Kolaborasi Lembaga Zakat Dinilai Jadi Solusi Hadapi Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pandemi Covid-19 cenderung meningkat di sejumlah wilayah. Pemerintah Daerah pun memperketat aturan terkait aktivitas masyarakat dalam rangka pencegahan penyebaran Covid.

Selain kesehatan, hal ini tentu akan berdampak pada ekonomi rakyat. Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf M. Fuad Nasar mengatakan sektor kesehatan harus diutamakan dibanding pemulihan ekonomi. Tetapi  kebutuhan pokok rakyat sehari-hari tidak dapat ditunda karena menyangkut nyawa, kehidupan manusia dan kestabilan negara.

Sehubungan itu, Fuad mengajak organisasi pengelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS) untuk terus memperkuat  komitmen keislaman, kebangsaan, dan komitmen keamilan dalam menjalankan tugas dan fungsinya mengelola amanah umat. Fuad berharap, keuangan sosial umat dengan instrumen zakat, infak, sedekah, dan wakaf dapat mengisi peran strategis sebagai salah satu pilar ketahanan ekonomi nasional. Keuangan sosial umat juga dapat dioptimalkan sebagai jaring pengaman sosial, khususnya bagi warga miskin.

“Kita berada di kapal yang sama dalam menghadapi tantangan pandemi Covid-19 yang juga berdampak pada masalah kemiskinan. Seyogyanya semua pihak saling sinergi ikut proaktif membantu tugas negara menyelamatkan kehidupan jutaan rakyat miskin di tanah air,” terang Fuad di Jakarta, Jumat (11/09).

“Ayo bantu rakyat yang terdampak akibat situasi ini, terutama mereka yang tidak bisa bekerja dan tidak punya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sekecil apa pun yang kita perbuat insya Allah bermanfaat bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan,” tandasnya.

 

Legislator: Pemerintah Gagal Tangani Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher prihatin dengan kondisi yang memburuk ini.

“Pemerintah gagal menahan laju pandemi akibat salah strategi,” kata Netty dalam keterangan media, Rabu (09/09/2020).

Kata dia, sejak awal pemerintah lebih memprioritaskan pemulihan ekonomi daripada menangani akar pandemi, yaitu sektor kesehatan. Akibat kegagalan tersebut, imbas pandemi sudah kemana-mana dan sulit terkendali.

“Angka kasus makin tinggi, klaster penularan baru bermunculan, ekonomi makin terpuruk, rakyat bingung tidak tahu harus berbuat apa. Saat ini sudah 59 negara yang menutup akses bagi kedatangan WNI,!Indonesia menjadi negara yang ditakuti,”tambahnya.

Sebagaimana yang dilansir dari beberapa media online nasional, sejumlah negara tersebut di antaranya, Jerman, Swis, Singapura, Korea Selatan, Amerika Serikat, Turki, menutup pintunya untuk warga negara Indonesia karena khawatir menjadi transmiter Covid-19.

“Pemerintah harus segera mengambil sikap dan menata ulang format kebijakannya. Jangan menganakemaskan ekonomi tapi meninggalkan kesehatan. Jangan lagi ada pengabaian terhadap pendapat sains yang positif. Sebab pandemi Covid-19 adalah bencana kesehatan, sudah seharusnya kembali pada kebijakan yang berbasis kesehatan,” katanya.

Lebih jauh Netty memaparkan, “Saat ini perkantoran, keluarga dan bahkan proses pilkada telah menjadi klaster penularan Covid-19. Jika ini tidak ditangani secara serius dengan kebijakan yang tepat dan ketat, maka akan muncul klaster-klaster lainnya. Jangan sampai Indonesia menjadi negara yang paling ditakuti dan kemudian diisolasi karena Covid-19,” tambahnya.

Terkait penghapusan kewajiban melakukan rapid test untuk pelaku perjalanan oleh Kemenkes RI, menurut Netty, kebijakan yang berubah-ubah seperti itu membuat rakyat bingung.

“Jika Rapid Test tidak lagi diwajibkan karena dianggap kurang akurat, lalu bagaimana cara mendeteksi bahwa pelaku perjalanan antar kota atau antar provinsi itu aman dan bebas dari Covid-19? Sudahkah dipikirkan cara lain? Jika dianggap cukup dengan pengecekan suhu tubuh di pintu masuk kota, bagaimana dengan orang yang terinfeksi namun tidak ada gejala?” tanya Netty.

Seharusnya, kata Netty, testing terhadap masyarakat terus menerus dilakukan secara masif dan dengan alat yang akurat. “Jika yang dianggap akurat itu adalah swab PCR, maka buatlah itu sebagai strategi testing yang menjadi tanggung jawab pemerintah, bukan dibebankan pada rakyat. Lakukan secara berkala terutama di tempat-tempat yang potensial menjadi klaster. Dan di luar testing, buatlah masyarakat disiplin mencegah penularan dengan melakukan 3M, memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. 3M harus menjadi budaya, bukan cuma slogan dan himbauan saja” tutup Netty

Kasus Positif Meningkat, Menag Imbau Umat Patuhi Protokol Kesehatan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kasus positif Covid-19 di beberapa wilayah mengalami peningkatan. Sejumlah pimpinan daerah memperketat aturan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Menag Fachrul Razi mengimbau umat untuk mematuhi aturan Pemda dan Gugus Tugas. Untuk wilayah dengan kasus tinggi atau zona merah, Menag imbau umat agar membatasi beraktivitas di luar, dan melaksanakan ibadah di rumah.

“Kami imbau, umat yang tinggal di kawasan dengan kasus positif Covid-19 yang tinggi, agar sementara membatasi aktivitas di luar, serta beribadah di rumah dulu,” pesan Menag di Jakarta, Jumat (11/09).

Menag juga mengajak umat menjadi teladan disiplin mematuhi penerapan protokol kesehatan. “Tugas seorang hamba Tuhan adalah mewujudkan kemaslahatan bagi sesama. Karenanya, kepatuhan dan disiplin terhadap protokol kesehatan harus diyakini sebagai bagian dari wujud pelaksanaan ajaran agama. Teladan itu akan memberi kontribusi besar dalam menghadapi pandemi Covid-19 di negeri kita,” ujarnya.

Menag mencontohkan kepatuhan penduduk Syam terhadap pesan Gubernur Amru bin Ash saat dilanda wabah Tha’un dalam sejarah Islam. Menurut Amru bin Ash, wabah bagaikan api yang menjilat dan bisa membakar siapa saja. Karenanya, harus dijauhi hingga api itu padam. Arahan ini dipatuhi penduduk Syam hingga wabah Tha’un hilang.

“Mari, sama-sama kita patuhi arahan Pemda dan Gugus Tugas. Semoga pandemi ini segera berakhir,” tuturnya.

Imbauan serupa juga banyak disampaikan tokoh agama. Menag menilai, mematuhi anjuran tokoh agama dan pemerintah untuk tetap di rumah serta menerapkan protokol kesehatan di masa pandemi adalah bentuk kesalehan sosial sebagai umat beragama sekaligus tanggung jawab sebagai warga negara.

“Sebagai umat beragama, kita perlu mengutamakan menjaga keselamatan jiwa atau hifdzu an-nafs. Menjaga keselamatan jiwa merupakan salah satu substansi dan kewajiban utama dalam beragama,” tandasnya.

Good Looking ala Rasulullah

Oleh: Jumi Yanti Sutisna*

Akhir-akhir ini, ramai dibicarakan istilah ‘good looking’. Hampir semua platform sosial media membicarakan istilah ‘good looking’ ini. Berawal dari pernyataan Menag Fachrul Razi dalam acara webinar bertajuk “Strategi Menangkal Radikalisme pada Aparat Sipil Negara”  yang disiarkan di kanal YouTube Kemenpanrb yang kemudian menuai kontraversi terutama dari kalangan masyarakat muslim yang merupakan mayoritas di Indonesia.

Mereka terluka dan sangat menyayangkan pernyataan ini keluar dari seorang Menteri Agama yang diharapkan pernyataan-pernyataannya dapat meningkatkan kualitas keberagamaan masyarakat Indonesia bukan malah memberikan klaim yang meresahkan bahkan berupa tuduhan yang tidak berdasar.

Menag Fachrul Razi mengungkapkan cara paling mudah menyusupkan agen radikalisme masuk ke sebuah lembaga, atau rumah ibadah adalah  dengan memasukkan seseorang yang good looking.

“Cara masuk mereka gampang, pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan bahasa Arab bagus, hafiz, mulai masuk, ikut-ikut jadi imam, lama-orang orang situ bersimpati, diangkat jadi pengurus masjid. Kemudian mulai masuk temannya dan lain sebagainya, mulai masuk ide-ide yang tadi kita takutkan,” kata Menag.

Mencermati pernyataan menag Fachrul Razi, terutama terkait kata ‘good looking’ yaitu sesuatu yang enak dilihat, nyaman dipandang. Ini membuktikan betapa pentingnya ‘good looking’ dalam mempengaruhi orang.

Memang secara manusiawi siapa hati yang tidak tertawan dengan sesuatu yang nyaman dipandang. Bukankah, iklan-iklan produk pun untuk menarik pembeli adalah dengan menampilkan aktor atau artis yang good looking apalagi jika ditambah dengan nilai-nilai lebih lainnya.

 

Mengenai good looking ini, Rasulullah pun telah memberi contoh pula, bahwa penampilan adalah sesuatu yang penting dalam dalam mempengaruhi orang. Wah, sampai disini tiba-tiba orang yang memiliki wajah pas-pasan menjadi balik badan karena merasa tak punya kemampuan. Jangan dulu yah.

Wajah Anda pas-pasan pun masih memiliki kesempatan agar tampak good looking. Bagaimana caranya?

 

Salah satunya mempedulikan fisik diri, Rasulullah telah mencontohkan agar memperhatikan kebersihan badan. Dapat dibayangkan, seorang yang tampan wajahnya namun jika tidak di rawat kebersihan giginya atau kebersihan badannya, apakah ada orang yang mau berlama-lama dekat dengannya?

 

Masih mengenai fisik, perawakan Rasulullah pun bagus, sixpack istilah jaman sekarang, tentu ini diperoleh dengan rutin berolahraga bukan? Dengan rutin berolahraga pun akan membuat badan menjadi sehat dan kuat, bukankah ini yang diharapkan dari seorang pemuda muslim?

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah dari pada seorang mukmin yang lemah dalam segala kebaikan”

 

Wajah berseri-seri pun menjadi poin penting yang tidak bisa ditinggal agar terlihat ‘good looking’. Orang lebih nyaman memandang wajah yang tidak terlalu tampan namun berseri-seri dibandingkan memandang wajah rupawan namun penuh kejutekkan. Wajah berseri-seri ini tentu dihasilkan dari senyum tulus yang senantiasa mengembang, dan Rasulullah adalah termasuk orang yang banyak tersenyum, seperti diriwayatkan oleh Abdullah ibn al-Harist ibn Jaza RA “Aku tidak pernah melihat seseorang yang banyak tersenyum dari pada Rasulullah”

 

Apakah sudah cukup dengan mempedulikan fisik diri untuk menjadi seorang ‘good looking’? Tentu tidak. Ada yang tidak kalah penting dari mempedulikan fisik. Yaitu mempedulikan gesture atau akhlak. Bagaimana pendapatmu jika ada seorang yang memiliki penampilan menarik, badannya bersih, perawakannya bagus, senyumnya mengembang, namun jika berkata-kata bagai ia mengeluarkan silet-silet yang tajam, tentu ini membuat sangat tidak nyaman.

 

Rasulullah dikenal sebagai seorang pemuda yang terjaga pergaulannya dimana kala itu banyak pemuda sebayanya lebih senang berpesta dan meminum khamr. ia tidak menyukai duduk-duduk tanpa manfaat dan berbincang yang remeh. Baliau dikenal lemah lembut penuh kasih sayang namun tampak berwibawa, jika berbicara tampak menarik, santun, rinci, tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak, tata bahasanya tertata rapi dan menyesuaikan dengan kapasitas lawan bicara, perkataannya pun jauh dari dusta dan menghindari kata yang sia-sia. Ia memenuhi janji jika berjanji, cerdas, pekerja keras, paling bisa dipercaya, inilah sebabnya pemuda Muhammad sebelum menjadi rasul ia mendapat gelar Al-Amin dari penduduk Mekkah.

 

Beliau juga perhatian kepada setiap orang, sehingga orang-orang beranggapan ia special dihadapan Rasulullah, padahal Rasulullah berlaku sama kepada semua. Rasulullah pun murah hati, mampu menguasai diri, tidak kaku, tidak keras, tidak suka mengutuk, tidak berkata keji, tidak suka mencela, tidak suka memuji. Beliau suka memaafkan saat memegang kekuasaan dan bersabar saat ditekan. Beliau tidak membalas suatu keburukan yang ditujukan padanya kecuali jika ada pelanggaran terhadap kehormatan Allah, ia akan membalas karena Allah.

 

Rasulullah pun memiliki jiwa sosial yang tinggi, beliau seorang yang dermawan, jika memberi ia tidak takut menjadi miskin. Siapapun yang meminta suatu keperluan, Rasulullah tidak pernah menolaknya. Beliau seorang yang paling malu dan suka menundukkan pandangan, namun menjadi seorang yang pemberani kala menghadapi musuh, jika para sahabat diliputi ketakutan dan bahaya mereka berlindung kepada Rasulullah.

 

Kepribadian Rasulullah begitu menawan hati, inilah sebenarnya yang membuat Rasulullah tampak ‘good looking’ seperti yang dikatakan oleh Jabir bin Samurah “Aku pernah melihat beliau pada suatu malam yang cerah tanpa ada mendung. Aku memandangi Rasulullah lalu berganti memandang rembulan. Menurut penglihatanku beliau lebih indah dari pada rembulan”. Dikatakan juga, wajah Rasulullah sama sekali tak menampakkan seorang pendusta.

 

Kepribadian Rasulullah yang eloklah yang membuat Khadijah binti Khuwailid jatuh cinta, seorang wanita terhormat dari kalangan bangsawan, janda kaya raya dimana Muhammad bekerja kepadanya. Kemudian Khadijah rela menghabiskan harta untuk risalah yang dibawa Rasulullah.

Kepribadian Rasulullah pula yang membuat Nusaibah binti Ka’ab yakin akan risalah yang dibawa Rasulullah sehingga ia rela menjadi perisai Rasullah pada sebuah peperangan yang menyebabkan banyak luka ditubuh dan lehernya.

Kepribadian Muhammad pula yang membuat Bilal tak kuasa tinggal di Madinah setelah kematian Rasulullah, karena selalu teringat kenangan indah bersama Rasulullah. Kepribadian Muhammad juga yang membuat penduduk Madinah menangis saat Bilal menyebut “Asyhaduanna Muhammadan Rasulullah” di adzan terakhirnya.

Kemudian, kembali mencermati pernyataan Menag Fachrul Razi, pemuda ‘good looking’ yang hafidz Quran dan fasih berbahasa Arab dikaitkan dengan isyu radikal. Saya rasa ini adalah sebuah ketakutan yang besar,  ketakutan kepada kemampuan  pemuda ‘good looking’ yang dengan fisik dan akhlaknya mampu menarik banyak orang untuk mempelajari ajaran Islam secara mendalam, yang hakikatnya itu baik untuk kejayaan dan keselamatan bangsa Indonesia, karena berdasarkan sejarah, kemerdekaan Indonesia diperjuangkan oleh orang-orang yang mendalami ajaran Islam. Jika Fachrul Razi tak menyukai, lalu ada apa dengan Fachrul Razi?

*Penulis adalah Jurnalis Jurnalislam.com

Taklim Jurnalistik dan Aman Palestin Gelar Pelatihan Menulis

NASIONAL(Jurnalislam.com)–Yayasan Aman Palestin Indonesia Cabang Yogyakarta – Jawa Tengah sukses menggelar Seminar Online Nasional dengan menghadirkan pemateri anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU), RIzki Lesus.

Seminar yang bertajuk “Mengenal Dunia Kepenulisan & Jurnalisme Dasar” diikuti puluhan peserta dari berbagai Indonesia baik berlatar belakang seorang mahasiswa, pekerja, guru, dan umum.

Kegiatan yang berlangsung melalui WhatsApp Group ini terlaksana atas kerjasama dengan Komunitas Taklim Jurnalistik Indonesia dan Tim Bloger Dapur Pena.

Dalam acara ini, panitia mengajak peserta untuk berdonasi dalam membantu pembangunan Masjid Indonesia di Gaza, Palestina yang di desain oleh Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat.

Riszi Lesus yang berperan sebagai pemateri tunggal dalam acara seminal online ini menyampaikan, ihwal membaca, menulis, pena, berpikir, merupakan istilah yang sering didengar dalam al Qur’an, bahkan perintah pertama adalah membaca dikatannya dalam peserta yang antusias menyimak.

“Karena membaca dan menulis merupakan dorongan al Qur’an, tak heran perihal tersebut menjadi budaya dalam keseharian para pendahulu kita, para ulama kita, para ilmuan kita, para tokoh besar sepanjang zaman,” kata dia, Sabtu, (5/9/2020).

“Membaca dan menulis juga mendorong para pendiri bangsa ini berjuang, dan menjadi wasilah bagi kita sekarang bisa menikmati nikmat kemerdekaan,” tambah Rizki Lesus.

Sementara itu, Rinto Dodi Krismanto selaku Kepala Cabang Aman Palestin D.I.Yogyakarta & Jawa Tengah mengungkapkan, Aman palestin merupakan yayasan kemanusiaan yang berfokus membantu saudara-saudara di Palestina yang sedang berjuang untuk membebaskan dan mempertahankan masjid suci ke-3 yaitu Al-Aqsa dari zionis Israel. Kemudian secara umum membantu saudara umat islam di bumi Syam.

“Dimana para nabi dan ulama besar lahir, dimana saat ini sedang terjadi bencana,” papar Dodi.

Selain itu, Founder Komunitas Taklim Jurnalistik menambahkan, kerjasasama ini semata-mata untuk membantu saudara yang ada di Palestina, terutama Yayasan Aman Palestin Indonesia memiliki program pembangunan Masjid pertama Indoensia yang ada di Gaza, Palestina.

“MasyaAllah, ini luar biasa, maka Taklim Jurnalistik sinergi dengan Aman Palestin untuk program donasi ke Gaza,” terang Mas Andre Hariyanto.

Donasi dari peserta seminar online nasional Jurnalistik bersama Riski Lesus ini disalurkan melalui Yayasan Aman Palestin Indones. */Ar Cogan

 

Imam Besar Istiqlal: Ibadah di Masjid Sunah, Jaga Kesehatan Wajib

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akan mulai diterapkan di DKI Jakarta pada Senin, 14 September 2020 mendatang. Dalam pelaksanaan PSBB total tersebut, beragam kegiatan akan kembali dilakukan di rumah, termasuk beribadah.

Menanggapi hal itu, Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasaruddin Umar mengatakan, saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) total diberlakukan, beribadah di masjid hukumnya menjadi sunah. Menurut penuturannya, dalam kondisi seperti itu, menjaga kesehatan lebih utama.

“(Di masa PSBB), ibadah kita lakukan di rumah karena kan pergi ke masjid itu sunah, tapi memelihara kesehatan itu wajib. Beragama yang benar didahulukan yang wajib baru yang sunah kan,” kata Nasaruddin, Kamis (10/9).

Nasaruddin menyampaikan agar masyarakat tidak menganggap secara berlebihan perihal imbauan untuk kembali beribadah di rumah di masa PSBB total tersebut. Dia menilai masyarakat masih bisa produktif meski di rumah saja.

Dia mengajak masyarakat untuk tetap bersemangat dalam menjalankan aktivitas meskipun dibatasi dengan cukup ketat. “Saya berkeyakinan kita tidak perlu terlalu takut ya sampai kita seperti kehilangan masa depan tetap kita harus ada spirit, tetap harus semangat belajar mengaji melakukan produktifitas di rumah,” lanjut Nasaruddin.

Jikalau masyarakat tetap ingin menjalankan ibadah berjamaah di masjid, Nasaruddin menyarankan untuk melangsungkannya di tempat-tempat ibadah yang lokasinya bukan zona merah Covid-19. “Disarankan solat di musala atau masjid dekat rumah yang sudah terdeteksi siapa di sana. Nah kalau tempat-tempat publik itu dihindari,” ungkapnya.

Seperti diketahui, pada Rabu (9/9) lalu, Gubernur DKI Jakarta mengumumkan bahwa PSBB total kembali diberlakukan, yakni per Senin (14/9). Dengan begitu, sejumlah aktivitas warga dan kegiatan usaha akan kembali dibatasi secara ketat.

Anies menyebut tidak ada banyak pilihan bagi Jakarta kecuali menarik rem darurat sesegera mungkin. Pihaknya mempertimbangkan sejumlah faktor, yakni tingkat kematian yang tinggi serta makin minimnya ketersediaan tempat tidur rumah sakit.

Sumber: republika.co.id

Santri Pesmadai Mendapatkan Bantuan Kasur

TANGERANG(Jurnalislam.com)–Bertempat di Asrama Pesantren Mahasiswa (Pesmadai), Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Santri penghafal Qur’an mendapatkan bantuan sarana 25 set kasur, .Rabu, (9/9/2020)

 

Bantuan sarana berupa kasur tersebut didapatkan dari penyaluran pendidikan oleh Lembaga zakat nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH).

 

Ikmalul Kholis, selaku pengurus Pesmadai mengatakan, memang masih banyak santri belum mendapatkan semua kasur yang layak untuk ditempati istirahat selayaknya seorang santri asrama dan sebagian masih tidur bareng sekasur.

 

“Alhamdulillah, berkat bantuan ini, santri kini mempunyai kasur dan bisa mendapatkan kenyamanan,” tutur Ikmal.

 

“Terima kasih kepada donatur atas hadiah kasur yang diberikan, semoga bermanfaat bagi kita semua,” ucap Alfi salah satu santri Pesmadai..

 

Sementara itu, Ahmad Muzakky, Direktur Pesmadai ikut bersyukur atas bantuan kasur yang disalurkan oleh Laznas BMH  kepada santrinya di Pesantren Mahasiswa (Pesmadai).

 

“Alhamdulillah, kami keluarga besar Pesmadai mengucapkan terima kasih banyak kepada BMH & Donatur yang sudah menyalurkan bantuan kasur untuk santri  penghafal Qur’an, semoga berkah,” ucap Pria asal Lampung tersebut. */Mas Andre Hariyanto

 

Pushami: Zirly Pembakar Bendera PKI Sudah Dilepaskan

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Pengacara Zirly dari PUSHAMI, Aziz Yanuar mengungkapkan bahwa kliennya sudah bisa pulang. Zirly sebelumnya diperiksa soal pembakaran bendera PDI-P.

“Alhamdulillah Zirly yang tadi malam ditangkap dan dibawa polisi dari Polda Metro Jaya terkait pembakaran PDIP di depan DPR RI beberapa waktu lalu malam ini dapat pulang ke rumah dengan sehat wal afiat,” kata Aziz kepada Jurnalislam.com melalui siaran persnya, Kamis (10/09).

Zirly akhirnya pulang ke rumah dan keluar dari direskrimum Polda Metro Jaya bersama tim PUSHAMI setelah hampir 15 jam pemeriksaan. Ia menegaskan bahwa Zirly tak membakar bendera PDI tapi membakar bendera PKI.

“Dia ini kan membakar bendera PKI kok malah dibawa. Jadi bukan pembakar bendera PDI, akhirnya lepas,” tuturnya.

Zirly ditangkap pihak Kepolisian pada Selasa malam kemarin. Saat penangkapan, Polisi yang berpakaian preman menanyakan kepada Zirly soal pembakaran bendera PDIP.

“Akan tetapi klien kami tak mengetahui. Namun saat itu tetap dibawa ke Polda Metro Jaya dari Karawang,” pungkasnya.

LPTQ: Rakernas-19 Sepakati Aturan Tampil Tanpa Penutup Wajah

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Sekretaris Umum Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Juraidi membenarkan adanya aturan tampil tampa penutup wajah pada ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Aturan tersebut disepakati pada Rakernas LPTQ ke-19.

“Peraturan peserta saat tampil dilarang memakai penutup wajah sudah disetujui saat Rakernas Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) ke-19 Nasional tanggal 12 November 2019,” katanya di Jakarta, Rabu (09/09).

Menurutnya, peraturan ini disepakati untuk keperluan penilaian yang adil dan lebih obyektif bagi dewan hakim. Aturan ini diharapkan dapat menghindari kecurigaan terhadap peserta, misalnya apakah memakai bantuan earphone, dan lainnya.

Juraidi menilai, peristiwa diskualifikasi peserta saat akan tampil pada MTQ Sumatera Utara disebabkan kurangnya sosialisasi. Dia meminta LPTQ Wilayah untuk lebih mengintensifkan sosialisasi agar hal yang sama tidak terulang.

Aturan baru lainnya yang disepakati pada Rakernas ke-19 adalah, ketentuan penggabungan golongan hafalan 1 juz dan tilawah dengan hafalan 10 juz. Perubahan aturan ini dimaksudkan mempersingkat tahapan MTQ.

Sosialisasi penting, kata Juraidi, karena aturan MTQ bersifat dinamis dan selalu dibahas dan disempurnakan dalam forum Rakernas LPTQ. “Setiap tahun LPTQ mengadakan Rakernas untuk mengevaluasi sekaligus menetapkan ketentuan-ketentuan baru dalam rangka peningkatan kualitas MTQ yang jujur, adil, transparan, dan akuntabel,” tandasnya.

Tarik ‘Rem Darurat’, Anies Kembali Terapkan PSBB

JAKARTA(Jurnalislam.com)-Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kembali sebagai langkah rem darurat terkait penanggulangan pandemi virus corona (Covid-19).

“Dalam rapat tadi sore disimpulkan: Kita akan menarik rem darurat kita terpaksa kembali menerapkan pembatasan berskala besar seperti masa awal pandemi. Bukan PSBB transisi, tapi PSBB sebagai mana masa dulu. Ini rem darurat yang kita tarik,” ujar Anies dalam konferensi pers digelar secara daring, Rabu (9/9).

“Maka, dengan melihat kedaruratan ini tidak banyak pilihan Jakarta menarik rem darurat sesegera mungkin,” ujar Anies.

Terkait dengan itu pula, Anies menyatakan akan meniadakan sementara pembatasan lalu lintas berdasarkan nomor polisi ganjil-genap, serta membatasi transportasi umum.

“Ini butuh koordinasi perhubungan dan tetangga Jabodetabek. Dan, insyaallah besok kita koordinasi pelaksanaan fase pengetatan di hari ke depan. Kita masih miliki waktu saya harap pengelola perkantoran bersiap melakukan pembatasan,” kata dia.

Sumber: cnnindonesia