HTS Kini Mengendalikan Penuh Fasilitas Umum Provinsi Idlib

IDLIB (Jurnalislam.com) – Koalisi faksi-faksi Jihad Hayat Tahrir al-Sham (HTS) telah menguasai penuh fasilitas lokal di Idlib dari anggota dewan terpilih di kota tersebut yang menolak menyerah pada HTS, Middle East Eye melaporkan Senin (28/8/2017).

Kelompok aktivis melaporkan pada hari Senin bahwa faksi jihad HTS telah menguasai kantor pengelolaan air di Dewan Kota Idlib dan membebaskan karyawannya.

Langkah tersebut mengikuti penolakan dewan terhadap permintaan formal HTS untuk menyerahkan kontrol atas toko roti, air dan transportasi ke “administrasi layanan sipil,” sebuah badan yang dikendalikan oleh kelompok tersebut.

“Keputusan yang baru-baru ini diambil oleh ‘administrasi perkantoran sipil’ serta langkah-langkah yang dipercepat dan berurutan, terutama berkaitan dengan departemen dewan kota Idlib, adalah usaha untuk membuatnya tunduk pada subordinasi, dan keputusannya sepihak,” isi pernyataan tersebut.

“Wahai warga Idlib … Wahai revolusioner … Wahai penduduk Suriah di manapun… dewan kota Idlib akan tinggal bersamamu, tidak akan pergi dan tidak akan turun.”

Dewan tersebut mengatakan bersedia untuk melayani badan pusat “asalkan ada sebuah pemerintahan sipil independen yang diakui kembali.”

Apakah Koalisi Telah Gagal? Begini Penjelasan Syeikh Muhaysini

Kontrol HTS atas Idlib tampak tak terbantahkan setelah mereka menundukan saingan utama mereka di provinsi ini, Ahrar al-Sham yang dulu berkuasa dengan sejumlah perjanjian.

Idlib jatuh ke tangan faksi-faksi Jihad Suriah dari Rezim Syiah Assad pada tahun 2015 setelah sebuah koalisi yang terdiri dari anggota HTS yang sebelumnya adalah Jabhah Nusrah, Ahrar dan yang lainnya merebutnya dari pasukan rezim Nushairiyah.

Sejak saat itu, ketegangan meningkat antara pendukung oposisi moderat Suriah dan HTS, yang dipandang memiliki agenda transnasional yang dinilai bertentangan dengan tujuan awal perlawanan di Suriah.

Telah terjadi protes berulang oleh pendukung oposisi moderat dalam beberapa bulan terakhir terhadap HTS di Idlib, yang sering mendapat tekanan.

Meskipun demikian, setelah bentrokan berulang kali, HTS bulan lalu mampu menguasai dan mengendalikan missal di persimpangan Bab al-Hawa antara Suriah dan Turki, yang sebelumnya merupakan salah satu lokasi strategis Ahrar yang paling penting dan merupakan sumber pendapatan utama melalui perdagangan perbatasan.

Mereka juga mengelurkan kelompok tersebut dari kota Idlib, meninggalkan markas di tangan HTS.

“HTS bersedia mengeluarkan lebih banyak sumber daya, mereka lebih terorganisir dengan baik, dan perlahan tapi pasti mereka telah menggulingkan LCC (dewan oposisi moderat) di daerah tersebut,” Michael Stephens, seorang peneliti untuk studi Timur Tengah di Royal United Services Institute, baru-baru ini memberi tahu MEE.

Amerika Serikat Ketakutan jika Hayat Tahrir al Sham Mendominasi Provinsi Idlib

Dia mengatakan bahwa HTS “mendorong kelompok lain dengan perlahan tapi pasti dan kemudian dapat menyerap kelompok lain dengan cukup cepat hingga menyadari bahwa tidak ada gunanya menolak”.

Dewan kota Idlib terpilih pada Januari dalam pemilihan sipil pertama di kota tersebut saat berada di bawah kendali oposisi moderat.

Hanya mereka yang berusia 25 tahun ke atas dan berasal dari Idlib yang dapat memilih dewan beranggotakan 25 orang tersebut.

Pemilu tersebut dilakukan setelah para aktivis koalisi Pasukan Penaklukan (the Army of Conquest) melakukan lobi untuk memungkinkan kepemimpinan sipil terhadap layanan lokal.

Menurut Mohammad al-Aref, anggota kantor eksekutif pemerintah Idlib, ada sekitar 160 dewan pelaksana sipil di seluruh provinsi tersebut.

Badan-badan ini mengelola “urusan kesehatan dan pendidikan, serta pelayanan publik” di kota-kota dan desa-desa.

Populasi Idlib membengkak pada tahun lalu, dengan puluhan ribu orang mengungsi ke sana akibat pertempuran atau setelah mengevakuasi daerah yang terkepung di bagian lain Suriah, termasuk Aleppo.

Banyak bantuan kemanusiaan penyelamat nyawa terus memasuki provinsi tersebut melalui Bab al-Hawa dan diterima seiring dengan adanya pemekaran kekuasaan HTS dengan banyak yang bergabung dan mendukung, seorang diplomat Barat mengatakan kepada AFP.

Militer Filipina Sesumbar Perang Lawan Pejuang Maute akan Segera Berakhir

FILIPINA (Jurnalislam.com) – Pasukan pemerintah Filipina yakin bahwa akhir pertempuran di Kota Marawi sudah dekat dan menyatakan harapannya, Senin (28/8/2017), bahwa kemenangan akan terjadi “dalam beberapa hari”, lansir Anadolu Agency.

Juru bicara militer Edgar Arevalo mengulangi bahwa pertempuran tersebut terjadi dalam area seluas 500 meter persegi dengan 50-60 gerilyawan yang tersisa secara intensif mempertahankan posisi terakhir mereka melawan pasukan pemerintah.

“Kami terus waspada karena kami tahu bahwa mereka berada di posisi terakhir mereka,” kata Arevalo seperti dikutip oleh ABS-CBN.

“Mereka pasti akan memanfaatkan kesalahan apapun. Mereka telah menanam alat peledak improvisasi di dalam wilayah konflik dan akan menggunakan sandera sebagai perisai manusia.”

Terlepas dari intensitas pertempuran, pasukan memiliki semangat tinggi menyusul kunjungan terakhir Presiden Rodrigo Duterte.

Lebih dari 300 tentara, yang terluka pada masa awal pengepungan tersebut, kembali berada di garis depan zona pertempuran karena berkeinginan untuk “membantu rekan mereka dan ikut ambil bagian untuk membebaskan kota”.

Arevalo juga mengungkapkan bahwa kesaksian sandera yang lolos dari penculik mengungkapkan bahwa prajurit anak-anak berperang bersama dengan para milisi.

“Menurut warga sipil, ada anak-anak, anak di bawah umur di antara jajaran Maute. Pejuang Maute bisa meyakinkan mereka, telah mempersenjatai mereka dan mereka sekarang melawan tentara kita.”

Pejuang Maute dikatakan secara aktif merekrut anak-anak, pemuda, menawarkan orang tua mereka untuk mengajari Alquran, kemudian memberi mereka senjata api, mengajari mereka cara membunuh musuh.

Krisis di Marawi mengakibatkan 772 kematian termasuk 597 milisi, 130 tentara pemerintah dan 45 warga sipil, menurut militer Filipina.

Krisis ini juga menciptakan krisis kemanusiaan yang besar, menggusur hampir 400.000 orang dari kota dan desa-desa terdekat.

Pertarungan di Marawi mendorong Presiden Rodrigo Duterte untuk menempatkan semua wilayah Mindanao di bawah keadaan darurat militer pada tanggal 23 Mei, yang diperkirakan tidak akan berakhir sampai akhir tahun ini.

Erdogan Kecam Pembantaian di Myanmar dan akan Tuntut di Pengadilan PBB

ANKARA (Jurnalislam.com) – Presiden Turki menggunakan sebuah siaran khusus pada hari Ahad (27/8/2017) untuk mengecam keras pembantaian warga Muslim di Myanmar.

Recep Tayyip Erdogan, yang berbicara pada saluran berita penyiaran TRT Haber yang dikelola negara, juga menuduh dunia “buta dan tuli” terhadap kerusuhan di negara bagian Rakhine, Myanmar barat, lansir Anadolu Agency, Senin (28/8/2017).

Erdogan juga mengatakan bahwa Turki akan mengangkat isu ini ke organisasi internasional: “Kekerasan di Myanmar ini akan masuk dalam agenda kami di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa [pada 19 September].”

Serangan mematikan terhadap pos perbatasan di negara bagian Rakhine pecah pada hari Jumat, mengakibatkan korban sipil massal.

Kemudian, laporan media muncul dengan mengatakan bahwa pasukan Myanmar menggunakan kekuatan yang tidak proporsional dan mengusir ribuan penduduk desa Muslim Rohingya, menghancurkan rumah dengan mortir dan senapan mesin.

Aktivis Myanmar: Kurang dari Sepekan 800 Muslim Rohingya Dibunuh

Daerah ini telah mengalami ketegangan antara populasi sekte Buddhis dan kaum Muslim sejak kekerasan komunal terjadi pada tahun 2012.

Sebuah laporan PBB tahun lalu mengatakan bahwa telah terjadi pelanggaran hak asasi manusia terhadap Rohingya oleh pasukan Myanmar termasuk kejahatan terhadap kemanusiaan berat.

PBB mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan, penyiksaan – termasuk pembunuhan bayi dan anak kecil – pemukulan, penyembelihan dan penghilangan brutal.

Perwakilan Rohingya mengatakan sekitar 400 orang tewas dalam tindakan keamanan pada Oktober lalu.

Pasukan Irak dan Milisi Syiah Mulai Merangsek ke dalam Kubu IS di Tal Avar

IRAK (Jurnalislam.com) – Angkatan bersenjata Irak memukul mundur kelompok Islamic State (IS) dari kota Tal Afar sementara beberapa bagian distrik tetap berada di bawah kendali kelompok tersebut, kata seorang pejabat senior militer pada hari Ahad, lansir World Bulletin Senin (28/8/2017).

“Pasukan gabungan tentara dan Pasukan Syiah Hashd al-Shaabi – milisi Syiah pro-pemerintah – telah merebut dua lingkungan Al-Askari dan Al-Senaa Al-Shamaliya, serta daerah Al-Maaredh, Tal Afar Gerbang dan desa Al-Rahma di bagian timur kota,” Letnan Jenderal. Abdul-Amir Yarallah, komandan operasi Mosul, mengatakan dalam sebuah pernyataan di televisi.

Walaupun seluruh bagian kota telah direbut kembali, pertempuran untuk menguasai beberapa bagian distrik Tal Afar tetap berlanjut.

Yarallah mengatakan bahwa hanya daerah Al-Ayadieh dan desa-desa sekitarnya yang masih berada dalam genggaman IS, menambahkan bahwa angkatan bersenjata telah maju “menuju target terakhir untuk membebaskan mereka”.

Pada hari Ahad, pemerintah Irak melancarkan serangan besar untuk merebut kembali Tal Afar, dengan melibatkan tentara, unit polisi federal, pasukan kontra IS dan anggota bersenjata Syiah Hashd al-Shaabi – sebagian besar pasukan Syiah yang dimasukkan ke dalam tentara Irak tahun lalu .

Pejabat Kementerian Displacement and Migration Zuhair Talal al-Salem mengatakan kepada Anadolu Agency 1.500 orang melarikan diri dari desa dan daerah sekitar kabupaten tersebut.

“Orang-orang yang mengungsi dipindahkan dari pos pemeriksaan keamanan ke kamp Nimrod, di mana mereka menerima bantuan,” kata Al-Salem.

Kamp Nimrud di sebelah tenggara Mosul dikatakan memiliki kapasitas menampung 3.000 keluarga.

Kementerian tersebut memindahkan sekitar 500 keluarga pengungsi ke kamp tersebut setelah memeriksa nama mereka Sabtu di distrik Hamam al-Alil, selatan Mosul.

Serangan Martir Taliban Hantam Konvoi Pasukan Bentukan AS, 15 Tewas

KABUL (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 15 orang tewas dalam sebuah pemboman mobil martir yang ditujukan pada konvoi pasukan Afghanistan di provinsi Helmand barat daya yang bergolak, seorang pejabat mengkonfirmasi pada hari Senin (28/8/2017).

Konvoi Tentara Nasional Afghanistan (the Afghan National Army-ANA) ditargetkan di distrik Nawa yang bergejolak di provinsi tersebut pada hari Ahad. Umar Zwak, juru bicara gubernur di Helmand, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa serangan tersebut telah merenggut nyawa 13 anggota Tentara ANA dan dua warga sipil.

“Seorang pembom mobil martir menabrak sebuah kendaraan lapis baja tentara”, katanya, menambahkan 19 orang juga terluka dalam serangan ini.

Taliban telah mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Terletak di selatan dari tempat kelahiran Taliban Kandahar, Helmand tetap menjadi salah satu provinsi yang paling bergolak dengan Taliban menguasai sebagian besar wilayah.

Bulan lalu, Pasukan Keamanan Nasional Afghanistan (the Afghan National Security Forces-ANSF) yang didukung oleh kekuatan udara AS menyerang distrik Nawa yang bergolak di Helmand lebih dari setahun setelah Taliban menguasainya. Sejak itu, bentrokan mematikan meletus di berbagai kantong provinsi.

IS Gencatan Senjata dengan Syiah Hizbullah Lebanon di Perbatasan Suriah

BEIRUT (Jurnalislam.com) – Kepala polisi Lebanon pada hari Ahad (27/8/2017) mengatakan enam mayat tentara yang diculik oleh kelompok IS pada Agustus 2014 dikirim ke pihak berwenang, beberapa jam setelah militer mengumumkan sebuah gencatan senjata dan penghentian serangan terhadap IS di sepanjang perbatasan timur lautnya dengan Suriah.

Langkah tersebut bertujuan membuka jalan bagi negosiasi untuk menentukan nasib tentara Lebanon yang disandera oleh kelompok tersebut.

Kepala Polisi Abbas Ibrahim mengatakan mayat tersebut diyakini termasuk tentara yang diculik.

“Sejauh ini, kami telah menerima enam mayat yang menurut kami adalah mayat tentara yang diculik. Kami akan menerima dua mayat lagi,” katanya, lansir Anadolu Agency.

“Kami telah mengetahui nasib tentara yang diculik sejak Februari 2015, namun kami tidak dapat membuat pernyataan karena kami tidak dapat mengkonfirmasi insiden tersebut,” kepala polisi menambahkan.

Dalam sebuah pernyataan sebelumnya, komando tentara mengatakan gencatan senjata mulai berlaku hari ini pukul 7 pagi (1000 GMT), dan bertujuan membuka jalan bagi perundingan tahap terakhir mengenai nasib tentara yang diculik.

Sembilan hari yang lalu, tentara Lebanon melancarkan serangan untuk mengusir IS dari daerah pegunungan dekat perbatasan Suriah

Bertepatan dengan operasi militer, kelompok Syiah Hizbullah Lebanon juga mengumumkan bahwa pasukannya, bersama dengan pasukan rezim Suriah, telah memulai serangan balasan untuk merebut kembali pinggiran Qalamoun dari IS di Suriah barat.

Pada 2 Agustus 2014, IS mengumumkan bahwa mereka menyandera 11 tentara Lebanon di pinggiran Arsal di perbatasan Suriah-Lebanon; Kemudian kelompok itu mengeksekusi dua dari mereka.

Milisi Syiah Hizbullah juga mengatakan “gencatan senjata yang dimulai pukul 7 pagi tersebut terjadi dalam kerangka kesepakatan komprehensif untuk mengakhiri pertempuran di Qalamoun Barat”.

Sekretaris Jenderal Syiah Hizbullah Hasan Nasrallah pada hari Kamis mengkonfirmasi bahwa perundingan sedang dilakukan dengan IS.

Awal bulan ini, pasukan regular Lebanon dan Syiah Hizbullah merebut kota Juroud Arsal di dekat perbatasan Suriah setelah sebuah operasi militer melawan IS yang berbasis di daerah tersebut.

Puluhan Pasukan Syiah Tewas dalam Serangan Militer di Kota Pesisir Yaman

YAMAN (Jurnalislam.com) – Pasukan pro-pemerintah menyerbu kota pesisir Midi yang dikendalikan pemberontak Syiah Houthi, merebut sebagian besar wilayah itu, menurut militer Yaman, Ahad (27/8/2017), Anadolu Agency melaporkan.

Zona Militer Kelima Angkatan Darat Yaman mengatakan dalam sebuah pernyataan: “Pasukan Tentara Nasional dengan partisipasi pasukan koalisi Arab yang dipimpin Arab Saudi sepenuhnya dibebaskan hari ini [pagi hari] di wilayah timur Midi, sebelah utara provinsi Hajjah.

“Tentara terus menembus lingkungan Midi, sementara operasi militer berlanjut sampai mencapai target penuh untuk benar-benar membersihkan kota Mid dari Houthi dan kemudian maju menuju distrik-distrik tetangga.

“Kota Midi, yang telah dikepung selama berbulan-bulan, hampir sepenuhnya dibebaskan, dan Houthi tidak lagi berada di lingkungan barat pantai, yang akan dibebaskan dalam beberapa jam mendatang.”

Menurut pernyataan tersebut, puluhan pemberontak Houthi tewas dan terluka sementara yang lainnya melarikan diri, menambahkan bahwa pasukan pro-pemerintah telah menemukan beberapa senjata selama penggerebekan tersebut.

Sementara itu, kantor berita yang berafiliasi dengan Houthi mengatakan pada hari Ahad bahwa “pesawat tempur [mengacu pada koalisi Arab] meluncurkan lebih dari 20 serangan di Direktorat Midi”.

Badai kota Midi terjadi saat terjadi bentrokan antara dua sekutu yang menentang pemerintah sejak tahun 2014: kekuatan presiden terguling Ali Abdullah Saleh dan pemberontak Syiah Houthi.

Sedikitnya sembilan orang tewas dalam bentrokan Sabtu malam antara pasukan Saleh dan milisi Houthi di ibukota Sanaa, seorang sumber keamanan Yaman mengatakan pada hari Ahad.

Di antara yang tewas adalah tujuh pemberontak Houthi dan dua tentara pro-Saleh, termasuk pemimpin partai Kongres Rakyat Saleh, Khaled al-Reda, seorang perwira polisi Yaman mengatakan kepada Anadolu Agency secara anonim karena masalah keamanan.

Aktivis Myanmar: Kurang dari Sepekan 800 Muslim Rohingya Dibunuh

MUANGDAW (Jurnalislam.com) – Tentara Myanmar telah melakukan pembunuhan di luar hukum di wilayah Rakhine yang bergolak, dengan penduduk dan aktivis melaporkan tentara menembak tanpa pandang bulu pada pria Rohingya yang tidak bersenjata, wanita dan anak-anak dan melakukan serangan pembakaran, lansir Aljazeera, Ahad (27/8/2017).

Pihak berwenang di Myanmar mengatakan bahwa hampir 100 orang telah terbunuh sejak Jumat ketika orang-orang bersenjata, yang dilaporkan berasal dari pejuang Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), melancarkan serangan perlawanan sebelum fajar di pos terdepan polisi di wilayah yang bergolak.

Tentara telah mengumumkan perang melawan “pejuang Islam”, mengepung kota Maungdaw, Buthidaung dan Rathedaung, yang menampung sekitar 800.000 orang, dan memberlakukan jam malam dari pukul 18:00 (11:30 GMT) sampai 6:00 (23:30 GMT).

Temuan Terbaru PBB: Tentara Myanmar juga Menyembelih Bocah Muslim Rohingya

Namun, pendukung Muslim Rohingya memberi laporan jumlah korban tewas yang jauh lebih tinggi, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sedikitnya 800 minoritas Muslim, termasuk puluhan perempuan dan anak-anak, telah terbunuh dalam kekerasan tersebut.

Al Jazeera belum bisa memverifikasi sendiri angka-angka itu secara independen.

Aziz Khan, seorang penduduk Muangdaw, mengatakan bahwa tentara menyerang desanya pada hari Jumat pagi dan mulai menembaki mobil dan rumah-rumah penduduk tanpa pandang bulu.

“Pasukan pemerintah dan polisi penjaga perbatasan membunuh sedikitnya 11 orang di desaku. Ketika mereka tiba, mereka mulai menembaki segala sesuatu yang bergerak. Beberapa tentara kemudian melakukan serangan pembakaran.

Penyidik PBB: Pembantaian Muslim Rohingya di Myanmar Benar-benar Paling Sadis

“Perempuan dan anak-anak juga termasuk di antara korban tewas,” katanya. “Bahkan bayi pun menjadi korban.”

Ro Nay San Lwin, seorang aktivis Rohingya dan blogger yang berbasis di Eropa, mengatakan antara 5.000 hingga 10.000 orang terusir dari rumah mereka oleh serangan baru-baru ini

Dengan menggunakan jaringan aktivis di lapangan untuk mendokumentasikan konflik tersebut, San Lwin mengatakan bahwa masjid dan madrasah telah dibakar habis, dengan ribuan Muslim terdampar tanpa makanan dan tempat berlindung.

“Paman saya sendiri terpaksa melarikan diri dari pasukan pemerintah dan militer,” katanya kepada Al Jazeera.

“Tidak ada bantuan dari pemerintah, malah rumah rakyat telah hancur dan barang-barang mereka dijarah.

“Tanpa makanan, perlindungan dan perlindungan, mereka tidak tahu kapan mereka akan dibunuh.”

Berbicara kepada Al Jazeera dengan nama samaran, Myint Lwin, seorang penduduk kota Buthidaung mengatakan bahwa “ketakutan telah mencengkeram setiap keluarga.

“Orang-orang telah menyebarkan video tentang pembunuhan di WhatsApp berisi wanita dan anak-anak dibunuh. Warga yang tidak bersalah ditembak mati. Anda tidak bisa mulai membayangkan betapa takutnya kita.

“Tidak ada yang mau meninggalkan rumah mereka, Muslim takut pergi ke mana saja, rumah sakit, pasar, dimana saja. Ini adalah situasi yang sangat berbahaya.”

Video yang diunggah di media sosial menunjukkan puluhan pria, wanita dan anak-anak melarikan diri hanya dengan pakaian di punggung mereka saat mencari perlindungan di sawah dan sawah.

Keamanan memburuk tajam di Rakhine sejak pemerintah Aung San Suu Kyi mengirim ribuan tentara ke desa dan dusun Rohingya Oktober lalu setelah sembilan polisi tewas akibat serangan balasan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata Rohingya terhadap pos-pos perbatasan.

Pasukan Myanmar lalu melakukan serangan pembakaran, pembunuhan dan pemerkosaan; Dan memaksa lebih dari 87.000 warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh.

Matthew Smith, chief executive officer di Fortify Rights, sebuah kelompok hak asasi manusia, mengatakan ketika “pihak berwenang memperlakukan semua warga Muslim Rohingya sebagai kombatan”, maka penilaian pemerintah tentang kekerasan tersebut “diragukan bersifat baik”.

“Pemerintah telah menolak untuk bekerja sama dengan Misi Pencarian Fakta PBB di Rakhine dan ada tuduhan serius bahwa militer menyerang warga sipil yang tidak bersenjata,” katanya kepada Al Jazeera pada hari Ahad.

“Banyak orang dalam pelarian dan mereka membutuhkan perlindungan serius dan pihak berwenang tidak mempermudah jalan untuk membantu mereka.”

Inilah Laporan Investigasi Utusan PBB di Desa Muangdaw Rohingya yang Dibantai

Negara bagian Rakhine adalah rumah bagi sebagian besar 1,1 juta warga Myanmar Rohingya, yang hidup sebagian besar dalam kemiskinan dan menghadapi diskriminasi yang meluas oleh mayoritas umat Buddha.

Warga minoritas Muslim Rohingya secara luas dicerca sebagai migran ilegal dari Bangladesh, meskipun telah tinggal di daerah tersebut selama beberapa generasi.

Mereka dianggap tidak memiliki kewarganegaraan oleh pemerintah dan PBB yakin tindakan keras tentara tersebut mungkin sebagai pembersihan etnis – sebuah tuduhan yang dibantah pemerintah Aung San Suu Kyi dengan keras.

 

Jenderal Irak Tewas Dibom di Dekat Perbatasan Arab Saudi

IRAK (Jurnalislam.com) – Seorang perwira tinggi militer Irak tewas dan lima lainnya luka-luka dalam sebuah ledakan di provinsi Anbar barat dekat perbatasan Saudi, menurut seorang perwira tentara Sabtu (26/8/2017).

Brigadir Jenderal Laith al-Samawi terbunuh saat sebuah alat peledak menabrak patroli penjaga perbatasan saat melewati jalan yang menghubungkan Arar Crossing dan kantor polisi Anaza di perbatasan Irak-Saudi.

“Ledakan tersebut menewaskan Brigadir Jenderal Laith al-Samawi, seorang perwira dari komando Zona Perbatasan Perbatasan 5, dan melukai lima penjaga perbatasan lainnya, menyebabkan kerusakan besar dalam patroli keamanan pasukan tersebut,” kata Kolonel Waleed al-Dulaimi kepada Anadolu Agency.

Tidak ada individu atau kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Penasihat Kontraterorisme Donald Trump Mengundurkan Diri

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Sebastian Gorka telah meninggalkan posisinya sebagai penasihat kontraterorisme untuk Presiden Donald Trump, menurut sebuah pernyataan Gedung Putih pada Jumat malam.

Gorka, sekutu dekat mantan ahli strategi Trump Stephen Bannon, “tidak mengundurkan diri, tapi saya bisa memastikan dia tidak lagi bekerja di Gedung Putih”, seorang pejabat mengatakan kepada Anadolu Agency Sabtu (26/8/2017) dengan syarat untuk tidak disebut namanya.

Gorka, yang sering tampil di TV untuk membela kebijakan dan pernyataan Presiden Trump, terkenal dengan gaya blak-blakan dan agresifnya dalam melawan teror.

Dia telah dituduh memiliki hubungan dengan kelompok anti-Semit dan menghadapi tantangan terhadap kepercayaannya sebagai pakar terorisme.

Kepergian Gorka terjadi sepekan setelah Bannon meninggalkan Gedung Putih untuk kembali ke Helm Breitbart News, tempat Gorka pernah bekerja sebagai editor.

Pada bulan Mei, 55 Demokrat House menandatangani sebuah surat yang meminta Trump untuk memecat Gorka. “Sebagai anggota Kongres AS yang kritis dalam memerangi anti-Semitisme di dalam dan di luar negeri, kami mendesak Anda untuk segera menolak penasihat kontraterorisme Gedung Putih Sebastian Gorka,” kata surat tersebut.

Kongres ini selanjutnya menuduh Gorka dikaitkan dengan “mantan anggota terkemuka partai anti-Semit di Hungaria”.

Di antara beberapa rekan yang mempertanyakan keahlian dan ketepatan Gorka untuk posisi Gedung Putih, peneliti keamanan Michael S. Smith menulis sebuah email ke Gorka pada bulan Februari meminta pengunduran dirinya.

Smith menulis bahwa selama Gorka dan Bannon tetap berada di Gedung Putih, “saya akan doakan keberuntungan, untuk semua orang Amerika”.

Bannon, tokoh terkemuka dalam gerakan “alt-right” yang digambarkan sendiri, telah menjadi titik fokus kontroversi setelah menguasai Breitbart News – gerai berita utama gerakan tersebut.

Sepanjang masa jabatannya, Bannon telah mendorong agenda kanan jauh (far-right), mendesak Trump untuk mengeluarkan AS dari Perjanjian Iklim Paris (the Paris Climate Agreement) dan menetapkan larangan perjalanan yang banyak dikritik sebagai aturan yang menargetkan Muslim.

Dalam sebuah wawancara dengan reporter Fox News ‘Sean Hannity pada bulan Februari, Gorka dengan tegas membela larangan perjalanan tersebut, dengan mengatakan: “Inilah rumah Amerika dan gagasan bahwa kita tidak mengendalikannya adalah gila.”