Terbunuhnya Bocah Ahmad Munashirah, Jenewa: Wujud Kesadisan Israel dalam Pelanggaran HAM

JENEWA (Jurnalislam.com) – Organisasi independent hak asasi manusia di Jenewa mengatakan, hasil penyelidikan terhadap kasus pembunuhan terhadap Ahmad Munashirah menegaskan bahwa Israel pelanggar berat HAM, lansir Infopalestina, Selasa (10/11/2015).

Apa yang dilakukan Israel bertentangan dengan semua prinsip-prinsip kemanusiaan yang diakui undang-undang internasional serta prinsip-prinsip dasar yang telah disepakati dalam memperlakukan para tawanan, terutama anak-anak.

Pemantau Euro Mediterranean untuk HAM menjelakan kebenaran rekaman video berdurasi 10 menit tentang pemeriksaan terhadap bocah Munashiroh (13 tahun) di dalam penjara Israel. Ia diintimidasi oleh para interrogator agar mengakui semua tuduhan terhadapnya. Ia juga dipaksa mengakui semua laporan yang dibuat para interrogator.

Rekaman video ini merupakan rangkapan dari laporan-laporan sebelumnya terkait kesadisan Israel terhadap anak-anak dalam ruang tahanan militer Israel. Dan hal ini terang benderang jelas kelihatan di penjara Israel dapat disaksikan siapapun, menunjukan bahwa kebijakan ini memang disengaja bahkan dilakukan secara sistematis.

Intimidasi yang mereka lakukan mencakup intimidasi kejiwaan, pelecehan, larangan tidur, larangan pendampingan pengacara anak. Semua ini menunjukan betapa buruknya perlakuan mereka yang disertai kekerasan dan tentu bertentangan dengan pasal 19/1 kesepakatan tentang perlindungan anak yang tidak boleh dikriminalkan.

Euro Mediterranean menambahkan, pasal 37 kesepakatan terkait hak anak dimana Israel salah satu pihak yang menanda tanganinya telah merekomendasikan agar ada jaminan bahwa seorang anak harus diperlakukan sesuai dengan hak-hak kebebasan dan kemanusiaanya. Ia juga harus diperhatikan kebutuhan-kebutuhannya secara pribadi. Kebutuhan akan tidur dan istirahat adalah kebutuhan yang paling penting diperhatikan bagi anak.

Dengan demikian Israel pelanggaran Israel sudah tidak terhitung, salah satu contohmya apa yang kita saksikan dalam video Munashirah.

Deddy | Infopalestina | Jurniscom

 

Lebih dari 400 Pasukan Khusus Sudan Tiba di Yaman Hadapi Serangan Baru Houthi

YAMAN (Jurnalislam.com) – Lebih dari 400 Pasukan Khusus Sudan tiba di kota pelabuhan Yaman, Aden, pada hari Senin (09/11/2015) untuk mendukung pasukan pro-pemerintah bersiap menghadapi serangan baru pemberontak Houthi di selatan negara itu, lansir World Bulletin, Senin.

Pasukan loyalis Yaman yang didukung oleh serangan, serta persediaan dan tentara oleh koalisi yang dipimpin Arab, memukul mundur para pemberontak keluar dari Aden sebagai bagian dari operasi yang diluncurkan sejak bulan Juli untuk mengambil kembali wilayah selatan yang direbut pasukan Syiah Houthi.

Empat provinsi selatan lainnya – Lahj, Daleh, Abyan dan Shabwa – juga telah berhasil direbut kembali oleh pasukan yang setia kepada Presiden Mansour Hadi.

Tetapi pemberontak Syiah Houthi yang didukung Syiah Iran akhir pekan ini merebut kembali beberapa posisi di selatan.

"Lebih dari 400 tentara Sudan mendarat di Aden" sebagai bagian dari koalisi yang memerangi pemberontak Syiah sejak Maret, kata seorang komandan pasukan Yaman yang setia kepada Hadi.

Mereka akan bergabung dengan 500 tentara Sudan yang telah lebih dulu tiba di Aden pada 19 Oktober, lalu dikerahkan di kota selatan utama dan pangkalan udara strategis Al-Anad di provinsi Lahj yang berdekatan, sumber itu mengatakan kepada AFP.

Mereka datang di tengah mobilisasi pasukan loyalis untuk memblokir upaya pemberontak yang berusaha masuk kembali ke Aden.

"Mobilisasi Umum telah dinyatakan di Daleh," di mana para pemberontak merebut kembali kota kedua di provinsi tersebut, Damt, Sabtu, seorang pejabat setempat mengatakan kepada AFP.

Sebuah panggilan serupa dilakukan di kota pesisir Dhubab, dekat selat Bab al-Mandab, di mana para pemberontak sedikit mencapai kemajuan selama akhir pekan, kata sumber militer.

Pemberontak merebut sebuah pangkalan militer di Dhubab pada hari Sabtu (07/11/2015) menyusul pertempuran sengit dengan pasukan pro-pemerintah, menurut sumber-sumber militer.

Pasukan pro-pemerintah merebut Dhubab awal bulan lalu, sehingga mereka efektif mengontrol Bab al-Mandab, yang dilalui banyak lalu lintas maritim dunia.

Para pemberontak Syiah Houthi menyerbu ibu kota Yaman, Sanaa, tahun lalu kemudian maju ke selatan menuju Aden, memaksa Hadi dan pemerintahannya melarikan diri ke Arab Saudi.

Menteri-menteri pemerintah Hadi kembali ke Aden pada pertengahan September setelah enam bulan berada di pengasingan di kerajaan tetangga yang kaya akan minyak tersebut.

PBB mengatakan bahwa sekitar 5.000 orang telah tewas dalam perang Yaman sejak pertempuran meningkat pada bulan Maret.

 

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

 

Polisi Belanda Tangkap 32 Orang Anti Islam PEGIDA

BELANDA (Jurnalislam.com) – Polisi menangkap 32 demonstran pada hari Ahad (08/11/2015) saat pendukung gerakan Anti Islam pegida dan lawan mereka melakukan demonstrasi di pinggiran kota Belanda, Utrecht.

Pengikut dari kelompok anti-migran dan anti-Muslim Jerman tersebut membawa spanduk bertuliskan pernyataan anti-Islam, sementara demonstran lainnya menyerukan deportasi Muslim, lansir Anadolu Agency, Senin (09/11/2015).

Mereka ditentang oleh sekelompok pengunjuk rasa anti-rasis.

Beberapa ditangkap karena menampilkan banner Islamofobia dan rasis sementara yang lain ditahan karena menentang perintah polisi untuk tidak meninggalkan sebuah taman di pinggiran timur kota, mengganggu ketenangan, dan tidak membawa identifikasi, polisi mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Pemimpin pegida Lutz Bachman, yang mendirikan gerakan tersebut di Dresden tahun lalu, berkata ke arah kerumunan sekitar 150 orang untuk menyerukan penutupan perbatasan Eropa bagi pengungsi Suriah. Pendiri Liga Pertahanan Inggris Tommy Robinson juga hadir pada acara tersebut.

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

 

Kepala Pusat Pendidikan di Kairo Serukan Al Sisi dan Abbas Bebaskan Blokade Gaza Tanpa Syarat

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Kepala Pusat Pendidikan Ibnu Khaldun di Kairo, Sa’duddin Ibrahim menyerukan presiden Abdul Fattah al-Sisi dan Mahmud Abbas untuk membebaksan blockade dari Jalur Gaza dan tidak menunggu kembalinya Otoritas Palestina ke wilayah tersebut,  

Sebagaimana yang dilansir Infopalestina, Ibrahim menegaskan hari Senin (09/11/2015) bahwa blockade Jalur Gaza tidak bisa diterima oleh bangsa Palestina. “Silahkan saja mungkin para pimpinan politik berbeda dan saling kritik, namun tidak bisa diterima jika sebuah bangsa diberikan hukuman karena kejahatan yang dilakukan para pemimpinnya. Dari prinsip ini, saya mendukung pembebasan blockade Jalur Gaza terlepas dari siapa yang berkuasa di sana.” Tegasnya.

Ibrahim menyatakan, tidak mungkin bisa diterima jika sebuah bangsa diperlakukan secara buruk karena perbedaan pandangan antar pemimpinnya. “Dari sini saya ajak presiden Abdul Fattah Al-Sisi dan presiden Palestina Mahmud Abbas untuk bersungguh-sungguh membebaskan Jalur Gaza dari blockade dan tanpa memberikan syarat otoritas Palestina berkuasa di sana.” Tuturnya.

Ibrahim sendiri sudah pernah berkunjung ke Jalur Gaza dan Tepi Barat dan bertemu dengan Presiden Mahmud Abbas dan menyampaikan harapannya membuka blockade.

Deddy | Infopalestina | Jurniscom

Kepala Pusat Pendidikan di Kairo Serukan Al Sisi dan Abbas Bebaskan Blokade Gaza Tanpa Syarat

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Kepala Pusat Pendidikan Ibnu Khaldun di Kairo, Sa’duddin Ibrahim menyerukan presiden Abdul Fattah al-Sisi dan Mahmud Abbas untuk membebaksan blockade dari Jalur Gaza dan tidak menunggu kembalinya Otoritas Palestina ke wilayah tersebut,  

Sebagaimana yang dilansir Infopalestina, Ibrahim menegaskan hari Senin (09/11/2015) bahwa blockade Jalur Gaza tidak bisa diterima oleh bangsa Palestina. “Silahkan saja mungkin para pimpinan politik berbeda dan saling kritik, namun tidak bisa diterima jika sebuah bangsa diberikan hukuman karena kejahatan yang dilakukan para pemimpinnya. Dari prinsip ini, saya mendukung pembebasan blockade Jalur Gaza terlepas dari siapa yang berkuasa di sana.” Tegasnya.

Ibrahim menyatakan, tidak mungkin bisa diterima jika sebuah bangsa diperlakukan secara buruk karena perbedaan pandangan antar pemimpinnya. “Dari sini saya ajak presiden Abdul Fattah Al-Sisi dan presiden Palestina Mahmud Abbas untuk bersungguh-sungguh membebaskan Jalur Gaza dari blockade dan tanpa memberikan syarat otoritas Palestina berkuasa di sana.” Tuturnya.

Ibrahim sendiri sudah pernah berkunjung ke Jalur Gaza dan Tepi Barat dan bertemu dengan Presiden Mahmud Abbas dan menyampaikan harapannya membuka blockade.

Deddy | Infopalestina | Jurniscom

Iran dan Rusia Tanda Tangani Pengiriman Rudal S-300 ke Teheran

MOSKOW (Jurnalislam.com) – Rusia mengumumkan pada hari Senin (09/11/2015) bahwa mereka telah setuju untuk melakukan kesepakatan pemberian sistem rudal S-300 kepada Iran setelah Moskow menghentikan kesepakatan sebelumnya karena Teheran mendapat sanksi PBB, lansir World Bulletin, Senin.

"Kontrak antara Rusia dan Iran untuk pengiriman sistem rudal S-300 kembali berlaku," kata perusahaan yang dikelola negara, Rusia Technologies dalam sebuah pernyataan, menambahkan bahwa kedua belah pihak telah "menandatangani kontrak".

Moskow pada bulan April mencabut larangan penjualan sistem rudal ke Iran.

Keputusan itu memicu kecaman dari Israel dan kekhawatiran dari Washington, karena terjadi sebelum pencabutan sanksi oleh Dewan Keamanan PBB.

Rusia berdalih bahwa sistem rudal tersebut secara eksklusif hanya bersifat defensif dan bahkan tidak bertentangan dengan sanksi.

Moskow menunda pengiriman rudal surface-to-air ke Teheran pada tahun 2010 setelah Dewan Keamanan PBB memberlakukan pembatasan pada Iran atas program nuklirnya, terkecuali penjualan senjata hi-tech.

Iran kemudian mengajukan tuntutan senilai $ 4 miliar di pengadilan arbitrase di Jenewa atas pembatalan pesanan sebesar $ 800 juta oleh Rusia, yang telah lama menjadi pemasok utama senjata luar negeri Iran.

Moskow mengatakan bahwa mereka kini telah menawarkan kepada Teheran senjata dalam versi yang lebih modern tetapi belum mengumumkan secara terbuka kapan senjata-senjata tersebut akan dikirimkan.

Rusia Technologies mengatakan Iran sepakat terhadap Moskow setelah "bagian pertama" dari kontrak terpenuhi.

Rusia dan Iran adalah sekutu dalam dukungan mereka kepada rezim Nushairiyah Bashar al-Assad, kini kedua belah pihak membantu pasukan rezim Assad bertempur di Suriah.

 

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

 

Dua Instruktur Amerika Tewas Ditembak Polisi Yordania Saat Latihan

YORDANIA (Jurnalislam.com) – Seorang kapten polisi Yordania menembak mati dua orang Amerika dan satu orang Afrika Selatan di pusat pelatihan polisi dekat ibukota, Aljazeera melaporkan, Senin (09/11/2015)

Seorang warga Yordania juga meninggal akibat luka-lukanya di rumah sakit, sedangkan rekannya ditembak mati setelah serangan di dekat Amman, Senin sehingga korban tewas setidaknya berjumlah lima orang termasuk penembak.

Kantor berita Petra mengatakan tiga instruktur asing yang tewas berada dalam kontrak dengan polisi Yordania.

Tiga warga Yordania lainnya terluka kritis.

Juru bicara pemerintah Mohammed Momani mengatakan kepada Al Jazeera bahwa penembak, Anwar Abu Zaid, pernah bertugas di departemen investigasi kriminal dan unit intelijen polisi, sebelum bergabung dengan program pelatihan di Muwaqar.

Juru Bicara Pentagon Mayor James Brindle mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Pentagon sedang berusaha untuk memverifikasi informasi, menambahkan bahwa ia belum bisa mengkonfirmasi identitas dua orang Amerika yang tewas.

Pusat pelatihan polisi di Al-Mowager terletak 30 km dari Amman, dan terutama digunakan untuk melatih pasukan Irak dan Palestina.

Serangan itu bertepatan dengan hari dan tahun ke 10 peristiwa bom di hotel Amman yang memakan korban 60 nyawa dan melukai puluhan lainnya.

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

Hamas: Tak Akan Berunding dengan Israel, Tak Akan Berikan Sejengkal Tanah Gaza

GAZA (Jurnalislam.com) – Anggota Biro Politik Hamas, Musa Abu Marzuq menegaskan, pihaknya menolak statemen presiden Palestina Mahmud Abbas yang menuding Hamas berunding langsung dengan Israel dan mau menerima perluasan wilayah Jalur Gaza dengan mengorbankan wilayah Sinai di era presiden terguling Muhammad Mursi, Infopalestina melaporkan, Senin (09/11/2015).

Pernyataan ini sebagai respon atas statemen Mahmud Abbas dalam usai bertemu dengan presiden Abdul Fattah al-Sisi di Kairo yang menegaskan bahwa Hamas menggelar perundingan dengan Israel dan presiden Mursi kala itu diminta Hamas meluaskan wilayah Jalur Gaza memakan wilayah Sinai sejauh 1000 km persegi untuk mengakhiri persoalan Palestina.

Dalam pernyataan di akun resminya di Facebook, Abu Marzuq menegaskan hari ini Senin (09/11/2015), tidak ada pemikiran kami mengganti sejengkal pun tanah Palestina dengan 1 meter tanah lainnya. Silahkan saja kalau mau mengada-ada.

“Tidak ada perundingan dengan Israel, kami tidak mengakuinya, kami akan melawan Israel hingga mereka lenyap dari muka bumi, silahkan yang mau menerima atau menolak” tegasnya. Selain itu, ia menandaskan, tidak ada pemerintah di Jalur Gaza yang ada pemerintah Palestina, tak ada negara tanpa Gaza, negara yang kami inginkan adalah dari laut (meditrania) hingga sungai (Yordania).

Ia menambahkan, senjata kelompon pejuang perlawanan terbukti menang melawan Israel dalam berbagai peperangan. Senjata perlawanan ini tidak akan digunakan dalam menghadapi bangsa Arab betapapun perbedaan politik kami cukup tajam. Pasukan Al-Qassam menyiapkan diri untuk membebaskan Al-Aqsha dan tidak akan menyerang Mesir betapapun diprovokasi.

Deddy | Infopalestina | Jurniscom

 

25 Pasukan Pemerintah Afghanistan Bergabung ke Taliban

JOWZJAN (Jurnalislam.com) – Dua puluh lima tentara memutuskan hubungan dengan pasukan pemerintah di provinsi Helmand dan berubah mendukung  Imarah Islam dan bergabung dengan Mujahidin Taliban di provinsi Jowzjan di utara Afghanistan, Al Emarah News melaporkan, Ahad (08/11/2015).

Mereka datang ke distrik Khanaqa provinsi Jowzjan untuk mengikuti panggilan Komisi Dawat-wal-Irshad (dakwah dan bimbingan).

Mantan tentara boneka tersebut menyerahkan diri dan senjata mereka untuk Mujahidin, serta berjanji untuk memutus hubungan dengan pemerintahan Kabul dan atasannya, yaitu para penjajah asing (AS dan sekutunya), dan berjanji memerangi musuh-musuh Imarah Islam bersama dengan Taliban.

Sedangkan di provinsi Baghlan bentrokan terjadi setelah musuh menyerang kabupaten Pol-e-Khomri dan berlanjut sampai malam hari di mana setidaknya 6 boneka tewas dan 8 lainnya menderita luka-luka.

Seorang Mujahid dilaporkan syahid dalam operasi hari Ahad tersebut.

 

Deddy | Shahamat | Jurniscom

Pasukan Israel Kelabakan Setelah Pemukim Yahudi dan Tentaranya Ditembak Sniper

HEBRON (Jurnalislam.com) – Pasukan zionis pada hari Sabtu (07/11/2015) kelabakan, memblokir jalan keluar dari kota Tepi Barat di selatan Hebron saat mereka meluncurkan operasi perburuan terhadap penduduk yang diduga sebagai sniper  setelah insiden penembakan yang menargetkan pemukim Yahudi dan tentara Israel, Alarabiya New Channel melaporkan.

Militer zionis mengatakan dua remaja Israel ditembak dan terluka serius pada hari Jumat di situs yang oleh orang Yahudi klaim sebagai Makam para Leluhur mereka, yaitu Masjid Ibrahim milik kaum muslim.

Sekitar 4.000 pemukim Yahudi menyerbu Hebron pada hari Jumat dan Sabtu sebagai bagian dari ritual yahudi yang berpusat di sekitar kota Hebron.

Seorang tentara zionis juga ditembak dan terluka parah pada hari Jumat di dekat desa Palestina, Beit Anon di utara Hebron.

Juru bicara militer zionis Letnan Kolonel Peter Lerner mengatakan kepada AFP bahwa ada "perburuan yang sedang berlangsung untuk menemukan pelaku serangan kemarin".

Pasukan penjajah Israel sedang mencari rumah warga Palestina di dalam dan sekitar Hebron serta mendirikan pos baru untuk memeriksa kendaraan dan orang, kata seorang wartawan AFP. (Baca: “Sniper Hebron” Alat Intifadhah dan Ketakutan Baru Bagi Zionis)

Selain itu tentara zionis memblokir pintu masuk utara Hebron dengan gundukan kotoran. Pintu masuk Timur telah ditutup selama beberapa hari.

Kelompok HAM Israel B'Tselem pada hari Jumat mengecam tentara karena melaksanakan langkah-langkah "tidak bermoral dan melanggar hukum" yang menghambat kebebasan Palestina bergerak di wilayah Hebron, termasuk penutupan lingkungan Tel Rumeida.

"Langkah-langkah ini merupakan hukuman kolektif bagi warga Hebron berdasar dugaan kosaong tanpa bukti dan dipaksa menderita dalam kehidupan sehari-hari mereka," kata kelompok itu.

Hebron memiliki 200.000 penduduk Palestina dengan sekitar 500 pemukim yahudi yang tinggal di pusat, dilindungi oleh zona penyangga militer yang berpatroli ketat. Situasi ini menjadi sumber konstan ketegangan.

Juga di hari Jumat, wanita tua Palestina berusia 72 tahun ditembak mati oleh tentara zionis secara brutal dengan 19 tembakan ketika hendak mengisi bensin di sebuah pom di dekat Hebron. (baca: Biadab, Pasukan Israel Tembak Mati Seorang Nenek Palestina Berusia 72 Tahun Ketika …)

Sebagian besar aksi perlawanan terjadi di dan sekitar Hebron dan terutama melibatkan serangan penusukan.

Deddy | Jurniscom