Responsive image
Responsive image
Responsive image

Antara Wapres, K-Pop dan Inspirasi Sultan Sulaiman Al Qonuni

Antara Wapres, K-Pop dan Inspirasi Sultan Sulaiman Al Qonuni

Penulis : Jumi Yanti Sutisna*

Akhir-akhir ini, masyarakat Indonesia dikagetkan oleh pernyataan-pernyataan yang dianggap aneh keluar dari penguasa negara.

Dari pernyataan menag yang kontraversial mengenai pemuda ‘good looking’ yang hafidz Quran dan pandai berbahasa Arab adalah agen radikal, kini tidak tanggung-tanggung Wakil Presiden KH. Amin Ma’ruf mengeluarkan pernyataan yang seolah mendukung pemuda pemudi Indonesia untuk menggemari K-pop dan K-drama.

“Saat ini anak muda Indonesia di berbagai pelosok Indonesia juga mengenal artis K-Pop dan gemar menonton drama Korea. Ketertarikan warga Indonesia terhadap Korea juga telah mendorong meningkatnya wisatawan Indonesia ke Korea, diharapkan wisawatan Korea juga semakin banyak datang ke Indonesia. Maraknya budaya K-pop diharapkan juga dapat menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri,” kata Ma’ruf Amin pada sambutannya secara virtual di acara peringatan 100 tahun kedatangan orang Korea di Indonesia, Ahad (20/9/2020).

Dari pernyataan tersebut, Ma’ruf Amin seolah mendukung dan mengapresiasi pemuda pemudi Indonesia yang gemar menonton K-pop dan K-drama, karena menurut penilaiannya diharapkan dapat mendorong wisawatan Korea datang ke Indonesia. Bahkan Ma’ruf Amin berharap budaya K-pop dapat menginspirasi anak muda Indonesia dalam berkreasi.

Sungguh pernyataan yang mengagetkan keluar dari seorang Wakil Presiden yang latar belakang beliau adalah ulama, yang tentunya mengenal betul bagaimana sejarah telah mengatakan bahwa budaya yang tidak baik harus dijauhkan dari pemuda pemudi penerus bangsa, karena jika tidak, itu akan menjadi penyebab kehancuran yang luar biasa.

Ma’ruf Amin mungkin lupa dengan kisah Sultan Sulaiman al-Qonuni salah seorang khalifah Utsmani yang mampu menampilkan kewibawaan Islam di tengah dunia Barat. Bagaimana cara Sultan Sulaiman berhasil membawa Turki Utsmani mencapai masa keemasan dan kekuatan. Menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan. Negara yang memiliki kekuatan ekonomi, militer, dan pengaruh. Dan menyebarkan Islam di tanah Eropa. Apakah dengan cara mengambil inspirasi dari budaya yang memalukan?

Sungguh tidak, bahkan Sultan Sulaiman pernah melakukan tindakan untuk melindungi pemuda pemudi bangsa sehingga tindakan ini menghasilkan dendam yang luar biasa dikalangan musuh Islam.

Apa yang dilakukan Sultan Sulaiman?

Kala itu orang-orang menari dan berpelukan didepan umum di Perancis pada siang hari. Sultan Sulaiman mengetahui hal ini dan mengirimkan surat kepada Raja Prancis saat itu Francois I, dengan isi surat :

“Kami telah diberitahu bahwa orang-orangmu menari dijalanan dan tempat umum dengan cara yang tak sopan, dan karena negaramu berbatasan dengan negara kami, kami khawatir ketidaksopanan ini akan menyebar ke negara kami. Jika pesanku ini sampai padamu, hentikanlah ketidaksopanan ini atau aku sendiri yang akan datang untuk menghilangkannya. ”

Mendapat pesan ini, raja Francois I memerintahkan untuk menghentikan tarian publik itu, dan tarian ini berhenti selama 100 tahun.

Sungguh bertolak belakang dengan yang dilakukan Ma’ruf Amin bukan?

Dan mari kita lihat, bagaimana sejarah mengatakan bahwa bahagianya musuh-musuh Islam saat pemuda pemudi Islam mengikuti budaya mereka. Saat runtuhnya kekhalifahan Islam Turki Utsmani tahun 1923 M.

Orang-orang Nasrani Eropa bersuka cita dan berpesta atas kemenangan mereka. Salah satu bentuk pesta dan perayaan yang mereka gelar adalah mengadakan kontes kecantikan wanita di Kota Ankara, ibu kota kekhilafahan Turki Utsmani. Seorang wanita dari kalangan sekuler Turki yang bernama Keriman Halis turut serta dalam kontes ini.

Dalam kontes tersebut, Keriman diharuskan mengenakan bikini saat melenggak-lenggok di atas panggung acara. Dan itu adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah Turki, putri bangsa mereka turut serta dalam kontes pamer aurat wanita ini.

Saat melihat Keriman berjalan di catwalk, pimpinan dewan juri melontarkan kata-kata yang menunjukkan ekspresi kepuasan sekaligus kebencian agama yang begitu mendalam dalam jiwa orang-orang Eropa terhadap kekhilafahan Utsmani.

Ia berkata, “Tuan-tuan anggota dewan juri, sungguh seluruh daratan Eropa hari ini tengah bersuka cita atas kemenangan orang-orang Nasrani. Kekuasaan Islam yang telah berlangsung sejak tahun 1400 M, berakhir sudah. Keriman Halis, ratu kecantikan Turki, telah berdiri di hadapan kita sebagai perwakilan wanita muslimah. Inilah dia, anak keturunan dari wanita muslimah yang (dulunya) terjaga, menampakkan diri di hadapan kita. Harus kita akui, dialah mahkota kemenangan kita”.

Sang ketua juri kembali melanjutkan ekspresi kepuasannya dengan mengatakan, “Suatu hari, Sultan Sulaiman al-Qonuni pernah merasa terusik dengan munculnya tarian dansa di Prancis yang bertetangga dengan kerajaannya. Ia pun mengambil sikap untuk menghentikan hal itu. Karena ia khawatir budaya itu masuk ke wilayahnya (memberi pengaruh kepada rakyatnya pen.).

Inilah dia, Keriman Halis, cucu dari sang sultan yang muslim itu berdiri di hadapan kita dengan mengenakan bikininya. Ia ingin agar kita takjub dengan dirinya. Kita katakan kepadanya, ‘Ya, kita takjub akan dirinya’, dengan harapan di masa mendatang remaja-remaja muslimah berjalan di atas hal yang kita inginkan. Mari bersulang atas kemenangan bangsa Eropa”.

Sekali lagi, mungkin Ma’ruf Amin lupa dengan kisah Sultan Sulaiman al-Qonuni. Atau mungkin Ma’ruf Amin tidak lupa namun ia tidak berdaya dengan tahta yang kini sedang menghias hidupnya.

 

*Penulis adalah Jurnalis Jurnalislam.com

 

 

Bagikan

One thought on “Antara Wapres, K-Pop dan Inspirasi Sultan Sulaiman Al Qonuni

  1. INILAH MAKSUD K.H. MA’RUF AMIN:*
    Kyai menyampaikan bahwa jika budaya lokal Korea (K-Pop) saja bisa meng-internasional bahkan digemari hingga Amerika. Maka anak muda Indonesia mestinya mampu menjadikan budaya lokal Indonesia menjadi menginternasional pula. Termasuk “Budaya Santri”, agar diupayakan menjadi budaya nasional dan bahkan menginternasional.
    Nasihat beliau sangat simpel dan sekaligus sangat visioner. Namun para “pembuat” berita dan para tukang “fitnah” telah dengan sengaja menggoreng informasi ini untuk tujuan membuat narasi fitnah dan menyebar kebencian.
    Akibatnya para Netizen yang sebagian bersumbu pendek dan kurang cermat membaca terburu-buru menghujat beliau. Narasi negatif berbentuk gambar dibagikan ribuan kali di berbagai akun media sosial. Hingga terwujudlah Dosa Jariyah yang dapat menghapus semua amal shalih.
    Ketahuilah, bahwa menghina dan memfitnah Kyai Ma’ruf Amin telah mengakibatkan tiga dosa besar, yakni Menghina dan menfitnah Sulthan, Menghina memfitnah Ulama dan Menghina Orangtua.
    1. MENGHINA UMARO’ (SULTHON): Menghina Pemerintah adalah akan dihinakan oleh Allah. Nabi Saw bersabda:
    مَنْ أَهَانَ السُّلْطَانَ أَهَانَهُ اللهُ. رواه الترمذي
    “Barangsiapa yang menghina seorang penguasa, maka Allah akan menghinakannya.” (HR al-Tirmidzi, no. 2224).
    2. MENGHINA ULAMA. Darah dagingnya ulama adalah racun, maka menghinanya sama saja makan racun. Kyai Ma’ruf bukan ulama biasa, tetapi beliau adalah “Al-Kubarâ'” (الكبراء), yakni ulama besar, sesepuh dan sangat dituakan oleh kaum muslimin di Indonesia. Para ustadz-ustadz muda saja kita hormati, apalagi beliau selaku Ulama Kubara’.
    Al-Hafidz Ibnu Asakir dalam “Tabyin Kadzib Al-Muftari” berkata:
    ” واعْلَمْ يَا أخِي، أَنَّ لُحُومَ العُلَماءِ مَسْمُومَةٌ، وَعَادةُ اللهِ في هَتْكِ أسْتَارِ مُنْتَقِصِيهِمْ مَعْلُومَةٌ، لأنَّ الوَقِيعَةَ فِيهِمْ بِمَا هُمْ مِنْهُ بَرَاءٌ أمْرُهُ عَظِيم ٌ، والتَّناوُلُ لأعْراضِهِم بالزُّورِ والافْتِراءِ مَرْتَعٌ وَخيمٌ ، والاختِلاقُ عَلَى من اخْتارهُ اللهُ مِنْهُم لِنَعْشِ العِلْمِ خُلُقٌ ذَمِيمٌ “.
    Artinya: “Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya daging para ulama itu beracun (menggunjingnya adalah dosa besar), dan kebiasaan Allah dalam menyingkap kedok para pencela mereka (ulama) telah diketahui bersama. Karena mencela mereka dengan sesuatu yang tidak ada pada mereka, merupakan petaka besar, dan melecehkan kehormatan mereka dengan cara dusta dan mengada-ada merupakan kebiasaan buruk, dan menentang mereka yang telah Allah pilih untuk menebarkan ilmu, merupakan perangai tercela”.
    3. MENGHINA ORANGTUA. Beliau adalah Syaikh al-Kabir dan telah berjasa banyak buat bangsa dan negara ini. Maka menghina beliau sungguh sama saja telah menghina Orangtua sendiri. Nabi Saw bersabda:
    لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
    Artinya: “Bukan termasuk ummatku, siapa yang tidak memuliakan orang yang lebih tua, menyayangi orang yang lebih muda dan memuliakan hak-hak orang alim (Ulama).”
    WARNING (PERINGATAN)
    Kepada segenap netizen mari bijak bermedia sosial dan bijak menelaah informasi. Telitilah setiap informasi yang datang dan jangan cepat percaya. Apalagi hanya berupa judul berita dan gambar-gambar editan.
    Kita harus menyadari bahwa hari ini ada gerombolan politik yang menghalalkan fitnah untuk menjatuhkan pihak lain. Mungkin bagi mereka ada istilah “Fitnah Syariah”. Bahkan sekali waktu mereka teriak “Bela Ulama”, namun disisi lain mereka “mencaci ulama yang lain”.
    Bagi mereka Para Ulama yang sejalan dengan gerbong politik mereka itulah yang dipuja-puja seperti “Malaikat”. Sebaliknya ulama yang tidak berada di gerbong yang sama akan terus dituduh Ulama Sû’ dan mereka sebarkan fitnah atasnya.
    Kelompok ini sewaktu-waktu tampak seperti bertuhan dan bahkan menjual nama “Tuhan” agar umat mau berpihak kepada mereka. Tapi kadang-kadang mereka seperti tidak bertuhan, karena menggunakan FITNAH demi tujuan politik. Kader-kader mereka getol menyebarkan fitnah itu dan mereka merasa bahwa itulah JIHAD. Seolah mereka lupa bahwa ada ALLAH yang selalu mengawasi kelakuan mereka. Padahal Allah Ta’ala berfirman: “FITNAH ITU LEBIH KEJAM DARI PEMBUNUHAN”.
    Percayalah bahwa kebenaran tidak akan pernah diperjuangkan dengan cara BATHIL.
    Kepada segenap “Santri”, mari kita berjihad di media sosial untuk meluruskan semua fitnah atas ulama kita.
    Sesuai dengan pesan Mbah Yai (K.H. Ma’ruf Amin), mari kita menginternasionalkan “BUDAYA SANTRI”. Kalau K-Pop saja bisa, SANTRI mengapa tidak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close X