Tips Mudik, Agar Tubuh Fit dan Ibadah Tetap Terjaga

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Musim mudik Lebaran 2015 telah tiba. Fenomena yang terjadi pada masyarakat ini tentunya tidak bisa dibendung. Namun sayangnya, banyak  para pemudik yang meninggalkan ibadah saat melakukan perjalanan mudik.

Direktur Islamic Medical Service (IMS), Drg Fathul Adhim, M.K.M memberikan tips bagi para pemudik agar kondisi tubuh tetap fit dan bisa tetap ibadah disaat melakukan perjalanan mudik. Menurut Fathul, tubuh yang fit memiliki cadangan energi, sehingga walaupun dalam perjalanan mudik dan apabila  terjadi kemacetan,maka tetap kuat menjalankan ibadah puasa.

“Namun apabila badan kita dan keluarga kita kurang fit kesehatannya, usahakan agar perjalanan dilakukan pada sore atau malam hari agar kita tidak kelelahan dan tetap bisa beribadah dengan menjaga puasa. Sahur dan buka dengan menu makanan yang sehat,” kata Fathul, Senin (13/7/2015).

Sementara jika kelelahan maka pemudik disarankan untuk beristirahat. “Usahakan istirahatlah di masjidsambil diniatkan i’tikaf dengan tetap bisa membaca al-Qur`an dan ibadah lainnya. Ketika istirahat, sempatkan olah raga kecil dengan melakukan gerakan relaksasi khususnya pada bagian kaki, tangan dan leher,” saran Fathul.

Tips selanjutnya, jangan makan sembarangan apalagi membeli makanan di pinggir jalan. “Ingat! Tubuh dalam kondisi dalam perjalanan apalagi masih tetap berpuasa, maka daya tahan tubuh kita jadi menurun. Sehingga mudah terkena berbagai macam penyakit,” terang Fathul.

Bila dalam perjalanan ada yang sakit, datangi segera pos-pos kesehatan terdekat yang tersebar di jalur mudikuntuk memastikan kondisi tubuh terkena penyakit apa dan segera mendapat pertolongan.

“Jangan lupa membawa obat-obatan untuk kasus emergency seperti obat diare, sakit kepala, panas, anti mual/muntah. Sakit maag dan lain-lain, khususnya membawa obat yang dianjurkan oleh dokter bagi yang mempunyai penyakit tertentu,” ujar Fathul.*

IMS | Editor : Ally | Jurniscom

Puluhan Ribu Kaum Muslimin Padati Masjidil Aqsha Hidupkan Malam Lailatul Qadr

AL QUDS (Jurnalislam.com) –  Puluhan ribu kaum muslimin dari berbagai daerah di Al-Quds mulai berdatangan ke Masjid Al-Aqsha untuk menghidupkan malam kemulian Lailatul Qadar. Mereka datang dari Tepi Barat, wilayah jajahan 48 bahkan ada yang datang dari Gaza melalui perlintasan Bet Hanun, lansir Infopalestina Senin (13/07/2015).

Koresponden Infopalestina melaporkan sejumlah jalan dan gang di distrik Kota Lama Al-Quds penuh sesak dengan jama’ah kaum muslimin yang hendak shalat di Masjid Al-Aqsh. Mereka menggemakan dzikir, istigfar dan doa demi kemerdekaan Al-Quds dan Palestina dari penjajahan Zionis.

Badan Wakaf Islam telah melakukan persiapan untuk menyambut datangnya puluhan ribu kaum muslimin yang akan beribadah di Masjid Al-Aqsha bahkan dalam kondisi darurat sekalipun.

Sementara itu, Mufti Al-Quds, Syaikh Muhammad Husein menyerukan kaum muslimin memperbanyak doa di 10 hari terakhir menjelang habisnya bulan Ramadhan mubarak ini, khususnya di malam ganjil, malam Lailatul Qadar.

Misi yang diemban kaum muslimin di Al-Quds saat ini adalah untuk menunjukan pada bangsa Arab dan Islam serta dunia seluruhhnya bahwa Masjid Al-Aqsha, Kota Al-Quds adalah milik kaum muslimin dan ini merupakan amanah bagi setiap kaum muslimin dimanapun mereka berada. Mereka harus mengerti betapa Al-Quds ini penuh dengan konspirasi dan upaya yahudisasi Zionis untuk menghapuskan identitas Al-Quds serta Al-Aqsha sebagai milik ummat Islam.

Deddy | Infopalestina | Jurniscom

40 Desa dan 22 Pos Pemeriksaan di Shireen Tagab Dikuasai Mujahidin IIA

FARYAB (Jurnalislam.com) – Pejabat dari provinsi Faryab utara melaporkan bahwa Mujahidin dari Imarah Islam dengan gagah berani telah berhasil menguasai 22 pos pemeriksaan musuh dan mengambil kendali 40 desa di Kabupaten Shireen Tagab, El Emarah News melaporkan Senin (13/07/2015).

Menurut laporan, Mujahidin melancarkan operasi terhadap pasukan bayaran Arbaki di wilayah Astana Baba 6 hari yang lalu. Operasi tersebut berhasil memaksa musuh melarikan diri hari ini setelah 15 pria bersenjata tewas dan lebih dari 20 lainnya terluka.

Mujahidin sepenuhnya juga membersihkan pasukan musuh di 40 desa di wilayah Astana Baba yaitu Qazal Sai, Yaktut, Nawabad, Goraghali, Aritu, Shori Qara, Takht Eshan, Chil Qaduq, Qul Bandi, Sur Qushlaq, Sari Astana Baba, Khwaja Anjir, Gul Qadugh , Shor Bazar, Kohna Qushlaq, Lalka, Karwan Sang, Mulai, Haji Zarif, Haji Jora, Tashlek, Haji Karim, Qarmaqol, Azeem Sari, Maghetu Kalan, Maghetu Khurd, Mahd, Aat Qamar, Farhad, Aal Batur, Bughra, Sardaba, Tetash, Ghor Jari, Jamshed dan Nurzai.

Penduduk setempat menyambut hangat Mujahidin dan menyatakan dukungan penuh mereka, kata para pejabat menambahkan bahwa hanya 2 Mujahidin tewas dan 2 lainnya luka dalam pertempuran 6 hari tersebut.

Laporan ini datang sehari setelah Mujahidin di distrik Qisar merebut kontrol 2 daerah – Uzbeki Qarai dan Khwajazad Khan Akhmast – dari musuh, menduduki sebuah pos pemeriksaan serta membunuh 3 orang bersenjata dan melukai beberapa orang lainnya.

Deddy | Shahamat | Jurniscom

Mualaf di Dunia Barat Butuhkan Banyak Dukungan

AMERIKA SERIKAT (Jurnalislam.com)  –  “Benih keraguan dan cobaan keras,” adalah alasan mahasiswa AS asal Filipina berusia 23-tahun, Charizz Legaspi, tentang mengapa dia berhenti pergi ke gereja dan akhirnya berpaling ke Islam.

Charizz hanyalah salah satu dari ribuan orang di seluruh dunia yang menjadi Muslim setiap tahunnya. Tapi, seperti banyak Muslim baru lain di dunia Barat, dia berjuang keras karena kurangnya dukungan untuk iman barunya.

Penelitian menunjukkan bahwa Islam akan menjadi kelompok agama terbesar dunia di paruh kedua abad ini: “Jumlah Muslim diperkirakan akan meningkat sebesar 73% – dari 1,6 miliar pada 2010 menjadi 2,8 milyar pada tahun 2050,” Pew Research Center yang berbasis di AS mengatakan pada bulan April tahun ini.

Di Amerika Utara, perusahaan riset tersebut mengatakan bahwa Muslim dan pengikut barunya yang berasal dari “agama-agama lain” adalah kelompok agama dengan pertumbuhan tercepat.

Bagi Charizz, ada titik dalam dirinya saat pertengahan remaja di mana dia merasa bahwa dia “benar-benar mulai meragukan keyakinan yang diajarkan di gereja.”

“Jika Anda tidak datang ke gereja tertentu dan menerima Yesus sebagai Anak Allah dan Juru Selamat maka Anda tidak akan masuk surga. Benar-benar menyakitkan bagi saya untuk berpikir bahwa Ayah saya yang telah meninggal tidak akan masuk surga karena dia Katolik dan bukan bagian dari Gereja Kristus,” katanya.

Charizz keluar dari agamanya meskipun masih percaya pada zat yang lebih tinggi. Kemudian ia mulai mempelajari Islam dan Nabi Muhammad.

Bekerja sebagai perwakilan layanan pelanggan di AS, dia secara “perlahan tapi pasti” memeluk Islam sebelum perayaan penting pasca-Ramadhan, yaitu Idul Fitri pada tahun 2013 dengan mengucapkan Syahadat.

Baca juga: 

Syahadat adalah kesaksian publik yang singkat untuk menyatakan bahwa seseorang menerima bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Setelah itu, Charizz beralih ke media online dalam pencariannya untuk mempelajari lebih lanjut tentang agama barunya: “Aku tidak bisa tidur tanpa membaca atau menonton video tentang apa itu Islam dan apa artinya menjadi seorang Muslim,” katanya.

Kesulitan yang ia temui adalah menemukan informasi yang tepat. Untuk itu, ia berpaling ke teman-teman Muslim dan masyarakat luas untuk menjawab pertanyaan dan menghapus keraguannya.

“Menonton video, membaca terjemahan Al-Quran dan Hadits [ucapan Nabi Muhammad], dan meminta teman-teman Muslim membantu ketika saya membutuhkan klarifikasi,” katanya.

Namun, tidak seperti Charizz, banyak orang tidak memiliki kesempatan untuk menjangkau sesama Muslim secara langsung. Untuk memenuhi kebutuhan ini, beberapa kelompok meningkatkan upaya untuk streaming informasi yang dapat dipercaya bagi para Muslim baru.

Baca juga: 

Salah satunya adalah New Muslim Care, atau NMC. Awalnya didirikan di Kanada oleh mualaf Muslim, kelompok ini sekarang aktif di lima negara, termasuk Filipina dan Australia.

Charizz mengatakan inisiatif tersebut membantu para Muslim yang baru, “terutama di awal ketika Anda belajar bagaimana cara berdoa dan semua dasar-dasar menjadi seorang Muslim.”

Manager umum NMC, Julien Drolon, berbicara kepada Anadolu Agency selama kunjungan terakhir ke Istanbul.

Mualaf Perancis berusia 33 tahun itu mengatakan bahwa para mualaf Kanada untuk agama mendirikan inisiatif tersbut pada tahun 2012 setelah melihat bahwa beberapa Muslim baru menyimpang jauh dari Islam. Mereka mengalami kebingungan, kurangnya dukungan sosial dan tidak adanya informasi yang handal dan mudah diakses.

Kelompok NMC sekarang menyediakan buku pegangan, kursus dan pertemuan sosial bagi umat Islam yang baru. “Ketika Anda membeli sebuah produk, Anda mendapatkan service dan support, kan?” Drolon mengatakan, menambahkan bahwa: “Mualaf Muslim membutuhkan dukungan.”

Sebagai seorang mualaf, Drolon mengatakan ia mengalami waktu yang sulit setelah memeluk Islam karena ia memotong hubungan dengan lingkungan lama.

“Saya berhenti berpesta dan bermusik. Aku kehilangan teman-teman saya. Selama enam bulan, saya merasa sendirian,” katanya. Pertemuan sosial NMC membantu melancarkan transisinya ke agama baru.

Ini bukan hanya masalah unik Drolon, namun merupakan tantangan umum bagi banyak mualaf. Drolon memperkirakan bahwa sekitar seperempat dari umat Islam baru memiliki masalah dengan keluarga dan masyarakat.

Ahmet Yukleyen, Associate Professor Hubungan Internasional di Istanbul Commerce University, mengatakan bahwa mualaf sering menghadapi dilema berikut; ditinggalkan oleh masyarakat lama mereka tetapi belum terintegrasi secara penuh dalam masyarakat baru mereka.

“Secara umum, hubungan mualaf dengan keluarga dan teman-teman mereka terganggu. Juga, bahkan jika komunitas Muslim merawat mereka di fase awal memeluk Islam, mereka akan meninggalkannya sendirian nanti,” tambahnya.

Charizz mengatakan bahwa kerabatnya di Filipina – negara yang sebagian besar warganya beragama Katolik – tidak menyetujui sepenuh hati keputusan dia dan keluarganya di AS dan mengarahkan banyak pertanyaan seperti: “‘Apakah kamu menyembah Muhammad?'”

“Saya juga menghadapi beberapa ejekan dari anggota keluarga dan rekan kerja yang mengatakan bahwa saya sekarang adalah ‘teroris’; bahwa saya berpaling ke ‘sisi lain’, dan sejenisnya.

“Tentu saja juga ada tatapan penuh selidik yang saya dapatkan ketika saya mulai mengenakan jilbab,” kenangnya.

Dia akhirnya menjadi anggota dari komunitas Islam di negara bagian Washington dan secara teratur menerima bimbingan dan dukungan dari mereka serta dari imam di masjid itu.

Untuk kelompok penjangkauan, banyak upaya memproduksi literatur pendukung. NMC menerbitkan buku-buku bagi mualaf untuk belajar lebih banyak tentang Islam. Drolon mengatakan kelompok itu telah menyiapkan sebuah buku pengantar dengan bantuan ulama Muslim.

Dia mengatakan buku itu membantu mualaf untuk memprioritaskan Islam: “Islam begitu luas. Sebagai contoh, banyak Muslim baru tidak tahu bahwa mereka harus sholat setelah menjadi seorang Muslim,” kata Drolon.

“Dalam hal download, [orang-orang di] 80 negara di seluruh dunia sudah men-download,” katanya, menambahkan bahwa mereka telah bekerja pada kurikulum untuk mualaf. Mereka juga telah memulai saluran YouTube.

Terlepas dari upaya itu, merangkul agama baru dan belajar mengenai dasar-dasarnya tergantung pada kemauan seseorang, Charizz berpikir:

“Ini adalah tanggung jawab pribadi untuk pergi keluar dan mencari pengetahuan bagaimana menjadi seorang Muslim. Wahyu pertama Nabi  SAW adalah untuk ‘membaca’, dan jadi saya pikir, Al-Quran dan Sunnah [ajaran dan perbuatan Nabi] adalah tempat yang sempurna untuk memulai.”

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

 

 

Junta Thailand deportasi Muslim Uighur dengan Tidak Manusiawi

BANGKOK (Jurnalislam.com) – Kecaman terhadap deportasi 109 muslim Uighur Turki ke China oleh pemerintah Thailand terus berlanjut setelah gambar-gambar di televisi menunjukkan mereka secara paksa dimasukkan ke pesawat dengan kepala tertutup kain hitam, Anadolu Agency melaporkan Senin (13/07/2015).

Gambar yang muncul bertentangan dengan penegasan pemerintah Thailand bahwa seluruh 85 pria dan 24 wanita yang dideportasi akan diperlakukan dengan benar.

"Tindakan mendeportasi para migran dengan penutup di atas kepala mereka ini sangat tidak manusiawi dan kejam," Angkhana Neelapaijit, ketua Kelompok Kerja untuk Perdamaian dan Keadilan, mengatakan kepada the Bangkok Post.

"Meskipun Thailand menandatangani Konvensi menentang penyiksaan dan kekejaman, perlakuan merendahkan dan tidak manusiawi, pemerintah gagal memenuhi hal itu," tambahnya.

Gambar-gambar dari saluran TV Cina, CCTV, menunjukkan Uighur duduk di pesawat dengan borgol dan kain penutup hitam di atas kepala mereka.

Sementara itu, polisi China duduk di sisi mereka.

Pada hari Ahad, Wakil Juru Bicara Pemerintah Thailand Jenderal Weerachon Sukhondhapatipak berusaha untuk membela perilaku otoritas China.

"Tindakan pihak berwenang China layak untuk dipahami," dalam hal penanganan mereka terhadap mereka yang  dideportasi, ia mengatakan kepada the Bangkok Post.

"Ini adalah bagian dari langkah-langkah keamanan otoritas China. Tindakan tersebut diperlukan untuk mencegah resistensi atau percobaan pembajakan pesawat," tegasnya.

Tetapi bahkan kolumnis yang di masa lalu mendukung rezim militer Thailand tersebut mempertanyakan penanganan kasus tersebut.

"Dalam retrospeksi, deportasi orang-orang Uighur ke China adalah kesalahan besar oleh pemerintah Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha, bahkan walau ditambah dengan klaim China bahwa beberapa dari mereka berencana untuk bergabung dengan kelompok jihad di Timur Tengah," Veera Prateepchaikul menulis pada hari Senin di the Bangkok Post.

Pada hari Sabtu, Departemen Keamanan Publik China menyatakan bahwa 109 migran telah berada dalam perjalanan mereka ke "Suriah atau Irak untuk bergabung dengan gerakan jihad."

"Dengan mengirimkan para pria kembali ke China dan mendeportasi para wanita dan anak-anak ke Turki, pemerintah telah sengaja merusak keluarga mereka, memisahkan anak-anak dari ayah, istri dari suami," kata Prateepchaikul.

Dia menggarisbawahi bahwa keluarga tersebut "tidak pernah mungkin dapat melihat satu sama lain lagi."

Sejak awal bulan, sekitar 180 perempuan Uighur dan anak-anak juga telah dikirim – sesuai dengan keinginan mereka – ke Turki.

Uighur telah menjadi pusat perang tarik-menarik diplomatik antara Beijing dan Ankara, dengan China mengidentifikasi Muslim sebagai bagian dari Daerah Otonomi Uighur Xinjiang, sementara Turki menyambut mereka sebagai bagian mereka sendiri.

Pemerintah Thailand telah menegaskan bahwa "proses verifikasi kebangsaan" telah dilakukan untuk memutuskan siapa yang pergi kemana, tapi fakta bahwa hanya seorang pria yang dikirim ke Turki tampaknya bertentangan dengan pernyataan tersebut.

Perwakilan Human Rights Watch untuk Thailand, Sunai Phasuk, mengaku dalam the Bangkok Post edisi Sabtu bahwa anggota keluarga perempuan dan anak-anak dikirim ke Turki, sementara kaum laki-laki – dan beberapa wanita – dikirim ke China.

"Segera setelah pemerintah Thailand dipuji karena mengirimkan lebih dari 170 wanita Turki dan anak-anak ke negara pilihan mereka, pemerintah yang sama membuat kebijakan berkebalikan dengan mengirimkan orang-orang Turki ke negara yang tidak mereka inginkan," kata Phasuk seperti dilaporkan.

Polisi imigrasi Thailand mengatakan pekan lalu bahwa 60 lebih warga Uighur, yaitu 52 pria, empat wanita dan empat anak, masih ditahan di Thailand.

Sejak itu, delapan orang – empat wanita dan empat anak – telah tiba di Turki.

Mereka yang masih tertinggal di Thailand dilaporkan juga akan menjalani proses "verifikasi kewarganegaraan” yang sama.

Komisi Hak Asasi Manusia Thailand, telah menyerukan pertemuan antara pejabat pemerintah dan junta, dengan Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, dan perwakilan Human Rights Watch pada tanggal 24 Juli untuk membahas masalah Uighur.

Beberapa analis mengatakan mereka melihat langkah Thailand sebagai bagian dari kebijakan pelukan China yang lebih luas. Tahun lalu, China merupakan salah satu dari sedikit negara yang tidak mengkritik jenderal Thailand dalam hal kudeta militer mereka.

Ilmuwan politik Pongsudhirak pada hari Senin mendesak pemerintah untuk bergerak.

"Mengirim muslim Uighur kembali ke China untuk mengakomodasi Beijing, sementara Thailand mendapatkan penghinaan internasional hanya menunjukkan betapa militer yang penakut bersedia menjual kebijakan luar negeri tradisional Thailand yang bernilai kepada kanvas global yang kasar dan keras," tulisnya di Post.

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

 

 

Fotografer Pemenang Penghargaan Publikasikan Foto – foto Penganiayaan Muslim Rohingya

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Seorang fotografer pemenang penghargaan yang memiliki sebuah pameran tentang Muslim Rohingya saat ini menyelenggarakan pameran di Istanbul dan mengatakan Turki memiliki relevansi khusus untuk karyanya.

"Istanbul sangat strategis karena Turki adalah salah satu dari beberapa negara di kawasan ini yang benar-benar menunjukkan cukup banyak perhatian atas apa yang terjadi kepada masyarakat Rohingya," kata Greg Constantine kepada Anadolu Agency minggu ini.

"Di Burma (Myanmar), kondisi Rohingya yang tinggal di sana tampak seperti apartheid … Mereka dibatasi hanya pada satu wilayah geografis; mereka tidak bisa datang, mereka tidak bisa pergi … Mereka menerima bantuan medis atau pendidikan yang sangat sedikit untuk anak-anak mereka," tambahnya.

Dibuang ke Antah Berantah (Exiled to Nowhere): adalah kumpulan foto-foto Rohingya di Burma dari 12 kunjungan Constantine ke Myanmar.

Pameran foto ini berfokus pada penganiayaan dan pelanggaran HAM terhadap masyarakat Rohingya, dan sebelumnya juga diadakan di Washington, Bangkok, dan Jenewa.

Constantine mengatakan ia membuat kunjungan pertamanya ke masyarakat Rohingya di negara bagian Rakhine Myanmar pada tahun 2006, dan melakukan delapan perjalanan lagi.

Rakhine adalah rumah bagi sebagian besar masyarakat Rohingya. Sejak bulan Juni 2012, negara mayoritas Buddha tersebut telah bergulat dengan kekerasan sektarian, yang telah menewaskan ratusan orang serta lebih dari 140.000 Rohingya terkurung di kamp-kamp pengungsian internal di Rakhine.

Dalam beberapa tahun terakhir, sekitar 130.000 warga Rohingya juga meninggalkan negara itu melalui laut, menurut PBB.

"Saya sangat terkejut dengan keadaan warga Rohingya yang tinggal di sana," kata Constantine, menuduh masyarakat internasional hanya menaruh sedikit perhatian kepada mereka.

"Saya tahu bahwa saya ingin mendedikasikan banyak waktu untuk menceritakan Rohingya."

Gambar yang menghantui Constantine menunjukkan beberapa keluarga tinggal dalam gubuk bambu, anak berperut buncit yang kekurangan gizi berjalan di antara daerah kumuh, dan warga Rohingya berkumpul dalam kondisi miskin, berusaha bertahan hidup dengan susah payah.

Sebuah gambar menunjukkan tiga wanita Rohingya yang tertutup sedang menatap keluar dari kegelapan. Seolah-olah mata yang menderita tersebut menjangkau Anda.

Sebagai seorang fotografer freelance, Constantine – yang mengatakan ia membayar sebagian biaya melalui hibah – memiliki kebebasan untuk menghabiskan waktu yang lama dengan Rohingya.

"Saya sangat senang berbicara dengan orang. Dan saya selalu bertanya apakah mereka tidak keberatan jika saya mengambil gambar [agar tidak menyerang privasi mereka]," katanya.

Dia mengatakan tidak sulit membuat orang untuk berbicara dengan bantuan penerjemah.

"Masyarakat Rohingya telah sangat tertindas dalam waktu lama sehingga mereka ingin cerita mereka diketahui luas," katanya.

Constantine mengatakan bahwa kunjungannya berlangsung terutama selama 2 sampai 3 minggu, meskipun perjalanan terakhirnya, di November 2014 berlangsung hanya tiga hari.

"Ada demonstrasi besar oleh masyarakat Buddha Rakhine setempat," kenangnya. "Ada beberapa ribu orang berdemonstrasi di jalan-jalan Sittwe (ibukota negara bagian Rakhine), semuanya memprotes keberadaan/eksistensi Rohingya."

Perjalanan saya mendokumentasikan "titik awal kebencian itu," tambahnya.

Tidak peduli seberapa kejam gambarnya dan sangat merangsang pemikiran, Constantine mengatakan ia tidak berada di Turki untuk menjual gambar-gambarnya. Bahkan beberapa fotonya harus dikatakan menggambarkan dengan indah dalam menangkap penderitaan Muslim Rohingya.

"Tujuan dari pameran ini tidak untuk merayakan fotografi, itu adalah tujuan terakhir dari semua ini. Fotografi sebenarnya digunakan sebagai cara untuk melibatkan orang-orang dan mempromosikan pemahaman yang lebih baik (tentang Rohingya).

"Saya fokus pada akar penyebab masalah dan itu adalah penindasan yang mereka hadapi di tanah air mereka – yaitu Burma," kata Constantine.

"Kecuali keadaan berubah di sana, Rohingya akan terus-menerus keluar dari Burma ke negara-negara lain."

Pameran foto Exiled to Nowhere: Burma’s Rohingya, berlangsung hingga 30 Juli di Galata Fotografhanesi di distrik Beyoglu, Istanbul.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

 

“Memuliakan Al-Aqsha” Tema Malam ke 27 Ramadhan 1436 di Palestina

AL QUDS (Jurnalislam.com) – Para pemuda Palestina dan aktivis Tepi Barat meluncurkan tema lailatul qadar  malam ke 27 bulan Ramadhan dengan tema “memuliakan Al-Aqsha” sebagai upaya untuk menghidupkan malam-malamnya di semua plosok Kota Suci.

Para pemuda ini juga meluncurkan temanya ini lewat instagram dengan Hashtag #Alqodr-bil Aqsha dengan tujuan menjaring lebih banyak lagi para pemuda yang ikut dalam program ini.

Para aktvis yang kebanyakan pengguna medsos ini memposting foto-foto dan disain yang mendorong jama’ah shalat untuk bisa hadir di Masjid Al-Aqsha terutama di malam lailatul qadar melaksanakan itikaf, shalat malam pada 27 Ramadhan yang menurut kebanyakan ulama disinyalir sebagai malam lailatul qadar yang disebutkan Allah dalam surat Al-Qadr.

Undangan ditujukan pada bangsa Palestina secara umum untuk mengidupkan malam-malam bulan Ramadhan. Diperkirakan undangan ini akan mendapatkan sambutan dari pada pemuda. Mereka menilai ajakan kali ini didukung luas bangsa Palestina baik yang ada di dalam maupun luar Palestina.

Deddy | Infopalestina | Palestina

Serangan dan Pembunuhan Terhadap Muslim di Myanmar telah jadi Kebiasaan

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Komunitas Muslim Rohingya menghadapi krisis kemanusiaan terburuk di Myanmar dan sangat membutuhkan bantuan dan dukungan, lansir World Bulletin Sabtu (11/07/2015).

"Serangan dan Pembunuhan Muslim di Myanmar telah menjadi kebiasaan. Suatu malam sekitar enam bulan yang lalu, massa Buddha menyerang dan membakar madrasah yang didirikan oleh ayah saya, Jalaluddin Usmani, dan membunuhnya," kata Adul Majeed Madani, anggota komunitas Muslim Rohingya.

"Selain ayah saya, massa Buddha juga membunuh semua orang lain termasuk para guru dan pelajar di madrasah," tambahnya.

Lebih dari 3000 Muslim Rohingya, yang melarikan diri dari Myanmar, sekarang tetap menjadi pengungsi di berbagai belahan Hyderabad, ibukota negara bagian Telangana selatan India.

Myanmar adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Budha. Myanmar memiliki penduduk sekitar 60 juta orang, 90% dari mereka adalah Budha. Negara ini telah bergulat dengan kekerasan sektarian sejak penguasa militer negara itu menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah sipil pada tahun 2011. Lebih dari 250 orang (menurut angka resmi) telah tewas – kebanyakan dari mereka Muslim – dan 140.000 lainnya terpaksa meningsgalkan rumah mereka.

Di negara bagian barat Rakhine, Buddha tidak menerima keragaman agama dan menuduh komunitas Muslim Rohingya secara ilegal memasuki negara itu dan melanggar batas tanah mereka lalu dijadikan alasan untuk bebas menganiaya mereka karena keyakinan agama mereka. Kekerasan mematikan menyebar awal tahun ini ke bagian lain Myanmar dan telah menimbulkan prasangka terhadap Muslim.

Sejak 2012, lebih dari 150.000 Rohingya, sekitar 10 persen di antaranya tinggal di Myanmar, menaiki perahu yang dioperasikan oleh para pedagang manusia untuk mencapai Malaysia, menurut data yang dirilis oleh organisasi hak asasi manusia Arakan Project.

Beberapa negara di kawasan tersebut serta organisasi internasional menyalahkan Myanmar atas terjadinya eksodus imigran, terutama Rohingya, minoritas Muslim yang mengalami penganiayaan dan melarikan diri dari negara itu.

 

Deddy | World Bulletin | Jurniscom
 

Reaksi Akademisi terhadap Undang – undang Kontra Terorisme di Inggris

INGGRIS (Jurnalislam.com) – Ratusan akademisi Inggris mengatakan bahwa Undang-Undang Counter-Terrorism dan Keamanan yang baru hanya akan lebih memaksa timbulnya diskusi politik radikal underground, dan tidak benar-benar membantu mengatasi terorisme di Inggris.

Menurut undang-undang ini, orang-orang yang diduga ekstrimis akan dikirim pada program deradikalisasi, sedangkan seluruh sistem harus diawasi oleh pengawas pemerintah. Tapi undang-undang baru tersebut dikritik sebagai serangan langsung terhadap kebebasan berbicara dan bergerak menuju negara polisi.

Dalam intervensi yang belum pernah terjadi sebelumnya, 280 akademisi, pengacara, dan tokoh masyarakat ramai-ramai mengatakan bahwa hukum kontroversial hanya akan membuat Inggris menjadi kurang aman.

Dalam surat mereka para intelektual mengatakan, "Menumbuhkan jenggot, memakai jilbab atau mencampurkan dengan orang-orang yang percaya bahwa Islam memiliki filsafat politik komprehensif merupakan penanda utama yang digunakan untuk mengidentifikasi 'potensi' terorisme.

Pandangan tersebut berfungsi untuk memperkuat pandangan negatif dunia yang menilai Islam sebagai agama retrograde dan menindas yang mengancam Barat. Undang-undang baru tersebut memperkuat pandangan dunia tentang 'kita' dan 'mereka', membagi masyarakat, dan menabur ketidakpercayaan umat Islam."

Bulan lalu David Cameron mengatakan pemerintah akan memberikan tanggapan "spektrum penuh" terhadap kontra-terorisme, untuk memasukkan pemeriksaan eksternal di universitas dan melarang orang-orang dengan pandangan ekstremis. Ada juga rencana program siaran untuk konten ekstrimis.

Tapi surat akademisi itu menyatakan:  " Undang-undang baru akan berdampak buruk pada debat terbuka, kebebasan berbicara dan perbedaan pendapat politik. Undang-undang tersebut juga akan menciptakan sebuah lingkungan di mana perubahan politik tidak bisa lagi dibahas secara terbuka, dan akan mencari ruang tanpa pengawasan. Oleh karena itu, Undang-undang baru akan membuat kita kurang aman".

 

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

Pertempuran Sengit Kembali Terjadi Ditengah Pengumuman Gencatan Senjata di Yaman

YAMAN (Jurnalislam.com) – Serangan udara koalisi arab dan penembakan berat antara faksi-faksi mengguncang beberapa kota di Yaman, meski gencatan senjata kemanusiaan PBB mulai berlaku tepat sebelum tengah malam.

Gencatan pada hari Sabtu (11/07/2015) itu dimaksudkan berlangsung seminggu untuk memungkinkan pengiriman bantuan ke 21 juta warga negara yang sebagian besar membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Serangan udara menghantam pasukan Houthi dan unit tentara Yaman di ibukota Sanaa dan di kota-kota selatan Taiz dan Aden, di mana warga juga melaporkan serangan artileri intens antara pejuang dan milisi lokal, menurut kantor berita Reuters.

Di Aden, salah satu daerah perang yang paling miskin, saksi mata mengatakan pasukan Houthi menembakkan mortir dan roket Katyusha ke arah pejuang oposisi yang berbasis di wilayah utara dan di sekitar bandara internasional kota.

Brigadir Jenderal Ahmad Asseri, seorang juru bicara militer Saudi yang memimpin koalisi Arab, sebelumnya mengatakan koalisi perlu memastikan bahwa Houthi akan menghormati gencatan senjata dan persyaratan perjanjiannya.

Pemimpin Houthi Abdelmalik al-Houthi mengatakan gencatan senjata harus mensyaratkan "komitmen rezim dan tentara bayaran mereka".

Hakim al-Masmari, editor-in-chief dari Yaman Post, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa rakyat Yaman selalu memandang bahwa gencatan senjata sifatnya rapuh.

"Ada banyak serangan udara di berbagai provinsi. Tidak ada yang mengharapkan bahwa gencatan senjata akan berhasil karena Yaman adalah negara tanpa hukum, yang dikendalikan oleh militan dan bukan pemerintah," kata Masmari.

"Ini adalah gencatan senjata versi Yaman, yang berarti kita hidup di negara tanpa hukum atau negara tanpa pemerintah."

Stephane Dujarric, juru bicara PBB, pada hari Jumat mengatakan, "Situasinya sudah sangat penting dan mendesak agar bantuan kemanusiaan dapat menjangkau semua rakyat Yaman yang rentan tanpa hambatan dan melalui jeda kemanusiaan tanpa syarat".

Lebih dari 80 persen dari 25 juta orang di negara tersebut diyakini membutuhkan beberapa bentuk bantuan darurat.

Pengumuman itu terjadi tak lama setelah utusan PBB untuk Yaman, Ismail Ould Cheikh Ahmed, melakukan negosiasi di Sanaa antara pemberontak Houthi dan pejabat pemerintah Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi yang berada di pengasingan.

Reporter Al Jazeera Kristen Saloomey, melaporkan dari markas PBB di New York, pada hari Jumat mengatakan bahwa lembaga-lembaga bantuan telah siap untuk bergerak secepat gencatan senjata itu dimulai.

Deddy | Aljazeera | Jurniscom