ASPI: Ribuan Masjid di Xinjiang Rusak dalam Kurun Tiga Tahun

XINJIANG (Jurnalislam.com) —Ribuan masjid di Xinjiang telah rusak atau hancur hanya dalam kurun waktu tiga tahun. Saat ini hanya menyisakan sedikit masjid saja sejak era revolusi budaya karena penindasan Tiongkok kepada minoritas muslim di sana.

Hal ini terungkap dalam data Australian Strategic Policy Institute (ASPI), yang menggunakan citra satelit untuk memetakan bangunan kamp tahanan dan situs budaya hingga agama yang dirusak.

Thinktank mengatakan, klaim pemerintah Cina bahwa ada lebih dari 24.000 masjid di Xinjiang dan berkomitmen untuk melindungi dan menghormati keyakinan agama sama sekali tidak didukung oleh temuan tersebut. Mereka memperkirakan ada 15.000 masjid sebelumnya berdiri dan lebih dari setengahnya saat ini sudah rusak.

“Ini adalah angka terendah sejak Revolusi Kebudayaan, ketika kurang dari 3.000 masjid tersisa,” kata laporan itu

Sekitar dua pertiga masjid di kawasan itu te, dan sekitar 50 persen situs budaya yang dilindungi telah rusak atau hancur, termasuk penghancuran total mazar Ordam (kuil), sebuah situs kuno ziarah yang berasal dari abad ke-10.

Sejak 2017, diperkirakan 30 persen masjid telah dihancurkan, dan 30% lainnya rusak, termasuk penghapusan fitur arsitektur seperti menara atau kubah, kata laporan itu. Sementara sebagian besar situs tetap sebagai lahan kosong, yang lain diubah menjadi jalan dan tempat parkir mobil atau diubah untuk keperluan pertanian.

Beberapa diratakan dengan tanah dan dibangun kembali di sebagian kecil dari ukuran sebelumnya, termasuk Masjid Agung Kashgar yang dibangun pada tahun 1540 dan diberikan perlindungan bersejarah tingkat tertinggi kedua oleh otoritas Tiongkok.

Daerah yang menerima banyak wisatawan, termasuk ibu kota, Urumqi, dan kota Kashgar, mengalami kerusakan paling sedikit. Namun ASPI mengatakan laporan dari pengunjung ke kota-kota menunjukkan mayoritas masjid digembok atau telah digunakan untuk keperluan lain.

ASPI mengatakan pihaknya membandingkan citra satelit baru-baru ini dengan koordinat yang tepat dari lebih dari 900 situs keagamaan yang terdaftar secara resmi sebelum tahun 2017. Lalu kemudian menggunakan metodologi berbasis sampel untuk membuat perkiraan yang kuat secara statistik dengan referensi silang dan data sensus.

Beijing telah menghadapi tuduhan yang kuat dan  didukung oleh bukti yang semakin banyak. Hal ini dikuatkan dengan ditemukannya bukti pelanggaran hak asasi manusia massal di Xinjiang, termasuk penahanan lebih dari satu juta Muslim Uighur dan Turki di kamp-kamp penahanan.

Tuduhan lain sepeeti kamp-kamp pelecehan, kerja paksa, sterilisasi paksa perempuan, pengawasan massal dan pembatasan kepercayaan agama dan budaya telah dicap sebagai genosida budaya.

Beijing dengan keras menyangkal tuduhan tersebut dan mengatakan kebijakannya di Xinjiang adalah untuk melawan terorisme dan ekstremisme agam. Mereka mengatakan sedang menjalankan program tenaga kerjanya untuk mengentaskan kemiskinan dan tidak dipaksa.

Laporan ASPI mengatakan, selain upaya paksa untuk merekayasa ulang kehidupan sosial dan budaya Uighur dengan mengubah atau menghilangkan bahasa, musik, rumah, dan bahkan makanan Uighur, kebijakan pemerintah China secara aktif menghapus dan mengubah elemen kunci dari warisan budaya nyata mereka.

Intervensi pada budaya dan komunitas etnis minoritas telah meningkat di bawah kepemimpinan Xi Jinping.  Dalam beberapa pekan terakhir terungkap pihak berwenang juga telah memperluas program kerja paksa di Tibet, dan kebijakan untuk mengurangi penggunaan bahasa Mongolia di Mongolia Dalam.

Pemerintah setempat sering kali menggambarkan langkah ini sebagai kebutuhan untuk mengubah “pemikiran terbelakang dari kelompok budaya yang ditargetkan

Sumber: republika.co.id

 

UGM Kembangkan Alat Bisa Deteksi Covid-19 dalam Dua Menit

YOGYAKARTA(Jurnalislam.com) – Peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil membuat alat deteksi covid-19 yang diberinama GeNose. Alat ini dapat mendeteksi COVID-19 dengan cepat dengan akurasi tinggi, Selain itu harganya juga terjangkau dibandingkan dengan tes usap PCR.

UGM secara resmi menyerahkan GeNose kepada Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenrsitek) Badan Riset dan Inovasi Nasiona (BRIN), Kamis (24/9/2020).

Anggota tim peneliti GeNose, Kuwat Triyono mengatakan alat deteksi COVID-19 GeNose ini memiliki kemampuan mendeteksi virus corona baru dalam tubuh manusia dalam waktu cepat. Tidak kurang dari 2 menit hasil tes sudah dapat diketahui apakah positif atau negatife COVID-19.

“Kalau sebelumnya butuh waktu sekitar 3 menit, kemarin saat uji di BRIN sudah bisa turun menjadi 80 detik sehingga lebih cepat lagi,” kata Kuwat, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (25/9) sore.

Selain cepat melakukan deteksi dan memiliki akurasi tinggi, penggunaan GeNose jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan tes usap PCR. Satu unit GeNose harga Rp40 juta dan dapat digunakan untuk 100 ribu pemeriksaan.

“Untuk saat ini kemampuan produksi optiumum sekitar 50 ribu unit per bulannya,” ungkapnya.

Peneliti GeNose lainnya, Dian Kesumapramudya Nurputra menambahkan GeNose bekerja mendeteksi Volatile Organic Compound (VOC) yang terbentuk karena adanya infeksi COVID-19 yang keluar bersama nafas melalui hembusan nafas ke dalam kantong khusus.

“Selanjutnya diidentifikasi melalui sensor-sensor yang kemudian datanya akan diolah dengan bantuan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence),” tambahnya.

GeNose telah melalui uji profiling dengan menggunakan 600 sampel data valid di Rumah Sakit Bhayangkara dan Rumah Sakit Lapangan Khusus COVID di Bambanglipuro Bantul hasilnya tingkat akurasi hingga 97% .

“Setelah melalui uji klinis tahap pertama, saat ini GeNose tengah memasuki uji klinis tahap kedua,” jelasnya.

Sumber: republika.co.id

Pemerintah Siapkan Flat Isolasi Wisma Atlet Khusus OTG

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sebagai langkah mengantisipasi flat isolasi mandiri di Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat, mengalami kehabisan tempat bagi pasien Orang Tanpa Gangguan (OTG).

Satuan Tugas Gabungan Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19 mulai mempersiapkan penambahan tempat.

Komandan Lapangan Rumah Sakit Darurat Covid-19, Letkol (L) M Arifin mengatakan, saat ini pimpinan satgas telah menentukan tower 8 Wisma Atlet, Pademangan digunakan untuk pasien positif Covid-19 dengan status OTG.

“Jadi ini dipakai untuk mem-back up persiapan dari tower 4 dan tower 5 yang ada di Kemayoran. Dimana kita ketahui daya tampungnya di tower itu sudah mulai menipis artinya sudah menampung 1.200-an di tower 4 sudah 85% terisi,” kata Arifin di Wisma Atlet Pademangan, Sabtu (26/9/2020).

 

Dijelaskan Arifin, ada tower 8 Wisma Atlet Pademangan terdiri dari 18 lantai dan mampu menampung sekitar 1. 500 pasien. “Jadi di dalam satu gedung ini terdapat 524 kamar. Dimana setiap kamarnya terdapat tiga tempat tidur. Jadi satu keluarga bisa tinggal dalam satu unit,” tuturnya.

“Mungkin ruang poli lantai dasar masih belom terpasang AC dan nanti kita siapkan sekat buat tower 8 dan tower 9 dikasih pembatas. Diharapkan ini pasien yang mandiri dalam kondisi sehat dan bisa beraktivitas sendiri,” tambahnya.

sumber: republika.co.id

Rektor IPB: Ketenangan Batin Modal Penting Kesembuhan Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) University Arif Satria beberapa waktu lalu mengumumkan dirinya positif Covid-19. Arif menekankan ketenangan batin menjadi modal penting menuju kesembuhan.

Arif merujuk pendapatnya pada ilmuan Ibnu Sinna yang pernah mengutarakan kekhawatiran adalah separuh penyakit. Menurutnya, kondisi ini berlaku pada Covid-19 di mana jika kegelisahan menghinggapi penderitanya maka berpengaruh buruk pada jalan kesembuhan.

Arif menyarankan tiap pasien Covid-19 menyalurkan minatnya agar menghilangkan kekhawatiran. Pria yang gemar musik bahkan sampai membuat lagu di masa penyembuhannya. Selain itu, menurut Arif tidak ada salahnya makin mendekatkan diri pada Tuhan di momen ini agar menenangkan batin.

“Saya buat suasana hati gembira, banyak doa untuk ketenangan spiritual. Ketenangan lahiriah penting juga. Lakukanlah hobi yang bisa dilakukan (saat perawatan),” kata Arif sebuah diskusi pada Sabtu (26/9).

“Cari sumber semangat karena beda tiap orang. Ini soal ketahanan spiritual. harus sadar ini teguran. Yakinkan keluarga harus tenang, semuanya adalah skenario terbaik dari Tuhan. Jangan panik karena bisa semuanya panik, harus tenang jadi semuanya tenang,” pesan Arif.

Dia mengakui menjaga semangat agar tidak jatuh di masa perawatan bukanlah hal mudah. Apalagi setelah dirinya mengumumkan terjangkit Covid-19. Sebagian rekan dan keluarganya memang memberi motivasi. Namun sebagian yang lain justru memberi pesan yang tidak enak bagi batinnya.

“Saya dapat pesan yang tidak enak juga. Misal menyebut tetangganya meninggal karena Covid padahal awalnya enggak kenapa-kenapa. Ini tidak baik karena bikin panik,” ujar Arif.

Karena itu, Arif mendukung para penyintas dan pasien Covid-19 bergabung dalam jaringan perkawanan. Hal ini akan memudahkan mereka berbagi semangat demi mencapai kesembuhan.

Arif merasa beruntung karena terjangkit Covid-19 baru-baru ini saat sudah banyak penyintasnya. Arif mendapat banyak saran dari mereka, salah satunya Wali Kota Bogor Arya Bima yang lebih dulu sembuh.

“Perlu ada jejaring pengetahuan soal Covid sesama penyintas. Di sana saling memberi semangat mendukung untuk sembuh sembuh sembuh,” ucap Arif.

Arif dinyatakan negatif dalam tes usap pada Jumat (25/9). Dengan demikian Arif sudah bisa pulang ke rumah untuk melanjutkan karantina mandiri.

Sumber: republika.co.id

Angka Covid-19 India tembus 5,9 Juta Kasus

NEW DELHI(Jurnalislam.com) — Jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 di India pada Sabtu (26/9) naik menjadi 5.903.932, menurut Kementerian Kesehatan Federal India. Selama 24 jam terakhir terjadi penambahan 85.362 kasus dan 1.089 kematian Covid-19.

“Total kasus terkonfimasi Covid-19 di India mencapai 5.903.932 dengan total kematian 93.379,” demikian informasi yang dirilis oleh kementerian seperti dilansir Xinhua.

Menurut pejabat terkait, sebanyak 4.849.584 pasien telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah dinyatakan sembuh. “Jumlah kasus aktif di negara tersebut kini tercatat 960.969,” demikian informasi tambahan dari kementerian.

Sejauh ini, 70 juta orang lebih di India telah menjalani tes Covid-19. “Jumlah kumulatif 70.269.975 sampel telah diperiksa hingga 25 September 2020,” kata Dewan Penelitian Medis India (ICMR) pada Sabtu (26/9).

Sebanyak 1.341.535 tes dilakukan pada Jumat (25/9). Saat ini India berada dalam cengkeraman pandemi Covid-19 dan secara global menjadi negara kedua di dunia yang paling parah terdampak virus corona.

sumber: republika.co.id

Kesulitan Pangan Saat Pandemi, Masyarakat Apresiasi Gerakan Saling Berbagi Indonesia Care

TANGSEL(Jurnalislam.com)–Matahari pagi ini masih malu-malu bersinar, tapi puluhan ibu-ibu sudah tampak antri panjang mengular di jalan akses menuju Kodiklat TNI Pamulang, Tangerang Selatan, Jumat (25/9).

Ibu-ibu yang mayoritas mengenakan daster tersebut tengah menunggu giliran memilih bahan pangan yang dibagikan secara gratis hasil donasi yang diterima lembaga kemanusiaan Indonesia CARE dari masyarakat.

Setelah sukses kegiatan digelar di Sunter Jakarta Utara Jumat pekan lalu, hari ini kegiatan dilaksanakan di wilayah Pamulang, Tangerang Selatan. “Harapannya tentu dapat menginspirasi masyarakat untuk meneruskan apa yang kami sebut Gerakan Saling Berbagi (GSB) ini,” ujar Direktur Program Indonesia Care, Mega Wati.

Kegiatan GSB ini, lanjut Mega akan terus dilanjutkan disejumlah lokasi yang dianggap memiliki lebih banyak masyarakat prasejahteranya. “Mereka paling terasa dampaknya akibat penerapan PSBB kedua ini,” ungkapnya.

Wanita berhijab ini merinci paket bahan pangan yang disalurkan dari para donatur itu meliputi sayur mayur, beras, lauk pauk seperti tempe dan tahu. Termasuk roti dan mi instan. “Bisa pula nanti ditambahkan susu dan buah nantinya,” tambah aktivis HMI ini

Ketua RT. 001 RW 02 Kelurahan Buaran, Pamulang, Tangerang Selatan, Sumantri mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia berharap kegiatan ini bisa dilaksanakan setiap hari terutama saat Pandemi berlangsung. “Kasihan mereka merasakan sekali dampaknya, terutama yang bekerja di sektor harian,” ungkapnya.

Isi dari paket pun ia berharap bisa lebih variatif, bukan hanya satu jenis tapi beragam dari beras, sayuran hingga lauk-pauk. “Kalau bisa jangan memilih satu macam aja,” harapnya.

Ditempat yang sama, salahsatu penerima manfaat Mak Ecin (90) Menyampaikan terima kasih kepada para dermawan yang sudah mau berbagi dengan dirinya. Ia mendoakan kemudahan rezeki dan diberi kesehatan bagi para donatur.

Bagi masyarakat yang ingin ikut berpartisipasi program Gerakan Saling Berbagi ini lanjut Mega bisa menyalurkan langsung kepada mereka yang membutuhkan di lingkungan masing-masing atau bisa juga datang ke lokasi impelementasi kita langsung dengan membawa bahan pangan yang ingin dibagikan

Antara Wapres, K-Pop dan Inspirasi Sultan Sulaiman Al Qonuni

Penulis : Jumi Yanti Sutisna*

Akhir-akhir ini, masyarakat Indonesia dikagetkan oleh pernyataan-pernyataan yang dianggap aneh keluar dari penguasa negara.

Dari pernyataan menag yang kontraversial mengenai pemuda ‘good looking’ yang hafidz Quran dan pandai berbahasa Arab adalah agen radikal, kini tidak tanggung-tanggung Wakil Presiden KH. Amin Ma’ruf mengeluarkan pernyataan yang seolah mendukung pemuda pemudi Indonesia untuk menggemari K-pop dan K-drama.

“Saat ini anak muda Indonesia di berbagai pelosok Indonesia juga mengenal artis K-Pop dan gemar menonton drama Korea. Ketertarikan warga Indonesia terhadap Korea juga telah mendorong meningkatnya wisatawan Indonesia ke Korea, diharapkan wisawatan Korea juga semakin banyak datang ke Indonesia. Maraknya budaya K-pop diharapkan juga dapat menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri,” kata Ma’ruf Amin pada sambutannya secara virtual di acara peringatan 100 tahun kedatangan orang Korea di Indonesia, Ahad (20/9/2020).

Dari pernyataan tersebut, Ma’ruf Amin seolah mendukung dan mengapresiasi pemuda pemudi Indonesia yang gemar menonton K-pop dan K-drama, karena menurut penilaiannya diharapkan dapat mendorong wisawatan Korea datang ke Indonesia. Bahkan Ma’ruf Amin berharap budaya K-pop dapat menginspirasi anak muda Indonesia dalam berkreasi.

Sungguh pernyataan yang mengagetkan keluar dari seorang Wakil Presiden yang latar belakang beliau adalah ulama, yang tentunya mengenal betul bagaimana sejarah telah mengatakan bahwa budaya yang tidak baik harus dijauhkan dari pemuda pemudi penerus bangsa, karena jika tidak, itu akan menjadi penyebab kehancuran yang luar biasa.

Ma’ruf Amin mungkin lupa dengan kisah Sultan Sulaiman al-Qonuni salah seorang khalifah Utsmani yang mampu menampilkan kewibawaan Islam di tengah dunia Barat. Bagaimana cara Sultan Sulaiman berhasil membawa Turki Utsmani mencapai masa keemasan dan kekuatan. Menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan. Negara yang memiliki kekuatan ekonomi, militer, dan pengaruh. Dan menyebarkan Islam di tanah Eropa. Apakah dengan cara mengambil inspirasi dari budaya yang memalukan?

Sungguh tidak, bahkan Sultan Sulaiman pernah melakukan tindakan untuk melindungi pemuda pemudi bangsa sehingga tindakan ini menghasilkan dendam yang luar biasa dikalangan musuh Islam.

Apa yang dilakukan Sultan Sulaiman?

Kala itu orang-orang menari dan berpelukan didepan umum di Perancis pada siang hari. Sultan Sulaiman mengetahui hal ini dan mengirimkan surat kepada Raja Prancis saat itu Francois I, dengan isi surat :

“Kami telah diberitahu bahwa orang-orangmu menari dijalanan dan tempat umum dengan cara yang tak sopan, dan karena negaramu berbatasan dengan negara kami, kami khawatir ketidaksopanan ini akan menyebar ke negara kami. Jika pesanku ini sampai padamu, hentikanlah ketidaksopanan ini atau aku sendiri yang akan datang untuk menghilangkannya. ”

Mendapat pesan ini, raja Francois I memerintahkan untuk menghentikan tarian publik itu, dan tarian ini berhenti selama 100 tahun.

Sungguh bertolak belakang dengan yang dilakukan Ma’ruf Amin bukan?

Dan mari kita lihat, bagaimana sejarah mengatakan bahwa bahagianya musuh-musuh Islam saat pemuda pemudi Islam mengikuti budaya mereka. Saat runtuhnya kekhalifahan Islam Turki Utsmani tahun 1923 M.

Orang-orang Nasrani Eropa bersuka cita dan berpesta atas kemenangan mereka. Salah satu bentuk pesta dan perayaan yang mereka gelar adalah mengadakan kontes kecantikan wanita di Kota Ankara, ibu kota kekhilafahan Turki Utsmani. Seorang wanita dari kalangan sekuler Turki yang bernama Keriman Halis turut serta dalam kontes ini.

Dalam kontes tersebut, Keriman diharuskan mengenakan bikini saat melenggak-lenggok di atas panggung acara. Dan itu adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah Turki, putri bangsa mereka turut serta dalam kontes pamer aurat wanita ini.

Saat melihat Keriman berjalan di catwalk, pimpinan dewan juri melontarkan kata-kata yang menunjukkan ekspresi kepuasan sekaligus kebencian agama yang begitu mendalam dalam jiwa orang-orang Eropa terhadap kekhilafahan Utsmani.

Ia berkata, “Tuan-tuan anggota dewan juri, sungguh seluruh daratan Eropa hari ini tengah bersuka cita atas kemenangan orang-orang Nasrani. Kekuasaan Islam yang telah berlangsung sejak tahun 1400 M, berakhir sudah. Keriman Halis, ratu kecantikan Turki, telah berdiri di hadapan kita sebagai perwakilan wanita muslimah. Inilah dia, anak keturunan dari wanita muslimah yang (dulunya) terjaga, menampakkan diri di hadapan kita. Harus kita akui, dialah mahkota kemenangan kita”.

Sang ketua juri kembali melanjutkan ekspresi kepuasannya dengan mengatakan, “Suatu hari, Sultan Sulaiman al-Qonuni pernah merasa terusik dengan munculnya tarian dansa di Prancis yang bertetangga dengan kerajaannya. Ia pun mengambil sikap untuk menghentikan hal itu. Karena ia khawatir budaya itu masuk ke wilayahnya (memberi pengaruh kepada rakyatnya pen.).

Inilah dia, Keriman Halis, cucu dari sang sultan yang muslim itu berdiri di hadapan kita dengan mengenakan bikininya. Ia ingin agar kita takjub dengan dirinya. Kita katakan kepadanya, ‘Ya, kita takjub akan dirinya’, dengan harapan di masa mendatang remaja-remaja muslimah berjalan di atas hal yang kita inginkan. Mari bersulang atas kemenangan bangsa Eropa”.

Sekali lagi, mungkin Ma’ruf Amin lupa dengan kisah Sultan Sulaiman al-Qonuni. Atau mungkin Ma’ruf Amin tidak lupa namun ia tidak berdaya dengan tahta yang kini sedang menghias hidupnya.

 

*Penulis adalah Jurnalis Jurnalislam.com

 

 

Pemuda Hidayatullah: Sexual Consent Bertentangan dengan Nilai Luhur Bangsa

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Belakangan publik dihebohkan dengan isu pendidikan “sexual consent” yang dinilai banyak pihak, terutama organisasi yang peduli terhadap masalah anak dan perempuan sebagai hal yang menyimpang.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Pemuda Hidayatullah  Imam Nawawi mengatakan lembaga yang konsen membangun mental dan karakter kaum muda sesuai dengan nilai-nilai peradaban Islam dan nilai-nilai luhur bangsa menilai bahwa pendidikan “sexual consent” sangat tidak relevan dan bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa.

“Mencegah kekerasan seksual melalui pendekatan “sexual consent” bertentangan dengan Pancasila sebagai dasar negara, nilai-nilai agama dan budaya Indonesia yang menjunjung tinggi kesopanan dan kesusilaan.,” kata dia dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com.

Katanya, jika yang dimaksud dengan pendidikan yang mengundang kegaduhan itu adalah dalam rangka mencegah perkosaan, pelecehan dan perilaku seksual menyimpang maka langkah yang tepat adalah menguatkan nilai religiusitas generasi muda, termasuk moral, dan dorongan untuk hidupnya norma sosial di negeri ini.

“Bukan pendekatan persetujuan (suka sama suka), yang justru rawan atau potensial menjadi legitimasi seks bebas,” kata dia.

Terlebih jika pendidikan ini disampaikan tanpa menekankan pentingya pernikahan. Lebih dari itu, pendidikan “sexual consent” ini jika dibiarkan apalagi membudaya maka bukan tidak mungkin ini akan meruntuhkan nilai-nilai sakral dan luhur dalam budaya masyarakat, seperti pernikahan dan pentingnya keluarga.

“Bayangkan jika ini legal atau setidak-tidaknya dipandang “baik” oleh anak-anak muda , maka orang boleh jadi berpandangan tak perlu lagi menikah dan membentuk keluarga. Sebab, cukup suka sama suka,” tambah dia.

Akibatnya, ktat dia, bukan hanya pernikahan yang perlahan akan hilang dari budaya bangsa ini, keluarga Indonesia pun lambat laun akan terperosok pada perceraian, hingga akhirnya rusaklah generasi bangsa di negeri ini.

“Karena banyak anak lahir dalam kondisi orangtua yang bercerai, berantakan, dan tidak bertanggungjawab. Terakhir kepada pihak yang berkompeten dan bertanggungjawab, pendidikan harusnya didasarkan pada konstitusi yang tersedia,” pungkasnya.

Kemenkeu: Indonesia Masuk Negara Krisis Bersama 92 Persen Negara Lain

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyebutkan, Indonesia termasuk diantara 92% negara di seluruh dunia yang perekonomiannya akan mengalami krisis akibat terdampak pandemi Covid-19.

Data itu didasarkan proyeksi dari Bank Dunia (World Bank).

“Bank Dunia untuk 2020 sudah menghitung, lebih dari 92% negara akan krisis, negatif pertumbuhannya. Poinnya, ini sesuatu yang sangat berat dan melanda seluruh dunia,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu dalam diskusi secara virtual, Jumat (25/9/2020).

 

Febrio juga mengatakan, Kemenkeu memproyeksi perekonomian Indonesia di kuartal III akan minus 2,9% hingga 1%. Setelah mencatatkan kontraksi sebesar 5,32% di kuartal kedua, hal itu berarti Indonesia sudah mengalami resesi ekonomi.

 

Namun, sambung Febrio, berdasarkan perkiraan Bank Dunia, Indonesia termasuk yang krisisnya relatif ringan.

 

“Mungkin too early kalau Indonesia (disebut) relatif efektif menangani dampak Covid terhadap perekonomian. Kita tidak tahu, dan kita salah satu negara berpenduduk besar juga,” ujarnya.

 

Dia menambahkan, perekonomian Indonesia memang sudah mulai bergerak kembali. Pergerakan itu terlihat dari realisasi purchasing manufacture index (PMI) yang sudah cukup membaik serta data penjualan ritel yang relatif baik.

“Program-program ke depan terus fine tuning sesuai hasil pantauan di lapangan. Untuk itu pemulihan dan program PEN (pemulihan ekonomi nasional) perlu dijalankan dengan tepat,” pungkasnya.

Sumber: republika.co.id

DMC DD Bersihkan Material dan Cek Kesehatan Warga Terdampak Banjir Bandang

JAWA BARAT (Jurnalislam.com)-Melanjutkan tanggap respon banjir bandang yang melanda wilayah Sukabumi, tim Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa kembali melakukan aksi bersih-bersih, Kamis siang (24/09). Kali ini, tim menuju Kampung Nyangkoek, Desa Mekarsari, Kecamatan Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat. Tim mengerahkan sejumlah relawan, dan armada mobil taktis juga ambulans.

“Hari ini, tim menuju ke Desa Mekarsari, Cicurug, dengan agenda bersih-bersih rumah warga. Disana menjadi salah satu titik yang cukup parah,” terang Sanadi, selaku Koordinator Pos Respon Banjir Bandang Sukabumi.

Ketersedian alat seperti kop, pacul, dan bantuan mesin diesel, tim mulai membersihkan rumah-rumah yang menjadi korban banjir bandang. Dibantu relawan lain dan warga setempat, tim bergotong royong mengangkut lumpur dari rumah-rumah. Walau air telah surut, material yang dibawa berupa lumpur, dan kayu-kayu masih menumpuk di rumah-rumah warga.

“Memang lumpur masih banyak sekali, saya sudah bersihkan dua hari belum kelar juga. Ini masih banyak lumpurnya,” aku Johari, salah satu warga.

Selain aksi bersih-bersih, tim juga menerjunkan satu tim kesehatan. Mereka mendatangi rumah-rumah warga yang mengalami keluhan pasca bencana. Perawatan luka menjadi yang paling sering tim lakukan selama respon kesehatan di lapangan.

“Paling banyak perawatan luka, karena saat kejadian, material yang dibawa mencederai warga,” tukas Sigit, Tenaga Medis Dompet Dhuafa.

Seperti yang telah diinfokan sebelumnya, banjir bandang pada senin (21/9) sore, membuat rumah-rumah warga di sepanjang Sungai Citatih, Cicurug, porak poranda. Puluhan keluarga terpaksa mengungsi, dan ribuan lainnya kini sibuk membenahi yang tersisa.