman, di mana diperkirakan 8,4 juta orang terancam kelaparan.

Pemberontak Syiah Houthi telah setuju untuk menyerahkan pengelolaan pelabuhan itu kepada PBB, tetapi pihak-pihak yang bertikai masih mempertentangkan siapa yang harus mengendalikan kota.

Konflik yang sedang berlangsung di Yaman, negara termiskin di dunia Arab dan juga merupakan rumah bagi sekitar 28 juta orang, dimulai dengan pengambilalihan ibukota Sanaa pada tahun 2014, oleh pemberontak Syiah Houthi, yang menggulingkan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi yang diakui secara internasional.

Prihatin dengan munculnya Syiah Houthi yang diyakini didukung oleh Iran, koalisi militer Saudi-UAE yang didukung AS meluncurkan intervensi pada tahun 2015 melalui serangan udara besar-besaran yang bertujuan untuk menginstal ulang pemerintah Hadi.

Menurut PBB, sedikitnya 10.000 orang telah tewas sejak koalisi memasuki konflik. Jumlah korban tewas belum diperbarui dalam beberapa tahun, dan kemungkinan akan jauh lebih tinggi.