PBB Desak Selamatkan Muslim Rohingya di Lautan

JENEWA (Jurnalislam.com)– Juru Bicara Komisi Tinggi HAM PBB, Rupert Colville, mendesak adanya upaya pencarian dan penyelamatan terhadap kelompok Muslim etnis Rohingya yang terombang-ambing di laut.

melakukan perjalanan laut yang berbahaya dengan sebuah kapal dari Myanmar maupun Bangladesh menuju wilayah negara lain.

Colville mengatakan masih ada laporan terdamparnya kapal-kapal lain yang mengangkut pengungsi Rohingya.

Dia mengatakan, praktik intersepsi berbahaya, termasuk mendorong kembali kapal yang mencoba mendarat, harus dihindari dengan hati-hati. Kejadian ini juga mengingatkan pada peristiwa menyedihkan beberapa tahun silam.

“Perjalanan mengerikan para pengungsi Rohingya di laut ini mengingatkan pada kejadian beberapa tahun lalu ketika ratusan ribu orang Rohingya melarikan diri dari penganiayaan pihak berwenang di negara bagian Rakhine,” kata Colville dilansir Anadolu Agency, Sabtu (18/4).

Komisi HAM PBB terkejut dengan berita lebih dari 30 pengungsi Rohingya tewas di sebuah kapal di Teluk Benggala. Bahkan, hampir 400 orang Rohingya lainnya membutuhkan perawatan medis setelah hampir dua bulan terdampar di laut. Banyak perempuan dan anak-anak Rohingya yang ikut dalam perjalanan tersebut.

“Hampir 400 lainnya ditemukan mengalami dehidrasi, kurang gizi, dan membutuhkan perawatan medis karena hampir dua bulan di laut. Kami mendapat laporan kapal ini telah berulang kali mencari pelabuhan yang aman, tetapi kapal itu tidak bisa mendarat di Malaysia,” ujarnya.

Kepala Eksekutif Fortify Rights, sebuah organisasi non-pemerintah, Matthew Smith, menuturkan, pemerintah Malaysia harus menyelidiki siapa yang memerintahkan kapal Rohingya itu kembali ke laut dan segera mengesahkan misi pencarian dan penyelamatan untuk setiap kapal lain yang sedang dalam kesulitan.

“Covid-19 bukan alasan untuk mengirim pengungsi ke laut. Mengirim kapal pengungsi yang tidak lengkap ke laut adalah melanggar hukum dan hukuman mati,” kata dia.

Saat ini, masih banyak Muslim etnis Rohingya yang tinggal di kamp-kamp yang penuh sesak di Bangladesh. Banyak pula yang berlayar dari Bangladesh, karena kamp yang sudah sesak, ke negara-negara lain di kawasan itu.

sumber: republika.co.d

Kalau Masih Ada Warga Keluar Rumah, Duterte Ancam Darurat Militer

MANILA(Jurnalislam.com) – Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengancam akan mengerahkan militer jika warganya tidak patuh terhadap kebijakan lockdown. Pemerintah telah memberlakukan kebijakan lockdown di ibu kota Filipina sejak Maret, ketika jumlah infeksi positif Covid-19 meningkat.

Ancaman presiden ini muncul setelah pihak berwenang melaporkan peningkatan jumlah mobil di jalan-jalan Manila. Padahal pemerintah telah memberlakukan lockdown pada sekitar 110 juta orang di negara itu.

“Saya hanya meminta sedikit disiplin. Jika tidak, jika Anda tidak percaya kepada saya, maka militer dan polisi akan mengambil alih,” ujar Duterte dalam pidato yang disiarkan televisi nasional dikutip Channel News Asia Sabtu (18/4).

“Militer dan polisi akan menegakkan jarak sosial pada jam malam. Ini seperti darurat militer. Anda pilih,” ujarnya menambahkan.

Duterte telah berulang kali mengancam akan menjatuhkan kekuasaan militer nasional atas Filipina. Tapi, itu hanya kata-kata yang membangkitkan pelanggaran hak terburuk kediktatoran Ferdinand Marcos.

sumber: republika.co.id

Gara-gara Corona, Dunia Hadapi Krisis Ekonomi Terburuk

INTERNASIONAL(Jurnalislam.com)–Dana Moneter Internasional, IMF, merilis Outlook Ekonomi Dunia musim semi pada Selasa (14/04) di tengah menyusutnya sebagian besar aktivitas ekonomi dunia akibat wabah corona.

Pemerintah berbagai negara telah menutup sebagian besar ekonomi nasional mereka dalam upaya mengekang perluasan pandemi.

Dalam laporannya, IMF memangkas perkiraan pertumbuhan global sebesar 3,3 persen untuk tahun ini, karena lockdown atau penguncian telah menyebabkan kegiatan ekonomi nyaris macet total. “Kami mengantisipasi kejatuhan ekonomi terburuk sejak Depresi Besar,” ujar Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva.

Sementara Gita Gopinath, penasihat ekonomi IMF mengatakan “sangat mungkin bahwa tahun ini ekonomi global akan mengalami resesi terburuk sejak Depresi Besar, melampaui yang terlihat selama krisis keuangan global satu dekade lalu. Great Lockdown, demikian orang menyebutnya, diproyeksikan akan menyusutkan pertumbuhan global secara dramatis,” ujar Gopinath.

Lebih lanjut, Gopinath mengatakan bahwa kemungkinan pemulihan parsial dapat diproyeksikan untuk tahun 2021, namun ia mengatakan bahwa masih ada ketidakpastian yang cukup besar tentang seberapa kuat ekonomi akan kembali pulih.

Apa itu Depresi Besar?

Depresi Besar, Great Depression atau biasa juga disebut zaman malaise adalah depresi ekonomi sedunia yang berlangsung selama sekitar 10 tahun. Kejadian ini dimulai dengan kejatuhan pasar saham di Amerika Serikat pada 24 Oktober 1929. Selama empat hari berikutnya, harga saham anjlok sebesar 22 persen.

Depresi Besar memengaruhi semua aspek kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Pada puncaknya di tahun 1933, angka pengangguran di Amerika Serikat meningkat dari 3 persen menjadi 25 persen. Mereka yang masih memiliki pekerjaan pun terpaksa dipotong gajinya.

Fokus kepada Eropa

Laporan IMF yang baru saja dirilis ini menyatakan bahwa performa ekonomi di 19 negara anggota zona euro diperkirakan ambruk sebesar 7,5 persen pada tahun 2020. Inggris, yang baru saja meninggalkan Uni Eropa pada Januari, diperkirakan akan mengalami kontraksi ekonomi sebesar 6,5 persen. IMF menyimpulkan bahwa kawasan Eropa secara keseluruhan kemungkinan besar akan melihat kinerja terburuk di dunia.

Namun, di tengah kabar mendung ini, laporan IMF masih mengirimkan sinyal optimisme dan mengatakan bahwa jika COVID-19 bisa terkendali pada paruh kedua tahun ini dan ekonomi di seluruh dunia dapat mulai beroperasi lagi, diperkirakan akan ada rebound sebesar 5,8 persen pada tahun 2021. Namun pesan itu datang dengan peringatan bahwa adanya kesulitan dalam membuat perkiraan yang akurat di tengah situasi yang berubah dengan cepat.

“Ada ketidakpastian ekstrem seputar perkiraan pertumbuhan global. Dampak ekonomi tergantung pada faktor-faktor yang berinteraksi dengan cara-cara yang sulit diprediksi, termasuk jalur pandemi, intensitas dan kemanjuran upaya penahanan, tingkat gangguan pasokan, dampak pengetatan yang dramatis dalam kondisi pasar keuangan global, pergeseran pola pengeluaran, perubahan perilaku (seperti orang menghindari mal dan transportasi umum), efek kepercayaan, dan harga komoditas yang fluktuatif,” tulis IMF dalam laporannya.

Lembaga itu juga menuliskan bahwa keadaan ekonomi yang lebih buruk juga mungkin akan terjadi bila langkah-langkah untuk menahan laju pandemi, seperti karantina dan penguncian berlangsung lebih lama, atau jika negara-negara berkembang sangat terpuruk akibat wabah ini.

Penghapusan utang bagi sebagian sektor

Sebelum merilis Outlook Ekonomi Dunia, IMF berjanji untuk segera memberikan keringanan utang kepada 25 negara anggota yang lebih miskin di bawah program Cain Containment and Relief Trust, CCRT.

Kristalina Georgieva dari IMF mencatat bahwa CCRT memiliki dana sekitar 500 juta dolar AS dan menambahkan bahwa gelombangpertama hibah telah disetujui untuk membantu negara-negara yang terkena virus corona guna menutupi kewajiban pembayaran hutang mereka selama enam bulan awal.

“Program ini memberikan hibah kepada anggota termiskin dan paling rentan dan akan membantu mereka menyalurkan lebih banyak sumber daya keuangan mereka yang terbatas ke arah upaya darurat medis dan upaya pertolongan lainnya,” kata direktur pelaksana.

Sumber: republika.co.id

 

Tercatat 2,2 Juta Kasus Corona Global

WASHINGTON (Jurnalislam.com)– Wabah virus corona tipe baru (Covid-19) telah menjangkiti 210 negara di dunia. Hingga Sabtu (18/4) siang, jumlah kasus positif Covid-19 secara global mencapai 2.251.768 kasus.

Laman worldometers mencatat, kematian akibat Covid-19 di tingkat global mencapai 154.293 jiwa. Sementara itu, sebanyak 574.383 pasien sembuh dari virus ini atau 79 persen dari kasus pasien telah sembuh.

Amerika Serikat (AS) menempati posisi pertama sebagai negara dengan infeksi dan kematian tertinggi di dunia. Jumlah pasien positif Covid-19 di negara itu kini tercatat berjumlah 710.272 orang. Sementara itu, korban meninggal dunia di seluruh negara bagian AS mencapai 37.175 jiwa.

Spanyol berada di posisi kedua dengan jumlah kasus mencapai 190.839 dan kematian 20.002 jiwa. Sementara itu, Italia mencatat 172.434 kasus infeksi positif Covid-19 dan 22.745 kematian akibat virus ini.

Pemerintah Italia telah memberlakukan perpanjangan masa karantina wilayah demi menekan laju persebaran virus. Sukarelawan dokter dari berbagai belahan dunia juga membanjiri negara tersebut. Sementara itu, Spanyol mulai melonggarkan karantina wilayah. Kemudian, Prancis memiliki 147.969 kasus infeksi Covid-19, dan 18.681 kematian.

Negara Eropa lain yang terjangkit Covid-19 adalah Jerman dengan catatan 141.739 kasus infeksi Covid-19 dan 4.352. kematian Sementara itu, di Inggris kasus positif berjumlah 108.692 kasus dengan 14.576 kematian.

Negara-negara Eropa ini kini melampaui Cina dalam jumlah kasus dan kematian akibat virus. Sebelumnya, Cina tercatat sebagai episentrum virus sebab asal virus berada di Kota Wuhan, Cina.

Namun demikian, Cina masih mencatat kenaikan jumlah kasus yang kebanyakan sebagai impor. Menurut media Cina, pemerintahnya juga merevisi jumlah kematian akibat virus, Jumat (18/4).

Jumlah total kematian akibat Covid-19 di Wuhan direvisi naik 1.290. Otoritas kesehatan Wuhan merevisi angka kematian yang naik lebih dari 50 persen. Dilansir dari Sky News, menurut angka terakhir, 3.869 orang dilaporkan telah meninggal karena Covid-19 di Wuhan. Kini angka kematian naik menjadi 4.632, yang kebanyakan korban meninggal dari Provinsi Hubei, tempat Wuhan berada sebagai episentrum tempat pertama kali SARS-Cov-2 terdeteksi.

sumber: republika.co.id

Tidak Terdengar, Peran DPR dan DPD Tangani Covid-19 Dipertanyakan

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Tokoh Nasional Anwar Abbas, mempertanyakan langkah legislator baik di DPRD, DPR, maupun DPD yang terkesan sunyi dan sepi tanpa suara dalam penanganan Covid-19.

Terutama yang selalu berbicara dengan mengatakan dirinya paling Pancasila dan menuding orang lain tidak Pancasilais.

“Ada apa ini? Apa sebenarnya yang terjadi dengan para politisi dan pimpinan partai yang ada di negeri ini? Mengapa mereka tidak lagi galak bicara tentang pancasila dan NKRI dalam suasana Covid-19 ini?,” katanya saat dihubungi, Ahad (19/04/2020).

Karenanya, dia membandingkan dengan pemilihan legislatif yang berlangsung di tahun 2019 lalu dengan semarak. Bendera yang berwarna-warni yang melambangkan partai politik masing-masing partai tampak dimana-mana.

“Lebih menarik lagi calon dari masing-masing partai politik tersebut menyampaikan visi mereka masing-masing untuk memajukan negeri dan mensejahterakan rakyat di negeri ini. Kita terkagum-kagum sehingga rakyatpun berbondong-bondong pergi ke tempat pemilihan menggantungkan harapannya dengan memberikan suaranya,” ujarnya.

Sementara, saat ini mereka telah melenggang menjadi legislator dalam lima tahun ke depan. Harapan dan keinginan rakyat untuk perubahan ada di wakil rakyat.

“Lantas, apakah tidak ada keinginan dari mereka untuk bisa berbuat sesuatu yang benar-benar bermakna dan berarti buat rakyat dan bangsa serta negeri yang kita cintai ini?,” katanya.

Bahkan, jika dirunut, sejak akhir februari wabah Covid-19 mulai merebak, rakyat mulai banyak yang sakit dan meninggal. Para dokter dan tenaga medis serta pihak manajemen Rumah sakit sudah berteriak-teriak minta tolong.

“Mereka butuh alat pelindung diri dan lain-lain. Para pengusaha pun juga demikian mereka mulai mengeluh karena ini dan itu,” tuturnya.

Pemerintah Diminta Serius Siapkan Kebijakan Pasca Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pemerintah disarankan untuk mulai menyiapkan kebijakan yang tepat untuk menyelamatkan kondisi Indonesia pascapandemi Covid-19. Saat ini, situasi yang disebabkan pandemi tersebut sudah membuat banyak pihak terdampak.

“Dampak pendemi ini menurut saya bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi dunia. Saya memperkirakan akan menimbulkan krisis ekonomi. Tapi seperti apa, saya kira ahli ekonomi yang bisa menjelaskan,” jelas pengamat kebijakan publik, Cecep Darmawan, Sabtu (18/4).

Menurut Cecep, pemerintah harus fokus untuk menyiapkan kebijakan yang berfokus pada sektor perekonomian. Itu karena pandemih Covid-19 ini telah membuat perekonomian global mengalami penurunan.

Ia melihat kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah saat ini masih belum sempurna. Namun, ia menilai pemerintah sudah banyak berbuat untuk mengatasi masalah saat ini.

Ia mengatakan, pemerintah membutuhkan kebijakan yang saling bersinergi untuk pembenahan situasi pascapandemi nanti. Jika kebijakan yang dilakukan tidak bersinergi maka akan memperlambat atau mengagalkan proses pembenahan negara pascapandemi.

“Kalau sektoral akan gagal. Jadi tanpa integrasi pusat dan daerah, hingga masyarakat tidak akan efekti,” ujarnya.

Cecep juga menilai, omnibus law cipta lapangan kerja sebenarnya bisa diharapkan untuk mengatasi sektor perekonomian bangsa meski saat ini masih menjadi polemik. Menurutnya, omnibus law cipta lapangan kerja sebetulnya bukanlaj sesuatu yang haram karena saat ini masih dalam pembahasan.

“Yang penting substansi-substansi dalam omnibus law cipta lapangan kerja, termasuk dalam menangani kaitannya dengan ekonomi,” jelas dia.

Dia menuturkan, omnibus law cipta lapangan kerja bukan hanya sekadar mengatur lapangan kerja, melainkan mengatur berbagai hal, salah satunya ekonomi. Omnibus law cipta lapangan kerja, kata dia, akan menghapus tradisi civil law menjadi common law.

“Walaupun praktik selama ini juga kita masih gado-gado sistemnya. Walau dominan civil law, tapi beberapa pakai praktik common law,” katanya.

Cecep menyampaikan, semua pihak harus berpikir jernih dan rasional dalam menyusun kebijakan tersebut. Dengan demikian, input yang baik akan didapatkan saat pembahasannya.

Menurutnya, keterlibatan banyak pihak juga penting untuk menutup celah kekurangan pada peraturan itu jika nantinya jadi disahkan. “Jadi jangan melihat ke omnibus law-nya, tapi apa yang ada didalamnya. Jangan lihat bajunya, lihat isinya. Omnibus law itu sekadar baju menurut saya,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

Wamenag: Segerakan Keluaran Zakat Mal dan Fitrah di Awal Ramadhan

JAKARTA(Jurnalislam.coom) – Kurang lebih dari sepekan, umat Islam akan menyambut bulan suci ramadan. Karena itu kehadirannya selalu ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam dimana pun berada.

 

Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid Sa’adi, menuturkan, dalam menyambut bulan yang mulia tersebut, umat Islam dianjurkan, pertama, menata niat yang baik dan menyambutnya dengan ikhlas dan penuh sukacita.

Kedua, hendaknya sebelum masuk bulan Ramadan yaitu bulan Rajab dan Sya’ban, sudah mulai melatih diri dengan melaksanakan amalan-amalan sunah, misalnya berpuasa, membaca Al Quran, memperbanyak sedekah dan zakat mal (harta).

 

Hal ini sesuai dengan hadits Nabi diriwayatkan dari Anas bahwa umat Islam ketika masuk bulan Sya’ban, maka senantiasa membaca Al-Quran dan mengeluatkan zakat hartanya, sebagai bantuan untuk orang miskin dalam menghadapi puasa,” kata Zainut mengutip salah satu hadis Nabi, dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi Minggu (19/04/2020).

 

Ketiga, khusus untuk mengeluarkan zakat harta (mal) pada saat pandemi wabah Covid-19 sangat dianjurkan untuk disegerakan sepanjang sudah memenuhi nisabnya. Hal ini sangat membantu saudara-saudara yang terdampak wabah corona.

 

“Begitu juga dengan zakat fitrah sebaiknya dibayarkan pada awal bulan Ramadan dan tidak harus menunggu sampai akhir Ramadan,” tuturnya.

 

Jelang Ramadhan, Kemenag Imbau Masyarakat Gelar Silaturahim Online

JAKARTA(Jurnalislam.coom) – Kurang lebih dari sepekan, umat Islam akan menyambut bulan suci ramadan. Karena itu kehadirannya selalu ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam dimana pun berada.

Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid Sa’adi, menuturkan, dalam menyambut bulan yang mulia tersebut, umat Islam dianjurkan, pertama, menata niat yang baik dan menyambutnya dengan ikhlas dan penuh sukacita.

Selain itu, Zainut mengimbau setiap muslim melaksanakan ziarah ke makam orang tua, kerabat dan saudara yang telah berpulang ke rahmatullah untuk mendoakan agar diampuni salah dan dosanya, dilapangkan alam kuburnya serta diberikan tempat yang mulia disisi Allah SWT.

Menurut dia, ziarah kubur merupakan amalan yang sangat baik, karena akan mengingatkan kematian (tadzkiratul maut).

“Bahwa kematian itu adalah sebuah kepastian, sehingga kita harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum ajal menjemput kita. Sangat indah pesan Nabi SAW kepada kita, cukuplah kematian sebagai pemberi nasehat,” ujarnya.

Namun, dia menyatakan ziarah kubur waktunya boleh setiap saat. Tidak hanya pada saat menjelang bulan puasa saja karena tidak ada kekhususan tertentu.

“Di tengah pandemi wabah Covid-19 sampai dengan bulan Ramadan kemungkinan besar belum mereda, sebaiknya agenda ziarah kubur ditiadakan dan diganti dengan berdoa dari rumahnya masing-masing. Insya Allah nilai pahalanya tidak berkurang sedikit pun,” ucapnya.

Kemudian, kelima, melakukan silaturahmi kepada orang tua yang masih hidup, saudara, kerabat dan teman-teman untuk saling memaafkan.

Hal ini penting dilakukan agar saat memasuki bulan puasa dengan hati yang bersih, tenang, dan penuh keihlasan dan kekhusu’an, semata ingin mengharapkan rida dari Allah SWT.

“Begitu juga dengan kegiatan silaturahmi dan saling meminta maaf bisa dilakukan melalui media sosial atau media daring mengingat masih ada kebijakan untuk physical distancing,” tuturnya.

Pemuda Hidayatullah Gelar Aksi Kemanusiaan di Sidey Manokwari

MANOKWARI(Jurnalislam.com)–Wabah Covid-19 telah meluas dampak yang ditimbulkannya. Bukan saja para lansia dan pekerja informal yang terdampak. Para pekerja dari kalangan muda pun harus merasakan akibat yang cukup serius dari pandemi ini.

 

Menyikapi hal tersebut, Pemuda Hidayatullah sebagai salah satu organisasi kepemudaan di Tanah Air merasa harus turun tangan, membantu dan bergerak nyata di tengah-tengah masyarakat.

 

“Alhamdulillah, pada hari ini (18/4) Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Papua Barat menggelar kegiatan pengiriman bantuan sembako untuk masyarakat terdampak di Sidey, Manokwari,” terang Sekretaris Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Papua Barat, Jamal Savalas melalui keterangan tertulis yang diterima Ahad (19/04/2020).

 

Kegiatan ini berlangsung secara sinergis antara Pengurus Daerah Pemuda Hidayatullah Manokwari dengan Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Papua Barat.

 

“Bantuan sembako ini diterima oleh para santri, masyarakat, dan kaum dhuafa yang tersebar di Distrik Sidey,” imbuh Jamal.

 

Salah satu penerima manfaat sembako ini adalah Riski Budianto. Ia mengaku senang mendapatkan perhatian dari kaum muda.

 

“Saya sangat berterimakasih kepada Pemuda Hidayatullah Manokwari, saya bangga anak-anak muda bisa ikut hadir membantu langsung kebutuhan masyarakat. Dengan adanya bantuan-bantuan sembako ini sangat membantu meringankan beban kami. Semoga Pemuda Hidayatullah Papua Barat, terkhusus Pemuda Hidayatullah Manokwari, bisa menjadi Pemuda yang selalu ada di lini terdepan dalam segala kebaikan,” ucap santri Madrasah Aliyah itu.

Kemenag Akan Gelar Pemantauan Hilal 23 April

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar sidang isbat (penetapan) awal Ramadan 1441H pada 23 April 2020. Sidang isbat akan diawali dengan pemantauan hilal (rukyatul hilal) oleh Kanwil Kemenag Provinsi yang hasilnya dilaporkan ke Ditjen Bimas Islam sebagai bahan penetapan.

Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin menjelaskan, hasil rukyatul hilal menjadi dasar pengambilan keputusan sidang isbat. Karenanya, meski pandemik Covid-19, Kanwil Kemenag tetap diminta melakukan rukyatul hilal bersama Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah, instansi terkait, ormas Islam dan tokoh masyarakat setempat.

“Rukyatul hilal tetap dilaksanakan oleh Kanwil Kemenag Provinsi pada 23 April, saat terbenamnya matahari,” jelas Kamaruddin di Jakarta, Sabtu (18/04).

Menurut Kamaruddin, pihaknya telah menyiapkan protokol pelaksanaan rukyatul hilal saat pandemik Covid-19. Aturan itu sudah dikirim ke Kanwil Kemenag agar dijadikan panduan dalam pemantauan hilal.

“Peserta harus dibatasi, maksimal 10 orang dan menyesuaikan dengan prosedur protokol kesehatan serta senantiasa physical distancing selama pandemik Covid-19,” tutur Kamaruddin menjelaskan butir ketentuan rukyatul hilal saat pandemi.

Selain itu, dalam pelaksanaan rukyatul hilal, antara area perukyat dan area undangan dibatasi dengan batas yang jelas. Sebelum memasuki area rukyatul hilal, semua peserta harus diukur suhu tubuhnya dan menggunakan masker.

“Bagi petugas yang merasa tidak sehat tidak boleh mengikuti kegiatan rukyatul hilal,” tegasnya.

Aturan lainnya, setiap instrumen pemantauan, baik teleskop, theodolite, atau kamera, hanya dioperasikan oleh satu orang, tidak saling pinjam pakai. Petugas juga dilarang berkerumun di sekitar instrumen pemantauan yang telah ditempatkan.

“Sebelum dan sesudah digunakan, instrumen rukyat dibersihkan dengan kain yang dibasahi dengan cairan disinfektan,” pesan Plt Dirjen Pendidikan Islam ini.

“Petugas juga diimbau melakukan shalat hajat, memohon keselamatan dan kelancaran dalam melaksanakan tugasnya,” tandasnya.