Ratusan Remaja Hadiri “Kursus” ala IPPSIS

Singaparna (Jurnalislam.com) – Ikatan Pelajar Pecinta Syariat Islam (IPPSIS) menggelar program kajian perdana mereka berjudul “Kursus (Kajian Umum Remaja Sabtu Sore) Yuk”, Sabtu (22/03) di Masjid Al Imaroh Desa Arjasari, Kecamatan Leuwisari, Singaparna Kabupaten Tasikmalaya.

Kajian perdana bertema “Engkau Mulia Dengan Islam” dengan pemateri Ustadz Abu Hazmi ini dihadiri oleh ratusan remaja putra putri yang berasal dari 30 sekolah menengah yang ada di kabupaten Tasikmalaya serta beberapa tamu undangan dari Ulama dan tokoh masyarakat sekitar.

Amir IPPSIS, Fahmi Faisal Malik dalam sambutannya menyampaikan tujuan diselenggarakannya acara tersebut sebagai bentuk kepedulian IPPSIS terhadap dekadensi moral generasi muda Indonesia dan untuk mengcounter perang pola pikir yang lancarkan oleh Yahudi serta untuk memperkayai keilmuan generasi muda khususnya tentang ilmu syar’i.

“Acara ini bertujuan untuk menambah pengetahuan keislaman generasi muda dalam menghalau serangan orang-orang kafir terhadap Islam dalam bentuk pola pikir dan gaya hidup. Kajian ini Insya Alloh akan kami gelar dua minggu sekali di masjid-masjid sekitaran kabupaten Tasikmalaya. Panitianya pun akan berubah sesuai letak masjidnya.” tutur siswa kelas 2 SMA itu.

Program ini disambut baik oleh para ulama dan tokoh masyarakat. Mereka berharap anak-anak remaja dari IPPSIS ini menjadi pelopor perubahan generasi muda di tengah kehancuran moralnya yang semakin memprihatinkan.

Ketua DKM Al Imaroh, H. Abdul Manaf, S,Pd, menyampaikan rasa kagumnya kepada para remaja peserta kajian yang hadir saat itu. Dalam sambutannya beliau mendukung penuh program tersebut diadakan di masjid yang dikelolanya.

“Kami mendukung sepenuhnya acara ini. Jangankan dua minggu sekali, mau setiap hari pun silahkan pakai Masjid ini.” dukungnya

Dijelaskan oleh Fahmi, untuk mendatangkan siswa-siswi peserta kajian dari  sekolah-sekolah di Singaparna itu, IPPSIS bersilaturahim kepada sekolah-sekolah tersebut untuk mensosialisasikan program mereka.

“Satu minggu sebelumnya kami datang ke sekolah-sekolah disini, dari tingkat SMP sampai SMA. Alhamdulillah, mereka menyambut baik program kami ini. Ada juga beberapa sekolah yang meminta agar kajian itu dilaksanakan di Masjid sekolahnya. Mereka siap jadi panitia.” lanjut Aik, sapaan akrabnya.

Kajian yang dimulai ba’da ashar berakhir pukul 17.30 WIB, dilanjut dengan sholat magrib berjamaah.

Untuk diketahui, meski baru berumur 2 bulan kurang, saat ini IPPSIS telah beranggotakan ratusan pelajar dari berbagai Sekolah Menengah di Kabupaten Tasikmalaya. IPPSIS dideklarasikan di Singaparna pada 14 Februari 2014 saat aksi perdana mereka menolak Perayaan Valentine’s Day. (amaif)

 

 

 

Akhirnya MH370 Disimpulkan Jatuh di Laut Samudera Hindia

Kuala Lumpur (Jurnalislam.com) – Akhirnya Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mengumumkan nasib pesawat Malaysia Airlines (MAS) dengan nomor penerbangan MH370 yang hilang sejak Sabtu (8/3/2014) lalu mengakhiri perjalanannya alias terjun ke Samudera Hindia

 

Razak, Senin (24/3/2014), menyatakan kesedihan yang mendalam atas musibah yang menimpa Malaysia Airlines MH370. Menurut data-data terbaru, Beliau mengatakan, penerbangan MH370 yang hilang dari radar sejak dua pekan atau 8 Maret 2014 lalu berakhir di wilayah selatan Samudra Hindia.

 

Pernyataan itu dilontarkan setelah pesawat pengintai China dan Australia melihat benda-benda yang diduga puing-puing MH370 di wilayah terpencil Samudra Hindia, 2.500 kilometer sebelah barat daya kota Perth, Australia.

 

Jika benda-benda itu benar-benar merupakan puing MH370, maka ini merupakan temuan paling konkret dalam operasi pencarian internasional yang melelahkan selama dua pekan terakhir ini.

 

Meski demikian, tim pencari menyatakan, sebelum benda-benda itu diangkat dari laut dan diperiksa belum dapat benar-benar dipastikan bahwa benda-benda itu merupakan pecahan Malaysia Airlines.

 

Najib Razak melanjutkan, pihak manajemen Malaysia Airlines sudah berbicara kepada keluarga penumpang dan awak MH370 terkait perkembangan terbaru ini dan kemungkinan terburuk menyangkut nasib para penumpang.

 

“Bagi mereka (keluarga) beberapa pekan terakhir ini sungguh sangat berat. Sehingga saya mengimbau media agar menghormati privasi mereka dan memberikan kesempatan bagi mereka ruang dalam masa-masa sulit ini,” ujar Razak.

 

Sementara itu, Angkatan Laut AS telah mengirimkan sebuah alat pencari kotak hitam ke wilayah pencarian di Samudra Hindia sebagai langkah antisipasi jika lokasi hilangnya MH370 benar-benar ditemukan. (izzam/tribun)

Tebar Tauhid JAT Jawa Timur Bagikan VCD Gratis Ust. Abu Bakar Ba’asyir

Surabaya (Jurnalislam.com) – Setelah sukses di berbagai kotaKini aksi peduli tauhid, pembagian VCD Dakwah Ust. Abu Bakar Ba’syir digelar di Surabaya. Pembagian VCD dakwah bertempat di halaman Masjid Al Falah di Jalan Darmo selepas sholat Jumat (21/3/2014).

Seusai shalat Jum’at panitia bergegas mengambil posisi untuk memasang spanduk bergambar Ust. Abu Bakar Ba’asyir. Masyarakat terlihat antusias menyambut aksi ini. Kurang dari 15 menit VCD sudah tersebar habis.

Bahkan beberapa orang meminta VCD lebih dari satu untuk diberikan kepada teman-teman mereka. Sayangnya, karena keterbatasan jumlah VCD yang dicetak banyak masyarakat yang tidak kebagian. Mereka berharap ada lagi pembagian VCD Ceramah Ustadz yang saat ini berada di Lapas Pasir Putih Nusakambangan karena di fitnah terlibat kasus terorisme.

Sholikin, Koordinator Aksi mengatakan aksi ini adalah bukti bahwa masyarakat banyak masih bersimpati terhadap Ustadz Abu.

“Alhamdulillah, melalui aksi ini kita dapat melihat  bahwa masyarakat tidak antipati terhadap Ust. Abu Bakar Ba’asyir seperti yang dicitrakan oleh thoghut. Berarti hal ini menunjukan gagalnya pencitraan negatif yang dilakukan thoghut terhadap Ust. Abu Bakar Ba’asyir”, tuturnya

Aksi bertajuk Aksi Peduli Tauhid di Surabaya ini adalah rangkaian aksi yang diselenggarakan oleh Sariyah I’lam wilayah Jawa Timur serentak di lima daerah di Jawa Timur. Kota Surabaya, Kabupaten Mojokerto, Kota Blitar, Kota Malang, dan Kota Jember diantaranya. 1000 keping VCD dakwah Ustadz  Abu laris manis dalam aksi itu. (Ansaf/sby)

Aksi Sosial Me-DAN di Acara Beda Buku Tadzkiroh II Surakarta

Surakarta (Jurnalislam.com) – Di depan gedung Al Irsyad Surakarta, tempat dilaksanakannya acara bedah buku Tadzkiroh II yang diadakan oleh Muslim Bangkit Sabtu (16/03) lalu,  beberapa relawan dari Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-DAN) membuka stand Aksi Sosial yang melayani pemeriksaan golongan darah, penggalangan dana kemanusiaan dan pendaftaran relawan baru.

Aksi ini mendapat antusiasme yang baik dari pengunjung. Selain dana yang terkumpul cukup banyak, tercatat ratusan pengunjung juga melakukan cek darah dan puluhan pengunjung acara mendaftarkan diri untuk menjadi relawan baru Me-DAN.

Ketika ditanya program Me-DAN untuk mentindaklanjuti relawan-relawan baru yang mendaftar di stand Aksi Sosial tersebut, ketua tim Me-DAN Jawa Tengah, dr. Ahmad Sarju menjelaskan bahwa Me-DAN Jawa Tengah akan melakukan pelatihan dan perekrutan calon relawan baru setelah Jakarta.

“Kita tunggu dari Jakarta dulu, baru setelah itu kita adakan pelatihan disini.” Jelasnya

Seperti diketahui tim Me-DAN Jakarta baru akan melaksanakan pelatihan dan perekrutan relawan baru pada 19 – 20 April di Buperta Cibubur. (amaif)

Jamaah Anshor Baitul Maqdis Konfirmasi Kesyahidan Prajurit-Prajuritnya

Bayaan Belasungkawa atas Gugurnya Para Pahlawan ”Malhamah (Pertempuran) Arab Sharks Balqlliopip

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Alloh, Rob Semesta alam.. Sholawat serta salam terlimpahkan kepada utusan mulia, diutus menebar rahmat kepada seluruh alam, kepada Keluarganya, para sahabatnya dan para Tabi’in .. Amma Ba’du :
Alloh Berfirman : Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup disisi Robnya dan mendapatkan Rezeki (Al-Imron 169)
Kembali Ummat Islam mendapatkan kabar gembiradan duka, atas syahidnya sekelompok para pemberani dari para pejuang dan pahlawan (Mujahidin) pada sebuah peperangan dari pertempuran tauhid,
diantara mereka itu ialah :

1. Pahlawan Mujahid/ Fahmy Abdul Rauf Muhammad (Abu Dujanah) Semoga Alloh menerimannya.

2. Singa Pemberani/ Samir Abdul Hakim (Abul Baroo) Semoga Alloh Menerimanya.

Kedua orang ini merupakan sosok yang tidak terpisahkan. Mencintai karena Alloh dan berpisah karena Alloh dalam hidup dan wafatnya, Mereka berdua meninggalkan keindahan dunia dan harta benda, keduanya berangkat untuk berjihad melawan nushairiyyah di bumi Syam kemudian kembali berjihad melawan murtaddin di Mesir, keduanya bagaikan dua buah pedang dari pedang-pedang Alloh yang membela Islam dan orang-orang lemah.

3. Singa perkasa/Muhammad Muhsin ali muhammad (Abu Mush’ab) Penggelora peperangan, seorang lelaki yang menghantam mulut dan hidung thowaghit kedasar tanah, Ia dan saudara-saudaranya semoga Alloh menerima mereka.

4. Pejuang Mujahid/Muhammad Sayyid Mahmud Ahmad (Abu Mush’ab) Semoga Alloh menerimanya, pemilik kepribadian teguh nan baik, semoga Alloh menerimanya,

5. Pejuang Mujahid/Usamah Sa’id Abdul Aziz (Abu Umar) seorang ksatria penyergap. Semoga Alloh menerimanya

6 Pejuang Mujahid/Abdul Rauf Fahmy Abdul Rauf (Abu Muadz) Ialah seorang singa dari keturunan ayahnya, Ia berjihad bersama ayahnya, keduanya meraih syahadah bersama, semoga Alloh menerima keduanya.

Perjalanan panjang telah mereka tempuh dengan berbagai pertahanan dalam membela kehormatan kaum muslimin, jiwa-jiwa mereka dikorbankan untuk menjaga Dien (Islam) ini, kesyahidan pun mereka terima diatas kerumunan musuh-musuh Alloh yang telah memerangi mereka, sampai dating kekuatan dari Alloh ta’ala pada sebuah Ma’rokah (medan pertempuran) yang besar, dan peperangan dahsyat, semoga Alloh meneguhkan mereka, dan mengukirkan sejarah lewat darah dan jiwa mereka, sejarah akan memasukkan sebuah kemuliaan dan kenangan bagi generasi setelahnya

Alloh mengetahui keperkasaan dan keberanian yang ada dalam jiwa mereka, Mereka bersabar dalam berperang menghadapi 40 pasukan khusus (tempur) yang disertai tank lapis baja dan senjata-senjata berat sedangkan pada tangan mereka ialah senjata ringan dan sedikitnya amunisi, bagaikan 60 prajurit melawan 1 mujahid, akan tetapi mereka (mujahidin) memiliki senjata terbesar yaitu keimanan kepada Alloh yang maha kuat nan kokoh, mereka bertawakkal kepadaNya, dengannya mereka mampu mencerai beraikan, meledakkan dan menghalangi musuh-musuh Alloh sehingga musuh merasakan ketakutan, Tewas dalam pertempuran itu seorang kolonel,brigadir dari pihak tentara ‘pelayan’ dan pengkhianat, berikut sejumlah petugas tim pasukan khusus polisi yang memposisikan diri untuk melawan Alloh dan RosulNya,atas keutamaan Alloh-lah yang telah menjadikan ketakutan dalam diri mereka, kalaulah saudara kami (mujahidin) menghendaki untuk menghancurkan tempat secara keseluruhan dengan peledakan-peledakkan, sungguh mereka akan melakukannya, akan tetapi (mujahidin) menjaga darah yang tinggal menetap dari kalangan kaum muslimin, mereka tidak lakukan itu karena mereka berperang dengan aqidah dan dien untuk memmpertahankan islam dan kaum muslimin, peperangan berakhir membawa bekas kesyahidan dan kabar gembira, peperangan yang berlangsung kurang lebih 7 jam itu, menjadikan catatan bagi thowagit dan sebagai pelajaran yang mereka tidak akan melupakannya, seluruh (mujahidin) menerima kesyahidan .. Nahsabuhum wallohu hasiibuhum- mereka diterima tanpa ada hisab- InsyaAlloh, Kemarahan dan kebencian musuh meluap setelah adanya peristiwa ini, kesegaran dari tubuh saudara saudara kita (mujahidin) menjadikan pandangan bagi mereka, bagaikan menetapi posisi tinggi keberadaan saudara-saudara kami, semoga Alloh menerima mereka di tempat yang tinggi

‘Akar kehinaan ini tidak akan hilang kecuali dengan desingan peluru
dan kemerdekaan tidak akan menghampiri para petinggi kafir dan pelaku maksiat
Tanpa memercikkan darah, tidak mungkin terhapus kehinaan dari ujunngnya

Pesan kami untuk keluarga syuhada, bersabarlah, perhitungkanlah, seorang yang syahid, Ampunan baginya dari mula tetesan awal darah yang mengalir, tempat kembalinya ialah surga, terlepas dari fitnah kubur, memberikan syafaat kepada 70 kerabatnya, menikah bersama 70 bidadari, dipasangkan mahkota keindahan, tidak mendapatkan kesakitan sewaktu kematian sebagaimana gambaran saudara kalian ketika menggigit roti, mereka terbunuh dijalan Alloh, menerima (kesyahidan) sebagaimana yang mereka cita-citakan

Dan orang-orang yang gugur dijalan Alloh. Alloh tidak menyia-nyiakan amal-amal mereka,Alloh akan memberikan petunjuk kepada mereka dan memperbaiki kehidupan mereka, memasukkan mereka kedalam surga yang telah diperkenalkan kepada mereka.. (Muhammad 4-6)

Kami katakan ini kepada Para Thowaghit Dzholim, Musuh-Musuh Alloh dan RosulNya

Katakanlah (Muhammad): “tidak ada yang kalian tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan Kami menunggu-nunggu kalian bahwa Allah akan menimpakan kepada kalian azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersama kalian”.

Kami berperang diJalan Alloh, untuk menegakkan hukum syariat Alloh, membela dien Alloh, sedangkan kalian berperang diJalan Thogut, menegakkan undang-undang buatan (syirik) menjaga yahudi dan mengharap keridhoan salibis, terbunuhnya kami di Surga, matinya kalian di neraka, Allohlah pelindung kami, sedangkan kalian tidak memiliki pelindung sama sekali, Kami tidak sekali-kali akan tunduk, lemah lembut kepada kalian sampai Alloh memisahkan antara kami dan kalian

Alloh-lah yang akan memenangkan UrusanNya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya

Jama’ah Anshor Baitul Maqdis
22 Jumaadil Ula 1435 H
23 Maret 2014

Catatan :
Kami tidak memiliki akun resmi maupun tidak resmi di Media jejaring sosial
Kami tidak memiliki Email dan kami tidak berhubungan dengan berbagai akun jejaring resmi maupu tidak resmi
Kami peringatkan untuk semua, bahwa Rilisan pernyataan kami dan rilisan-rilisan kami lainnya di Update melalui Forum Shamikh Islam dan Forum Al-Fida Al Islamy, karena banyaknya kelompok yang mengkampanyekan pencitraan jelek terhadap pernyataan yang dimuat dalam akun jejaring sosial
Kami Ulangi seruan kami untuk Saudara kami di mesir untuk menjauhi kediamaan dan markaz-markaz keamanan serta polisi, supaya jiwaa-jiwa kalian pun terjaga.

Sumber: Fanpage Forum Islam Al-Busyro

Seruan Untuk Bersatu Mujahidin Syam Oleh Ustad. Abu Bakar Ba’asyir

Seruan Untuk Bersatu Mujahidin Syam Oleh Ustad. Abu Bakar Ba’asyir

 

Kepada ikhwani Mujahidin di Bumi Syam, sesungguhnya jihad kalian adalah jihad yang ditegaskan oleh Rosul sebagai jihad yang paling mulia. Jihad kalian sangat dinanti, diharapkan dan terus diperhatikan oleh umat Islam. Jihad kalian membawa dampak yang sangat strategis baik pembelaan terhadap saudara kita yang terzalimi maupun cita-cita penegakan daulah dan khilafah Islamiyah.

Oleh karena itu, dari relung hati terdalam…dengan sepenuh cinta saya kepada kalian…izinkan saya menaruh harapan di pundak-pundak kalian. Terus dan tetap tsabatkanlah langkah-langkah kalian dalam jihad yang penuh barokah ini, sampai Allah memberikan salah satu kebaikan bagi kalian kemenangan atau syahadah.

Beriltizamlah kepada syariat Islam. Jauhilah maksiat sekecil apapun. Sebab, sebagai mana khalifah Umar bin Khattab pernah menyampaikan kemaksiatan, sekecil apapun, adalah penyebab kekalahan kita.

Fokuskan perhatian kalian kepada musuh utama, yaitu rezim kafir nushairiyah dan seluruh pendukungnya. Wujud mereka masih kuat untuk mengganggu agenda penegakan syariat Islam. Pada saat yang sama hari ini musuh–musuh dari bangsa Romawi dan sekutu-sekutunya mulai bersatu padu merencanakan serangan kepada kalian.

Saudaraku, hari-hari yang akan kalian hadapi semakin berat. Namun yakinlah justru dengan ini kita semakin yakin bahwa jalan yang kita tempuh sudah benar. Bukankah Rosulullah shallallahu alaihi wa asllam dan para sahabat dahulu juga memalui fase seperti ini. Fase dimana kalaulah bukan karena rahmat dan pertolongan Allah pasti Rosul dan para sahabat kalah melawan musuh.

“Sesungguhnya Alloh telah menolong kamu (hai para Mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu). Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Alloh menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Alloh menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Alloh menimpakan bencana kepada orang- orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah : 25-26)

“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (QS. Al-Ahzab : 10-11).

Jadi, rapatkanlah barisan kalian untuk fokus menghadapi musuh bersama yaitu orang-orang yang tidak ridha Syam masa depan sebagai ngara Islam dan cikal bakal Khilafah Islamiyah.

Saya mendengar kalian, kalian wahai mujahidin Syam terdiri dari berbagai faksi dan kelompok. Namun meski saya tak pernah bertemu kalian secara langsung bahasa iman saya meyakinkan saya. Demi Allah bahwa tujuan kalian adalah satu, Aqidah kalian adalah satu, cita-cita kalian pun tak berbeda.

Kalaulah saat ini kalian sedang diuji oleh Allah dengan sedikit perselisihan saya tidak ingin terjebak dengan membela salah satu dari kalian dan menyalahkan yang lain, seperti sebagian tokoh dan aktivis . Saya tidak hadir bersama kalian, karenanya saya tidak bisa menilai siapa salah siapa benar. Oleh karena itu saya mengharapkan laksanakan jihad mengikuti sunnah yaitu dengan jamaah bersatu satu komando jangan jihad sendiri-sendiri.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash-Shaff : 4)

Informasi–informasi di internet memang sudah banyak menyebar. Namun saya yakin di balik banjir informasi itu pasti ada muslihat musuh yang menghendaki kalian terus berpecah dan bercerai-berai. Meski hal itu dilakukan oleh orang Islam atau bahkan tokoh sekalipun yang tidak sadar tindakan dan ucapannya sejalan dengan apa yang dikehendaki oleh musuh-musuh Allah dan Rosul-Nya. Maka dalam menghadapi musuh taatilah Allah dan Rosul dan jangan berpecah belah.

Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfaal : 45-46)

Wahai mujahidin Syam…

Demi Allah kalaulah bukan karena thaghut yang telah mengungkung saya dalam penjara dan menyekat-nyekat negara dengan garis-garis perbatasan, sungguh dengan ijin Allah saya berusaha bersama kalian berjihad membela saudara kita kaum muslimin di Suriah yang terzalimi.

Namun saya yakin, Dzat yang mengangkat langit tanpa tiang itu tidak akan pernah tidur. Ia akan selalu mendengar setiap desis dan rintihan doa yang kupanjatkan kepada-Nya. Agar Allah segera menurunkan pertolongan kepada kalian, mempertautkan hati-hati kalian atau mengkaruniakan syahadah kepada kalian dan menghancurkan penguasa-penguasa thaghut terutama di Syam dan Yaman.

Terakhir saya ingin tegaskan bahwa sekali-kali wahai kaum muslimin Syam dan para mujahidin. Kalian tidak akan pernah sendiri. Kami di sini selalu membantu kalian sebatas yang kami mampu. Saya yang ada di penjara thaghut Indonesia, Syaikh Al-Maqdisi, ataupun Syaikh Aiman Zawiri uzlah di bawah perburuan musuh-musuh Allah… Semuanya tidak akan pernah melupakan kalian. Kami selalu berdoa untuk kalian….

اللّهم انصر إخواننا مجاهدين في الشام و في يمن و في كلّ مكان واجمع كلمتهم والّف بين قلوبهم وأيّدهم بجنودك من السماء وانصرهم نصرا مؤرّرا

اللّهم أهلك الطواغين والمنافقين في الشام و في يمن و في كلّ مكان الّذين يصدّون عن سبيلك ويبدّلون دينك ويعادون المؤمنين

اللّهم خالف كلمتهم وشتّت بين قلوبهم وا جعل تدمير هم في تدبريهم وأدر عليهم دائرةالسّوء

اللّهم أنزل بهم بأسك الّذى لا يردّ عن القوم المجرمين

اللهم مجرى السّحا ب ومنزل الكتاب وهازم ا لأحزاب إهزمهم وزلزلهم وانصرنا عليهم

وصلّى الله على محمّد و على اله و أصحابه ومن تبعهم إلى يو م الدين   امين

Jakarta, Rabiul Akhir 1435 H
Jamaah Ansharut Tauhid Indonesia
Al Faqir Ilalloh,

 

Abu Bakar Ba’asyir
Amir Jamaah

 

 

Berikut ini nasehat Ustadz Abu Bakar Baasyir yang ditulis dalam bahasa Arab:

رسالة من أمير تنظيم أنصار التوحيد في إندونسيا إلى إخواننا المجاهدين في الشام

إلى إخواننا المجاهدين في الشام, إن جهادكم جهاد أكّد به الرسول –صلى الله عليه وسلم – بأنه أفضل الجهاد , وهو جهاد الذي تنتظره الأمة و ترجوه , واهتمت الأمة إلى جهادكم اهتماما بليغا. إنّ في جهادكم دور كبير في إنقاذ المظلومين و في تأسيس الدولة و الخلافة على منهج النبوة من جديد.

و من قلب عميق أرجو منكم أن تسامحوني في أن أضع هذه الأمنية العظيمة في أكتافكم القوية واثبتوا في جهادكم المبارك إلى أن يأتيكم إحدى الحسنيين , إما النصر أو الشهادة.

التزموا بشريعة الإسلام و اجتنبوا المعاصي مهما صغرت , لأن العصيان مهما صغرت يكون سببا للهزيمة كما قال به عمر بن الخطاب –رضي الله عنه -.

ركّزوا مقاومتكم للعدو النصيري و أعوانه , لأن وجودهم في أرض الشام يكون مانعا في إقامة شرع الله في أرض الشام المبارك. وفي نفس الوقت بدأ العدو الغرب و أعوانه توحّدوا للتخطيط في هجومكم و إبادتكم.

ستمرّ الأيام صعبة و شاق ولكن, اعلموا أن المحن و الابتلاءات التي تحلّ بكم اليوم دليل على أنكم على الحق و دليل صدقكم . أليس الرسول – صلى الله عليه وسلم- و أصحابه – رضوان الله عليهم – مرّ بمثل ما مررتم اليوم من الشدائد والمحن والابتلاءات؟ وهي مرحلة  لولا النصر من الله لانهزم المسلمون .لقوله تعالى :

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ* ثُمَّ أَنَزلَ اللّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُواْ وَذَلِكَ جَزَاء الْكَافِرِينَ (التوبة 25-26)

وقوله تعالى :  إِذْ جَاؤُوكُم مِّن فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنكُمْ وَإِذْ زَاغَتْ الأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا * هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالا شَدِيدًا (الأحزاب : 10-11)
وحّدوا صفوفكم في قتال أعدائكم, وهم كل من لا يرضى أن تقام شريعة الله في الشام .
أنا ماالتقيت بكم. وسمعت أنكم تتكون من الكتائب و الجبهات ولكنّي أعلم يقينا بأن هدفكم واحد و عقيدتكم واحدة و أمنيتكم واحدة.
علمت أن الآن ابتليتم بالخلاف الواقع بينكم ولكني لا أريد أن اقع في التعصب لإحدى الفصائل و الطعن في الأخرى كما يفعله بعض النشطاء. لأنني لم أكن موجودا بين أيديكم ولم أتمكن من الحكم على الخلاف فيكم. ولكن, أدعوكم جميعا يا مجاهدي الشام أن تجاهدوا وفق جهاد الرسول – صلى الله عليه وسلم – وهو جهاد تحت صف واحد. كما قال تعالى :  (إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ) الصف : 4 .
وصل إلينا أخبار الخلاف بينكم من الإنترنت ولكني أعلم يقينا أن ما وراء هذه الأخبار المحزنة مؤامرة العدو الذي يريد ان تختلفوا و تتفرقوا ومن الأسف الشديد نجد بعض المسلمين والنشطاء ساهموا في هذا الخلاف من غير أن يشعر. ويكون كلامهم و أفعالهم مطابقا لما يريده العدوّ والعياذ بالله.

ولذلك أطيعوا أمر الله و رسوله  -صلى الله عليه وسلم – لقوله تعالى : (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ . وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ) الأنفال 45-46 .

يا مجاهد الشام لولا الطاغوت الذي منعني في السجن و وضع الحواجز بين بلدان المسلمين فبإذن الله سأجاهد معكم في أرضكم و سأكن معكم في صفكم.

 ولكني أعلم يقينا أن الله الذي رفع السماء بلا عمد لن ينام أبدا. وهو يسمع كل دعائي لكم في أن يوحّد صفوفكم و يؤلّف قلوبكم و ينصركم أو يمنحكم بالشهادة و أن يهلك الطواغيت الموجودة في العالم كلها و بالخصوص طاغوت سورية و اليمن.

 و أخيرا أقول لإخواني المسلمين في الشام و المجاهدين  : لن تكونوا منفردين , ها نحن نبذل كل ما نستطيع لنصرتكم , أنا في سجن طاغوت إندونسيا , و الشيخ أبو محمد المقدسي , و الشيخ أيمن الظواهري في سياحته تحت طلب العدو  و كل المسلمين لن ننساكم . أنتم إخواننا و شقائقنا. و نداوم دعاءنا لكم و ستستمر نصرتنا لكم.

  اللهم  انصر إخواننا المجاهدين في الشام و في اليمن و في كلّ مكان واجمع كلمتهم والّف بين قلوبهم وأيّدهم بجنودك من السماء وانصرهم نصرا مؤزّرا

اللهم أهلك الطواغيت والمنافقين في الشام و في اليمن و في كلّ مكان .الّذين يصدّون عن سبيلك ويبدّلون دينك ويعادون  المؤمنين

اللهم خالف كلمتهم وشتّت  بين قلوبهم وا جعل تدمير هم في تدبريهم وأدرعليهم دائرةالسّوء

اللهم أنزل بهم بأسك الذى لا يردّ عن القوم المجرمين

اللهم مجري السّحا ب ومنزل الكتاب وهازم ا لأحزاب اهزمهم وزلزلهم وانصرنا عليهم وصلّى الله على محمّد و على اله و أصحابه ومن تبعهم إلى يو م الدين   امين

 

Jakarta, Rabiul Akhir 1435 H
Jamaah Ansharut Tauhid Indonesia
Al Faqir Ilalloh,

 

 

Abu Bakar Ba’asyir
Amir Jamaah

 

 

Mengajar Al Qur’an Selaras Dengan Perkembangan Anak

Orang tua mana yang tidak bangga jika memiliki anak di usia dini (seusia anak SD) sudah pintar membaca Al Qur’an. Terlebih lagi yang mampu hafal Al Qur’an 30 Juz. Mungkin, tidak hanya orangtuanya yang bangga, tapi orang lain pun akan sangat kagum dengan kehebatan anak kita.

Sayangnya, pada zaman kita saat ini munculnya seorang anak yang masih kecil hafal Al Qur’an, menjadi barang yang sangat langka, hal ini tentu bertolak belakang dengan anak-anak jaman sekarang,  umumnya mereka tidak bisa membaca Al Qur’an.

Begitu semangatnya para orang tua yang ingin anaknya menguasai dan hafal Al Qur’an 30 Juz di usia dini, telah mendorong para orang tua melakukan usaha dengan berbagai cara. Entah cara tersebut selaras atau tidak dengan perkembangan jiwa anak, entah sesuai atau tidak dengan hak-hak anak, yang penting anak bisa hafal Al Qur’an.

Akhirnya, keinginan dan harapan untuk bisa hafal Al Qur’an di usia dini bukan merupakan kesadaran seorang anak yang ditanamkannya sejak dini. Tetapi lebih pada keinginan para orang tua yang cenderung dipaksakan. Lucunya lagi, orang tuanya justru banyak yang tidak bisa atau tidak punya kemampuan dalam membaca dan menghafal Al-Qur’an.

Jika kita mengamati perjalanan proses belajar mengajar di lembaga semacam pondok pesantren yang menampung anak-anak kecil seusia SD, untuk dididik menjadi penghafal Al-Qur’an 30 Juz. Mereka tinggal di pondok selama 24 jam dan jauh dari orang tua. Padahal sebenarnya anak seusia SD masih sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian orang tuanya.

Masa kecil adalah masa di mana seorang anak ingin dekat dengan orang tuanya dan ingin mendapatkan bimbingan langsung dari orang tua. Hanya karena idealisme orang tualah, akhirnya mereka harus rela terpisah dengan orang tua. Jika pun mereka dapat bertemu hanya sesaat semata, kalaupun ingin memberikan perhatian pada sang buah hati biasanya uang saja yang datang.

Jika saja seorang anak bisa berargumen, mungkin dirinya akan mencoba meluruskan idealisme orang tuanya. Akan tetapi bagaimana mungkin anak sekecil itu mampu menolak. Bahkan, dia menangis meronta pun orangtua akan tetap bersikukuh meninggalkannya di pesantren bersama sang ustadz. Karena orang tua, senantiasa memberikan nasehat, bahwa semua yang dilakukannya demi masa depan dirinya.

Keinginan orang tua untuk memiliki anak yang hafal Al Qur’an 30 juz dengan cara seperti ini,  jelas tidak realitis dengan kondisinya. Dirinya berkeinginan anaknya bisa hafal Al Qur’an 30 juz, bagaikan sosok Imam Syafi’i yang mampu hafal Al Qur’an 30 Juz di usia dini, yakni 7 tahun. Tetapi perangkat dan kemampuan yang dimiliki para orang tua tidak cukup memberikan dukungan terhadap cita-cita tersebut. Beberapa perbedaan nyata antara kita dan Imam Syafii antara lain:

  1. Silsilah atau garis keluarga, kebanyakan kita tidak memiliki sisilah keluarga yang paham Islam ataupun hafal Al Qur’an, beda jauh dari silsilah imam Syafii bukan?
  2. Lingkungan dimana kita tinggal, tidak sebagaimana lingkungan zaman Imam Syafi’i, yang begitu menghargai pendalaman ilmu Al-Quran.
  3. Dari sisi bahasa, bukankah membaca buku dalam bahasa Indonesia jauh lebih mudah dibanding bahasa lain? Lalu kira-kira, orang mana yang lebih mudah memahami sekaligus menghafal Al Quran?.

Saya tidak bermaksud untuk menghalangi Anda mendidik anak usia dini bisa hafal Al Qur’an, asal keinginan tersebut memang selaras dengan perkembangan anak dan tidak perlu harus ditarget untuk hafal 30 Juz di usia dini (yang terpenting bisa hafal Al Qur’an, mungkin di usia SLTA baru hafal Al Qur’an, atau syukur-syukur di usia SLTP sudah hafal Al Qur’an 30 Juz),  terlebih lagi jika keinginan tersebut harus memisahkan anak anda dari diri anda selaku orang tua.

Biarkan anak Anda menikmati masa kanak-kanaknya dengan nyaman berserta Anda disampingnya. Penuhilah hak anak dengan sempurna,  agar dia kelak nanti ketika tumbuh besar atau dewasa tidak menuntut haknya kembali pada Anda selaku orang tua. Berikan kasih sayang dengan tulus dengan baik, selagi mereka bersama-sama Anda. Ajarkan Al Qur’an pada anak kita dengan semampunya dan alamiyah saja, tanpa harus menghilangkan hak anak kita bermain, tanpa harus memisahkan anak kita dari kita selaku orang tua.

Mengajarkan Al-Qur’an selaras dengan perkembangan anak, sebagaimana yang saya sampaikan di atas akan terwujud dengan baik, jika pengajaran Al-Qur’an tersebut langsung dipegang oleh para orang tua atau bisa juga Anda titipkan pada seorang guru qiroah, namun anak Anda setiap hari masih bisa ketemu dengan Anda.

Kalau kita melihat hikmah pengajaran shalat untuk anak. Rasulullah n memberikan tuntunan pada usia 7 tahun anak diajak dan disadarkan untuk sholat, jadi tanpa diberikan sanksi, tetapi jika anak sudah mencapai usia 10 tahun anak tetap tidak sholat, ia baru diseri sanksi. Jika seorang anak sudah baligh maka ia tidak boleh meninggalkan sholat sampai akhir hayat.

Jika untuk shalat yang merupakan kewajiban yang paling utama saja, Islam sangat menghormati perkembangan dan kepribadian anak, sampai benar-benar siap dan mampu menjalankan amanah dengan benar. Tapi, mengapa dalam bersoalan membaca Al Qur’an kita seringkali mengabaikan perkembangan dan kepribadian anak.

Saya punya pengalaman yang menarik terkait tema di atas, tepatnya pada saat saya dulu mengajar tahfizh shighor (anak-anak usia SD) di salah satu pondok pesantren. Pada waktu itu, anak-anak yang saya bimbing berumur 6 hingga 9 tahun, proses bimbingan tahfizh yang lakukan tidak bisa berjalan dengan baik, bahkan target dan kualitas hafalan pun sangat buruk sekali, saya sediri waktu itu heran dan bertanya-tanya.

Setelah saya selidiki, ternyata banyak dari mereka yang sering menangis tanpa sebab, ketika ditanya, mereka menjawab,  ”Kangen sama Umi”. Saat saya membimbing mereka, mereka umumnya mengalami kegoncangan kepribadian, tidak seperti anak-anak yang tumbuh bersama orang tuanya.

Bahkan belum lama ini saya mendengar dari seorang teman lama, bahwa anaknya si A yang dulu –pada saat mondok- berumur 6 tahun itu, sekarang telah telah berumur 20 tahun. Saat ini anaknya sudah tidak mau mondok dengan alasan bosan, tidak mau sekolah dan juga tidak mau bekerja. Aktivitasnya di rumah hanya bersama Uminya, santai, bermain-main dan berjalan-jalan saja.

Dia juga tidak mau merampungkan menghafalnya Seakan anak ini ingin mengganti masa kecil dulu yang takkan pernah kembali, padahal sekaranglah seharusnya dirinya siap untuk ke luar untuk beramal dan mencari pengalaman hidup. Cerita yang saya sampaikan ini mungkin saja mewakili sekian banyak anak yang terampas hak-haknya oleh para orang tuannya sendiri.

Sebagai akhir tulisan, semestinyalah pendidikan Al Qur’an anak-anak kita kembali kepada diri kita selaku orang tua. Sebagai ibu yang amanah, wajib bagi kita membekali diri kita dngan Al Qur’an, sehingga tidak perlu kita renggut kebebasan masa kecil anak kita dari bermain dan dekat bersama kita. Allahummarhamnaa bil Quran..

Meraih Sifat Thaifah Al Manshuroh Dalam Berjamaah

Tekanan terhadap upaya kaum muslimin untuk bangkit menegakkan agamanya, senantiasa terjadi. Oleh karena itu, di setiap zaman senantiasa ada satu jamaah dari kaum muslimin yang berjuang habis-habisan untuk menegakkan agama mereka, merekalah kelompok yang mendapatkan Nashrullah. Bagaimana ciri-ciri mereka? Kita simak dalam uraian berikut.

Hari ini kita dipaksa untuk menyaksikan parade pemusnahan kaum muslimin yang dilakukan oleh orang-orang kafir, mulai dari pembantaian kaum muslimin di Siberia dan Kaukasus dibantai habis oleh rezim kafir Rusia, hingga pembunuhan massal  kaum muslimin di daratan Xinjiang oleh militer Komunis China. Tak lupa dengan berbagai aksi bombardemen koalisi tentara Amerika-Eropa dan Israel di Jazirah Arab dan kelancangan mereka dalam menguasa tanah suci.
Bahkan, di negeri kita sendiri, tercatat berbagai tragedy yang terjadi secara berantai terhadap umat Islam, sebut saja kisah pembantaian Tanjung Priok pada September 1984 yang menewaskan 400 nyawa kaum muslim, yang susul menyusul dengan tragedi-tragedi  lainnya seperti Tragedi Ambon dan Poso pada kurun 1999-2001 yang menewaskan lebih dari 700.000 nyawa kaum muslimin.

Di tengah kesedihan yang memuncak dan air mata darah yang semakin mendera, kaum muslimin pun mencoba bangkit, untuk sekedar membela diri. Ironisnya, mereka pun kemudian terpecah dalam sekian kelompok, organisasi dan partai-partai; masing-masing mengklaim bahwa dirinyalah yang berada di atas kebenaran, bukan yang lain.

Ketika kaum muslimin seharusnya berjamaah di bawah satu komando dan bangkit dan melawan ketertindasan tersebut, mereka justru tenggelam dalam fanatisme golongan yang mencerai-beraikan manhaj dan timbangan kebenaran Al-Qur’an dan Sunnah. Persaudaraan dan permusuhan mereka pun tidak lagi diletakkan di atas manhaj Al-Wala’ wal Bara’, tetapi berdasarkan hawa nafsu masing-masing.

Sehingga umat Islam begitu mudah berpecah-belah, hanya karena hawa nafsu, egoisme, serta berbagai bentuk fanatisme batil yang dibangun dan dipaksakan kepada para pengikut partai dan kelompok-kelompok tersebut! Akibatnya, umat Islam yang tersisa pun mengalami traumatisme terhadap semua jamaah-jamaah masa kini—baik yang benar maupun yang batil.

Mereka pun kemudian lebih suka hidup mengucilkan diri tanpa mau melaksanakan kewajiban berjamaah, dengan membedakan antara jamaah yang pantas menerima kesetiaan dan jamaah yang pantas menerima permusuhan. Mereka terlanjur meragukan keikhlasan setiap jamaah yang muncul dalam kancah perjuangan Islam. Setiap jamaah yang ada, menurut mereka adalah BERSALAH, terhadap umat Islam.

Thaifah Al-Manshurah, Kelompok Pejuang Islam Hingga Hari Kiamat
Sikap trauma untuk berjamaah ketika menegakkan dienullah tersebut jelas bertentangan dengan sabda Rasulullah Saw, “Akan senantiasa ada di antara ummatku suatu kelompok yang tampil membela kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan (tidak menolong) mereka sehingga datang ketetapan Allah, sedang mereka tetap dalam keadaan demikian.” (HR. Muslim)

Demikianlah, hadits di atas menunjukkan adanya suatu jama’ah, adanya suatu kelompok yang berjuang mati-matian untuk membela Al-Haq. Dengan kata lain, gugurlah keraguan mereka  yang sampai hari ini masih antipati untuk hidup berjamaah, dan tidak mau menjalankan syariat Al-Jamaah.

Mereka adalah kelompok yang memiliki sifat sebagaimana yang disebutkan dalam dialog antara Salamah bin Nufail Al-Kindi a dengan Rasulullah Saw, ketika banyak orang mengatakan bahwa syariat jihad sudah tidak ada lagi, dan perang telah usai. Pada saat itu Rasulullah Saw bersabda, ‘Mereka bohong! Justru sekarang telah datang masa perang, dan akan senantiasa ada di antara umatku sekelompok orang yang berperang membela kebenaran, dan Allah membuat hati banyak kaum berpaling kepada mereka dan memberi rezki mereka dari (harta musuh) mereka hingga kiamat tiba, sehingga janji Allah datang…” (Shahih Sunan An-Nasai: 3333)

Inilah Thaifah Al-Manshurah, inilah sekelompok kaum muslimin (Tha’ifah) yang ditolong oleh Allah ta’ala (Al-Manshurah), inilah Jamaah dari sebagian kaum muslimin yang dimenangkan atas semua musuh-musuh-Nya dengan datangnya Nashrullah  (pertolongan Allah).

Sifat-Sifat Thaifah Al-Manshurah Yang Harus Kita Raih
Tha`ifah Manshurah bukan sifat yang dapat dimonopoli oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi ia adalah sifat yang dikenal melalui ciri dan karakteristik yang ditunjukkan oleh nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah.

Siapa yang melekat padanya ciri sifat tersebut, dia termasuk di antara Tha`ifah Manshurah, baik orang menerimanya ataupun menolaknya. Sebaliknya, siapa pun yang tidak memiliki sifat-sifat tersebut, dia bukan tergolong Tha`ifah Manshurah, meskipun dia mengaku-ngaku seribu kali!
Adapun ciri-ciri Thaifah Al-Manshurah dapat diringkas dalam poin-poin berikut:[1]

1. Ittiba` (mengikut sunnah) bukan Ibtida` (membuat bid`ah)
Mereka berjalan mengikuti Minhaj Nubuwwah (methode kenabian); shirathal mustaqim, mencari petunjuk melalui pemahaman Salafush Shaleh terhadap nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah Dalam seluruh urusan mereka.[2] Hawa nafsu dan beraneka macam jalan yang dibuat-buat oleh kaum musyrikin dan ahli bid`ah, tidak dapat memalingkan pandangan mereka.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya, maka kalian tidak akan sesat sepeninggal saya selama-lamanya, yakni Kitabullah dan sunnahku.[3] Beliau n juga bersabda, “…Ketahuilah bahwa apa yang diharamkan Rasulullah Saw. adalah seperti apa yang diharamkan Allah.”[4]

2. Berjihad fi sabilillah.
Jihad fi sabilillah merupakan ciri yang senantiasa melekat dan tidak bisa dilepaskan dari sifat Tha`ifah Manshurah. Dalam keadaan apapun, mereka dikenali melalui sifat ini.

Apabila mereka terpisah dari jihad fi sabilillah karena keadaan yang luar biasa, kita akan melihat bahwa mereka begitu bersemangat untuk menyingkirkan penghalang jihad dengan mengorganisir diri dalam suatu jamaah yang teratur rapi dalam rangka i’dad, agar mereka bisa memulai kembali berjihad fi sabilillah. Hal ini bisa kita simak dalam sabda-sabda Nabi Saw tentang mereka.

Berkenaan dengan hal tersebut, Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu`min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, Dia berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”(Al Maa-idah 54)

Demikianlah, mereka adalah kaum, mereka adalah kelompok, mereka adalah jamaah yang senantiasa bekerja dan terorganisir secara rapi, dipimpin seorang amir muthaa` (pemimpin yang dita`ati). Dalam rangka jihad untuk menegakkan Islam.

3. Membangun kesetian dan memulai permusuhan karena Allah.
Benar, mereka berwala`[5] dan mencintai karena Allah, memusuhi dan membenci karena Allah. Mereka lemah lembut dan belas kasih terhadap orang-orang beriman dan keras terhadap orang-orang kafir. Mereka tidak mengenal wala`/loyalitas kecuali yang ditegakkan di atas aqidah
Berkenaan dengan hal tersebut Allah SWT berfirman, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang sesama mereka.” (Al-Fath: 29)

4. Totalitas dalam ber-Islam
Tha`ifah Manshurah mengambil Islam secara keseluruhan tanpa mengabaikan salah satu aspek di antara aspek-aspeknya. Mereka bukanlah jama`ah yang manhaj serta aktifitasnya hanya tegak dan terfokus pada aspek dakwah dan tabligh saja! Juga bukan jama`ah yang hanya terpaku dan terfokus pada jihad saja.

Mereka juga bukan jama`ah yang manhaj-manhajnya berdiri di atas prinsip mencari ilmu dan fiqh saja, tanpa menaruh perhatian terhadap aspek-aspek amaliyah/pengamalan dari agama ini.

5. Bersikap Adil
Mereka bersikap adil dalam semua aspek kehidupan agama dan dunia mereka, di mana mereka tidak bersikap ghuluw (melewati batas) ataupun jafaa` (menjauh), tidak Ifraath (berlebih-lebihan) maupun Tafriith (melalaikan).

Sebagai catatan, sikap adil di sini bukanlah sikap kompromistis, yang justru mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan, tetapi ia adalah sikap untuk selalu mengembalikan persoalan pada syariat Islam sebagaimana yang dipahami oleh para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in yakni 3 generasi utama Islam yang dijamin kebenarannya oleh Rasulullah.

Sebagaimana firman Allah SWT, “Demikianlah Kami jadikan kalian sebagai ummat “Wasathan” (yang adil dan terbaik) agar kalian jadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul jadi saksi atas (perbuatan) kalian.” (Al-Baqarah: 143)

6. Ilmu.
Mereka adalah ulama (orang-orang yang berilmu) dalam urusan agama dan dunia mereka. Sebab, ciri-ciri dan sifat mereka yang telah disebutkan di muka menunjukkan kepada kita bahwa mereka adalah ulama.

Namun demikian, bukan berarti setiap personal dalam Tha`ifah Manshurah adalah orang-orang alim yang menonjol, dalam pencarian ilmu dan pencapaiannya. Hanya saja, kelompok yang mendapatkan sifat Tha`ifah Manshurah tersebut tidak boleh kosong dari ulama rabbaniyun dan amilun.

7. Sabar dan teguh hati.
Beratnya beban tugas yang terpikul di atas pundak Tha`ifah Manshurah, menuntut adanya satu sifat khusus yang harus mereka miliki, yakni Sabar dan Tsabat/teguh hati. Mengapa demikian? Karena mereka adalah kelompok yang tidak bisa lepas dari ujian.

Jika disebut kata Thaifah Al-Manshurah, pasti juga akan diikuti kata ujian, pasti juga disebutkan kata sakit dan luka! Oleh karena itu, para anggota Thaifah Al-Manshurah ini pasti terbiasa dengan kesulitan hidup, pengusiran, penangkapan, penyiksaan, bahkan pembunuhan dan jihad.

Demikianlah ciri-ciri Thaifah Al-Manshurah dan sudah selayaknya kita berlomba-lomba untuk menuju pada mereka. Sebagai penutup, agaknya perlu kita renungi kutipan utuh hadits shahih berikut:

“Akan senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang berperang menegakkan agama Allah, mengalahkan musuh mereka, dan tidak membahayakan mereka orang yang menyelisihi mereka hingga datang hari kiamat atas mereka, sedang mereka tetap dalam keadaan demikian. Kemudian Allah mengirim angin seperti angin misk, sentuhannya seperti sentuhan sutera, dan ia tidak meninggalkan jiwa yang di dalam hatinya terdapat iman seberat biji sawi, kecuali ia akan mencabutnya, kemudian tinggallah seburuk-buruk manusia, terhadap merekalah kiamat akan terjadi.” (H.R Muslim).


[1] Lihat ‘Shifatu At-Thaifah Al-Manshurah’ oleh Syaikh Abdul Mun’im Musthofa Halimah
[2] Salafussh Shaleh: Adalah para sahabat –radhiyallaahu `anhum– dan siapa yang mengikuti cara dan jalan mereka di antara para Tabi`in yang mengikuti mereka pada tiga era masa Islam yang pertama, yang telah disaksikan kebaikan mereka.
[3] Lih. Al-Jami’ Ash-Shahih
[4] Shahih Sunan Ibnu Majah 12.
[5] Mempersahabati, mendukung dan menolongnya

Upaya Menegarakan Islam

Islam adalah agama bimbingan, pemerintahan, politik dan hukum, sebab apa yang dibawa Islam atau missi Islam ialah memperbaiki umat manusia dalam segala aspek kehidupannya (seperti ideology, politik, ekonomi, sosial, hukum, pendidikan, dan militer, pen.)  Oleh karena itu sudah barang tentu memerlukan pemerintahan, pegangan, hukum yang adil dan tegaknya kebenaran, juga memerlukan perlengkapan untuk mempertahankan agama dan Negara.[1]

Alloh telah memerintahkan agar tindakan hendaklah bersifat social (  kejama’ahan atau dalam konteks gerakan disebut dengan amal jama’i ).  Dia memerintahkan agar orang muslim berbuat kebajikan secara bersama sebagai satu ummat.  PerintahNya: “Hendaklah ada di antara kamu satu umat yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan berbuat ma’ruf dan mencegah segala bentuk kemungkaran.  Mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. 3/ 104).  Tak pelak lagi, bahwa ketentuan Islam mesti dilaksanakan oleh kaum muslimin secara bersama sebagai satu ummat.  Quran berbicara tentang kaum muslimin hampir senantiasa berbentuk jamak.   Maka jelaslah bahwa Islam memerlukan Negara dan tak dapat berbuat tanpa itu.  Seperti dikatakan oleh Muhammad iqbal, Negara merupakan pernyataan spiritualitas Islam, perwujudan spiritualitas itu dalam ruang dan waktu.  Segi terpenting hijrah ialah terciptanya Negara Islami.  Negara adalah tujuan hijrah, dan hijrah merupakan puncak persiapan dan pengislaman laki-laki dan perempuan serta perjanjian aqobah.[2]

Syaikh Ibnu Taymiyah rohimahullah berkata: “Bahwa sesungguhnya tugas dan kewajiban yang paling utama bagi agama adalah mengatur masyarakat, akan tetapi missi ini tidak akan tegak tanpa adanya Negara.  Oleh sebab itu, Allah memerintahkan amar makruf nahi mungkar, mengajak kepada kebajikan dan melarang segala bentuk kemungkaran, menolong orang-orang yang tertindas dan teraniaya, termasuk juga kewajiban yang tak kalah pentingnya adalah menjunjung tinggi kebenaran dan menegakkan keadilan dengan memberikan sangsi-sangsi hukum terhadap pelaku tindak pidana dan kriminalitas.  Semuanya itu tak mungkin terlaksana dengan baik dan terarah tanpa adanya kekuasaan yang diatur dalam bentuk pemerintahan.”  Dengan demikian mendirikan Negara Islam merupakan perkara penting demi tegaknya hukum-hukum (syari’at) Islam di bumi ini.[3]

Contoh praktis dari hal ini adalah daulah ilmaniyah (Negara sekuler) yang didirikan Mustapha Kamal at Taturk di Turki (selepas dihancurkannya Khilafah Utsmaniyyah tahun 1924, pen.) yang dipaksakan dengan tangan besi, api dan darah terhadap semua rakyat turki yang beragama Islam, setelah membungkam Khilafah Utsmaniyah, yang notabenenya adalah benteng politik terakhir bagi dunia Islam setelah sekian lama bergelut melawan salibisme dan zionisme internasional.

Jalal Al Alam menyatkan dalam bukunya “ Dammirul Islam wa ‘Abidu Ahlahu “ bahwa strategi untuk menghancurkan Islam adalah menghancurkan pemerintahan Islam dengan cara meruntuhkan Khilafah Islamiyah yang direpresentasikan Khilafah Turki Utsmany . Maka perjanjian yang dibuat di Lausanne pada 20 Nopember 1922 antara Mustafa Kemal At taturk dengan pihak Inggris berisi antar lain adalah komitmen untuk menghancurkan Kekhalifahan Utsmany dan memutuskan hubungan dalam hal apapun antara Turki dengan Islam . Dua tahun kemudian Khilafah Utsmani diberangus dan sampai hari ini Turki tetap menjadi Negara Sekuler dan selalu memusuhi apapun yang berbau Islam .

Kemudian pemerintahan lain di dunia Islam meniru Turki yang baru dengan kadar yang berbeda-beda, sehingga Islam disingkirkan dari hukum dan perundang-undangan mengenai masalah tindak pidana, perdata dan lain-lainnya.  Islam dibatasi pada kondisi individual. Islam tidak boleh ikut campur dan mempengaruhi dunia pengajaran dan pendidikan, serta masalah-masalah sosial kecuali masalah-masalah yang remeh.  Sebaliknya, untuk tuntunan dari dunia barat dibukakan pintu selebar-lebarnya.[4]

Bahkan Pakistan yang didirikan oleh Muhammad Ali Jinah, para pemimpinnya walaupun sering kali meneriakkan Negara Islam, tetapi karena pendidikan dan jiwa mereka telah berkarat dengan pengaruh kebudayaan barat, maka gambaran yang tertanam dalam benak mereka tentang Negara hanyalah Negara yang bertumpu atas dasar kebangsaan saja (nasionalistik)[5]  Artinya, bahwa pengaruh barat dalam paradigma kenegaraan terhadap kaum muslimin sudah sedemikian kuatnya.  Kita tahu, Pakistan atau india adalah sama-sama bekas tanah jajahan inggris.  Konon sampai hari ini loyalitas Negara-negara mantan jajahan inggris terhadap Britania raya (The Great Britain) terus dilestarikan dalam wadah Commonwealth (Persemakmuran).

Di Indonesia, pertarungan Islam dengan nasionalisme sudah dimulai sejak era pergerakan.  Serikat Islam (yang lahir tahun 1905 dengan nama Serikat Dagang Islam) dan menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia adalah gerakan ummat Islam pertama yang menghasung ideology Islam (atau Pan Islamiet sebagaimana yang disebut oleh HOS Tjokroaminoto, pen.).  Di kalangan nasionalis lahirlah PNI (Partai Nasional Indonesia) dengan terlebih dahulu lahir kelompok-kelompok kesukuan/ etnik sentrik seperti Jong Java, Jong Celebes, dan lain-lainnya.  Serta tak kalah pentingnya peran Budi Utomo (lahir 1908), yang mewariskan ajaran kejawen.  Pertarungan ideologis ini semakin mengental pada masa-masa menjelang kemerdekaan.

Pada tanggal 9 april 1945, Badan penyelidik usaha-usaha persiapan kemerdekaan (BPUUPK) atau Dokuitsu Zyunbi Tyoosakai dibentuk, untuk kemudian dilantik oleh pemerintahan militer pendudukan jepang pada tanggal 28 mei 1945.  Hal ini adalah tindak lanjut dari janji Perdana Mentri Jepang, Koiso, yang disampaikan dalam sebuah pidatonya pada bulan September 1944 di Jepang.  Janjinya adalah akan memerdekakan Indonesia di kemudian hari.  Ketua BPUUPK adalah Dr. Rajiman Widyaningrat, seorang tokoh penganut kejawen.  Anggota-anggota BPUUPK semula 60 orang, kemudian menjadi 68 orang, dilihat dari sudut perimbangan ideology politik, menurut pengamatan Prawoto Mangkusasmito, hanya sekitar 20% saja dari jumlah tersebut yang benar-benar mewakili aspirasi politik kelompok Islam.  Sedangkan 80% mewakili aspirasi nasionalisme yang dalam hal ini adalah kelompok yang tidak mau membawa ideologi Islam dalam urusan kenegaraan.  Sedangkan yang dimaksud dengan aspirasi politik kelompok Islam adalah diusulkannya Islam sebagai dasar filsofis Negara yang hendak didirikan.  Bagi mereka Islam itu serba lengkap, meliputi seluruh dimensi kehidupan manusia.[6]

Setelah bergumul selama lebih kurang 21 hari, akhirnya pada 22 juni 1945 suatu sintesis dan kompromi politik berhasil diwujudkan antara dua pola pemikiran yang berbeda itu.  Sintesis ini yang kemudian dikenal dengan nama Piagam Jakarta (Jakarta Charter).  Dalam piagam ini Pancasila diterima sebagai dasar Negara dengan perubahan letak.  Sila ketuhanan disamping ditempatkan sebagai sila mahkota (pertama) juga diberi anak kalimat pengiring: “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.  “ Kompromi politik ini hanya mampu bertahan selama 57 hari, karena demi ‘persatuan bangsa’ anak kalimat itu dicoret pada tanggal 18 agustus 1945.[7]

Inilah pengkhianatan pertama kaum nasionalis terhadap ummat Islam di Indonesia yang kemudian dilanjutkan dengan upaya-upaya marginalisasi, intimidasi, dan tak jarang dilakukan pembrangusan setiap potensi-potensi kekuatan Islam.  Mulai dari pembantaian gerakan DI/ TII – NII di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan serta penangkapan pemimpin-pemimpin partai masyumi oleh rezim Sukarno.  Kasus Tanjung Priok, Talangsari-Lampung, Haur Koneng, Sampang dan banyak kasus penculikan dan pembunuhan para ustadz di Banyuwangi, penangkapan aktivitas Usroh, kasus Imron, Operasi Khusus Ali Murtopo bagi mantan tokoh-tokoh DI, penerapan daerah operasi militer di Aceh serta banyak lagi lainnya yang terjadi selama rezim ‘kejawen’ Suharto.  Pemerintahan nasionalis selanjutnya (rezim Habibie dan Abdurrahman Wahid) atas nama demokrasi pun tidak mampu melindungi darah dan jiwa umat Islam di Aceh, Kupang, Timor-timur, Ambon, Tual, Halmahera, Sambas, Poso, Sampit kemudian Kapuas; entah mana lagi nanti.

Jelaslah, kaum muslimin tidak akan dapat hidup tentram selama pemerintahan Islam belum tegak.  Selain muslim tidak ada yang dapat dipercaya untuk memelihara kebebasan aqidah, keadilan, hak dan kemaslahatan.  Karena itu, keIslaman seorang muslim selalu terus menerus terancam bahaya bila berada di bawah pemerintahan kafir.  Dan hidupnya terpaksa harus taat kepada pemerintahan kafir tersebut sampai pada masalah kemaksiatan sekalipun.[8]

Namun ada fenomena ganjil yang menyimpang, yakni adanya kelompok yang berpendapat  bahwa perpecahan ummat yang terjadi diakibatkan pada pemilihan tataran politik sebagai lahan perjuangan . Kemudian mengambil sikap apriori terhadap segala sesuatu yang berbau politik .

Ummat tak boleh berjuang dan bergerak untuk mencita-citakan Negara Islam karena negri seperti Indonesia hari ini adalah Darul Islam maka pemerintahnya adalah Ulil Amri yang wajib dita’ati setiap orang beriman sehingga mengkritisi apalagi melawannya adalah tindakan kelompok Takfiry dan Khawarij . Kita sulit memahami kebengkokan jalan berfikir mereka , padahal di negri ini pernah ada gerakan DI / TII ( 1949 – 1962 ) yang konon memperjuangkan berdirinya Negara Islam Indonesia tapi diperangi habis-habisan oleh pemerintahan yang menganut ideologi  sama dengan pemerintahan sekarang ini . Pun dengan wadah yang sama yaitu NKRI ! Artinya , sangat mustahil pemerintahan ini mau diidentikkan dengan Negara Islam , tapi kenapa kita sibuk mencari – cari pembenaran syar’i dan menyimpangkan dalil Qur-an dan Sunnah bahwa Indonesia termasuk Negara Islam ? Astaghfirullah . . . !

Mestinya , kita berusaha meluruskan pemerintahan yang ada dengan Al Qur-an dan As Sunnah dan bukan malah membengkokkan dalil untuk mendapatkan kesukaan pemerintah . Karena pada hakekatnya dengan sikap menjilat seperti itu , justru kita tidak memiliki belas kasihan kepada diri kita dan orang – orang di pemerintahan . Kalau kita mengibaratkan negara seperti perahu besar bangsa ini maka nakhkoda dan para mualimnya harus segera diingatkan akan kesesatan jalan yang ditempuh . Dengan pengetahuan kita akan dalil , jelas tergambar akibat buruk yang akan diterima bangsa ini . Wajar kalau kita bodoh dan awam yang tidak mengerti dalil tapi kalau kita mengaku bahagian dari orang ‘alim dalam ulumuddin namun tidak mengingatkan mereka , bukankah ini sikap pengkhianatan terhadap ilmu yang Alloh turunkan ?

Imam Bukhari rohimahulloh meriwayatkan dari Ubadah bin As Shamit rodhiyallohu ‘anhu tentang baiat kepada pimpinan kaum muslimin :
“Dan agar kami tidak merampas urusan (kekuasaan) dari yang berhak, Rasulullah saw.
bersabda: Kecuali bila kalian menyaksikan kekufuran yang nyata, sedangkan kalian memiliki bukti yang kuat di sisi Allah”.

Dengan demikian tidak diperkenankan kaum muslimin memiliki negara dengan asas selain Islam, baik itu sekularisme, kapitalisme, demokrasi, sosialisme, komunisme, nasionalisme, atau paham apapun yang bukan Islam. Khalifah atau Pemimpin yang dibaiat kaum muslimin sebagai kepala negara, wajib menerapkan syariat Islam sebagai bukti ketaatan kepada Allah SWT yang telah memerintahkan hal itu dalam firman-Nya:
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan“. (QS. An-Nisaa’ [4]: 65)

Juga firman-Nya:
“Dan hendaklah kamu hukumi di antara mereka dengan Apa yang turunkan kepadamu. Dan janganlah kalian mengikuti kemauan mereka. Hati-hatilah terhadap mereka, agar mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (QS. Al-Maidah [5]:49)

Garis pemisah antara orang – orang Islam dengan orang – orang musyrik adalah bahwa kaum musyrikin tidak menentang Rubbubiyatulloh yang mengandung keyakinan Alloh Subhanahu wa Ta’ala sebagai Pencipta , Pemilik , Penguasa atau apapun yang tersimpul dalam makna Ar Rabb namun mereka menentang kalau peribadatan ditegakkan hanya untuk Alloh saja . Dimana hakekat penting peribadatan itu tersimpul dalam dua hal , yakni at Tho’ah wat Tahakum ( kepatuhan dan berhukum ) . At Tho’ah dalam pengertian sebagai sikap setiap individu yang harus mengikatkan diri pada kepasrahan dan kerendahan di hadapan Alloh Azza wa Jalla sedangkan At Tahakum adalah sikap manusia sebagai komunitas social dalam berbagai tingkat dan bagian untuk menjadikan Syari’at Alloh sebagai satu-satunya hukum yang berlaku pada mereka . Intinya , kita ingin menggambarkan bahwa peribadatan tidak bisa hanya dianggap sebagai hubungan kepada Al Kholiq semata namun peribadatan juga mencangkup urusan hidup kebersamaan dalam sebuah masyarakat .

Akal yang waras tidak akan pernah berfikir bahwa manusia dalam kehidupannya bisa dipisahkan jatidirinya sebagai individu yang memiliki kepribadian dengan kebersamaannya dalam sebuah komunitas sosialnya . Walaupun ada perbedaan implikasi hukum pada wilayah privat dan wilayah publiknya .

Disinilah , keberadaan pemikiran sekelompok orang yang menganggap ajaran Islam hanya mengatur wilayah privat dalam aspek hukumnya adalah sebuah penyimpangan dari sebuah kelainan jatidiri . Sebut saja , orang – orang yang terbaratkan ini , selalu ngotot dengan cara apapun agar kaum muslimin tidak mengupayakan wujudnya praktek pengamalan Islam yang komprehensip . Bagi mereka , formalitas apalagi substansi Diinul Islam dalam kehidupan masyarakat adalah bahaya laten yang harus disingkirkan . Ada ungkapan sombong dari kelompok sesat ini , bahwa kalangan yang patuh dalam beragama dan mereka sebut kaum fundamentalis sama sekali tidak memiliki nalar intelektual sehingga mereka selalu meremehkan orang – orang yang ‘fanatik’ dalam beragama .

Jadi, kalau kelompok yang merasa paling tahu Islam ( ashabul ilmi wa ahlul haqq )  menuduh para pejuang Syari’at Islam sebagai kalangan Khawarij dan Ruwaibidhoh ( dangkal dan bodoh dalam memahami Islam ) maka – setali tiga uang – kelompok yang terbaratkan dan merasa paling mengerti peradaban menuduh pejuang Syari’at Islam sebagai kaum Fundamentalis dan tidak intelek ( terpelajar ) . Dua kelompok yang sepertinya bertentangan ini bertemu dalam satu muara kepentingan yakni langgengnya kekuasaan sekuler yang bukan saja menolak masuknya Diinul Islam dalam praktek kenegaraan tapi juga secara aktif selalu memerangi ideology Jihad dan kaum Mujahidin .

Maka tak ada jalan lain , para Pejuang Syari’at harus mengambil jalan untuk menegarakan Islam dengan cara sunnah dan tidak boleh melanggar batas – batas syar’i  serta tidak takut celaan orang – orang yang suka mencela . Jangan karena takut celaan dan tuduhan , akhirnya kita kita mengorbankan prinsip – prinsip Islam demi meraih kursi dan posisi seraya bermimpi sedang mengislamisasi Negara . Dengan cara terakhir ini , Islam hanya nampak pada  aspek kultural tapi sudak kosong dari substansi , yakni tauhid . Akhirnya ummat Islam membesarkan system bernegara yang jahiliyah dengan baju Islam . Wallohu A’lam !


[1] Muhammad Rasyid Ridho, Wahyu Ilahi kepada Muhammad saw, Pustaka Jaya Jakarta, Cet. Ke II/ 1987, hal. 461

[2] Ismail Raji’ Al Faruqi, Hakekat Hijrah, Mizan Bandung, Cet. Ke III / th. 1415/ 1994 , hal. 30-32

[3] DR. Abdul Karim Zaidan, Politik Islam, Konsepsi dan Dokumentasi, PT Bina Ilmu Surabaya, Cet. I/1987, Hal. 126-127

[4] Ibid, hal 20

[5] Syaikh Abul A’la Al Maududi, Proses Pembentukan Negara dalam Islam, Pustaka LSI Yogyakarta, Cet.I/ 1990, hal. 20

[6] Dr. Ahmad Syafi’I Ma’arif, Islam dan Politik – Teori Belah Bambu Gema Insani Press Jakarta, Cet. I/ 1996, hal 26-27

[7] Ibid, hal. 29

[8] Syaikh Said Hawwa, Al Islam 04, Al Ishlahy Press Jakarta, Cet. Ke … tanpa tahun, hal.5

Tujuan Risalah Para Rasul

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman;
Artinya: “Dia (Alloh) telah mensyari’atkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu tegakkan agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang – orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Alloh memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya)”. (Qs. Asy syuro (42): 13)

Dalam ayat tersebut di atas amat jelas bahwa target daripada diutusnya para Rasul dengan risalah Da’wah dan Jihad yang mereka gunakan adalah dalam rangka memurnikan Tauhid secara utuh dengan TEGAKNYA AGAMA ALLOH Subhanahu Wa Ta’ala (IQOMATUDDIN).

Tegaknya agama Alloh Subhanahu Wa Ta’ala (Dinullah) secara total baik dalam diri pribadi kita, keluarga, disetiap rumah tangga muslim, masyarakat, disetiap jengkal tanah di bumi ini.

Iqomatuddin (tegaknya agama Alloh Subhanahu Wa Ta’ala) akan terlaksana bila kita berhasil dalam MENGHAMBAKAN MANUSIA (MENGAJAK MANUSIA UNTUK IBADAH) hanya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala semata secara murni dan MENEGAKKAN KEKHILAFAHAN menurut MANHAJ NUBUWAH (SISTEM KENABIAN).

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala menjanjikan dengan penuh kepastian bahwa kaum mu’minin akan diberikan kekuasaan di muka bumi sebagai penguasa yang adil, dengan tegaknya syariat Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana yang tersebut dalam firmanNya,

Artinya: “Alloh telah menjanjikan kepada orang yang beriman dan beramal shalih di antara kalian, bahwa Alloh pasti menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana orang mu’min sebelum mereka berkuasa di muka bumi. Alloh jadikan mereka penegak agama yang diridhoi-Nya. Mereka akan menikmati ketentraman dan keamanan setelah mengalami ketakutan terhadap penindasan kaum kafir. Mereka taat kepada syari’at-Ku dan melenyapkan perbuatan syirik dalam bentuk apapun. Setelah itu, siapa saja yang keluar
dari Islam, maka mereka itu adalah orang – orang yang sangat durhaka kepada Alloh”. (QS. An Nur (24): 55)

Ini adalah janji Alloh Subhanahu Wa Ta’ala kepada Rasul-Nya bahwa Dia akan menjadikan umat ini sebagai khalifah di muka bumi, yaitu menjadi pemimpin umat manusia dan penguasa mereka. Di tangan merekalah negeri – negeri akan menjadi baik. Umat manusia tunduk kepada mereka. Dan Dia benar – benar akan merubah (keadaan) mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa, menjadi hakim di tengah manusia. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala telah melaksanakan janji ini, segala puji dan karunia hanya milik-Nya, (Tafsir Ibnu Katsir).

Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan Dari Nu’man bin Basyir dari Hudzaifah bin Yaman radliallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah
yang mengikuti jejak kenabian (KHILAFAH ‘ALAA MINHAJIN NUBUWWAH), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menggigit (MULKAN ADLON), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menindas (MULKAN JABARIYYAH), adanya atas kehendak Allah. Allah
mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (KHILAFAH ‘ALAA MINHAJIN NUBUWWAH)”. Kemudian beliau (Nabi) diam.” (H.R. Ahmad dan Al Baihaqi. Misykatul Mashabih: Bab Al Indzar wa Tahdzir, Al Maktabah Ar Rahimiah, Delhi, India. Halaman 461. Musnad Ahmad, juz 4, halaman 273).

Menyongsong janji Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dan janji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, bukan berarti kaum muslimin hanya cukup berpangku tangan saja tanpa ada usaha kongkrit untuk menggapai janji itu, namun harus ada usaha yang serius berupa amalan yang shalih yaitu dengan melakukan amal nyata dan mengikuti tahapan yang benar sehingga sampailah kita kepada apa yang dijanjikan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.

Usaha yang serius dan bersungguh – sungguh dengan metode yang benar dalam menata amal itu adalah cara yang harus ditempuh agar kita sampai kepada janji Alloh Subhanahu Wa Ta’ala itu, yaitu dengan terus BERJUANG tanpa ada kata menyerah, Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Artinya: “Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Alloh, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Alloh mencintai orang – orang yang sabar”. (QS. Ali Imran (3): 146)

Saudaraku……..
Kata kunci untuk meraih kesuksesan adalah SABAR . Kita harus bersabar dalam berbagai situasi dan kondisi (Ash shobirina fil ba’saai wadh dhorrooi wa hiinal ba’si). Betapa para HAWARIYIN nya para nabi telah mencontohkan kesabaran kepada kita, dengan kesabaran yang sempurna. Itulah yang membuat mereka dicintai oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. SABAR ITU AMAT PAHIT DALAM PRAKTEK, BAHKAN KADANG TERAMAT PEDIH, TETAPI KETAHUILAH WAHAI SAUDARAKU BUAH DARI KESABARAN ITU SANGAT MANIS BAHKAN TERAMAT MANIS.

Ya Allah limpahkanlah kepada kami kesabaran, dan
Teguhkanlah kedudukan kami, dan tolonglah kami atas kaum
kafir, Amiin yaa Mujibas sailiin