Militer Irak Desak Kelompok IS di Tal Afar Menyerah

BAGHDAD (Jurnalislam.com) – Otoritas Irak pada hari Senin (21/8/2017) meminta kelompok Islamic State (IS) untuk menyerah di markas terakhir mereka di Irak utara dan barat, lansir Anadolu Agency.

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Pertahanan mengatakan bahwa pesawat tempur menjatuhkan ribuan selebaran meminta kelompok IS untuk meletakkan senjata di daerah Huwaija di Irak utara dan Al-Qaem, Rawa, Anah dan Akashat di Irak barat.

Langkah tersebut dilakukan satu hari setelah tentara Irak melancarkan operasi militer baru untuk merebut kembali kota Tal Afar di barat laut dari IS.

Tentara Irak mengatakan pasukannya telah merebut beberapa desa di pinggiran kota yang berpenduduk mayoritas Turkmen, yang dikuasai oleh Daesh pada pertengahan 2014 bersamaan dengan sejumlah wilayah yang luas di Irak utara dan barat.

PBB memperkirakan bahwa sekitar 10.000 sampai 40.000 orang masih tinggal di Tal Afar dan sekitarnya.

“Khilafah” yang diproklamirkan sendiri oleh IS secara sepihak runtuh bulan lalu, ketika tentara Irak merebut Mosul dalam sebuah operasi militer yang berlangsung sembilan bulan.

2 Tentara AS Tewas dan 1 Kritis dalam Serangan Mendadak Taliban di Logar

LOGAR (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 2 orang tentara Amerika tewas dan satu terluka parah saat pertempuran sengit setelah pasukan Imarah Islam Afghanistan (Taliban) mengejutkan gugus tugas gabungan mereka di kota Pol-i-Alam, ibu kota provinsi Logar, Senin (21/8/2017), lansir Al Emarah News.

Kemudian, tentara penyerang AS melepaskan tembakan ke arah warga sipil secara agresif, menewaskan 4 penduduk desa dan melukai seorang wanita, koresponden mengatakan.

Juga di hari Senin, Taliban menyerang sebuah pos pemeriksaan di distrik Baraki Barak di provinsi Logar, menewaskan 4 tentara boneka dan menghancurkan sebuah tank, sementara sejumlah pos militer Afghanistan telah dikepung oleh Taliban.

Pada hari Ahad, sejumlah besar tentara boneka dilaporkan menderita luka-luka ketika Mujahidin mengepung posko musuh di distrik Baraki Barak di provinsi Logar.

Militer AS meluncurkan serangan udara hampir bersamaan untuk mematahkan pengepungan mujahidin di pos tersebut. Namun, tidak ada yang terluka dalam serangan udara.

Di tempat lain di distrik tersebut, bom pinggir jalan meledak dan menghancurkan sebuah tank militer, menewaskan sedikitnya 3 pasukan boneka pada hari Ahad.

Ahad dini hari, 2 tentara musuh tewas dan 2 lainnya terluka akibat bom dan melakukan tembakan langsung di distrik Mohammad Agha di provinsi ini.

Ketua Komando Pusat AS Mendadak Kunjungi Bekas Markas Taliban Pakistan

PAKISTAN (Jurnalislam.com) – Kepala Komando Pusat AS, Jenderal Joseph L. Votel, pada hari Sabtu (19/9/2017) mendadak mengunjungi daerah kesukuan Waziristan Utara yang bergolak – bekas markas Taliban Pakistan yang berbatasan dengan Afghanistan.

Votel adalah pejabat tertinggi angkatan darat AS yang mengunjungi wilayah tersebut sejak tentara Pakistan membersihkannya dari militan setelah serangan militer berskala besar pada tahun 2014.

Kunjungan tersebut terjadi di tengah tuduhan baru dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump bahwa Islamabad tidak “berbuat cukup” menghadapi jaringan Haqqani, sebuah kelompok jihad yang dipersalahkan atas sejumlah serangan di negara tetangga Afghanistan, termasuk Kabul, lansir World Bulletin, Ahad (20/8/2017).

Menurut juru bicara militer Pakistan, delegasi AS diberi tahu tentang operasi militer di wilayah tersebut dan mekanisme keamanan perbatasan Pakistan-Afghanistan.

“Delegasi juga diberi tahu tentang kemajuan pembangunan sosio-ekonomi termasuk kembalinya orang-orang yang sementara dipindahkan,” kata juru bicara tersebut dalam sebuah pernyataan, merujuk pada kembalinya hampir satu juta anggota suku yang mengungsi akibat operasi militer 2014.

Lebih dari 90 persen pengungsi, menurut data pemerintah, telah kembali ke rumah mereka dalam tiga tahun terakhir.

Pernyataan tersebut lebih lanjut menyatakan, delegasi memuji upaya dan pengorbanan tentara Pakistan dan suku setempat untuk membangun kembali perdamaian dan ketertiban di daerah tersebut.

“Delegasi yang berkunjung juga menyadari pentingnya koordinasi keamanan perbatasan bilateral Pakistan-Afghanistan,” katanya.

Kemudian delegasi mengunjungi sebuah sekolah yang dikelola tentara di Miranshah – ibu kota Waziristan Utara – dan berinteraksi dengan siswa, pernyataan tersebut menyimpulkan.

Waziristan Utara adalah satu dari tujuh wilayah kesukuan semi-otonom di Pakistan barat laut, yang dulunya merupakan markas jaringan Haqqani dalam beberapa tahun terakhir.

Islamabad mengklaim bahwa serangan militer berturut-turut sejak tahun 2014 telah mencabut jaringan dari Waziristan Utara. Namun, Washington telah berulang kali menuntut agar sekutunya “berbuat lebih banyak” dalam apa yang mereka sebut perang melawan jihadis.

Qatar: Setelah Sukses Dukung Kudeta Mesir, Kini UEA Pulihkan Kediktatoran Arab

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Duta Besar Qatar untuk Turki melaporkan bahwa Uni Emirat Arab (UEA) mendukung “kontra-revolusi di dunia Arab untuk memulihkan kediktatoran”, lansir Anadolu Agency, Ahad (20/8/2017).

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Sabtu malam, Duta Besar Salem Al-Shafi mengatakan: “UEA dan sejumlah sekutu telah membayar sekitar $ 40 miliar untuk mengkonsolidasikan kudeta militer di Mesir saja,” mengacu pada penggulingan Muhammad Mursi, presiden pertama Mesir yang terpilih secara bebas dan sah, pada 2013.

“Kami mengatakan bahwa negara-negara ini belum belajar dengan baik,” tambahnya. “Mereka menyalahkan Qatar, dengan menggunakan istilah cemerlang seperti kontraterorisme dan menyerang orang-orang moderat dengan tujuan memenangkan hati Negara Barat tidak akan membantu melindungi mereka dari rakyat.”

Al-Shafi membantah tuduhan bahwa Qatar mendukung kelompok Islam dan ekstremis di Timur Tengah.

“Ada beberapa negara Arab yang takut dengan revolusi,” katanya. “Alih-alih mereformasi rezim mereka dan memenuhi aspirasi rakyat, mereka menimpakan kesalahan pada Qatar dan apa yang mereka sebut Islam politik.”

Duta Besar tersebut menekankan bahwa Qatar “melakukan semua yang dapat dilakukan untuk menjaga keamanan dan stabilitas di wilayah tersebut dengan cara yang tidak bertentangan dengan aspirasi rakyat”.

Pada bulan Juni, UEA, bersama Arab Saudi, Mesir dan Bahrain, memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, menuduh Doha mendukung terorisme.

Keempat negara tersebut memberlakukan blokade laut, darat dan udara di Qatar dan mengajukan daftar tuntutan kepada Doha untuk mengakhiri boikot atau menghadapi sanksi lebih lanjut.

Qatar membantah tuduhan tersebut dan berpendapat bahwa blokade mereka melanggar hukum internasional.

Al-Shafi mengatakan peran UEA “dalam memicu krisis dengan Qatar telah terlihat jelas”.

“Penyelidikan teknis dan hukum kami, bekerja sama dengan FBI dan NCA- National Crime Agency [Badan Kejahatan Nasional Inggris] telah membuktikan hal ini secara pasti,” katanya, secara implisit merujuk pada peretasan kantor berita resmi Qatar.

Bulan lalu, Washington Post mengatakan UEA telah mengatur peretas situs berita dan media sosial Qatar yang dikelola negara “untuk mengirim kutipan palsu yang seolah dinyatakan oleh amir Qatar, Sheikh Tamim Bin Hamad al-Thani”.

Laporan yang diretas tersebut mengatakan bahwa amir Qatar menyebut Iran sebagai “kekuatan Islam”, dan melontarkan pujian kepada kelompok perlawanan Palestina Hamas, di antara klaim kontroversial lainnya.

Utusan Qatar mengatakan UAE dan negara-negara blokade lainnya “telah menolak mediasi asing untuk menyelesaikan krisis”.

Menteri Negara UEA Urusan Luar Negeri Anwar Gargash pada awal Agustus meminta Turki untuk “tetap netral” dalam krisis dengan Qatar.

Sejak krisis Teluk dimulai, Turki, sekutu lama Qatar, telah bergegas memberi bantuan kepada Doha, mengirimkan sejumlah besar bantuan kemanusiaan – di samping pasukan – ke negara Teluk yang terkepung itu.

“Masyarakat internasional dan sebagian besar negara dunia telah menolak tuduhan UEA dan tindakan ilegal terhadap Qatar,” kata Al-Shafi.

Dia mengatakan Doha telah menahan diri untuk tidak melakukan tindakan “balas dendam” dalam menanggapi blokade tersebut.

“Kami berharap mereka [negara pemblokade] akan kembali,” katanya. “Kami percaya bahwa mereka pada akhirnya akan kembali melakukan dialog.”

Duta Besar Qatar mengulangi komitmen negaranya untuk memerangi terorisme.

“Qatar adalah anggota aktif di semua forum kontraterorisme dan koalisi anti-Daesh internasional,” katanya. “Qatar juga menjadi tuan rumah pangkalan militer A.S. terbesar di Timur Tengah dalam memerangi terorisme,” katanya, mengacu pada basis al-Udeid.

Diplomat tersebut kemudian mencemooh seruan untuk menutup pangkalan Turki di Qatar.

“Aneh melihat UEA, yang menjadi tuan rumah beberapa markas asing, untuk menyerukan penutupan pangkalan Turki di Doha dan untuk memotong hubungan pertahanan antara Qatar dan Turki, kecuali UEA dan negara-negara sekutu memiliki niat atau rencana untuk melakukan intervensi militer,” katanya.

Kabul: Antisipasi Afghanistan dalam Strategi Baru Donald Trump

KABUL (Jurnalislam.com) – Sisi-sisi yang berperang di Afghanistan tetap bersiap mengntisipasi saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan strategi perangnya menyusul pertemuan tingkat tinggi dengan tim keamanannya pada hari Jumat, Anadolu Agency melaporkan Ahad (20/8/2017).

Pemerintah Kabul yang didukung AS dan sekutunya optimis tentang peningkatan jumlah tentara Amerika di negara tersebut untuk mengatasi kelompok mujahidin yang tangguh, sementara Taliban sendiri memperingatkan Washington atas tindakan ini.

Trump bergabung dalam pertemuan Camp David bersama Wakil Presiden Mike Pence, Menteri Pertahanan James Mattis, Sekretaris Negara Rex Tillerson, Direktur CIA Mike Pompeo dan Penasihat Keamanan Nasional H.R. McMaster.

“Presiden sedang mempelajari dan mempertimbangkan pilihannya dan akan mengumumkan kepada rakyat Amerika, kepada sekutu dan mitra kami, dan kepada dunia pada saat yang tepat,” kata Sekretaris Jenderal Gedung Putih Sarah Sanders kepada wartawan setelah pertemuan tersebut.

Di Afghanistan, gelombang pasukan yang mungkin terjadi mendapat beragam tanggapan.

Pada bulan Maret tahun ini, Salahuddin Rabbani, menteri luar negeri Afghanistan telah mengatakan bahwa pasukan tambahan akan membantu memperbaiki situasi di Afghanistan.

Pemerintah boneka Kabul menginginkan AS untuk lebih melengkapi Pasukan Pertahanan dan Keamanan Nasional Afganistan (the Afghan National Defence and Security Forces-ANDSF), khususnya Angkatan Udara Afghanistan (the Afghan Air Force-AAF) yang baru lahir.

Kemungkinan lebih banyak pasukan tersebut didasarkan pada rekomendasi Jenderal John W. Nicholson, komandan pasukan militer internasional pimpinan Amerika di Afghanistan, mengenai kebutuhan lebih banyak tentara.

“Beberapa ribu pasukan lagi masih dibutuhkan untuk mendukung tentara Afghanistan lebih efektif. “Kami kekurangan beberapa ribu,” katanya kepada Komite Angkatan Bersenjata Senat (the Senate Armed Services Committee) awal tahun ini.

Ada sekitar 13.300 tentara asing yang ditempatkan di Afghanistan, 8.400 di antaranya adalah warga Amerika.

Tidak semua pihak puas dengan strategi ini. Mohsin Rehmani, seorang politisi Independen Afganistan, agak skeptis.

“Apa yang telah dicapai AS dengan lebih dari 100.000 tentara di lapangan dalam 15 tahun terakhir?,” katanya berbicara dengan Anadolu Agency. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa sesuai dengan Perjanjian Keamanan Bilateral (the Bilateral Security Agreement-BSA), Washington harus bertanggung jawab atas melonjaknya terorisme di Afghanistan. “Mereka [Amerika] memiliki rencana dan agenda sendiri di Afghanistan”, katanya.

Mohammad Sarwar Usmani, seorang anggota parlemen, seperti banyak warga Afghanistan lainnya percaya bahwa akar permasalahannya terletak di Pakistan. “Jika AS benar-benar khawatir dan ingin mengekang jihadis, mereka seharusnya menghilangkan tempat-tempat suci para mujahidin di Pakistan”.

Laporan dari Washington menunjukkan bahwa Presiden Trump juga mendapat sejumlah proposal yang diajukan tentang sikap yang lebih keras terhadap Pakistan karena dituduh mendukung Jaringan Haqqani yang sengit dan gagal menutup tempat-tempat penting Taliban Afghanistan, tuduhan yang dibantah Islamabad.

Dalam sebuah surat terbuka kepada presiden AS awal pekan ini, Taliban telah memerintahkan penarikan pasukan asing secara keseluruhan.

“Jika Anda [Presiden Trump] gagal memenangkan perang Afghanistan dengan pasukan AS dan NATO yang disiplin, memiliki teknologi maju, jenderal militer berpengalaman, banyak strategi dan ekonomi yang hebat, Anda tidak akan pernah bisa memenangkannya dengan tentara bayaran, perusahaan kontraktor terkenal ataupun antek-antek yang tidak bermoral ,” kata surat Taliban tersebut.

Pernyataan tersebut jelas-jelas mengacu pada usulan Erik Prince, pendiri perusahaan kontraktor militer Blackwater sebelumnya, untuk menggantikan pasukan AS di Afghanistan dengan tentara bayaran.

Pemimpin mujahidin Veteran Afghanistan Gulbuddin Hekmatyar – yang menandatangani kesepakatan damai dengan pemerintah boneka Afghanistan pada bulan September tahun lalu – juga melawan pengiriman gelombang pasukan.

Berbicara kepada sekelompok wartawan asing di kantornya di Kabul barat awal bulan ini, Hekmatyar membandingkan jalan buntu di medan perang di Afghanistan saat ini dengan hari-hari terakhir rezim yang didukung Soviet di negara tersebut pada akhir 1980an.

Dia mendesak sekutu asing pemerintah Kabul untuk tidak mempercayai elemen pro-Teheran dan pro-Moskow di negara tersebut.

“Faktanya adalah bahwa Perang Afghanistan tidak dapat dimenangkan dengan penempatan pasukan asing tambahan atau dengan strategi perang saat ini,” katanya, menambahkan bahwa kemenangan dalam hal ini memerlukan perubahan dalam strategi perang dan struktur angkatan bersenjata.

Pada tahun ke-16, konflik bersenjata di Afghanistan yang dimulai dengan jatuhnya pemerintahan Taliban di akhir tahun 2001 dengan invasi pasukan multinasional hingga menyebabkan puluhan ribu nyawa di negara tersebut secara harfiah berperang sejak invasi Soviet pada tahun 1979.

Pasukan Pertahanan dan Keamanan Afganistan (the Afghan National Defence and Security Forces-ANDSF) yang baru lahir, yang didirikan dengan dukungan dari AS dan NATO, telah bertempur keras dalam menghadapi mujahidin Taliban dan sejumlah kelompok bersenjata lainnya.

Ranjau Darat Hantam Kendaraan Militer Libanon, Tiga Tentara Tewas

LIBANON (Jurnalislam.com) – Tiga tentara Libanon tewas pada hari Ahad (20/8/2017) saat sebuah ranjau di bawah kendaraan mereka meledak di timur negara itu di sepanjang perbatasan dengan Suriah, kata militer dalam sebuah pernyataan, lansir World Bulletin.

“Sebuah kendaraan tentara dihantam oleh sebuah ranjau darat di jalan Al-Najsa di Bundud Arsal pada siang hari, menewaskan tiga tentara dan melukai satu tentara dengan serius,” kata militer dalam sebuah pernyataan.

Tentara yang terluka dievakuasi ke rumah sakit untuk perawatan.

Insiden tersebut terjadi sehari setelah tentara memulai operasi melawan IS di daerah Jurud Ras Baalbek dan Jurud al-Qaa, lebih jauh ke utara sepanjang perbatasan Lebanon-Suriah.

Tentara mengatakan pada Sabtu malam bahwa pasukannya sejauh ini telah menguasai sekitar 30 kilometer persegi (11 mil persegi) dari 120 kilometer persegi yang diyakini sebagai lokasi IS.

Seorang juru bicara mengatakan pada hari Sabtu bahwa 20 pasukan IS telah terbunuh dalam bentrokan sejauh ini, dan 10 tentara Lebanon telah terluka.

Militer memperkirakan ada sekitar 600 pasukan IS di daerah yang diperebutkan.

Serangan tentara terjadi setelah kelompok militan Syiah Hizbullah Lebanon yang berkuasa melakukan operasi sendiri melawan ekstremis di Jurud Arsal.

Serangan enam hari terhadap mantan afiliasi Al-Qaeda tersebut berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata.

Kesepakatan menetapkan sekitar 8.000 pengungsi dan gerilyawan diangkut ke daerah yang dikuasai ekstremis di Suriah barat laut dengan imbalan pembebasan lima pejuang Hizbullah yang ditangkap.

Keamanan di sepanjang perbatasan timur Lebanon dengan Suriah telah lama menjadi perhatian, dan pada tahun 2014 para ekstremis menyerang kota perbatasan Arsal dan menculik 30 tentara Libanon dan polisi.

Empat dieksekusi oleh penculik mereka sementara yang kelima meninggal akibat luka yang dideritanya.

Enam belas orang dibebaskan dalam sebuah penggerebekan tahanan pada bulan Desember 2015, namun sembilan lainnya dipercaya masih berada di tangan IS.

23 Penumpang Tewas dan 75 Terluka, India Selidiki Suara Bom dalam Kecelakaan Kereta

NEW DELHI (Jurnalislam.com) – India telah meluncurkan sebuah penyelidikan mengenai kecelakaan kereta di mana 23 orang tewas dan 75 lainnya luka-luka, dalam kecelakaan kereta api utama keempat selama setahun terakhir.

Neeraj Sharma, juru bicara Northern Railways, mengatakan pada hari Ahad (20/8/2017) bahwa penyebab tergelincirnya kereta tersebut, sekitar 130km utara ibukota New Delhi negara bagian Uttar Pradesh, tidak diketahui.

Sedikitnya 13 gerbong kereta keluar dari jalur saat menuju ke kota suci Hindu di Haridwar.

Tim penyelamat menggunakan pemotong dan crane bekerja sepanjang malam untuk menarik gerbong yang terguling. Korban yang terluka telah dibawa ke rumah sakit.

Sharma mengatakan operasi penyelamatan telah berakhir dan jumlah korban tewas bisa meningkat.

Saksi mata menggambarkan mendengar “suara seperti ledakan bom” saat gerbong-gerbong tersebut keluar dari jalur.

Mahesh Chandra Sharma, seorang penumpang yang naik kereta api, mengatakan kepada Indian Express, “Kami beruntung masih hidup”.

Seorang pejabat senior di pemerintahan Uttar Pradesh, Arvind Kumar, mengatakan kepada Hindustan Times bahwa sopir kereta berhenti mendadak setelah melihat pekerjaan pemeliharaan di jalur tanpa diberi isyarat yang benar.

Perdana Menteri India Narendra Modi mengatakan di Twitter bahwa dia sangat hancur akibat kecelakaan tersebut, memberikan ucapan belasungkawa kepada keluarga korban yang terbunuh, dan berharap pemulihan yang cepat bagi yang terluka.

Pemerintah menjanjikan kompensasi sebesar $ 5.500 untuk keluarga penumpang yang meninggal.

Menteri Perkeretaapian Suresh Prabhu di sebuah pos Twitter mengatakan “tindakan tegas akan dilakukan terhadap kesalahan apapun”.

Kecelakaan kereta api terlalu sering terjadi di India setelah puluhan tahun hanya mendapat investasi yang buruk dan permintaan yang meningkat.

Sistem yang dikelola negara mengoperasikan 9.000 kereta penumpang dan membawa sekitar 23 juta penumpang setiap hari.

Kecelakaan Sabtu lalu adalah kecelakaan besar keempat tahun ini dan yang ketiga di Uttar Pradesh pada 2017. Lebih dari 250 orang terbunuh di seluruh India dalam kecelakaan kereta api pada tahun 2015 dan 2016.

Pada bulan November, sebuah kecelakaan di Uttar Pradesh menewaskan 150 orang.

Pada bulan Juni, Reuters melaporkan bahwa anggaran keamanan 15 miliar yang direncanakan untuk jaringan kereta api India diperkirakan mengalami penundaan karena perusahaan baja negara tidak dapat memenuhi permintaan rel baru.

Jaringan berada di tengah modernisasi lima tahun senilai $ 130 miliar.

Pemerintah meluncurkan program perbaikan keamanan tambahan pada bulan Februari untuk mengatasi lonjakan kecelakaan kereta api dalam dua tahun terakhir yang dituduh diakibatkan oleh jalur yang tidak tepat.

Pemimpin Syiah Houthi Yaman Serang Rekan Sekutunya

YAMAN (Jurnalislam.com) – Pemimpin pemberontak Syiah Houthi Abdul Malik al-Houthi melancarkan serangan terhadap rekan kudetanya, mantan Presiden Yaman terguling, Ali Abdullah Saleh, Al Arabiya melaporkan, Ahad (20/8/2017).

Dalam sebuah pidato yang tampaknya mengacu pada partai Saleh, al-Houthi mengatakan bahwa ada sekelompok orang yang berusaha membongkar dan menyerang front nasional. Mereka juga bertujuan memprovokasi konflik untuk mempengaruhi front militer, tambahnya.

Al-Houthi juga mencatat bahwa ada sekelompok orang yang memegang kesepakatan dan berusaha untuk bersekongkol melawan Yaman.

Pemimpin Syiah Houthi tersebut juga berbicara mengenai penetrasi yang ditemukan di beberapa elemen politik. Diduga mengacu pada pesta Saleh, dia menggarisbawahi praktik kerja sama di luar negeri yang bertujuan untuk membagi front nasional.

Menurut al-Houthi, tersangka sedang berusaha untuk meningkatkan situasi. Pemimpin tersebut mengatakan hal itu saat menuduh partai mantan presiden tersebut mencabut tanggung jawab dalam pengelolaan lembaga negara.

 

Irak Lancarkan Serangan Pamungkas untuk Rebut Tal Afar dari IS

IRAK (Jurnalislam.com) – Pasukan Irak telah melakukan serangan darat untuk merebut kembali wilayah yang dipegang IS di bagian utara negara tersebut, kata Perdana Menteri Haider al-Abadi.

“Anda menyerah atau mati”, kata Abadi kepada Islamic State (IS) – yang telah menguasai kota ini sejak tahun 2014 – dalam sebuah pidato di televisi yang mengumumkan operasi tersebut pada hari Ahad (20/8/2017).

Tal Afar dan daerah sekitarnya termasuk wilayah kantong terakhir yang dikuasai IS di Irak, setelah kemenangan diumumkan di Mosul, kota terbesar kedua di negara itu.

Reporter Al Jazeera Osama Bin Javaid, melaporkan dari Erbil, mengatakan bahwa serangan darat memang baru saja diumumkan, “namun operasi tersebut sebenarnya telah berlangsung selama beberapa pekan.”

Serangan udara koalisi pimpinan AS yang menargetkan IS di kota tersebut dimulai satu bulan setelah mendapat kemenangan di Mosul.

“Dalam 48 jam terakhir, mereka telah mulai menyerang dan menghancurkan sejumlah target IS,” kata Bin Javaid.

Tal Afar berada di sebelah barat Mosul dan sekitar 150km timur perbatasan Suriah, terbentang di sepanjang jalan utama yang menjadi jalur suplai utama IS.

Tal Afar terputus dari sisa wilayah yang dikuasai IS pada bulan Juni.

Beberapa jam sebelum pengumuman Abadi, angkatan udara Irak menjatuhkan selebaran dari atas kota, menyuruh penduduk untuk melakukan tindakan pencegahan.

“Persiapkan diri Anda, pertempuran besar sudah dekat dan kemenangan akan datang,” isi selebaran itu.

Pejabat Irak percaya ada sekitar 1.400 dan 1.600 pasukan IS di daerah Tal Afar, termasuk banyak pejuang asing, menurut Brigadir Irak, Jenderal Yahia Rasool yang berbicara melalui juru bahasa pada hari Sabtu.

“Saya rasa ini tidak akan lebih sulit dari pada pertempuran Mosul, dengan mempertimbangkan pengalaman yang kami dapatkan di Mosul,” katanya kepada wartawan.

Pensiunan Jenderal AS Mark Kimmitt mengatakan bahwa walaupun merebut kembali Tal Afar akan menjadi “tonggak penting”, itu tidak berarti hari-hari terakhir IS.

“Kami tidak melihat hari-hari terakhir IS, baik di Irak atau di Suriah, atau di luar negara-negara tersebut,” kata Kimmitt kepada Al Jazeera. “Mereka masih tetap merupakan kekuatan yang sangat kuat, tidak hanya oleh khilafah yang memproklamirkan diri, tapi kami terus melihat serangan yang terinspirasi oleh IS di tempat-tempat seperti Barcelona dan tempat lain.”

Ribuan warga Irak telah melarikan diri ke wilayah Kurdi Irak saat persiapan serangan berlanjut.

Dewan Pengungsi Norwegia mengatakan pada hari Sabtu bahwa pengungsi di dekat kota utara Tal Afar menghadapi kondisi yang keras, dan dihentikan oleh pihak berwenang di timur daerah Mosul dan Kurdi saat mereka mencoba melarikan diri dari pertempuran tersebut.

“Sangat sulit bagi mereka untuk bergerak,” kata Melany Markham, seorang juru bicara kelompok kemanusiaan, kepada Al Jazeera, menambahkan bahwa satu lokasi transit kapasitasnya sudah penuh, dan tidak dapat menampung lebih banyak pengungsi lagi.

Dia mengatakan bahwa suhu di puncak musim panas antara 45 dan 50 derajat Celcius membuat perjalanan semakin menantang.

Markham mengatakan bahwa walaupun lokasi transit mereka di Hammam al-Alil penuh, kamp-kamp lain seperti di Khazar, sebelah barat kota Kurdi, Erbil, dapat menampung hingga 40.000 pengungsi.

Diperkirakan 50.000 orang telah melarikan diri dari daerah sekitar Tal Afar sejak April, dan sedikitnya 50.000 lainnya dapat melarikan diri dalam beberapa hari dan pekan mendatang, menurut kelompok bantuan.

Jumlah itu menambah jumlah perkiraan satu juta pengungsi yang telah lebih dulu melarikan diri dari Mosul.

Case of Alfian Tanjung, Al Khaththath Reminds President Jokowi Dont Criminalize

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Secretary General of Islamic Forum (FUI) who also had time in prison for alleged treason which until now has not been proven, Ustadz Muhammad Al Khaththath came to Surabaya to give moral support to anti-communist activist Ustadz Alfian Tanjung who Entangled case.

He reminded President Joko Widodo not to play with fire by criminalizing Islamic clerics, activists and organizations.

“I am confronting in this case Mr. Jokowi as the President of the Republic of Indonesia is not playing in terms of criminalization of scholars who will have a bad impact and cause tension between the ummah of Islam with the government,” Ustadz Al Khaththath told Journalislam.com, Wednesday (16/08/2017) .

Al Khaththath strongly believes that the cleric Alfian Tanjung is not as alleged in the trial indictment. According to him, no criminal acts committed ustadz Alfian Tanjung.

“My arrival is to give moral support to Ustadz Alfian Tanjung, I believe he did not commit a crime,” said ustadz Al Khaththath

Not to forget, Al Khaththath asked the Muslims to pray for the condition of the nation getting better and the problems that befell the Muslim scholars and activists immediately resolved.

The case of Ustadz Alfian originated from the report of a Surabaya resident named Sudjatmiko dated 11 April 2017 in East Java Police who accused the content of lectures at Masjid Mujahidin Surabaya contained elements of hate speech against the PKI and Ahok. Ust. Alfian was accused of Article 16 Jo. Article 4 letter b number 2 of Law no. 40 of 2008 on the Elimination of Racial and Ethnic Discrimination and or Article 156 of the Criminal Code.

Translator: Taznim