Giliran Distrik Ghormach Dikepung Taliban

BADGHIS (Jurnalislam.com)El Emarah News, Ahad (18/10/2015) laporan yang datang dari kabupaten Ghormach provinsi Badghis mengatakan bahwa pusat distrik tersebut berada di bawah pengepungan ketat dan serangan Mujahidin selama 6 hari terakhir.

Mujahidin melancarkan serangan skala besar pada posisi musuh semalam, memicu bentrokan yang berlangsung sampai pagi. Sebagai hasilnya pusat admin distrik, bazaar, markas polisi, kota, bangunan intelijen, Zanjir dan semua pos pemeriksaan dikepung.

Para pejabat mengatakan bahwa musuh menderita banyak korban tewas dalam pertempuran dan kehilangan 4 kendaraan, sementara sebuah APC, truk pickup dan sejumlah besar senjata dan amunisi juga telah disita oleh Mujahidin.

Musuh saat ini dikepung di gedung PRT dan pos pemeriksaan terdekat di Tepa.

Rincian lebih lanjut akan diperbarui saat informasi tiba.

Deddy | Shahamat | Jurniscom

Protes kekerasan Zionis di Palestina, Ribuan Warga Inggris Unjuk Rasa di Kedubes Israel

LONDON (Jurnalislam.com) – Ribuan orang berkumpul di depan Kedutaan Besar Israel di London hari Sabtu  (17/10/2015) untuk memprotes kekerasan yang meningkat di wilayah Palestina dan pelanggaran di tempat-tempat suci di Yerusalem Timur.

Berbagai kelompok, yaitu Friends of Al-Aqsha, Forum Palestina di Inggris, Asosiasi Muslim Inggris dan Stop the War Coalition, menyelenggarakan pawai selama tiga jam yang dihadiri ribuan orang.

"Jangan menangis Palestina, kami tidak akan pernah membiarkan Anda mati!" pengunjuk rasa berteriak dalam solidaritas dengan Palestina. Beberapa plakat bertuliskan "hentikan kejahatan perang Israel di Palestina".

"Tidak akan pernah ada perdamaian tanpa keadilan bagi rakyat Palestina. Kenyataannya, tidak ada keadilan bagi rakyat Palestina. Kami berada di jalan-jalan London dan seluruh Inggris, kami akan terus menunjukkan dukungan kami dan memberitahu bahwa 'Palestina adalah negara yang bebas'," kata Andrew Murray, seorang anggota serikat dan merupakan salah satu perwakilan dari Stop the War Coalition.

Mantan MP George Galloway, yang termasuk di antara mereka yang hadir, juga mengomentari situasi terakhir di Palestina.

Dia mengatakan bahwa Palestina "telah menderita dalam beberapa kasus hampir 50 tahun, dalam beberapa kasus hampir 80 tahun menderita pendudukan militer yang ilegal dan brutal. Dan orang-orang sudah tidak tahan lagi. Mereka memutuskan – seperti orang-orang Yahudi dari Ghetto Warsawa pada tahun 1943 – bahwa lebih baik mati pada kaki Anda daripada hidup di atas lutut Anda ".

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

Mujahidin IIA: 2 Tank Pasukan Afghanistan Hancur, 19 Tewas dan 143 Tentara Bayaran Bergabung ke Taliban

KAPISA (Jurnalislam.com)El Emarah News melaporkan, Sabtu (17/10/2015), sebanyak 19 pasukan boneka dari ANA (National Afghanistan Army) telah tewas dalam pertempuran sepanjang hari di provinsi Kapisa, Afghanistan.

Pertempuran terjadi di distrik Tagab provinsi Kapisa dalam serangan ofensif Mujahidin ditujukan pada musuh. Pertempuran berlanjut sampai malam hari di mana setidaknya 19 pasukan boneka tewas dengan dua tank hancur.

Sedangkan di Uruzgan sebanyak 143 polisi dan arbakis (tentara bayaran) termasuk sejumlah komandan telah bertobat dari kesalahan mereka di berbagai daerah kabupaten Dehrawad lalu bergabung ke Imarah Islam.

58 Rifles, 7 RPG, 6 kendaraan militer, 3 mortir, 2 radio komunikasi, 4 sepeda motor dan peralatan perang lainnya dilaporkan telah diserahkan kepada Mujahidin.

Deddy | Shahamat | Jurniscom

 

Awal Cerita Kerusuhan di Kabupaten Aceh Singkil

SINGKIL (Jurnalislam.com) – Berawal dari unjuk rasa elemen masyarakat yang menamakan dirinya Pemuda Peduli Islam (PPI), pada Selasa, 6 Oktober 2015, di Kantor Bupati Kabupaten Aceh Singkil.

Dalam aksinya itu, PPI menuntut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Singkil segera membongkar gereja atau Undung-undung yang tidak mempunyai Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang tertuang dalam Peraturan Gubernur Aceh Nomor 25 Tahun 2007 dan SKB 2 Menteri Nomor 8/9 Tahun 2006.

Kemudian, pada hari Kamis, 8 Oktober 2015 terjadi pertemuan FKUB Provinsi Aceh, Bimas Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh beserta Pemda Aceh Singkil yang diwakili oleh Wakil Bupati Aceh Singkil.

Selanjutnya pada Senin, tanggal 12 Oktober 2015, Pemda Aceh Singkil mengundang para tokoh dari Unsur Forkopimda, unsur DPRK Aceh Singkil, Pimpinan Dayah/Pesantren, Ormas, dan Ulama untuk mengadakan rapat tentang menanggapi tuntutan dari Pemuda Peduli Islam (PPI) Kabupaten Aceh Singkil. Rapat yang dimulai sejak pukul 10.00 pagi itu tidak membuahkan hasil.

Lalu, Pemda meminta kepada perwakilan rapat untuk masuk ke ruangan kerja Bupati Aceh Singkil. Hasil dari pertemuan itu, disepakati akan membongkar 10 gereja dan Undung-undung pada tanggal 19 Oktober 2015.

Selesai rapat, masih di hari yang sama (Senin, 12 Oktober), Unsur Forkopimda melanjutkan Rapat Paripurna, dan perwakilan rapat langsung menuju ke Kampung Lipat Kajang Bawah.

Setiba di sana, massa dari umat Islam sudah menanti. Surat berita acara kesepakatan hendak dibacakan oleh saudara Warman, namun tidak jadi dibaca, karena massa terus mendesak untuk melakukan pembongkaran gereja/undung-undung.

Esok harinya, 13 Oktober 2015, selesai unsur Muspida Aceh Singkil menggelar Rapat Paripurna, langsung menuju Kampong Lipat Kajang untuk menemui massa, namun kehadiran Bupati beserta rombongan ditolak untuk masuk ke lokasi massa.

Sekitar pukul 02.00, unsur Forkopimda meminta untuk menjumpai Korlap dari PPI untuk membacakan hasil rapat yang diadakan di kantor Bupati. Besar harapan Bupati agar massa menahan diri untuk tidak melakukan pembongkaran gereja/undung-undung. Begitu juga dengan Dandim, meminta massa untuk tidak melakukan kerusuhan.

Pada hari Selasa pagi, (13/10/2015), massa yang mengatasnamakan umat Islam langsung menuju ke Kampong Suka Makmur dan langsung membakar Undung-undung. Selesai pembakaran Undung-undung, massa langsung menuju ke Kampung Dangguran untuk hal yang sama. Namun, belum sempat menertibkan gereja liar itu, pihak Nasrani melakukan perlawanan dengan  menembaki massa yang berada di lokasi.

Dalam kerusuhan tersebut, korban jatuh di pihak umat Islam. Satu dinyatakan meninggal, dan 5 luka-luka. Mereka yang menjadi korban adalah: Syamsul bin Idal (25) — meninggal terkena tembakan aparat. Peluru itu mengenai sebelah mata,  dada sebelah kiri dan leher.

Sedangkan yang menjadi korban luka, yakni: Salman (18) — warga Silatong,  luka tembak bagian perut kiri, Uyung (27) asal Tanjung Mas, luka tembak bagian bahu kanan, Asriyanto (21) asal Silatong Kecamatan Simpang Kanan, luka bagian tangan kanan, Amsar (53) asal Bulusema, luka bagian kepala, dan Herman (21) asal Ketapang Indah, Singkil Itara, luka tembak bagian kanan.

Dilaporkan, pada saat kejadian, polisi langsung menangkap 47 orang umat Islam yang ikut melakukan aksi di Aceh Singkil.

Reporter : Desastian/JITU | Editor : Jurniscom

Berita Terkait :

Langgar Perjanjian, FUI Sebut Pengurus Gereja di Aceh Singkil sebagai Provokator

Umat Islam Singkil Minta Aparat Selidiki Surat Edaran Provokatif

Inilah 10 Gereja Ilegal di Aceh Singkil yang Akan Dibongkar

FUI Aceh Singkil Desak Pemkab Tertibkan Gereja Ilegal

Konflik Aceh Singkil Sudah Dimulai Sejak Tahun 1979, Begini Kronologisnya

 

Langgar Perjanjian, FUI Sebut Pengurus Gereja di Aceh Singkil sebagai Provokator

SINGKIL (Jurnalislam.com) – Dalam catatan kronologis Forum Umat Islam Aceh Singkil, pada tanggal 5 Mei 2012, Pengurus Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD), Pakpak Dairi Christian Protestan Church mengirim surat kepada Kapolda Aceh, perihal Perlindungan Hukum terhadap penutupan gereja di daerah Kabupaten Aceh Singkil dengan tembusan surat kepada Muspida Kabupaten Aceh Singkil, termasuk Pengurus IKPPI di Sidikalang.

Pada tanggal 15 Januari 2012, Aliansi Sumut Bersama (ASB) membuat surat pengaduan kepada Komnas Perempuan, Jakarta tentang peristiwa penyegelan terhadap 15 gereja di Kabupaten Aceh Singkil. Mereka mengklaim, agama Kristen pertama kali masuk ke Kabupaten Aceh Singkil pada tahun 1930, melalui seorang penginjil yang berasal dari Salak Pakpak Barat Sumatera Utara, bernama Evangelist I.W Banurea. Pada tahun 1932, Evangelist bekerjasama dengan perkebunan PT Socfindo (Socfin Indonesia) untuk mendirikan gereja.

Masih dalam laporan kronologis tersebut, pada tanggal 31 Mei 2012, Komnas Perempuan Jakarta mengirim surat kepada Bupati Kabupaten Aceh Singkil tentang Peristiwa Penyegelan terhadap 15 gereja di Kabupaten Aceh Singkil.

Menurut tokoh Islam di Aceh Singkil, saat ini UU No. 44 tahun 1999 tentang Keistimewaan Aceh dalam bidang agama, adat istiadat, pendidikan dan peran ulama, dan UU No. 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh – telah menkafer UU No 18 tahun 2001, dinilai sudah cukup sebagai dasar hukum pelaksanaan syariat Islam di Aceh.

“Dengan UU tersebut, Aceh bebas menjalankan hukum Allah bagi seluruh rakyatnya. Tidak ada seorangpun yang merasa sakit hati, kecewa, apalagi benci terhadap pelaksanaan hukum Islam di Aceh. Siapapun anda, suku apa saja, muslim atau non-muslim harus patuh dan taat terhadap peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Bila ingin bebas membangun gereja, jangan di Provinsi Aceh. Pahami itu dengan akal sehat,” demikian pernyataan tokoh Islam dan masyarakat di Aceh Singkil.

Saat ini, Kabupaten Aceh Singkil terdiri dari 11 Kecamatan, tinggal 4 kecamatan lagi yang belum ada gerejanya. Forum Umat Islam Aceh Singkil menilai pengurus panitia gereja yang ada di Kabupaten Aceh Singkil patut diduga sebagai provokator, karena melanggar perjanjian yang telah dibuat. Selain itu, jemaat gereja bahkan sengaja didatangkan dari luar, bukan penduduk asli.

“Artinya, keberadaan gereja tidak memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, melainkan lebih kepada provokasi yang dilakukan oleh pengurus gereja. Padahal pemerintah dan tokoh agama telah bersusah payah menjaga kerukunan umat beragama di Aceh Singkil,” tegas Juru Bicara FUI Aceh Singkil, Ustadz Hambalisyah Sinaga.

Reporer : Desastian/JITU | Editor : Ally | Jurniscom

Berita Terkait :

Awal Cerita Kerusuhan di Kabupaten Aceh Singkil

Umat Islam Singkil Minta Aparat Selidiki Surat Edaran Provokatif

Inilah 10 Gereja Ilegal di Aceh Singkil yang Akan Dibongkar

FUI Aceh Singkil Desak Pemkab Tertibkan Gereja Ilegal

Konflik Aceh Singkil Sudah Dimulai Sejak Tahun 1979, Begini Kronologisnya

43 Rakyat Palestina Gugur dalam Perlawanan Sejak Oktober

GAZA CITY (Jurnalislam.com) – Dari Rumah Sakit Syifa Gaza City, relawan Indonesia di Gaza Abdillah Onim melaporkan, sejak pecah bentrok antara warga Palestina dengan militer Israel awal Oktober ini, sedikitnya sudah 43 warga Palestina gugur termasuk wanita dan anak-anak serta 5.000 lainnya menderita luka-luka.

"Situasi di rumah Sakit Syifa Gaza City banyak korban yang di evakuasi, hingga Magrib malam ini waktu Gaza, tercatat lebih dari 20 mobil ambulance yang hilir mudik melakukan evakuasi atas korban penembakan yang dilakukan militer Yahudi," terang Onim, Sabtu (17/10/2015).

Dilaporkan Onim, seorang bocah perempuan bernama Iman Asaliyah menjadi korban kebengisan militer Israel. Tentara menembak anak yang masih duduk di bangku SMP itu di wilayah Khalil Tepi Barat hingga tewas. "Dia ditembak sepulang sekolah," kata Onim.

Saat ini warga Palestina masih terus melanjutkan perlawanan kepada militer Israel yang berada di Gaza maupun di Tepi Barat.

"Mereka pun berkomitmen gelorakan perlawanan (Intifadah) dan inilah waktu rakyat Palestina melakukan pembelaan diri," ujar Onim,

Onim menilai perlawanan rakyat Palestina saat ini lebih menakutkan, karena adanya 'operasi tikam' oleh pemuda Palestina terhadap warga Yahudi. "Ya, di jalanan pada main gorok," kata Onim.

Hingga saat ini mayoritas warga Gaza turun ke jalan dan menuju ke wilayah perbatasan antara Gaza dan Israel seperti di Erez Bait Hanun Gaza Utara, Nahel Oz Gaza Timur, Khuazaah Gaza Selatan, Khan Yunis Gaza Selatan, Rafah Gaza Selatan.

Perlawanan rakyat Palestina kembali membara ketika militer Israel mengambil alih dan merusak Masjid Al Aqsa sejak beberapa bulan lalu serta melarang kaum muslimin menunaikan ibadah di dalamnya. Puncaknya, sejak bulan Oktober ini ribuan rakyat Palestina turun ke jalan dan melakukan perlawanan.

Editor : Ally | Jurniscom

Umat Islam Singkil Minta Aparat Selidiki Surat Edaran Provokatif

SINGKIL (Jurnalislam.com) – Umat Islam Singkil mendesak aparat penegak hukum untuk menangkap Pendeta Erde Berutu yang telah memfitnah umat Islam membunuh supir tangki seperti yang diberitakan Tempo, tanggal 13 Oktober 2015.

Mereka juga menuntut agar panitia pembangunan gereja ilegal yang menjadi pemicu konflik di Aceh Singkil segera ditangkap.

“Lakukan investigasi terhadap surat perjanjian Bupati dan wakil Bupati Aceh Singkil pertanggal 13 Febuari 2012 dan Surat Edaran GKPPD Dairi Sudikadeng  yang provokatif dan melukai umat islam supaya tidak menjadi fitnah di kemudian hari,” kata Ustadz Hambalisyah Sinaga bersama sejumlah tokoh Islam kepada wartawan, usai rapat koordinasi di Masjid Baiturrahman, Sabtu pagi (17/10/2015).

Umat Islam Aceh Singkil juga menghimbau kepada semua pihak di luar Aceh Singkil agar tidak membuat pernyataan yang menyudutkan umat Islam Aceh Singkil. Apalagi jika tidak mengetahui akar permasalahan yang sebenarnya.

Usai memberi pernyataan pers di Masjid Baiturrahman, rombongan tokoh Islam dan sejumlah ormas Islam yang tergabung dalam FUI Aceh Singkil mendatangi kantor Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil, untuk bertemu dengan Pangdam Iskandar Muda Mayjen Agus Kriswanto dan Kapolda Aceh Irjen (pol) Husein Hamidi untuk menyampaikan pernyataan sikapnya.

Reporter: Desastian/JITU | Editor : Ally | Jurniscom

 

Berita Terkait :

Awal Cerita Kerusuhan di Kabupaten Aceh Singkil

Langgar Perjanjian, FUI Sebut Pengurus Gereja di Aceh Singkil sebagai Provokator

Inilah 10 Gereja Ilegal di Aceh Singkil yang Akan Dibongkar

FUI Aceh Singkil Desak Pemkab Tertibkan Gereja Ilegal

Konflik Aceh Singkil Sudah Dimulai Sejak Tahun 1979, Begini Kronologisnya

Inilah 10 Gereja Ilegal di Aceh Singkil yang Akan Dibongkar

SINGKIL (Jurnalislam.com) – Juru Bicara Umat Islam Singkil, Ustadz Hambalisyah Sinaga meminta Pemkab Singkil Aceh segera membongkar gereja-gereja ilegal untuk mencegah meluasnya konflik.

Sebagaimana sudah disepakati sesuai dengan berita acara tanggal 12 Oktober 2015, ada sejumlah gereja yang akan segera dibongkar karena tak berizin. Keputusan tersebut telah ditandatangani bersama Muspida Plus/Forkopimda beserta tokoh-tokoh se-Aceh Singkil.

“Kami tidak sepakat pembongkaran gereja di luar dari nama-nama gereja di bawah ini. Jika gereja dimaksud tidak juga dibongkar, sesuai dengan janji yang telah disepakati, maka umat Islam akan membongkar sendiri,” kata Hambalisyah dalam konferensi persnya bersama tokoh Aceh Singkil pada Sabtu pagi (17/10).

Berikut ini adalah nama-nama gereja yang harus dibongkar, seperti yang menjadi tuntutan Umat Islam Singkil-Aceh: GKKPD Desa Sangga Beru Silulusan Kecamatan Gunung Meriah, GKKPD Desa Pertabas Kecamatan Simpang Kanan, GKKPD Desa Kuta Tinggi Kecamatan Simpang Kanan, GKKPD Desa Tuhtuhan Kecamatan Simpang Kanan, GKKPD Desa Dangguran Kecamatan Simpang Kanan, GKKPD Desa Mandumpang Kecamatan Suro, GKKPD Desa Siompin Kecamatan Suro, GMII Desa Siompin Kecamatan Suro, GKKPD Desa Situbuh Tubuh Kecamatan Danau Paris, Gereja Katolik Desa Lae Balno Kecamatan Danau Paris.

Reporter: Desastian/JITU | Editor : Ally | Jurniscom

Berita Terkait :

Awal Cerita Kerusuhan di Kabupaten Aceh Singkil

Langgar Perjanjian, FUI Sebut Pengurus Gereja di Aceh Singkil sebagai Provokator

Umat Islam Singkil Minta Aparat Selidiki Surat Edaran Provokatif

FUI Aceh Singkil Desak Pemkab Tertibkan Gereja Ilegal

Konflik Aceh Singkil Sudah Dimulai Sejak Tahun 1979, Begini Kronologisnya

FUI Aceh Singkil Desak Pemkab Tertibkan Gereja Ilegal

SINGKIL (Jurnalislam.com) – Sejumlah tokoh masyarakat dan ormas Islam yang tergabung dalam Forum Umat Islam Singkil berkumpul di Masjid Baiturrahman, Desa Lae Butar, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil, Sabtu (17/10/2015). Ormas Islam itu meliputi Muhammadiyah, ICMI, Muhammadiyah, MUI Aceh, Forum Imam Mukim Aceh Singkil dan sejumlah tokoh masyarakat.

Dalam pertemuan tersebut, umat Islam Singkil Aceh membacakan pernyataan sikap terkait kasus Singkil.

“Umat Islam Singkil mendesak kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil untuk menertibkan gereja-gereja yang tidak memiliki izin dan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku di Aceh,” kata Juru Bicara Umat Islam Singkil, Ustadz Hambalisyah Sinaga kepada wartawan, usai rapat koordinasi di Masjid Baiturrahman, tadi pagi.

Umat Islam Singkil juga mendesak aparat hukum mengusut tuntas pelaku penembakan yang terorganisir, segara tangkap pelaku penembakan, termasuk semua pemilik senjata ilegal.

“Pemerintah harus melakukan pendekatan persuasif dan manusiawi serta melepaskan seluruh warga yang ditahan. Pemerintah harus mengeluarkan kendaraan yang ditahan serta mengganti rugi kendaraan warga yang dirusak oknum TNI/Polri. Proses oknum TNI/Polri yang melakukan pemukulan terhadap warga.”

Selain itu, terkait korban penembakan dan korban luka, umat Islam meminta agar aparat dapat memberikan bantuan.

Reporter: Desastian/JITU | Editor :  Ally | Jurniscom

 

Berita Terkait :

Awal Cerita Kerusuhan di Kabupaten Aceh Singkil

Langgar Perjanjian, FUI Sebut Pengurus Gereja di Aceh Singkil sebagai Provokator

Umat Islam Singkil Minta Aparat Selidiki Surat Edaran Provokatif

Inilah 10 Gereja Ilegal di Aceh Singkil yang Akan Dibongkar

Konflik Aceh Singkil Sudah Dimulai Sejak Tahun 1979, Begini Kronologisnya

Ustadz Iim Ba’asyir : Syiah Kaum Para Pengkhianat

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Juru bicara Jamaah Ansharusy Syariah, ustadz Abdul Rachim Ba'asyir menegaskan Syiah adalah agama para pengkhianat. Pernyataan itu beliau sampaikan menanggapi koalisi rezim Syiah Nushairiyah Bashar Asaad dengan negara komunis Rusia dalam membantai kaum muslimin di Suriah.

Menurutnya, saat ini kelompok Syiah sedang mengulangi sejarah pengkhianatannya. Orang-orang Syiah-lah yang dahulu menjadi pintu masuk pasukan Tatar pimpinan Jengis Khan untuk menyerang Daulah Abasiyah.

"Dan sekarang terulang, bagaimana orang-orang Syiah bekerja sama dengan orang-orang komunis dalam rangka memerangi kaum Muslimin. Sampai kapan pun, mereka ini adalah kaum para pengkhianat," tegasnya kepada Jurniscom, Jum'at (16/10/2015).

Ustadz Iim, sapaannya, melihat orang-orang Syiah di Indonesia juga bekerja sama dengan komunis. Ia mengungkapkan, pada kenyataannya orang-orang komunis dan Syiah saat ini sama-sama berada di partai 'merah'.

"Dan Suriah adalah bukti nyata bagaimana orang Syiah bekerja sama dengan orang komunis," tandasnya.

Untuk itu, ia mengingatkan umat Islam Indonesia untuk tetap waspada, karena pengkhianatan kelompok Syiah terhadap umat Islam bisa terjadi di Indonesia.

"Kaum muslimin harus terus waspada dan jangan sampai salah dalam menentukan sikap dan mendukung pihak-pihak yang memusuhi Islam dan kaum muslimin hingga terjerumus ke dalam kebathilan," pungkasnya.

Editor : Ally | Jurniscom