Senyum Kemenangan Abu Jibril

Senyum Kemenangan Abu Jibril

Muhammad Iqbal Abdurrahman yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Jibril salah satu ulama pemberani yang dimiliki negeri ini telah berpulang ke rahmatullah pada 25 Januari 2021 yang lalu. Kesedihan yang bertubi-tubi menimpa ummat Islam Indonesia, belum juga air mata kering atas kepulangan Syaikh Ali Jaber dan Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf  dibulan yang sama, kemudian bagai mendengar guntur yang menakutkan atas kabar kepulangan ulama pemberani ustadz Abu Jibril.

Meski tak bisa dipungkiri bahwa kepulangan ustadz Abu Jibril laksana bintang yang padam, namun tentu inilah waktu beristirahat bagi beliau, seperti yang beliau pesankan pada Steven Indra saat bertemu di ibadah haji 2017, “Steven capek? Istirahatnya nanti di Firdaus (syurga) aja, di dunia saatnya mengumpulkan amal kebaikan, apapun itu yang baik, lillah saja” seperti yang dikisahkan Steven Indra di akun instagramnya.

Waktunya ustadz Abu Jibril beristirahat, kenapa demikian?

Ustadz Abu Jibril dikenal sebagai ulama yang pemberani dalam menyampaikan kebenaran agamanya, sudah tak heranlah seperti sejarah pun bercerita bahwa ulama-ulama yang berani menyampaikan kebenaran agamanya bahkan jika berlawananan dengan penguasa tentu ia akan diserang dengan berbagai fitnahan dan tuduhan. Seperti halnya terjadi pada Imam Syafi’i yang dituduh memecah belah masyarakat, Said bin Zubair seorang wali Allah yang dituduh memecah belah masyarakat dan hendak menjatuhkan pemerintah, Abu Yazid Al-Bustami seorang ulama yang dituduh sesat karena ilmu agamanya lebih tinggi dari pemerintah, dan banyak ulama-ulama terdahulu lainnya. Begitu pula yang terjadi dikehidupan ustadz Abu Jibril.

Lantangnya ustadz Abu Jibril menyampaikan kebenaran agamanya, menyampaikan jihad dan syariat Islam serta pengalamannya pada pertengahan 1980-an ia pernah berjihad di Afghanistan menjadi asbab  ia mendapat label radikal, teroris dan berbagai macam tuduhan.

Berikut tuduhan-tuduhan kepada ustadz Abu Jibril :

Tahun 2001, ditangkap oleh aparat keamanan Malaysia ketika akan memberikan ceramah di Shah Alam Selangor, dituduh membahayakan keamanan dalam negeri Malaysia karena aktif dalam kelompok Mujahidin Malaysia yang diduga berhubungan dengan terorisme. Namun kemudian tuduhan itu tidak terbukti, akhirnya ustadz Abu Jibril dibebaskan tahun 2003.

Tahun 2003, selang beberapa hari bebas dari tuduhan terorisme, Abu Jibril ditahan petugas imigrasi dengan tuduhan pemalsuan identitas yang dibuat pada tahun 1999 di imigrasi KBRI untuk Malaysia. Dideportasi dengan paksa ke Indonesia dan ditahan atas tuduhan pemalsuan identitas, meski Abu Jibril bersikukuh tidak ikhlas ditahan sehari pun karena merasa tidak melakukan pemalsuan identitas.

Tahun 2005, bom berdaya ledak kecil meledak di pekarangan rumah Abu Jibril. Untungnya, saat terjadi ledakkan Abu Jibril sedang shalat subuh di masjid sehingga tidak membuat Abu Jibril sebagai tersangka. Meski tidak ditetapkan sebagai tersangka, polisi tetap menggeledah rumah Abu Jibril dan menyita barang- barang berharga miliknya, seperti laptop, handycam, 300-an keping VCD dan dokumen milik Abu Jibril.

Tahun 2009, anak beliau Muhammad Jibril dituduh terlibat pemboman hotel Ritz Carlton dan JW Marriot hingga ditangkap oleh Densus 88, disiksa dan dicabuti janggutnya, atas penyiksaan densus kepada darah dagingnya itu Abu Jibril melapor kepada komnas HAM. Meski tidak terbukti bersalah dipengadilan, anak Abu Jibril tetap divonis 5 tahun penjara, sebuah kesedihan yang dalam bagi Abu Jibril selaku ayah.

Tahun 2009, Jamaah pengajian Abu Jibril di Masjid Al-Munawarah Pamulang di serang sekelompok massa Barisan Muda Betawi dimana dai lokal Abdurahman Assegaf yang pernah berseteru dengan Abu Jibril adalah dewan penasehat kelompok ini. Dalam penyerangan, Abu Jibril dituduh menyebarkan ajaran sesat dan memecah belah umat Islam, melarang qunut dan tahlilan. Perseteruan antara Assegaf dengan Abu Jibril dilatar belakangi kecemburuan Assegaf pada Abu Jibril dimana Abu Jibril yang merupakan orang baru dilingkungan tersebut namun lebih diberi kepercayaan menjadi imam masjid ketimbang Assegaf.

Tahun 2010, saat penembakan Dulmatin salah satu tersangka bom Bali 2002 di Pamulang, Abu Jibril kembali dikaitkan dengan teroris, pengajiannya di Masjid Al-Munawarah dinilai eksklusif dan mengajarkan kekerasan. Karena merasa jengah terus menerus dituduh teroris oleh beberapa pihak, ustadz Abu Jibril pun menyampaikan ketidaknyamanannya pada Mabes Polri, Kapolsek dan Wali Kota Tangerang Selatan agar tidak dikaitkan lagi dengan terorisme.

Tahun 2015, Muhammad Ridwan Abdurrahman salah seorang putra Abu Jibril meninggal dunia di Syuriah, ramai diberitakan bahwa putra Abu Jibril ini bergabung bersama ISIS, kabar ini membenarkan Abu Jibril adalah teroris. Namun hal ini segera dibantah oleh Muhammad Jibril kakak dari Muhammad Ridwan, melalui laman facebooknya Muhammad Jibril menjelaskan bahwa adiknya berangkat ke Syuriah sebagai relawan kemanusiaan untuk meringankan beban saudara muslim di Syuriah, perannya adalah membantu kaum muslimin Syam jika membutuhkan makanan dan kesehatan. Namun, kondisi perang yang semakin berkecamuk, seluruh relawan diizinkan membawa senjata untuk berjaga-jaga dan menjaga diri dari serangan musuh. Ridwan dan teman-temannya pun sudah siap jika dibutuhkan untuk membebaskan kaum muslimin, mereka bergabung bersama Mujahidin Syam. Muhammad Ridwan gugur oleh tembakan tank Bashar Asad dengan kepala terputus dari leherya,  saat turut serta dalam peperangan.

Sungguh kehidupan yang melelahkan bagi keluarga Abu Jibril dengan label teroris dan fitnah yang tak henti-hentinya, namun kesemuanya tak menyurutkan Abu Jibril beserta keluarga untuk tetap lantang menyuarakan syariah Islam. Salah satu prinsip yang pernah dipesankan kepada Steven Indra “Istirahatnya nanti di Firdaus (syurga) aja, di dunia saatnya mengumpulkan amal kebaikan, apapun itu yang baik, lillah saja” benar-benar dijalankan oleh Abu Jibril dan keluarga.

Framing media atas label teroris bagi Abu Jibril dan keluarga rupanya pun memegang andil, sehingga masyarakat yang tidak berusaha mencari informasi penyeimbang menjadi percaya akan label dan segala fitnahan terhadap Abu Jibril dan keluarga. Tidak banyak orang yang mau ambil pusing untuk mencari informasi penyeimbang, lain halnya yang dilakukan oleh Haris Firdaus seorang jurnalis Kompas dan pernah pun di Gatra merasa penasaran dengan label teroris pada Abu Jibril, ia menghadiri taklim Abu Jibril beberapa hari setelah penembakan Dulmatin, dalam blog pribadinya ia menceritakan pengalaman sekitar 2 jam menyimak ceramah Abu Jibril, dia menceritakan Abu Jibril dalam ceramahnya menerangkan pendapat-pendapatnya tentang pelbagai hal, bagaimana ia mengutip ayat Al Quran atau penggalan hadist, dan bagaimana ia menyerang orang-orang yang menuduhnya teroris. Kadang ada humor dalam ceramahnya, meski nada tegas dan marah juga berulangkali muncul.

Abu Jibril selama sepekan memberi ceramah lebih dari 10 kali dengan materi bermacam-macam dan yang perlu ditegaskan semuanya terbuka untuk umum. Katanya lagi pengajian Abu Jibril memang hanya ceramah agama biasa, tidak ada eksklusivitas apapun. Materinya pun hampir-hampir bisa ditemui dalam pengajian-pengajian lain. Benar bahwa Abu selalu memberi bumbu-bumbu jihad dalam ceramahnya tapi lebih dari itu tidak ada. Tak ada anjuran soal kekerasan, tak ada ajakan terorisme. Ini sungguh-sungguh pengajian yang biasa, tulis Haris

Menurut jurnalis ini, suara-suara yang mengatakan bahwa Abu Jibril dan masjid Al Munawwaroh adalah ekslusif dan mengajarkan terorisme benar-benar salah.

Jurnalis Kompas ini pun menceritakan bahwa selama ia ikut taklim Abu Jibril ia mempunyai kesan para jamaah sangat nenghormati Abu Jibril.

Penilaian terhadap Abu Jibril dari kalangan orang dekat yaitu Teguh nama seorang penjaga Masjid Al-Munawarah pada tahun 2005, menurutnya Abu Jibril adalah sosok yang tegas, tidak segan-segan menegur orang yang tidak menjalankan shalat jika waktu shalat telah tiba. Abu Jibril sering nenghabiskan waktunya di masjid untuk menjadi imam dan mengisi pengajian.

Kini, sosok yang tegas dan lantang menyampaikan syariah Islam dan yang bersahabat dengan tuduhan teroris itu telah berpulang, tepatnya di hari Senin, 25 Januari 2021 yang lalu pukul 23.05 WIB. Meninggal di usia 64 tahun karena komplikasi penyakit yang dideritanya selama 2 tahun. Menghembuskan nafas terakhir disamping istri tercinta Fatimah Zahrah yang bersamanya Abu Jibril dikarunia 16 orang anak.

Kepulangan Abu Jibril menghadirkan duka yang dalam bagi orang-orang terdekatnya dan orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya, serta muslim Indonesia yang takdzim terhadap perjuangan dan ketegasannya.

Orang-orang terdekat dan sahabat pun mengungkapkan keindahan akhlaknya. Taufan keponakan Abu Jibril menjelaskan sosok Abu Jibril di mata keluarga  adalah pejuang agama dan muslim yang shalih, ia juga lembut.

Tengku Zulkarnain mantan Sekjen MUI pun menceritakan tentang sosok dan kisah indahnya bersama Abu Jibril. “Kami memang berbeda Madzhab Fiqih. Beliau Madzhab Salafi dan saya bermadzhab Syafi’i. Namun, tidak pernah kami saling menyerang kepahaman dan amal masing masing. Dan, beberapa kali kami tampil ceramah satu panggung bersama, walau isi ceramah masing masing dengan rujukan kitab yang berbeda. Betapa indahnya Islam,” tulis Tengku Zul di akun instagramnya.

“Ceramah beliau tegas dan lugas menurut cara pandang dan pemahaman beliau. Namun, hati beliau lunak bagai kapas…

Saat di Padang Arafah Musim Haji tahun 2017 yang lalu, kami berada dalam satu tenda.  Saat itu saya sedang mengejar khataman al Qur’an menjelang Maghrib di Arafah. Sejak pagi saya sudah tancap gas. Beliau membujuk saya untuk makan siang. Saya katakan saya tidak lapar dan ingin khatam sebelum Maghrib. Lalu beliau mengambilkan makanan dan menyuapi saya. “Nanti ustadz sakit…”katanya.

Ah, demikian penuh perhatiannya beliau pada orang lain…

Selamat jalan Shahabat. Semoga Allah memuliakan anda, ya Syekh. Walau cara kita berjihad dan berjuang berbeda warna, tapi rasa hormat atas pribudi dan welas asih anda terasa agung di hati ini…” lanjutnya.

Demikianlah ustadz Abu Jibril, begitu berat perjalanan hidupnya bersama keluarganya. Fitnahan, penjara dan siksa seperti sudah menjadi sahabat dikehidupannya dan keluarganya. Kini beliau telah beristirahat dari segala kelelahan, dan beliau menyambut istirahat itu dengan senyum akhir, senyum kemenangan.

 

Oleh : Jumi Yanti Sutisna

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X