Film Kondisi Palestina, Hayya The Power of Love 2 Ditayangkan di 100 Kota

SOLO(Jurnalislam.com)–Koordinator acara perwakilan lembaga Aman Palestin, salah satu inisiator Film Hayya: The Power of Love2 Rinto Dody mengatakan ada 100 kota di Seluruh Indonesia yang mengadakan nobar film Hayya ini

“Secara keseluruhan acara nobar dilakukan di 100 kota di Indonesia dan di Jawa Tengah sendiri, dilakukan di 3 kota/Kabupaten, Jogja, Magelang dan hari ini di Solo” kata Dody kepada media, Jumat (19/9/2019)

Sementara itu, salah satu komunitas yang juga berpartisipasi dalam kegiatan ini dan sering mengadakan nobar film-film islami maupun yang ber-nuansa film baik, KOPFI Solo bersama Aman Palestin tentunya berhasil mengajal lebih dari 600 penonton i CGV, Transmart Solo.

Dina Marlina, Ketua KOPFI Solo menuturkan, kebanyak penonton film ini ialah para anak muda mudi yang punya perhatian khusus pada keadaan masyarakat Palestina yang saat ini tengah dijajah oleh Israel.

“Kebanyakan penonton si anak muda, orang-orang kampus di sekitar Kota Solo sini, antusias mereka sudah terlihat sejak film pertamanya The Power Of Love 212, yang tayang tahun Kemarin, kita juga adakan nobar film itu” Jelas Dina lulusan Poltekes Surakarta tersebut.

 

Keuntungan Film untuk Palestina, Adhin Abdul Hakim: Jaga Film ‘Hayya’

SOLO (Jurnalislam.com)- Adin Abdul Hakim salah satu pemain dalam film Hayya mengajak masyarakat Indonesia untuk ikut menjaga film yang mumpunyai latar belakang di negara Palestina tersebut.

Hal itu, ia katakan dalam acara Nonton Bareng film Hayya yang diadakan oleh lembaga kemanusiaan Aman Palestin, Dai Peduli, Keep Organizer dan Komunitas Pecinta Film Islami (KOPFI) Solo di CGV Cinema Transmart Solo Jum’at, (19/9/2019).

“Terimakasih semua terimakasih Indonesia mohon doanya supaya dihari kedua, ketiga, dan seterusnya Hayya bertahan di bioskop. Pesan saya jaga Hayya di bioskop siapapun kalian, karena dengan ini kita bisa memanusiakan manusia,” katanya kepada wartawan.

“Alhamdulillah dihari pertama tayang saya bisa menemani warga Solo untuk menonton film Hayya. Seluruh tiket di Solo sold out dan seluruh peserta bersuka cita sambil berdonasi. Karena setiap pembelian tiket hasilnya akan didonasikan ke saudara-saudara kita di Palestina,” imbuhnya.

Ratusan Warga Klaten Ikuti Longmarch Ukhuwah Umat untuk Indonesia Lebih Maju

KLATEN (Jurnalislam.com)- Ratusan umat Islam Klaten dan sekitarnya mengikuti longmarch ukhuwah bertajuk ‘Menggalang Ukhuwah Umat Islam Untuk Indonesia Lebih Maju’ yang diadakan oleh Aliansi Laskar Islam Klaten di Masjid Raya Klaten, Jum’at, (20/9/2019).

 

Kegiatan longmarch dimulai pukul 14.00 wib dengan rute start Alun Alun Klaten lalu Makodim kanan, stadion Trikoyo, Simpang Empat Pandan Rejo menuju SMPN 6, dan finish di Masjid Raya Klaten.

 

Peserta longmarch mengunakan atribut bendera tauhid dan merah putih serta membawa spanduk spanduk ajakan untuk menjaga persatuan dan kesatuan NKRI.

 

Ketua Aliansi Laskar Islam Klaten ustaz Sugiyanto menyebut kegiatan longmach yang dihadiri elemen umat Islam Klaten tersebut juga untuk menyatukan visi dan misi dalam menghadapi musuh musuh yang ingin merusak Islam dan persatuan NKRI.

 

“Yang terdiri dari seluruh elemen laskar yang ada di Klaten, mengadakan longmarch dalam rangka merajut tali silaturahmi,” katanya dari atas mobil komando.

 

“Dan dalam memberikan pesan peringatan kepada kita hendaklah kalian mempersiapkan diri sesuai dengan kemampuan kalian,” imbuhnya.

 

Sementara elemen umat Islam yang ikut dalam kegiatan tersebut diantaranya dari FPI, FJI, Kokam, Sanex, Santri Klaten, Jamaah Ansharu Syariah, FKAM dan Laskar Islam.

Komunitas Muslim Soloraya Berbagi Santap Bersama Napi Rutan Kelas 1 A Surakarta

SOLO (Jurnalislam.com)- Waroeng Murah (WM) Solo bersama Sumringah, Melangkah Dengan Sedekah (MDS), Warung Ikhlas, dan Pemuda Hijrah menggelar aksi sosial ‘Berbagi Makanan’ kepada warga binaan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas 1A Surakarta, jum’at, (20/9/2019).

 

Dalam kegiatan tersebut, kordinator aksi Muhammad Nur Syawaludin mengatakan bahwa pihaknya membagikan 800 porsi paket makanan kepada warga binaan Rutan yang terletak di Jl. Slamet Riyadi No.18, Kp. Baru, Kec. Ps. Kliwon, Kota Surakarta itu.

 

“Kegiatan sebelumnya kajian tausiyah oleh ustaz Arifin Badres, kemudian membagikan roti dan makanan yang ikut pengajian 200 kita bawa makanan sekitar 800 porsi,” katanya.

 

Kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya dakwah yang dilakukan Waroeng Murah dan komunitas Islam di Solo kepada narapidana agar saat bebas nanti bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

 

“Untuk merangkul para napi yang ingin hijrah, kita mengakrabi mereka, jadi dan rencananya kegiatan ini satu bulan sekali, agar mereka yang benar benar ingin taubat kita dampingi mereka,” ungkap Mas Nur sapaan akrabnya.

 

“Tadi ada juga salah satu napi yang datang ke kita tanya tanya tentang kegiatan waroeng murah, dan insyaallah setelah keluar akan ikut bergabung dg kita,” imbuhnya.

 

Mas Nur mengatakan, setelah melakukan aksi berbagi makanan di Rutan Surakarta, Waroeng Murah melanjutkan kegiatan sosial berbagi tersebut di Bundaran Gladak, Solo.

 

“Alhamdulillah kita melanjutkan berbagi makanan untuk dhuafa di Gladak, tadi masih sisa sekitar 100 porsi dengan menu nasi tengkleng,” pungkasnya.

Siswa SD Muhammadiyah Palur Berbagi Makanan Jum’at Gratis untuk Pedagang Kecil

SUKOHARJO (jurnalislam.com)- Mengambil momen Jumat berkah, SD Muhammadiyah Palur bekerjasama dengan team Keislaman Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab (ISMUBA) mengadakan kegiatan sosial bertajuk ‘Berbagi Rezeki’ (BERGIZI) dengan membagikan nasi kotak pada pedagang di area sekolah, Jumat pagi (20/9/2019).

 

“Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini, SD Muhammadiyah Palur bekerjasama dengan team ISMUBA kembali mengadakan program berbagi rezeki khususnya dihari jumat dengan membagikan nasi kotak yang biasanya kita sediakan untuk jama’ah sholat Jum’at,” ujar Nur Laili Fauzi selaku Ketua ISMUBA.

 

Kegiatan tersebut, dilakukan sebagai upaya mendekatkan diri ke masyarakat, khususnya pedagang yang setiap hari berjualan di lingkungan sekolah.

 

“Selain berbagi, para siswa juga bisa mendekatkan diri dengan masyarakat sekitar,”tambahnya.

 

Sementara itu, di tempat terpisah ketua kegiatan Alfina Adi mengatakan kegiatan BERGIZI tersebut spesial karena juga menyadar kepada mereka yang setiap hari berinteraksi dengan para siswa di SD Muhammadiyah Palur.

 

“Harapannya dengan kegiatan Jumat berbagi ini dapat menjadi pengingat untuk kita semua pentingnya bersedekah, dan berbagi kepada sesama khususnya dihari jumat, untuk menambah Iman dan takwa kita kepada Allah,” tegas Alfina

MUI Kutuk Pembunuhan Muslimah Palestina oleh Israel di Al Quds

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, Muhyiddin Junaidi, mengutuk keras aksi pembunuhan terhadap Alaa Wahdan oleh pasukan penjajahan Israel dengan keji di pos pemeriksaan Qalandia di Jerusalem Utara, kemarin (19/09). Selama 2019, pembunuhan serupa telah mencapai angka 346.

“Ya, ini menandakan Israel dan sekutunya semakin brutal dan bersikap biadab terhadap bangsa palestina,” katanya kepada Jurnalislam.com, saat dihubungi, Jumat (20/09/2019).

Ia juga menyayangkan negara-negara tetangga di sekitar Palestina yang diam atas persoalan tersebut. Menurutnya, mekanisme baru negara Teluk Arab justru melegitimasi agresivitas Israel dan rencana pencaplokan Tepi Barat, bukan menyelesaikan pangkal permasalahan.

“Karena bangsa Arab dengan kepemimpinan mereka sedang terkontaminasi penyakit hubbud dunia (cinta dunia), semakin mesra dengan para petinggi Israel dan sekutunya di dunia,” ujarnya.

Bahkan, lanjutnya, perang sesama bangsa Arab muslim dengan menghabiskan ratusan miliyar dolar dinilai telah membuka jalan lebar bagi Israel untuk memperluas wilayah jajahan mereka. Khususnya usai Jerussalem dikuasai Israel dan Tepi Barat semakin di Yahudikan dengan perluasan aneksasi wilayah Arab.

“Jadi, mimpi Yahudi untuk mendirikan Israel Raya hanya tinggal menunggu waktu, ini ironis sekali,” tuturnya.

AILA: Filosofi Dasar RUU P-KS Bertentangan dengan Falsafah Bangsa

Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia kembali beraudiensi dengan Komisi VIII DPR RI terkait penolakan pengesahan UU P-KS yang dinilai bertentangan dengan falsafah kebangsaan.

“Yang menjadi inti dari penolakan ini adalah filosofi yang menjadi dasar RUU P-KS. Karena jika filosofinya bukan berdasarkan filosofi bangsa Indonesia, maka akan sangat mungkin ada penumpang gelap dalam RUU ini,”kata Ketua AILA Rita Soebagio, Selasa (17/9/2019).

Menurutnya, sebuah rancangan undang-undang harus memenuhi landasan sosiologi, filosofis, yuridis yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia secara luas dan berkeadilan.

Selain itu , ia juga menegaskan bahwa, menolak RUU P-KS bukan berarti tidak peduli pada korban kekerasan dan menolak RUU P-KS bukan berarti mendukung para pelaku kekerasan.

“Ini kan tuduhan yang sering ditujukan oleh para pendukung RUU. Ada 190 ormas besar yang menandatangai surat pernyataan menolak RUU. Maka otomatis tuduhan dan fitnah tersebut pun ditujukan pada 190 ormas,”ungkapnya.

DPR Curhat Belum Bahas RUU P-KS, AILA: Kenapa Ingin Buru-buru Disahkan?

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia kembali beraudiensi dengan Komisi VIII DPR RI terkait penolakan pengesahan UU P-KS yang dinilai bertentangan dengan falsafah kebangsaan.

Beberapa anggota DPR seperti Dyah Pitaloka (PDIP), Rahayu Saraswati (Gerindra), dll memberikan pandangannya.

“Saya masih ingat kok tahun 2017 ibu – ibu AILA datang ke kantor saya untuk menyerahkan DIM. Nah bagaimana mau dilihat itu DIM nya bu. Wong pembahasannya saja tidak pernah dilakukan,” kata Rahayu Saraswati dari Fraksi Partai Gerindra.

Rieke Dyah Pitaloka dari PDIP pun menyatakan hal serupa jika ada masyarakat yang menolak, itu berarti RUU ini tidak baik-baik saja.

“Kami akan carry over pada periode berikutnya,” katanya.

Setelah mendengar pendapat dari kedua belah pihak, rapat dengan komisi 8 pun dibubarkan.

AILA Indonesia bersama perwakilan ormas pemuda kembali ke depan gerbang MPR/DPR untuk bicara di hadapan massa.

Dalam orasinya Rita Soebagio menyatakan, “Bagaimana mungkin sebuah RUU akan disahkan jika tidak melalui pembahasan. Padahal sebuah undang – undang haruslah lahir dari sebuah pembahasan yang komprehensif.”

Soal RUU P-KS, Aliansi Cerahkan Negeri Ingatkan DPR Jangan Coba Main Kucing-Kucingan

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Komisi VIII DPR RI yang diwakili oleh Saras Rahayu menerima audiensi dari dua pihak yang Pro dan Kontra terhadap RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS).

Ia menyatakan bahwa RUU P-KS belum sama sekali dibahas, Daftar Inventaris Masalah (DIM) belum sama sekali dibuka.

“Jadi bagaimana bisa kami akan mengesahkannya dalam sisa waktu DPR periode ini,”kata dia.

Audiensi bersama Komisi VIII ini terjadi saat kedua massa Pro dan Kontra sama-sama melakukan unjuk rasa di depan gedung DPR-MPR RI Senayan (17/09/2019).

Dari pihak Pro RUU P-KS hadir Fatayat NU, Basis Komunitas, Forum Pengada Layanan (FPL) dan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI).

Sedangkan dari pihak Kontra RUU P-KS diwakili oleh Aliansi Cerahkan Negeri (ACN), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK), Indonesia Tanpa JIL (ITJ), SALAM UI dan Aliansi Cinta Keluarga Indonesia (AILA).

Setelah mendengar uraian pendapat dari pihak Pro dan Kontra, Endang dari Fraksi Partai Golkar menambahkan, “Ketika masyarakat berpolemik terkait dengan adanya sebuah Rancangan Undang Undang, maka ini harus dikaji lebih dalam, karena ketika ini disahkan maka akan berlaku mengikat bagi seluruh rakyat Indonesia. Jadi, RUU P-KS ini tidak bisa diselesaikan dalam waktu dekat.”

Di sisi lain Rey Armero dari Aliansi Cerahkan Negeri (ACN) yang juga ikut dalam audiensi tersebut menilai apa yang disampaikan Komisi VIII (17/09), bertentangan dengan penyataan Marwan Dasopang, Ketua Panja Komisi VIII.

Seperti yang di kutip oleh Harian Kompas (19/09/2019) dengan judul ‘DPR Janji Tuntaskan’. Marwan mengatakan, “Kami masih mengagendakan RUU P-KS disahkan di rapat paripurna DPR pada hari terakhir masa jabatan, yakni pada 24 September 2019.”

“RUU P-KS masih bermasalah dalam hal judul dan tataran filosofisnya, ini sangat prematur jika DPR memaksa untuk disahkan. Kami mengingatkan, Komisi 8 jangan coba main kucing-kucingan. Sembunyi-sembunyi mengadakan pembahasan dengan pihak lain, lalu ketok palu disaat injury time,” pungkas Rey.

Pemkot Tasikmalaya Ingin Jadi Pelopor Wisata Halal di Jabar

TASIKMALAYA(Jurnalislam.com) — Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya berencana menjadi pelopor wisata halal di Jawa Barat (Jabar).

Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman mengatakan, latar belakang wilayahnya dengan tradisi Islam yang kuat dan memiliki banyak pesantren menjadi modal yang kuat untuk menjadi destinasi wisata halal.

“Kita sangat mendukung itu. Apalagi kita dikenal dengan kita santri, pesantren. Artinya sangat pas,” kata dia, Kamis (19/9).

Ia menilai, saat ini wisata halal sudah memiliki pasar yang luas.

Bahkan, lanjut dia, Jepang yang notabene bukan negara dengan mayoritas penduduk Muslim telah menawarkan paket wisata halal ke tempatnya untuk para wisatawan.

Menurut dia, itu karena pasar wisatawan di Asia cukup besar. Apalagi, mayoritas penduduk Asia beragama Islam.

Dalam mewujudkan rencana itu, Budi menjelaskan, pihaknya sudah mulai mengarahkan produk usaha mikro kecil menengah (UMKM) untuk memiliki label halal. Terutama untuk produk kuliner.

“Hanya belum semua. Kita ingin semua, kalau masuk ke Tasikmalaya makanan semua halal,” kata dia.

Sebelumnya, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) cabang Tasikmalaya mengggelar lokakarya wisata halal untuk para pemangku kepentingan di wilayah Priangan Timur, Jawa Barat.

Lokakarya yang diikuti ratusan orang itu membahas mengenai cara untuk pengembangan wisata halal.

Ketua Umum MES cabang Tasikmalaya, Profesor Kartawan mengatakan, lokakarya itu dilakukan untuk membekali para pemangku kepentingan dengan konsep wisata halal. Menurut dia, wilayah Priangan Timur sangat memiliki potensi untuk wisata halal.

“Alasannya, kondisi di sini relatif Islami. Kita banyak pesantren dan tempat bersejarah. Selain juga objek yang biasa, dengan pelayanan dan produk yang syariah,” kata dia.

Ia mencontohkan, Pondok Pesantren Suryalaya di Kabupaten Tasikmalaya atau Pesantren Sirnarasa di Kabupaten Ciamis, banyak dikunjungi jamaahnya untuk wisata religi.

Hal itu, kata dia, belum digarap secara maksimal dengan pelayanan yang baik. Padahal, ia menyebut, sektor pariwisata dapat mendongkrak perekonomian daerah.

Ia menjelaskan, konsep wisata halal sebenarnya bukan hanya dikhususkan untuk wisatawan Muslim. Lebih dari itu, masyarakat dunia sudah mulai mengonsumsi segala hal yang halal lantaran dinilai sebagai gaya hidup untuk sehat.

Sumber: republika.co.id