Pemuda Hidayatullah: Sexual Consent Bertentangan dengan Nilai Luhur Bangsa

Pemuda Hidayatullah: Sexual Consent Bertentangan dengan Nilai Luhur Bangsa

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Belakangan publik dihebohkan dengan isu pendidikan “sexual consent” yang dinilai banyak pihak, terutama organisasi yang peduli terhadap masalah anak dan perempuan sebagai hal yang menyimpang.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Pemuda Hidayatullah  Imam Nawawi mengatakan lembaga yang konsen membangun mental dan karakter kaum muda sesuai dengan nilai-nilai peradaban Islam dan nilai-nilai luhur bangsa menilai bahwa pendidikan “sexual consent” sangat tidak relevan dan bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa.

“Mencegah kekerasan seksual melalui pendekatan “sexual consent” bertentangan dengan Pancasila sebagai dasar negara, nilai-nilai agama dan budaya Indonesia yang menjunjung tinggi kesopanan dan kesusilaan.,” kata dia dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com.

Katanya, jika yang dimaksud dengan pendidikan yang mengundang kegaduhan itu adalah dalam rangka mencegah perkosaan, pelecehan dan perilaku seksual menyimpang maka langkah yang tepat adalah menguatkan nilai religiusitas generasi muda, termasuk moral, dan dorongan untuk hidupnya norma sosial di negeri ini.

“Bukan pendekatan persetujuan (suka sama suka), yang justru rawan atau potensial menjadi legitimasi seks bebas,” kata dia.

Terlebih jika pendidikan ini disampaikan tanpa menekankan pentingya pernikahan. Lebih dari itu, pendidikan “sexual consent” ini jika dibiarkan apalagi membudaya maka bukan tidak mungkin ini akan meruntuhkan nilai-nilai sakral dan luhur dalam budaya masyarakat, seperti pernikahan dan pentingnya keluarga.

“Bayangkan jika ini legal atau setidak-tidaknya dipandang “baik” oleh anak-anak muda , maka orang boleh jadi berpandangan tak perlu lagi menikah dan membentuk keluarga. Sebab, cukup suka sama suka,” tambah dia.

Akibatnya, ktat dia, bukan hanya pernikahan yang perlahan akan hilang dari budaya bangsa ini, keluarga Indonesia pun lambat laun akan terperosok pada perceraian, hingga akhirnya rusaklah generasi bangsa di negeri ini.

“Karena banyak anak lahir dalam kondisi orangtua yang bercerai, berantakan, dan tidak bertanggungjawab. Terakhir kepada pihak yang berkompeten dan bertanggungjawab, pendidikan harusnya didasarkan pada konstitusi yang tersedia,” pungkasnya.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X