Kuil Syiah di Afghanistan Dibom

AFGHANISTAN (Jurnlaislam.com) – Sebuah Kuil Syiah di ibukota Afghanistan Kabul ditargetkan pada hari Kamis dalam “serangan teroris” menurut Kementerian Dalam Negeri, lansir Al Arabiya, Kamis (15/6/2017).

Juru bicara Kementerian Najib Danesh mengatakan bahwa polisi telah dikirim ke tempat kejadian serangan martir dan menyebutkan ada korban jiwa.

Serangan tersebut terjadi saat masjid-masjid di sekitar kota ramai dikunjungi jamaah yang melakukan sholat tarawih sebagai bagian dari ibadah bulan suci Ramadhan.

Kuil Al Zahra digunakan oleh minoritas Syiah Kabul, yang pernah menjadi sasaran pemboman martir di masa lalu, termasuk serangan terhadap sebuah kuil Syiah pada bulan November yang menewaskan lebih dari 30 orang.

Kelompok IS mengklaim atas serangan tersebut, serta serangan bulan Juli sebelumnya yang menewaskan lebih dari 80 orang pada demonstrasi yang sebagian besar warga Syiah.

Ikhwanul Muslimin Serukan Seluruh Warga Mesir Turun ke Jalan pada Hari Jumat

MESIR (Jurnalislam.com) – Ikhwanul Muslimin Mesir dan mantan kandidat presiden sayap kiri mendesak seluruh warga Mesir untuk turun ke jalan pada hari ini Jumat (16/6/2017) untuk memprotes persetujuan parlemen mengenai sebuah kesepakatan demarkasi perbatasan kontroversial yang akan memindahkan kedaulatan atas dua pulau Laut Merah dari Mesir ke Arab Saudi.

“Rakyat Mesir harus berdiri bersatu melawan kesepakatan ini,” Hamdeen Sabbahi, yang tidak berhasil memenangkan pemilihan presiden pasca-kudeta pertama di Mesir pada tahun 2014, mengumumkan pada sebuah konferensi pers Rabu malam di markas besar Partai Demokratik sayap kiri Mesir di Kairo, lansir World Bulletin Kamis (15/6/2017).

Dia meminta anggota masyarakat untuk mengadakan demonstrasi di lapangan umum di seluruh negeri setelah shalat Jumat untuk “menyatakan penolakan terhadap rezim Presiden Abdel-Fattah al-Sisi saat ini.”

Setelah konferensi pers hari Rabu, Sabbahi memimpin demonstrasi – diikuti oleh puluhan wartawan dan aktivis – dekat Dataran Talaat Harb Kairo (terletak di dekat Alun-alun Tahrir yang terkenal di Mesir) yang dengan cepat dibubarkan oleh pasukan keamanan.

Tak lama kemudian, kelompok Ikhwanul Muslimin yang dilarang pemerintah juga mengeluarkan seruan untuk “aksi kemarahan Jumat” terhadap perjanjian demarkasi perbatasan maritim.

“Kami menyerukan gelombang baru demonstrasi melawan al-Sisi dan rezimnya,” menurut sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh kelompok tersebut.

Ketika menjabat sebagai menteri pertahanan pada tahun 2012, al-Sisi memimpin sebuah kudeta militer yang kemudian menggulingkan dan memenjarakan Muhammad Mursi – presiden terpilih pertama yang dipilih secara bebas di Mesir yang juga pemimpin Ikhwanul Muslimin.

Setelah kudeta tersebut, Ikhwanul Muslimin secara resmi dilarang dan ditetapkan sebagai “kelompok teroris” oleh rezim pasca-kudeta Mesir.

Pada hari Rabu, parlemen Mesir menyetujui perjanjian demarkasi perbatasan, yang pada awalnya ditandatangani tahun lalu antara Kairo dan Riyadh.

Jika diimplementasikan, kesepakatan tersebut akan secara efektif memindahkan kedaulatan atas dua pulau Laut Merah yang tak berpenghuni – Tiran dan Sanafir – dari Mesir ke Arab Saudi.

Langkah tersebut dilakukan meski ada oposisi dari kelompok rakyat populer dan keputusan Pengadilan Tinggi Administrasi Mesir yang menolak usulan transfer ke Arab Saudi bulan Januari.

Pada bulan April tahun lalu, Kairo pertama kali mengumumkan rencana untuk memindahkan kedua pulau tersebut, yang terletak di mulut Teluk Aqaba antara Arab Saudi dan Semenanjung Sinai Mesir, ke kepemilikan Saudi.

Berita tentang kesepakatan itu memicu sebuah demonstrasi publik di tengah tuduhan bahwa al-Sisi “menjual” wilayah Mesir ke Arab Saudi yang kaya minyak, yang sejak kudeta tahun 2013 telah memberikan miliaran dolar ke Mesir untuk menopang ekonomi negara yang sedang sakit tersebut.

Ledakan Hantam Taman Kanak-kanak di China, 7 Tewas dan 66 Terluka

CHINA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya tujuh orang tewas dan 66 lainnya luka-luka dalam sebuah ledakan di sebuah taman kanak-kanak di China timur, media pemerintah melaporkan.

Ledakan itu terjadi saat anak-anak dijemput dari sekolah di kota Xuzhou di provinsi Jiangsu pada hari Kamis (15/6/2017), kata polisi, lansir Aljazeera.

Tidak jelas apakah ledakan itu adalah sebuah kecelakaan atau sebuahn serangan yang disengaja.

Surat kabar resmi Global Times melaporkan di situsnya bahwa insiden tersebut disebabkan oleh ledakan tabung gas di sebuah warung makanan pinggir jalan, dengan mengutip seorang saksi yang diidentifikasi hanya dengan nama keluarga Shi.

Rekaman kamera ponsel yang diposkan di situs resmi surat kabar People’s Daily menunjukkan lebih dari selusin orang tergeletak tak bergerak di depan gerbang sekolah.

Kekuatan ledakan itu sampai merobek pakaian beberapa orang yang terbaring di tanah di samping genangan darah.

Seorang wanita terlihat memeluk anaknya, yang sedang menangis. Video tersebut juga menunjukkan ambulans tiba dan petugas medis mendorong orang ke ruang gawat darurat.

Pemerintah Xuzhou mengatakan dua orang tewas di tempat kejadian dan lima lainnya meninggal di sebuah rumah sakit. Sedikitnya empat lainnya terluka parah, katanya.

Panggilan telepon di taman kanak-kanak dan rumah sakit setempat tidak terjawab, kantor berita AP melaporkan.

Seorang pejabat di kantor polisi di wilayah Fengxian mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa ledakan tersebut sedang diselidiki.

Ini adalah tragedi terakhir yang menyerang sebuah taman kanak-kanak di China dalam beberapa pekan terakhir.

Sebuah bus sekolah yang dipenuhi murid-murid taman kanak-kanak meledak dan terbakar di dalam sebuah terowongan di provinsi Shandong timur pada tanggal 9 Mei, menewaskan 11 anak, seorang guru dan sopir.

Pejabat kemudian mengatakan bahwa api sengaja diatur oleh pengemudi, yang marah karena kehilangan upah lembur.

Pada tahun 2010, hampir 20 anak terbunuh dalam serangan di sekolah, mendorong tanggapan dari pejabat tinggi pemerintah dan menyebabkan banyak sekolah meningkatkan keamanan dengan menempatkan penjaga dan memasang gerbang serta penghalang lainnya. Tahun lalu, seorang penyerang dengan pisau terhunus melukai tujuh siswa di luar sebuah sekolah dasar di kota utara.

China menerapkan kendali ketat atas senjata api dan sebagian besar serangan dilakukan dengan menggunakan pisau, kapak atau bahan peledak buatan sendiri.

Ulama-ulama Terkemuka Turki Dukung Yusuf al Qaradawi

TURKI (Jurnalislam.com) – Ulama-ulama Muslim terkemuka dari Turki menerbitkan sebuah pernyataan pada hari Kamis, untuk mendukung ketua Persatuan Cendikiawan Muslim Internasional Qatar Yusuf al-Qaradawi, World Bulletin melaporkan Kamis (15/6/2017).

“Kami menyatakan bahwa kami bersama negara Qatar dan para ilmuwan seperti Qaradawi, yang menentang imperialisme. Kami menuntut agar tindakan irasional terhadap mereka berakhir,” kata pernyataan tersebut.

Ulama-ulama ini menggambarkan perlakuan yang diterima Qaradawi, Ikhwanul Muslimin dan Hamas sebagai tidak adil.

“Dengan menuduh dua gerakan terhormat ini [Ikhwanul Muslimin dan Hamas] sebagai teroris, dan menganggap semua orang yang dekat dengan mereka sebagai musuh, sama saja dengan menghancurkan semua orang yang memikirkan umat dan menentang imperialisme,” kata pernyataan tersebut.

“Yusuf al-Qaradawi dan ilmuwan lainnya seperti dia adalah kehormatan dan nurani umat ini,” pernyataan tersebut menambahkan.

Juga dinyatakan bahwa kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Arab Saudi menjadi alasan blokade melawan Qatar.

Penandatangan pernyataan tersebut termasuk ulama terkenal Ahmet Agirakca, Yusuf Ziya Kavakci, Ramazan Kayan, Nureddin Yildiz, Ahmet Tasgetiren dan Ali Riza Demircan.

Pada tanggal 9 Juni, sebuah pernyataan bersama oleh Arab Saudi, Bahrain, Mesir dan UAE menuduh 59 individu dan 12 organisasi amal di Qatar “terkait dengan teror”.

Daftar tersebut termasuk Qaradawi, dan menteri dalam negeri Qatar Abdullah bin Khalid.

Qatar membalas pada hari yang sama (Jumat, 9 Juni) dalam sebuah pernyataan kementerian luar negeri yang menggambarkan tuduhan tersebut sebagai “tidak berdasar dan fitnah”.

Qatar Sepakati Pembelian Pesawat Tempur F-15 AS

Doha (Jurnalislam.com) – Doha menandatangani sebuah kesepakatan pada hari Rabu dengan Washington untuk membeli jet F-15 senilai $ 12 miliar, menurut kementerian pertahanan Qatar, Aljazeera melaporkan Kamis (15/6/2017).

Menteri Pertahanan Khalid Al Attiyah dan rekannya dari AS, James Mattis menandatangani kesepakatan di Washington, kata Kantor Berita Qatar.

Pentagon mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kesepakatan tersebut “akan memberi Qatar kemampuan lebih dan meningkatkan kerjasama keamanan dan interoperabilitas antara Amerika Serikat dan Qatar.”

Kongres AS tahun lalu menyetujui penjualan jet tempur ke Qatar sementara kesepakatan terakhir terjadi setelah krisis Teluk baru-baru ini dimulai antara beberapa negara Arab dan Qatar.

Dua kapal perang AS tiba di Qatar Hamad Port pada hari Rabu untuk melakukan latihan militer gabungan namun rinciannya belum diinformasikan, Qatar News Agency dikutip.

Pekan lalu, lima negara Arab – Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Yaman – memutuskan hubungan dengan Qatar, menuduh Doha mendukung terorisme.

Qatar telah membantah tuduhan tersebut, dengan mengatakan bahwa langkah untuk mengisolasinya secara diplomatis tersebut “tidak dapat dibenarkan”.

Turki mengatakan bahwa mereka berdiri bersama negara Teluk kecil tersebut untuk menjatuhkan sanksi dan mendesak Riyadh memimpin dalam mencari solusi atas krisis itu.

Erdogan Cekal Langkah AS Keluarkan Surat Penangkapan Pengawal Pribadinya

ANKARA (Jurnalislam.com) – Presiden Recep Tayyip Erdogan mengkritik langkah AS yang mengeluarkan surat perintah penangkapan saat 12 pengawalnya diduga terkait dengan perkelahian di luar kedutaan besar Turki di Washington beberapa waktu lalu.

Beberapa orang terluka saat sebuah tawuran pecah di luar kedutaan besar Kedubes AS di Turki saat kunjungan Erdogan ke AS pada bulan Mei. Polisi Washington DC dilaporkan mendapatkan surat perintah penangkapan untuk pengawal presiden Turki pada hari Kamis (15/6/2017), lansir Anadolu Agency.

Berbicara di sebuah acara buka puasa di ibukota Ankara pada hari Kamis, Erdogan mengatakan: “Mereka telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk 12 pengawal saya. Aturan apa ini?

“Jika pengawal saya tidak boleh melindungi saya, mengapa saya membawa mereka ke Amerika?”

Bom Mobil Al Shabaab Hantam Klub Malam di Mogadishu

SOMALIA (Jurnalislam.com) – Sebuah bom mobil meledak di sebuah klub malam di ibukota Somalia, Mogadishu, menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai beberapa lainnya, kata polisi, lansir Aljazeera, Rabu (14/6/2017).

Tembakan senjata berat menyusul serangan yang diklaim kelompok bersenjata al-Shabab tersebut. Saksi mata mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa seluruh distrik ditutup oleh polisi.

Petugas polisi Mohamed Hussein mengatakan ada kebingungan mengenai apakah orang-orang bersenjata tersebut berjuang untuk masuk ke dalam setelah ledakan atau apakah situasi penyanderaan sedang berlangsung.

“Sejauh ini, kita bisa memastikan sembilan orang tewas,” kata Hussein Said. “Bom mobil martir tersebut menargetkan jalan masuknya. Ada tembakan di dalam … tapi saya tidak yakin apakah kelompok bersenjata tersebut berada di dalam,” tambahnya.

Al-Shabab, yang telah melakukan operasi pemboman martir untuk menggulingkan pemerintah korup Somalia yang didukung AS, mengaku bertanggung jawab.

“Seorang mujahid dengan bom mobil, meledekan mobilnya setelah dia menabrak Posh Hotel, yang merupakan sebuah kelab malam. Operasi berlanjut,” Abdiasis Abu Musab, juru bicara militer kelompok tersebut, mengatakan kepada Reuters.

Al Shabaab sering kali melancarkan serangan dan operasi mematikan di Mogadishu dan wilayah lain yang dikendalikan oleh pemerintah federal.

Presiden Perancis Kunjungi Marako Bahas Krisis Qatar

PARIS (Jurnalislam.com) – Presiden Prancis Emmanuel Macron telah melakukan perjalanan kunjungan 24 jam ke Maroko untuk melakukan pembicaraan mengenai konflik Libya dan perselisihan Qatar dengan tetangga-tetangganya di Teluk.

Menjelang kunjungan hari Rabu (14/6/2017), kepresidenan Prancis mengatakan Macron akan berdiskusi dengan Mohammed VI mengenai perselisihan antara Qatar dan beberapa negara, karena Paris dan Rabat sangat antusias untuk menengahi solusi atas krisis tersebut, lansir Aljazeera.

“Presiden Macron telah berbicara dengan semua kepala negara di wilayah tersebut dan menyerukan sesi penenangan. Upaya ini sejalan dengan mediasi yang ingin dilakukan Maroko,” katanya.

Sebuah sumber diplomatik Prancis mengatakan “prioritasnya adalah untuk membantu menyelesaikan krisis”.

Istana Elysee mengatakan setelah Macron mendarat di Rabat bahwa presiden Prancis akan bertemu secara terpisah di Paris bersama Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, dan putra mahkota UEA, Sheikh Mohammad bin Zayed al-Nahyan.

Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung pada pekan terakhir bulan Juni dan bertujuan untuk meredakan perselisihan di Teluk.

UEA memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar pada 5 Juni, bersama dengan Arab Saudi, Bahrain, Mesir dan negara-negara lain, setelah menuduh Doha mendukung “ekstremisme”. Qatar dengan keras membantah tudingan mereka.

Ini adalah krisis terburuk yang mencengkeram Teluk selama bertahun-tahun.

Keempat negara Arab tersebut telah menutup wilayah udara mereka bagi Qatar yang sangat bergantung pada impor makanan dan air, selain produk lainnya.

Langkah tersebut telah mengganggu impor makanan dan bahan lainnya dan menyebabkan beberapa bank asing memertimbangkan kembali usaha mereka.

Akhirnya Doha bekerja sama dengan Turki untuk mengamankan makanan dan minuman.

PBB: Serangan Udara AS Bunuh 300 Lebih Warga Sipil di Raqqah

JENEWA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 300 warga sipil telah terbunuh, dan 160.000 orang mengungsi di tengah serangan udara yang intensif oleh koalisi anti-IS pimpinan AS di kota Raqqah di utara Suriah, sebuah komisi PBB mengatakan pada hari Rabu (14/6/2017), lansir Anadolu Agency.

“Kami mencatat secara khusus bahwa intensifikasi serangan udara, yang telah membuka jalan bagi Pasukan Demokratik SDF – Suriah – yang bergerak maju di Raqqah, secara mengejutkan telah mengakibatkan tidak hanya hilangnya nyawa warga sipil, namun juga menyebabkan 160.000 warga sipil melarikan diri dari rumah mereka dan menjadi pengungsi internal,” ketua Komisi Penyelidik Internasional Independen PBB di Suriah, Paulo Sergio Pinheiro mengatakan.

Berbicara pada Sesi ke-35 Dewan HAM PBB di Jenewa, Pinheiro mengatakan bahwa lebih dari 600.000 orang masih terjebak di wilayah yang terkepung di Suriah.

“Penolakan bantuan kemanusiaan yang terus berlanjut dan terus-menerus menyebabkan kekurangan makanan dan kebutuhan dasar,” katanya.

Baca juga:

Ketua juga menambahkan bahwa zona de-eskalasi yang disepakati oleh penjamin Rusia, Iran dan Turki pada putaran keempat perundingan Astana pada tanggal 4 Mei telah menghasilkan “pengurangan tingkat kekerasan yang jelas di zona sekitar Idlib dan Aleppo barat”.

Setelah sidang tentang Suriah di Dewan, Komisaris Karen Koning AbuZayd mengatakan kepada wartawan bahwa serangan udara Raqqah telah menyebabkan sekitar 300 warga sipil tewas, dan 200 di antaranya terbunuh di desa al-Mansoura.

Jumat lalu, SDF yang didukung AS, yang berisi banyak pasukan terkait dengan kelompok teroris PKK / PYD, meminta militan IS di Raqqah untuk menyerah pada akhir Juni.

Sejak saat itu, serangan udara dan artileri di kota – oleh koalisi yang dipimpin AS dan SDF – semakin meningkat, mengakibatkan sejumlah korban sipil.

Jet Tempur Rezim Syiah Assad Serang Penampungan Warga Sipil, 12 Tewas

DARAA (Jurnalislam.com) – Dua belas orang termasuk satu anak tewas pada hari Rabu (14/6/2017) dalam serangan udara yang dilakukan oleh pasukan rezim Suriah di kota Daraa di barat daya Suriah, kata seorang pejabat pertahanan sipil.

Amer Abu Zaid mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa pasukan rezim Assad telah melakukan 10 serangan udara di Daraa tengah dan empat di distrik Tafas.

Semua korban dilaporkan tewas di Tafas saat jet-jet rezim Syiah Nushairiyah menargetkan sebuah sekolah yang digunakan sebagai tempat penampungan warga sipil, kata Zaid, menambahkan 13 orang juga terluka dalam serangan yang menjatuhkan 24 bom barel tersebut.

Penjamin Turki untuk oposisi, Rusia dan Iran untuk rezim Assad telah sepakat pada tanggal 4 Mei di ibukota Kazakhstan, Astana, untuk mendirikan “zona de-eskalasi” di Suriah yang dilanda perang.

Zona tersebut akan mencakup kota Idlib dan beberapa bagian Latakia, Homs, Aleppo dan Hama serta Damaskus, Ghouta Timur, Daraa dan Quneitra.

Suriah telah dikepung dalam perang global sejak Maret 2011. Menurut utusan khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, sekitar 400.000 orang tewas dalam konflik tersebut sementara separuh penduduk terusir dari rumah mereka.