FUUI: Umat Islam Selalu Jadi Korban Intoleransi

JAKARTA (Jurnislam.com) – Penyerangan dan pembubaran paksa Shalat Idul Fitri serta pembakaran masjid di Karubaga, ibu kota Tolikara, Papua, pada Jumat (17/7)  memicu reaksi keras berbagai tokoh umat dan bangsa.

Salah satunya dari Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) KH Athian Ali M. Da’i, Lc, MA, dia mengatakan bahwa peritiwa di Tolikara semakin menunjukkan tidak adanya toleransi umat non-Muslim kepada Islam.

“Tidak ada agama yang mengajarkan toleransi dengan sempurna, tidak ada umat yang paling toleran sepanjang sejarah manusia, kecuali Islam dan umatnya,” ujar KH Athian dalam rilisnya kepada jurnalislam.com pada Sabtu (18/7/2015).

Lihat, ujar Kiai Athian, bagaimana nyamannya hidup kaum minoritas memperoleh hak-haknya di negeri yang mayoritas Muslim seperti Indonesia. Sebaliknya lihat saja, ujarnya, bagaimana nasib minoritas Muslim di sejumlah negara. 

"Jangankan memperoleh haknya, bahkan mereka habis dibantai seperti yang pernah terjadi di Bosnia, Chechnya, kemudian Moro, Patani, Myanmar, dan lainnya,” ungkapnya.

Parahnya lagi, lanjutnya, dalam posisi yang masih seimbang saja, umat Islam tetap diperangi. Hal Itu terjadi di Ambon, Poso, dan kini di Tolikara, Papua. Selama ini, kata dia, ummat Islam terus menjadi bulan-bulanan fitnah, lewat "Dagelan Terorisme" yang digelar di berbagai negeri di dunia, utamanya pasca digelarnya "Dagelan Pertama" 11 September di WTC dan Pentagon, yang bagi orang yang waras "Dagelan" ini sangat menggelikan sekaligus memuakkan. 

"Celakanya, ikut pula dagelan-dagelan ini orang-orang yang memakai baju Islam bahkan yang sudah biasa diberi gelar Cendekiawan Muslim, bahkan ada yang bergelar kiai segala! Dan, kini mereka bungkam seribu bahasa!," kritiknya.

Kiai Athian menduga, mereka diam seperti itu karena sudah merasa telah meludahi muka mereka sendiri. "Semoga lewat peristiwa ini, cukup sudah kiranya mengantarkan mereka untuk berhenti dari memfitnah Islam dan ummatnya, dan segera bertaubat pada hari yang fitri ini," tutupnya.

Zarqawi | Jurniscom

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.