Unjuk Rasa Karikatur Nabi Lumpuhkan Aktivitas Pemerintahan Kashmir

KASHMIR (Jurnalislam.com) – Pasukan pemerintah di wilayah Kashmir yang dikuasai India pada hari Jumat (23/1/2015) melepaskan tembakan peringatan dan gas air mata untuk membubarkan pengunjuk rasa Muslim yang marah terhadap publikasi karikatur Nabi Muhammad di edisi terbaru mingguan satir Perancis Charlie Hebdo.

Aktivitas di wilayah Kashmir yang dikuasai India tersebut terhenti dengan adanya demonstrasi di beberapa tempat memprotes penerbitan kartun oleh majalah Perancis dan beberapa outlet media Barat lainnya.

Kantor-kantor pemerintah dan bisnis ditutup, sedangkan angkutan umum tidak beroperasi saat pemimpin perlawanan Kashmir senior menyerukan penghentian aktivitas secara menyeluruh pada hari Jumat.

Penutupan itu diperintah oleh pemimpin Hurriyat,Syed Ali Shah Geelani dan Mirwaiz Umar Farooq serta ketua Jammu Kashmir Liberation, Yasin Malik.

Hurriyat merupakan aliansi gerakan pro-kemerdekaan di wilayah Kashmir yang saat ini dikuasai India.

Pemerintah India menanggapi protes dengan memberlakukan jam malam di beberapa daerah di Srinagar, ibukota Kashmir yang dikuasai India.

Protes pecah di Srinagar setelah jamaah salat Jumat membawa spanduk bertuliskan "Ganyang Charlie" dan meneriakkan slogan-slogan menentang kekuasaan India dan mendukung Islam.

Pihak keamanan melepaskan tembakan dan gas air mata setidaknya di tiga tempat, sementara demonstran melemparkan batu pada mereka, kata polisi.

Protes serupa juga dilaporkan di beberapa kota dan desa di wilayah Himalaya yang disengketakan.

Tidak ada laporan korban cedera.

Polisi India juga menangkap Ketua Jammu Kashmir Liberation Front, Yasin Malik, sementara ketua Hurriyat, Geelani, 86 tahun, telah menjalani tahanan rumah selama empat tahun terakhir.

Penutupan aktivitas mendapat dukungan dari ratusan pemuda. Banyak dari mereka percaya bahwa kartun itu bukan hanya merupakan serangan terhadap agama Islam, tetapi mereka melihatnya sebagai bagian dari serangan Barat yang lebih besar terhadap identitas Muslim.

"Hak apa yang mereka miliki untuk menerbitkan kartun Nabi kita dan menyakiti miliaran Muslim di seluruh dunia? Mereka secara konsisten menggunakan kebebasan berekspresi untuk melanjutkan hegemoni Barat. Mengapa begitu sulit bagi mereka untuk memahami bahwa kita menganggap bahwa segala representasi Nabi adalah sama dengan menghujat?" Mohammad Saleem Khan, seorang mahasiswa sejarah di Universitas Kashmir yang memprotes dalam demonstrasi, kepada The Anadolu Agency.

"Mereka menganggap Holocaust itu suci, sehingga tidak boleh disentuh oleh satir, sementara mereka berpikir mereka bisa mencerca Nabi kami."

Kashmir, sebuah wilayah Himalaya yang mayoritas Muslim, di beberapa bagian dikuasai oleh India dan Pakistan dan diklaim secara penuh oleh kedua Negara tersebut.

Kedua negara terlibat tiga kali perang, yaitu pada tahun 1948, 1965 dan 1971 setelah mereka dipisah pada tahun 1947. Dua di antara perang tersebut memperebutkan Kashmir.

Sejak tahun 1989, kelompok-kelompok perlawanan Kashmir di wilayah Kashmir yang dikuasai India telah berjuang melawan kekuasaan India untuk kemerdekaan, atau penyatuan dengan negara tetangga Pakistan.

Lebih dari 70.000 orang dilaporkan telah tewas dalam perang itu sejauh ini.

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

Pegida Rencanakan Unjuk Rasa Besar – besaran Pada Hari Minggu

BERLIN (Jurnalislam.com) – Gerakan anti-Islam PEGIDA Jerman mengatakan akan menggelar unjuk rasa besar di Dresden, pada hari Minggu (24/01/2015).

Kelompok kanan populis tersebut biasanya mengadakan demonstrasi setiap hari Senin, namun penyelenggara mengatakan niat mereka mengubah tanggal itu untuk mencegah bentrokan dengan lawan dan demonstran sayap kiri, yang juga menyerukan unjuk rasa pada hari Senin.

"Kami akan membuat pengecualian dan akan bertemu pada hari Minggu kali ini untuk reli ke-13 kami," kata kelompok itu di halaman Facebook resmi mereka pada hari Jumat.

Patriotik Eropa Menentang Islamisasi Barat memulai protes mingguan mereka di Dresden dengan sekitar 500 demonstran pada 20 Oktober 2014, tetapi secara signifikan berhasil meningkatkan basis dukungannya dalam waktu tiga bulan.

Lebih dari 25.000 orang turun ke jalan di Dresden pada 12 Januari setelah terjadinya serangan di majalah Charlie Hebdo di Paris.

Penyelenggara unjuk rasa PEGIDA mengatakan mereka mengharapkan sekitar 25.000 pengunjuk rasa bergabung dalam unjuk rasa hari Minggu di Dresden, yang dipandang sebagai ujian bagi gerakan populis kanan di tengah skeptisisme yang tumbuh di antara masyarakat Jerman tentang tindakan kelompok mereka.

Unjuk rasa yang diselenggarakan pada 21 Januari oleh cabang kelompok PEGIDA di Leipzig menarik kurang dari 1.000 demonstran, jauh lebih sedikit dari perkiraan PEGIDA, yang menyatakan bahwa lebih dari 30.000 orang akan menghadiri acara tersebut.

Skandal yang terkuak baru-baru ini di sekitar pemimpin PEGIDA, perbedaan pendapat dengan kelompok-kelompok terkait di kota-kota lain, serta serangan kekerasan terhadap wartawan selama unjuk rasa di Leipzig, telah menimbulkan kecurigaan tentang kelompok ini.

Lutz Bachmann, pemimpin PEGIDA, mengumumkan pengunduran dirinya pada hari Rabu di tengah perselisihan mengenai foto yang diposting di Facebook di mana ia berpakaian seperti Adolf Hitler.

Bachmann mengklaim foto itu sebagai lelucon, tapi jaksa penuntut umum Dresden membuka penyelidikan kejahatan rasial dalam posting Facebook mantan pemimpin tersebut.

 

Deddy | Anadolu Aggency | Jurniscom

Rezim Suriah Bunuh 35 Warga Sipil Setelah Shalat Jumat

DAMASKUS (Jurnalislam.com) – Setidaknya 35 warga sipil tewas pada hari Jumat (23/01/2015) akibat serangan udara rezim Suriah di Damaskus, menurut pernyataan yang dibuat oleh pihak oposisi.

Angkatan udara rezim Suriah menyerang warga sipil setelah shalat Jumat di desa Hamoriya di pedesaan Damaskus, Komite Koordinasi Lokal Suriah mengatakan.

"Tim medis mengumpulkan bagian-bagian mayat yang robek dan ambulans membawa korban luka ke rumah sakit. Banyak rumah hancur dalam serangan itu dan beberapa orang lainnya terbakar," kata Mahir Hamouri seorang aktivis lokal.

Pasukan udara rezim Suriah membom desa Ghouta timur dekat Damaskus, Hamouri menambahkan.

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

Hamas Gelar Aksi Solidaritas Membela Kehormatan Rasulullah SAW

GAZA (Jurnalislam.com) –  Pada hari Jumat (23/01/2015) ribuan warga Palestina di Gaza turut serta dalam aksi solidaritas membela kehormata Rasulullah SAW di Gaza Utara, mengutuk tindakan pelecehan terhadap Rasulullah Muhammad SAW.

Aksi solidaritas yang digagas Hamas ini berlangsung pasca shalat Jumat di Masjid Khulafa al Rashidin di kamp Jabalia, Gaza Utara. Dihadiri ribuan warga Palestina, termasuk para anggota parlemen dan pimpinan Hamas.

Anggota parlemen asal Hamas, Mushir al Mishri dalam orasinya menyerukan kepada segenap bangsa Arab dan kaum muslimin untuk membela Nabi Muhammad SAW. Dan menyerukan kepada masyarakat Barat untuk membuat batasan jangan sampai berani menghina agama.

Mushir mengatakan, “Sudah tiba saatnya bagi umat Islam untuk sadar, dan melakukan pembelaan terhadap sejarah, baik di masa lampau, saat ini dan masa yang akan datang.” Kelemahan umat Islam dan pemerintahannya membuat Barat dengan seenaknya melecehkan Nabi Muhammad SAW.”

Ditambahkannya, “Kebebasan tak semestinya digunakan untuk menghina dan melecehkan agama.” Dan menghormati agama merupakan bagian dari akidah kita, pungkasnya.

Deddy | Infopalestina | Jurniscom

Buru Anggota MIT, Polres Poso Gelar Razia

POSO (Jurnalislam.com) – Sejumlah petugas kepolisian dari Polres Poso menggelar razia di jalan Trans Sulawesi, Desa Tonipa, Poso pada Rabu, (21/01/2015) lalu. Razia ini digelar guna mengintensifkan perburuan sejumlah orang yang diduga terlibat kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso.

Petugas memeriksa setiap pengendara dan penumpang yang lewat di jalan poros utama Sulawesi Tengah itu seraya memperlihatkan pamflet yang berisi foto para DPO Poso. Mereka juga menggeledah bagasi kendaraan roda dua dan roda empat.

Salah seorang komandan regu dari kepolisian mengatakan ini merupakan bagian dari operasi rutin dalam rangka mempersempit ruang gerak para DPO. “Ini sudah menjadi operasi rutin, sudah beberapa kali kita adakan sweeping di daerah ini, menahan dan memeriksa kendaraan yang lewat kemudian memperlihatkan foto para DPO,” ungkap salah satu komandan yang bertugas.

Namun sampai saat ini, belum pernah ada para DPO yang berhasil ditangkap ketika digelarnya razia.

Para DPO Poso ini sudah lama dicari pihak kepolisian. Di antaranya tertera nama-nama populer seperti Santoso dan Daeng Koro.

Ally | Kiblat | Jurniscom

Tangkap Imron Dengan Cara Biasa, Densus 88 : "Penangkapan Model Apa ini?"

POSO (Jurnalislam.com) – Banyak cerita menarik jika kita mengulik satu per satu kisah yang terjadi di balik penangkapan tertuduh teroris oleh Tim Densus 88. Yang satu ini datang dari kota yang kerap dijuluki oleh media sekuler dengan sebutan “Tanah Suci Para Teroris”.

Pada Senin, (12/01) Imron ditangkap Densus 88 di Desa Tabalu Kecamatan Poso Pesisir. Ia dituding sebagai salahsatu kurir Santoso.

Menurut salah seorang saksi mata sekaligus tokoh muslim Desa Tabalu, Sairin, waktu itu sekitar pukul 05.30 setelah sholat subuh di Masjid Al-Muhajirin, Desa Tabalu, Imron bergegas pulang dari masjid. Tapi di sepanjang perjalanan, ia melihat banyak polisi sudah berkumpul di rumahnya.

Saking banyaknya polisi yang telah mengepung rumahnya, Imron tidak berani pulang. Ia berputar menuju rumah Sairin, salah seorang tokoh Muslim Desa Tabalu. “Dia itu ketakutan dan tidak berani pulang ke rumahnya, dia minta tolong sama saya. Terus saya bilang, ‘kamu ada apa? Kok dicari polisi? Apa kamu salah?’,” ujar Pak Sairin saat dikunjungi Kiblat.net pada Rabu, (21/01).

Ditanya seperti itu Imron hanya diam. Akhirnya, Sairin lansung menemui Komandan Densus yang memimpin operasi penangkapan Imron. “Ini ada apa pak? Imron salah apa?” Tanya Sairin kepada Densus. Kemudian Komandan Densus tersebut memperlihatkan surat penangkapan Imron, seraya berkata, “ini pak surat penahanan Imron, dia terlibat sebagai kurir Santoso,” katanya.

Kemudian, Sairin akhirnya membawa Komandan Densus tadi ke rumahnya. Namun, Sairin sebelumnya sudah berpesan kepada Komandan Lapangan Densus agar tidak membuat kacau saat penangkapan. “Kalau sudah resmi dan ada surat penangkapan begini saya tidak bisa berbuat banyak, pak! Silahkan bawa Imron tapi jangan bikin trauma anak-anak sini, nangkapnya yang biasa-biasa aja pak tidak mau lari ke mana juga, soalnya kita punya anak-anak ini polos-polos dan kemungkinan Imron ini juga tidak tahu-menahu masalah itu, dan apa semua yang dituduhkan,” ujar Sairin kepada Densus. Setelah sampai di rumahnya, Sairin memanggil Imron dan menyerahkan Imron kepada Densus 88.

Setelah Imron dipanggil Sairin, Imron lansung keluar rumah dan Komandan Densus tadi langsung memegangi Imron. Namun, tiba-tiba beberapa anggota Densus 88 langsung turun dari mobil dan membuat formasi mengepung rumah Sairin. Tim berlogo burung hantu itu berada dalam posisi siap sergap dengan senjata lengkap dan baju tempur.

Hal itu, sontak membuat Sairin kaget dan langsung menegur beberapa anggota Densus tadi. “Eh.. eh.. eh… ndak usah begitu pak, ndak usah begitu pak,” kata Sairin saat menegur Densus 88.

Teguran Sairin tentu saja tidak dihiraukan oleh anggota Densus 88. Kemudian, Sairin meminta Komandan Densus tadi untuk menegur anggotanya. “Coba komandan tolong tidak usah bikin begitu, kasihan bikin trauma kalau modelnya seperti ini,” ujar Sairin kepada Komandan Densus.

Lantas, sang Komandan Densus tadi langsung memberi kode dan menyuruh anak buahnya mundur, barulah beberapa anggota Densus 88 tadi berdiri dalam posisi biasa dan mundur.

Setelah itu, Imron lansung dibawa ke dalam mobil menuju rumahnya untuk mengambil barang bukti. Barang bukti berupa terpal dan uang sebesar Rp.300.000. Namun, menurut warga di sekitar lokasi penangkapan, pada saat pengambilan barang bukti di rumah Imron tiba-tiba ada kata-kata keluar dari anggota Densus yang menyatakan tidak menginginkan penangkapan yang aman seperti ini. “Penangkapan model apa ini..!” ujar salah satu anggota Densus 88.

Menurut Sairin, Densus 88 kurang ‘nyaman’ dengan proses penangkapan ala polisi biasa. “Maunya mereka (Densus), proses penangkapan tidak begini. Kurang tahu juga model gimana yang mereka inginkan,” ujar Pak Sairin. Imron segera diborgol dan dibawa oleh Densus berikut barang bukti berupa terpal dan uang.

Sebelumnya, kepada Kapolda Sulteng, Sairin juga menyayangkan penangkapan terhadap Imron. Pasalnya ada kesan bahwa Imron sengaja dibiarkan terjebak sehingga bisa berkomunikasi dengan pelaku lain, kemudian mendapat barang bukti. “Apa tidak bisa diubah cara penangkapannya, kenapa sudah sejauh itu baru ditangkap, membiarkan seolah-olah menjebak pelaku, tidak betul ini,” ungkap Sairin ketika menyampaikan keluhannya melalui telepon kepada Kapolda Sulteng, Brigjen (Pol) Idham Azis.

Keluhan Sairin dijawab dengan pernyataan dari Kapolda bahwa proses penangkapan memang modelnya sudah seperti itu. “Mereka itu sudah lama diintai, kemudian terus diproses hingga pencarian barang bukti,” pungkas Idham.

Ally | Kiblat | Jurniscom

Tuntut Hukuman Mati Penghina Nabi, Ansharusyariah Demo di Depan Kedubes Prancis Jakarta

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Puluhan massa dari Jamaah Ansharusyariah mendatangi Kedubes Prancis untuk memprotes penghinaan kepada Rasulullah oleh majalah Charlie Hebdo di negaranya.

Ba’da shalat Jum’at di Masjid Said Naum, Tanah Abang, massa longmarch menuju gedung Kedubes Prancis di Jl. MH. Thamrin No. 20, Jakarta Pusat.

Sepanjang perjalanan massa meneriakan yel-yel dukungan kepada dua mujahid Prancis, Cherif dan Said Kouachi sembari menyerukan hukuman mati bagi para penghina Nabi.

“Tidak banyak retorika yang harus kita katakan, kecuali satu tebusan bagi kita. Bagi orang yang menghina Rasulullah SAW, mereka harus dihukum mati, dan kami adalah para martyrnya,” tegas Ustadz Haris Amir Falah, di depan gedung kedubes Prancis, Jumat (23/1/2015).

Menurutnya, aksi tersebut merupakan bentuk paling kecil dari pembelaan umat Islam terhadap Nabi Muhammad SAW. "Masih terlalu banyak yang harus kita korbankan lagi,” lanjutnya.

Sebelum membubarkan diri, massa menempelkan pernyataan sikap Ansharusyariah terkait hukuman mati kepada para penghina Nabi di kaca kantor Kedubes Prancis dengan dijaga ketat puluhan aparat kepolisian.

Reporter : Irfan, Zul | Editor : Ally | Jurniscom

Norman Finkelstein : Charlie Hebdo Tabloid Sadisme Bukan Satir

Professor Ilmu Politik Terkenal Dunia Mengatakan Dia ' Tidak Bersimpati ' Untuk Staf Charlie Hebdo

Di era Nazi Jerman, ada sebuah koran mingguan anti-Semit yang disebut Der Stürmer. Dikelola oleh Julius Streicher, Koran itu terkenal karena menjadi salah satu pendukung paling jahat atas penganiayaan Yahudi selama tahun 1930-an.

Apa diingat oleh semua orang tentang Der Stürmer adalah karikatur mengerikan tentang kaum Yahudi, kelompok orang yang menghadapi diskriminasi dan penganiayaan selama era tersebut.

Mereka menggambarkan sepenuhnya tentang orang-orang Yahudi – berhidung bengkok, penuh hawa nafsu, serakah.

"Katakanlah,… di tengah-tengah semua kematian dan kehancuran ini, dua pemuda Yahudi menerobos ke markas besar kantor redaksi Der Stürmer, dan mereka membunuh staf karena telah mempermalukan mereka, menghinakan mereka, merendahkan mereka, menistakan mereka," tanya Norman Finkelstein, seorang profesor ilmu politik dan penulis banyak buku termasuk "The Holocaust Industry" dan "Method and Madness."

"Bagaimana saya akan bereaksi terhadap itu ?," kata Finkelstein, yang merupakan anak korban Holocaust.

Finkelstein menggambarkan sebuah analogi antara serangan dugaan di Koran Jerman dan serangan mematikan 7 Januari kemarin di markas majalah satir Charlie Hebdo Paris, yang menewaskan 12 orang tewas, termasuk editor dan kartunis ternama. Mingguan ini dikenal karena mencetak materi yang kontroversial, termasuk kartun yang sangat menghina tentang Nabi Muhammad pada tahun 2006 dan 2012.

Serangan itu memicu protes besar global, jutaan orang di Perancis dan di seluruh dunia turun ke jalan untuk mendukung kebebasan pers di balik seruan dari "Je suis Charlie," atau "Saya adalah Charlie."

Apa yang dicapai oleh Charlie Hebdo dengan karikatur Nabi Muhammad "bukan sindiran," dan apa yang mereka hasutkan bukanlah "ide," kata Finkelstein.

Sindiran adalah ketika seseorang mengarahkan juga pada dirinya sendiri, menyebabkan dia atau kaumnya berpikir dua kali tentang apa yang mereka lakukan dan katakan, atau mengarahkan pada orang-orang yang memiliki kekuasaan dan hak-hak istimewa, katanya.

"Namun ketika seseorang jatuh dan terhempas, putus asa, miskin, ketika anda mengejek mereka, ketika Anda mengejek seorang tunawisma, itu bukanlah sindiran," tegas Finkelstein.

"Dengan kata lain, aku berikan pada anda sebutannya, sadisme (keinginan yang abnormal untuk berbuat jahat, pent). Ada perbedaan yang sangat besar antara satir (sindiran) dan sadisme. Charlie Hebdo adalah sadisme. Dia bukan satir"

"Orang-orang yang putus asa dan dihina" pada hari ini adalah Muslim, lanjutnya, mengingat sejumlah negeri Muslim disiksa oleh kematian dan kehancuran seperti dalam kasus Suriah, Irak, Gaza, Pakistan, Afghanistan dan Yaman.

Jadi mereka yang menyerang Charlie Hebdo itu tidak berbeda dengan Der Stürmer, “..yang di tengah-tengah segala kematian dan kehancuran memutuskan yang entah bagaimana merasa bersikap mulia dengan mengejek, merendahkan, menghina dan menistakan manusia. Maafkan saya, mungkin itu secara politis sangat tidak benar. saya tidak memiliki simpati untuk [staf Charlie Hebdo]. Haruskah mereka terbunuh? Tentu saja tidak. Namun tentu saja, Streicher (pengelola koran mingguan anti-Semit Der Stürmer, Julius Streicher, pent) seharusnya tidak digantung. Saya tidak mendengar itu dari orang banyak," kata Finkelstein.

Streicher adalah di antara mereka yang diadili atas berbagai tuduhan di Nürnberg, setelah berakhirnya Perang Dunia II. Dia digantung karena kartun-kartun anti-semit yang diterbitkan itu.

Finkelstein mengatakan mungkin ada beberapa yang berpendapat bahwa mereka memiliki hak untuk mengejek bahkan kepada orang-orang yang sengsara dan kehilangan harapan, dan mereka mungkin memiliki hak ini, tambahnya, "Tapi anda juga memiliki hak untuk mengatakan 'Saya tidak ingin memasukkannya ke dalam majalah saya. .. Bila anda memasukkannya juga, anda bertanggung jawab atasnya."

Finkelstein membandingkan kontroversial karikatur Charlie Hebdo dengan "kata-kata perang," doktrin, sebuah kategori pidato yang akan dipidana di bawah hukum Amerika.

Doktrin ini mengacu pada kata-kata tertentu yang mungkin akan menyebabkan seseorang yang diarahkan, untuk melakukan suatu tindak kekerasan. Mereka adalah kategori pidato yang tak dilindungi oleh Amandemen Pertama.

"Anda tidak diizinkan untuk mengucapkan kata-kata perang (fighting words), karena itu setara dengan memukul ke wajah dan itu mencari masalah," kata Finkelstein.

"Jadi, apakah karikatur Charlie Hebdo setara dengan kata-kata perang? Mereka menyebutnya sindiran (satir). Itu bukan sindiran. Ia hanya julukan, tidak ada yang lucu tentang itu. Jika anda merasa lucu, menggambarkan kaum Yahudi dengan bibir besar dan (sebuah) hidung bengkok juga lucu."

Finkelstein menunjuk kontradiksi dalam persepsi dunia Barat tentang kebebasan pers dengan memberikan contoh majalah porno Hustler, yang mana penerbitnya, Larry Flynt, ditembak dan lumpuh pada tahun 1978 oleh seorang pembunuh berantai kulit putih rasialis karena mencetak kartun yang menggambarkan seks antar-ras.

"Saya tidak ingat jika semua orang merayakan 'Kami Larry Flynt' atau 'Kami Hustler,'" ujarnya. "Apakah ia seharusnya diserang? Tentu saja tidak. Namun tak seorang pun yang tiba-tiba merubah ini menjadi prinsip politik dari satu pihak atau yang lainnya."

Rangkulan Barat untuk karikatur Charlie Hebdo adalah karena gambar-gambar yang mengejak dan diarahkan pada umat Islam, katanya.

Pencitraan umat Islam oleh orang-orang Perancis sebagai barbar adalah kemunafikan mengingat pembantaian ribuan orang selama pendudukan kolonial Perancis di Aljazair, dan reaksi masyarakat Perancis terhadap perang Aljazair dari tahun 1954 hingga 1962, menurut Finkelstein.

Demonstrasi massal pertama di Paris menentang perang "tidak ada sampai tahun 1960, dua tahun sebelum perang usai," jelasnya. "Semua orang mendukung perang bumi-hangus Perancis di Aljazair."

Dia mengatakan apartemen filsuf Perancis Jean Paul Sartre dibom dua kali pada tahun 1961 dan 1962, sebagaimana kantor majalahnya, Les Temps Modernes, setelah ia dengan sungguh-sungguh menentang perang.

Finkelstein, yang telah digambarkan sebagai "orang Amerika radikal," mengatakan kehendak Barat terhadap pakaian muslim memperlihatkan sebuah kontradiksi dramatis atas sikap Barat terhadap orang Indian, -penduduk asli di tanah yang mereka duduki selama kolonialisme.

"Ketika orang-orang Eropa datang ke Amerika Utara, hal yang mereka katakan tentang penduduk asli Amerika adalah bahwa mereka begitu biadab, karena mereka berjalan dengan “telanjang.” Para wanita Eropa mengenakan tiga lapis pakaian. Kemudian mereka datang ke Amerika Utara, dan memutuskan bahwa penduduk asli Amerika yang terbelakang karena mereka semua berjalan dengan “telanjang.” Dan sekarang, kita berjalan-jalan dengan telanjang, serta kita mengatakan bahwa umat Islam terbelakang karena mereka memakai begitu banyak pakaian," terang Finkelstein menyindir pihak Barat yang selalu mencari pembenaran atas segala sikap dan perbuatan mereka, walaupun hal itu salah sepenuhnya.

"Bisakah Anda membayangkan sesuatu yang lebih barbar? Melarang wanita mengenakan jilbab?" tanyanya, mengacu pada larangan tahun 2004 tentang jilbab di berbagai pekerjaan layanan publik Perancis.

Karya Finkelstein itu, yang menuduh Yahudi memanfaatkan kenangan Holocaust untuk kepentingan politik dan mengkritik Israel karena menindas Palestina, telah membuatnya menjadi tokoh kontroversial bahkan di dalam komunitas Yahudi.

Dia menolak jabatan profesor di Universitas DePaul pada tahun 2007 setelah perseteruan yang dipublikasikan dengan sesama akademik Alan Dershowitz, seorang pendukung setia Israel. Dershowitz dilaporkan melobi administrasi DePaul, sebuah universitas Katolik Roma di Chicago, untuk meniadakan jabatannya.

Finkelstein, yang saat ini mengajar di Universitas Sakarya di Turki, mengatakan keputusan itu didasarkan pada "alasan transparansi politik." 

Faris | Anadolu | Jurniscom

Pengadilan Mesir Perintahkan Pembebasan Putra Mubarak

MESIR (Jurnalislam.com) – Pengadilan Mesir memerintahkan pembebasan anak-anak presiden terguling, Hosni Mubarak, pada sebuah pengadilan ulang yang tertunda hari Kamis (22/1/2015), kata pengacara mereka, saat gerakan protes yang langka meletus beberapa hari sebelum ulang tahun  pemberontakan tahun 2011 yang menggulingkan otokrat Mubarak.

Pengacara Farid el-Deeb mengatakan bahwa perintah pembebasan Alaa dan Gamal Mubarak berarti mereka segera bebas.

Pengadilan Pidana Kairo dalam sebuah dokumen menjelaskan keputusannya bahwa keduanya telah menjalani 18 bulan waktu hukuman maksimum yang diizinkan di dalam tahanan praperadilan dan untuk itu tidak boleh lagi ditahan sementara menunggu pengadilan ulang mereka dalam kasus korupsi.

Pengadilan ulang diperintahkan oleh pengadilan tinggi Mesir awal bulan ini. Pengadilan telah menjatuhkan tuduhan korupsi lainnya terhadap anak-anak Mubarak pada bulan November.

Protes anti-pemerintah yang langka terjadi di Mesir sebelum ulang tahun pemberontakan populer yang mengakhiri tiga dekade pemerintahan tangan besi Mubarak dan menimbulkan harapan kebebasan dan akuntabilitas yang lebih besar.

Ketegangan telah meningkat untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan.

Pada hari Kamis (22/01/2015), pasukan keamanan dengan cepat membubarkan pengunjuk rasa di pusat kota Kairo setelah insiden serupa terjadi pada Rabu malam di daerah yang sama.

Pendukung Ikhwanul Muslimin memblokir lalu lintas dan melemparkan bom molotov di kota kedua Mesir, Alexandria pada hari Kamis, kata sumber-sumber keamanan. Tiga belas orang ditangkap.

Tentara, yang pada waktu dipimpin oleh Abdel Fattah al-Sisi, menggulingkan Ikhwan dari kekuasaan pada tahun 2013 setelah protes massal terhadap kekuasaan mereka. Sejak itu tindakan keras dijatuhkan untuk kelompok tersebut.

Sisi, yang menjabat sebagai kepala intelijen militer Mubarak, kemudian menjadi presiden terpilih Mesir.

Pada bulan November, pengadilan menjatuhkan tuduhan terhadap Mubarak karena bersekongkol untuk membunuh demonstran dalam pemberontakan 2011, menimbulkan kekhawatiran di kalangan aktivis hak asasi manusia bahwa ia berusaha berkuasa kembali.

Mei lalu, mantan presiden berusia 86 tahun itu menerima hukuman tiga tahun dan kedua anak laki-lakinya dipenjara selama empat tahun dalam kasus mengalihkan dana publik untuk meningkatkan properti keluarga.

Tidak jelas mengapa pengadilan tidak memerintahkan pembebasan Mubarak saat ia juga menunggu pengadilan ulang atas tuduhan yang sama bersama dengan anak-anaknya.

Karena menderita sakit, Mubarak menjalani hukuman di sebuah rumah sakit militer kelas atas di distrik Maadi Kairo. Sumber pengadilan mengatakan ia bisa segera bebas karena saat ini tidak ada tuduhan terhadap dirinya.

 

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

15 Pasukan Musuh Tewas 12 Lainnya Terluka Dalam Pertempuran 10 Hari di Paktika

PAKTIKA (Jurnalislam.com)  – Wartawan kami Al-Emarah melaporkan hari Kamis (22/1/2015) bahwa sebanyak 15 tentara boneka tewas dalam pertempuran selama 10 hari di provinsi Paktika di Afghanistan.

Bentrokan dipicu oleh serangan Mujahidin yang ditujukan pada musuh yang sedang mencoba mendirikan pos militer baru di distrik Wazakhaw provinsi tersebut. Pertempuran berlangsung selama sekitar 10 hari, menewaskan 15 tentara musuh dan 12 lainnya menderita luka-luka serius yang mengancam jiwa mereka saat 7 kendaraan lapis baja musuh ditembak dan dihancurkan oleh Mujahidin selama pertempuran. 3 Mujahidin dilaporkan memeluk kesyahidan dengan tiga lainnya luka-luka.

Sementara itu di Helmand, sebuah konvoi polisi yang sedang mengirim pasukan ditargetkan oleh pejuang heroik pencari syahid Imarah Islam Afghanistan – Abdul Razziq Yasser Zabulwal – dengan bom mobil hari ini sekitar pukul 02:30 waktu setempat.

Bahan peledak dikemas dalam sebuah kendaraan model hatchback kemudian menghantam konvoi di daerah Safyano, menghancurkan sebuah APC dan sebuah truk pickup serta merusak yang lainnya hingga membunuh dan melukai lebih dari 20 musuh bersenjata.

Deddy | Shahamat | Jurniscom