Pangeran Salman Bin Abdul Azis Pengganti Tahta Saudi

RIYADH (Jurnalislam.com) – Raja Saudi Abdullah bin Abdelaziz telah meninggal dan Pangeran Mahkota Salman telah dinyatakan sebagai raja baru.

Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh TV Saudi Jumat dini hari (23/01/2015), Saudi Royal Court mengumumkan kematian Raja Abdullah.

Saudi Royal Court juga menyatakan Putra Mahkota Salman bin Abdelaziz sebagai raja baru negara Teluk yang kaya akan minyak tersebut dan Pangeran Muqrin bin Abdelaziz sebagai Putra Mahkota baru.

Abdullah baru-baru ini dirawat di rumah sakit setelah menderita infeksi paru-paru.
Dia didiagnosis memiliki pneumonitis, sehingga dokter rumah sakit memberikan dia tabung oksigen untuk membantunya bernapas.

Abdullah menjalani operasi punggung pada November 2012. Sejak saat itu, ia telah menahan diri menghadiri acara di luar kerajaan, termasuk KTT wilayah Teluk baru-baru ini yang diselenggarakan di ibukota Qatar, Doha.

Salman, 79 tahun, adalah saudara tiri almarhum raja. Dia diangkat menjadi putra mahkota pada bulan Juni 2012 setelah kematian almarhum putra mahkota, Naif.
Muqrin juga merupakan saudara tiri Abdullah dan putra bungsu pendiri Arab Saudi. Dia menjabat sebagai wakil perdana menteri kedua dan utusan khusus raja. 

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Raja Arab Saudi Abdullah Meninggal Dunia

ARAB SAUDI (Jurnalislam.com) – Televisi Saudi menyiarkan ayat-ayat Alquran pada hari Jumat pagi (23/01/2015), yang sering kali dilakukan untuk menandakan kematian anggota keluarga kerajaan senior, beberapa menit sebelum pengumuman resmi tentang kematian Raja Abdullah.

Raja Abdullah, yang berusia 90 tahun, telah berada di rumah sakit selama beberapa minggu dan menderita pneumonia.

Reporter Al Jazeera Hashem Ahelbarra mengatakan: "Ia adalah seseorang yang pasti akan dikenang sebagai seorang reformis dalam keluarga kerajaan.

"Dia menggantikan posisi kekuasaan saudaranya dengan waktu yang sangat halus dan memulai reformasi di negara ini."

Saudi TV juga mengumumkan bahwa Putra Mahkota Salman bin Abdulaziz Al Saud, 79 tahun, kini resmi menjadi Raja Saudi yang baru dan Pangeran Muqrin bin Abdulaziz adalah putra mahkota baru.

"Yang Mulia Salman bin Abdulaziz Al Saud dan semua anggota keluarga dan bangsa meratapi Penjaga Dua Masjid Suci Raja Abdullah bin Abdulaziz, yang meninggal tepat pukul 1 pagi ini," kata State TV.

Abdullah, diperkirakan lahir pada tahun 1923, telah memerintah Arab Saudi sebagai raja sejak tahun 2006, tetapi sebelum itu memimpin negara sebagai bupati de facto selama satu dekade saat pendahulunya, Raja Fahd, menderita stroke yang melemahkan.

Yang dipertaruhkan dengan penunjukan Salman sebagai raja adalah arah masa depan Saudi. Selama ini Saudi adalah sekutu Amerika Serikat dari bangsa Arab yang paling penting dan menganggap negara mereka sendiri sebagai kelompok Sunni terbesar pada saat ini di masa pergolakan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Timur Tengah.

Abdullah memainkan peran membimbing dalam dukungan Arab Saudi bagi pemerintah Mesir setelah militer melakukan intervensi pada tahun 2012, dan meningkatkan dukungan negaranya untuk pemberontakan Suriah melawan Presiden Bashar al-Assad.

Raja Salman telah menjadi putra mahkota dan menteri pertahanan sejak tahun 2012. Dia adalah gubernur provinsi Riyadh selama lima dekade sebelum itu.

 

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir : Insya Allah Abu Ayyash Khusnul Khatimah

NUSAKAMBANGAN (Jurnalislam.com) – Ustadz Abu Bakar Ba'asyir memuji dan mendoakan Abu Ayyash, seorang mujahid Indonesia yang gugur dalam tank yang dikendarainya saat bertempur dengan pasukan Syiah Nushairiyah di Suriah beberapa waktu lalu. Dalam pernyataannya, Ustadz Abu menganjurkan umat Islam untuk mengikuti jejak Abu Ayyash.

"Insya Allah Husnul khatimah, jalan yang ditempuh oleh Abu Ayyas sudah benar, dan umat Islam untuk segera dan harus mengikuti jejaknya," kata Ustadz Abu di hadapan para pembesuknya di Lapas Pasir Putih Nusakambangan, Selasa (20/1/2015) sembari menambahkan bahwa umat Islam harus menyantuni keluarga Sang Mujahid yang ditinggalkan.

Ustadz sepuh ini juga mewajibkan umat Islam Indonesia untuk berhijrah ke medan Jihad Suriah dan yang lainnya.

Ally | AH | Jurniscom

Islamophobia, Lima Muslim Chechnya Ditangkap di Paris

PERANCIS (Jurnalislam.com) – Polisi Perancis menangkap lima Muslim Chechnya di Perancis selatan dengan tuduhan dicurigai “mempersiapkan sebuah serangan,” sumber polisi setempat mengatakan pada Selasa (20/1/2015), sebagaimana dilansir Al-Arabiya.

Penangkapan yang diduga berlatar Islamophobia itu terjadi hampir dua minggu setelah Mujahidin Al-Qaeda melancarkan serangan yang menewaskan 12 orang di kantor majalah satir Perancis Charlie Hebdo yang kerap menghina Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, di Paris.

Sumber itu mengatakan empat dari mereka ditangkap di Montpellier atau di sekitarnya, dan yang kelima di Beziers. Surat kabar Midi Libre mengklaim sebuah bahan peledak ditemukan selama pencarian yang dilakukan polisi.

Kasus ini belum diteruskan ke bagian “anti-teroris” kantor kejaksaan Paris, kata sumber pengadilan.

Serangan di Charlie Hebdo merupakan operasi pembalasan terhadap penghinaan yang dilakukan majalah satir itu terhadap Islam dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebelumnya, ratusan ribu orang telah menggelar aksi protes di wilayah Chechnya pada Senin (19/1/2015) menentang Charlie Hebdo, menyebut penghinaan yang dilakukan majalah mingguan itu sebagai tindakan yang tidak bermoral.

Pengungsi Suriah: Sebuah Dilema Bagi Libanon

Pemerintah Libanon membatalkan kebijakan pintu terbuka terhadap “tetangganya,” (pengungsi Suriah-red) dan menuntut visa masuk untuk pertama kalinya.

LIBANON (Jurnalislam.com) – Setelah beberapa tahun menggelepar atas krisis pengungsi Suriah, kepemimpinan politik Libanon yang mudah goyah telah memicu kemarahan publik dengan keputusan membendung gelombang yang telah membawa 1,5 juta orang pengungsi perang di perbatasan. Di bawah pembatasan yang diberlakukan Senin (5/1/2015), rakyat Suriah mengungsi dari negeri mereka dengan tidak lagi diberi jaminan bebas untuk memasuki Libanon tanpa visa yang sah dan membatalkan kebijakan "pintu terbuka" untuk tetangganya yang telah ada sejak tahun 1943.

Perubahan kebijakan telah lama ada dalam pengambilan keputusan di Libanon, di mana kekhawatiran kian membesar bahwa krisis pengungsi permanen lainnya yang menyerupai eksodus Palestina tahun 1948, bisa terulang. Lebih dari 400.000 warga Palestina masih tinggal di perkemahan kumuh yang dikelola PBB di seluruh negeri. Hampir tujuh dekade lamanya setelah dahulu diusir dari rumah-rumah tempat tinggal mereka yang sekarang dirubah menjadi “negara” Israel.

Dalam beberapa bulan terakhir, tiang Libanon sepertinya mulai melengkung dengan beban tambahan dari "tamu-tamu" Suriah, yang hampir 1 dari 4 orang warga Suriah tinggal di Libanon saat ini. Banyaknya pengungsi telah “menjengkelkan” masyarakat setempat, ketika orang-orang Suriah mengambil beragam pekerjaan berupah rendah, menyesakkan kota, dan terlalu membebani infrastruktur air dan listrik, yang mana Libanon pun merasa sangat kekurangan. Sementara itu, kekerasan yang meluap dari perang Suriah dan laporan-laporan tentang warga Suriah yang bergabung dengan berbagai faksi seperti Al-Qaeda dan kelompok ekstrim yang memusuhinya ISIS, telah mengubah gambaran pengungsi di Libanon "dari korban menjadi ancaman potensial," kata Lina Khatib, direktur Carnegie Middle East Center di Beirut. "Ini menjadi sedemikian rupa sehingga pemerintah tidak mampu untuk mengabaikannya lagi."

Libanon adalah negara tuan rumah terbaru yang memprotes beban pengungsinya, yang telah membengkak disaat bantuan internasional berkurang. Yordania telah meningkatkan penutupan perbatasan utaranya dengan Suriah, menjebak kerumunan calon pengungsi dalam sebuah zona perang, dan baru-baru ini memotong pelayanan kesehatan kepada sekitar 700.000 orang Suriah yang telah ditampung di berbagai kota besar dan kota kecil. Kepadatan-kepadatan serupa telah terjadi pula di sepanjang perbatasan Suriah dengan Turki.

Pemerintahan regional melihat ke Yordania, sebuah mayoritas "negeri pengungsi," Palestina di mana banyak kamp yang dikelola oleh PBB telah lama tumbuh menjadi tempat tinggal permanen disekitar ibukota Amman atau bahkan menjadi kota-kota yang mandiri. Dengan perang Suriah, hal tersebut tumbuh lebih kompleks lagi dibarengi kemunculan ISIS dengan segala sepak terjangnya, maka ketakutan di Libanon kian bertambah.

Itulah salah satu alasan mengapa Libanon menolak untuk menggolongkan pengungsi Suriah sebagai "pengungsi," tapi lebih memilih untuk memanggil mereka naziheen (orang-orang yang berpindah). Mereka sangat kekurangan di kamp pengungsian, warga Suriah di Libanon sering berlindung di gedung-gedung yang ditinggalkan atau perkemahan darurat yang memberikan sedikit perlindungan dari cuaca.

Namun kecemasan paling besar dari Libanon yaitu berhubungan kembali ke perang saudara di negara itu, yang dilatarbelakangi dari ketidakpuasan militerisasi warga Palestina di kamp-kamp pengungsi Libanon, yang mana menjadi sasaran penyerangan Israel serta invasi besar-besaran dan pada akhirnya pembantaian terhadap umat Islam disana.

Pemisahan-pemisahan yang mudah menguap itu telah diperdalam sebagai akibat dari perang di tetangganya itu, dengan kelompok Syiah Hizbullah Libanon yang berpengaruh mengirimkan para milisi untuk bertempur di sisi rezim Bashar al-Assad. Kaum Syiah dan banyak orang Kristen di Libanon khawatir bahwa kaum Sunni (umat Islam-red), yang sebagian besar menentang Assad, bisa memanfaatkan masuknya lebih dari satu juta warga Sunni Suriah untuk mengganggu keseimbangan sektarian halus negara .

Di utara Libanon telah menyaksikan gemuruh hebat dari kekerasan yang tumpah, dibubuhi oleh penembakan membabi buta, penculikan dan adu tembak yang menewaskan puluhan tentara Libanon. Berbagai laporan “bertambahnya” dukungan warga Suriah untuk kelompok-kelompok ekstremis seperti ISIS telah memacu rakyat Libanon untuk menumbuhkan permusuhan, dalam beberapa kasus terjadi tindakan anarkis terhadap warga Suriah yang tinggal di lingkungan mereka, dan kebanyakan pelakunya adalah kaum Syiah.

Dalam timbulnya pergeseran kebijakan minggu ini, beberapa analis mengatakan Libanon telah menjadi korban paranoia (ketakutan yang berlebihan). Dawn Chatty, mantan direktur Pusat Studi Pengungsi Universitas Oxford dan penulis beberapa buku tentang pengungsi di Timur Tengah, menolak anggapan bahwa warga Suriah sedang digunakan sebagai pion dalam sistem politik Libanon. "Mereka tidak memilih, mereka benar-benar tidak memiliki dampak dalam perpolitikan Libanon," katanya. "Anda mendengar jenis kekhawatiran yang sama dijajakan di tahun 70-an, tapi bahkan kemudian perang saudara benar-benar lebih dari sekedar tentang memiskinkan rakyat Libanon. "

Chatty mencatat bahwa pembatasan baru, yang masih akan menyediakan pengobatan medis bagi warga Suriah, visa kerja dan pemilik tanah untuk menyeberang, bisa menyulitkan secara logistic untuk dilaksanakan. Pejabat pemerintah juga menggarisbawahi bahwa masih akan ada pengecualian kemanusiaan terhadap peraturan untuk warga Suriah yang paling rentan, meskipun mereka tidak merincikannya .

Dengan cara apapun, para pengamat mengatakan pengumuman secara luas perubahan ke arah kebijakan garis keras pada pengungsi Suriah mungkin menjadi bumerang. Berlipat-gandanya kesulitan hebat warga Suriah, yang kebanyakan bekerja sebagai buruh harian lepas dengan keterbatasan akses ke pendidikan, lebih mungkin daripada tidak memperburuk ketegangan di dalam masyarakat setempat.

Sebaliknya, ia mendesak koordinasi yang lebih baik antara pemerintah pusat dan daerah, dengan tujuan untuk membendung aliran uang bantuan masuk ke kantong politisi korup, uang yang dimaksudkan untuk pengungsi dan masyarakat tuan rumah mereka.

Tapi sementara harapan untuk mengakhiri perang Suriah tetap suram, membandingkannya dengan krisis Palestina adalah terlalu dini, kata Chatty, yang baru saja kembali dari Libanon beberapa minggu lalu. "Persoalan Palestina, negara mereka menghilang (dirampas Israel), mereka menjadi “tak bernegara” untuk selamanya. Sedangkan Suriah, masih ada harapan yang kuat untuk kembali," ungkapnya.

Diolah dari beragam sumber.

Faris | Jurniscom

 

Umat Islam Bima Dukung Fatwa Mati Bagi Penghina Nabi

BIMA (Jurnalislam.com) – Puluhan massa dari Jamaah Ansharusyariah wilayaha Bima bersama ormas Islam lainnya pada Rabu, (21/1/2015) menggelar aksi damai untuk mendukung hukuman mati bagi para penghina Nabi. Aksi ini dilakukan setelah sebuah majalah di Prancis “Charlie Hebdo” membuat karikatur yang menghina Nabi.

Pada aksi ini, massa menggunakan motor dan mobil berkonvoi mengelilingi Kota Bima sembari melakukan orasi dibeberapa titik sentral di Kota itu.

Koordinator aksi, Abu Ridho mengatakan, aksi ini merupakan bentuk pembelaan kepada Rasulullah yang telah dihinakan oleh orang-orang kafir dengan sangat leluasa.

“Oleh karena itu kami umat Islam tidak terima dengan penghinaan ini, serta kami menuntut kepada para penghina Nabi agar mereka dijatuhi hukuman mati," tegasnya.

Mereka juga menyatakan dukungannya kepada dua mujahid bersaudara yang telah membunuh para staf redaksi majalah Charlie Hebdo sebagai bentuk hukuman terhadap para penghina Nabi SAW, meski keduanya akhirnya gugur oleh serangan kepolisian Prancis.

"Dan juga kami sangat mendukung apa yang dilakukan oleh saudara kami “Kuoachi Brother” yang telah berani mempertaruhkan harta satu-satunya milik mereka yaitu nyawanya untuk membela kehormatan Nabi,” imbuhnya.

Salah satu orator aksi, Ustadz Abu Rofi mengajak kaum muslimin untuk membuka mata dan pikiran atas pelecehan-pelecehan yang dilakukan orang-orang kafir terhadap Islam.

"Ini sudah berbicara masalah aqidah. Bagaimana kalau pada hari ini saudara kita yang dilecehkan dan dihina, maka secara otomatis kita juga akan merasa marah," seru Ustadz Abu Rofi.

“Keislaman kita juga masih dipertanyakan kalau pada hari ini ketika orang kafir sudah terang-terangan menghina Nabi, tetapi kita tidak memiliki kepedulian, andil, serta tidak mau melakukan pembelaan kepada Nabi kita,” pungkasnya.

Dan aksi ini adalah merupakan implementasi dari kemarahan umat Islam pada hari ini, karena mereka merasa aspirasi mereka diabaikan oleh orang-orang pada hari ini.

Reporter : Sirath | Editor : Ally | Jurniscom

 

Pemberontak Syiah Houthi Ambil Alih Pemerintahan Yaman

YAMAN (Jurnalislam.com) – Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi dan pemberontak Houthi telah mencapai sebuah kesepakatan pada hari Rabu (21/01/2015) di mana Houthi akan menarik diri dari wilayah istana presiden dan kediaman pribadi presiden di ibukota Sanaa.

Hadi menyatakan kesiapannya menerima tuntutan perubahan konstitusi dan pembagian kekuasaan dengan pemberontak Syiah Houthi, yang mengambil posisi di luar rumahnya setelah mengalahkan penjaga dalam pertempuran selama dua hari.

Sebuah sumber yang dekat dengan presiden mengatakan bahwa Hadi telah bertemu seorang pejabat dari kelompok pemberontak Syiah tersebut, dan membantah bahwa kepala negara mereka menjadi tahanan rumah di dalam rumahnya sendiri, meskipun dikelilingi sejak pagi oleh pemberontak Houthi.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan di malam hari, Hadi mengatakan pemberontak Houthi memiliki hak untuk bekerja di semua lembaga negara, dan rancangan konstitusi yang selama ini menjadi sumber perselisihan antara dirinya dan Houthi telah siap untuk diperbaiki.

Dia mengatakan bahwa pemberontak Houthi setuju untuk menarik pasukan mereka dari wilayah di sekitar istananya, rumah pribadi dan kediaman resmi perdana menteri, serta pangkalan rudal, dan telah berjanji untuk segera membebaskan kepala stafnya, yang telah mereka tawan sejak hari Sabtu.

"Rancangan konstitusi tunduk pada perubahan, penghapusan, perampingan dan penambahan," kata pernyataan itu. Semua pihak sepakat bahwa lembaga pemerintah dan negara, sekolah dan perguruan tinggi harus cepat kembali bekerja, tambahnya.
Setelah bentrokan di kantor presiden dan rumahnya pada hari Selasa, pemimpin Houthi dalam pidatonya semalam mengancam untuk mengambil "tindakan" lebih jauh lagi kecuali Hadi mengabulkan permintaan mereka untuk perubahan konstitusi yang akan menguntungkan Syiah Houthi.

Syiah Houthi, sekutu Iran, masuk ke ibukota empat bulan yang lalu dan telah muncul sebagai kekuatan dominan di negeri ini.

Untuk saat ini mereka tampaknya telah memutuskan untuk menghentikan upaya menggulingkan Hadi secara singkat, dan mungkin lebih memilih untuk mengontrol kepemimpinan Hadi yang telah melemah daripada mengambil jalan kekerasan.

"Presiden Hadi masih di rumahnya. Tidak ada masalah, dia bisa pergi," Mohammed al-Bukhaiti, anggota politbiro Houthi, kepada Reuters.

Perdana Menteri Khaled Bahah meninggalkan kediaman resminya, yang juga telah dikelilingi oleh pasukan Syiah Houthi, menuju "tempat yang aman setelah dikepung selama tiga hari," salah satu ajudannya mengatakan kepada kantor berita Reuters.

Sumber-sumber militer Yaman mengatakan Houthi juga menguasai perguruan tinggi penerbangan militer yang terletak dekat dengan rumah Hadi, dan pangkalan rudal utama di Sanaa, tanpa perlawanan.

Di selatan negara itu, wilayah rumah Hadi, pejabat lokal mengecam kudeta terhadap dirinya tersebut.

Mereka menutup pelabuhan udara dan laut dari kota utama di selatan, Aden, dan menutup jalan masuk area tersebut.

Negara-negara Teluk Arab, yang mendukung Hadi dan menentang pengaruh Iran di wilayah tersebut, mengecam tindakan "teroris Houthi” dan sekutu mereka.

Pemberontak Houthi berhasil meraih kekuasaan setelah negara itu berada dalam kekacauan menyusul tersingkirnya pemimpin Yaman Ali Abdullah Saleh.

Dalam insiden terpisah yang memicu kontroversi, sebuah percakapan telepon yang bocor menunjukkan bahwa Saleh berbicara dengan pemberontak Houthi sebulan setelah kelompok Syiah tersebut menguasai ibu kota Sanaa.

Dalam rekaman audio yang diterima oleh Al Jazeera pada hari Rabu tersebut Saleh terdengar melakukan koordinasi gerakan militer dan politik dengan Abdul Wahid Abu Ras, seorang pemimpin pemberontak Syiah Houthi.

Audio tersebut dilaporkan direkam pada bulan Oktober

Berbicara kepada Al Jazeera dari London, Mohamed Qubaty, mantan penasihat pemerintah di Yaman, mengatakan bahwa jika rekaman audio terbukti benar, hal itu menunjukkan Saleh sebagai "Biang Kerok" di negeri ini.

Pada hari Rabu, Saleh menyerukan pemilihan umum dini, dengan alasan bahwa pemilihan presiden dan parlemen yang lebih awal akan membantu meredakan krisis politik saat ini.

 

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

Pemimpin PEGIDA Mengundurkan Diri Setelah Skandal Foto Hitler

BERLIN (Jurnalislam.com) – Pemimpin gerakan anti-Islam Jerman PEGIDA mengumumkan pengunduran dirinya pada hari Rabu (21/01/2015) di tengah perselisihan mengenai fotonya yang berpakaian seperti Adolf Hitler.

Lutz Bachmann mengatakan kepada koran harian Jerman, Bild, bahwa ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua Patriotik Eropa Menentang Islamisasi Barat, atau PEGIDA.

"Ya, saya mengundurkan diri sebagai ketua," kata Bachmann.

Juru bicara PEGIDA itu, Kathrin Oertel, membenarkan pengunduran diri Bachmann dalam sebuah pernyataan yang dibuat untuk kantor berita Jerman DPA.

Bachmann, 41tahun, dikritik luas pada hari Rabu karena foto yang diposting di Facebook, di mana ia berpakaian seperti Adolf Hitler dengan kumis menyerupai pemimpin Nazi Jerman tersebut.

Bachmann mengklaim bahwa foto itu adalah lelucon.

Sebelumnya, jaksa penuntut umum di timur kota Dresden telah membuka penyelidikan kejahatan rasial terhadap Bachmann yang memposting di Facebook.

PEGIDA menjadi berita utama di Jerman dan di luar negeri setelah kelompok tersebut memulai protes rutin mingguan di Dresden pada bulan Oktober dengan sekitar 500 demonstran. Jumlah ini meningkat secara signifikan dalam tiga bulan terakhir.

Lebih dari 25.000 orang turun ke jalan di Dresden pada 12 Januari setelah terjadinya serangan terhadap majalah satir Charlie Hebdo di Paris di mana 12 orang tewas.

PEGIDA telah menyelenggarakan 12 aksi unjuk rasa di Dresden sampai saat ini.
Mereka membatalkan demonstrasi yang direncanakan di Dresden Senin lalu karena "ancaman terorisme," kata penyelenggara.

Pengikut PEGIDA berniat untuk menggelar unjuk rasa besar di Leipzig pada Rabu malam.

Penyelenggara mengatakan lebih dari 30.000 demonstran diperkirakan akan menghadiri reli.

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Setelah Aksi Penikaman Hamas Serukan Eskalasi Perlawanan

TEPI BARAT (Jurnalislam.com) –  Gerakan Hamas menyampaikan apresiasi terkait operasi penikaman yang dilakukan pejuang Palestina pada Rabu (21/01/2015)) pagi di sebuah kendaraan di kota Tel Aviv, dan menyebutnya sebagai operasi perjuangan.

Tokoh Hamas, Husam Badran dalam keterangan persnya, pada hari itu menyerukan untuk meningkatkan aksi perlawanan baik secara terorganisir maupun individu, hal ini sangat penting untuk membuat jera penjajah zionis dan mempertimbangkan rencana jahatnya terhadap bangsa Palestina.

Badran mengatakan, pelaku operasi ini dengan tidak melihat afiliasi politiknya telah melapangkan hati para ibu yang putera mereka gugur di Palestina. Badran menegaskan pentingnya mempersiapkan operasi jihad di kalangan elemen Palestina.

Tokoh Palestina ini menjelaskan, eskalasi perlawanan individu berhasil menyampaikan pesan kepada segenap pembuat kebijakan Palestina bahwa rakyat Palestina mampu menghadapi realitas yang sulit, dan tidak mau tunduk dan menyerah.

Aksi penikaman melukai 21 warga zionis, 9 di antaranya kritis. Media zionis merilis pelakunya seorang Palestina bernama Hamzah Muhammad Hasan Matruk, berusia 23 tahun, kelahiran kamp Tulkarm, Utara Tepi Barat.

Sumber media zionis menyebutkan, pasukan zionis berhasil menembak dan melukai kaki pelaku, kemudian menangkapnya.

 

Deddy | Infopalestina | Jurniscom

Jaksa Jerman Selidiki Pemimpin Gerakan Anti Islam

JERMAN (Jurnalislam.com) – Jaksa Jerman membuka penyelidikan terhadap pemimpin gerakan anti-Islam PEGIDA pada hari Rabu (21/01/2015) karena menghasut kebencian setelah sebuah surat kabar menerbitkan fotonya yang berdandan seperti Hitler dan melaporkan bahwa ia menggambarkan para pengungsi sebagai 'binatang' dan 'sampah masyarakat.'

'Patriotik Eropa Menentang Islamisasi Barat' (PEGIDA) telah memaksa masuk ke dalam agenda politik dengan slogan-slogan anti-imigran yang telah menarik puluhan ribu orang melakukan unjuk rasa rutin di Dresden.

Sebuah pawai yang diselenggarakan oleh pendahulu gerakan PEGIDA yaitu LEGIDA berlangsung pada Rabu malam di Leipzig setelah polisi melarang pawai PEGIDA di Dresden yang direncanakan berlangsung hari Senin. Polisi juga melarang demonstrasi kontra PEGIDA, karena ada ancaman serangan.

Saat ini, salah satu pendiri PEGIDA, Lutz Bachmann, 41 tahun, sedang menghadapi investigasi kriminal. Ia dihukum pidana atas pencurian tapi membantah tuduhan bahwa dia rasis atau anti-Muslim.

"Proses awal telah dibuka. Kecurigaan akan menghasut kebencian populer," kata juru bicara jaksa negara di Dresden kepada Reuters, dan menambahkan bahwa foto pose Hitler dan komentar lain yang dikaitkan dengan Bachmann telah mendorong penyelidikan.

Media harian Bild mencetak foto Bachmann dengan gaya kumis dan rambut Hitler di halaman depan. Majalah ini juga mengutip perkataannya bahwa foto tersebut dibuat sebagai lelucon, dipicu oleh sebuah buku satir terbaru tentang Hitler berjudul "Er ist wieder da" ("Lihat Siapa Yang Kembali").

Surat kabar The Dresdner Morgenpost juga mengutip pesan Facebook Bachmann yang mengatakan bahwa para pencari suaka bertindak seperti "sampah masyarakat" di kantor kesejahteraan dan bahwa diperlukan keamanan ekstra "untuk melindungi karyawan dari hewan-hewan (maksudnya adalah para pengungsi)".

Gambar Hitler menyebabkan protes di negara yang masih berusaha untuk berdamai dengan masa lalu Nazi-nya.

Wakil Kanselir Sigmar Gabriel, seorang Demokrat Sosial, mengatakan wajah asli PEGIDA telah terbuka/terlihat.

"Siapapun yang memakai kedok Hitler adalah seorang yang idiot atau anggota Nazi. Orang harus berpikir secara hati-hati setelah kejadian seperti ini," katanya kepada Bild.

Dalam sebuah wawancara dengan Reuters pekan lalu, Bachmann mencoba meralat komentar cabul yang dibuat pada tahun 2013, yang disita oleh media Jerman, bahwa "eco-teroris" Greens, mantan pemimpin partai yang pertama dan terpenting, Claudia Roth, harus "dieksekusi".

"Saya adalah orang yang impulsif. Itu adalah tindakan bodoh. Saya tidak pernah bermaksud seperti itu. Tapi saya masih berpikir bahwa Frau (Claudia) Roth tidak tertahankan bagi orang-orang Jerman," katanya. "Pada saat itu saya salah. Saya menyesal saya tidak melawan perilaku impulsif (spontan, apa adanya) saya."

 

Deddy | World Bulletin | Jurniscom