Tabligh Akbar Indahnya Hidup Dibawah Naungan Syari’at Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Al Tsauroh Institute bekerja sama dengan DKM Masjid Al Muhajirin Grogol menggelar Tabligh Akbar berjudul Indahnya Hidup Dibawah Naungan Syari'at Islam, Ahad (04/05/2014) di Masjid Al Muhajirin, Jl. Dr. Semeru Raya No. 1 Grogol, Jakarta Barat. Menghadirkan Amir Binniyabah Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Ustadz Muhammad Achwan dan Mudir Ma’had Al Falah Malang, Ustadz Gus Haidar sebagai pembicara.

Acara yang dimulai pukul 08.30 hingga 11.30 WIB itu dihadiri oleh ratusan pengunjung dari berbagai elemen masyarakat dan harokah Islam.

Pembicara pertama, Ustadz Gus Haidir mengawali paparannya dengan mengutip firman Allah SWT didalam surat Thaha ayat 124 yang artinya "Dan siapa yang berpaling dari peringatan ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta."

Dalam paparannya, beliau menjelaskan bahwa tujuan Allah menurunkan Al-Qur'an kepada manusia adalah agar manusia tidak tersesat didalam hidupnya.

“Syari'at adalah beberapa aturan atau sumber-sumber hukum yang ditetapkan Allah SWT dengan maksud agar manusia dapat mengatur hubungannya dengan Allah dan dapat mengatur hubungannya dengan sesama manusia. Maka manusia yang hidup dibawah naungan Syari'at Islam hidupnya tidak akan tersesat”, tegasnya

Beliau melanjutkan bahwa manusia yang hidupnya dibawah naungan Syari’at, maka hidupnya akan mulia dan selalu ada dalam keberkahan. Begitu juga sebaliknya.

“Syari'at Islam dapat menjadikan manusia menjadi mulia dan dengan Syari'at Islam pula adab kita sebagai manusia akan menjadi bersih (suci) karena manusia yang hidupnya jauh dari syari'at maka hidupnya akan sangat hina dan sebaliknya apabila manusia hidupnya berada dibawah naungan syari'at maka hidupnya selalu berada dalam keberkahan”, lanjutnya

Beliau mengutip firman Allah di dalam Al-qur'an surat Al-A'raf : 96 sebagai dalil atas pernyataannya.

"Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami). Maka kami siksa mereka sesuai apa yang telah mereka kerjakan."

Selain itu, beliau juga mengutip pernyataan Syekh Ibnu Jauziyah, Rahimahullah yang menyatakan bahwa hajat kita kepada Syari'at Allah sangatlah mendesak. Karena kalau kita tidak penuhi itu semua, maka kehidupan kita akan merasa sempit.

Ustadz Muhammad Achwan sebagai pembicara kedua menguatkan penjelasan Ustadz Gus Haidar dengan menceritakan kehidupan pada zaman sahabat. Betapa indah dan berkahnya kehidupan mereka dibawah naungan Syari’at Islam.

“Di zaman sahabat Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, Radhiyallahu anhu, dimana Syari'at Islam benar-benar diamalkan secara baik sehingga membuat kehidupan umat di saat itu berada dalam keberkahan”, ulasnya.

Ustadz Achwan juga mengutip sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang menggambarkan kondisi umat manusia di akhir zaman.

"Nanti akan menimpa manusia di suatu masa di ujung zaman bahwa perut akan menjadi Tuhan mereka, wanita-wanita akan menjadi perhatian mereka, popularitas menjadi kehormatan dan Al-Qur'an tidak menjadi pedoman serta masjid-masjid tidak dijadikan sebagai tempat petunjuk, dinar menjadi agama mereka. Dalam keadaan seperti itu tidak tersisa keimanan sama sekali kecuali hanya nama nya saja”, tutur beliau mengutip hadits tersebut.

Kemudian beliau menjelaskan sebuah hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa di akhir zaman Allah SWT akan menguji manusia dengan empat perkara; penguasa diktator, musim paceklik, kedzoliman penguasa dan kedzoliman aparat.

“Allah menguji manusia dalam 4 perkara, yakni menjadikan penguasa diktator di negeri tersebut, menurunkan musim paceklik yang berkepanjangan walau saat itu terjadi musim hujan, muncul kezholiman yang dilakukan oleh pemerintah (penguasa), dan muncul pula kezholiman yang dilakukan oleh aparat penegak hukum”, paparnya.

Di akhir pemaparannya, beliau menjelaskan tentang dakwah dan jihad sebagai satu-satunya cara menegakkan Syariat Islam yang paling sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

“Adapun cara untuk menegakkan Syariat Islam ialah dengan cara mengikuti tuntunan Rasulullah SAW,  yaitu dengan dakwah wal jihad. Karena inilah jalan atau manhaj yang diajarkan oleh beliau Rasulullah SAW”, jelas Ustadz Achwan

Beliau berpesan kepada seluruh jama’ah untuk selalu berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah demi tercapainya Izzul Islam wal Muslimin.

Acara ditutup pukul 11.30 WIB dilanjutkan dengan sholat dzuhur berjamaah. (Abu Asiilah/jurnalislam)

Redaktur : Amaif

IPPSIS Ikut Serta di Longmarch Gabungan Ormas Islam Tasikmalaya (Foto)

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Ada yang menarik perhatian pada aksi Longmarch yang digelar oleh gabungan ormas-ormas Islam di Tasikmalaya, Ahad (04/05/2014) pagi tadi, yaitu ikut sertanya organisasi pelajar di Tasikmalaya yang menamakan dirinya Ikatan Pelajar Pecinta Syariat Islam (IPPSIS) dalam aksi tersebut.

Sekelompok pelajar ini seperti tidak mau kalah oleh senior-seniornya dalam iqqomatuddien. Mereka datang dengan menggunakan mobil pickup  lalu berbaur dalam barisan ikhwan-ikhwan lain dari berbagai ormas Islam di Tasikmalaya.

Tidak kalah semangat dengan senior-seniornya, mereka juga dengan lantang menyuarakan yel-yel anti Syiah dan dukungan mereka terhadap penegakkan Syariat Islam Kaffah di Indonesia yang disambut pekik takbir oleh yang lainnya.

“Sangat luar biasa, meskipun ditengah terik matahari yang panas, namun itu tidak melunturkan semangat kawan-kawan yang tengah membara”, ungkap Fahmi Faisal Malik, Amir IPPSIS penuh semangat.

Ia juga menegaskan tujuan keikutsertaannya dalam aksi tersebut. Selain untuk mempererat silaturahim dengan sesama muslim, juga sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap aqidah umat khususnya di basis mereka, yaitu pelajar muslim.

“Untuk mempererat silaturahim dengan sesama muslim dan sebagai bekal untuk kedepannya supaya IPPSIS bisa mengenalkan serta memahamkan aqidah sesat syi’ah kepada remaja dan pelajar muslim”, ujarnya.

Hingga saat ini IPPSIS beranggotakan lebih dari 100 orang yang terdiri dari pelajar-pelajar sekolah dari tingkat SMP sampai SMA/SMK di kabupaten Tasikmalaya. (amaif)

Ct. Person IPPSIS : Fahmi Faisal Malik (BB : 74191BA2)

 

Ketua MUI Kota Tasikmalaya : “Sistem ini Kotor Seperti Air Comberan”

TASIKMALAYA (Jurnaislam.com) – Acara Tabligh Akbar dan Sosialisasi buku MUI berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia” di Pondok Pesantren Al Urwatul Wustha, Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Ahad (04/05/2014), juga dihadiri oleh ketua MUI Kota Tasikmalaya, KH. Acep Nur Mubarok. Dalam sambutannya beliau menyampaikan himbauannya kepada umat Islam untuk selalu mewaspadai sepak terjang Syi’ah.

Selain itu, beliau juga mengingatkan bahwa Syi’ah dan Ahmadiyah hanyalah sebagian kecil dari musuh yang harus dihadapi oleh umat Islam. Akan tetapi menurutnya, sistem inilah (demokrasi) yang harus lebih diwaspadai dan jangan sampai umat Islam menyatu dengannya.

“Kita harus menyelamatkan generasi penerus kita dari paham sesat Syi’ah ini. Musuh kita bukan hanya Syi’ah dan Ahmadiyah, tapi sistem ini (demokrasi-red) yang kotor seperti comberan, jangan sampai kita menyatu dengan jalan kita yang lurus, ikhdinassyirootol mustaqiim”, tegasnya.

Ini adalah kali keduanya KH. Acep Nur Mubarok membuat pernyataan keras tentang demokrasi kepada media. Sebelumnya dalam aplikasi whatsapp grup MUI Tasikmalaya, 20 Maret 2014 lalu beliau juga menegaskan bahwa Allah melaknat siapapun yang menerapkan demokrasi.

"Allah melaknat siapapun yang menerapkan demokrasi juga mereka yang mengikutinya setelah datang syari'at Islam, karena demokrasi menyerang syari'ah dan pola hidup umat Islam, menipu manusia secara umum dan menimbulkan kerusakan di daratan dan di lautan, juga mewariskan kefaqiran di dunia dan keabadian di neraka serta menantang adzab Allah", tulisnya.

Tabligh Akbar dan Sosialisasi buku MUI ini adalah bagian dari acara Reuni Tahunan Alumni Pondok Pesantrean Al Urwatul Wustho, Mangkubumi, Kota Tasikmalaya. (arby/amaif)

Gabungan Ormas Islam Tasikmalaya Gelar Longmarch

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Dalam rangka acara Temu Alumni Pondok Pesantren Al Urwathul Wustha, Gunung Kondang, Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Pondok Pesantren Al Urwathul Wustha bekerja sama dengan ormas–ormas Islam Tasikmalaya, diantaranya  JAT, MMI, FPI, LUIT, Brigade Tholiban, Brigade Syuhada, LPPU dan FORSIL menggelar acara Tabligh Akbar dan Sosialisasi buku MUI berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia” dengan pemateri Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat, Prof. Dr. H. Muhammad Baharun, SH, MH, Ahad (04/05/2014).

Ratusan umat Islam dari berbagai ormas berkumpul di markas Tholiban di Pesantren Al Irsyadiyah, Paseh, kota Tasikmalaya pukul 08.00 WIB untuk selanjutnya berjalan bersama menuju lokasi acara. Longmarch sekitar 2km itu dikawal oleh ratusan aparat dari polsek Kawalu dan Polresta Tasikmalaya.

Sepanjang perjalanan, ratusan peserta longmarch itu meneriakkan yel-yel anti Syi’ah disertai pekikan takbir yang menarik perhatian warga sekitar kota Tasikmalaya.

Korlap aksi, Ustdaz Abu Hazmi dari Laskar Umat Islam Tasikmalaya mengatakan bahwa tujuan aksi tersebut adalah sebagai bentuk irhab kepada musuh-musuh Allah khususnya kaum Syi’ah yang semakin bebas dan berani.

“Insya Allah aksi ini adalah pengamalan surat Al Anfaal ayat 60, kepada kelompok Syi’ah yang semakin hari semakin berani menujukkan sepakterjangnya”, ujarnya.

Aksi berakhir di Masjid Al Urwatul Wustha tempat acara tabligh Akbar itu digelar, untuk selanjutnya mengikuti acara hingga selesai. Sampai berita ini diturunkan, acara masih berlangsung. (amaif) 

 

 

Kepala FBI : Akan Lebih Banyak Lagi Orang Amerika Bergabung Dengan Perang di Suriah

AMERIKA (jurnalislam.com) – Aliran pejuang asing ke Suriah telah berkembang dalam beberapa bulan terakhir , puluhan orang Amerika telah bergabung dengan para aktivis Islam di negara itu bersama ribuan orang Eropa  lainnya, direktur FBI mengatakan .

Berbicara kepada wartawan di markas FBI pada hari Jumat (02-05-2014) , James Comey mengatakan ia " bertekad " untuk menjaga setiap skenario yang serupa dengan serangan 11 September, yang timbul dari Suriah , karena lebih banyak pejuang asing bergabung pada aktivis Islam disana .

Comey membandingkan perang di Suriah ke Afghanistan pada 1980-an dan 90-an , ketika para pejuang islam di sana akhirnya membentuk al- Qaeda dan menyatakan perang terhadap Amerika Serikat , lalu mengarah serangannya ke New York .

" Semua dari kita mengetahui dengan melihat  memori 80-an dan 90-an, yaitu melihat garis yang ditarik dari Afghanistan di tahun 80-an dan 90-an sampai 11 September . Maka  kita melihat Suriah yang terjadi pada hari ini akan menjadi lebih besar dampaknya dibanding dampak Afghanistan, bahkan  jauh  lebih buruk , " kata Comey .

AS – Suriah diaspora

Kepala FBI mengatakan jumlah orang Amerika yang bepergian ke Suriah atau berusaha untuk bergabung pada aktivis Islam disana telah berkembang dengan cepat hingga beberapa lusin orang telah bergabung dan terus meningkat, bahkan sejak awal tahun ini banyak orang Amerika di Suriah mencoba untuk membawa orang lain yang lebih banyak lagi .

Masalahnya adalah " semakin parah , hanya dengan waktu singkat saja, orang sudah semakin banyak bepergian ke sana, dari sini dan seluruh dunia " untuk mengambil bagian dalam pertempuran disana, katanya .

Comey memprediksi  " akan menjadi diaspora dari Suriah pada beberapa titik " , ia menambahkan bahwa " saya bertekad untuk tidak membiarkan hal ini menjadi titik awal dari Suriah hari ini berdampak pada masa depan, seperti September 11 " .

Aparat penegak hukum AS telah menyatakan keprihatinan tentang pengaruh pejuang Islam di Suriah , banyak dari mereka terkait dengan al – Qaeda , karena mereka berusaha untuk menggulingkan Presiden Bashar al – Assad .

Para pejabat mengatakan para pejuang dari AS atau Eropa yang telah bergabung kepada al Qaeda, hal ini akan menjadi penyebab untuk dengan mudah menanamkan keyakinan radikal di rumah mereka saat mereka kembali . (ded412/reuters)

Lagi, Pasar Aleppo Dibom Rezim Pengecut Syiah Bashar Assad Puluhan Orang Tewas

SURIAH (jurnalislam.com) – Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan bahwa pesawat tempur rezim Assad pada Kamis (1/5/14) menghantam sebuah pasar besar di Halak, sebuah distrik yang dikuasai mujahidin di kota Aleppo, Suriah.

 

Kelompok pemantau anti – pemerintah assad yang berbasis di Inggris itu juga melaporkan setidaknya 33 warga sipil tewas dan puluhan lainnya terluka dalam serangan udara tersebut.

 

Rami Abdel Rahman, kepala Observatorium, mengatakan kepada kantor berita AFP,
"Sebuah jet tempur Suriah menembakkan rudal di area Halak, dan dalam beberapa menit menembakkan rudal lainnya."

 

"Suasana sangat kacau, " kata Hasson Abu Faisal, seorang aktivis di Aleppo. "Banyak mayat terbakar."

Aleppo Media Centre memperkirakan jumlah korban tewas 44 orang. Dua bangunan tempat tinggal hancur dan beberapa toko dibakar.
 

Serangan itu terjadi satu hari setelah serangan udara rezim Suriah menghantam sebuah sekolah dan menewaskan sedikitnya 19 orang , termasuk sedikitnya 10 anak , di kota yang sama.
 

Kepala kemanusiaan PBB menggambarkan serangan udara tersebut sebagai "pelanggaran prinsip dasar perang yang sangat mencolok."

Aleppo terbagi antara pasukan pemerintah dan para mujahidin selama hampir dua tahun dan telah berulang kali fasilitas sipil diserang oleh pasukan yang setia kepada rezim Syiah Presiden  Bashar al – Assad.

Serangan yang dilancarkan sering kali menghantam sekolah, masjid dan pasar.

Lebih dari 150.000 orang tewas dan jutaan lainnya mengungsi selama perang yang telah berlangsung selama tiga tahun, yang dimulai sebagai perlawanan  terhadap Assad. (ded412/aljazeera)

 

 

Tim Pencari Fakta (TPF) Solo Laporkan Hasil Temuan Kekerasan di Polres Solo ke DPRD dan Kejari Solo

SOLO (jurnalislam.com) – Tim Pencari Fakta (TPF) Kekerasan di Polres Solo beraudiensi ke DPRD Solo, Rabu (30/04/2014). Rombongan yang di ketuai Edi Lukito SH dan Sekertaris Drs. Yusuf Suparno menyerahkan laporan hasil temuan TPF atas dugaan kekerasan di Polresta Solo selama Maret – April 2014.

Kedatangan TPF itu kemudian diterima Wakil Ketua DPRD Solo Supriyanto di ruang Badan Anggaran (Banggar) DPRD. Ketua TPF, Edy Lukito mengatakan, kedatangan TPF ke DPRD untuk menyampaikan laporan hasil temuan TPF berkaitan dengan penangkapan tiga aktivis Islam oleh aparat kepolisian Polres Solo pada 2 April 2014 lalu. Ketiga aktivis yang ditangkap itu adalah Khuzaimah alias Jaim, Susilo Agung Nusantoro dan Haedar.

“Khuzaimah alias Jaim ditangkap karena dugaan penganiayaan anak punk di Baturono. Susilo ditangkap terkait dengan pengrusakan Karaoke Zensho dan Haedar ditangkap lantaran dugaan pengrusakan Warung Jamu Dinda,” kata Edy saat audiensi.

Meski ditangkap aparat kepolisian, Edy menilai pada prinsipnya banyak celaan dan cacat selama proses penahanan terhadap ketiga tahanan. Pihaknya menilai ada pelanggaran HAM dan penganiayaan.

“Selama penahanan ada berbagai siksaan seperti dipukuli lebih dari 10 kali, jenggot dicabuti dan dilarang menjalankan sholat Jum’at, disetrum, ditelanjangi, kemaluan dipanasi dengan korek api” paparnya.

Dengan kejadian-kejadian itu, Edi Lukito  mengaku pihaknya kecewa berat dengan kepolisian. TPF meminta agar Kapolres Solo Kombes Iriansyah dan Kasat Reskrim Kompol Guntur Saputra agar dicopot dari jabatannya.

“Kita tidak ingin ada pejabat yang tidak peduli dengan penyakit masyarakat,” keluhnya.

Usai menyampaikan keluhannya, Edy kemudian menyerahkan hasil temuan TPF kepada Supriyanto. Menanggapi hal itu, Supriyanto menyatakan sebagian besar yang disampaikan TPF bukan menjadi kewenangan DPRD.

“Kalau soal tempat perizinan hiburan akan kami tindak lanjuti di tingkat komisi terkait. Yang lainnya kami tidak akan mengomentari karena bukan kewenangan kami,” kata Supriyanto.

Setelah dari DPRD Solo, TPF mendatangi Kejari Solo. Mereka diterima Kasi Pidsus, Ervan Suprapto didampingi Kasi Intel dan Kasi Pidum. Dalam audiensi Joko Sutarto, SH selaku anggota TPF menyampaikan beberapa kejadian yang sama terjadi di Polres Solo. Kasus Kipli melibatkan 117 orang jamaah masjid yang diperlakukan kasar, Kasus di Ledoksari yang mengakibatkan 2 kaki Susilo patah.

Menurut Yusuf Suparno, TPF dalam waktu dekat akan melaporkan resmi ke Kapolda Jateng, ke Ombudsman DIY, Komnas HAM, IPW, Kompolnas dan Kapolri. (Endro/amaif)

Serangan Bom Mematikan Terjadi di Stasiun Kereta China

XINJIANG  (jurnalislam.com) – Tiga orang tewas dan 79 lainnya luka-luka dalam sebuah ledakan yang mengguncang sebuah stasiun kereta api di wilayah barat China.

Media pemerintah melaporkan bahwa ledakan tersebut terjadi di daerah yang sedang bergolak, Xinjiang, saat Presiden Xi Jinping mengakhiri kunjungan empat harinya ke daerah tersebut.                                                                                                                                                                                              

Kantor berita milik negara, Xinhua, mengatakan bahwa empat orang terluka serius dalam ledakan yang terjadi di luar pintu keluar stasiun Urumqi pada Rabu malam, lapor kantor berita Reuters.

 

Penyerang juga menggunakan pisau, dan meledakkan alat peledak, kata kantor berita tersebut.

Xinhua menyebut ledakan tersebut adalah sebuah "serangan mematikan yang kejam," kantor berita AFP melaporkan.

 

Tidak jelas apakah presiden Xi masih di wilayah tersebut saat ledakan terjadi.

Layanan kereta api dihentikan selama sekitar dua jam sebelum dibuka kembali di bawah pengawasan polisi bersenjata, Xinhua melaporkan, menurut kantor berita AP.

Seorang wanita yang bekerja di sebuah toko dekat stasiun kereta api mengatakan ia mendengar ledakan keras tak lama setelah pukul 19:00.

Seorang wanita lainnya mengatakan kepada AP melalui telepon bahwa, "Seluruh area sekarang telah dikepung oleh polisi dan polisi militer." Dia menolak untuk memberikan namanya karena sensitivitas masalah ini.

Foto yang beredar secara singkat di situs media sosial Cina menunjukkan barang-barang bagasi tersebar dekat pintu keluar stasiun dan banyak orang bersenjata berdatangan.

Ketegangan etnis bergolak selama bertahun-tahun di Xinjiang, rumah dari kelompok minoritas Muslim Uighur. Angka resmi menyebutkan hampir 200 orang tewas pada tahun 2009, saat serangkaian kerusuhan pecah di Urumqi. Kekerasan terus terjadi di wilayah tersebut dan mulai menyebar di tempat lain di negara itu tahun lalu.

Rian, seorang profesor di Loyola University di New Orleans yang mengkhususkan diri dalam sejarah dan isu-isu Uighur, mengatakan bahwa bahan peledak yang digunakan mirip dengan lokasi kejadian ledakan Rabu lalu.

"Kekerasan di Xinjiang sebelumnya cenderung menargetkan pada petugas keamanan dan pejabat, dan sering dilakukan dengan pisau atau alat-alat pertanian. Jika serangan bom kali ini menargetkan warga sipil, maka itu akan menandai peningkatan yang mengkhawatirkan dari pola kekerasan politik Uighur sebelumnya," kata Thum.

"Tentu saja, kita belum bisa berasumsi bahwa serangan itu disengaja, atau bahwa itu dilakukan oleh warga Uighur, meskipun tampak mungkin bahwa serangan itu dilakukan oleh warga Uighur dengan sengaja,'' katanya.

Tahun lalu, tiga warga Uighur menabrakkan kendaraan yang mereka kendarai ke dalam kerumunan di dekat gerbang Kota Terlarang di jantung kota Beijing. Serangan tersebut menyebabkan dua wisatawan dan penabrak tewas.

Pada bulan Maret, lima pria dan wanita yang diyakini warga Uighur – menghunus pisau pada kerumunan orang banyak tanpa pandang bulu di sebuah stasiun kereta api di barat daya China dan menewaskan 29 orang. Pemerintah menuduh serangan tersebut dilakukan oleh "kelompok yang menginginkan pemisahan diri." (ded412)

Persekutuan Gereja Indonesia Mengajak Masyarakat Indonesia Tidak Memilih Prabowo Dalam Pilpres 2014

JAKARTA (jurnalislam.com) – Persekutuan Gereja Gereja Indonesia (PGI) tercatat sebagai salah satu organisasi yang menolak pencalonan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, sebagai calon presiden pada Pilpres 2014.

PGI tergabung dalam afiliasi Gerakan Kebhinekaan untuk Pemilu Berkualitas (GKPB), bersama dengan sejumlah elemen masyarakat lainnya. Seperti dikutip celotehpemilu, GKPB telah mengeluarkan pernyataan sikap menolak pencapresan Prabowo di kantor lembaga kajian demokrasi dan hak asasi, Demos (29/04).

Dalam pernyataan sikap itu, GKPB mengajak masyarakat Indonesia untuk tidak memilih Prabowo Subianto dalam Pilpres 2014.

GKPB menilai, pokok-pokok perjuangan Partai Gerindra di bidang agama dan bidang HAM yang tertuang dalam Manifesto Gerindra, bertentangan dengan UUD 1945 dan sistem demokrasi Indonesia.

Point yang dipermasalahkan GKPB adalah adanya frase yang dinilai akan menjuruskan pemaksaan terhadap tafsir agama yang tunggal. Frase itu adalah: “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama/kepercayaan. Namun, pemerintah/negara wajib mengatur kebebasan di dalam menjalankan agama atau kepercayaan. Negara juga dituntut untuk menjamin kemurnian ajaran agama yang diakui oleh negara dari segala bentuk penistaan dan penyelewengan dari ajaran agama.”

Selain PGI, tercatat organisasi kemasyarakatan lain yang tergabung dalam GKPB. Antara lain, Jaringan Masyarakat Sipil untuk Perdamaian (JMSP) Aceh, Aliansi Dame Timor NTT, Our Indonesia Yogyakarta, Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI), LBH Jakarta, The Indonesian Legal Resources Center (ILRC), Abdurrahman Wahid Center Universitas Indonesia, Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk), Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Komnas Perempuan, Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam), AMAN Indonesia, Human Rights Working Group (HRWG) dan lainnya. (ded412/intelijen)

Pesawat Tempur Rezim Assad Membom Sebuah Sekolah di Aleppo

ALEPPO (jurnalislam.com) – Sebuah sekolah telah terhantam dalam serangan udara pemerintah di distrik Aleppo yang dikuasai kelompok mujahid dan menewaskan sedikitnya 19 orang, termasuk 10 anak-anak, lapor para aktivis Islam.

Serangan hari Rabu (30/4/14) tersebut menghantam sekolah Ein Jalout di bagian timur Aleppo saat guru dan siswa sedang mempersiapkan sebuah pameran lukisan anak-anak yang menggambarkan perang, kata para aktivis islam.

Dalam sebuah video tampak jenazah 10 anak tersebut diletakkan di dasar rumah sakit setempat dibungkus kain.

Adegan lainnya dalam video menunjukkan buldoser menyingkirkan puing-puing dari bangunan yang hancur.

 

Video itu juga menunjukkan beberapa lukisan anak-anak yang sedianya akan dipamerkan. Salah satu anak melukiskan sebuah kerangka tergantung yang dikelilingi tengkorak dan ada gambar seorang anak di dekatnya ditembak oleh seorang pria bersenjata di selokan.

Gambar anak dalam lukisan tersebut mengeluarkan kata-kata dalam bahasa Inggris yang sebagian berbunyi: "Suriah akan tetap bebas."

 

Observatory untuk Hak Asasi Manusia-Inggris mengatakan sedikitnya 19 orang tewas dalam serangan itu.

Pasukan yang setia kepada rezim Bashar al – Assad telah melakukan serangan udara dan menjatuhkan bom barel minyak mentah di distrik-distrik yang dikuasai mujahidin di bagian timur kota. Terkadang bom tersebut menimpa sekolah, masjid dan pasar.

Serangan rezim pemerintah Assad yang terbaru terjadi setelah serangan mortir dan dua bom mobil pada hari Rabu menewaskan sedikitnya 54 warga sipil di distrik-distrik pro – Assad di Homs dan Damaskus.

Serangan terhadap muslim sunni masih terus berlangsung saat Assad mengumumkan awal pekan ini bahwa ia akan mencalonkan diri kembali untuk pemilihan presiden. (ded412/aljazeera)