Berita Terkini

Ponpes Al Mukmin Ngruki Siap Menyambut Kedatangan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Humas Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki ustaz Muchson mengatakan, meski kabar kebebasan ustaz Abu Bakar Ba’asyir masih belum pasti, pihaknya telah melakukan persiapan untuk menyambut kedatangan ulama asal Jombang ini.

“Santri kita ada sekitar 1300 orang siap menyambut kedatangan ustaz Abu,” katanya kepada wartawan Selasa (22/1/2019).
Terkait kepulangan, menurutnya ustaz Abu akan mengunakan jalur darat untuk menuju pondok Al Mukmin Ngruki pada Rabu (23/1/2019).
“Karena informasi dari ustaz iim mengunakan jalur darat,” ungkapnya.
“Dari sana informasinya akan keluar pukul 09.00 pagi, jadi kemungkinan sampai sini sore,” imbuhnya.
Senada dengan hal itu, salah satu panitia penyambutan, ustaz Surawijaya mengaku tidak terpengaruh meski pemerintah belum memberikan keputusannya secara resmi terkait kebebasan ulama sepuh ini.
“Kita sudah berkordinasi dengan bebeberapa lembaga termasuk kepolisian, dalam hal ini polres Sukoharjo, kita persiapkan sedemikian rupa dari pihak laskar dan dari pihak pondok,” katanya.
“Kami tetap menjalani rowndon acara sesuai dengan kesepakatan yang kita jalani bersama, kita tidak kemudian terpengaruh dengan statmen-statmen yang berubah,” tandasnya.

Di Olimpiade Matematika ASEAN, Siswa SD Muhammadiyah PK Raih Medali Emas

SOLO (Jurnalislam.com)- Siswa SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Athar Ibrahim Aquilla Wibowo berhasil menyabet gold award  (medali emase mas)e ajang final Southeast Asian Mathematical Olympiad (SEAMO) 2019 yang berlangsung di Suntec Singapore Convention and Exhibition Centre, Sabtu (19/1/2019).

Yuli Ekowati, koordinator bidang lomba SD Muhammadiyah PK Kottabarat menyampaikan , SEAMO merupakan final olimpiade Matematika yang diikuti oleh ratusan peserta dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Ia menambahkan bahwa dalam final kali ini SD Muhammadiyah PK Kottabarat mengikutsertakan empat siswa kelas IV yang lolos babak penyisihan di Indonesia pada bulan September 2018 yang lalu. Keempat siswa tersebut adalah Athar Ibrahim Aquila Wibowo yang meraih medali emas, Danendra Giantoro medali emas, Mumtaza Aulia Hanifah medali perak, dan Muhammad Zidane Ramadhan Hakim medali perak.

“Kami tetap bersyukur meskipun dari keempat siswa yang mengikuti final di Singapura, baru satu yang memeroleh medali emas”, ungkapnya. Ia sangat mengapresiasi prestasi yang berhasil ditorehkan para siswa tersebut dan berharap bisa memupuk semangat berprestasi untuk siswa lainnya.

Lolos di final olimpiade Matematika tingkat internasional merupakan pengalaman ke tiga bagi Athar Ibrahim Aquilla Wibowo. Ia sebelumnya pernah mengikuti Singapore International Math Olympiad Challenge (SIMOC) di awal tahun 2018 dan memeroleh dua Silver Award. Kemudian di bulan September 2018, ia juga berhasil meraih gold award dalam ajang Hong Kong International Mathematical Olympiad (HKIMO).

Siswa yang akrab disapa Ibra ini terbiasa belajar rutin dengan bundanya untuk persiapan menghadapi babak final di Singapura. “Selain belajar dengan bunda, saya juga mencari bahan-bahan latihan soal berbahasa Inggris dari internet”, imbuhnya.

Muhamad Arifin, Wakasek bidang Kesiswaan dan Humas SD Muhammadiyah PK Kottabarat mengaku bangga dengan prestasi yang diraih Ibra dan kawan-kawan. “Atas nama sekolah, kami ucapkan selamat atas prestasi yang membanggakan tersebut”, ungkapnya.

Arifin juga menyampaikan bahwa pihak sekolah berupaya mendorong dan memfasilitasi potensi yang dimiliki setiap siswa untuk berprestasi di bidang apapun sesuai dengan kecenderungan yang mereka miliki.

Magnet Ba’asyir

Oleh: M Rizal Fadillah
Ketua Maung Instutute

JURNIS – Pembebasan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir menimbulkan kegaduhan. Tokoh kharismatik yang oleh penguasa dipredikatkan “teroris” ini memang menjadi perhatian nasional yang sedang sibuk dalam proses penghelatan politik. Sementara dunia juga ikut berteriak, terutama Australia. Sikap tegas “pada prinsip” Ustaz Ba’asyir turut menjadikan pembebasannya menjadi magnet perhatian.

Tokoh sepuh ini memang unik, kuat pendirian, serta masih merasa jadi korban stigma terorisme. Dalam salah satu ceramahnya yang diunggah di medsos disampaikan bantahan dirinya sebagai teroris. Membunuh seorang pun tidak pernah, memegang dan melihat bom juga tidak, ujarnya. Hukuman 15 tahunnya pun dihubungkan dengan pendanaan saja. Tapi dimaklumi memang isu terorisme ini sangat menarik rakyat dan dunia. Figur menjadi paket kebutuhan dari keberadaan isu itu. Muslim menjadi sasaran. Lihat saja seorang Kyai Ma’ruf pun saat acara debat KPU di TV begitu kencang mengarahkan pandangan terorisme pada umat Islam ini.

Ada empat kepentingan yang “tertarik” oleh medan magnetik Ba’asyir, yaitu :

Pertama, Presiden Jokowi yang maju sebagai kandidat Calon Presiden untuk periode kedua. Berkepentingan untuk menarik suara umat Islam. Dengan otoritas politik yang dimilikinya menerobos kebuntuan antara aturan dan pendirian sang Ustaz. Melalui utusannya Pengacara Jokowi Ma’ruf Yusril Ihza Mahendra “misi pembebasan” dilakukan. Dalam upaya kepentingan ini jasa dicitrakan tentu saja pada pengacara Jokowi Ma’ruf.

Kedua, para pengacara Ba’asyir yang tergabung dalam TPM dipimpin Mahendradatta. Sejak awal mendampingi berikhtiar untuk membebaskan pula melalui mekanisme hukum yang ada. Menurutnya pembebasan bersyarat semestinya sudah didapat Ustad Ba’asyir sejak 23 Desember 2018. Terkendala oleh sikap klien yang tidak bersedia menandatangani Surat Pernyataan “Kesetiaan pada NKRI”. Ba’asyir memilih untuk tetap mendekam di penjara. Baginya hanya ada kesetiaan pada Islam.

Ketiga, para Jokower radikal termasuk pandangan PDIP sebagaimana dikemukakan oleh Sekjen PDIP yang berkeberatan pada pembebasan ini jika yang bersangkutan tetap tidak bersedia mendatangani surat pernyataan kesetiaan NKRI. Minta untuk “keluar saja” dari Indonesia. Meskipun demikian nadanya memaklumi pada alasan “kemanusiaan”. Ada pula elemen lain yang “complain” pada Yusril yang dianggap tidak bermusyawarah terlebih dulu dengan Tim Jokowi Ma’ruf.

Keempat, sikap di luar Indonesia terutama Australia yang warganya banyak menjadi korban “Bom Bali”. Bagi negara ini tidak bisa diterima alasan apapun atas pembebasan “teroris”. Mereka menghendaki Ba’asyir tetap di penjara hingga waktunya. Tak peduli bahwa tak ada bukti keterkaitan bom Bali dengan Ba’asyir. Teroris tak bisa ditolerir. Sikap ini dijawab oleh pejabat Indonesia bahwa soal keputusan pembebasan menjadi sikap negara Indonesia yang berdaulat. Tak bisa dicampuri.

Di tengah tarik menarik itu, Ba’asyir menjadi tokoh yang menarik. Ulama sepuh ini sendiri yang akan menjadi penentu. Jika saja benar Ustaz Ba’asyir menarik pembebasannya dan menunda hingga usai Pilpres, maka selamat lah. Namun menjadi bukti gagalnya misi politik pembebasan Istana via Yusril. Jika siap dibebaskan dengan syarat dan aturan yang dilabrak, maka dengan “diam” tentu masih dalam konteks misi berhasil. Tapi jika ternyata “bernyanyi” merdu untuk tidak mendukung Jokowi. Maka pembebasan jadi “boomerang”. Apalagi memberi dukungan pada Prabowo Sandi.

Aspek lain mungkin saja karena adanya tekanan yang kuat pembebasan tanpa syarat ini pun bisa batal.

Tapi memang masalah selalu menjadi rumit jika ada niat yang tidak ikhlas. Terlalu sarat dengan kepentingan politik. Alasan “Kemanusiaan” itu memang terpuji jika benar. Namun jika pembebasan targetnya menjadi “komoditas politik” maka yang terjadi adalah malapetaka. Ramai tak menentu. Entah siapa yang rugi dalam hal ini. Hanya pepatah sering mengingatkan “Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri !

Pengamat: Elektabilitas Jokowi Akan Anjlok Jika Pembebasan Ustaz ABB Batal

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengamat Politik Indonesia, Jaka Setiawan mengungkapkan elektabilitas Joko Widodo akan turun jika pemerintah tidak jadi membebaskan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Hal itu secara tegas ia sampaikan terkait adanya konferensi pers dari Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto yang menyatakan akan mengkaji ulang rencana pembebasan Tokoh Umat Islam tersebut.

“Kalau (pembebasan ABB) ini batal, basis elektoral jokowi di kalangan Islam sudah pasti semakin jeblok. Itu udah pasti,” ujar Jaka seperti dilansir Kiblat.net, Selasa (22/01/2019) pagi.

Namun, ketika pembebasan Ustadz ABB ini jadi dilakukan, jelas Jaka, Jokowi masih ada kesempatan untuk netral elektabilitasnya. Ia menyebut istilah ‘kosong kosong’. Tapi ketika Jokowi membatalkan pembebasan ini, maka akan semakin menambah citra buruk Jokowi.

“Jika dibatalkan, itu akan disebut sebagai pelecehan-pelecehan lagi dan upaya mempermainkan ulama yang sudah sangat senior dan berpengaruh di Indonesia,” ujarnya.

Lebih tegas lagi, Jaka melihat jika nantinya pembebasan Ustadz ABB dibatalkan, maka semakin jelas ketidakberpihakan Jokowi terhadap Islam, terlebih dengan mempermainkan suara ummat islam, dengan mempermainkan Ulama.

Bukan hanya di suara umat Islam saja yang akan turun jika Jokowi membatalkan pembebasan Ustadz ABB ini. Bahkan di kelompok yang tidak mendukung Ustadz ABB pun, Jokowi akan berkurang suaranya karena dinilai tidak konsisten atas kebijakan yang diambilnya.

“Inikan yang terpengaruh ada di dua pihak. Elektoral Islam, satu lagi elektoral yang tidak suka terhadap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Jokowi akan dianggap tidak konsisten oleh kedua belah pihak ini. Ketika tidak konsisten, maka suara itu akan pergi, sebagian mungkin netral sebagian memihak kandidat yang lain yang konsisten dan bisa di pegang janji-janjinya,”.

Sebelumnya, Senin (21/01/2019) siang, Tim Pengacara Muslim bersama Ustadz Abdurrahim, Putra ABB mengadakan konferensi pers, salah satu materi nya adalah pembebasan Ustadz ABB yang diusulkan akan dilakukan hari Rabu. Ustadz Abdurrahim pun menjelaskan bahwa hari Selasa ini hanya tinggal mengurus masalah Administrasi saja.

Tiba-tiba, Senin malam, Menkopolhukam Wiranto mengadakan konfernsi pers yang menyatakan upaya pembebasan tersebut masih dikaji ulang. Dalam konferensi pers (konpers) yang dilakukan selepas azan Maghrib di Kantor Kemenko Polhukam, Wiranto mengatakan Presiden sangat memahami permintaan keluarga untuk pembebasan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Pertimbangananya dilakukan atas dasar kemanusiaan.

“Namun, tentunya masih perlu dipertimbangkan dari aspek-aspek lainnya,” ujar Wiranto, Senin (21/01/2019) dilansir Republika.

Memaknai Pernyataan Wiranto Soal Pembebasan Ustaz ABB

Oleh: Harits Abu Ulya
Pengamat Terorisme & Intelijen, Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA)

JURNIS – Akhirnya pemerintah melalui Menkopolhukam Wiranto mengeluarkan pernyataan resmi terkait wacana pembebasan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) dengan dua substansi utama: “(Pembebasan Ba’asyir) masih perlu dipertimbangkan dari aspek-aspek lainnya. Seperti aspek ideologi Pancasila, NKRI, hukum dan lain sebagainya,”. Dan: “Oleh karena itu, Presiden memerintahkan kepada pejabat terkait untuk segera melakukan kajian secara lebih mendalam dan komprehensif guna merespons permintaan tersebut,”.

Sudah bisa dipastikan pernyataan diatas memantik perdebatan publik secara luas.

Bagaimanakah menalar statemen Menkopolhukam diatas? Berikut catatan kritis saya:

[1]. Diksi “dipertimbangkan” dan “kajian” pada kontek frase statemen Menkopolhukam memberi indikasi makna; Pertama, wacana pembebasan ustad ABB itu di batalkan. Kedua, wacana pembebasan ustad ABB di tunda sampai waktu yang tidak bisa dipastikan. Ketiga, pemerintah berusaha mencari jalan tengah menimbang plus minusnya bagi semua pihak terutama bagi kepentingan rezim.

[2]. Kasus ini menunjukkan kapasitas managerial seorang Presiden Jokowi mengelola pemerintahan sangat problematik. Bisa saja dalam kontek ini seorang Yusril Ihza Mahendra akan di salahkan karena dianggap tidak kordinasi dan sebagainya. Tapi publik paham karena YIM bukan siapa-siapa dalam pemerintahan Jokowi, namun sungguh apa yang di lakukan YIM bukan berdiri sendiri tapi ada sosok Presiden di belakangnya. Dan apa yang di lakukan YIM adalah menterjemahkan hak dan keinginan pribadi Jokowi sebagai presiden.

[3]. Wacana kebijakan politik Jokowi membebaskan ustad ABB akhirnya betul-betul di sadari sangat blunder. Karenanya butuh dipertimbakan dan dilakukan kajian lagi. Kenapa demikian?

Ternyata isu kemanusian, penghormatan pada ulama dan bahasa-bahasa positif lain yang menjadi substansi narasi dari latar belakang pembebasan betul-betul di hadapkan pada ragam kepentingan yang paradok. Pertama; keputusan Jokowi tidak bisa dipastikan untuk mendongkrak elektabilitas sebagai modal di kontestasi pilpres 2019, bahkan bisa sebaliknya menggerus basis dukungan Jokowi dari pemilih setia sebelumnya. Perdebatan dan ketidakselarasan TKN Jokowi dengan rencana pembebasan ustad ABB menjadi indikasi kuat adanya irisan kepentingan pilpres 2019 dengan pernyataan resmi pemerintah via menkopolhukam.

Kedua; tekanan asing yaitu Amerika dan sekutunya demikian kuat kepada pemerintah Indonesia khususnya kepada kemenkopolhukam dan Kemenkumham. Bisa jadi Indonesia takut dengan ragam sanksi atau embargo dari Amerika dan sekutunya. Dan lagi-lagi statemen Wiranto mengkonfirmasi indikasi adanya tekanan tersebut, dan kadaulatan Indonesia sangat kritis. Harusnya Presiden Jokowi tampil ke depan, tidak perlu “lepas tangan” dan menyerahkan kepada menteri-menterinya untuk merancang narasi agar meyakinkan publik mau memaklumi bahwa kebijakan Presiden tidak ada yang salah jika menimbang dan mengkaji ulang.

[4]. Sikap pemerintah akan membuka pintu lebar-lebar kritikan keras dan tajam dari ragam kalangan dan dengan beragam motif. Jika benar-benar batal rencana pembebasan ustad ABB maka reputasi dan integritas Jokowi sebagai presiden bisa hancur sehancur-hancurnya. Publik akan menggugat konsistensi seorang Presiden. Jika hal ini dianggap remeh oleh presiden Jokowi atau orang-orang disekelilingnya, maka jangan lupa peristiwa ini juga akan mengkofirmasi statemen ustad ABB selama ini bahwa kasusnya adalah pesanan pihak Asing (Amerika dan sekutunya). Dan pemerintah Indonesia hanya seperti budak yang harus taat kepada tuannya.

Dan jelas bahwa umat Islam sebagian besar akan kecewa dan makin mengkristalkan spirit untuk menggulingkan Rezim Jokowi di pilpres 2019.

[5]. Akan muncul penalaran liar; apakah ini permainan politik tingkat tinggi? Ada design untuk memenangkan pilpres 2019 melalui isu terorisme. Membuat kebijakan yang memantik kehadiran intervensi asing sekaligus di sana akan ada bergaining untuk mendapatkan keuntungan dan dukungan dikepentingan politik domestik. Dan pihak asing serta aktor-aktor domestik opuntunir juga bisa meraup keuntungam dari proyek globar war on terrorism dimana ustad ABB terus di branding menjadi icon isu terorisme di kawasan Pasific.

Akhirnya publik akan melihat bagaimana ending dari semua ini. Akankah rasa kemanusiaan dan atas nama kedaulatan NKRI dikalahkan oleh kepentingan politik pragmatis 2019, kepentingan kelompok opurtunis dan asing?[]

Setelah Bebas, Tak Sembarang Orang Bisa Temui Ustaz ABB

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kuasa hukum Ustaz Abu Bakar Ba’asyir (ABB), Achmad Michdan mengatakan, pihaknya sudah mempersiapkan rencana pengamanan untuk beliau jika telah bebas dari penjara.

Pihaknya akan memastikan agar tidak sembarang orang bisa bertemu Ustaz ABB, baik untuk mendengarkan ceramahnya maupun bertemu dan berbicara dengan ulama 81 tahun tersebut.

Michdan khawatir ada orang yang meminta fatwa Ba’asyir dan hal itu kemudian dimaknai sebagai anjuran melakukan aksi teror.

“Kami tahu banyak orang datang kemudian dia mau cari apa yang disampaikan ustaz kemudian dia akan memutarbalikannya. Ini yang akan kita jaga,” kata Michdan di Jakarta, Senin (21/01/2019).

Michdan yakin akan ada banyak orang yang memanfaatkan, memanipulasi, dan akan kemudian membuat teror. “Ini yang akan kami jaga,” pungkasnya.

Terkait kepulangan Ustaz ABB, tim kuasa hukum telah mengajukan agar hari Rabu, 23 Januari besok Ustaz ABB sudah bisa pulang ke Solo. 

Kondisi Ustaz Abu Bakar Ba’asyir Sudah Sangat Sepuh dan Sakit

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ustaz Abdul Rochim Ba’asyir, Putra Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) menjelaskan kondisi ayahnya saat menjalani pidana di Lapas Gunung Sindur, Bogor. Ustaz Iim, sapaanya, mengatakan Ustaz ABB sudah sangat sepuh dan sakit. Bahkan, penyakit ABB hampir dari seluruh bagian tubuhnya.

“Saya tahu betul masalah ini, mulai dari kaki hingga kepala. Kaki yang bengkak karena masalah urat vena, lutut terjadi pengapuran, pinggang yang setiap hari Ustaz Abu keluhkan mengalami kram dari perut sampai pinggang, kepala yang pusing pada waktu-waktu tertentu,” paparnya dalam konferensi pers bersama Tim Pengacara Muslim di Jakarta Selatan, Senin (21/01/2019).

“Beliau sehat tapi sehatnya orang tua. Orang yang berumur 81 tahun masehi, dan 83 tahun hijriah. Begitulah kondisinya. Ini sudah wajar sekali dan kami kira presiden harusnya mengambil langkah ini atas nama kemanusiaan dan mengembalikan beliau kepada keluarganya, dan semoga Allah mudahkan prosesnya,” lanjutnya.

Karenanya, sejak awal rencana ini muncul, pihak keluarga dan Tim Pengacara Muslim (TPM) menegaskan bahwa pembebasan ini tidak terkait dengan masalah politik. Meskipun pihak keluarga sadar bahwa posisinya sekarang menuju pilpres, dan pasti ada tarik menarik kepentingan, tetapi pembebasan ini murni karena masalah kemanusiaan.

Ahmad Michdan, anggota TPM menambahkan bahwa ketika keluar rencana pembebasan ini, Ustaz ABB mengatakan kepada pengacara secara tegas tentang perawatan kesehatan Ustadz Abu selanjutnya. Selama ini, para tahanan terduga terorisme selalu dipersulit ketika menjalani pengobatan.

“Pak saya ini sedang sakit, kalau bisa, sebelum saya keluar, bisa mendapatkan rekomendasi untuk konsultasi ke pihak kedokteran, itu yang dipertegas Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ketika bertemu kami,” ujar Michdan.

Terakhir, Michdan mengungkapkan bahwa pihak pengacara terus berkoordinasi dengan tim dokter dari organisasi kemanusiaan Mer-C (Medical Emergency Rescue Committe). Ia meminta tolong untuk disiapkan tim dokter yang mengawasi kepulangan Ustaz ABB nantinya.

“Kita usulkan kepulangannya hari Rabu, agar tidak menjadi polemik juga. Ada tim dokter yang mengawasi, dan juga disiapkan rujukan-rujukan dimana beliau bisa dirujuk, medical record yang dibawa, rumah sakit yang disiapkan di Solo nanti,” tukasnya.

Reporter: Muhammad Jundii | INA (Islamic News Agency)

Kuasa Hukum Minta Ustaz ABB Dipulangkan Hari Rabu

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Atas alasan kemanusiaan dan faktor kesehatan, Presiden Jokowi menyetujui pembebasan tanpa syarat Ustaz Abu Bakar Ba’asyir (ABB). Kuasa hukum Ustaz ABB mengusulkan agar pembebasannya dilakukan pada hari Rabu, 23 Januari 2019.

“Kami mengusulkan Rabu. Sekali lagi, kami mengusulkan Rabu keluar. Kami mempersiapkan Rabu,” kata kuasa hukum Ustaz ABB, Achmad Michdan di Kantor Law Office of Mahendradatta, Jakarta Selatan, Senin (21/1/2019).

Menurutnya, hal itu sejalan dengan janji yang diungkapkan penasehat hukum pribadi Jokowi-Ma’ruf Amin, Yusril Ihza Mahendra, agar proses pembebasan dapat selesai pada pekan ini.

Namun, kuasa hukum menegaskan bahwa teknis dan keputusan pembebasan masih berada di pihak pemerintah.

“Mudah-mudahan ini lancar karena sudah lama kami berupaya supaya Ustaz Abu bisa berada di rumah,” tuturnya.

Sebelumnya, Ustaz Abu Bakar Ba’asyir divonis 15 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 2011 lalu. Pimpinan dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Jateng itu, dituduh menggerakkan orang lain dalam penggunaan dana untuk melakukan tindak pidana terorisme.

Sejak vonis, Ustaz ABB telah menjalani hukuman kurang lebih 9 tahun di penjara.

Semula, ia ditahan di Lapas Pasir Putih, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Namun, karena kondisi kesehatan yang menurun, Ustaz ABB dipindahkan ke Lapas Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat pada 2016 lalu.

Dua Kota di Filipina Selatan Dukung Undang-undang Islam Bangsamoro

KOTA COTABATO (Jurnalislam.com) – Dua kota di Filipina selatan, tempat berlangsungnya plebisit bersejarah, telah memilih hari Senin (21/1/2019) untuk mendukung otonomi komprehensif bagi Muslim Bangsamoro, menurut hasil tidak resmi, lansir Anadolu Agency.

Kota Cotabato dan Isabela telah memilih mendukung Undang-Undang Organik Bangsamoro (BOL), undang-undang Syariah, yang akan menggantikan Daerah Otonom di Muslim Mindanao (Autonomous Region in Muslim Mindanao-ARMM) yang telah ada sebelumnya dengan Daerah Otonomi Bangsamoro di Muslim Mindanao (the Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao-BARMM).

Kedua kota tersebut tidak terletak di ARMM – yang terdiri dari lima provinsi di wilayah tersebut – namun, namun dengan menyatakan “Setuju” akan memungkinkan mereka untuk menjadi bagian dari BARMM, otonomi komprehensif Moro Muslim yang telah lama ditunggu-tunggu.

Setelah RUU disahkan, BARMM akan dibuat.

Baca juga: 

BOL diatur untuk meningkatkan keuntungan hukum dan ekonomi bagi umat Islam di wilayah tersebut.

Dengan berdirinya pemerintah Bangsamoro, pengadilan hukum Islam akan dibuka di wilayah tersebut.

Otoritas regional akan diserahkan dari ibukota Manila ke pemerintah Bangsamoro.

Ketika BOL disahkan, kelompok Front Pembebasan Islam Moro (the Moro Islamic Liberation Front-MILF) juga akan menonaktifkan 40.000 pejuang Angkatan Bersenjata Islam Bangsamoro (Bangsamoro Islamic Armed Forces-BIAFF).

Erdogan: Kami Tidak akan Biarkan Zona Aman Suriah Jadi Kubangan Lain Melawan Turki

ANKARA (Jurnalislam.com) – Ankara tidak akan pernah membiarkan zona aman di Suriah diubah menjadi “area kubangan” melawan Turki, kata Presiden Recep Tayyip Erdogan, Senin (21/1/2019).

“Kami tidak pernah dapat mengizinkan implementasi zona aman [yang akan didirikan di Suriah utara] untuk diubah menjadi kubangan lain terhadap negara kami,” kata Erdogan pada pertemuan Uni Turki Kamar Dagang dan Komoditas (the Turkish Union of Chambers and Commodity Exchanges/TOBB) di ibukota Ankara.

Erdogan mengatakan Ankara tidak menentang pembentukan zona aman 30 kilometer (20 mil) di Suriah utara dekat perbatasan Turki, dan menambahkan tujuan zona aman seharusnya menjaga organisasi teroris (PYD/YPG) jauh dari perbatasan Turki.

Presiden mengatakan Turki tidak mengincar integritas teritorial Suriah, seraya menambahkan ia juga akan membahas masalah ini dengan timpalannya dari Rusia Vladimir Putin di Moskow dalam beberapa hari mendatang.

Tentang kemungkinan operasi militer Turki di Timur Sungai Eufrat, Erdogan mengatakan hampir semua persiapan telah selesai.

Erdogan mengatakan mereka yang mendesak Turki untuk tidak memasuki Afrin tahun lalu bermaksud menjauhkan Turki dari daerah itu untuk melakukan beberapa “persiapan”.

“Kami mengalami hal yang sama selama Operasi Euphrates Shield. Kami melihat dengan jelas ketika kami mengambil kendali atas daerah-daerah ini – bahwa mereka yang menghabiskan waktu kita begitu lama sebenarnya bertujuan untuk menembus perbatasan kita menggunakan kelompok teror seperti IS, PKK dan YPG.”

Baca juga: 

Dia mengatakan masalah yang sama sedang dihadapi di Manbij akhir-akhir ini dan “mereka yang terus-menerus berusaha menjauhkan Turki dari daerah-daerah ini sebenarnya bertujuan untuk memperkuat kelompok-kelompok teroris.”

Erdogan menuduh “mereka yang diam terhadap kekuatan dan kelompok-kelompok teroris yang merobek Suriah dan menyuarakan keluhan mereka terhadap kehadiran Turki di kawasan” adalah pihak yang menjadi bagian dari permainan ini.

Sebuah misi di timur Sungai Efrat, yang telah disarankan oleh kepemimpinan Turki selama berbulan-bulan, akan mengikuti dua operasi lintas-perbatasan Turki yang sukses ke Suriah sejak 2016 – Operasi Euphrates Shield dan Olive Branch – yang dimaksudkan untuk membasmi kehadiran YPG / PKK dan Teroris IS di dekat perbatasan Turki.

Dalam lebih dari 30 tahun aksi terornya melawan Turki, PKK – yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki dan UE – bertanggung jawab atas kematian sekitar 40.000 orang, termasuk wanita dan anak-anak. YPG adalah cabang PKK di Suriah.

Pemimpin Turki menambahkan bahwa “tidak mungkin aman tanpa menjadi kuat” dan menunjuk operasi lintas batas negaranya di Suriah dan Irak.

“Seperti leluhurnya, Turki percaya bahwa keselamatan tidak dimulai dari perbatasannya tetapi dari luar perbatasannya.”

“Mereka yang telah melakukan serangan sekecil apa pun di negara kita, akan membayar harga yang mahal. Khususnya IS, YPG, PYD, semuanya akan membayar harga yang mahal,” kata Erdogan.