Muslim di AS Distribusikan Makanan Selama Ramadhan

AMERIKA SERIKAT (Jurnalislam.com) – Selama bulan Ramadhan umat Islam bersama dengan badan amal nirlaba Islamic Relief USA menjangkau kota-kota di seluruh negeri untuk mendistribusikan makanan bagi keluarga yang membutuhkan – termasuk anggota Suku Goshute di Utah barat, di mana "pengangguran dan kurangnya pendapatan telah menciptakan kemiskinan generasi, "menurut siaran berita dari Islamic Relief USA.

"The Tribal Nations adalah penduduk asli Amerika Utara, dan budaya hidup mereka bermanfaat bagi semua orang Amerika. Merupakan kehormatan bagi Islamic Relief USA untuk menjadi mitra dengan berbagai organisasi penduduk asli Amerika, membantu mereka mempromosikan masyarakat yang sehat dan berkelanjutan," kata siaran berita itu lagi.

Islamic Relief USA mendistribusikan lebih dari 3.000 paket makanan, yaitu makanan seperti beras, pasta, kacang-kacangan, keju dan kurma. Satu paket dimaksudkan untuk 4 orang. Di Goshutes di Ibapah, dekat perbatasan Nevadah-Utah, para aktivis membagikan paket untuk 30 keluarga, yang berjumlah sekitar 150 orang.

Paket tersebut juga diisi beberapa hal-hal non-tradisional, seperti kurma dan hummus. Elvira Murphy, direktur program pendidikan dalam reservasi, mengatakan, "Keluarga kami mungkin menyiapkan beberapa makanan malam ini dengan beberapa rasa yang berbeda."

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

 

Dihujani Batu, PM Serbia Larikan Diri Saat Peringati Upacara Pembantaian Srebrenica

SARAJEVO (Jurnalislam.com) – Perdana Menteri Serbia dikejar saat upacara pemakaman massal Bosnia dalam peringatan 20 tahun pembantaian Srebrenica.

Aleksandar Vucic terpaksa melarikan diri dengan pengawalnya di bawah hujan batu di tengah doa dan penguburan untuk 136 korban genosida, yang mayatnya ditemukan baru-baru ini.

Warga Potocari meneriakkan kata "Keadilan!" dan "Pergilah Vucic!".– Potocari merupakan lokasi pembantaian Muslim dan anak laki-laki Bosnia pada tahun 1995.

Vucic segera pergi jauh dari pemakaman.

Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu, yang mengomentari situasi tersebut, mengatakan bahwa reaksi kerumunan orang itu sangatlah "normal".

Sementara itu, Amnesty International mengatakan pada hari Sabtu  (11/07/2015) bahwa ribuan anggota keluarga korban "terus dihalangi dari keadilan, kebenaran dan perbaikan".

Direktur Amnesty untuk Eropa dan Asia Tengah John Dalhuisen mengatakan: "Dua dekade setelah dunia mengalihkan pandangannya dari kejahatan terburuk yang dilakukan di tanah Eropa sejak tahun 1945, keluarga korban genosida Srebrenica masih menunggu keadilan."

Dua dekade lalu pada bulan Juli, menjelang akhir perang Bosnia 1992-95, Srebrenica di bagian timur (bekas) negara Yugoslavia mengalami pembunuhan setidaknya 8.000 pria dan anak laki-laki Bosnia di tangan paramiliter Serbia Bosnia.

Amnesty International menambahkan bahwa Bosnia telah meningkatkan sumber daya untuk menuntut kejahatan perang, namun itu "belum cukup" dan menyatakan bahwa penyelidikan baru harus diluncurkan dan saksi harus diberikan perlindungan untuk berani bersaksi.

Antara April 1992 dan Desember 1995, sekitar 100.000 orang tewas dan 2,2 juta orang mengungsi dalam perang yang memperkenalkan frase 'pembersihan etnis'. Hingga 50.000 perempuan, sebagian besar warga Bosnia, diperkosa.

Perang Bosnia dipicu oleh pecahnya Negara Yugoslavia yang menyebabkan Bosnia menyatakan kemerdekaannya pada bulan Februari 1992.

Ibukota Bosnia, Sarajevo, diserang milisi Serbia Bosnia yang didukung oleh tentara Yugoslavia dalam pengepungan terlama sepanjang sejarah modern.

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Bom Barrel Rezim Syiah Assad Bunuh 29 dan Lukai 40 Warga Sipil di Aleppo

Aleppo (Jurnalislam.com) – Setidaknya 29 orang tewas dan 40 lainnya luka-luka pada hari Sabtu (11/07/2015) dalam serangan bom barel yang dilakukan oleh rezim Syiah Suriah di kota Aleppo, Suriah utara, menurut sumber-sumber kemanusiaan dan lokal.

Kelompok the Syria Civil Defense (SCD) mengatakan rezim menjatuhkan setidaknya empat barel penuh bahan peledak selama serangan. Korban termasuk sejumlah perempuan dan anak-anak.

Beberapa bangunan dan truk juga rusak berat dalam serangan tersebut, SCD menambahkan.

Bom Barrel adalah bahan peledak improvisasi yang biasanya terdiri dari barel diisi dengan bahan peledak dan pecahan peluru. Mereka biasanya dijatuhkan dari helikopter, tetapi tidak terarah, sehingga menyebabkan korban massal.

Menurut PBB, lebih dari 220.000 orang telah tewas di Suriah sejak konflik dimulai pada tahun 2011 .

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Striker Tottenham Emmanuel Adebayor Memeluk Islam

AFRIKA (Jurnalislam.com) – Striker Tottenham Emmanuel Adebayor dikabarkan memeluk agama Islam setelah terlihat mengucapkan dua kalimat Syahadat, atau pernyataan iman, dalam video YouTube yang diposting secara online awal bulan ini.

Mengenakan jubah putih, Adebayor dalam deklarasi iman barunya mengatakan; “Wa ash-hadu anna Muhammadan Rasulullah” (..dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).

Adebayor dinyatakan dalam banyak publikasi sebagai pribadi yang sangat religius.

Mantan pemain depan Arsenal, Man City dan Real Madrid tersebut sebelumnya adalah seorang Kristen yang taat beribadah.

Adebayor sebelumnya bermain untuk Metz, Monaco, Arsenal, Real Madrid dan Manchester City. Dia terpilih sebagai Pemain Terbaik Afrika Tahun 2008.

Adebayor digambarkan sebagai pemain yang “tinggi, terampil, kuat di udara dan memiliki kemampuan untuk mencetak dan menciptakan gol,” ia mewakili tim nasional sepak bola Togo di Piala Dunia FIFA 2006 di Jerman, yang menjadi debut negaranya di Piala Dunia.

Pada bulan Januari 2010, Adebayor adalah salah satu pemain yang terlibat ketika bus tim Togo ditembaki dalam perjalanannya ke Piala Afrika 2010 di Angola. Setelah itu ia pensiun dari tugas tim nasional.

Pada 2013 ia kembali ke tim Togo untuk Piala Afrika 2013 di Afrika Selatan, dan membantu timnya lolos ke perempat final. Saat ini ia adalah pencetak gol terbanyak Togo sepanjang masa dengan 28 gol.

Lihat video disini : http://youtu.be/XUbyLMkHUu8

250.000 Kaum Muslimin Hadiri Shalat Jumat Ramadhan Pekan ke Empat di Al Aqhsa

AL QUDS (Jurnalislam.com) –  Ribuan orang sejak Jumat pagi berduyun-duyun di perlintasan Zionis yang memisahkan antara kota Al Quds dan Tepi Barat. Mereka datang ke sana untuk melaksanakan shalat jum’at di pekan ke empat bulan Ramadhan, Infopalestina melaporkan Jumat (10/07/2015).

Sekitar 250 ribu kaum muslimin menunaikan shalat Jumat  di Masjidil Aqsha, mereka datang dari segenap pelosok dan kota di kawasan.

Menurut syekh Azam Khatib, Kepala Bagian Wakaf Islam di Al-Quds, perkiraan menunjukan sekitar 250 ribu kaum muslimin yang shalat Jumat di Masjidil Aqsha hari ini (Jumat).

Sejumlah sumber lokal menyebutkan, tentara Israel telah menempatkan ratusan personelnya di semua perlintasan militer di titik-titik singgung distrik – distrik di Tepi Barat. Mereka hanya mengizinkan para lelaki yang berumur di atas 50 tahun dan perempuan di atas 30 yang boleh masuk ke Al-Alquds tanpa izin.

Sejumlah pos perlintasan berubah menjadi pos antrian yang panjang. Mereka berjubel di dinding pemisah rasis. Penjajah Israel kembali memberlakukan prosedur ketat bagi kaum muslimin yang datang dari Tepi Barat menuju Masjidil Aqsha, dan hanya mengijinkan sekitar 300 warga dari Gaza ke Masjidil Aqsha. Dalam kaitan ini, sejumlah sumber Al-Quds menyebutkan, tentara Israel telah menangkap 50 warga di sekitar distrik Aram, saat mereka berusaha memasuki Al-Quds untuk melaksanakan shalat jum’at di dalam masjid Al-Aqsha.

Syekh Muhammad Husain, Mufti Al-Quds dan wilayah Palestina dalam khutbah Jumatnya mengkritik dan mengecam keras prosedur ketat yang diberlakukan Israel, dan menurutnya sebuah kezaliman melarang kaum muslimin shalat di Al Aqsha.

Khatib mengapresiasi kehadiran kaum muslimin ke Masjidil Aqsha, dan menyeru mereka untuk bersiaga di Al-Aqsha di Ramadhan dan pasca Ramadhan.

Deddy | Infopalestina | Jurniscom

Komandan Chechnya di Suriah Berbaiat kepada Amir Baru Imarah Islam Kaukasus

SURIAH (Jurnalislam.com)  – Salahuddin Shishani, mantan amir Jaish al Muhajirin wal Ansar yang kini memimpin faksi jihad Kaukasus di Suriah, bersumpah setia (berbaiat) kepada Amir baru Imarah Islam Kaukasus Syeikh Muhammad Abu Usman seorang loyalis al Qaeda.  Shishani dan wakilnya, Abdul Karim Krymsky, telah diganti dari kepemimpinan Jaish al Muhajirin wal Ansar (Tentara Muhajirin dan Anshar) bulan lalu.

Shishani mengumumkan janjinya untuk Syeikh Muhammad Abu Usman dalam sebuah video pendek, berdurasi hampir tiga menit, yang dirilis oleh Akhbar Sham, sebuah situs berbahasa Rusia yang sebelumnya mempromosikan kegiatan dan pemimpin Jaish al Muhajirin wal Ansar di Suriah. Video ini juga diterbitkan oleh Kavkaz Center, yang mendukung Imarah Islam Kaukasus. Sebuah terjemahan dari video itu diperoleh The Long War Journal.

Video ini berjudul "Amir Salahuddin Shishani dan mujahidin Imarah Kaukasus di Suriah berjanji setia kepada amir Imarah Kaukasus Abu Usman Gimrinski." Shishani menyebut kelompoknya adalah pejuang "Imarah Kaukasus di Suriah" di masa lalu, dan bahkan telah difoto dengan bendera yang dihiasi dengan kata-kata "Imarat Kavkaz."

Dalam video tersebut, Shishani terlihat dengan para mujahidin  yang dipersenjatai dengan berbagai macam senapan serbu dan granat roket. Senapan anti pesawat juga terlihat di latar belakang.

Shishani dimulai dengan menyesali "berbagai macam perselisihan yang baru-baru ini ditaburkan di tengah mujahidin sehingga menimbulkan kerusakan besar pada jihad," yang ia catat telah terjadi "di semua lini jihad," bahkan di Suriah, mengacu pada perpecahan yang disebabkan oleh munculnya Islamic State (IS), sekaligus juga pada insiden yang menyebabkan diganti dirinya sebagai amir Jaish al Muhajirin wal Ansar. Tapi, menurutnya, "perselisihan bukanlah alasan untuk meninggalkan jihad."

"Agar tidak menyimpang dari jalan ini, kita akan mengarahkan diri pada kesepakatan para ulama Ahluts Tsughur ," Shishani meneruskan.

Kami, para mujahidin Kaukasus, sangat senang telah menerima kabar penunjukan Abu Usman Gimrinski sebagai amir Imarah Kaukasus … Saya, wakil dari Imarah Kaukasus di Syam, Shishani, berbaiat kepada Abu Usman Gimrinski dan saya akan mematuhi dia selama dia mengikuti Quran dan Sunnah. Kami juga mendesak semua Muslim Kaukasus untuk mengikuti dan berkonsolidasi di sekitar Syeikh Abu Usman."

Janji Shishani terhadap Islam Imarah Kaukasus adalah sebuah dorongan yang membantu jihad global al Qaeda.

Shishani dan wakilnya, Abdul Karim Krymsky, telah diganti dari posisi kepemimpinan mereka di Jaish al Muhajirin wal Ansar dan diperintahkan untuk meninggalkan Idlib di Suriah utara pada pertengahan Juni. Keduanya dituduh menolak syariah, atau hukum Islam.

Namun Seorang pejabat pengadilan syariah membantah tuduhan tersebut.

Akhbar Sham mewawancarai Syeikh Abd al Mahdi Razziq, yang awalnya ditunjuk sebagai hakim yang akan meninjau keputusan untuk mengganti Shishani dan Krymysky;  Syeikh Abd al Mahdi Razziq menyangkal bahwa ia menolak syariah. Sebuah transkrip wawancara diterbitkan oleh Kavkaz Center.

Syeikh Abd al Mahdi Razziq juga mengatakan bahwa hakim telah memutuskan untuk mendukung pergantian Shishani, jadi ia mengundurkan diri.

Tidak mungkin ia membelot dari Jihad Global al-Qaeda dan bergabung dengan IS dalam waktu dekat.

Baiat Shishani terhadap Imarah Islam Kaukasus menempatkan dia dalam jaringan Jihad Global al Qaeda. Di masa lalu, Shishani mengecam IS karena menciptakan perpecahan di Suriah.

Deddy | Kavkaz Center | The Long War Journal | Jurniscom
 

Amir Baru AQAP Perbaharui Kesetiaannya Kepada Ayah Tercinta, Syeikh Ayman al Zawahiri

YAMAN (Jurnalislam.com) – Syeikh Qasim al Raymi merilis pesan audio pertamanya sebagai amir baru Al Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP). Syeikh Al Raymi menjadi pemimpin AQAP setelah pendahulunya, Syeikh Nasir al Wuhayshi, gugur (Syahid) dalam serangan pesawat tak berawak AS pada pertengahan Juni. Pesannya telah diterjemahkan oleh SITE Intelligence Group.

Al Raymi menegaskan kesetiaannya kepada "Syeikh terkemuka, ayah tercinta," Ayman al Zawahiri. Dia mengulangi Bayat (sumpah setia) bahwa para komandan dan anggota al Qaeda lainnya telah bersumpah untuk Syeikh Zawahiri.

"Saya berjanji setia kepada Anda, untuk mendengarkan dan mematuhi, pada waktu susah maupun senang, dalam kesulitan maupun kemudahan, untuk bertahan menentang diskriminasi dan tidak bersengketa tentang aturan dengan mereka yang berkuasa, dan menegakkan jihad di jalan Allah Yang Mahakuasa," al Raymi berkata kepada Syeik Zawahiri.

Al Raymi menambahkan bahwa, "Janji ini adalah dari saya dan atas nama semua saudara-saudara saya di AQAP.” Dia menyatakan belasungkawa atas kematian Wuhayshi, yang juga merupakan manajer umum global Al-Qaeda, dan bersumpah bahwa perang melawan AS akan terus berlanjut. "Kalian semua harus mengumpulkan dan mengarahkan anak panah dan pedang kalian terhadap [Amerika]," kata al Raymi kepada "mujahidin" di seluruh dunia.

Pemimpin AQAP ini telah berulang kali menyatakan bahwa AS bermitra dengan Syiah di seluruh Timur Tengah, termasuk Houthi di Yaman, untuk melawan jihadis Sunni. Dan al Raymi mengulangi klaim ini, mengatakan AS dan Barat membutuhkan Syiah "sebagai perisai yang melindungi mereka dari serangan mujahidin, dan alat yang digunakan untuk menundukkan orang-orang Sunni."

Al Raymi memuji kemajuan terbaru yang dibuat oleh koalisi Jaysh al Fateh di Suriah, yang dipimpin oleh Jabhah Nusrah dan sekutunya. Jaysh al Fateh sedang berperang dengan rezim Syiah  Bashar al Assad dan pasukan Syiah lainnya yang didukung Iran.

Al Raymi juga membahas tentang "tawanan kami" yang ditahan di seluruh dunia, termasuk di fasilitas AS di Teluk Guantanamo, Kuba. Dia berjanji bahwa mereka tidak dilupakan dan AQAP akan berjuang untuk membebaskan mereka dari tempat pembuangan tersebut.

Sebelum menduduki jabatan teratas di AQAP, al Raymi menjabat sebagai komandan militer organisasi paling senior. Ini berarti beliau bertanggung jawab atas operasi AQAP sehari-hari di Yaman bahkan sebelum menjadi amir kelompok secara keseluruhan.

Beberapa pendukung Islamic State (IS), sebelumnya menyebarkan desas-desus bahwa al Raymi akan bersumpah setia kepada Abu Bakar al Baghdadi. Al Raymi telah menerima pelatihan dari beberapa pendukung Abu Bakar al Baghdadi, berpendapat bahwa al Raymi akan mengikutinya.

Rumor tersebut tidak memiliki fakta mendasar.

Dalam semua kemungkinan, al Qaeda tidak sedikitpun memiliki kekhawatiran tentang garis suksesi AQAP.

Misalnya, tak lama setelah AQAP mengkonfirmasi kematian Wuhayshi pada tanggal 16 Juni, seorang awak media jihad yang dikenal sebagai Shaybat al Hukama muncul di Twitter.

Dilihat dari koneksi online-nya dan pengetahuan rincinya tentang operasi Al Qaeda, Al Hukama adalah sayap media Al Qaeda. Nama julukannya berarti "anak sulung dari orang bijak," yang merupakan penghargaan untuk Syeikh Zawahiri, yang sering disebut sebagai "orang bijak" bangsa Muslim.

Karena itu, ketika al Hukama mulai menrilis tweet lagi pada pertengahan Juni, kemungkinan untuk menyampaikan pesan atas nama pemimpin senior al Qaeda.

Dalam tweet kedua, Al Hukama mengatakan bahwa Syeikh Ayman al Zawahiri dan bawahannya akan terus memimpin "kebangkitan" jihad.

Al Hukama mengatakan bahwa ini adalah tugas masing-masing Amir Wilayah al Qaeda: Abu Muhammad al Jaulani (Amir Jabhah Nusrah di Suriah), Ahmad Abu Obeida (Amir Shabaab di Somalia), Abu Musab Abdel Wadoud (atau dikenal sebagai Abdelmalek Droukdel, Amir Al Qaeda di Maghreb Islam), Asim Umar (Amir Al Qaeda di benua India), dan al Raymi, Amir AQAP.

Tweet Al Hukama ini menantang, dengan alasan bahwa kematian pemimpin senior al Qaeda tidak akan mengakhiri jihad terhadap Barat dan sekutunya. Tweet-nya juga dimaksudkan untuk menyampaikan pesan sederhana:  Syeikh Zawahiri memelihara jaringan pengikut setia di seluruh dunia.

Dalam beberapa hal, penegasan Al Raymi tentang kesetiaan kepada Syeikh Zawahiri membuktikan maksud al Hukama.

 

Deddy | The Long War Journal | Jurniscom
 

Turki Kritik Pemerintah Thailand Setelah Kirim 100 Muslim Uighur Kembali ke China

BANGKOK (Jurnalislam.com) – Pemerintah Thailand mengkonfirmasi telah "memulangkan" 100 dari sekitar 150 migran Uighur ke Cina, menyebabkan kemarahan di Turki dan kelompok-kelompok hak asasi.

Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi segera menyatakan kewaspadaannya pada hari Kamis (09/07/2015) terhadap deportasi warga yang "berasal dari Turki."

"Saat kami sedang mencari klarifikasi lebih lanjut tentang apa yang terjadi sebenarnya, kita dikejutkan oleh deportasi sekitar 100 orang ini dan menganggapnya sebagai pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional," Volker Turk, Asisten Komisaris Tinggi untuk Perlindungan badan pengungsi PBB mengatakan dalam sebuah pernyataan.

"Saya sangat mendorong pemerintah Thailand untuk menyelidiki masalah ini dan meminta Thailand untuk menghormati kewajiban internasional mendasar, terutama prinsip non-refoulement (tidak memulangkan kembali), dan untuk menahan tindakan deportasi di masa depan," tambahnya.

Turki  mengkritik pemerintah Thailand karena bertindak tanpa pertimbangan terhadap muslim Uighur.

"Kami mengutuk tindakan Thailand yang tidak benar, yang melawan hukum kemanusiaan internasional," kata Kementerian Luar Negeri dalam sebuah pernyataan.

Para migran berasal dari sekelompok yang berjumlah sekitar 350 Uighur yang telah ditangkap sejak Oktober 2013, karena mencoba menyeberangi perbatasan ke Malaysia, Kamboja dan wilayah lainnya.

Di Washington, Departemen Luar Negeri mengutuk deportasi Uighur ke China "di mana mereka bisa menghadapi perlakuan kasar dan kurangnya proses hukum."

"Tindakan ini bertentangan dengan kewajiban internasional Thailand serta bertentangan dengan praktek yang telah lama dilakukan, yaitu memberikan safe haven (lingkungan aman) kepada orang-orang yang rentan," kata juru bicara John Kirby dalam sebuah pernyataan. "Kami akan mendesak pihak berwenang China untuk menegakkan norma-norma internasional dan untuk memastikan transparansi, proses hukum, dan perawatan yang tepat terhadap orang-orang ini."

China mengidentifikasi Muslim Uyghur tersebut sebagai bagian dari Daerah Otonomi Xinjiang, sedangkan Turki menyambut mereka sebagai rakyatnya sendiri.

"Selama berabad-abad Anatolians tidak pernah menolak tamu yang datang," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tanju Bilgic pada hari Jumat.

"Turki, dengan pengertian bahwa, memegang pintu terbuka lebar untuk Uighur yang ingin datang ke negara kami."

Juru bicara pemerintah Thailand Weerachon Sukondhapatipak mengatakan kepada Anadolu Agency melalui telepon pada hari Rabu bahwa Uighur telah dideportasi "sesuai dengan protokol" karena telah ditentukan oleh pemerintah bahwa mereka berasal dari Cina.

Weerachon juga menegaskan bahwa pemerintah telah memulangkan kembali 173 Uighur ke Turki pada tanggal 2 Juli.

Pada hari Rabu, kelompok hak asasi Human Rights Watch mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa yang dideportasi semalam kemungkinan berjumlah 115 orang.

"Mayoritas adalah orang dewasa, tetapi ada beberapa anak-anak," Sunai Phasuk, perwakilan Human Rights Watch di Thailand, mengatakan kepada Anadolu Agency.

Tidak ada penjelasan mengenai perbedaan dalam angka, namun sebagian besar telah ditahan di pusat-pusat penahanan di Bangkok atau di Songkhla di selatan negara itu sejak penangkapan mereka, sehingga sulit untuk melacak jumlah yang tepat.

"Setidaknya 50 Uighur tetap berada di pusat-pusat penahanan di Thailand, dan kami khawatir mereka mungkin juga akan dikirim kembali ke China," tambah Phasuk.

Banyak dari mereka mengaku memiliki kewarganegaraan Turki.

Banyak orang Turki percaya bahwa muslim Uighur adalah di antara sejumlah suku Turki yang mendiami Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang China, dan menganggapnya sebagai bagian dari Asia Tengah, bukan Cina.

Beberapa dari mereka yang dipulangkan kembali ke Turki pada 2 Juli adalah keluarga Uighur yang menghadap ke pengadilan pada bulan Maret, menuntut agar mereka dibebaskan dari penahanan dan diizinkan untuk "pulang" ke Turki.

Selama persidangan, pasangan tersebut menunjukkan fotokopi paspor Turki melalui pengacara Thai, Worasit Piriyawiboon.

"Mereka ingin pergi ke Turki dan kami siap menerima mereka," kata Counsellor Pertama Kedutaan Besar Turki, Ahmet Idem Akay, kepada Anadolu Agency pada saat itu.

"Tapi [pembebasan mereka] terserah pemerintah Thailand."

Namun pengadilan Thailand memutuskan bahwa penahanan berkepanjangan seperti itu adalah sah, tanpa mengatakan ke negara mana – Turki atau Cina – mereka akhirnya akan dikirim kembali.

Pada hari Rabu, Piriyawiboon mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa mereka yang masih dalam tahanan ingin bergabung dengan rekan-rekan mereka yang baru saja tiba di Turki.

"Masih ada sekitar 400 Uighur yang ditahan di provinsi Songkhla [Thailand] dan daerah lain dan kasus mereka dianggap [oleh pemerintah Thailand] menjadi masalah keamanan nasional."

Sekali lagi, tidak ada penjelasan tentang perbedaan antara angka Piriyawiboon dan Human Rights Watch.

Piriyawiboon memperingatkan "China kini terlibat."

"Kasus mereka akan ditangani melalui proses negosiasi antara Cina, Turki dan Thailand. Kasus mereka dianggap sebagai kasus politik," katanya.

Dia menambahkan bahwa sekarang 173 di Turki telah diizinkan untuk meninggalkan Thailand setelah negosiasi panjang antara Ankara dan Bangkok.

"PBB bertindak sebagai fasilitator dalam negosiasi. Penahanan mereka tidak memiliki dasar hukum dan melanggar hak asasi manusia, "katanya.

Pada hari Rabu, Human Rights Watch menyebut deportasi Uighur kembali ke China sebagai "pelanggaran yang nyata."

"Kami masih mencoba untuk mencari tahu secara rinci, tetapi jika kecurigaan kami dikonfirmasi, maka itu jelas melanggar hukum internasional karena Uighur menghadapi pelanggaran HAM serius di China," kata Phasuk kepada Anadolu Agency.

"Pemerintah Thailand terkenal sangat kurang memperhatikan pertimbangan kemanusiaan saat mengirim kembali orang-orang sehingga mereka bisa menghadapi pelanggaran HAM berat, seperti yang telah terjadi di masa lalu terhadap Rohingya atau Hmong," tambahnya.

Kelompok-kelompok HAM mengatakan bahwa Rohingya mengalami kekerasan di Myanmar, sementara Hmong telah lama dilaporkan sebagai korban otoritas Laos.

Thailand membela deportasi tersebut dan mengatakan bahwa mereka telah mengikuti prosedur kemanusiaan yang tepat.

"Pemerintah Thailand telah mengadakan pembicaraan rutin mengenai masalah ini [dengan China]. Kami tidak melakukan apa pun untuk mendukung siapa pun atau melanggar prinsip apapun. Kami telah mengikuti prosedur yang tepat," kata Sukondhapatipak.

Semalam, sekelompok orang berkumpul di luar konsulat Thailand di Istanbul saat terdengar berita bahwa Uighur hendak dideportasi.

Beberapa orang masuk kedalam  gedung, lalu menghancurkan jendela dan menurunkan bendera negara Asia Tenggara.

Kementerian Luar Negeri Thailand menegaskan serangan tersebut dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis sebelum mengirimkan peringatan mengenai kemungkinan pembalasan kepada warga Thailand yang tinggal di Turki.

Junta Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha mengatakan hari Kamis bahwa kedutaan Thailand di Ankara untuk sementara mungkin harus ditutup.

"Saya meminta agar pertama-tama kita menjaga keselamatan staf kedutaan," kata Prayuth kepada wartawan. "Tetapi jika situasi semakin memburuk maka untuk sementara kita mungkin harus menutup kedutaan di Turki."

Keputusan Thailand juga diprotes di Ankara, dimana polisi menghentikan sebuah kelompok yang berusaha  mendekati Kedutaan Besar Thailand.

Massa yang marah gagal saat mencoba meruntuhkan barikade yang didirikan oleh polisi, yang pada satu titik harus memisahkan mereka dari seorang wanita yang telah mereka kepung, karena mengira bahwa dia adalah seorang berkebangsaan China.

Keamanan juga ditingkatkan di sekitar Kedutaan Besar Turki di Bangkok waspada akan pembalasan.

Muslim Uighur – yang merupakan sekitar 45 persen dari populasi Xinjiang – menuduh China telah melakukan kebijakan represif yang menahan kegiatan keagamaan Islam, komersial dan budaya mereka.

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Warga Gaza Terima Paket Zakat dan Donasi dari Muslim Indonesia

GAZA (Jurnalislam.com) – Hari ini, Jumat (10/7/2015) sedikitnya 60 kepala keluarga di kota Shija'iyyah, Gaza Timur menerima zakat fitrah berupa 150 paket bahan makanan siap santap untuk berbuka puasa dan sahur.

Reporter untuk media Islam di Gaza, Abdillah Onim mengatakan pembagian zakat fitrah tahap ke 6 itu merupakan zakat dari pendengar Radio Suara Palestina di Indonesia melalui program Zakat for Gaza.

"Alhamdulillah Zakat Fitrah dan donasinya sedang kami distribusikan, untuk hari ini distribusi di wilayah Shija'iyyah Gaza Timur. Distribusi akan berlanjut hingga 29 Ramadhan 1436 H," kata Onim dalam rilisnya kepada Jurniscom, Jumat (10/7/2015).

Abdillah Onim juga mengatakan warga Shija'iyyah menyampaikan salam dan ucapan terima kasih kepada umat Islam Indonesia. "Terima kasih atas hadiah bingkisan buka puasa dan santapan sahurnya. Syukron jazakallahu, alhamdulillah," lanjut Onim mewakili warga Shija'iyyah.

Sebelumnya tim Zakat for Gaza juga telah mendistribusikan zakat ke beberapa wilayah di Gaza, diantaranya Deir Balah (Gaza), kamp pengungsian Gaza Tengah, Jabalia (Gaza Utara), Kampung Arab Badui (Gaza Timur) dan Johr Dik (Gaza Tengah).

Info distribusi Zakat for Gaza :
Zakat for Gaza kami kelola dalam bentuk :
1. Paket buka puasa dan santapan sahur (2 loyang nasi plus Ayam,1 botol Syrup, 3 kotak Yoghurt).
2. Sahur bersama di masjid2.
3. Bingkisan Baju batu untuk anak yatim dan keluarga fakir.

Distribusi tahap 1 sampai tahap 6 sudah lebih dari 1000 paket yg berhasil kami distribusikan ke warga Gaza,alhamdulillah.

Reporter : Abdillah Onim | Editor : Ally | Jurniscom

Malam Berdarah di Shija’iyyah

JURNALISLAM.COM – Agresi militer Israel atas Gaza pada bulan Juli-Agustus 2014 silam menewaskan lebih dari 2300 warga Gaza dan melukai 11000 orang. Wilayah-wilayah yang terbentang di tepi perbatasan Gaza-Israel menjadi sasaran utama bombardir zionis Israel, salah satunya adalah Shija'iyyah, kota kecil di timur Gaza.

Abdillah Onim yang menjadi saksi hidup atas agresi Israel ke Gaza itu menceritakan, pada hari ke 40 agresi Israel atas Gaza, tentara zionis Israel lengkap dengan senjata berat seperti tank Merkava, jeep serta penembak jitu nekat masuk ke kota Shija'iyyah. Tak hanya itu, iring-iringan pesawat tempur F16 dan pesawat tanpa awak (drone) juga menghiasi langit kota Shija'iyyah kala itu.

"Nyata, bala tentara Israel dilengkapi alat berat memang ingin menguasai wilayah Shija'iyyah karena wilayah ini menjadi pintu utama memasuki kota Gaza, perang darat pun pecah," ungkap Onim

Onim juga mengisahkan kembali bagaimana saat itu Kota Gaza diterangi oleh kobaran api dari rumah warga yang dibombardir. Dentuman bom serta desing peluru ibarat hujan kematian.

"Bergegas saya menuju gedung tinggi di Gaza City, menyaksikan dengan mata kepala dan zoom kamera Canon tertuju di medan pertempuran..allahu akbar," tutur Onim.

Tangis bocah dan teriakan para wanita dan lansia berlarian menghindari dentuman bom sembari memekik takbir. Malam itu, jalan raya Shija'iyyah banjir darah warga sipil. Aspal yang hitam berubah menjadi merah darah, jalan raya dan tepian trotoar tergeletak kaku bersimbah darah dengan luka tercabik cabik.

Luka mengangah dari seorang bocah berusia 16 tahun dengan isi perutnya yang terurai keluar, bibirnya basah dengan kalimat Laa ilaha illallah wa ash hadu anna Muhammadan Rasulullah. Darah mengalir dari lehernya setelah ditebas serpihan bom Israel serta debu yang menutupi raut wajahnya.

Malam berdarah di Shija'iyyah juga merenggut nyawa seorang ibu yang sedang menggendong 2 anaknya. Ia berlari menghindari roket dan bom zionis, namun kematian pun datang tak tebang pilih, sang ibu dan dua anaknya itu tewas dengan tubuh yang tak utuh.

Ally | Jurniscom