Tidak Memiliki Ijin, Umat Islam Solo Desak GIDI Joyotakan Solo Ditutup

SURAKARTA (Jurnalislam.com) –  Ratusan umat Islam Solo dari berbagai elemen yang tergabung dalam LUIS dan warga pada hari Sabtu (18/07/2015) ba'da shalat Ashar berkumpul di Masjid An Nikmah Solobaru untuk melakukan aksi menutup rumah yang dijadikan sebagai GIDI (Gereja Injil Di Indonesia) di Solo.

Rumah yang beralamat di  Jalan Rebab No 17 RT 5 RW III Kelurahan Joyontakan Kecamatan Serengan tersebut sudah puluhan tahun dipakai untuk kegiatan peribadatan tanpa ijin.

Masa bergerak sejauh 1 Km dari Masjid An Nikmah menuju bangunan yang disinyalir sebagai GIDI.

Dalam aksinya yang dikoordinasi oleh Endro Sudarsono, Humas LUIS (Laskar Umat Islam Solo), memberikan surat keberatan terhadap bangunan rumah yg dijadikan gereja sebagai perwakilan GIDI di wilayah Joyotakan Solo.

Beberapa orang yang berada di dalam rumah tersebut diminta untuk keluar, karena tidak memiliki ijin sebagai tempat ibadah.

"Ini baru aksi kecil dari umat Islam Solo sebagai bentuk keprihatinan kita terhadap saudara kita umat Islam yang ada di Papua" tegas Endro Sudarsono.

Sedangkan dari perwakilan Elemen Umat Islam, Ustd Rowi mengajak masyarakat yang berada disekitar gereja  untuk mewaspadai dan melaporkan jika bangunan ini masih digunakan untuk peribadatan.

Aksi  kemudian membubarkan diri dengan tertib setelah surat kesepakatan diterima dari pihak perwakilan GIDI.

 

Reporter :  Ramdan | Editor : Deddy | Jurniscom

Direktur CIIA : Diskriminasi Toleransi serta Gagalnya Aparat dan Intelijen

JAKARTA (Jurnalislam.com) –  Peristiwa pembakaran Masjid Baitul Mustaqin kabupaten Tolikara Papua pada hari Jumat, 17 juli 201, lalu surat edaran pelarangan pelaksanaan Shalat Ied dan penggunaan Jilbab di Tolikara, Papua terus menuai kecaman.

Direktur The Community Of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya menilai kejadian tersebut menujukan toleransi yang selama ini didengungkan tidak dipahami alias masih absurd.

“Buktinya di beberapa wilayah khususnya yang ada di Tolikara itu, (surat) edaran itu terbukti bagaimana mereka orang muslim yang minoritas mengalami diskriminasi yang luar biasa. Lalu di mana toleransinya?” kata Harits, saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (18/07/2105) sebagaimana yang dilansir oleh aktual.com.

 “Ini toleransinya dimana?, ketika orang Islam kemudian menjalankan keyakinannya. Sementara mereka sejak awal mengedarkan himbauan untuk melarang, emang negara ini punya siapa? Ini Indonesia bukan Vatikan, yang dapat melarang di luar kristen untuk melakukan peribadatan yang menjadi keyakinannya,” tegas pemerhati kontra-teroris itu.

Beliau mengatakan, “Jangan toleransi ditekankan untuk orang mayoritas, tetapi orang minoritas juga dalam konteks agama mereka juga harus memahami tentang toleransi juga”.

Pecahnya peristiwa tersebut Harits Abu Ulya juga menganggap gagalnya aparat keamanan dan intelejen mengantisipasi.

 “Ini kegagalan aparat keamanan dan intelejennya, karena dengan edaran seperti itu sudah cukup jelas, ini adalah sesuatu yang potensial gejolak, dan seharusnya diantisipasi sejak awal,” kata Harits.

Pemerhati kontra-teroris ini pun juga berpandangan pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan orang-orang ‘ring satu’ kepresidenan, justru malah membuat keadaan semakin runyam.

Baik yang disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla maupun oleh Kepala Staf Kepresidenan Luhut Panjaitan. Seperti lantaran penggunaan speaker terlalu keras dan mushola yang terbakar atau ketidaksengajaan.

“Justru komentar yang dikeluarkan tidak proporsional, gara-gara speaker lah, seperti JK atau Luhut Panjaitan, dan ini kan menjadi membiaskan masalah, harusnya jika nasi sudah menjadi bubur seperti ini, tangkap saja pelaku (pembakaran) karena itu kan delik kriminalnya jelas, mereka (jemaat GIDI) yang melakukan pembakaran, dengan tindakan yang tegas seperti itu,” pungkasnya.

Deddy | Jurniscom

 

Parade Imarah Islam Afghanistan di Helmand Utara

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com)Imarah Islam Afghanistan yang juga dikenal sebagai Taliban Afghanistan menyerbu sebuah pangkalan militer Afghanistan dan mengarak pasukannya melalui bazaar di Kajaki di provinsi Helmand utara, The long War Journal melaporkan Sabtu (18/07/2015).

Taliban membuat pernyataan dalam sebuah video yang diproduksi oleh Al Emarah dan dirilis pada Voice of Jihad. Gambar dari video tersebut juga disusun oleh akun Twitter Taliban.

Rilis video yang berjudul "Operasi Azm di Provinsi Helmand, Kuburan bagi Kerajaan Inggris," menunjukkan bom istisyhad di sebuah pos pemeriksaan militer Afghanistan dan serangan mortir di pangkalan di provinsi Afghanistan selatan. Beberapa Humvee buatan AS digunakan oleh Taliban. Sebuah Humvee dan beberapa senjata diambil sebagai "Ghanimah" dari pertempuran.

Setelah mengambil alih pangkalan, secara tidak langsung sebagian besar wilayah Kajaki telah diambil alih para mujahidin.

Bulan lalu, pasukan antek AS dikatakan bersiap untuk merebut kembali daerah-daerah di Kajaki  yang telah direbut Taliban. Namun, dilaporkan pekan lalu bahwa mujahidin Imarah Islam Afghanistan  masih menguasai.

Seorang anggota dewan provinsi Helmand mengatakan kepada Pajhwok Afghanistan News bahwa "Taliban telah menguasai semua area [di Kajaki] dan ratusan mujahidin dapat dilihat menjelajahi daerah." Dia kemudian mengatakan bahwa kabupaten tersebut telah berada di bawah kendali Taliban sepenuhnya.

Pertempuran di Helmand adalah bagian dari Operasi Azm, yang dimulai awal tahun ini. Pertempuran yang mengakibatkan sebagian pers Barat memusatkan perhatian terjadi di provinsi Kunduz, Afghanistan utara.

Taliban melancarkan serangan terkoordinasi untuk menguasai Kunduz pada akhir April. Distrik Imam Sahib, Aliabad, dan Qala-i-Zal dikuasai dalam serangan awal. Status kabupaten-kabupaten tersebut  telah dikendalikan Taliban, distrik Imam Sahib dan Aliabad.

Taliban juga telah menguasai kabupaten Dasht-i-Archi dan Chardara, tapi satu hari setelah membuat pernyataan ini pemerintah Afghanistan mengatakan masih mengendalikan Chardara. Untuk membantah klaim pemerintah boneka, Al Emarah Studio merilis video yang menunjukkan mujahidin IIA  berada di distrik Chardara dan mengendalikannya.

Deddy | Jurniscom

FUUI: Umat Islam Selalu Jadi Korban Intoleransi

JAKARTA (Jurnislam.com) – Penyerangan dan pembubaran paksa Shalat Idul Fitri serta pembakaran masjid di Karubaga, ibu kota Tolikara, Papua, pada Jumat (17/7)  memicu reaksi keras berbagai tokoh umat dan bangsa.

Salah satunya dari Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) KH Athian Ali M. Da’i, Lc, MA, dia mengatakan bahwa peritiwa di Tolikara semakin menunjukkan tidak adanya toleransi umat non-Muslim kepada Islam.

“Tidak ada agama yang mengajarkan toleransi dengan sempurna, tidak ada umat yang paling toleran sepanjang sejarah manusia, kecuali Islam dan umatnya,” ujar KH Athian dalam rilisnya kepada jurnalislam.com pada Sabtu (18/7/2015).

Lihat, ujar Kiai Athian, bagaimana nyamannya hidup kaum minoritas memperoleh hak-haknya di negeri yang mayoritas Muslim seperti Indonesia. Sebaliknya lihat saja, ujarnya, bagaimana nasib minoritas Muslim di sejumlah negara. 

"Jangankan memperoleh haknya, bahkan mereka habis dibantai seperti yang pernah terjadi di Bosnia, Chechnya, kemudian Moro, Patani, Myanmar, dan lainnya,” ungkapnya.

Parahnya lagi, lanjutnya, dalam posisi yang masih seimbang saja, umat Islam tetap diperangi. Hal Itu terjadi di Ambon, Poso, dan kini di Tolikara, Papua. Selama ini, kata dia, ummat Islam terus menjadi bulan-bulanan fitnah, lewat "Dagelan Terorisme" yang digelar di berbagai negeri di dunia, utamanya pasca digelarnya "Dagelan Pertama" 11 September di WTC dan Pentagon, yang bagi orang yang waras "Dagelan" ini sangat menggelikan sekaligus memuakkan. 

"Celakanya, ikut pula dagelan-dagelan ini orang-orang yang memakai baju Islam bahkan yang sudah biasa diberi gelar Cendekiawan Muslim, bahkan ada yang bergelar kiai segala! Dan, kini mereka bungkam seribu bahasa!," kritiknya.

Kiai Athian menduga, mereka diam seperti itu karena sudah merasa telah meludahi muka mereka sendiri. "Semoga lewat peristiwa ini, cukup sudah kiranya mengantarkan mereka untuk berhenti dari memfitnah Islam dan ummatnya, dan segera bertaubat pada hari yang fitri ini," tutupnya.

Zarqawi | Jurniscom

New York Empire State Building Nyalakan Lampu Hijau Untuk Hari Raya Idul Fitri

NEW YORK (JUrnalislam.com)New York Empire State Building menyala hijau pada Jumat (17/07/2015) malam saat perayaan Idul Fitri yang menandai akhir bulan suci Ramadhan.

Gedung pencakar langit yang terkenal tersebut akan menyala hijau sampai tiba waktu ditutup untuk umum pukul 2:00 dini hari (0600 GMT), yaitu jadwal bangunan tersebut dipadamkan lampunya.

Seorang juru bicara The Empire State Building mengatakan kepada Agence France-Presse bahwa pencakar langit tersebut setiap tahunnya menyala untuk Idul Fitri, menyatakan bahwa tradisi itu telah dilakukan "selama beberapa tahun sampai sekarang."

The Empire State Building juga diketahui menghormati hari besar agama lain, mengubah warna pastel untuk Paskah, biru dan putih untuk Hanukkah, dan merah dan hijau untuk Natal.

Gedung ini juga sebelumnya menandai sejumlah acara, termasuk World Oceans Day pada tanggal 8 Juni, di mana bangunan berubah warna biru, putih dan ungu.

Bangunan milik swasta, yang biasanya menyala putih setiap malamnya sepanjang tahun, menerima ratusan permintaan setiap tahun agar dinyalakan dalam warna tertentu untuk berbagai sebab dan acara.

Meskipun tidak dipublikasikan, AFP menyatakan bahwa gedung tersebut tidak menerima permintaan untuk kampanye politik, tokoh agama, organisasi atau acara pribadi.

Deddy | AFP | Jurniscom

Demonstran Anti Islam dan Anti Rasis Bentrok di Australia

AUSTRALIA (Jurnalislam.com) – Ratusan polisi dikerahkan di Australia Barat pada haei Sabtu (18/07/2015) untuk membubarkan protes penuh kekerasan di dekat Gedung Parlemen di Melbourne setelah demonstran dari kelompok sayap kanan anti-Islam berhadapan melawan kelompok anti-rasisme.

Demonstrasi yang pertama diselenggarakan oleh "Reclaim Australia" di seantero Australia akhir pekan ini, dengan terus-menerus mempermasalahkan tentang burqa, "ekstremisme Islam" dan "ketakutan bahwa hukum syariah semakin meningkat."

Koran lokal The Age melaporkan bahwa sekelompok sekitar 100 orang baru saja memulai pawai pada pukul 11.00 (GMT0200) ketika kelompok counter-demonstran berusaha menembus garis polisi.

Polisi berkuda memanfaatkan semprotan merica dan ratusan petugas berseragam untuk mengendalikan protes.

Mike Holt, kepala afiliasi "Reclaim Australia" yaitu "Restore Australia" mengatakan bahwa banyak orang yang protes menentang "pertumbuhan Islamisasi di Australia".

"Ini adalah kesempatan untuk memberitahu orang-orang bahwa ada cara yang berbeda … ini adalah tentang menjaga Australia tetap sebagai Australia," dilaporkan The Age.

Sekitar 60 pendukung kelompok garis keras sayap kanan " United Patriots Front " juga bergabung pada pawai Sabtu kemarin.

Pada hari Ahad, Reclaim Australia juga berencana melakukan unjuk rasa di Sydney, Newcastle, Brisbane, Perth, Hobart dan pusat-pusat regional lainnya.

 

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

Pasukan Rezim As Sisi Bunuh 6 Pengunjuk Rasa Setelah Shalat Ied di Barat Kairo

Giza (Jurnalislam.com) – Enam orang tewas dan tujuh lainnya terluka oleh pasukan keamanan pada hari Jumat (17/07/2015) saat melakukan protes anti-rezim setelah sholat Idul Fitri di provinsi Giza di sebelah barat Kairo, menurut keamanan dan sumber medis.

"Rumah sakit menerima mayat enam orang yang tewas," kata juru bicara Kementerian Kesehatan Hossam Abdel-Ghaffar kepada Anadolu Agency.

Sebuah sumber keamanan mengatakan kepada Anadolu Agency pada kondisi anonimitas bahwa enam pengunjuk rasa tewas di kawasan Al-Talbiya distrik Al-Haram di selatan Giza "dalam bentrokan dengan pasukan keamanan."

Menurut sumber yang sama, 12 orang lainnya ditangkap selama huru-hara.

Saksi mata mengatakan salah satu korban adalah demonstran perempuan.

Saksi mata juga mengatakan di bagian lain Giza,termasuk kabupaten Nahiya dan Al-Omraniyah, berlangsung protes serupa terhadap Presiden Abdel Fattah al-Sisi-yang, kata mereka, telah dipadamkan oleh pasukan keamanan menggunakan peluru tajam.

Ikhwanul Muslimin – kelompok Presiden Mesir yang digulingkan dan dipenjarakan, Muhammad Mursi, mengecam respon keamanan yang keras terhadap protes di hari Jumat tersebut, dan menggambarkannya sebagai "tindakan dendam oleh pembunuh."

Mesir berada dalam ketidakstabilan sejak Mursi, presiden pertama Mesir yang terpilih secara demokratis, digulingkan dalam kudeta militer pada tanggal 3 Juli 2013.

Dalam dua tahun sejak itu, rezim Mesir telah melancarkan tindakan keras pada perbedaan pendapat politik yang telah menyebabkan ratusan lawan rezim As Sisi di bunuh  dan puluhan ribu lainnya mendekam di balik jeruji besi.

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

 

Laskar Umat Islam Solo : Tangkap Pendeta Nayus Wenea dan Marthen Jingga

SOLO (Jurnalislam.com)  – Berdasarkan telaah dan kajian dari Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) bahwa Tragedi Pembakaran Mushola Baitul Mustaqin kabupaten Tolikara Papua Jumat, 17 juli 2015 sekitar pukul 07.00 saat Imam Sholat Iedul Fitri mengumandangkan takbir pertama telah ditemukan data-data sebagai berikut:

Adanya Surat Resmi Pelarangan Berjilbab dan Perayaan Idul Firti pada tanggal 17 Juli 2015 dari Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) No : 90/SP/GIDI-WT/VII/2015 yang ditembuskan ke Bupati, Ketua DPRD, Kapolres dan Kodim Tolitora tertanggal 11 Juli 2015 yang ditandatangani Ketua GIDI Tolitora Pdt. Nayus Wenea, S.Th dan Sekertaris Marthen Jingga, S.Th; MA dengan Alamat Surat kepada Umat Islam Se-Tolikara.

Mushola Baitul Mustaqin merupakan Mushola yang berada di wilayah hukum Koramil 1702/JWY.

Kerugian yang dialami diantaranya, 1 tempat ibadah Mushola Baitul Mustaqin di wilayah hukum TNI, 70 rumah kios yang berkontruksi kayu terbakar, 11 orang terluka dari kelompok Perusuh.

Berdasarkan temuan data diatas maka LUIS menduga bahwa Surat dari GIDI tentang Pelarangan Berjilbab dan Perayaan Idul Firti pada tanggal 17 Juli 2015 merupakan awal provokasi dan penyebab terjadinya ”Tragedi Dibakarnya Mushola Baitul Mustaqin.”

Terkait hal tersebut LUIS meminta kepada aparat kepolisian agar menangkap, memeriksa Ketua GIDI Tolitora Pdt. Nayus Wenea, S.Th dan Sekertaris Marthen Jingga, S.Th; MA karena telah menciptakan rasa tidak nyaman dan diskriminatif terhadap umat Islam di Tolikora, serta mendalami dugaan adanya hasut, menggerakan massa maupun aktor intelektual dibalik pembakaran Mushola Baitul Mustaqin.

“Tangkap pendeta Nayus Wenea dan Marthen Jingga yang menjadi provokator kasus pembakaran masjid” ujar Endro Sudarsono Humas LUIS. Jumat (17/7).

Menangkap 70 orang perusuh karena telah merusak Mushola Baitul Mustaqin yang merupkan simbol tempat ibadah umat Islam sekaligus perlu diingat bahwa Mushola tersebut berada di wilayah hukum TNI, yang merupakan fasilitas negara untuk Bimbingan Mental (Bintal) para prajurit.

Segera memprioritaskan pendekatan penegakan hukum dan menyampaikan ke publik para pelaku pengrusakan Mushola Baitul Mustaqin agar ada kepastian hukum sekaligus menghindari adanya penilaian pembiaran perbuatan melawan hukum.

Deddy | Jurniscom

Muslim di Seluruh Dunia Rayakan Idul Fitri

ANKARA (Jurnalislam.com) – Ribuan anggota minoritas Muslim Australia berkumpul di masjid dan pusat komunitas pada Jumat (17/07/2015) pagi untuk melaksanakan shalat dan mendengarkan "khotbah" Idul Fitri.

Setelah berpuasa selama bulan Ramadhan, jamaah dari berbagai latar belakang bergabung dalam sholat Id berjamaah yang dimulai sekitar pukul 7,30-8,00 pagi (2200-2300GMT) di Melbourne.

Di Masjid Sunshine, imam (pemimpin agama Muslim) Mustafa Asmaci mengatakan kepada jamaah yang beragam, "Sebagai Muslim yang tinggal jauh dari tanah air kita memiliki tanggung jawab untuk mewakili Islam dengan cara terbaik."

Khotbahnya difokuskan pada perilaku positif yang dilakukan orang beriman selama hari raya, menekankan bahwa kebencian dan kepahitan harus dikesampingkan. Dia menyerukan umat Islam untuk juga mengunjungi orang tua mereka serta orang sakit dan lanjut usia, sambil berjuang untuk menanamkan sukacita pada anak-anak.

Asmaci menyatakan kepada Anadolu Agency kepuasan bahwa orang-orang memenuhi masjid untuk shalat.

 "Kami sangat senang melihat saudara-saudara kami bertukar salam Idul Fitri dalam kesatuan dan kebersamaan komunal, kemudian meneruskan solidaritas mereka serta berkumpul di masjid," katanya.

Sekitar tiga jam kemudian, jutaan orang Indonesia berbondong-bondong ke lapangan dan masjid dengan pakaian terbaik mereka untuk melaksanakan sholat di seluruh wilayah negara berpenduduk Muslim paling padat di dunia.

Jubair, seorang imam di provinsi Jawa Timur yang seperti banyak orang Indonesia hanya menggunakan satu nama, mengatakan kepada petugas masjid untuk tidak salah menafsirkan konsep "jihad" seperti beberapa kelompok yang memahami bahwa hal itu berarti mengangkat senjata.

"Karena salah menafsirkan jihad oleh kelompok-kelompok tertentu, Indonesia tampil sebagai Negara teroris. Tapi itu tidak benar," Jubair mengatakan di Kota Malang seperti dikutip kantor berita Antara.

Setelah shalat, orang-orang meminta maaf untuk setiap kesalahan kepada anggota keluarga mereka, tetangga dan teman-teman.

Mereka juga berkumpul untuk makan hidangan tradisional seperti "opor ayam" (kari ayam), "sambal goreng ati" (hati sapi pedas) dan "semur daging" (daging direbus), yang disajikan dengan "ketupat" (panganan yang terbuat dari beras yang dikemas dalam wadah anyaman berbentuk berlian dari daun kelapa).

Muslim yang tinggal di negara-negara Eropa seperti Jerman, Perancis, Belanda, juga berbondong-bondong ke masjid untuk shalat Idul Fitri.

Lebih dari 2.000 Muslim yang tinggal di Paris mengucapkan selamat satu sama lain setelah sholat di Masjid Agung di ibukota.

Setelah solat, konsulat jenderal Turki di Rotterdam, Belanda, Togan Oral mengatakan: "Merayakan hari-hari khusus di luar negeri membuat orang merasakan  emosi dan kebahagiaan yang berbeda."

Di Jerman, duta besar Turki di Berlin, Huseyin Avni Karslioglu melaksanakan sholat bersama dengan sesama warga.

Muslim di Yunani harus pergi ke Stadion Perdamaian dan Persahabatan di Athena, karena tidak ada masjid di ibukota. Setelah sholat, permen dibagikan kepada anak-anak.

Sementara itu, Muslim di Moskow menghadapi kesulitan untuk sholat di masjid. Di ibukota Kyrgyzstan, ribuan umat Muslim melaksanakan sholat di luar gedung Perdana Menteri.

Ribuan umat Islam di seluruh negara-negara Balkan juga berkumpul Jumat pagi di masjid-masjid lokal untuk shalat Idul Fitri.

Bosnia dan Herzegovina yang memiliki penduduk Muslim terbesar di antara negara-negara Balkan, mulai merayakan hari raya dengan mengingat para syuhada saat ratusan warga dari segala usia berkumpul di masjid bersejarah terbesar, Masjid Gazi Husrev-beg di ibukota Sarajevo.

Grand Mufti Hussein Kavazovic mengatakan bahwa para syuhada Perang Bosnia, antara lain, telah berjuang agar generasi mendatang dapat menjalankan agama mereka seperti yang diperlukan.

"Begitu banyak darah telah tertumpah agar kami menerima apa yang kita miliki saat ini," kata Kavazovic.

Warga daerah Balkan menandai Idul Fitri dengan berkumpul di kediaman anggota tertua keluarga dan kemudian mengunjungi kerabat selama tiga hari Idul Fitri.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Presiden Rusia : Moskow Berubah Setelah Idul Fitri

MOSKOW (Jurnalislam.com) – Pemerintah kota Moskow harus menutup lalu lintas sebagian wilayah ibukota pada hari Jumat (17/07/2015) untuk mengakomodasi jamaah sholat selama Hari Raya Idul Fitri, yang menandai akhir bulan puasa Ramadhan.

Selain lima masjid yang disiapkan untuk menyelenggarakan sholat Id berjamaah, kota telah mengalokasikan wilayah di tiga taman untuk melayani umat Islam, Balai Kota mengatakan dalam sebuah pernyataan. Polisi akan menginstal detektor logam dan akan meminta orang-orang yang berniat masuk untuk menunjukkan ID, kata pernyataan Balai Kota.

"Masjid Moskow tidak dapat mengakomodasi seluruh orang yang akan beribadah Idul Fitri," kata pernyataan itu saat menjelaskan mengenai pengalokasian sebagian taman untuk shalat.

Lebih dari 160.000 orang tahun lalu menghadiri sholat Idul Fitri, yang dikenal di Rusia sebagai Uraza Bairam, menurut perkiraan Kementerian Dalam Negeri yang dikutip oleh portal berita Moskow M24.

Menurut Moskow Times, pemerintah kota juga merencanakan akan menghapus atau menutupi billboard iklan yang menampilkan model berpakaian minim atau gambar lain yang bisa "menyinggung perasaan keagamaan umat Islam" di lokasi sholat, seorang pejabat tak dikenal di kantor walikota mengatakan seperti dikutip olehportal berita Moskow M24.

Aktivis Muslim Airat Kasimov, yang menyediakan layanan "Masjid mobile" dengan bus untuk memfasilitasi shalat keliling, menyambut baik rencana untuk menutupi billboard tersebut, kata laporan itu.

"Selama sholat, seharusnya tidak ada penggambaran hewan atau orang di depan jamaah," dia mengatakan seperti dikutip.

Jadwal kereta bawah tanah juga mengalami beberapa perubahan: Pintu masuk ke stasiun Prospekt Mira di jalur oranye akan ditutup pada Jumat pagi, dan kereta akan berjalan melewati stasiun tanpa berhenti, kata pernyataan itu. The Prospekt Mira stasiun pada garis cincin (coklat) akan tetap terbuka.

Di antara masuknya sejumlah besar jamaah sholat Idul Fitri setiap tahun di Moskow, hanya sekitar 20 persen yang merupakan warga ibukota Rusia tersebut, juru bicara City Hall mengatakan dikutip oleh M24.

"Sisanya adalah migran yang tinggal di beberapa wilayah Moskow, atau pengunjung dari daerah lain," juru bicara tersebut melanjutkan seperti dikutip.

Presiden Rusia juga mengucapkan selamat kepada umat Islam Rusia melalui pesan Idul Fitri yang mengatakan bahwa:

"Dengan akan segera berakhirnya bulan suci Ramadhan, lebaran adalah waktu untuk refleksi spiritual yang mendalam, kebahagiaan peningkatan kekuatan iman, pengalaman berharga, pemurnian moral dan dengan demikian membawa peluang pengembangan diri yang baru.

Muslim pada kesempatan ini tidak hanya merayakan dengan pesta yang meriah, tetapi juga merayakan dengan memberikan uluran tangan kepada mereka yang membutuhkan. Organisasi Muslim yang berpartisipasi dalam masyarakat Rusia secara aktif adalah penting. Hubungan mereka pada tingkat bisnis dan masyarakat, berkolaborasi tanpa lelah, khususnya mereka yang terlibat dalam aksi amal, pendidikan dan kesadaran memainkan peran besar.

Para ulama Muslim yang juga melawan ekstrimis yang mendistorsi nilai-nilai Islam, menghapus kebencian dan intoleransi layak mendapat penghormatan. Kegiatan-kegiatan konstruktif dan beragam tersebut memperkuat persahabatan dan saling pengertian, sehingga membantu melestarikan rekonsiliasi dan perdamaian di negara kita".

 

Deddy | World Bulletin | Jurniscom