PAHAM Sumut: Kasus Aceh Singkil Bukan Masalah Intoleransi, Tapi Ketidakbecusan Pemerintah

SINGKIL (Jurnalislam.com) – Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM) pada Ahad, (18/10/2015) menyayangkan lemahnya kinerja aparat pemerintahan sehingga memicu konflik horizontal di Aceh Singkil.

“Apa yang terjadi di Aceh Singkil bukanlah masalah intoleransi, tapi soal ketidakbecusan Pemerintah Daerah setempat dalam mengatur keberadaan rumah ibadah tanpa izin alias ilegal. Ini akar masalah sesungguhnya,” ungkap Khairul Anwar Hasibuan, SH dari PAHAM Sumut.

PAHAM berencana akan mengangkat kasus ini dengan jalan menemui ke Komisi III DPR RI, sekaligus meminta anggota parlemen agar turun ke Aceh Singkil guna membantu penyelesaiannya.

Pemberitaan media nasional sementara ini mengesankan umat Islam di Aceh Singkil sebagai umat beragama tidak toleran. Padahal, Umat Kristen yang mengungsi ke luar Aceh Singkil bukanlah karena diusir ataupun diintimidasi oleh umat Islam. Mereka hanya  ketakutan jika terjadi pembalasan atas ulah mereka yang melakukan penembakan di Kampong Dangguran, Gunung Meriah, Singkil.

“Umat Islam Aceh Singkil tidak pernah melarang ibadah umat Kristiani. Apalagi memusuhi umat Kristiani sebagai umat beragama. Umat Islam hanya menuntut Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil untuk menertibkan pendirian gereja dan undung-undung yang tak berizin,” pungkas anggota PAHAM Sumut lainnya, Dodi Chandra.

Reporter: Desastian/JITU | Editor : Ally | Jurniscom

PAHAM Sumut Sebut Media Gelembungkan Jumlah Pengungsi Aceh Singkil

SINGKIL (Jurnalislam.com) – Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM) Sumatera Utara menilai ada kesengajaan yang dilakukan media dalam menggelembungkan jumlah pengungsi pasca kerusuhan Aceh Singkil.

Sebelumnya diberitakan bahwa jumlah warga yang mengungsi hingga mencapai 7.000 orang. PAHAM Sumut menyatakan angka ini sangat berlebihan. Padahal, Pangdam Iskandar Muda hanya mengatakan, total pengungsi di sejumlah titik penampungan mencapai 4.900.  

“Bahkan sebagian dari umat Kristen tidak semua yang mengungsi. Warga Nasrani di Kampong Suka Makmur, Kecamatan Gunung Meriah, di lokasi tempat undung-undung dibakar massa, hanya tiga orang yang mengungsi ke luar Aceh Singkil,” ujar Dodi Chandra SH, MH, kuasa hukum dari PAHAM Sumut kepada Jurnalis Islam Bersatu (JITU) pada Ahad, (18/10/2015).

PAHAM merupakan sebuah lembaga yang membidangi advokasi hukum yang juga tergabung dalam Tim Pencari Fakta Aliansi Ormas Islam Sumatera Utara dalam kasus Aceh Singkil. Mereka telah menemui pihak keluarga korban, baik yang meninggal dunia maupun korban luka tembak di Kabupaten Aceh Singkil. PAHAM Sumut juga menjadi kuasa hukum bagi tiga warga Aceh Singkil.

Seorang warga bernama Syamsul meninggal dunia dalam upaya pembongkaran gereja di Aceh Singkil. Sementara, 5 korban lainnya juga mengalami luka tembak. Mereka adalah Salman (18), Uyung (27), Asriyanto (21), Amsar (53), dan Herman (21). Kini korban dirujuk ke Rumah Sakit Umum Meuraksa, Banda Aceh. Sedangkan tiga nama dari pihak umat Islam yang telah ditetapkan sebagai tersangka adalah: Syaiful (27), Irwan (18), dan Nawawi (35).

“Kami berusaha optimal dalam pendampingan proses hukum, mulai dari pemeriksaan di Polres hingga pengadilan. PAHAM, secara kelembagaan, terus mengadvokasi dan menekan pemerintah untuk tidak membiarkan pendirian rumah ibadah umat Kristen yang tidak berizin alias ilegal,” kata Dodi.

Reporter: Desastian/JITU | Editor : Ally | Jurniscom

Aliansi Ormas Sumut: Pemberitaan Media Nasional Kesankan Muslim Aceh Tak Toleran, Padahal…

SINGKIL (Jurnalislam.com) – Aliansi Ormas Islam Sumatera Utara menegaskan peristiwa kerusuhan pada 13 Oktober 2015 di Aceh Singkil tidaklah berdiri sendiri.

Ada serangkaian kekecewaan masyarakat Aceh Singkil terhadap Pemerintah Kabupaten Aceh setempat sejak tahun 1979, yang tidak bergerak cepat menertibkan gereja-gereja liar di Aceh Singkil.

Kesabaran umat Islam Aceh Singkil selama 36 tahun yang lalu sangat beralasan jika kehadiran gereja dan undung-undung tak berizin di wilayah ini dibiarkan begitu saja. Bahkan jumlahnya semakin banyak.

“Padahal sebelumnya pernah ada kesepakatan antara umat Islam dengan kaum Nasrani yang berdomisili disini, bahwa hanya boleh dibangun 1 gereja dan 4 undung-undung. Berganti tahun, keberadaan gereja dan undung-undung (sejenis langgar) yang tak sesuai dengan SKB 2 Menteri malah semakin menggurita,” ujar Ketua rombongan Aliansi Ormas Islam Sumut, Rahmad Gustin kepada anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU) di Aceh Singkil, Sabtu (17/10/2015).

Pemerintah Aceh yang punya kekhususan dalam regulasi pembangunan rumah ibadah, tidak diindahkan oleh pihak Nasrani, sehingga mereka tanpa izin membangun gereja liar. Inilah yang membuat masyarakat muslim Aceh Singkil resah.

“Sebetulnya, dua hari sebelum kejadian (11/10/2015), pihak keamanan sudah mengetahui masalah ini, stabilitas cukup memanas di Aceh Singkil. Pihak aparat beralasan, tak punya personil yang memadai untuk mengamankan sejumlah titik konsentrasi massa,” papar Rahmad.

Tuntutan masyarakat Muslim Aceh Singkil saat itu adalah mendesak agar Pemkab Aceh Singkil membongkar 20 gereja liar yang tak berizin. Seharusnya, rencana pembongkaran itu dilakukan pada tanggal 19 Oktober, namun umat Islam Singkil Aceh yang sempat berdemo ke kantor Bupati akhirnya bertindak sendiri. Pemkab Aceh Singkil dinilai lamban untuk melakukan pembokaran secepatnya.

“Ada kesan, Aceh Singkil ingin dibuat seperti DOM di masa lalu. Situasi di mana tentara menenteng senjata dimana-mana. Ini menimbulkan ketidaknyamanan warga pendatang dan penduduk yang bermukim disini. Kita serukan kepada pihak keamanan untuk segera meredam dan menyelesaikan masalah di Kabupaten Aceh Singkil,” ungkap Rahmad Gustin.

Tim Pencari Fakta bentukan Aliansi Ormas Islam Sumut, selain melakukan investigasi dan advokasi terhadap korban yang terkena tembakan, juga  mendampingi tiga tahanan dari pihak muslim Aceh Singkil yang kini ditahan Polres Aceh Singkil.

Hasil investigasi Tim Pencari Fakta yang telah terbentuk ini diharapkan dapat mengetahui dan menjelaskan kepada masyarakat tentang kejadian yang sebenarnya.

“Sangat disayangkan, jika media yang mengedepankan prinsip bad news is a good news hanya memberitakan sisi pembakarannya saja, tapi tidak diurai penyebab dan latar belakang kenapa kerusuhan di Aceh Singkil bisa terjadi. Akibatnya timbul asumsi publik seraya menjustifikasi, seolah muslim Aceh tidak toleran,” kata Rahmad Gustin.

Reporter: Desastian/JITU

Aliansi Ormas Islam Sumut Advokasi Korban Muslim Aceh Singkil

SINGKIL (Jurnalislam.com) – Solidaritas umat Islam terhadap masyarakat Muslim Aceh Singkil datang dari sejumlah ormas Islam di Sumatera Utara yang menamakan dirinya Aliansi Ormas Islam Sumatera Utara.

Kedatangan mereka pasca kerusuhan Aceh Singkil, bertujuan untuk mencari fakta yang terjadi pada 13 Oktober 2015 lalu. Mereka terbagi dalam tiga tim yang membidangi persoalan hukum, lobby ke tingkat Muspika, dan advokasi para pengungsi.

“Kami mendengar kasus pembakaran gereja 13 Oktober 2015 lalu. Karena itu, kami meresponnya. Rencananya, kami datang ke Singkil secepatnya, tapi kami disuruh menunggu, mengingat pihak keamanan di perbatasan Aceh Singkil dan Subulussalam dijaga ketat, tidak dizinkan masuk. Makanya kami urungkan niat hingga esok harinya,” kata Ketua rombongan Aliansi Ormas Islam Sumut, Rahmad Gustin kepada anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU) di Aceh Singkil, Sabtu (17/10).

Dalam musyawarah dengan gabungan ormas Islam di Medan, telah dibentuk sebuah Tim Pencari Fakta untuk mengumpulkan data di lapangan. Umat Islam di Medan cukup merasa resah dengan pemberitaan media massa yang simpang siur, bahkan kerap menyudutkan umat Islam Aceh Singkil dengan tuduhan intoleran dan anarkistis.

Sejumlah ormas Islam yang tergabung dalam Aliansi Ormas Islam Sumatera Utara ini, di antaranya adalah Kirab (Komite Integritas Anak Bangsa), Forum Umat Islam Sumut, PAHAM Sumut, Forum Ukhuwah Bina Ul Ummah (FUBU), FPI Sumut, MMI Sumut, LMI Sumut, KAHMI Sumut , JBMI, DDII Sumut dan sebagainya. Awalnya, Aliansi ini dibentuk untuk mengadvokasi masjid-masjid yang dibongkar oleh pemerintah Sumatera Utara.

Reporter: Desastian/JITU | Editor  : Ally | Jurniscom

Turki Siap Bekerja Sama dengan Uni Eropa Atasi Krisis Pengungsi Suriah

TURKI (Jurnalsilam.com) – Turki siap untuk "membuka semua saluran kerjasama" untuk membantu Uni Eropa mengatasi krisis pengungsi meningkat di perbatasannya, Perdana Menteri Ahmet Davutoglu mengatakan hari Ahad (18/10/2015) di sebuah pertemuan bersama dengan nomor berlawanan Jerman Angela Merkel, lansir World Bulletin.

Davutoglu menekankan, bagaimanapun, bahwa itu penting untuk menemukan sebuah resolusi untuk konflik Suriah untuk memastikan akhir permanen krisis, yang terburuk dari jenisnya menghadapi blok 28-negara sejak Perang Dunia II.

Merkel mengatakan dunia sedang menghadapi "krisis di luar kendali", menambahkan bahwa kerjasama antara pemerintah Jerman dan Turki harus tumbuh secara memadai mengatasi masuknya pengungsi.

Davutoglu menegaskan kembali sikap Turki pada perlunya membangun zona aman di Suriah utara "untuk ada tidak menjadi gelombang baru migrasi".

Sementara itu, Kanselir Jerman mengatakan bersedia untuk membantu menghidupkan kembali Turki mengulur-ulur proses aksesi Uni Eropa dengan membuka Ekonomi dan Kebijakan Moneter bab untuk negosiasi.

KTT Uni Eropa di Brussels disebut Jumat untuk melaksanakan rencana aksi dengan Turki – yang datang lengkap dengan beberapa insentif ekonomi dan politik untuk Ankara – untuk menghentikan arus pengungsi ke Eropa.

Ada 2,5 juta pengungsi di Turki, dan negara sejauh ini telah menghabiskan $ 8.000.000.000 pada pengungsi, sementara dukungan dari negara-negara dunia lainnya hanya sebesar $ 417.000.000.

Menurut rencana, Uni Eropa akan menawarkan bantuan ekonomi dan bantuan kemanusiaan untuk pengungsi host di Turki, yang tertarik untuk membangun daerah yang aman bagi para pengungsi untuk hidup di dalam wilayah Suriah.

Di bawah rencana aksi, yang disajikan oleh Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker ke Turki Presiden Recep Tayyip Erdogan di Brussels pada 5 Oktober, Uni Eropa menawarkan € 1.000.000.000,- ($ 1.130.000.000,- = Rp 15.400.000.000.000,-) dalam bantuan kemanusiaan untuk pengungsi host di Turki, yang telah meminta selama 3 miliar euro pada bantuan.

Selain itu, para pemimpin Uni Eropa sepakat untuk mempercepat proses kebebasan visa bagi warga negara Turki yang ingin mengunjungi Schengen zona batas 28-negara blok jika Turki berhasil mengurangi aliran pengungsi yang masuk ke Eropa.

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

Serangan Mematikan di Stasiun Bis Israel, 1 Tentara Zionis Mati dan 9 Yahudi Terluka

ISRAEL (Jurnalislam.com) – Seorang tentara zionis yahudi Israel tewas akibat luka-lukanya dan sedikitnya sembilan orang terluka dalam serangan di sebuah stasiun bus di Israel selatan, kata polisi Israel, diklaim insiden itu sebagai serangan penembakan dan penusukan, Aljazeera melaporkan, Ahad (18/10/2015).

Setelah serangan pada hari Ahad malam, polisi zionis menembaki dua orang di stasiun di Beersheba, menewaskan seorang warga Palestina yang diduga sebagai penyerang dan melukai seorang pria asal Eritrea.

Anehnya, tidak jelas apakah kedua orang yang ditembak terlibat dalam serangan itu. Media Israel melaporkan bahwa pasukan keamanan mengira pria asal Eritrea tersebut adalah penyerang dan menembaknya.

Menurut polisi, penyerang menikam seorang tentara dan mencuri senjata, lalu menembaki kerumunan di terminal bus. Tentara itu tewas di rumah sakit.

IBA network Israel memposting rekaman yang konon direkam oleh kamera pengintai serangan.

Dipicu oleh serangan Zionis Yahudi ke kompleks suci umat Islam pada bulan-bulan terakhir, kekerasan dan protes Masjid Al-Aqsha melawan penjajah Israel meningkat di seluruh Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza.

Pasukan zionis menyerang para pengunjuk rasa, menggunakan gas air mata, granat, peluru baja yang dilapisi karet dan peluru tajam.

Pada Ahad sore (18/10/2015), warga Palestina di Hebron berbaris dari universitas lokal menuju sebuah pemukiman Israel, di mana mereka berhadapan dengan tentara Zionis, hingga terjadi bentrokan.

Issa Amro, direktur kelompok Pemuda Melawan Pemukiman mengatakan sedikitnya sepuluh warga Palestina ditangkap.

Aksi perlawanan juga berkobar di seluruh Tepi Barat, termasuk di kota Nablus, dan di Jalur Gaza.

Deddy | Al Jazeera | Jurniscom

 

Klaim Pentagon, Sanafi al-Nasr Gugur Dalam Serangan Udara AS

SURIAH (Jurnalislam.com) – Pemimpin kelompok veteran Al-Qaeda yang oleh Washington disebut Khorasan Group diklaim telah gugur (syahid) dalam serangan udara koalisi di Suriah, Pentagon, Ahad (18/10/2015).

Sanafi al-Nasr, seorang Saudi dan mujahidin terpercaya Al-Qaeda, gugur dalam serangan udara di barat laut negara itu pada hari Kamis (15/10/2015), menurut Pentagon.  Sanafi al-Nasr  adalah Abdul Mohsin Abdullah Ibrahim Al Sharikh, sudah lama dikenal berperan aktif dalam menyebarkan informasi dan pesan online

Al-Nasr terdaftar sebagai "teroris global yang ditunjuk khusus" oleh Departemen Keuangan AS pada tahun 2014. Pentagon mengatakan al-Nasr terlibat dalam kegiatan jihad yang tak terhitung jumlahnya.

"Al Nasr adalah jihadis lama yang berpengalaman dalam menyalurkan uang dan pejuang bagi al-Qaeda. Dia memindahkan dana dari para pendonor di kawasan Teluk ke Irak dan ke pemimpin al Qaeda di Pakistan hingga Suriah," siaran pers mengumumkan kematiannya menyatakan.

"Dia mengorganisir dan memelihara rute bagi anggota baru yang melakukan perjalanan dari Pakistan ke Suriah melalui Turki selain membantu operasi eksternal al Qaeda di Barat. "

Al-Nasr adalah pemimpin senior Khorasan Grup kelima yang Syahid dalam empat bulan terakhir. Di antara para pemimpin senior Al Qaeda yang Syahid oleh AS di Suriah adalah Muhsin al Fadhli, seorang Kuwait yang berjuang bersama Nasr di "Khorasan Group." Pada bulan Juli, Pentagon mengatakan telah membunuh Muhsin al-Fadhli, pemimpin Khorasan Grup lainnya, dalam "serangan kinetik" saat ia sedang melakukan perjalanan dalam kendaraan dekat kota Sarmada di barat laut Suriah.

Jihadis di Twitter pertama kali melaporkan kematian Nasr pada 17 Oktober dan mengatakan bahwa dua mujahidin al Qaeda lainnya, Abdul Malik al Jazrawi (Saudi) dan Abu Yasir al Maghrebi (Maroko), gugur (syahid) bersama ahli strategi itu. Selain itu, Jabhah Nusrah, cabang resmi al Qaeda di Suriah, memposting gambar yang menunjukkan mobil diserang oleh "koalisi Crusader" (pasukan koalisi salibis) di Al Dana, sebuah kota di utara Suriah sebelah barat dari Aleppo. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, sebuah kelompok pemantau yang berbasis di Inggris, juga melaporkan kematian al-Nasr pada hari Jumat , mengatakan ia gugur dalam serangan di provinsi Aleppo.

Deddy | Jurniscom
 

 

Aksi Perlawanan Rakyat Palestina Hancurkan Popularitas PM Zionis, Benjamin Netanyahu

ISRAEL (Jurnalislam.com)Infopalestina melaporkan, Ahad (18/10/2015) , jajak pendapat di entitas Zionis menunjukan penurunan dratis dalam popularitas PM Zionis Benjamin Netanyahu, di tengah-tengah meletusnya intifadhah al Quds dan gelombang aksi penikaman dengan pisau yang dilakukan secara individu oleh warga Palestina di Tepi Barat dan al Quds sejak awal Oktober 2015.

Sebuah jajak pendapat yang diadakan oleh saluran TV2 Zionis menjelaskan bahwa Netanyahu hanya mendapatkan dukungan 15%. Sementara itu terjadi peningkatan dukungan kepada tokoh radikal ekstrim Zionis Avigdor Lieberman, ketua partai Israel Betna, dari 22% menjadi 29%. Ini mengindikasikan berkembangkan kalangan radikal ekstrim di dalam entitas Zionis.

Sebanyak 72% koresponden jajak pendapat menyatakan ketidak puasan mereka pada kinerja Netanyahu dalam menghadapi intifadhah al Quds. Mereka menilai bahwa Lieberman adalah orang yang pas untuk memimpin era sekarang ini dan mengakhiri intifadhah.

Sejak 31 Maret 2009, Liebrman, pemimpin Zionis berhaluan radikal ekstrim ini menduduki jabatan sebagai menteri luar negari Israel di pemerintahan Netanyahu dan mengajukan pengunduran diri pada 3 mei 2015 lalu. Kemudian dia mengumumkan tidak berpartisipasi dalam pemerintahan yang dibentuk kala itu, yang dia minta agar menunjukkan sikap yang lebih radikal dan ekstrim.

Sejak awal Oktober, di wilayah Palestina meletus berbagai konfrontasi dengan pasukan penjajah Zionis, pasca aksi-aksi penyerbuan yang berulang-ulang dilakukan Zionis ke masjid al Aqsha. Puluhan aksi penikaman dan aksi penembakan dilakukan warga Palestina secara individu, akibatnya 7 orang Zionis tewas dan lebih dari 100 lainnya terluka, sementara itu mayoritas orang Zionis merasa telah kehilangan rasa aman mereka.

Sementara itu sudah 44 warga Palestina gugur dan lebih dari 1500 lainnya terluka sejak intifadhah al Quds meletus dari awal Oktober 2015.

Deddy | Infopalestina | Jurniscom

 

Inilah Nama-nama 44 Syuhada Palestina dalam Aksi Perlawanan Terhadap Zionis Selama 18 Hari

AL QUDS (Jurnalislam.com) –  Syahid Muhannad adalah awal kisah para syuhada Intifadhah Al-Quds yang diikuti oleh Fadi dan Huzdaifah dan barisan syuhada lainnya. Mereka rembulan-rembulan yang menyinari langit malam Palestina. Nyawa mereka menjadi bahan bakar Intifadhah Al-Quds.

Seperti yang dilansir Infopalestina jumlah syuhada syuhada sejak awal Oktober hingga Ahad (18/10/2015) atau 18 hari adalah 44 orang. Mereka mendahului kita menemui Allah sebagai syahid dengan kepala terangkat. Berikut adalah nama-nama mereka:

1.       Muhannad Shafiq (20), Beirah, Ramallah

2.       Fadi Samir Mustafa Alwan (19), Isawiyah, Al-Quds

3.       Hudzaifah Utsman Rajih Abu Sulaiman (18), Bal’a, Tulkarm

4.       Abdur Rahman Shadi Ubaidullah (14), Kamp Ayedah, Betlehem

5.       Amjad Hatem (17), Yatha, Hebron

6.       Wisam Jamal Faraj (20), Kafr Uqba, Al-Quds

7.       Tsair Abdus Salam Abu Ghazalah (19), Kafr Uqbah, Al-Quds

8.       Shadi Husamudin (24), kampung Zaitun, Gaza

9.       Ahmad Yahya (20), kamp Nazaret, provinsi tengah

10.   Abdul Majid Majdi Wahidi (18), Jabalia, Jalur Gaza

11.   Ziad Ziad Nabil Sharaf (18) Tufah,  Gaza

12.   Mohamed Hisham Mohsen (Raqab) (18) Bani Suhaila, Khan Younis

13.   Adnan Abu Musa Alyan (23) Bani Suhaila, Khan Younis

14.   Ahmad Jamal Salah (22) kamp Shuafat, Al-Quds

15.   Mohammed Faris Abdullah Al-Jabari (19), Hebron

16.   Jihad Zayed Salem Obaid (21) Deir al-Balah / Jalur Gaza

17.   Marwan Hisham Barbah(10) Naeem, Khan Younis

18.   Omar Khalil Musa Usman, (18) kamp Khan Yunis

19.   Isaac Qasim Badran (16), kamp Kafr Aqab, Al-Quds

20.   Mohamed Said Mohamed Ali (19) Shuafat, Al-Quds

21.   Ibrahim Ahmad Awad (27), Beit Ammar, Hebron

22.   Noor Rasmi Mohammad Hassan (30), Zaitun,  Gaza

23.   Rahaf Yahya Hassan Saadi (3) Zaitun, Gaza

24.   Ahmed Abdullah Sharakah, (13), Jalazoun, Ramallah

25.   Atta Nouri, kamp Shuafat

26.   Mustafa al-Khatib (18) Sur Baher / Jerusalem

27.   Hassan Khaled Mhanah (15) Hanina / Jerusalem

28.   Muhammad Nazmi Shamasneh (22) Qatanna / Jerusalem

29.    Alaa Abu Jamal (20), Mount Scopus Territories / Jerusalem

30.    Bahaa Mohammed Khalil Alian, 24, of Jerusalem

31.     Motaz Ibrahim Hamdan Zawahra 22 Deheishe

32.    Basil Bassam Sidr of Hebron 20

33.    Ahmed Fathi Abu Shaban (years) from 0.26 Ras al-Amud neighborhood in Jerusalem

34.    Riad Dar Joseph 46 Ramallah, offending

35.    Jamal Jaber Obeid 0.36 Gaza, Jabali

36.     Yahia Abdel Qader Farhat 24 Gaza, Shijia

37.    Hatem Mahmoud Hamid 22 Gaza, Shijia

38.   Ehab Jihad Yousef Hanani 19 Nablus

39.     Iyad Khalil Mahmoud'Awawda 26 Hebron

40.    Ayman statement Esseily 16 Hebron

41.    Fadel Mohammed Awad Qawasmeh 18 Hebron

42.    Moataz Ahmed E'oissat 16 Jerusalem, Magnifier

43.    Ziad Tariq Natsheh 16 Hebron

44.    Omar Mohammed al-Faqih Qatanna 23 / Ramallah

Deddy | Infopalestina | Jurniscom

 

KAMMI Komsat Singaraja Galang Dana Bantu Korban Kabut Asap

SINGARAJA (Jurnalislam.com) – Sejumlah mahasiswa dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Singaraja, Bali menggelar aksi solidaritas untuk korban bencana kabut asap, Ahad (29/10/2015). Selain KAMMI, aksi itu diikuti juga oleh Me-Dan (Medis dan Aksi Kemanusiaan), Al Hikmah dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Singaraja, Bali.

"Tujuan kami mengadakan penggalangan dana ini yaitu adalah untuk membantu saudara kita yang lagi terkena musibah asap di daerah Sumatera dan Kalimantan dan sekitarnya. Untuk membuktikan iman kita kepada Allah. Karena di dalam hadist Nabi juga, bahwasanya kita semua adalah ibarat satu tubuh, apabila ada satu anggota tubuh yang kesakitan, maka anggota tubuh yang lain akan merasakan panas dan tidak bisa tidur," kata Ketua KAMMI Komsat Singaraja, Okik Hadi Saputro kepada Jurniscom di sela-sela aksi.

Penggalangan dana dilakukan selama dua hari, Jumat dan Ahad (16,18/10/2015) di 3 titik;  lampu merah Jalan Pramuka, lampu merah Jalan Ahmad Yani dan lampu merah Pantai Penimbangan. Aksi yang dimulai dari 16.30-17.30 waktu setempat itu berhasil mengumpulkan dana sebesar  Rp. 4.703.000.

"Ini bukti bahwa masyarakat sangat antusias sekali dengan aksi kemanusiaan ini. Karena dengan waktu yang begitu singkat bisa memperoleh dana sebesar itu," ujarnya.

Dana yang terkumpul akan langsung disumbangkan ke daerah yang terkena dampak parah kabut asap melalui KAMMI Reaksi Cepat (KRC).

"Setidaknya aksi yang dilakukan oleh KAMMI Komisariat Singaraja, Bali ini menjadi langkah awal untuk mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bergerak membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah di Indonesia," lanjut Okik.

Okik menjelaskan Islam di Bali merupakan kaum minoritas. Oleh sebab itu, ia menjadikan aksi tersebut sebagai ajang silaturahim untuk mempererat ukhuwah Islamiyah sesama organisasi Islam di Bali.

"Iibarat sapu lidi, jika hanya satu maka tidak akan bermakna. Makanya kita satukan barisan dari berbagai kalangan untuk menjadi bermakna layaknya sapu lidi," tutupnya.

Reporter : Findra | Editor : Ally | Jurniscom