JAKARTA (Jurnalislam.com) — Anggota tim medis Mer-C yang menangani ustaz Abu Bakar Baasyir di Lapas Gunung Sindur menyatakan, kondisi kesehatan Baasyir sudah tidak layak menjalani kurungan penjara.
Tim medis mengatakan harus mendapatkan perawatan di rumah.
“Ustadz Abu harus dalam penanganan yang lebih instensif. Jadi menurut kami dari Mer-C, ustadz Abu dengan umur segini sebenarnya sudah harus homecare,” ujar anggota tim medis Mer-C, Meaty di RSCM, Jakarta, Selasa (29/1).
Meaty mengatakan empat dokter ahli di RSCM baik dokter spesialis konsultan geriatri, spesialis penyakit dalam, ortopedi, dan bedah vaskuler yang memeriksa kesehatan Baasyir.
Ia juga menyatakan pendapat yang sama, bahwa Ba’asyir dengan kondisi kesehatannya saat ini idealnya memeroleh perawatan di rumah.
“Kami semua dokter sepakat, ustadz Abu dalam keadaan begini sudah harus homecare,” jelasnya.
Baasyir menjalani pemeriksaan kesehatan di RSCM sejak pukul 10.00 hingga 16.00 WIB.
Dari pemeriksaan selama enam jam itu, Meaty mengungkapkan Baasyir didiagnosa mengalami penyumbatan di bagian vena kaki serta kondisi bantalan lutut yang sudah tipis.
Menurut Meaty, Baasyir sudah kesulitan berjalan dan memerlukan fisioterapi minimal tiga kali sepekan.
Baasyir pun telah dipersilakan dokter RSCM untuk kembali ke Lapas Gunung Sindur, namun jika ada keluhan lagi terkait kesehatannya, maka yang bersangkutan akan dirujuk kembali ke RSCM.
“Jadi untuk sementara boleh dipulangkan (kembali ke lapas), tapi nanti kalau ada keluhan balik lagi. Bayangkan harus bolak-balik dengan jarak jauh,” kata Meaty.
YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menilai pernyataan Ketua Umum PBNU merupakan bentuk fanatisme dan menjurus ke radikalisme. Sebagaimana diketahui, dalam acara Harlah 73 Muslimat NU di GBK hari Ahad (27/1/2019) Said Aqil mengatakan, Imam, khatib jumat, menteri agama, dan KUA harus dari kalangan NU, jika tidak dari NU salah semua.
“Hal itu merupakan bentuk dari fatanisme dan menjurus ke radikalisme. Mau dikemanakan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika?” kata Haedar dilansir laman resmi Muhammadiyah, Senin (28/1/2019).
Ia menjelaskan, negara dan instansi pemerintah harus milik bersama sebagaimana amanat konstitusi. Menurutnya, pemerintah harus berasaskan meritokrasi dan jangan di atas kriteria primordialisme atau sektarianisme.
“Jika Indonesia ingin menjadi negara modern yang maju, maka bangun good governance dan profesionalisme, termasuk di Kementerian Agama,” tegasnya.
Pernyataan Said Aqil juga, lanjut Haedar, akan menjadi preseden buruk bagi demokrasi Indonesia, bahkan dapat memicu konflik atau perebutan antargolongan.
Oleh sebab itu, ia mengimbau semua tokoh umat dan bangsa untuk mengedepankan ukhuwah secara otentik guna merajut kebersamaan, terlebih di tahun politik ini.
“Mari ciptakan suasana damai dan keadaban mulia dalam berbangsa,” ajak Haedar.
Kendati demikian, Haedar mengimbau umat Islam untuk tidak menangapi pernyataan Said Aqil tersebut secara berlebihan.
“Semua pihak diharapkan bijak dan tidak memperpanjang masalah ini. Kita lebih baik mengedepankan ukhuwah dan mengerjakan agenda-agenda yang positif bagi kemajuan umat dan bangsa,” pungkasnya.
ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Presiden Turki, Recep Tayyif Erdogan mengatakan, zona aman yang akan didirikan di Suriah Utara akan memungkinkan lebih banyak pengungsi untuk kembali ke negara itu.
“Turki bertujuan untuk membentuk zona aman di Suriah Utara sehingga pengungsi Suriah yang berada Turki dapat kembali ke negara asalnya,” kata Erdogan dilansir Aljazeera, Senin (28/1/2019)
Erdogan juga mengatakan, hampir 300.000 warga Suriah telah kembali ke daerah-daerah yang dikuasai pemberontak yang didukung Turki di Suriah Utara. Ia berharap jutaan warga Suriah segera kembali ke zona aman yang diusulkan.
Turki menampung sekitar empat juta pengungsi Suriah.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan pada bulan Desember lalu penarikan 2.000 tentara AS dari Suriah dan Erdogan kemudian mengatakan mereka telah membahas pengaturan zona aman seluas 32 km di Suriah sepanjang perbatasan dengan Turki.
Sebelumnya, pada hari Jumat (25/1/2019) Erdogan mengatakan bahwa Turki mengharapkan zona aman akan dibentuk dalam beberapa bulan, jika tidak, ia akan membangun zona penyangga tanpa bantuan negara lain.
Ankara ingin zona itu menampung para pejuang the Kurdish People’s Protection Units (YPG) yang telah dipersenjatai dan dilatih Amerika Serikat untuk berperang melawan Islamic State (IS).
YPG dipandang sebagai pasukan darat yang efektif oleh AS dalam perang melawan IS, tetapi Turki mengatakan pihaknya terkait dengan Kurdistan Workers’ Party (PKK) yang dilarang, yang oleh Ankara dan Washington tercantum sebagai kelompok teroris.
Menteri Luar Negeri Turki mengatakan pada Kamis (24/1/2019) bahwa Turki memiliki kapasitas untuk menciptakan zona aman di Suriah, tetapi tidak akan mengabaikan AS, Rusia, atau lainnya jika mereka ingin bekerja sama.
“Turki tidak memaksa pengungsi untuk kembali selama bertahun-tahun. Namun, sekitar 300.000 pengungsi kembali ke daerah-daerah yang dikuasai Turki dan pemberontak yang didukung Turki di Suriah utara, seperti Jarablus dan Al-Bab,” kata reporter AlJazeera, Osama Bin Javid melaporkan dari Gaziantep, perbatasan Turki-Suriah.
“Dan kemungkinan pemulangan para pengungsi, menurut Erdogan, jika Turki dapat memiliki semacam kontrol dari sisi barat Sungai Eufrat hingga perbatasan Irak.”
Ancaman Turki
Selama berbulan-bulan, Ankara mengancam akan melancarkan serangan baru di Suriah Utara untuk mengusir para pejuang Kurdi yang didukung AS, menyusul dua pertempuran lain dalam tiga tahun terakhir.
Pasukan Turki menembaki posisi YPG di wilayah utara Suriah Tal Rifaat pekan lalu, media pemerintah melaporkan pada hari Jumat. YPG masih mengendalikan wilayah kecil Tal Rifaat, terjepit di antara wilayah di bawah kendali Turki di utara dan daerah yang dikendalikan oleh pemerintah Suriah dan pemberontak pemerintah anti-Suriah di selatan.
YPG telah menolak gagasan “zona keamanan” yang didirikan oleh Ankara, mereka takut serangan Turki terhadap wilayah di bawah kendali mereka. Erdogan dan Trump telah melakukan beberapa percakapan telepon untuk membahas zona keamanan yang diusulkan, serta penarikan pasukan AS dari Suriah.
BANDA ACEH (Jurnalislam.com) – Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah menyatakan pelaksanaan Syariat Islam di provinsi Serambi Mekah telah mendekati kaffah. Pelaksanaan Syariat Islam yang berlangsung saat ini terus diupayakan kepada subtansi sehingga upaya mewujudkan Syariat Islam secara kaffah dapat terwujud.
“Saya yakin Syariat Islam di Aceh sudah mendekati kaffah. Generasi muda pun sudah mulai bangga dan berani menyatakan bahwa Aceh Negeri Syariah,” kata Nova Iriansyah di sela-sela meresmikan Masjid H Keuchik Leumiek di Gampong Lamseupeung, Kecamatan Lueng Bata Kota, Banda Aceh, sebagaimana dilansir Antara, Senin (28/1/2019).
Ia menjelaskan pelaksanaan Syariat Islam yang berlangsung saat ini terus diupayakan kepada subtansi sehingga upaya mewujudkan Syariat Islam secara kaffah dapat terwujud.
“Sebagai daerah yang melaksanakan Syariat Islam memakmurkan masjid harus menjadi lambang syiar agama Islam di Bumi Serambi Mekkah,” kata Nova.
Menurut dia berjalannya berbagai aktivitas keagamaan di sebuah masjid menjadi indikator telah membaiknya kehidupan berlandaskan Syariah dan menjadikan masjid tidak hanya sebagai tempat pelaksanaan ibadah, tapi juga menjadi aktivitas keagamaan dan sosial lainnya yang merupakan bagian dari syiar agama.
“Salah satu upaya mengoptimalkan itu adalah, orientasi fungsi harus lebih menonjol dan dominan dibandingkan orientasi fisik bangunannya,” katanya.
Ia menambahkan agar masjid menjadi pusat permberdayaan dan pembinaan umat dapat dilakukan dalam tiga aspek yakni titik fokus pada bidang manajemen mulai dari sumber daya manusia sampai kepada mekanisme pengelolaan keuangan secara transparan dan akuntabel.
Kedua berada pada bidang pemakmuran masjid berupa kegiatan-kegiatan pelayanan umat atau jamaah, baik yang berkaitan dengan ibadah khusus atau ibadah umum dan Ketiga aspek yang menyangkut dengan legalitas bangunan, arsitektur, kebersihan, keindahan dan segala macam yang berkaitan dengan pembangunan dan perawatan.
MALAYSIA (Jurnalislam.com) – Komite Paralimpik Internasional (IPC) membatalkan Malaysia sebagai tuan tuan rumah Kejuaraan Renang Dunia 2019 yang dijadwalkan mulai 29 Juli hingga 4 Agustus di Kuching, lansir Bernama.
Menurut IPC, keputusan itu diambil karena Malaysia menolak keikusertan atlet Israel dalam kejuaraan yang akan berlangsung di Kuching pada 29 Juli-4 Agustus itu.
Presiden Andrew Parsons menyampaikan lembaganya harus mencari tuan rumah yang baru karena Malaysia menyoret keikutsertaan atlet Israel karena alasan politik.
“Semua Kejuaraan Dunia harus terbuka untuk semua atlet dan bangsa yang memenuhi syarat untuk bertanding dengan aman dan bebas dari diskriminasi,” ujar Parsons.
Juru bicara kementerian luar negeri Israel Emmanuel Nahshon mengapresiasi keputusan IPC ini.
Dalam akun twitternya, Nahshon menyatakan keputusan IPC adalah kemenangan atas kebencian dan kefanatikan.
“Terima kasih @Paralympics atas keputusan berani Anda,” cuit dia.
Malaysia sebelumnya melarang atlet Israel berkompetisi sebagai dukungan terhadap kemerdekaan bangsa Palestina
Perdana Menteri Mahathir Mohamad mengatakan jika tim Israel bersikeras berpartisipasi dalam kejuaraan, itu sama dengan melanggar aturan.
“Kami mempertahankan pendirian kami atas larangan tersebut. Jika mereka datang, itu adalah pelanggaran. Jika mereka ingin menarik hak Malaysia untuk menjadi tuan rumah kejuaraan, mereka dapat melakukannya,” ujar Mahathir.
Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Steven Sim Chee Keong mengatakan Malaysia tidak akan mengizinkan perenang Paralimpik Israel memasuki negaranya karena kebijakan luar negeri Malaysia terkait Israel “sangat jelas”.
JURNIS – Pernyataan Ketum PBNU, Said Aqil Siradj mengenai jabatan-jabatan di berbagai lembaga dari Menteri sampai Imam Khatib harus semua NU telah menimbulkan kegelisahan dan tanggapan. Dari MUI Pusat pun menyayangkan pernyataan tersebut. Bahwa perjuangan atau motivasi kepada kader NU untuk menguasai jabatan-jabatan bisa saja dianggap wajar. Akan tetapi dengan kalimat jika bukan NU “salah semua” maka tentu dinilai tak wajar bila diungkap oleh seorang pejabat puncak organisasi kemasyaratan Islam.
Meskipun sudah sering Said Aqil melempar ungkapan kontroversial, namun saat ini menyodok semua elemen umat Islam non NU dengan menyatakan “salah semua” seolah kebenaran itu milik NU dan satu satunya organisasi kebenaran hanya NU. Sikap ini sebenarnya adalah ‘arogansi’ dalam klaim kebenaran. Sebagai muslim apalagi tokoh seharusnya tingkat pengendalian emosi cukup tinggi. Meski diucapkan pada acara organ NU sendiri yakni peringatan Harlah Muslimat NU tapi terdengar dan tersebar luas. Banyak kelompok umat yang merasa “tertampar” oleh ucapan sang kyai ini. Melihat karakternya, jika ditegur pun maka nampaknya teguran dari manapun akan diabaikan.
Biasanya yang dijadikan isu dan diangkat oleh Kyai Said Aqil terhadap kelompok yang diwaspadai adalah kelompok intoleran, anti kebhinekaan, atau radikal. Nah saat ini terbukti sebenarnya Said Aqil lah yang intoleran, anti kebhinekaan dan radikal itu. Menafikan eksistensi kekuatan atau organisasi lain apalagi sesama organisasi da’wah bukan saja tidak etis tapi juga tidak berdiri di kaki realitasnya. Sangat kontra produktif. Pemahaman Islam di bumi Nusantara ini sangat beragam dan tidaklah seragam. Inilah kekayaan bangsa. Karenanya harus toleran (tasamuh). Kecuali faham keagamaan yang sesat atau masuk kategori penodaan agama yang tidak boleh ditoleransi. Fakta yang ada adalah banyaknya ormas Islam dengan perbedaan pemahaman keagamaan. Meski nuansa perbedaan itu sebenarnya bersifat furu’iyah atau metodologi istimbath hukum atau pada strategi pengembangan da’wah.
Dalam banyak kesempatan Said Aqil ketika membahas kemajemukan agama, sering mengungkapkan bahwa semua agama itu sama dalam mencari kebenaran dan semua agama itu menginginkan kebaikan. Ber “misan” satu dengan yang lain. Menurutnya semua agama memiliki nilai nilai universal. Bagi Said Agil tidak perlu merasa fanatik pada kebenaran agama sendiri. Disinilah ironi dari pandangannya itu ketika konteksnya adalah agama agama maka “semua benar” tapi ketika internal sesama umat beragama Islam menjadi “salah semua” kecuali NU.
Egosentrisme organisasi atau faham dalam beragama mesti dihindari. Sifat ananiyah dicela dalam agama. Bila sifat negatif ini dipelihara nanti seperti Fir’aun yang mengatakan “Ana robbukumul ‘ala” atau seperti Louis XlV yang berujar “L’etat cest moi”. Semua bermula dari “Aku” dan berujung pada akhir kehidupan yang buruk.
Sesama muslim harus saling mengingatkan, agar ia tidak terperosok dalam kezaliman yang membawa kerugian di dunia dan akherat.
Moga ucapan ini hanya “Slip of the tounge”. Namun jika “tounge” kita sering “slip” maka perlulah rasanya kita memperbanyak istighfar.
Astaghfirullah al adhim.
Reporter: Arie RistyanRedaktur: Ally Muhammad Abduh
YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Takmir Masjid Jogokariyan, Ustaz Muhammad Fanny Rahman menegaskan, pihaknya akan menggelar apel siaga jika para pelaku penyerangan terhadap Masjid Jogokariyan tidak diproses hukum dengan adil.
“Apel siaga akan diadakan kalau penanganannya tidak adil dan arif,” kata Ustaz Fanny kepada Jurniscom, Senin (28/1/2019).
Ia menjelaskan, kendati pihaknya adalah korban namun ia tak ingin kasus ini melebar kemana-mana. Oleh sebab itu, pihaknya sudah meminta pihak PDIP untuk meminta maaf dengan menghadirkan para pelaku. Ia khawatir kasus ini akan meluas jika tidak segera diselesaikan dengan adil.
“Sebenarnya dari masjid simpel, pada permintaan maaf mereka kemudian menghadirkan langsung pelaku atau penggerak dari mereka itu. Kalau tidak, kita akan menggelar apel siaga umat Islam untuk membela kemuliaan masjid. Kemarin waktu kita rilis juga bisa puluhan ribu massa yang siap hadir di sini,” ujarnya.
Ustaz Fanny juga mengaku telah dihubungi oleh simpul-simpul laskar Islam dari luar daerah untuk membantu sekiranya kasus tersebut terus meluas.
“Karena kami melihat ini isunya sensitif, selesaikan biar gak melebar kemana-mana, karena memang jujur dari setelah itu kejadian sampai malam itu yang ngontak kami itu segera merapat itu bukan hanya Jogja, tapi juga Solo, Magelang, Klaten, Bandung, Pacitan, Jakarta siap berbondong-bondong datang,” paparnya.
Sebagaimana diberitakan, Masjid Jogokariyan diserang sekelompok massa beratribut partai pada Ahad (27/1/2019). Untuk mencegah perusuh merusak masjid, sejumlah jamaah masjid menghalau mereka.
Akibatnya, bentrokan tak terelakkan. Sejumlah orang dari dua belah pihak terluka akibat sabetan senjata tajam dan lemparan batu. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Reporter: Arie RistyanRedaktur: Ally Muhammad Abduh
YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Takmir Masjid Jogokariyan, Ustaz Muhammad Fanny Rahman memaparkan kronologis peristiwa bentrokan antara warga Masjid Jogokaryan dengan ratusan massa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada Ahad, (27/1/2019).
Ustaz Fanny membantah pihaknya yang memulai bentrokan tersebut. Ia menegaskan, jamaah masjid yang terlibat bentrok hanya untuk membela diri dari serangan tiba-tiba massa PDIP.
Berikut ini petikan wawancara wartawan Jurnalislam (jurnis), Arie Ristyan dengan Ustaz Fanny di pelataran Masjid Jogokariyan, Senin (28/1/2019).
Bagaimana kejadiannya?
Hari ahad kemarin itu lagi punya gawe acara pemilu takmir masjid yang 4 tahunan, pemilihan pengurus baru, dari pagi. Sampai jam 8 malam, pagi ada jalan sehat yang ribuan yang hadir pada waktu itu Kapolres Jogja, Wakil Walikota dan semua warga hadir dari semua background, dari semua partai, entah yang ijo, abang, putih, semua bisa hadir. Nah, ada juga pemeriksaan kesehatan gratis, sore ada pengajian dan pembagian paket sembako bagi warga yang kurang mampu.
Ustaz Muhammad Fanny Rahman, Takmir Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Foto: Arie/Jurnis
Kita membagikan sekitar 25 paket di pengajian, mulai dengan shalat Asar berjamaah. Kemudian setelah selesai dibagi, pas sekitar jam 4 acara selesai bubar, waktu itu saya pas posisi di depan rumah ini (nunjuk depan masjid-red) tempat orang tua baru kurang sehat, tahu-tahu ada simbah-simbah sepuh nangis. Terus saya tanya, kenapa mbah? Ternyata dia nggak berani pulang, ada kejadian ramai di sana. Terus saya lari, waktu itu dari warga dan jamaah belum banyak orang. Itu lemparan batu udah ada dari arah barat itu, perempatan, untungnya alhamdulillah pada waktu itu karena acara pagi itu ramai kemudian dipasang tenda dijalan itu sehingga lemparan batu itu terkena tenda.
Warga kena beberapa tapi alhamdulillah tidak terlalu parah, tapi beberapa orang yang bertahan itu jangan sampai berhasil merangsek (ke arah masjid-red), tapi kita gak pakai senjata waktu itu, secara mereka mengunakan senjata tajam, pedang, macam-macam lah, ada bamboo, besi, sehingga mereka tetap melempar dan sambil mendekat ke kita. Warga dan jamaah kemudian berkumpul jadi satu. Akhirnya mengusir balik mereka, mengusir mereka dari kampung, sampai mereka kocar-kacir keluar barisan mereka. Kemudian saya baru telpon ke pak Kapolres, dan mediasi oleh Kapolsek. Saya bertiga mewakili masjid dan dari mereka ada sesepuh-sesepuh mereka. Kemudian dimediasi di kecamatan, dari jam 5 (sore) dan selesai itu sekitar Isya. Kemudian break karena ada beberapa poin itu.
Masjid Jogokariyan. Foto: Arie/Jurnis
Sebenarnya dari masjid simpel, pada permintaan maaf mereka kemudian menghadirkan langsung pelaku atau penggerak dari mereka itu, karena warga sini sudah hafal, orangnya itu-itu aja. Minta maaf secara langsung kepada masjid, bisa di masjid atau di mana, di tempat netral juga bisa, di polsek atau kecamatan, sama saya sendiri juga bisa atau perwakilan, silahkan datang jam berapa, kemudian minta maaf tanda clear. Karena kami melihat ini isunya sensitif, selesaikan biar gak melebar kemana-mana, karena memang jujur dari setelah itu kejadian sampai malam itu yang ngontak kami itu segera merapat itu bukan hanya Jogja, tapi juga Solo, Magelang, Klaten, Bandung, Pacitan, Jakarta siap berbondong-bondong datang. Tadi malam aja sudah banyak sekali ya kita koordinasikan untuk siaga di tempat masing-masing, jangan sampai ini semakin melebar, kita ingin mengkondisikan segera beres.
Maka kedepan salah satu komitmen mereka mau menghadirkan pelaku itu untuk meminta maaf secara langsung, entah itu di kecamatan atau dimana kita nggak masalah. Tinggal bola sekarang di kepolisian. Kalau ini semakin membesar, kita sebentar lagi akan proses, kalau proses ini malah semakin berkembang. Karena kalau saya mewakili masjid bukan partai, kalau ada ini dikembangkan dengan hal yang lain maka kita akan menuntut, kalau ndak kita akan menggelar apel siaga umat Islam untuk membela kemuliaan masjid. Masjid dan massa akan besar karena kemarin waktu kita rilis juga bisa puluhan ribu massa yang siap hadir disini, melebihi kajian ustadz Somad malahan, karena ini masalah masjid, makanya sebenarnya bola ini ada di tangan kepolisian.
Ya saya bilang, lah konyol kita ngusir tangan kosong secara mereka bawa pedang, bawa celurit, sama saja dengan bunuh diri.
Apakah kepolisian akan memproses hukum para pelaku?
Kalau kami sendiri gak masalah sampai hukum, cuma ada itikad baik dari mereka, sebenarnya kalau kerusakan tidak parah karena kena tenda-tenda itu, kemudian kena pagar, kemudian ada beberapa yang kena tapi ndak parah, yang masjid ini yang harus dijaga.
Pada waktu kejadian, saya itu datang setelah kejadian beberapa menit, kemudian saya di depan untuk mengusir mereka, tapi itu sulit karena mereka bawa senjata tajam. Bandemi (melempar batu-red) waktu itu baru hanya beberapa orang, habis itu karena waktu itu sore, karena sejak hari Sabtu kan sudah ada kajian akbar disini, kalau kemarin minggu acara sebelumnya ngebyar (begadang-red) sampai malam. Nah, sore-sore itu (Ahad-red) hanya panitia pembagian sembako aja yang ada, divisi sosial itu aja yang memukul balik mereka, dan mereka pun masih tetap bertahan menyerang. Warga dan jamaah langsung kumpul semua, semakin banyak itu, dan memukul balik mereka. Itupun kejadian di lapangan (sebrang masjid-red) sampai crash.
Ketika mereka misalnya ada tadi petugas kok ngomong dari masjid atau warga ada yang bawa sajam? Ya saya bilang, lah konyol kita ngusir tangan kosong secara mereka bawa pedang, bawa celurit, sama saja dengan bunuh diri saya bilang. Apapun yang bisa digunakan agar mereka keluar dari kampung, itu yang bisa dipakai, wong yang mulai mereka. Saya sendiri mau kebacok dan kepedang ketika melerai, wong saya di depan, kan saya gak bawa apa-apa waktu itu. Dan terus warga ngumpul-ngumpul dan ngusir mereka, karena jumlah mereka ratusan, sementara awal kita nggak nyampai 10 orang, paling 7-10 orang.
Dari barat mereka tiba-tiba gleyer-gleyerlah (gass knalpot suara kenceng-red). Apel siaga akan diadakan ketika kasus ini melebar, kita gak tau. Melebar yang mana, tapi teman-teman simpul-simpul laskar, simpul-simpul umat Islam sudah siap.