SKB 3 Menteri Bebaskan Seragam, MUI: Indonesia Bukan Negara Sekular

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Wakil Ketua Umum (Waketum) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas tidak sepakat dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri yang melarang Pemerintah Daerah (Pemda) serta sekolah negeri mengatur seragam dan atribut siswa dengan kekhususan agama tertentu.

 

Menurutnya, Indonesia adalah negara yang beragama, bukan sekuler. Oleh karenanya, kata Abbas, perlu ditanamkan sejak dini cara berpakaian sesuai dengan nilai-nilai keagamaannya masing-masing.

“Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini seperti dikatakan dalam pasal 29 ayat 1 adalah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini artinya negara kita harus menjadi negara yang religius bukan negara yang sekuler,” kata Abbas melalui pesan singkatnya, Kamis (4/2/2021).

 

Ketua PP Muhammadiyah tersebut juga mengingatkan, Undang-Undang, peraturan, serta kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dan DPR dalam semua bidang kehidupan termasuk dunia pendidikan harus didasarkan dan berdasarkan kepada nilai-nilai dari ajaran agama.

“Oleh karena itu, dalam hal yang terkait dengan pakaian seragam anak sekolah misalnya, karena para siswa dan siswi kita tersebut masih berada dalam masa formatife atau pertumbuhan dan perkembangan maka kita sebagai orang yang sudah dewasa terutama para gurunya harus mampu membimbing dan mengarahkan mereka untuk menjadi anak yang baik,” bebernya.

Abbas menilai SKB tiga menteri tersebut tidak sesuai dengan landasan dasar negara. Ia meminta agar negara yang diwakili oleh pihak sekolah, tidak begitu saja membebaskan anak muridnya dalam berpakaian ke sekolah.

“Untuk itu negara atau dalam hal ini pihak sekolah bukannya membebaskan muridnya yang belum dewasa tersebut untuk memilih apakah akan memakai pakaian yang sesuai atau tidak sesuai dengan agama dan keyakinannya,” papar Abbas.

 

Hakim Vonis Terdakwa Insiden Kasus Syiah Mertodranan Solo

SEMARANG (Jurnalislam.com)- Sidang lanjutan kasus insiden rumah Syiah di Mertodranan Solo digelar secara virtual di Pengadilan Negeri Semarang, jalan Siliwangi no 512, Kembangarum, Semarang dengan agenda pembacaan putusan oleh Majelis Hakim pada kamis, (4/2/2021).

Dalam sidang tersebut, Majelis Hakim menjatuhkan vonis 8 bulan sampai 12 bulan untuk 11 terdakwa dalam kasus tersebut. Masing masing terdakwa Agus Nugroho dan Surono divonis bulan penjara dikurangi masa tahanan.

Keduanya dikenakan pasal 160 KUHP tentang penghasutan. Sementara 8 terdakwa lainnya yakni Muhammad Syakir, Wahyudi, Muhammad Misran, Tri Hartono, Arif Nugroho, Maryanto, Sutarto dan Lahmudin divonis 10 bulan penjara oleh majelis hakim. Mereka dikenakan pasal 170 ayat 1 KUHP.

Sementara terdakwa Sugianto dan Budidoyo divonis 12 bulan penjara setelah sebelumnya dituntut 24 bulan penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Kedua tersangka dijerat pasal 160 dan 335 KUHP.

Sementara itu, kepada Jurnalislam.com Endro Sudarsono menjelaskan bahwa tim pengacara para terdakwa saat ini masih berdiskusi untuk menentukan apakah akan banding atau menerima keputusan dari PN Semarang itu.

“Terdakwa dan pengacara pikir pikir,” katanya pada kamis, (4/2/2021) malam.

Dompet Al Qur’an (DQ) Disahkan Sebagai LAZ Provinsi

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Kabar gembira datang dari kantor Kementerian Agama RI di Jakarta untuk keluarga besar Dompet Al-Qur’an Indonesia (DQ) khususnya bagi para donatur dan para penerima manfaat dari program-program DQ. Pasalnya, DQ telah secara resmi menerima SK Lembaga Amil Zakat (LAZ) Tingkat Provinsi dari Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam) Kementerian Agama Republik Indonesia pada 3 Februari 2021.

Penyerahan itu dilakukan di Ruang Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI langsung oleh Drs. H. Tarmizi, MA selaku Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Indonesia pada Bendahara Yayasan Dompet Al-Qur’an Indonesia Basuki Rakhmad. Pada kesempatan serah terima SK tersebut Drs. H. Tarmizi, MA mengucapkan selamat kepada DQ  atas SK LAZ Tingkat Provinsi yang telah diterima. Beliau Berharap DQ bisa semakin berkembang dan semakin bermanfaat bagi umat.

“Saya Berharap bagi lembaga yang telah mendapatkan SK seperti Dompet Al-Qur’an Indonesia agar semakin maju dan semakin bermanfaat untuk membantu kebutuhan umat. Kebutuhan umat tentu yang paling penting ada tiga seperti kebutuhan pokok sehari-hari, rumah sebagai tempat tinggal, dan kesehatan,” ungkap Tarmizi.

Basuki Rakhmad selaku Bendahara Yayasan Dompet Al-Qur’an Indonesia mengungkapkan rasa syukurnya atas didapatkannya SK LAZ Tingkat Provinsi untuk DQ. Beliau berpesan pada segenap amil DQ untuk menjawab kepercayaan atas diberikannya SK LAZ Tingkat Provinsi ini dengan bekerja lebih giat agar para donatur semakin terfasilitasi dan para mustahiq semakin terbantu.

“Alhamdulilah. Saya ucapkan banyak rasa syukur kehadirat Allah atas amanah SK LAZ Tingkat provinsi ini. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih pada semua pihak yang telah membantu DQ dalam proses penerimaan SK LAZ Ini. Semoga dengan didapatkannya SK LAZ Tingkat Provinsi ini menjadi langkah awal bagi para amil DQ untuk bekerja lebih untuk kebermanfaatan umat,” ungkap Basuki.

Direktur Dompet Al-Qur’an Indonesia Agung Heru Setiawan berharap DQ bisa menjadi LAZ yang profesional, independen, dan bisa membantu masyarakat untuk lebih sejahtera. “Semoga DQ bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat sehingga eksistensi DQ bisa berdampak banyak bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tutup Agung.

Tim SMP Muhammadiyah PK Juara Satu Nasional OPTIKA

SURAKARTA(Jurnalislam.com)–Tim Olimpiade Matematika SMP Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Surakarta berhasil meraih juara satu nasional dalam perlombaan Olimpiade Matematika (OPTIKA) 20 tingkat MTs/SMP se-Indonesia yang digelar secara online oleh Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta pada (16-31/1/2021). Tim tersebut terdiri atas Dzaky Aulia Fadhil, Aditya Cahya Sumunar, dan Amanda Trishya Aulia.
Muhdiyatmoko selaku kepala sekolah mengapresiasi pencapaian siswa-siswanya tersebut. Beliau menyampaikan bahwa kemenangan tingkat nasional tersebut perlu disyukuri dan dijadikan motivasi untuk sukses dalam perlombaan sejenis yang lain.
“Sekolah menyambut gembira dan apresiasi setinggi-tinggiya atas pencapaian prestasi dalam olimpiade Matematika tingkat nasional. Sebuah pencapaian yang luar biasa karena rangkaian lomba yang lama dan berjenjang. Sekolah sangat senang dan bersyukur. Semoga menjadi pelecut dan motivasi teman-temannya dan tetap semangat. Meskipun pandemi tetap berprestasi,” jelas Muhdiyatmoko kepada media.
Nurul Fitria selaku pendamping lomba menjelaskan bahwa perlombaan OPTIKA dilaksanakan secara berjenjang empat tahap sejak 16 Januari hingga 31 Januari 2021. Tahap penyisihan untuk masuk ke wilayah digelar pada 16 Januari 2021, tahap perlombaan tingkat provinsi pada 17 Januari 2021, tahap perlombaan tingkat nasional 24 Januari 2021, dan grand final yang terdiri atas 3 peserta pada 31 Januari 2021.
“Optika itu perlombaan yang memiliki tingkat persaingan paling sulit karena diikuti oleh siswa-siswa yang sering ikut olimpiade nasional. Alhamdulillah tim SMP Muh PK mampu lolos sampai granf final dengan menyingkirkan kontestan hebat dari sekolah lain,” papar Nurul.
Menurutnya, sistem perlombaan OPTIKA yang digelar secara daring sudah berkualitas. Hal itu karena pengawasan siswa memakai tiga kamera yang aktif melalui zoom meeting yaitu kamera depan, kamera belakang serong kanan, dan kamera belakang serong kiri. Selain itu, soal-soal yang diberikan juga memiliki tingkat kualitas soal olimpiade nasional. Tahap pertama sampai dengan tahap ketiga, perlombaan secara tertulis dimana soal dikerjakan lalu discan untuk diupload ke sistem. Tahap keempat peserta mengerjakan soal dengan 3 variasi yaitu amplop, kotak-katik, dan point berjenjang. Tim Olimpiade SMP Muhammadiyah PK berhasil meraup nilai paling banyak pada variasi soal point berjenjang sehingga menjadi juara satu nasional.
“Anak-anak mengerjakan selama 3 jam dari pukul tujuh sampai sepuluh dengan pengawasan kamera zoom tiga sisi. Adapun soal-soal sangat berkualitas dan bervariatif,” jelasnya.
Nurul pun bersyukur atas pencapaian hasil anak bimbingannya karena mereka sudah melewati tahap secara melelahkan dan upaya yang sungguh-sungguh. Walaupun secara online, anak-anak bisa berkompetisi maksimal.

Korps Alumni FoSSEI Gelar Silaturahim Akbar Daring

JAKARTA(Jurnalislam.com)--Korps Alumni Forum Silaturrahim Studi Ekonomi Islam (KA-FoSSEI) kembali mengadakan Silaturahim Akbar (SILAKBAR) pada 2021 ini. Penyelenggaraan SILAKBAR tahun ini cukup berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena dilaksanakan secara daring. Agenda ini juga menghadirkan Prof. Muliaman D. Hadad (Duta Besar RI untuk Swiss) untuk memberikan tausyiah singkat pada ajang silaturahmi tersebut.

“Di era pandemi ini, kita menghadapi perubahan pola pengelolaan organisasi. Kita menghadapi pola Ekonomi Islam secara Digital. Sehingga perlu set ulang gaya pergerakan kita, agar tujuan organisasi tetap tercapai. KA-FoSSEI pun harus menjadi pelopor untuk melakukan itu”, ucap Muliaman.

Lebih dari 130 alumni FoSSEI yang turut hadir dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan profesional, aparatur, dosen, peneliti, pengusaha, amil, nazhir, guru, dan berbagai profesi lainnya. Alumni yang hadir tidak hanya dari Indonesia saja, namun juga Malaysia dan Belanda.

Dalam rangkaian agenda SILAKBAR 2021 ini juga mengadakan Temu Nasional Profesi yang diadakan sebelum agenda utama. Beberapa Temu Nasional yang dilaksanakan diantaranya ialah Temu Nasional Pengusaha, Temu Nasional Amil dan Nazhir, Temu Nasional Dosen dan Peneliti, Temu Nasional Aparatur, Temu Nasional Praktisi Keuangan Syariah serta Temu Nasional Majelis Pimpinan Simpul.

Di akhir acara, Ketua MPP KA-FoSSEI Herlas Juniar mengumumkan pemenang Anugerah Inspirasi KA-FoSSEI. Adapun alumni yang mendapatkan penghargaan anugerah inspirasi KA-FoSSEI tersebut ialah :

Scientific leadership inspiration award – Rahmatina A. Kasri

Education leadership inspiration award – Dian Masyita

Aparatur leadership inspiration award – Ali Sakti

Executive leadership inspiration award – Ahmad Fauzi Nur

Executive leadership inspiration award – Alfi Wijaya

Business leadership inspiration award – Krishna Adityangga

Philanthropy leadership inspiration award – Abdul Ghofur

Global leadership inspiration award – Hylmun Izhar

Local initiative inspiration award –  Alumni KSEI IAIN Palembang

Agenda diakhiri dengan ramah tamah alumni FoSSEI serta pembacaan do’a.

——-

KA-FoSSEI merupakan organisasi yang menghimpun para alumni Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI) dari lebih dari 200 kampus di Indonesia. Saat ini para anggota KA-FoSSEI sudah berkiprah di berbagai bidang baik sektor keuangan maupun sektor non keuangan./Akhmad Akbar Susamto

Bertransaksi dengan Dinar-Dirham, Zaim Saidi Ditangkap Bareskrim Polri

DEPOK(Jurnalislam.com)- Pendiri Pasar Muamalah di Depok, Jawa Barat, Zaim Saidi ditangkap Bareskrim Polri, Selasa (2/2/2021) malam.

Penangkapan Zaim tersebut menyusul transaksi di toko Pasar Muamalah Depok yang menggunakan dinar, dirham serta metode barter.

Karo Penmas Humas Polri, Brigjen Rusdi Hartono mengonfirmasi penangkapan Zaim Saidi tersebut. Penangkapan dilakukan Subunit 4 Bareskrim. “Iya benar,” kata Rusdi di Jakarta, Rabu (3/2/2021).

Sebelumnya warga digegerkan dengan toko di Pasar Muamalah Depok yang bertransaksi menggunakan dinar, dirham serta metode barter.

Sempat dituding melanggar, ternyata mekanisme jual beli sesuai ajaran Rasulullah Muhammad SAW ini mengandung misi sosial, termasuk zakat.

Sumber: inews

Tingkatkan Kapasitas Diri, Amil BM Gayo Lues Ikuti Pelatihan di DD Waspada

 MEDAN, SUMATERA UTARA– Guna meningkatkan kapasistas diri, para amil Baitul Mal Gayo Lues ikuti pelatihan di Dompet Dhuafa Waspada, pada Senin (01/2/2021). Pelatihan yang di gelar di Dompet Dhuafa Waspada ini, berlangsung selama dua hari secara berkesinambungan.

Dari keterangan Sulaiman selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Wapada, mengatakan bahwa pelatihan ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas diri sebagai sesama amil. “Pelatihan ini memang sengaja kita lakukan untuk meningkatkan kapasitas diri dan berbagi ilmu sesama amil untuk melaksakan tugasnya”.

di era teknologi seperti sekarang ini, amil tidak boleh ketinggalan untuk mengikuti jaman. “Sebagai seorang amil yang tugasnya untuk menebar kebaikan maka kita juga harus bisa mengikuti perkembangan jaman dengan memanfaatkan teknologi dan strategi,” lanjut Sulaiman.

Bahwa pelatihan ini diisi dengan berbagai materi dimulai dari paradigma zakat sampai optimalisasi media sosial. “Selama dua hari pelatihan, ada beragam materi yang diberikan mulai dari hari pertama dibuka dengan paradigma zakat dan perkembangannya di dunia, lalu rencana program dan laporan penyaluran, membuat rilis berita, kampanye digital, serta optimalisasi media sosial,” jelas Sulaiman.

Dengan digelarnya pelatihan ini, Husin, M.Ag selaku Ketua BM Gayo Lues, mengucapkan harapan agar BM Gayo Lues dapat mengelola zakat secara profesional. “Dari pelatihan ini tentunya kita berharap agar dana zakat di BM Gayo Lues bisa dikelola secara profesional dibuktikan dengan meningkatnya perekonomian masyarakat melalui pendayagunaan zakat.”

Bahwa dengan diadakan pelatihan ini juga diharapkan dapat tercapailah keinginan untuk peningkatan kapasitas para amil BM Gayo Lues. “Harapannya juga ini bisa menjadi jalan untuk meningkatkan kapasitas para amil agar bisa lebih optimal lagi bekerja membantu masyarakat luas yang membutuhkan”.

“Terima kasih kami ucapkan kepada Dompet Dhuafa Waspada yang telah berbagi ilmu, pengalaman, dan pencerahannya kepada kami, semoga kita bisa maju bersama,” tutup Husin, M.Ag.

Wakaf yang Bernilai Ibadah

Oleh: K.H. Athian Ali

Tidak semua yang diperbuat seseorang pasti bernilai ibadah di sisi Alloh SWT.
Di antara mereka yang melaksanakan sholat sekalipun ada yang jangankan diterima sebagai ibadah, bahkan terancam celaka di neraka weil (Q.S. Al Maa’uun : 4-7)
Karenanya, berulangkali Rasululloh SAW mengawali sabdanya dengan kata “Rubba” atau “Kam,” yang mengandung pengertian “alangkah banyaknya” .
Seperti dalam hadist : “Rubba (Alangkah banyaknya) orang yang sholat hasilnya hanya merasakan letih”
Juga hadist ” Rubba (Alangkah banyaknya) mereka yang shaum, hasilnya hanya sekadar merasakan lapar dan dahaga ”
Dengan diawali kata “Rubba” atau “Kam”, Rasululloh SAW bermaksud meyakinkan ummatnya, bahwasanya dari sekian banyak yang beribadah, hanya sedikit sekali yang ibadahnya diterima Alloh SWT.

Paling tidak, ada dua syarat utama yang harus dipenuhi seseorang agar apa yang dilakukannya bernilai ibadah.
Pertama : Niat melakukan suatu perbuatan semata-mata ikhlas (Al Bayyinah : 5) mengharap ridho Alloh SWT (Al An’aam : 162)
Kedua : Yang dilakukan sesuai dengan syariat Alloh sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Dalam mewakafkan harta misalnya, maka jika seseorang ingin agar harta yang diwakafkan bernilai ibadah, maka yang bersangkutan harus yakin betul jika harta yang diwakafkannya benar-benar bermanfaat bagi kehidupan orang lain di jalan yang diridhoi Alloh SWT.

Harta yang diwakafkan, terutama jika dalam bentuk uang, sangat mungkin tidak bernilai ibadah karena tidak memenuhi kedua syarat utama di atas, atau karena penerima wakaf tidak amanah sehingga tidak sampai kepada mustahik, atau karena wakaf dipergunakan tidak sesuai dengan peruntukkannya.

Karenanya, sejak dahulu ummat Islam cenderung mewakafkan hartanya dalam bentuk tanah atau bangunan, agar manfaatnya bisa bertahan lama, sehingga akan terus “Jaariyah” (mengalir) pahalanya kendati yang bersangkutan sudah berada di alam barzah.

Wakaf dalam bentuk amal jariah seperti itu peluangnya masih sangat terbuka di negeri ini, mengingat betapa masih banyak Pondok Pesantren dan Madrasah yang kondisinya sangat memprihatinkan plus honor asaatidznya yang sangat jauh dari memadai.
Masih banyak Yayasan Dakwah Islam yang tertatih-tatih dalam melaksanakan programnya karena kekurangan dana.
Tidak sedikit Yayasan Yatim Piatu yang pengurusnya sudah sering merintih dan mengeluh karena sangat minimnya dana untuk menangani pendidikan dan kebutuhan hidup sehari-hari anak-anak yang tidak memiliki ayah untuk melindungi dan menafkahi dan/atau ibu yang memperhatikan, membelai serta mencurahkan perhatian dan kasih-sayangnya terhadap mereka.

Karenanya pesan Al Qur’an dan As Sunnah :
Jangan sia-siakan harta yang diamanahkan Alloh SWT kepadamu.
Pastikan harta yang diwakafkan benar-benar bernilai ibadah di sisi Alloh SWT.
Bermanfaat bagi sesama di jalan yang diridhoi Alloh SWT.
Maslahat untukmu, terutama dalam menggapai kebahagiaan yang hakiki dan abadi di akhirat nanti.

Wallohu a’lam

AR Learning Center Berbagi Kebaikan Kepada Istana Qur’an YAPAMUS Jakarta

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Lembaga AR Learning Center terus berkomitmen untuk kebermanfaatan umat, selain sebagai lembaga pelatihan juga menjadi lembaga yang aktif mengadakan kegiatan sosial kepada yang membutuhkan.

AR Learning Center kembali menyalurkan bantuan donasi, kali ini kepada santriwati Istana Qur’an Yayasan Pendidikan Amanah Sejahtera (YAPAMUS) Jakarta Selatan, DKI Jakarta, Sabtu, (30/1/2021).

Owner AR Learning Center, Mas Andre Hariyanto mengatakan, program Berbagi Kebaikan ini sudah berjalan sebelumnya dengan kegiatan penyaluran sembako kepada Yayasan MA Madania Yogyakarta dan pembebasan lahan asrama untuk Santri penghafal Al-Qur’an di Banjar, Jawa Barat.

“Ya, alhamdulilah, AR Learning Center berkomitmen untuk selalu berbagi kebaikan kepada masyakarat,” jelas sang founder Taklim Jurnalistik.

Sitti Badaria Atnangar, selaku Pimpinan Istana Qur’an mengucapkan banyak terima kasih kepada Lembaga AR Learning Center atas bantuan yang diberikan kepada santriwati Istana Qur’an Yayasan Pendidikan Amanah Sejahtera (YAPAMUS).

 

“Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan tim AR Learning Center dengan kebaikan yang lebih,” terang perempuan asal Kota Tual Provinsi Maluku.

Badaria mengharapkan, AR Learning Center bisa menjadi lembaga pembinaan umat paling terdepan dalam menciptakan trainer-trainer professional baik tinggat Nasional maupun internasional dan jaya terus AR Learning Center.

“Semoga kedepan silaturahmi antara Istana Qur’an Yapamus dan AR Learning Center tetap berlanjut hingga kegiatan yang kontributif lainnya,” katanya.

Andre mengakhiri, AR Learning Center memiliki visi menjadi pusat pembelajaran yang sukses kaderisasi dan bermanfaat untuk orang lain. */AR CoGan

Senyum Kemenangan Abu Jibril

Muhammad Iqbal Abdurrahman yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Jibril salah satu ulama pemberani yang dimiliki negeri ini telah berpulang ke rahmatullah pada 25 Januari 2021 yang lalu. Kesedihan yang bertubi-tubi menimpa ummat Islam Indonesia, belum juga air mata kering atas kepulangan Syaikh Ali Jaber dan Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf  dibulan yang sama, kemudian bagai mendengar guntur yang menakutkan atas kabar kepulangan ulama pemberani ustadz Abu Jibril.

Meski tak bisa dipungkiri bahwa kepulangan ustadz Abu Jibril laksana bintang yang padam, namun tentu inilah waktu beristirahat bagi beliau, seperti yang beliau pesankan pada Steven Indra saat bertemu di ibadah haji 2017, “Steven capek? Istirahatnya nanti di Firdaus (syurga) aja, di dunia saatnya mengumpulkan amal kebaikan, apapun itu yang baik, lillah saja” seperti yang dikisahkan Steven Indra di akun instagramnya.

Waktunya ustadz Abu Jibril beristirahat, kenapa demikian?

Ustadz Abu Jibril dikenal sebagai ulama yang pemberani dalam menyampaikan kebenaran agamanya, sudah tak heranlah seperti sejarah pun bercerita bahwa ulama-ulama yang berani menyampaikan kebenaran agamanya bahkan jika berlawananan dengan penguasa tentu ia akan diserang dengan berbagai fitnahan dan tuduhan. Seperti halnya terjadi pada Imam Syafi’i yang dituduh memecah belah masyarakat, Said bin Zubair seorang wali Allah yang dituduh memecah belah masyarakat dan hendak menjatuhkan pemerintah, Abu Yazid Al-Bustami seorang ulama yang dituduh sesat karena ilmu agamanya lebih tinggi dari pemerintah, dan banyak ulama-ulama terdahulu lainnya. Begitu pula yang terjadi dikehidupan ustadz Abu Jibril.

Lantangnya ustadz Abu Jibril menyampaikan kebenaran agamanya, menyampaikan jihad dan syariat Islam serta pengalamannya pada pertengahan 1980-an ia pernah berjihad di Afghanistan menjadi asbab  ia mendapat label radikal, teroris dan berbagai macam tuduhan.

Berikut tuduhan-tuduhan kepada ustadz Abu Jibril :

Tahun 2001, ditangkap oleh aparat keamanan Malaysia ketika akan memberikan ceramah di Shah Alam Selangor, dituduh membahayakan keamanan dalam negeri Malaysia karena aktif dalam kelompok Mujahidin Malaysia yang diduga berhubungan dengan terorisme. Namun kemudian tuduhan itu tidak terbukti, akhirnya ustadz Abu Jibril dibebaskan tahun 2003.

Tahun 2003, selang beberapa hari bebas dari tuduhan terorisme, Abu Jibril ditahan petugas imigrasi dengan tuduhan pemalsuan identitas yang dibuat pada tahun 1999 di imigrasi KBRI untuk Malaysia. Dideportasi dengan paksa ke Indonesia dan ditahan atas tuduhan pemalsuan identitas, meski Abu Jibril bersikukuh tidak ikhlas ditahan sehari pun karena merasa tidak melakukan pemalsuan identitas.

Tahun 2005, bom berdaya ledak kecil meledak di pekarangan rumah Abu Jibril. Untungnya, saat terjadi ledakkan Abu Jibril sedang shalat subuh di masjid sehingga tidak membuat Abu Jibril sebagai tersangka. Meski tidak ditetapkan sebagai tersangka, polisi tetap menggeledah rumah Abu Jibril dan menyita barang- barang berharga miliknya, seperti laptop, handycam, 300-an keping VCD dan dokumen milik Abu Jibril.

Tahun 2009, anak beliau Muhammad Jibril dituduh terlibat pemboman hotel Ritz Carlton dan JW Marriot hingga ditangkap oleh Densus 88, disiksa dan dicabuti janggutnya, atas penyiksaan densus kepada darah dagingnya itu Abu Jibril melapor kepada komnas HAM. Meski tidak terbukti bersalah dipengadilan, anak Abu Jibril tetap divonis 5 tahun penjara, sebuah kesedihan yang dalam bagi Abu Jibril selaku ayah.

Tahun 2009, Jamaah pengajian Abu Jibril di Masjid Al-Munawarah Pamulang di serang sekelompok massa Barisan Muda Betawi dimana dai lokal Abdurahman Assegaf yang pernah berseteru dengan Abu Jibril adalah dewan penasehat kelompok ini. Dalam penyerangan, Abu Jibril dituduh menyebarkan ajaran sesat dan memecah belah umat Islam, melarang qunut dan tahlilan. Perseteruan antara Assegaf dengan Abu Jibril dilatar belakangi kecemburuan Assegaf pada Abu Jibril dimana Abu Jibril yang merupakan orang baru dilingkungan tersebut namun lebih diberi kepercayaan menjadi imam masjid ketimbang Assegaf.

Tahun 2010, saat penembakan Dulmatin salah satu tersangka bom Bali 2002 di Pamulang, Abu Jibril kembali dikaitkan dengan teroris, pengajiannya di Masjid Al-Munawarah dinilai eksklusif dan mengajarkan kekerasan. Karena merasa jengah terus menerus dituduh teroris oleh beberapa pihak, ustadz Abu Jibril pun menyampaikan ketidaknyamanannya pada Mabes Polri, Kapolsek dan Wali Kota Tangerang Selatan agar tidak dikaitkan lagi dengan terorisme.

Tahun 2015, Muhammad Ridwan Abdurrahman salah seorang putra Abu Jibril meninggal dunia di Syuriah, ramai diberitakan bahwa putra Abu Jibril ini bergabung bersama ISIS, kabar ini membenarkan Abu Jibril adalah teroris. Namun hal ini segera dibantah oleh Muhammad Jibril kakak dari Muhammad Ridwan, melalui laman facebooknya Muhammad Jibril menjelaskan bahwa adiknya berangkat ke Syuriah sebagai relawan kemanusiaan untuk meringankan beban saudara muslim di Syuriah, perannya adalah membantu kaum muslimin Syam jika membutuhkan makanan dan kesehatan. Namun, kondisi perang yang semakin berkecamuk, seluruh relawan diizinkan membawa senjata untuk berjaga-jaga dan menjaga diri dari serangan musuh. Ridwan dan teman-temannya pun sudah siap jika dibutuhkan untuk membebaskan kaum muslimin, mereka bergabung bersama Mujahidin Syam. Muhammad Ridwan gugur oleh tembakan tank Bashar Asad dengan kepala terputus dari leherya,  saat turut serta dalam peperangan.

Sungguh kehidupan yang melelahkan bagi keluarga Abu Jibril dengan label teroris dan fitnah yang tak henti-hentinya, namun kesemuanya tak menyurutkan Abu Jibril beserta keluarga untuk tetap lantang menyuarakan syariah Islam. Salah satu prinsip yang pernah dipesankan kepada Steven Indra “Istirahatnya nanti di Firdaus (syurga) aja, di dunia saatnya mengumpulkan amal kebaikan, apapun itu yang baik, lillah saja” benar-benar dijalankan oleh Abu Jibril dan keluarga.

Framing media atas label teroris bagi Abu Jibril dan keluarga rupanya pun memegang andil, sehingga masyarakat yang tidak berusaha mencari informasi penyeimbang menjadi percaya akan label dan segala fitnahan terhadap Abu Jibril dan keluarga. Tidak banyak orang yang mau ambil pusing untuk mencari informasi penyeimbang, lain halnya yang dilakukan oleh Haris Firdaus seorang jurnalis Kompas dan pernah pun di Gatra merasa penasaran dengan label teroris pada Abu Jibril, ia menghadiri taklim Abu Jibril beberapa hari setelah penembakan Dulmatin, dalam blog pribadinya ia menceritakan pengalaman sekitar 2 jam menyimak ceramah Abu Jibril, dia menceritakan Abu Jibril dalam ceramahnya menerangkan pendapat-pendapatnya tentang pelbagai hal, bagaimana ia mengutip ayat Al Quran atau penggalan hadist, dan bagaimana ia menyerang orang-orang yang menuduhnya teroris. Kadang ada humor dalam ceramahnya, meski nada tegas dan marah juga berulangkali muncul.

Abu Jibril selama sepekan memberi ceramah lebih dari 10 kali dengan materi bermacam-macam dan yang perlu ditegaskan semuanya terbuka untuk umum. Katanya lagi pengajian Abu Jibril memang hanya ceramah agama biasa, tidak ada eksklusivitas apapun. Materinya pun hampir-hampir bisa ditemui dalam pengajian-pengajian lain. Benar bahwa Abu selalu memberi bumbu-bumbu jihad dalam ceramahnya tapi lebih dari itu tidak ada. Tak ada anjuran soal kekerasan, tak ada ajakan terorisme. Ini sungguh-sungguh pengajian yang biasa, tulis Haris

Menurut jurnalis ini, suara-suara yang mengatakan bahwa Abu Jibril dan masjid Al Munawwaroh adalah ekslusif dan mengajarkan terorisme benar-benar salah.

Jurnalis Kompas ini pun menceritakan bahwa selama ia ikut taklim Abu Jibril ia mempunyai kesan para jamaah sangat nenghormati Abu Jibril.

Penilaian terhadap Abu Jibril dari kalangan orang dekat yaitu Teguh nama seorang penjaga Masjid Al-Munawarah pada tahun 2005, menurutnya Abu Jibril adalah sosok yang tegas, tidak segan-segan menegur orang yang tidak menjalankan shalat jika waktu shalat telah tiba. Abu Jibril sering nenghabiskan waktunya di masjid untuk menjadi imam dan mengisi pengajian.

Kini, sosok yang tegas dan lantang menyampaikan syariah Islam dan yang bersahabat dengan tuduhan teroris itu telah berpulang, tepatnya di hari Senin, 25 Januari 2021 yang lalu pukul 23.05 WIB. Meninggal di usia 64 tahun karena komplikasi penyakit yang dideritanya selama 2 tahun. Menghembuskan nafas terakhir disamping istri tercinta Fatimah Zahrah yang bersamanya Abu Jibril dikarunia 16 orang anak.

Kepulangan Abu Jibril menghadirkan duka yang dalam bagi orang-orang terdekatnya dan orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya, serta muslim Indonesia yang takdzim terhadap perjuangan dan ketegasannya.

Orang-orang terdekat dan sahabat pun mengungkapkan keindahan akhlaknya. Taufan keponakan Abu Jibril menjelaskan sosok Abu Jibril di mata keluarga  adalah pejuang agama dan muslim yang shalih, ia juga lembut.

Tengku Zulkarnain mantan Sekjen MUI pun menceritakan tentang sosok dan kisah indahnya bersama Abu Jibril. “Kami memang berbeda Madzhab Fiqih. Beliau Madzhab Salafi dan saya bermadzhab Syafi’i. Namun, tidak pernah kami saling menyerang kepahaman dan amal masing masing. Dan, beberapa kali kami tampil ceramah satu panggung bersama, walau isi ceramah masing masing dengan rujukan kitab yang berbeda. Betapa indahnya Islam,” tulis Tengku Zul di akun instagramnya.

“Ceramah beliau tegas dan lugas menurut cara pandang dan pemahaman beliau. Namun, hati beliau lunak bagai kapas…

Saat di Padang Arafah Musim Haji tahun 2017 yang lalu, kami berada dalam satu tenda.  Saat itu saya sedang mengejar khataman al Qur’an menjelang Maghrib di Arafah. Sejak pagi saya sudah tancap gas. Beliau membujuk saya untuk makan siang. Saya katakan saya tidak lapar dan ingin khatam sebelum Maghrib. Lalu beliau mengambilkan makanan dan menyuapi saya. “Nanti ustadz sakit…”katanya.

Ah, demikian penuh perhatiannya beliau pada orang lain…

Selamat jalan Shahabat. Semoga Allah memuliakan anda, ya Syekh. Walau cara kita berjihad dan berjuang berbeda warna, tapi rasa hormat atas pribudi dan welas asih anda terasa agung di hati ini…” lanjutnya.

Demikianlah ustadz Abu Jibril, begitu berat perjalanan hidupnya bersama keluarganya. Fitnahan, penjara dan siksa seperti sudah menjadi sahabat dikehidupannya dan keluarganya. Kini beliau telah beristirahat dari segala kelelahan, dan beliau menyambut istirahat itu dengan senyum akhir, senyum kemenangan.

 

Oleh : Jumi Yanti Sutisna