Unik! Begini Aksi Bela Tauhid di Padang

PADANG (Jurnalislam.com) – Ada yang berbeda dengan Aksi Bela Tauhid di Padang, umat Islam disana memilih untuk mengadakan Aksi dalam bentuk touring keliling kota Padang, Kamis (25/10/2018).

“Berbagai komunitas, ormas dan perorangan terlihat sangat antusias dengan touring tauhid ini. Target awal kita hanya 30 motor, namun karena kemarahan umat Islam yang meluap terhadap aksi pembakaran yang dilakukan banser NU, peserta yang ikut sekitar 500-an peserta,” ujar Lucky Abdulhay Ketua Panitia Touring Tauhid dilansir HarianHaluan.com, Kamis (25/10/2018).

Selain touring, aksi ini pun diisi dengan orasi dan tausiyah di Masjid Raya Sumbar yang disampaikan oleh ustaz Al-Khatab, Sekjen Forum Umat Islam (FUI).

Lucky menjelaskan bahwa tausiyah tetap penting agar adab umat Islam tetap terjaga saat aksi.

“Umat tetap harus kritis dalam menghadapi situasi seperti ini. Namun jangan sampai melupakan akhlak dan adab. Tidak boleh anarkis dan harus tetap taat peraturan. Termasuk saat touring, harus taat dengan arahan dan petunjuk dari kepolisian. Kita berharap kasus ini dapat diusut dan diproses seadil-adilnya,” jelas dia.

Lukcy berharap dengan acara Touring Tauhid ini, masyarakat dapat bersatu, tidak terpecah belah.

Sebelumnya, sejak tragedi pembakaran kalimat aksara Arab tauhid, sejumlah titik di wilayah Indonesia mengadakan aksi unjuk rasa untuk mengutuk kejadian tersebut karena diduga menistakan simbol agama Islam.

Reporter: Jumi Yanti Sutisna

Heboh! Dibebaskan, 3 Anggota Banser Minta Pengamanan Diri Dari Polisi

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Meski sudah dinyatakan bebas oleh kepolisian, 3 orang pembakar bendera bertuliskan kalimat tauhid di Garut pada perayaan Hari Santri, Senin (22/10/2018) lalu kini masih berada di polres Garut.

Keberadaan ke tiga orang anggota Banser ini di Polres Garut berdasarkan permintaan dari ke tiganya untuk pengaman diri pasca insiden pembakaran bendera tauhid yang dinyatakan bendera milik HTI oleh pihak Kepolisian.

Menurut Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol. Trunoyudo Wisnu Andika ketiganya berada di Polres Garut berdasarkan permintaan pengamanan diri.

“Telah diamankan tiga orang dan saat ini masih berada di Polres dengan kaitan permohonan minta diamankan atau pengamanan diri kepada polres,” Katanya kepada awak media di Mapolda Jabar, Kamis, (25/10/18).

Belum diketahui sampai kapan permohonan pengamanan diri ini akan dilakukan.

Sebelumnya, petugas kepolisian mengamankan 3 orang anggota Banser yang melakukan pembakaran terhadap bendera bertuliskan kalimat tauhid di Garut pada perayaan hari santri Senin tanggal 22 Oktober lalu.

Reporter: Saifal

DSKS Serukan Khatib Salat Jumat Beri Materi “Muliakan Kalimat Tauhid”

SOLO (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Mu’inudinillah Basri menyerukan kepada seluruh khatib dan takmir masjid se-Soloraya untuk memberikan khutbah tentang memuliakan kalimat tauhid pada ibadah salat Jumat (26/10/2018).

“Kepada seluruh ta’mir masjid dan Khatib Jumat untuk menyampaikan materi tema khutbah tentang ‘Memuliakan Kalimat Tauhid’ di khutbah Jumatnya besok,” katanya kepada pesan siar yang diterima jurnalislam.com, Kamis (24/10/2018).

Menurutnya, hal itu ia lakukan sebagai bentuk aksi pembelaan terhadap kalimat tauhid atas apa yang dilakukan oknum Banser pada perayaan Hari Santri Nasional di Garut beberapa waktu yang lalu.

“Mereka melakukan pembakaran tersebut tepat dihari Santri Nasional dengan bernyanyi dan menampakkan penuh kebencian. Tentu hal itu menuai kecaman dari mayoritas umat Islam,” ujarnya.

“Sehingga setelah kejadian itu, Umat Islam di berbagai kota melakukan aksi mengecam tindakan tersebut,” imbuh Muin.

Muin menegaskan, hal ini diperlukan untuk memberikan pendidikan kepada umat agar kejadian yang telah membuat gaduh masyarakat ini tidak terjadi kembali. “Agar kasus di atas tidak terulang kembali,” tutupnya.

Kutuk Tragedi Pembakaran Bendera Tauhid, Begini 7 Pernyataan Sikap Umat Islam Banten

SERANG (Jurnalislam.com) – Ribuan umat Islam Banten yang tergabung dalam Forum Persaudaraan Umat Islam Banten (FPUIB) mengikrarkan 7 Pernyataan Sikap diakhir acara Parade Tauhid di Alun-alun Serang, Rabu (24/10/1018).

7 pernyataan itu dibuat sebagai reaksi atas pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat Tauhid yang dilakukan oleh oknum Banser Garut beberapa hari yang lalu. Berikut pernyataan sikap FPUIB:

1. Bendera yang bertuliskan kalimat Tauhid yang dibakar adalah milik umat Islam bukan milik organisasi tertentu, oleh karena itu martabat dan kemulyaannya wajib dijaga oleh seluruh elemen ummat Islam.

2. Pembakaran terhadap bendera yang bertuliskan kalimat tauhid adalah tindakan melanggar hukum dan tidak dibenarkan dengan dalih apapun, oleh karena itu pelakunya harus dihukum dengan pasal penodaan dan pelecehan terhadap ajaran agama.

3. Menuntut kepada pelaku pembakaran bendera Tauhid agar bertobat dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

4. Meminta kepada pimpinan nasional Banser untuk meminta maaf secara terbuka atas tindakan keliru yang dilakukan anggotanya kepada seluruh umat Islam dan tidak mengeluarkan pernyataan-pernyataan provokatif yang merendahkan pembela kalimat Tauhid serta menyudahi tindakan persekusi terhadap symbol-symbol Islam yang bertuliskan kalimat Tauhid.

5. Menolak tindakan Banser yang selama ini telah mengambil alih wewenang kepolisian Republik Indonesia dalam melakukan tindakan yang mengatasnamakan penertiban dan pengamanan, dan kepada kepolisian agar bersikap netral dalam menangani perkara ini.

6. Meminta kepada Menkopolhukam untuk bertindak adil, tidak diskriminatif, dan bersungguh-sungguh menyelesaikan persoalan ini dengan serius.

7. Meminta kepada Menkopolhukam agar Banser yang telah berulangkali melakukan tindakan yang melanggar keamanan dan ketertiban umum tersebut ditindak berdasarkan UU Ormas Nomor 16 Tahun 2017.

Reporter Jumi Yanti Sutisna.

Hari Ini, Ribuan Umat Islam Banten Demo Kutuk Pembakaran Simbol Islam

SERANG (Jurnalislam.com) – Kasus pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat Tauhid terus mengundang reaksi umat Islam. Ribuan umat Islam Banten yang tergabung dalam Forum Persaudaraan Umat Islam Banten (FPUIB) mengutuk aksi pembakaran simbol Islam tersebut dengan berunjuk rasa di Alun-alun Serang, Rabu (24/10/2018).

Aksi ini dimulai dengan salat Dzuhur berjamaah di Masjid Agung Serang dan di lanjutkan dengan long march menuju Alun-alun Barat Kota Serang.

Ribuan Umat Islam turut dalam aksi ini. Puluhan Bendera Al Liwa dan Ar Raya dikibarkan mengikuti aksi long march.

“Ini sudah keterlaluan, aksi ini adalah bentuk kemarahan umat,” kata koordinator acara, Zaenal kepada Jurnalislam.com disela-sela aksi.

Sementara itu, seorang orator dari Front Pembela Islam menyebut, aksi yang dilakukan oleh sejumlah titik di Indonesia ini adalah bentuk kemarahan umat.

Massa membawa bendera bertuliskan lafadz tauhid. Foto: Jajat/Jurnis

“Bendera hitam bertuliskan kalimat Tauhid adalah milik umat Islam bukan milik HTI, sudah sepantasnya umat Islam marah” ujar perwakilan FPI dari atas mobil komando aksi.

Hingga berita ini diturunkan, aksi unjuk rasa ini masih berjalan. Terlihat FPUIB membagikan selembaran pernyataan sikap.

Reporter: Jajat

Tokoh Islam Solo Sebut Tragedi Pembakaran Bendera Tauhid Satukan Umat

SOLO (Jurnalislam.com) – Tokoh Islam Solo, KH. Muhammad Ali bin Naharussurur menyebut aksi pembakaran bendera tauhid oleh Banser di Garut merupakan salah satu cara Allah menyatukan umat Islam. Sebab, setelah peristiwa yang terjadi di gelaran Hari Santri nasional itu, aksi bela kalimat tauhid muncul di berbagai daerah di Indonesia.

“Saya bersyukur dengan peristiwa ini umat Islam di Indonesia khususnya, dan insyaAllah di dunia insyaAllah akan bersatu,” katanya kepada jurnalislam.com seusai aksi bela kalimat tauhid di depan Mapolresta Surakarta, Selasa (23/10/2018).

“Beginilah cara Allah Subhanahu Wata’ala mempersatukan kita umat Islam, namun mudah-mudahan yang akan datang umat Islam diperstukan Allah dengan kebaikan untuk kebaikan,” imbuhnya.

Menurutnya, sebelum bangsa Indonesia ini merdeka umat Islam sudah menjadi penopang perjuangan melawan penjajah. Untuk itu, ia mengaku geram atas munculnya peristiwa-peristiwa yang melukai perasaan umat Islam di Indonesia.

Ia juga tidak setuju atas tuduhan radikal yang dialamatkan kepada umat Islam yang mempunyai ghiroh membela agamanya. Ia meyakini bendera yang dibakar di Garut tersebut merupakan panji Rasul Ar Rayyah dan bukan milik organisasi HTI.

Namun demikian, Ali mendoakan pelaku pembakaran bendera tauhid itu diberi hidayah oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

“Mudah mudahan iman Islam yang ada di hatinya masih ada dan masih di terima Allah Subhanahu Wata’ala,” pungkasnya.

Dinilai Melenceng, Tokoh NU Solo Mengutuk Aksi Pembakaran Bendera Tauhid Banser Garut

SURAKARTA (Jurnalislam.com) – Tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Ustaz Halim mengutuk keras pembakar bendera Tauhid di Garut beberapa waktu yang lalu. Menurutnya, perbuatan belasan Banser Garut tersebut perbuatan yang harus dikutuk.

“Kita harus jelas sikap yang kita ambil bahwa apa yang dilakukan oknum Banser adalah salah. Membakar kalimah toyibah ‘Laa ilaha illalloh’, ini perbuatan yang salah, ini perbuatan yang harus dikutuk,” ungkapnya sesaat memberikan orasi di aksi Bela Kalimat Tauhid Solo, Selasa (23/10/2018).

Pengasuh PP Takmirul Islam Solo ini menegaskan, perbuatan yang telah terkonfirmasi tersebut merupakan ulah oknum, bukan Banser secara keseluruhan.

“Yang kedua musuh kita adalah PKI, Banser bukan musuh kita, oknum Banser itu adalah musuh kita,” jelasnya yang disambut pekik Takbir oleh para peserta aksi.

“Banser sesungguhnya tidak seperti ini, Banser sesungguhnya didirikan oleh NU, NU oleh Kyai Hasyim Asy’ari.”

“Kyai Hasyim Asy’ari adalah pendiri NKRI beliaulah memerintahkan Resolusi Jihad,” tutupnya.

Aksi Bela Tauhid Solo, Puluhan Ribu Peserta Bentangkan Bendera “Al-Liwa” Sepanjang 1Km

SOLO (Jurnalislam.com) – Ada yang menarik dari aksi Bela Kalimat Tauhid di depan Mapolresta Solo, Selasa (23/10/2018). Aksi tersebut diwarnai dengan pembentangan bendera tauhid Al Liwa sepanjang 1Km oleh peserta aksi.

Korlap aksi ustaz Dadyo Hasto mengatakan, aksi pembentangan bendera tauhid di aksi Bela Kalimat Tauhid yang dihadiri puluhan ribu peserta ini bentuk semangat dari umat Islam khususnya Soloraya untuk membela agamanya.

“Sebuah semangat baru yang kembali tergugah melalui perbuatan tidak berakhlak dari oknum Banser di Garut, semangat bahwa Panji dan bendera Tauhid merupakan pemersatu dan penguat barisan umat Islam,” katanya seusai aksi kepada jurnalislam.com dilokasi.

“Dalam aksi siang tadi, kita munculkan lagi bendera tauhid sepanjang lebih dari 1 km,
Bendera yg telah menyatukan umat Islam Soloraya beberapa tahun yg lalu,” tambahnya.

Selain itu, menurutnya bersatunya umat Islam Soloraya dibawah panji kalimat tauhid dalam aksi tersebut merupakan tanda perlawanan umat Islam.

“Bendera yang akan selalu menjadi simbol bangkitnya umat Islam Soloraya dari tidur panjangnya dalam memperjuangkan Islam ditengah kondisi bangsa yg terpuruk dan kehidupan beragama yang telah carut marut oleh nafsu dunia,” paparnya.

Lebih lanjut Hasto berharap, dengan di munculkannya bendera tauhid terpanjang di kota Solo itu, dapat mengentarkan oknum-oknum yang membenci dan alergi terhadap kalimat tauhid atau simbol-simbol Islam.

“Semoga dengan bendera tauhid terpanjang ini mampu menyadarkan pikiran pendek dari oknum Banser yang butuh disadarkan bahwa bendera tauhid bukan bendera salah satu ormas,” tandasnya.

Sebelumnya, Bendera Al Liwa ini sendiri pernah dipakai dalam aksi parade tauhid di sepanjang jalan slamet riyadi pada tahun 2015 yang lalu.

Bendera Tauhid Dibakar, Umat Islam Banten Siap “Bergerak”

SERANG (Jurnalislam.com) – Kasus pembakaran bendera hitam aksara Arab Tauhid mengundang reaksi keras dari elemen umat Islam. Diantaranya umat Islam di Banten.

Ketua Forum Persaudaraan Umat Islam Banten (FPUIB), Zaenal mengatakan, umat muslim di Banten geram dan akan membuat aksi damai “Bela Tauhid” sama seperti sejumlah titik di Indonesia ini.

“Kami sangat marah dengan pembakaran bendera simbol Islam di Garut. Bendera hitam bertuliskan lafadz Tauhid bukanlah bendera HTI, jangan sekali kali memperlakukannya dengan cara seperti itu karena lafadz Tauhid merupakan aqidah dasar umat Islam.”

“Aksi ini kami selenggarakan sebagai bentuk kemarahan kami, marah karena Alloh. Apa yang di lakukan oleh oknum teman-teman Banser sudah melewati batas,” ungkap Zaenal kepada Jurnalislam.com, Selasa (22/10/2018).

Ia menjelaskan, aksi Bela Tauhid ini akan dilaksanakan di Serang, Banten pada hari Rabu (23/10/2018). “Untuk persiapan aksi besok sudah hampir 100 persen, insya Alloh ribuan umat Islam Banten akan ikut serta dalam aksi ini,” pungkasnya.

Aksi ini akan di mulai dengan salat Dzuhur berjamaah di Masjid Agung At Tsauroh Serang, Banten dilanjutkan dengan long march menuju Alun-alun Barat Kota Serang.

Reporter: Jajat

Hari Santri dan Insiden Bendera

Oleh: Agastya Harjunadhi, Former Sekjen Young Islamic Leaders. Duta Pemuda Indonesia untuk Malaysia 2014.

JURNALISLAM.COM – Salah satu kekayaan Indonesia yang unik adalah menjadi negara dengan populasi muslim terbesar di Indonesia. Semakin unik karena muslim terbesar ini terdiri dari masyarakat yang sangat heterogen baik dari sisi budaya, adat, suku, bahasa, dan tentunya daerah. Dari Sabang hingga Merauke, dari Pulau Sumatra hingga Papua, rata memiliki jejak Islam yang membuatnya menjadi agama mayoritas negeri zamrud khatulistiwa ini.

Sejak diresmikannya oleh Presiden Jokowi tahun 2015 lalu, Hari Santri Nasional disambut dengan sangat gembira oleh kalangan santri juga Kyai. Hari Santri juga telah menjadi momen ekspresi bagi kaum pelajar khususnya Islam di kalangan pesantren. Walaupun begitu, tetap ada sebagian masyarakat yang menilai tak perlu.

Terlepas dari opini masyarakat, penulis yang juga pernah menjadi santri melihat bahwa Hari Santri Nasional patut diapresiasi. Karena ini adalah momen untuk kita semua agar terus menerus diingatkan akan sejarah masa lalu. Jelas bahwa landasan penentuan Hari Santri adalah ketika lahirnya Resolusi Jihad dari Nadlatul Ulama.

Ketika itu, Jendral Soedirman yang dikenal sebagai guru SD Muhammadiyah yang memimpin perang gerilya memohon pada utusan dari arek Suroboyo untuk menghadap ke KH Hasyim Asyari, pendiri NU, tentang fatwa membela negara. Atas dasar itu para Kyai se-Jawa Madura berkumpul dan kemudian merumuskan fatwa untuk merespon penjajahan atas Negara Indonesia yang baru berdiri.

Maka, setelah pertemuan panjang, dicetuskanlah Resolusi Jihad yang menggetarkan sanubari dan membakar jiwa. Isinya adalah tentang fatwa perjuangan melawan penjajah mempertahankan tanah air Indonesia. Resolusi Jihad dengan cepat disebarkan kepada masyarakat luas. Bahkan yang tersebar ke seluruh penjuru Indonesia melalui pidato fenomenal dari Bung Tomo, yang sangat luar biasa membakar.

Perjuangan ketika itu banyak dipimpin oleh para Kyai, tokoh masyarakat, dan diikuti oleh kalangan santri, dan tak ketinggalan pemuda masyarakat pada umumnya. Tua muda bahkan sebagian perempuan ikut berjuang. Mereka bersemangat menjemput syahid di medan juang. Puncaknya adalah pertempuran 10 November yang dahsyat, yang kemudian kita kenang menjadi hari Pahlawan.

Kontribusi besar NU mengeluarkan Resolusi Jihad telah menjadi catatan sejarah gemilang umat Islam membela NKRI. Namun sayang hari ini, ada oknum dalam organisasi underbow NU melakukan tindakan yang kurang pantas. Tersebar video dengan durasi 2 menit 30 detik merekam adanya oknum Banser (Barisan Pemuda Ansor) Garut, organisasi kepemudaan binaan NU, melakukan adegan pembakaran bendera berwarna hitam bertuliskan kalimat tauhid “Laa ilaaha illallaah, Muhamadarrasuulullah”.

Dalam insiden itu, mereka sembari menyanyikan lagu hubbul wathan dan mengibar-kibarkan bendera besar merah putih. Pemandangan ini sangat disayangkan karena tidak mencerminkan sama sekali kearifan lokal Indonesia yang menjunjung tinggi toleransi dan saling menghormati. Indonesia, negeri yang terkenal santun, tepa slira, bhineka tunggal ika, seyogyanya tak melakukan tindakan yang menyudutkan pihak tertentu atau merusak simbol tertentu, apalagi simbol Islam.

Simbol agama mereka (para pelaku) sendiri. Simbol bendera berlafalkan kalimat tauhid tersebut menurut keyakinan Islam merupakan simbol agama, berlandaskan hadist rasululla shalallahu alayhi wasallam: “Panjinya (râyah) Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam– berwarna hitam, dan benderanya (liwâ’) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “lâ ilâha illaLlâh Muhammad RasûluLlâh”.” (HR. Al-Thabrani)

Setelah penulis teliti lebih lanjut dan mengikuti perkembangan, ada keterangan yang tidak sama dari pihak-pihak yang terkait. Dikutip dari Vivanews, Ketua Umum GP Ansor, Gus Yaqult menerangkan pembakaran itu benar, karena dianggap itu bendera ormas HTI. Ketua GP Ansor Saiful Rahmat Basuki dalam wawancaranya di salah satu stasiun tv swasta, tajuk Kabar Petang, menyatakan pembakaran diniatkan untuk menyelamatkan kalimat tauhid.

Dalam konteks hari ini, pembakaran bendera bermakna menghinakan. Kita ambil contoh seperti pembakaran bendera Israel, adalah cara mengungkapkan kebencian kita kepada negara tersebut yang menjajah Palestina. Maka sungguh sangat disayangkan apabila oknum Banser membakar bendera bertuliskan kalimat tauhid apabila disertai niat memang ingin menghinakan karena menganggap bahwa bendera itu tidak layak dikibarkan dengan landasan bahwa itu adalah bendera ormas radikal. Jika ingin menyelamatkan kalimat tauhid, harusnya disimpan, bukan dibakar.

Apapun alasannya, jika sebagai seorang muslim yang diajarkan sikap hormat, seharusnya tak perlu melakukan pembakaran terhadap bendera yang bertuliskan kalimat simbol keimanan. Saya berhusnudzan semoga memang karena ketidaktahuan. Tapi jika karena niat benci terhadap HTI, seharusnya kita semua bisa lebih menahan diri. Sikap hati-hati ini perlu disosialisasikan kepada ummat, agar tidak terjerumus dan menjadi fitnah terhadap agama kita. Karena kewajiban menjaga martabat/kemuliaan agama adalah bagian dari keimanan.

Kami menyayangkan tindakan oknum Banser melakukan tindakan tersebut. Kami mendukung aparat melakukan penegakkan sesuai hukum yang berlaku. Kami juga mendukung pihak internal Banser melakukan sanksi dalam rangka menghormati kalimat kita bersama, kalimat tauhid, dan kemudian memberikan klarifikasi yang menenangkan dan menyejukkan ummat. Bahkan perlu memberikan pernyataan maaf kepada ummat Islam Indonesia dan seluruh dunia tersebab telah melakukan tindakan yang menyinggung. Mari kita saling menghormati, dalam bingkai saudara sebangsa dan terlebih saudara seiman.

Janganlah keluhuran momen Hari Santri Nasional ternodai dengan insiden yang menodai kalimat tauhid. Padahal tanggal 22 Oktober 1945 lalu, kalimat inilah yang menjadi landasan utama bertempur melawan penjajah membela NKRI. Justru jika ingin membela NKRI itu adalah dengan memuliakan agama.