Kenapa Pemerintah Gagap Soal Tolikara?

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst, Harits Abu Ulya menilai tragedi Tolikara yang biadab adalah muara dari kepentingan-kepentingan politis yang dibungkus dengan sentimen agama dan ekonomi sebagai pemicunya.

"Tragedi biadab ini produk simbiosis dari jejaring OPM yang berkolaborasi dengan anasir asing melalui gereja dan misionarisnya. Ditambah bobroknya Pemda setempat yang terindikasi banyak kasus korupsi serta tidak sigap dan tidak seriusnya aparat keamanan plus intelijen untuk mengambil tindakan preventif berdasarkan data awal yang cukup akurat tentang potensi gangguan keamanan tersebut," paparnya kepada Jurniscom, Selasa (21/7/2015).

Harits juga mengatakan sikap gagap pemerintah untuk bertindak tegas mengindikasikan kompleksitas kepentingan politik berbagai pihak terhadap Papua.

"Justru sikap pemerintah melalui instansi terkait mencoba membela unsur-unsur Kristen yang secara faktual melakukan tindak kriminal yang biadab. Sangat aneh dan blunder jika pemerintah tidak cekatan dan tegas, padahal masyarakat Muslim saat ini mayoritas," kata Harits.

Jika tidak tegas, lanjutnya, maka hanya akan menyisakan tanda tanya besar. "Apakah sekedar ingin membela tirani minoritas di Indonesia atau karena tidak ingin ada tekanan asing kepada pemerintah saat ini? Umat Islam menunggu solusi kongkritnya!" pungkasnya.

Editor : Ally | Jurniscom 

Faksi Jihad Al Muhajirun, Komunitas Mujahidin Asing di Suriah

SURIAH ( Jurnalislam.com) – Pada pertengahan Juni, Faksi jihad baru muncul secara online. "Al Muhajirun," mewakili para pejuang yang telah beremigrasi ke Suriah untuk melakukan jihad, memposting pernyataan pertama mereka dalam beberapa bahasa di Twitter. Pesan mereka menjelaskan bahwa Al Muhajirun bukan faksi jihad baru, melainkan merupakan "komunitas mujahidin asing "dari faksi faksi  berbeda dan dengan kepentingan berbeda yang bersatu untuk menunjukkan kepada umat wajah Muhajirin, mujahidin dan jihad yang sebenarnya."

Sebuah video berkualitas tinggi yang dirilis oleh Al Muhajirun menunjukkan bahwa mereka adalah sebuah faksi untuk Jabhah Nusrah (cabang resmi al Qaeda di Suriah), Ahrar al Sham dan faksi jihad lainnya yang berkerjasama. Konstituen Al Muhajirun menentang Islamic State (IS) dan rezim Syiah Bashar al Assad.

"Setelah beberapa tahun, ketika gerbang jihad dibuka di Suriah, umat Islam datang berkerumun dari seluruh dunia," pernyataan pertama Al Muhajirun berbunyi. Tapi "Muslim terserang kekecewaan dan frustrasi setelah menyaksikan perpecahan dan kebingungan yang terjadi diantara mujahidin," pernyataan itu melanjutkan, mengacu pada pertikaian antara IS dan faksi faksi jihad lainnya. Akibatnya, beberapa orang "meninggalkan jajaran Muhajirin dan Mujahidin," lalu kembali "ke 'tanah air' mereka” sementara yang lain menjadi tidak sabar dan ingin terus membabi buta melakukan perjalanan impulsif mereka dan tanpa instruksi dari ulama yang merupakan ahli waris dari para nabi. "

Al Muhajirun memposisikan diri sebagai "titik kontak bagi siapa saja yang tertarik bergabung dengan jajaran Muhajirin, berjuang demi  kepentingan Allah dan mendukung Anshar dan agama." Dan dalam pesan pertamanya, Al Muhajirun berjanji akan "segera" mempublikasikan "pernyataan dengan rincian lebih lanjut serta penjelasan" lain dari tujuannya.

Video pertama Al Muhajirun berjudul "Turning Point " yang dirilis pada 16 Juli ini berisi klip jihadis dari seluruh dunia yang telah melakukan perjalanan ke Suriah, termasuk seorang Amerika yang dikenal sebagai "Abu Hurairah Al Amriki" (yang oleh para pejabat AS diidentifikasi sebagai Moner Mohammad Abusalha).

Abusalha adalah salah satu dari empat pelaku bom istisyhad yang mengambil bagian dalam serangan terkoordinasi terhadap rezim Assad di Idlib Mei 2014.

Sejak serangan istisyhad Abusalha tahun lalu, para jihadis telah membuat banyak kemajuan di Idlib. "Turning Point" merayakan koalisi Jaysh al Fateh (Tentara Penakluk), yang didirikan oleh Jabhah Nusrah, Ahrar al Sham dan organisasi jihad lainnya pada bulan Maret. Aliansi ini dengan cepat mendorong pasukan Assad dari ibukota provinsi Idlib hanya dalam hitungan hari. Al Muhajirun memuji keberhasilan Jaysh al Fateh, untuk menyatukan para jihadis, termasuk mujahid-mujahid  asing dan rekan-rekan lokal mereka.

"Turning Point" menunjukkan salah satu anggota Ahrar al Sham Suriah, Abu al Faruq al Shaami (yang diidentifikasi sebagai "komando sniper"), memuji pengorbanan yang dibuat oleh Muhajirin saat Jaysh al Fateh berperang melawan pasukan rezim Syiah Assad di Idlib. Al Shaami juga secara terbuka berharap bahwa pasukan Jaysh al Fateh akan bertempur di sepanjang Latakia, sebuah provinsi pesisir yang telah lama menjadi kubu keluarga Assad. Sebuah screen shot al Shaami dapat dilihat di bawah ini.

Video menyoroti upaya pemerintahan yang dibuat oleh Jabhah Nusrah, Ahrar al Sham dan afiliasi jihad mereka di Idlib.

Salah satu anggota Jaysh al Fateh mengatakan bahwa dengan "dukungan dari Allah dan serangan Mujahidin dari Jabhah Nusrah, Ahrar al Sham dan Turkistan," mujahidin menguasai" toko tertentu dan menghancurkan alkohol milik mereka. Adegan menunjukkan pejuang menghancurkan botol-botol minuman.

Jihadis lain dari Latakia, Abu Mansour al Ansaari, mengatakan bahwa Muhajirin membawa pengetahuan mereka tentang syariah ke Suriah. "Ketika Muhajirin datang, mereka beruntung karena terdapat orang-orang yang ahli dalam pengetahuan agama, akademi syariah (pusat pengajaran agama) dibuka di sini, dikelola oleh Muhajirin, oleh saudara kami, dan jika Anda menginginkan saya menyebutkan secara persis, mereka adalah saudara dari Jabhah Nusrah, Ahrar al Sham dan Junud al Sham, semoga Allah membalas mereka," kata al Ansaari. "Mereka membentuk pengadilan dan sekolah – segala puji bagi Allah – di sini ada kebebasan penuh dalam Syariah Islam."

Mujahidin lain mengatakan dalam video bahwa pengadilan syariah bekerja dengan baik, dan mencakup berbagai urusan rumah tangga. Seorang hakim syariah, Sheikh Abu Shams, bahkan lebih jauh mengatakan bahwa sebagian besar juri lainnya adalah Muhajirin, bukan warga Suriah asli. Seorang interogator pengadilan syariah yang diidentifikasi sebagai Abu Hafs al Ansaari mendukung pernyataannya, dan menegaskan bahwa "sebagian besar hakim adalah Muhajirin!"

Jika banyak jihadis yang ditampilkan dalam video sebelumnya bukanlah tokoh masyarakat, namun Syeikh Abdallah Muhammad al Muhaysini telah dikenal luas baik di dalam dan maupun di luar Suriah. Muhaysini, dari Saudi, terkenal sebagai orang yang mengeluarkan perintah agar para jihadis menaklukkan Idlib.

"Investigasi orang diperbolehkan dan para tersangka (kemungkinan adalah tentara atau kolaborator rezim) harus dipenjara," kata Muhaysini melalui radio genggam. "Tidak ada masalah, untuk memastikan (bahwa seseorang bukanlah merupakan sebuah ancaman). Tetapi siapa yang menumpahkan peluru akan dikirim ke pengadilan. Saya bersumpah demi Allah siapa yang menembakkan peluru akan dibawa ke pengadilan, "kata Muhaysini, setelah jihadis menguasai Idlib.

Dengan demikian, video menggambarkan Muhaysini memainkan peran besar dalam pemerintahan Idlib setelah kejatuhannya ke tangan Mujahid.

Seperti telah dilaporkan the Long War Journal pada beberapa kesempatan, Syeikh Muhaysini merupakan  jaringan internasional Al Qaeda. Dia adalah murid Sulaiman Al Alwan, seorang ideolog jihad yang bertanggung jawab mendidik beberapa tokoh kunci al Qaeda. (Komisi 9/11 menemukan bahwa al Alwan bahkan menginstruksikan salah satu pembajak 9/11.) Syeikh Muhaysini telah membela dan berbicara penuh kasih sayang mengenai amir al Qaeda Syeikh Ayman al Zawahiri. Pada tahun 2014, Muhaysini bahkan mengeluarkan usulan rekonsiliasi jihad yang sama dengan Syeikh Zawahiri. Inisiatif ini dimaksudkan untuk mendamaikan IS dengan Jabhah Nusrah dan Ahrar al Sham. Jabhah Nusrah dan Ahrar al Sham sepakat untuk rencana tersebut, namun IS  menolaknya. Syeikh Muhaysini bekerja sama dengan Jabhah Nusrah dan tandzim jihad global  al Qaeda di Suriah hari ini.

Video "Turning Point" Al Muhajirun tidak berusaha menyembunyikan hubungan al Qaeda dengan para pejuang asing. Klip audio pidato yang disampaikan oleh amir Jabhah Nusrah Syeikh Abu Muhammad al Jaulani juga disertakan. Panggilan Syeikh  Jaulani bagi Jaysh al Fateh untuk tetap bersatu. Dan video tersebut menyoroti lagi ikatan kuat antara Jabhah Nusrah dan faksi faksi jihad di  medan perang Suriah, termasuk di Ahrar al Sham.

Kelompok-kelompok di belakang Al Muhajirun juga tidak menghindar dari akar jihad mereka. Saat Syeikh Muhaysini berbicara, misalnya, kutipan dari ideolog jihad abad pertengahan Ibnu Taimiyah juga ditampilkan di layar. Pemikiran Taimiyah telah sangat mempengaruhi kepemimpinan senior al Qaeda.

Dan "Turning Point" diakhiri dengan klip peringatan Dr Syeikh Abdullah Azzam mengenai bahaya faksionalisme jihad.

Dr Syeikh Azzam, yang  syahid dalam ledakan pada tahun 1989, adalah mentor untuk Syeikh Usamah bin Laden dan secara luas dianggap sebagai godfather jihadisme modern.

"Jika Anda berada di sebuah kelompok Islam maka hati-hatilah berpikir mengenai kebenaran eksklusif bagi grup Anda dan berhentilah berpikir bahwa semua kepalsuan (kesalahan)  terdapat dalam semua pihak selain kelompok Anda. Seperti yang biasa dikatakan oleh fanatik tua : 'Pendapat kami adalah yang paling benar dan sangat tidak mungkin berisi kesalahan sedangkan pendapat orang lain adalah salah dan sangat tidak mungkin mengandung kebenaran.' Ini adalah fanatisme bencana, berapa banyak kelompok yang memiliki ideologi ini telah terpecah belah dan berapa banyak pihak yang harmonis dan menyetujui telah dipisahkan," Dr Syeikh Abdullah Azzam terdengar mengatakan dalam klip.

Al Muhajirun berharap menyatukan para pejuang asing di bawah satu bendera dan berniat mengurangi pertikaian seperti yang telah diperingatkan oleh Dr Abdullah Azzam dekade lalu.

Deddy | The Long War Journal | Jurniscom
 

Pahit Manis Idul Fitri Muslim Rohingya di Malaysia

MALAYSIA (Jurnalislam.com) – Memulai hidup baru di Malaysia, Muslim Rohingya merayakan Idul Fitri nyata pertama mereka di Malaysia, setelah melarikan diri dari penganiayaan di Burma dan menghindari  siksaan akibat perdagangan manusia.

"Saya sangat senang bisa berpuasa dan merayakan Idul Fitri di Malaysia tanpa rasa takut. Di Myanmar [Burma], Muslim yang berkumpul untuk sholat Idul Fitri akan ditangkap oleh tentara," Nurul Amin Nobi Hussein mengatakan kepada Benama News.

Ditahan selama dua bulan di 'kamp kematian' di Wang Kelian, Hussein mengatakan etnis Rohingya di Burma dilarang merayakan Idul Fitri dengan anggota keluarga mereka di desa.

"Saya menghubungi orang tua saya di Maungdaw, Myanmar. Mereka tidak merayakan Idul Fitri, jadi seperti hari-hari lainnya, hanya tinggal di rumah," Hussein, 25 tahun, mengatakan.

"Mereka akan dipenjara jika tetap melakukannya. Tentara tidak mengizinkan kita untuk bergerak bebas."

Menurut Hussein, Muslim Rohingya harus mencari izin dari tentara jika mereka ingin mengunjungi keluarga mereka di desa-desa lain selama Idul Fitri atau hari-hari biasa.

Dia diselamatkan ketika sindikat menyelundupkan dia ke Wang Kelian dan Padang Besar, Thailand selatan.

Nobi Hussein melihat kedatangannya ke Malaysia menumbuhkan bantuan dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Tahun ini, dia merasakan kegembiraan yang luar biasa karena dapat berbagi kebahagiaan bersama istrinya Nur Khaidha Abdul Shukur, 24 tahun, dan dua anak mereka, Mansur Ali yang berusia empat tahun dan Mohamad Yasir yang berusia lima bulan, di rumah mereka di Simpang Kuala, Alor Setar.

Istrinya juga diselamatkan setelah 10 hari disekap di sebuah kamp transit di Padang Besar, Thailand selatan. Dia bersaksi tentang pemerkosaan terhadap perempuan Rohingya oleh penjaga di kamp.

Tidak mau mengingat keadaan sulit di masa lalu, Nurul Amin memimpikan masa depan yang lebih cerah.

"Tahun ini lebih spesial karena saya bisa membeli baju baru untuk anak-anak saya, memasak makanan dan membuat kue tradisional etnis Rohingya untuk merayakan Idul Fitri. Kami juga bebas mengunjungi teman-teman di mana pun mereka tinggal," katanya.

Jahedul Islam, Muslim Rohingya yang lain, sangat antusias merayakan Idul Fitri di lingkungan yang damai.

"Saya sangat senang bisa merayakan Idul Fitri di Malaysia tapi saya juga merasa sangat sedih karena keluarga dan kerabat saya harus hidup di bawah penindasan tentara Myanmar," kata Islam.

"Saya berduka dan merasa bersalah saat memikirkan teman-teman yang menderita dan mati di tangan penjaga kekerasan di kamp. Nurul (Amin) dan saya adalah salah satu orang yang beruntung yang berhasil melarikan diri," katanya.

Ditetapkan oleh PBB sebagai salah satu minoritas yang paling teraniaya di dunia, Muslim Rohingya menghadapi bermacam diskriminasi di tanah air mereka.

Hak-hak kewarganegaraan mereka ditolak sejak berlakunya amandemen undang-undang kewarganegaraan pada tahun 1982 dan mereka diperlakukan sebagai imigran ilegal di rumah mereka sendiri.

Pemerintah Burma, serta mayoritas Budha, menolak untuk mengakui istilah "Rohingya", melainkan merujuk mereka sebagai "Bengali".

Kelompok-kelompok HAM menuduh pasukan pemerintah Burma membunuh, memperkosa dan menangkap Rohingya menyusul kekerasan sektarian tahun lalu.

Memilih melarikan diri dari penganiayaan yang dilakukan oleh negara, diperkirakan 120.000 pengungsi Burma melarikan diri untuk hidup di 10 kamp di sepanjang perbatasan Thailand-Myanmar, menurut The Border Consortium, yang mengkoordinasikan kegiatan LSM di kamp-kamp.

 

Deddy | OnIslam | Jurniscom

 

Charlie Hebdo: Tidak Akan Ada Lagi Kartun Nabi Muhammad

PRANCIS (Jurnalislam.com) – Enam bulan setelah serangan mematikan di Paris, Editor Charlie Hebdo mengatakan bahwa ia tidak akan lagi menggambar kartun Nabi Muhammad, seraya menekankan bahwa majalah Prancis tersebut "telah membela hak untuk menggambar karikatur."

"Kami telah menggambar kartun Nabi Muhammad untuk membela prinsip bahwa orang dapat menggambar apapun yang mereka inginkan. Meskipun ini sedikit aneh: kita diharapkan untuk melaksanakan kebebasan berekspresi saat tidak ada pihak yang berani," editor dan direktur penerbitan majalah satir Charlie Hebdo Prancis, Laurent Sourisseau, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan majalah Jerman Stern awal pekan ini.

"Kami telah melakukan tugas kami. Kami telah membela hak menggambar karikatur."

Sourisseau, yang juga dikenal dengan julukan kartunis "Riss" mengatakan bahwa, "Kami masih percaya bahwa kami memiliki hak untuk mengkritik semua agama." Dia menambahkan bahwa majalah itu tidak "terobsesi dengan Islam" karena "kesalahan yang Anda tuduhkan terhadap Islam dapat ditemukan dalam agama-agama lain."

Mengingat hari tragedi itu, Sourisseau mengatakan bahwa, "Orang itu berdiri setengah meter dari saya dan menembak ke udara. Ketika aksinya itu berakhir, tidak ada suara. Tidak ada keluhan. Tidak ada erangan. Itu adalah ketika saya sadar bahwa sebagian besar telah dibunuh. Lalu ia menargetkan saya."

Editor, yang memiliki 40 persen saham perusahaan tersebut berpura-pura tewas dengan luka tembak di bahu kanannya.

 

Deddy | RT | Jurniscom

 

Ledakan Hantam Wilayah Tenggara Turki, 27 Tewas

SANLIURFA (Jurnalislam.com) – Setidaknya 27 orang tewas dalam ledakan di perbatasan Turki distrik Suruc provinsi tenggara Sanliurfa, kementerian dalam negeri mengatakan.

"Korban tewas dikhawatirkan bertambah," katanya pada hari Senin (20/07/2015), menambahkan bahwa hampir 100 orang dirawat di rumah sakit pemerintah Suruc dan Sanliurfa.

Satu tim ahli telah dikirim ke Suruc, tetangga kota Kobani Suriah, dan pasukan keamanan telah mengambil langkah-langkah di seluruh wilayah, kata kementerian itu.

"Turki mengutuk pelaku serangan keji ini yang menargetkan lingkungan damai, dan menyatakan belasungkawa untuk almarhum dan mengharapkan kesembuhan bagi yang terluka," tambahnya.

Kementerian menyerukan untuk tetap tenang, menggambarkan ledakan itu sebagai "serangan teror yang menargetkan persatuan dan integritas negara kita."

Kementrian juga berjanji untuk menemukan pelaku dan membawa mereka untuk bertanggung jawab.

Menurut sumber-sumber lokal, ledakan itu menargetkan anggota kelompok pro-Kurdi, Federasi Asosiasi Pemuda Sosialis, yang berkumpul di halaman Pusat Kebudayaan Amara yang dijalankan oleh pemerintah daerah setempat.

Sementara itu, Kantor Perdana Menteri Turki mengatakan bahwa ketiga menterinya, yaitu Wakil PM, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Tenaga Kerja berencana untuk mengunjungi Suruc di kemudian hari untuk menyelidiki tempat kejadian.

Presiden Recep Tayyip Erdogan menelepon Gubernur Sanliurfa Izzettin Kucuk dan otoritas lainnya untuk mendapatkan informasi tentang serangan itu, sumber kepresidenan mengatakan, menambahkan bahwa Erdogan membuat panggilan setelah mendarat di Republik Turki Siprus Utara untuk menghadiri ulang tahun ke-41 Hari Perdamaian dan Kebebasan yang menandai operasi Turki tahun 1974 setelah kudeta Yunani.

Deputi PM Yalcin Akdogan mengutuk insiden"keji"  tersebut di Twitter, mengatakan serangan tersebut  mengancam integritas dan perdamaian Turki dan mereka tidak akan pernah mencapai tujuan dengancara seperti itu.

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Pasukan AS Bunuh 10 Tentara Afghanistan dalam Serangan “Friendly Fire”

KABUL (Jurnalislam.com) – Setidaknya 10 tentara Afghanistan tewas oleh rudal yang ditembakkan dari helikopter militer AS, Senin (20/07/2015).

Pejabat lokal mengatakan empat orang lainnya terluka dalam serangan udara AS, yang menargetkan sebuah pos militer di distrik Baraki Barak di timur provinsi Logar.

Kepala polisi provinsi Mohammad Daoud Ahmadi mengatakan mereka tidak meminta serangan udara tersebut.

"Serangan terhadap pasukan Afghanistan pagi ini terjadi sekitar 1.000-1.500 meter jauhnya dari target utama," kata Ahmadi kepada Anadolu Agency. "Tentara yang terluka dievakuasi ke rumah sakit."

Taliban menembaki tim penyelamat, memaksa mereka untuk meninggalkan mayat-mayat di sana.

Kementerian Pertahanan Afghanistan mengkonfirmasi insiden itu, mengatakan: "Kami telah menghubungi pasukan pimpinan NATO untuk menyelidiki masalah ini," tetapi pasukan AS tidak bersedia untuk komentar.

Isu "friendly fire " antara pasukan asing dan lokal, serta jatuhnya korban sipil, telah menjadi sumber ketegangan signifikan antara pemerintah Afghanistan dan pasukan NATO selama kehadiran mereka selama 14 tahun di Afghanistan.

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

9 Hingga 11 Tentara Aljazair Tewas Dalam Satu Serangan Al-Qaeda

ALJAZAIR (Jurnalislam.com) – Setidaknya sembilan tentara Aljazair tewas ketika mujahidin Al Qaeda di Maghreb Islam menyerang patroli mereka di barat ibukota Aljazair pada hari  Sabtu dalam salah satu serangan paling mematikan selama beberapa bulan terakhir, kementerian pertahanan mengatakan pada hari Ahad (19/07/2015).

Al Qaeda di Maghreb Islam melaporkan serangan hari Jumat di wilayah Ain Defla dalam sebuah pernyataan yang diposting di akun media sosial yang sering melepaskan informasi tersebut.

11 tentara Aljazair tewas menurut BBC, Al Jazeera juga  melaporkan bahwa 11 tentara Aljazair  tewas.

Sebuah sumber keamanan pada hari Sabtu juga mengatakan 11 tentara tewas. Pernyataan pada hari Ahad dari kementerian adalah konfirmasi resmi pertama mengenai serangan tersebut.

"Sebuah detasemen tentara ditargetkan oleh kelompok mujahidin. Kami menyesalkan kematian sembilan tentara sebagai martir dan terlukanya dua tentara kami," kata pernyataan kementerian.

AQIM mengatakan bahwa penyerangan itu sebagai balasan atas pernyataan yang dikeluarkan oleh Ahmad Gaid Salah, kepala staf Aljazair, yang "menyatakan bahwa Aljazair telah memberantas dan menghancurkan mujahidin." Pemerintah mengaku telah membunuh atau menangkap lebih dari 100 mujahidin sejak Januari, dan bahwa lebih dari 100 mujahidin tewas tahun lalu. Pesan Al Qaeda berakhir dengan serangan AQIM mengirimkan berkah Idul Fitri "untuk mujahidin di manapun."

Serangan tersebut berlangsung sebulan setelah AQIM melaporkan dua serangan lainnya di Aljazair. AQIM menargetkan konvoi militer Aljazair dengan IED, membunuh seorang kolonel, dan menyerang sebuah brigade bayaran, menewaskan empat pasukan brigade itu. Kedua serangan terjadi di kota Batna, yang terletak 300 mil di sebelah timur Algiers.

Aljazair telah lama menjadi pusat kegiatan Al Qaeda di Afrika Utara.

 

Deddy | World Bulletin | TLWJ | Jurniscom
 

Pasukan Uni Afrika Umumkan Serangan Baru Terhadap Al Shabaab

SOMALIA (Jurnalislam.com) – Pasukan Uni Afrika mengatakan pada hari Ahad (19/07/2015) bahwa mereka telah melancarkan serangan baru terhadap afiliasi Al-Qaeda,  Al-Shabaab di Somalia selatan, AFP melaporkan.

Misi Uni Afrika di Somalia, atau AMISOM, mengatakan bahwa "Operasi Koridor Jubba " tersebut diluncurkan bersama dengan pasukan pemerintah Somalia pada hari Jumat di wilayah Bay dan Gedo di selatan ibukota Mogadishu.

Serangan itu diluncurkan beberapa hari setelah pemerintah Kenya melaporkan bahwa serangan pesawat tak berawak AS terjadi di wilayah tersebut.

Serangan tersebut terjadi beberapa minggu setelah serangan Shabaab bulan di markas AMISOM yang menyebabkan puluhan tentara Burundi tewas dalam salah satu serangan tunggal paling mematikan sejak tentara AMISOM tiba di Somalia delapan tahun lalu.

Al Shabaab, yang berarti "pemuda" dalam bahasa Arab, muncul dari perlawanan sengit melawan pasukan Ethiopia, yaitu saat pasukan Ethiopia yang didukung agresor AS memasuki Somalia di tahun 2006 untuk menggulingkan Uni Pengadilan Islam yang kemudian mengendalikan ibukota Mogadishu.

Mujahidin Al Shabaab semakin sering melancarkan serangan, berusaha untuk melawan walaupun menghadapi serangan berulang pasukan Uni Afrika dan pemerintah Somalia, ditambah serangan pengecut pesawat tak berawak US terhadap para pemimpin dan anggota Al Shabaab.

Dalam pesan perayaan Idul Fitri pada hari Jumat, Amir Al Shabaab Ahmad Diriye – juga dikenal sebagai Ahmad Umar Abu Ubaidah – menguraikan rencana perlawanan  untuk meningkatkan operasinya di luar Somalia dan khususnya di Kenya.

 

Deddy | Jurniscom

Surat Pernyataan Sikap ANNAS Terkait Pembakaran Masjid Baitul Mustaqin di Tolikara Papua

                                                                     PERNYATAAN SIKAP

                                                  ALIANSI NASIONAL ANTI SYI’AH (ANNAS)

                                 KASUS PENYERANGAN SHALAT IEDUL FITRI DI TOLIKARA PAPUA

                                                                  Bismillahirrahmannirrahim

 

                Peristiwa penyerangan dan pembakaran rumah, kios, dan masjid serta pembubaran pelaksanaan ibadah shalat Iedul Fitri 1436 H di Tolikara Papua tanggal 17 Juli 2015 sangant memperhatikan dan merupakan kegiatan terror yang menunjukan sikap intoleransi dalam beragama.

                Teror yang dilakukan umat kristiani yang dikoordinasi Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) terhadap umat Islam di Tolikara didahului dengan edaran “surat ancaman” yang ditandatangani Badan Pekerja Wilayah Toli Pdt Nayus Wenda S.Th dan Pdt Marthen Jingga, S.Th MA sebagai Ketua dan Sekretaris tanggal 11 Juli 2015 yang ditujukan kepada umat Islam Se Kabupaten Tolikara yang isinya “ 1. Acara membuka lebaran tanggal 17 Juli 2015, kami tidak mengijinkan dilakukan di Wilyah Kabupaten Tolikara (Karubaga). 2. Boleh merayakan hari raya di luar Kabupaten Tolikara (Wamena) atau Jayapura. 3. Di larang Kaum Muslimat memakai pakaian Yiljab’:

                Organisasi Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) memiliki hubungan yang erat dan tak terpisahkan dengan Zionis Israel sebagaimana dalam perjanjian antara KEHILAT HA’SHE AL HAR ZION (KHAHZ) JERUSALEM dengan GEREJA INJILI DI INDONESIA (GIDI) tanggal 20 November 2006. Keterlibatan Zionis di Indonesia tentu bertentangan dengan prinsip politik Luar Negeri Negara Republik Indonesia;

                Sikap Pemerintah Indonesia terasa belum tegas mengantisipasi peristiwa ini bahkan terkesan mengaburkan pokok dasar terjadimya penyerangan dan pembakaran rumah, kios dan tempat ibadah umat Islam tersebut, seolah – olah hal ini hanya merupakan perseteruan antar warga dengan mengabaikan fakta yang sebenarnya yaitu masalah sikap intoleransi, pemaksaan, dan kesewenang-wenangan umat krstiani (GIDI) yang berkaitan dengan agama dan peribadahan umat Islam.

                Atas dasar hal tersebut maka dengan ini Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) menyatakan sikap sebagi berikut :

  1. Mengecam dan mengutuk peristiwa penyerangan dan pembakaran tempat ibadah ummat Islam, rumah, kios, dan serta membubarkan pelaksanaan shalat Iedul Fitri 1426 H tanggal 17 Juli 2015;
  2. Mendesak Kepolisian Republik Indonesia untuk mengusut tuntas dan segera memproses hukum pelaku dan dalang (actor intellectual) peristiwa penyerangan tersebut;
  3. Mendesak Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS-HAM) untuk melakukan investigasi secara seksama dan obyektif serta merekomendasi secara jujur dan transparan tentang fakta  peristiwa, tidak melakukan rekayasa yang didasarkan atas kepentingan apapun;
  4. Meminta kepada Pemerintah untuk segera memubabarkan organisasi teroris Gereja Injili Di Indonesia yang terafiliasi denga gerakan Zionis Israel dan mengusut legalitas dan keterlibatan Negara asing dalam pemyelenggaraan Seminar Internasional yang diadakan oleh pemuda GIDI yang juga menjadi penyebab penyerangan pelaksanaan shalat Iedul Fitri;
  5. Menghimbau ummat Islam untuk bersatu dan bahu-membahu melakukan langkah-langkah strategis mengantisipasi berbagai rencana dan kegiatan kelompok-kelompok teroris dan radikal yang senantiasa memusuhi Islam dan ummatnya.

Demikian pernyataan sikap ini dibuat sebagai wujud tanggungjawab ANNAS kepada Alllah SWT dalam rangka membela agama yang benar, serta demi kemashalatan ummat, bangsa dan Negara.

 

                                                    Bandung, 3 Syawal 1436 H / 19 Juli 2015 M

                                                    ALIANSI NASIONAL ANTI SYIAH (ANNAS)

 

 

KH. Athian Ali M. Da’i. Lc. MA                                                                        Tardjono Abu Muas

                   Ketua                                                                                                  Sekretaris

 

                                                                 DEWAN PAKAR ANNAS

                                                                H.M. Rizal Fadillah. SH.

 

 

Deddy | Jurniscom

                                           

Idul Fitri di Afrika, dari Zimbabwe Hingga ke Liberia

AFRIKA  (Jurnalislam.com) – Setidaknya 1.000 orang dari Harare dan sekitarnya berkumpul di masjid terbesar di kota tersebut pada hari Jumat (17/07/2015) untuk merayakan Idul Fitri.

Sejak pukul 5.00 dini hari, beberapa keluarga, sebagian berasal dari lokasi sejauh 70 kilometer, mulai tiba dengan menaiki truk, bus dan berjalan kaki di kota Mbare, Harare.

Pukul 10 pagi, Masjid Mbare sudah penuh sesak.

Pertemuan besar di Mbare difokuskan untuk zakat, atau memberi untuk amal, salah satu dari lima rukun Islam.

"Zakat merupakan kontribusi amal, wajib bagi semua umat Islam, dan dianggap sebagai pajak. Karena kontribusi tersebut membantu keluarga yang terpinggirkan, terutama selama Ramadhan, yang merupakan alasan mengapa Anda melihat sebuah pertemuan besar di sini hari ini," Hassan Chipanga, manajer Yayasan Amal untuk Pembangunan, mengatakan kepada Anadolu Agency di Mbare.

Menurut Chipanga, sumbangan amal meningkat selama Ramadhan dan diberikan kepada semua orang, tanpa memandang agama.

Syeikh Ibrahim Mpache, dari Mbare, mengatakan bahwa badan amal selama Ramadan menilai semua warga negara sama.

"Dalam masyarakat kami, terdapat orang-orang yang kaya dan beberapa yang kurang beruntung, sehingga amal membantu mengumpulkan orang bersama-sama," kata Syeikh Ibrahim Mpache.

Salah satu penerima manfaat, Thabani Dube, bersyukur untuk paket makanan yang ia terima di Masjid Mbare pada hari Jumat.

"Bahkan jika Anda tidak memiliki uang atau barang untuk didistribusikan, amal dalam Islam datang dalam bentuk pengetahuan atau air, jadi ide dasarnya adalah untuk berbagi," kata Dube kepada Anadolu Agency.

Paket makanan yang diberikan kepada 1.000 keluarga di Mbare pada Jumat tersebut didistribusikan oleh Islamic Relief dari Afrika Selatan.

Namun, ribuan umat Islam di Liberia merayakan Idul Fitri pada hari Jumat di tengah himbauan untuk berhati-hati terhadap wabah Ebola terbaru dan membantu pencegahan dan penyebaran penyakit akibat virus tersebut.

"Kami bersyukur kepada Allah bahwa awal dan akhir puasa tahun ini berlangsung damai, tidak seperti tahun lalu," Grand Mufti Syeikh Abubakar Sumaworo berkata kepada Anadolu Agency.

"Tapi dengan kasus baru Ebola … kita semua telah sepakat untuk bergabung dengan perang melawan Ebola," katanya.

Selama perayaan Idul Fitri di negara Afrika Barat, Muslim terlihat berjabat tangan dan berbagi makanan.

Pemandangan ini kontras dengan tahun lalu, ketika umat Islam dibatasi untuk melakukan hal-hal seperti itu akibat krisis Ebola.

Syeikh Abubakar Sumaworo mengatakan komunitas Muslim Liberia tidak harus menunggu pemerintah dan masyarakat internasional untuk memerangi wabah Ebola terbaru, melainkan semua imam dan pemimpin Muslim harus meningkatkan kesadaran penyakit melalui masjid.

"Hari ini kita meminta semua umat Islam untuk memperhatikan tindakan pencegahan Ebola dengan cara mengubur mati mereka dengan aman dan melaporkan orang yang sakit," katanya.

Pertemuan massal imam dan pemimpin Muslim di Liberia dijadwalkan berlangsung awal pekan depan, di mana mereka akan membentuk strategi tentang cara membantu memerangi wabah terbaru.

"Ramadhan tahun lalu menyakitkan bagi saya, tapi saya bersyukur kepada Allah bahwa saya masih hidup," Amanita Kromah, 42 tahun, yang kehilangan 16 anggota keluarga karena Ebola, mengatakan kepada Anadolu Agency.

Ribuan umat Islam di berbagai belahan di Kenya merayakan Idul Fitri pada hari Jumat, bukan pada hari Sabtu sebagaimana telah diinstruksikan ulama Muslim tertinggi Kenya.

Syeikh Abu Qatadah adalah salah satu ulama Muslim yang memimpin sholat pada hari Jumat.

Dia mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa mereka mulai merayakan Idul Fitri pada hari Jumat karena bulan sudah terlihat di tempat lain.

"Lebih dari 12 negara dari seluruh dunia sudah mulai merayakan Idul Fitri; kami juga telah memutuskan untuk menandai akhir bulan Ramadhan dengan mereka karena bulan sudah terlihat," kata Syeikh Abu Qatadah kepada Anadolu Agency.

Sedangkan sebagian umat Islam yang merayakan Idul Fitri pada hari Jumat Syeikh Hamisi Mungai mengatakan, Ketua Dewan Imam dan Ulama Muslim Kenya.

"Kami belum melihat bulan. Fakta bahwa orang lain telah melihat bulan dari negara mereka tidak berarti bahwa kami memiliki hak untuk berbuka puasa dan mulai merayakan Idul Fitri, "kata Mungai kepada Anadolu Agency.

"Seruan Kepala Kadhi Ahmed Muhdhar sangat jelas:  bahwa kita harus merayakan akhir Ramadhan pada hari Sabtu setelah kami melihat bulan," katanya.

Kepala Kadhi Ahmed Muhdhar, ulama Muslim tertinggi Kenya, sebelumnya mengumumkan bahwa Muslim Kenya harus menandai akhir bulan Ramadhan pada hari Sabtu.

Lain halnya di Mogadishu ibukota Somalia, jamaah shalat idul fitri di periksa satu persatu oleh pasukan Uni Afrika sebelum laksanakan shalat Ied.

 

Deddy | World Bulletin | Jurniscom