Pilkada dalam Bayangan Kematian

Oleh: Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Setiap rezim, di negara manapun berada, selalu akan mendengar dan mempertimbangkan suara mayoritas. Ini hukum politik. Mayoritas adalah kekuatan yang menentukan. Kecuali jika kelompok mayoritas rapuh dan berada dalam kendali kekuasaan. Seperti rakyat India yang hindu di era kerajaan Mughol.

Di Indonesia, ada dua ormas besar yaitu NU dan Muhammadiyah. Dengan ciri, cara, karakter dan klaster yang berbeda, keduanya mewakili suara mayoritas penduduk Indonesia.

Rezim sekuat Orde Lama dan Orde Baru sekalipun, kendor ketika dua ormas besar itu “secara resmi” memprotes kebijakannya. Begitu juga rezim-rezim setelahnya.

Berbeda dengan para pendahulunya, Jokowi cenderung lebih percaya diri dan berani. Tak saja NU dan Muhammadiyah, suara MUI juga gak didengarkan.

Terkait RUU HIP, MUI, NU dan Muhammadiyah protes. Didukung oleh ratusan ormas lainnya. Minta RUU HIP dibatalkan. Cabut dari prolegnas. Tak digubris. Baik oleh DPR maupun pemerintah.

Tidak saja soal RUU HIP. Baru-baru ini, NU dan Muhammadiyah juga meminta pemerintah menunda pilkada desember 2020 nanti. Sebab, rawan penyebaran covid yang akhir-akhir ini makin menghawatirkan. Tingkat penyebaran di atas 4000 orang perhari. Angka kematian di atas 100 orang perhari. Sementara, pemerintah selama ini tak cukup bisa dipercaya mampu mengendalikan dan mengatasi covid. Ini catatan dan fakta obyektif.

Meski diprotes banyak pihak, tak ada tanda-tanda Jokowi akan menunda pilkada. Berbeda dengan rakyat, pemerintah merasa yakin bahwa penyebaran covid bisa dikendalikan. Karena itu, tak harus menunda pilkada.

Belum tahu apa strategi pemerintah sehingga begitu yakin mampu mengendalikan penyebaran covid-19 saat pilkada. Apakah pemerintah hanya akan mengijinkan kampanye digital via media dan medsos? Atau akan melakukan operasi yustisi di musim kampanye dan saat pencoblosan?

Pemerintah harus memberi alasan “masuk akal” terhadap rakyat yang sedang panik dihajar covid-19 gelombang kedua ini. Pertama, pemerintah harus meyakinkan rakyat bahwa pilkada memang sangat urgent, karena itu tidak bisa ditunda. Kalau ditunda akan mengakibatkan dampak yang serius. Pemerintah harus menjelaskan “dampak serius” yang akan terjadi jika pilkada ditunda.

Jika pilkada ditunda, maka ada 270 plt kepala daerah. Para ptl kepala daerah tidak bisa ambil kebijakan strategis. Padahal, saat pandemi dibutuhkan kebijakan strategis, kata Mahfuz MD. Ini alasan mengada-ada. Sama sekali tidak meyakinkan. Kalau terpaksa, apa susahnya bikin aturan baru untuk mengatur kewenangan plt.

Kedua, pemerintah harus menjamin bahwa penyebaran covid-19 tidak akan terjadi saat pilkada diselenggarakan. Strategi apa yang pemerintah akan lakukan perlu diungkapkan agar rakyat bisa percaya dan menjadi tenang. Strategi itu mesti terukur. Bukan tebak-tebak buah semangka.

Jika pemerintah gak mampu memberi dua alasan di atas, atau gagal membeberkan analisis statistik yang meyakinkan, ini sama artinya menantang maut. Wajar jika kemudian rakyat menduga-duga bahwa kebijakan ini diambil lantaran anak dan menantu presiden ikut pilkada. Yaitu Gibran di Solo dan Bobby di Medan.

Alur pikiran rakyat sederhana. Bahwa ongkos (cost) politik untuk jadi calon kepala daerah itu sangat mahal. Semakin diundur, semakin besar ongkos yang harus dikeluarkan.

Pilkada 2020 sedianya digelar 23 September, lalu diundur 9 desember. Mau diundur lagi? Ya ampuuun, kata para calon. Bandar bisa tekor.

Jelang pilkada desember 2020, para calon sudah keluarkan dana cukup besar. Setidaknya untuk mahar partai, biaya survei dan konsolidasi, serta biaya pemanasan kampanye. Kalau ditunda, semua biaya-biaya itu dipastikan akan membengkak.

Tentu, semua biaya itu bukan seluruhnya dari kocek pribadi calon. 92 persen melibatkan bohir, kata Mahfuz. Keterlibatan bohir disini menjadi faktor penting. Sebab, para bohir, terutama kelas kakap, punya akses untuk bisa menekan dan bahkan mengendalikan kebijakan.

Itu baru dana pencalonan. Belum lagi kalau bicara anggaran KPU. Pasti akan ikut bengkak. Di tengah defisit APBN, penundaan pilkada akan membuat negara makin berat. Sekarang aja sudah berat. Saking beratnya, bikin aturan baru agar bisa cetak uang.

Kalau pilkada ditunda, sampai kapan? Adakah yang jamin bahwa awal tahun 2021 pandemi berakhir? Makin lama ditunda, makin besar biaya yang harus dikeluarkan calon dan para bohir itu.

Dalam pilkada yang berlarut-larut, Herd Imunity berlaku. Tidak saja untuk kesehatan, tapi juga politik. Siapa yang kuat dananya akan besar peluangnya jadi pemenang. Calon yang logistiknya cekak akan megap-megap. Yang menang, balik modal gak ya?

Dilematis! Satu sisi ada anak, menantu dan para bohir. Juga pentingnya menyelamatkan negara dari defisit anggaran. Disisi lain, nyawa rakyat terancam covid. Sebagai seorang negarawan, Jokowi mestinya tak perlu terjebak dalam dilema itu. Utamakan nyawa rakyat, itu tugas seorang negarawan. Kecuali jika ingin jadi pecundang.

Kalau dari awal pandemi Jokowi punya pilihan dan ketegasan keberpihakan pada nyawa rakyat, tak perlu banyak jiwa melayang dan alami resesi ekonomi berkepanjangan. Artinya, kebijakan pemerintah selama ini keliru menaruh pilihan.

Sebelum pemerintah memiliki keyakinan mampu menjamin keselamatan rakyat dari ancaman covid akibat kerumunan kampanye dan pencoblosan di pilkada, maka menunda itu lebih bijak. Ini sekaligus sebagai langkah akomodatif terhadap harapan rakyat yang diantaranya disuarakan NU dan Muhammadiyah.

Jika pilkada dipaksakan, dan terbukti nanti terbentuk cluster penyebaran, maka pemerintah, dalam hal ini Jokowi, akan semakin defisit kepercayaan.

Ketika pasca pilkada jumlah terinfeksi makin banyak dan angka kematian akibat covid-19 bertambah, ini bisa jadi anti klimaks di tengah krisis ekonomi yang sedang melanda. Saat itu, nasib Jokowi akan jadi taruhan

Ulama Diminta Terapkan Protokol Kesehatan Ketat

BANDUNG(Jurnalislam.com) — Wakil Gubernur Jawa Barat (Jabar) Uu Ruzhanul Ulum mengajak para ulama untuk menerapkan protokol dengan ketat dalam setiap kegiatan keagamaan. Agar, menurut  Uu, jangan sampai kegiatan keagamaan di Jabar yang menjadi klaster penularan COVID-19.

“Kalau 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabut) dilaksanakan, menurut penelitian, ini (penularan COVID-19) bisa dicegah,” ujar Uu kepada wartawan, Rabu malam (24/9).

Uu pun mengajak, pimpinan pondok pesantren dan ulama untuk sama-sama menjaga keamanan, ketentraman, dan kondusivitas di Jabar. Uu mengatakan, keamanan, ketentraman, dan kondusivitas Jabar dapat dirawat apabila ulama, umara (pemerintah), dan masyarakat, intens bersilahturahmi.

“Kami ingin ada hubungan emosional yang baik antara Pemerintah Daerah Provinsi Jabar dengan para ulama,”  paparnya.

Sebagai Panglima Santri Jabar, Uu pun mengapresiasi komitmen TNI/Polri menjaga keamanan dan kondusivitas, termasuk dalam kegiatan-kegiatan keagamaan di Jabar. Ia pun mengajak semua pihak untuk sama-sama menjaga ulama.

“Mari jaga ulama dengan umat, mari jaga menjaga ulama dengan aparat,” katanya.

Wakil Direktur Binmas Polda Jabar AKBP Muhammad Rois menyatakan, pihaknya berkomitmen untuk menjaga keamanan dan kondusivitas di tengah-tengah masyarakat.

“Polda Jabar dalam kegiatan kemasyarakatan selalu siap sedia melakukan pengamanan. Jangan sampai, pimpinan pondok pesantren dan tokoh agama sungkan berkoordinasi dengan kepolisian,” katanya.

Ketua Umum Pimpinan Wilayah Syarikat Islam Jabar Abah Nandang Koswara yakin dengan silahturahmi, koordinasi, dan komunikasi, yang baik antara ulama dan umara, keamanan dan kondusivitas Jabar dapat terjaga.

“Kondusivitas merupakan kepentingan kita semua untuk mewujudkannya. Ini perlu keterlibatan partisipasi seluruh masyarakat, komunitas masyarakat,” katanya.

Sumber: republika.co.id

MUI Sayangkan Banyak Film Tidak Mendidik

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhyiddin Junaidi menyayangkan film-film yang tayang di Indonesia tidak banyak membawa pesan pendidik kepada masyarakat luas.

“Kami di MUI menghargai insan perfilman yang bergerak di film untuk mendidik masyarakat. Namun disayangkan banyak film tidak membawa misi pendidikan, ini berbahya. Kita tahu Indonesia punya udara bebas, banyak film merusak moral anak bangsa, perlu upaya maksimal dari LSF (Lembaga Sensor Film) bagaimana memantau film-film yang tidak baik,” kata Muhyiddin dalam diskusi webinar “Film Horor dan Religi dalam Perspektif Agama”, Kamis (24/9).

Ada puluhan juta anak-anak di usia produktif yang mudah dipengaruhi lewat film. Muhyiddin mengatakan, ada survei yang menyatakan jumlah porsi jam menonton bagi anak-anak semakin tinggi, bahkan anak-anak kini disiapkan menonton agar tak mengganggu orang tuanya bekerja.

Untuk itu penting agar memproduksi film yang membawa pesan pendidikan. Ia mengimbau insan perfilman dapat memproduksi film yang membawa pesan mendidik, dan bersejarah agar mereka mengetahui perjuangan para pendahulunya, termasuk para ulama terdahulu.

Muhyiddin mengatakan, terdapat tiga perspektif film dari MUI. Pertama, menyampaikan informasi yang sebenarnya, faktual, dan bukan karangan. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam bahwa manusia tidak boleh menyampaikan sesuatu hanya sekadar asumsi, prediksi, dan ini merupakan kewajiban yang tidak terpisahkan dari manusia.

“Informatif, harus ada referensi, membuat judul film ada referensinya, faktanya apa, jadi tidak boleh sembarangan, informasi harus disampaikan dengan benar. Harus betul-betul benar,” kata dia.

Dia mengatakan, banyak orang di Indonesia menyukai film dengan genre horor karena salah satunya sebagai hiburan. Adanya pandemi Covid-19, yang menimbulkan kesulitan ekonomi bagi sebagian besar orang, menyebabkan orang membutuhkan hiburan, dan ini didapat melalui film horor.

Dia mengungkapkan, bagi film yang memilki pesan yang baik, maka akan menghasilkan hasil yang baik pula. Sementara pesan film buruk, maka hasilnya juga akan buruk.

Kemudian, perspektif dalam film selain menyampaikan informasi dengan benar, dan mendidik, juga sebagai hiburan. Menurutnya, saat ini banyak yang menggunakan film sebagian besar untuk hiburan. Banyak orang yang memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai hiburan, dan ini dianggap salah besar.

Sumber:republika.co.id

Siswa Madrasah Dapat Bantuan Paket Data

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Kementerian Agama (Kemenag) membantu siswa madrasah dengan memberikan paket data. Kemenag menggandeng lima operator telekomunikasi untuk memberikan paket data secara cuma-cuma untuk meringankan beban siswa dan orang tua saat pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Muhammad Ali Ramdhani mengatakan, pandemi Covid-19 mengharuskan siswa madrasah belajar dari rumah dengan PJJ. Hal ini berakibat kebutuhan kuota internet meningkat dan ini bisa membebani orang tua mereka.

“Kami telah bersinergi dengan Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Tri, dan Smartfren memberikan kartu perdana gratis kepada siswa madrasah,” kata Ramdhani melalui pesan tertulis kepada Republika, Kamis (24/9).

Menurutnya, upaya lain untuk membantu madrasah di tengah pandemi terus dilakukan. Misalnya, Kemenag saat ini tengah mengusulkan anggaran untuk menunjang pelaksanaan PJJ di madrasah kepada Kementerian Keuangan.

“Kita masih upayakan, kita sedang mengajukan usulan anggaran khusus bantuan penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh di madrasah,” ujarnya.

Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Ahmad Umar menambahkan, upaya meringankan beban siswa madrasah sudah dilakukan sejak masa awal pandemi. Kemenag misalnya segera mengeluarkan kebijakan yang membolehkan penggunaan dana BOS untuk menunjang kegiatan PJJ.

“Kami pada awal Juni juga sudah melakukan kerjasama dengan provider untuk memberi paket data dengan harga terjangkau bagi siswa dan guru madrasah,” ujarnya.

Untuk kerjasama kali ini, lanjut Umar, paket data diberikan secara gratis dalam bentuk kartu perdana. Adapun besaran kuotanya, berbeda-beda sesuai kesepakatan kerjasama yang ditandatangani dua belah pihak.

Sumber: republika.co.id

Dai Daerah Hadapi Tantangan Keterbatasan Teknologi Digital

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) menyampaikan kendala yang dihadapi para dai di daerah dan kota berbeda-beda, terutama dalam memanfaatkan teknologi digital. Para dai belum bisa sepenuhnya memanfaatkan teknologi digital untuk keperluan dakwah di masa pandemi Covid-19.

Ketua Umum Ikadi, Prof KH Achmad Satori Ismail mengatakan, kemungkinan besar pada dai di daerah menghadapi masalah jaringan internet yang sulit diakses dan biaya kuota internet yang sulit terjangkau.

“Mereka (para dai di daerah) juga bisa dikatakan untuk (memenuhi kebutuhan) hidup saja agak susah (apalagi untuk membeli kuota internet untuk keperluan dakwah),” kata Kiai Satori kepada Republika, Kamis (24/9).

Ia menjelaskan, untuk bisa berdakwah dengan memanfaatkan teknologi digital tentu dibutuhkan keahlian dalam memanfaatkan teknologi. Tapi tidak bisa dipungkiri masih banyak para dai di daerah yang belum bisa sepenuhnya memanfaatkan teknologi digital.

Ia mengatakan, untuk para dai yang ada di kota, tantangan dan kendalanya berbeda dengan para dai di daerah. Kemungkinan para dai di kota masih ada yang belum maksimal memanfaatkan teknologi digital.

“Karena para dai kadang-kadang memiliki program yang rutin yang cukup menyita waktu, ada yang aktivitas di pesantren, ada yang mengelola masjid, mengelola majelis taklim, itu saja sudah merasa capai,” ujarnya.

Dengan demikian, lanjutnya, para dai di kota-kota sudah memiliki kegiatan padat sehingga tak sempat melakukan dakwah digital.

Sumber:republika.co.id

Menkopolhukam: Saya Selalu Nonton Film G30S/PKI Karena Film Bagus

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD turut mengomentari soal film Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) yang belakangan ini, santer dibicarakan masyarakat luas.

Hal itu setelah mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo membuat pengakuan mengejutkan tentang pencopotan jabatannya oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Desember 2017, padahal baru pensiun 1 April 2018. Menurut Gatot, ia dicopot lantaran bersikukuh menginstruksikan jajaran TNI untuk menonton film G30S/PKI.

“Ada yang nanya, apa penting film G.30.S/PKI disiarkan? Saya jawab, saya selalu nonton film tersebut, tapi bukan ingin tahu atau meyakinkan tentang sejarah PKI,” kata Mahfud dalam status Twitter, @mohmahfudmd pada Kamis (24/9) siang WIB.

Mahfud secara terus terang memuji kualitas film yang disutradarai dan ditulis oleh Arifin C Noer, serta diproduseri oleh G Dwipayana tersebut. Film G30S/PKI wajib diputar setiap akhir September pada era Presiden Soeharto berkuasa. Namun, sejak Orde Baru tumbang, tidak ada kewajiban bagi stasiun televisi untuk menayangkannya kembali.

Menurut Mahfud, film itu layak ditonton karena memang berkualitas, bukan karena ingin belajar sejarah PKI. “Saya selalu nonton karena ia adalah karya film yang bagus, artistik, dan dramatisasinya. Kalau sejarah PKI sih saya sudah tahu, sebab tahun 1965 saya sudah (berusia) delapan tahun,” kata Mahfud.

Sumber: republika.co.id

 

Palestina Puji Pidato Erdogan di Sidang Umum PBB

YERUSALEM(Jurnalislam.com) – Kementerian Luar Negeri Palestina pada Rabu memuji isi pidato Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Kita harus berterima kasih kepada presiden Turki atas pidatonya yang mengingatkan dunia tentang penderitaan rakyat Palestina serta hak mereka untuk kebebasan dan kemerdekaan serta penolakannya atas inisiatif yang ditolak Palestina,” kata kementerian Palestina itu dalam sebuah pernyataan.

Dalam pidatonya, Erdogan mengatakan “Atas penolakan dokumen penyerahan, yang coba diberlakukan di Palestina dengan nama ‘Kesepakatan Abad Ini,’ Israel kali ini mempercepat upayanya untuk ‘memiliki jalur dalam’ dengan bantuan dari sekutunya”.

“Turki tidak akan mendukung rencana apa pun yang tidak disetujui oleh rakyat Palestina,” kata presiden Turki itu.

“Negara-negara yang telah menyatakan niat mereka untuk membuka kedutaan besar di Yerusalem, yang melanggar resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum internasional, hanya akan membuat konflik semakin rumit dengan tindakan mereka,” tukas Erdogan.

Sumber: anadolu agency

 

Ekonom: Tangani Dulu Pandemi, Baru Ekonomi Bisa Pulih

JAKARTA(Jurnaislam.com) – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memperkirakan ekonomi Indonesia bakal tetap tumbuh negatif hingga kuartal IV/2020. Menurut kemungkinan terburuknya, pertumbuhan ekonomi nasional 2020 bisa terkontraksi 1%.

Artinya, dalam kuartal III dan IV, ekonomi Indonesia akan mengalami negatif. Hal ini seiring kontraksi perekonomian yang juga terjadi di setiap negara selama masa pandemi Covid-19 saat ini.

Lantas kapan perekonomian Tanah Air kembali pulih dan berada di tren yang positif? Direktur Riset CORE Piter Abdullah mengatakan, pemerintah kini harus fokus untuk menurunkan jumlah kasus baru Covid-19.

Pasalnya, kunci untuk membangkitkan geliat perekonomian di Indonesia adalah dengan penanganan pandemi secara baik. “Kita akan kembali pulih ketika wabah sudah berlalu,” kata Piter saat dihubungi, Kamis (24/9/2020).

Menurut dia, dengan selalu bertambahnya jumlah kasus, maka menandakan pemerintah belum serius menangani pandemi tersebut. Bila tren penderita Covid-19 terus meningkat, lanjut dia, jangan diharapkan ekonomi akan kembali pulih seperti dahulu.

Sebab, hampir dapat dipastikan daya beli masyarakat masih akan selalu menurun dan investor takut membelanjakan uangnya di pasar saham.

Seperti diketahui, kasus harian virus corona kembali memecahkan rekor selama pandemi terjadi yakni mencapai 4.465 kasus baru pada 23 September 2020. Total kasus positif per kemarin mencapai 257.388.

sumber: sindonews.com

Erdogan Pidato Bela Palestina, Dubes Israel Keluar dari Ruang Sidang PBB

WASHINGTON(Jurnalislam.com) — Duta Besar Israel untuk PBB Gilad Erdan keluar dari ruang sidang Majelis Umum PBB saat video pidato Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan diputar. Dalam video itu, Erdogan mengecam dan mengkritik keras kebijakan penindasan Israel.

“Rakyat Palestina telah menentang kebijakan penindasan, kekerasan, dan intimidasi Israel selama lebih dari setengah abad,” kata Erdogan dalam pidatonya, dikutip laman Anadolu Agency, Rabu (23/9).

Dia turut menyoroti kebijakan Israel di Yerusalem. “Tangan kotor yang mencapai privasi Yerusalem, tempat tempat suci tiga agama besar hidup berdampingan, terus meningkatkan kelancangannya,” ujarnya.

Erdogan pun mengomentari rencana perdamaian Timur Tengah, termasuk untuk konflik Israel-Palestina, yang disusun pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Dia menegaskan, Turki tidak akan mendukung rencana apa pun yang ditolak rakyat Palestina.

“Partisipasi beberapa negara di kawasan ini dalam permainan ini tidak berarti apa-apa selain melayani upaya Israel untuk mengikis parameter dasar internasional. Negara-negara itu telah menyatakan niat mereka untuk membuka kedutaan besar di Yerusalem, yang melanggar resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum internasional, hanya membuat konflik semakin rumit dengan tindakan mereka,” ucap Erdogan.

Dia menekankan bahwa konflik hanya dapat diselesaikan dengan pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. “Mencari solusi selain ini sia-sia, sepihak dan tidak adil,” kata Erdogan.

Sumber: republika.co.id

 

Ngotot Gelar Pilada, Pemerintah Dinilai Tak Responsif Penderitaan Rakyat

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Desakan agar Pilkada Serentak 2020 kembali ditunda terus disampaikan sejumlah pihak. Sebabnya, pilkada kali ini dianggap berbahaya karena dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19 yang makin luas.

Bahkan, Guru Besar UIN Jakarta, Azyumardi Azra telah bersikap tak akan menggunakan hak pilihnya alias golput dalam pilkada.

Mantan Rektor UIN Jakarta yang juga anggota dewan pertimbangan MUI itu mengaku alasan dirinya golput karena atas dasar solidaritas kemanusiaan akibat banyaknya masyarakat yang jadi korban virus tersebut.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin menganggap, kredibilitasnya pilkada bisa diragukan karena banyak desakan pilkada ditunda dan tokoh meminta ditunda.

“Termasuk juga ormas-ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah (meminta pilkada ditunda),” ujar Ujang, Kamis (24/9/2020).

Ujang menganggap, kebijakan memaksakan kehendak dari pemerintah, DPR, dan penyelenggara pilkada melanjutkan pesta demokrasi lima tahunan itu menandakan mereka tak responsif atas aspirasi dan penderitaan rakyat.

Dia pun menilai, hal ini bisa berpengaruh terhadap partisipasi pemilih. Dia melihat, partisipasi akan rendah itu karena pengaruh tokoh-tokoh dan ormas yang meminta pilkada ditunda.

“Namun partisipasi akan bisa tinggi, jika calon kepala daerah memobilisasi pemilih untuk datang mencoblos di hari H dengan imbalan atau janji,” kata dia.

Sumber: sindonews.com