Kehangatan Penduduk Alor Sambut Kapal Ramadhan ACT

Anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU) yang juga wartawan Jurnalislam.com, Ally M Abduh berkesempatan membersamai Kapal Ramadhan Aksi Cepat Tanggap (ACT) berlayar menuju desa terpencil di Indonesia Timur. Berikut liputannya:

ALOR NTT (Jurnalislam.com) – Setelah menempuh perjalanan hampir 40 jam dari Pelabuhan Labuan Bajo, Kapal Ramadhan ACT akhirnya merapat di Pelabuhan Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (2/6/2018).

Puluhan truk telah menunggu di dermaga untuk mengangkut 3.871 paket bantuan yang akan disalurkan ke 8 kecamatan yang dibagi di tiga titik implementasi.

Lokasi pertama di Pulau Buaya. Sebanyak 2.413 paket bantuan akan disalurkan di 17 desa yang terdapat di lokasi ini. Lokasi kedua di Pulau Antar. Disini, 1.195 paket akan disalurkan ke 15 desa di 5 kecamatan. Terakhir di Pulau Pura dengan 263 paket untuk 4 desa.

Ahad (3/6/2018) tim berangkat menuju daerah implementasi di kampung Timoabang, Desa Marru, Pulau Pura, Kabupaten Alor. Butuh waktu 30 menit menggunakan perahu kecil bermuatan 10 orang untuk tiba di desa ini dari pelabuhan Dalolong. Sebuah pelabuhan kecil di daerah Kalabahi.

Setibanya di pulau berpenduduk minoritas muslim itu, tim relawan disambut hangat penduduk setempat. Dari mulai anak-anak, tua muda semua bergotong royong memikul paket bantuan yang dikumpulkan di ruang kelas Madrasah Islam Swasta (MIS) Daruasalam Timoabang, satu-satunya sekolah Islam setingkat SD di pulau itu.

“Alhamdulillah kita senang dan bersyukur dengan adanya bantuan ini, baru pertama kali ini ada bantuan semacam ini. Kami sangat-sangat berterimakasih,” kata sesepuh Kampung Timoabang, Haji Lewa Iman kepada Islamic News Agency (INA), kantor berita yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu (JITU).

Dia berharap bantuan tersebut dilakukan secara kontinyu. Haji Lewa mengaku sangat mengapresiasi upaya ACT di bulan suci Ramadhan ini untuk menyalurkan donasi ke masyarakat muslim khususnya di daerah-daerah terpencil.

“Mudah-mudahan kegiatan ini dicatat oleh Allah Subhanahu wa taala sebagai amal shaleh, apalagi ini kan bulan Ramadhan, bulan berkah,” tuturnya.

Selain memberikan bantuan bahan pokok, tim Kapal Ramdhan ACT juga mebuka posko layanan kesehatan gratis bagi warga muslim di Pulau Pura, Pulau Buaya dan Pulau Antar.

Seperti diungkapkan Dr Rizal Alimin dari Global Medical Action (GMA) yang juga ketum Tim Dokter Kapal Ramadhan, penduduk di daerah implementasi rata-rata mengeluhkan soal penyakit kulit.

“Seperti di daerah lainnya juga, daerah pinggiran pantai akan sering bersentuhan dengan penyakit kulit, batuk pilek, dan kita akan mempersiapkan semuanya,” ujar dr Rizal.

Kapal Ramadhan adalah produk filantropi program ramadhan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT). Program digulirkan untuk menggugah kepedulian sosial masyarakat di momen istimewa tahunan ini, sebagai perhatian atas problem akut kemiskinan di sebagian wilayah Indonesia.

Reporter: Ally Muhammad Abduh

Hidup Melarat ala Perumus Pancasila

Oleh : Rizki Lesus*

*Penulis buku Perjuangan yang Dilupakan, Founder Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

Rumah itu masih berstatus sewa, ketika sang penghuninya, Haji Agus Salim wafat sepenggal November 1954. Salah satu dari 9 perumus Pancasila, anggota dewan Volksraad, diplomat kesohor, Menteri Luar Negeri era revolusi itu wafat dengan – masih – bersatus sebagai ‘kontraktor’ alias pengontrak rumah.

Baru setelah itu, beberapa tahun kemudian, anak-anaknya patungan membeli rumah kontrakannya yang bertempat di Jalan Gereja Theresia (kini Jl. Agus Salim no 72) Jakarta.

Begitu kesederhanaan Haji Agus Salim dikisahkan sang cucu, Agustanzil Sjahroezah dalam Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik (2013: hal.114). Entah berapa kali, tokoh Partai Islam terbesar saat itu hidup nomaden, berpindah-pindah dari satu gang ke gang lainnya di berbagai kota.

Sangat jarang kita dengar, petinggi partai di negeri ini masih mengontrak rumah, pinda-pindah bahkan hampir tiap bulan. Padahal, mungkin di luar sana, seorang ayah tidur dengan anaknya di atas gerobak beratap langit.

Di dalam gang sempit itu, berkelok dari jalan utama, menyelusup gang pada perkampungan di sudut kota, di tempat becek, di kawasan kumuh, di sanalah Agus Salim dan istrinya, Zainatun Nahar mengisi hari-hari mereka.

Di Jakarta, sejoli ini pernah menikmati masa-masa indah di daerah Tanah Abang, Karet, Petamburan, Jatinegara, di gang-gang Kernolong, Tuapekong, gang Listrik dan masih banyak lagi.

Khusus gang listrik, menjadi kenangan tersendiri bagi sejoli ini. Di gang Listrik, justru Haji Agus Salim dan Zainatun Nahar hidup tanpa listrik gara-gara tak sanggup membayar iuran listrik. Anak keempat Salim, Adek, mengingatnya dulu ia harus membersihkan bola lampu setiap sore. (Kustiniyati Mochtar: 1984).

“Rumah kampung dengan meja kursi sangat sederhana,” tambah muridnya yang juga diplomat, Mohammad Roem dalam Bunga Rampai dari Sejarah, mengenang. Pernah pula, kasur gulung, ruang makan, dapur, dan ruang tamu kontrakan Haji Agus Salim bersatu dalam satu ruangan besar.

Jangan tanya ada atau tidak uang belanja, atau sembako di dalam lemari. Nasi goreng kecap mentega menjadi favorit ketika keluarga ini sedang tak ada makanan.

Tak heran, dalam Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik, ketua delegasi Belanda dalam perundingan Linggarjati, Willem Schermerhorn bilang,” Ia hanya mempunyai satu kelemahan : selama hidupnya melarat!”

Frasa selama hidupnya melarat ini artinya sangat jelas. Sebelum, saat, hingga pasca menjabat sebagai Menteri, atau jabatan lainnya, ia tetap melarat, dan tetap mengontrak rumah hingga akhir hayatnya.

Bisa dibayangkan kini, ada seorang menteri yang tidak punya rumah? Anggota Dewan yang kekurangan bahan makanan? Seorang yang menolak menjadi ketua partai besar ? Seorang diplomat kelas dunia yang tidak bisa bayar listrik?

Kisah kesederhanaan – atau kemelaratan – ini tak hanya dirasakan Haji Agus Salim. Perumus Pancasila lainnya, Mohammad Hata pun mengalami masa-masa senja yang tak jauh berbeda.

Ramadhan KH dalam Bang Ali, Demi Jakarta 1966 – 1967 mengisahkan bagaimana Ali Sadikin, gubernur legendaris Jakarta ini terenyuh melihat kondisi Bung Hatta yang tak mampu membayar iuran air hingga pajak.

“Begitu sederhananya hidup pemimpin kita pada waktu itu,” kata Bang Ali terharu. Bahkan, hingga akhir hayatnya, keinginan bung Hatta untuk membeli sepatu bally tak juga terpenuhi.

Wakil Presiden Indonesia pertama ini menabung, sampai-sampai beliau menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya. Namun apadaya, tabungan beliau tak cukup karena kebutuhan rumah tangganya. Sepatu bally tinggallah kenangan.

Perumus Pancasila lainnya, KH Wahid Hasyim merupakan sosok yang sangat bersahaja. Saat orang-orang bertanya ketika dirinya tak lagi menjabat sebagai menteri, ia menjawab:

“Tak usah kecewa! Saya toh bisa duduk di rumah. Saya mempunyai banyak kursi dan bangku panjang, tinggal pilih saja,” katanya mengundang gelak tawa orang –orang di sekitarnya. (Saifudin Zuhri : 2013).

Di saat masyarakat hidup sulit, katanya, tak elok jika para pemimpinnya hidup dengan mewah dan bersenang-senang. Karenanya, ia turut merasakan kesulitan serupa. Suatu kebiasaannya adalah berpuasa sunnah, bahkan dalam kondisi sesibuk apapun di mana pun.

Saifudin Zuhri mencatat, saat mereka menginap di suatu hotel, ia lupa menyiapkan sahur. Di atas meja ada sebutir telur rebus dari sisa santapan sahur kemarin dan segelas teh bagian Saifuddin Zuhri ketika sore.

“Dengan sebutir telur dan segelas teh itulah KH Wahid Hasyim bersahur,” kenang Saifudin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren. Sambil menyelesaikan sebutir telur yang satu-satunya untuk sahur itu KH Wahid Hasyim mengingatkan agar jangan sampai hidup menampakkan kemewahan di saat kondisi masyarakat sedang sulit.

”Kita berlapar-lapar supaya tidak melupakan nasib kaum lapar,”pesannya.

Tokoh perumus Pancasila lainnya, Prof. KH Abdul Kahar Muzakkir, tokoh Muhammadiyah yang pernah juga menjadi anggota Dewan Konstituante bahkan hingga pengujung senjanya, masih tinggal di rumah warisan ayahnya, Haji Muzakkir.

Mitsuo Nakamura mencatat bahwa kendaraan Abdul Kahar Muzakkir hanyalah sebuah skuter bekas pemberian mahasiswanya, yang sering kali mogok. Sebagai alternatif, ia kadang menggenjot sepeda, naik becak atau andong menempuh perjalanan sepanjang lima atau enam kilometer dari rumahnya mengajar di UII atau ke kantor PB Muhammadiyah di Yogyakarta. (Mitsuo Nakamura: 1996).

Ironi memang, tapi itulah mereka, para pendiri bangsa ini. Pantas saja, Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) – DPR kini – pertama, Kasman Singodimedjo melihat kondisi gurunya, Haji Agus Salim, dengan lirih berkata, “Leiden is lijden,” memimpin itu menderita!

Memang, mereka bukanlah Pembina, pengarah, atau apapun jabatan yang melekat terkait dasar negara ini. Namun mereka menyusun pondasi bangsa ini dengan penuh ketulusan, mungkin tanpa berpikir-pikir apakah anggaran sekian bisakah kami membina masyarakat?

Mereka membina nilai-nilai kebangsaan dengan keteladanan. Mungkin saja, balasan materi yang diterima saat itu minim, atau bahkan harus merogoh kocek pribadi, “Leiden is lijden,” memimpin itu menderita!

Mereka yang memilih jalan becek dan sunyi, berjalan kaki dengan tongkatnya dibanding gemerlap karpet merah dan mobil –mobil dan rumah mewah, gemerlap jantung kota lainnya.

Kemiskinan tak membuat mereka berhenti berbuat. Kesungguhan mengalahkan keber-ada-an, dan sejarah telah mencatatnya.

Kita tentu rindu sosok seperti mereka, bukan tentang melaratnya mereka, tapi tentang ruang kesederhanaan, kepekaan nurani, yang masa kini mungkin semakin sulit kita ditemukan.

 

 

 

 

 

Ini 3 Tahapan Mendidik Anak Menurut Rasulullah

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)- Penulis buku serial Akhir Zaman, Simo Boyolali, ustaz Abu Fatiah Al Adnani mengatakan, dalam Islam, ada tiga fase perkembangan anak bagi orang tua yang ingin membesarkan anak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah.

 

“Yang pertama adalah anak usia 1 sampai 7 tahun, di fase pertama ini kita harus menjadikan anak kita sebagai raja, jadi kita harus melayani dia, mau nyarikan susu, makanan, mainan, apapun itu, kita harus menganggapnya sebagai raja,” katanya saat memberi materi dalam kajian Tabligh Akbar bertajuk ‘Pemuda Akhir Zaman’ di Masjid Istiqomah, Krajan, Mojolaban, Sukoharjo, Sabtu, (2/5/2018).

 

Fase yang kedua, kata ustaz Abu Fatiah, adalah anak di usia 8 sampai 14 tahun. Saat usia seperti ini, anak sudah harus diperlakukan seperti tawanan.

 

“Kita sudah harus tegas kepada anak, dalam fase ini kita harus benar benar menjaganya, jadi anak harus taat kepada komandannya yaitu ayahnya, dan diusia ini kita sudah mengajarkan anak shalat dan kata Rosululloh boleh dipukul saat usianya 10 tahun,” papar ustaz Abu Fatiah.

 

Lebih lanjut, menurut ustaz Abu Fatiah adalah fase dimana orang tua menjadikan anaknya sebagai seorang sahabat, yakni di usia 15 sampai 21 tahun.

 

“Nah di fase ini kita udah nggak bisa marahin dia, karena kalau kita marahin dia akan lawan, kita pukul anak menangkis, jadi kita harus banyak bermusywarah dengannya, sebagaimana kita menggangapnya sebagai seorang sahabat,” imbuhnya.

 

Terakhir ustaz Fatiah berpesan bahwa generasi muda mempunyai peran yang sangat besar dalam dakwah Rosululloh, sebab, katanya, selama 23 tahun berdakwah, rosululloh dikelilingi oleh para pemuda hingga akhirnya ratusan ribu umat manusia memeluk agama Islam

Serunya Pesantren Ramadhan di SMA Muhammadiyah PK Kottabarat

SOLO (Jurnalislam.com)– menghidupkan kegiatan bulan suci Ramadhan 1439 H, Sekolah Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta menggelar pesantren kilat selama 3 hari dengan tajuk ‘Restorasi Rukhul Iklhas Jihad Menuju Generasi Ulul Albab’ dan diikuti 82 siswa dari kelas X dan XI.

“Pesantren Ramadhan yang diselenggarakan selama 3 hari 2 malam ini kami isi dengan berbagai kegiatan keagamaan yang harapannya setelah mengikuti pesantren siswa termotivasi untuk semakin meningkatkan kesalehan individu dan kesalehan sosial,” terang Ketua Panitia Pesantren Ramadhan, Arif Rahman Prasetyo.

Kegiatan yang berlangsung dari 30 Mei sampai 1 Juli 2018 ini, diawali dengan acara Festival Takjil. Para peserta didik ditantang untuk menyiapkan takjil sekreatif mungkin ala remaja SMA masa kini. dan Salah satu kreasi yang sedang viral di media sosial adalah es Kepal Nutrisari menjadi sajian buka puasa yang cukup menyegarkan dan menggugah selera.

Imroatun Miftahul Jannah, S.S., salah satu juri Festival Takjil mengungkapkan bahwa hasil karya para peserta sangat kreatif, baik dari segi presentasi maupun rasa.
Acara dilanjutkan dengan kajian Remaja dan Pergaulan oleh ustadz Abu Bakri, M.Ag. yang berlangsung selama 2 jam. Para peserta mengikuti acara dengan antusias dan khidmat.

Materi yang disampaikan yaitu mengenai pergaulan remaja di era millenial dan bagaimana menangkal hal-hal yang dapat menurunkan akidah seorang remaja. Selain itu, ustadz Abu Bakri juga memberikan motivasi kepada seluruh peserta untuk menjadi remaja yang unggul berprestasi dalam berbagai segi kehidupan.

Hari kedua pesantren diisi dengan kegiatan tahsin alquran kemudian dilanjutkan dengan sharing bersama Nasyiatul Aisyah (NA) untuk kelompok putri dan sharing bersama Pemuda Muhammadiyah bagi kelompok putra.

Sore hari menjelang buka puasa, siswa disibukkan dengan kegiatan yang bertema “Srawung Warga” yaitu kegiatan baksos yang dilakukan oleh siswa kepada warga yang membutuhkan di sekitar lingkungan sekolah. Melalui kegiatan ini diharapkan mampu memupuk jiwa sosial siswa dan meningkatkan kepedulian antar sesama.

Ranu Diva, seorang siswi SMA PK mengatakan bahwa ia senang bisa terjun langsung membantu sesama dalam kegiatan baksos ini dengan cara memberikan sembako kepada mereka yang membutuhkan.

Sebagai acara puncak dari pesantren Ramadhan SMA Muhammadiyah PK yang dinahkodai Hendro Susilo, S.Pd itu menghadirkan narasumber ustadzah Dewi Purnamawati sebagai pembicara dalam kajian memantapkan aqidah keislaman.

ZakatApp, Aplikasi Keren Permudah Berzakat hingga Sedekah

BANDUNG (Jurnalislam.com)–Beragamnya aplikasi yang disediakan Google Play Store dan iOS, menandakan bahwa pengguna gadget di seluruh dunia bertambah pesat.

Karenanya, perusahaan yang bergerak di bidang digital berlomba menyajikan bermacam aplikasi untuk menarik pengguna gadget, mulai dari edit foto, karaoke, sticky note, game, baca Al Quran digital, novel digital, hingga menonton film.

Tak mau ketinggalan, pun kesempatan ini dimanfaatkan lembaga filantropi Sinergi Foundation yang berkecimpung dalam mengelola zakat, infak, sedekah, dan wakaf produktif, untuk mengembangkan potensi digitalnya ke arah yang lebih modern.

Hanya tinggal satu klik saja, kapan pun dan dimana pun, kaum muslim dapat berdonasi dalam kondisi apa pun.

Sinergi Foundation turut berinovasi dengan meluncurkan aplikasi ZakatApp. Aplikasi ini dikembangkan sebagai upaya menyajikan kemudahan layanan berbagi khususnya zakat, Infak-sedekah dan dana filantropi Islam lainnya.

Aplikasi yang sudah dapat diunduh di Play Store ini memiliki sejumlah fitur, antara lain: program Sinergi Foundation (SF), kalkulator zakat, rekening zakat, Klik Donasi, dan info penyaluran donasi.

Hanya dengan mengklik https://play.google.com/store/apps/details?id=com.sinergiapp&hl=in aplikasi ini sudah dapat diinstal.

“Tak hanya memudahkan masyarakat dalam berdonasi, aplikasi ini pun berupaya mengedukasi muzakki dan segenap insan peduli agar mampu menghitung zakatnya sendiri,” ungkap CEO Sinergi Foundation, Ima Rachmalia kepada Jurnalislam.com baru-baru ini.

 

Menurutnya, kehadiran ZakatApp dinilai sangat penting, seiring dengan bertumbuhnya minat ber-ZISWAF masyarakat muslim dari kalangan middle class. Sehingga, masyarakat membutuhkan wadah yang memudahkan mereka berbagi pada sesama.

“Aplikasi ini mudah, lantaran tinggal mengunduh aplikasi, dan masyarakat bisa berbagi kapanpun di manapun. Juga menenangkan, karena disalurkan melalui lembaga pengelola yang insya Allah terpercaya,” lanjutnya.

Ima menambahkan, apalagi di bulan Ramadhan ini, keberadaan ZakatApp ini diharapkan akan memudahkan para muzakki menunaikan zakatnya dengan fitur seperti hitung zakat hingga tunaikan zakat mal.

Selain itu, pelaporan untuk donatur dilakukan dalam beragam kreativitas program pemberdayaan yang inspiratif di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi dan pembangunan sosial SF hadir menyentuh langsung masyarakat lapisan paling bawah di negeri ini.

Program-program tersebut antara lain: Rumah Sakit Wakaf Ibu dan Anak (RSWIA) RBC, Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC), Lumbung Desa (LD), Pesantren Al Qur’an di Lembang, Kuttab Al Fatih Sinergi Foundation, Sinergi Pelayanan Masyarakat, dan beberapa program lainnya.

Fadli Zon Tanggapi ‘Jika di Jateng Radar Bogor Bisa Rata dengan Tanah’

BOGOR (Jurnalislam.com)– Wakil DPR RI, Fadli Zon menyebut pernyataan Ketua DPD PDIP Jateng, Bambang Wuryanto “Kalau pemberitaan kayak begitu, Radar Bogor memberitakan di Jawa Tengah, saya khawatir itu kantornya rata dengan tanah,” merupakan pernyataan yang keliru.

“Ungkapan yang dikatakannya terlalu keras,” katanya saat kunjungan ke Graha Pena, Jalan Abdullah Bin Nuh, Kecamatan Bogor, Kota Bogor, Jabar, Jumat (01/06/2018).

Menurutnya, sebagai pimpinan parpol harusnya bisa menjaga diri dalam berkomentar. Karena politik adalah wadah dan pertarungannya di pemilihan umum bukan pertarungan fisik.

“Kalau pertarungan fisik tidak usah ada pemilihan umum. Pertarungan politik, pertarungan di pemilihan umum melalui kehendak rakyat,” pungkasnya.

Ketua DPP Gerindra menilai pernyataan Bambang hanya menyebabkan pers tidak menjalankan fungsi dan tugasnnya.

Seperti diketahui, kantor Radar Bogor diseruduk massa PDIP pada Rabu lalu akibat pemberitaan yang memajang Ketum PDIP, Megawati Soekarno Putri dengan judul ‘Ongkang-ongkang Kaki Dapat Rp112 Juta.

reporter: gio

Fadli Zon Desak Aparat Lakukan Investigasi Persekusi Radar Bogor

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon mendesak aparat keamanan melakukan investigasi atas persekusi yang dilakukan massa Partai PDIP pada Rabu lalu.

“Aparat keamanan harus segera melakukan penyelidikan. Tidak boleh dibiarkan ada oknum merusak lembaga pers,” katanya kepada Radar Bogor di Gedung Graha Pena, Jalan Abdullah Bin Nuh, Kecamatan Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (01/06/2018).

Menurutnya, penyerangan yang menimpa Radar Bogor adalah sebuah persekusi. Karena tidak boleh ada penggeredukan terhadap kantor media.

“Kejadian ini bukan yang pertama kali. Tahun 2014 juga menimpa Tv One,” tambahnya.

Ketua DPP Partai Gerindra menilai, kalau politik Indonesia seperti itu, sangat berbahaya. Hanya melahirkan kekacauan. Padahal Indonesia selalu diagungkan sebagai negara demokrasi, negara beradab dan pancasila.

“Tetapi cara yang dilakukan terhadap Radar Bogor tidak mencerminkan pancasilais,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Kantor Radar Bogor diseruduk massa PDIP pada Rabu sore, atas pemberitaan yang memajang foto Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarno Putri dengan judul ‘Ongkang-ongkang Kaki Dapat Rp112 Juta’.

reporter : Gio

Sambangi Radar Bogor, Fadli Zon : Tidak Boleh Ada Intimidasi!

BOGOR ( Jurnalislam.com)– Wakil Ketua DPR, Fadli Zon menyatakan prihatin atas penyerangan yang dilakukan oknum PDIP pada Rabu lalu.

Penyerangan dilakukan atas pemberitaan di koran Radar Bogor yang memajang foto Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri dengan judul’Ongkang-ongkang Kaki Dapat Rp 112 Juta’.

Menurutnya bila tidak suka dengan sebuah pemberitaan, ada mekanisme. Bukan langsung digeruduk.

“Kesalahannya bisa dikoreksi melalui undang-undang pers dengan meminta bantuan Dewan Pers,” katanya dalam kunjungannya ke Kantor Radar Bogor, Jalan Abdullah Bin Nuh, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (01/06/2018).

Pasalnya, pers adalah pilar keempat demokrasi. Kalau tidak ada pers, tambahnya, tidak akan ada demokrasi saat ini di Indonesia. Fadli menjelaskan di negara-negara yang demokrasinya maju, pers bebas memberitakan.

“Tidak ada intimidasi seperti di Indonesia.T idak boleh pers diancam dan diteror,” pungkasnya.

Fadli menilai, kalau parpol seperti itu, itu sangat berbahaya. Parpol itu beradu dalam pemilihan umum, bukan adu otot seperti ini.

Ketua DPP Partai Gerindra ini pun berharap kejadian seperti Tv One tahun 2014 lalu dan yang menimpa Radar Bogor Rabu lalu tidak terjadi lagi.

reporter: gio

Ingatkan Bahaya Miras, Warga Sukoharjo Malah Dianiaya Pria Berseragam TNI

SOLO (Jurnalislam.com)- Seorang warga Gedangan, Grogol, Sukoharjo berinisial ES (35) dianiaya oleh diduga orang yang berpakaian TNI di sebuah warung yang berada di belakang Solo Grand Mall, Kelurahan Penumping, Solo, Minggu, (27/5/2018) malam.

Kejadian yang menyebabkan, ES mengalami lebam dibagian mulut, bawah mata tergores dan dijahit dibagian kepala ini bermula ketika ES dan temannya mendapatkan laporan bahwa warung tersebut digunakan minum miras.

Kepada Jurnalislam.com, kuasa hukum ES, Hery Dwi Utomo menceritakan kronologi penganiayaan tersebut. Awalnya, ES beserta 11 temannya kemudian mendatangi warung tersebut mengunakan sepeda motor.

Sesampainya di warung tersebut, 5 orang turun dan mendatangi warung tersebut kemudian memperkenalkan diri kepada pengunjung dan menyampaikan maksud tujuan kedatangannya untuk mengingatkan bahaya miras, terlebih di bulan ramadhan.

Usai memperkenalkan diri, mereka kemudian mengecek minuman yang berada di warung tersebut dengan cara menciuminya dan menemukan satu botol miras.

Setelah itu mereka balik dan menyampaikan hasil temuan tersebut kepada ES. Lalu ES pun datang ke warung tersebut untuk memastikan keberadaan miras itu.

ES pun kemudian menciumi botol yang diduga berisi miras tersebut, belum sempat selesai, lalu tiba tiba ia diserang orang yang berpakaian TNI yang diduga dalam keadaan mabuk hingga menyebabkan ES pingsan dan mengalami sejumlah luka di bagian wajah dan kepalanya.

Untuk itu, dirinya bersama Tim Advokasi Anti Pekat Solo (TAAPS) melaporkan oknum yang diduga anggota TNI tersebut ke Detasemen Polisi Militer (Denpom) IV/4 Surakarta, Rabu, (30/5/2018) siang.

Kasus Oknum Aparat Sebar Hoaks Fitnah Ormas Islam Dilaporkan ke Polisi

SOLO (Jurnalislam.com)- Humas Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) Endro Sudarsono mendatangi Polresta Surakarta, Kamis, (31/5/2018) melaporkan hoaks.

Didampingi kuasa hukumnya Heri Dwi Utomo dan Ketua LUIS ustaz Edi Lukito, Endro melaporkan kasus pesan hoaks yang memfitnah dirinya dan sejumlah tokoh umat Islam Solo yang beredar dalam Whatshapp beberapa waktu yang lalu.

Endro dan Heri diterima oleh Resa Budi, penyidik Adi W dan A Wahyudi. Dalam pengaduan yang berjalan sekitar satu jam itu, Resa Budi menjelaskan, bahwa akan menerima laporan dari Endro dan memprosesnya kemudian akan disampaikan ke Kapolres Kombes Pol Ribut Hari Wibowo.

“Laporan ini kami terima, nanti kita akan sampaikan ke pak Kapolres untuk nunggu proses selanjutnya, dan kalau surat perintah, kami akan memanggil pak Endro untuk dilakukan BAP,” katanya kepada Jurnalislam.com.

Menanggapi hal itu, Endro mengatakan bahwa sebenarnya dirinya ingin menyelesaikan permasalahan ini dengan cara damai, namun, katanya, Kanit Intel Pasar Kliwon Edi Purwanto dan Babinkamtibmas Hendriawan terkesan menutup-nutupi dan melindungi pelaku penyebar Hoaks tersebut membuatnya harus menempuh jalur hukum.

Oknum Aparat Diduga Sebar Hoaks Fitnah Ormas Islam Solo

“Sebenarnya kemarin itu saya cuma ingin Pak Edi dan pak Hendriawan untuk menunjukkan siapa yang menulis pesan tersebut, lalu ingin dia untuk mengakui kesalahannya dan bikin surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatannya lagi,” ujar Endro.

Sementara itu, Hari meminta kepada aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kasus yang membuat geger umat Islam tersebut, sebab, katanya, pesan hoaks yang muncul sejak senin itu berisikan pesan provokatif yang bisa memicu konflik diantara umat Islam dan aparat TNI.

“Karena ini berbahaya sekali, jika pesan itu sampai ke TNI dan dibaca, maka TNI akan siaga, umat Islam juga akan siaga dan akan menimbulkan konflik, ini tidak sesuai dengan tugas Babinkamtibnas yang seharusnya membuat suasana tenang di masyarakat, ini malah bisa membikin Chaos, maka kita minta agar diberi sanksi sesuai hukum yang berlaku,” ujarnya.