Kini Erdogan Bahas Palestina Bersama Pemegang Kunci Kota Suci Yerusalem

KHARTOUM (Jurnalislam.com) – Presiden Recep Tayyip Erdogan dan penjaga tempat suci umat Islam, Raja Yordania Abdullah II, berbicara melalui telepon pada hari Senin (25/12/2017) untuk membahas masalah Yerusalem, menurut seorang pejabat presiden Turki.

Keduanya menegosiasikan pentingnya upaya bersama untuk melindungi status Yerusalem, kata pejabat tersebut, yang meminta tidak disebutkan namanya karena pembatasan untuk berbicara dengan media, lansir Anadolu Agency.

Mereka menekankan untuk membuat beberapa “peringatan konstruktif” kepada pemerintah AS demi memperbaiki kesalahannya.

Kedua pemimpin tersebut juga menyatakan kepuasannya atas pemungutan suara Majelis Umum PBB pekan lalu.

Ini Tanggapan Penjaga Kota Suci Yerusalem atas Peresmian Ibukota Israel di Palestina

Yordania dimana negaranya adalah penjaga tempat suci umat Islam di Yerusalem berpihak pada Palestina dan menolak keputusan Presiden AS Donald Trump beberapa pekan lalu untuk memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem dan mengakui Kota Suci sebagai ibu kota Israel.

Pada 6 Desember, Trump secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel meski mendapat tentangan di seluruh dunia, dan memicu aksi bela Palestina di seluruh dunia Muslim.

Mayoritas dari 193 anggota Majelis Umum PBB pekan lalu mengadopsi sebuah resolusi mengenai Yerusalem, meminta AS untuk menarik pengakuannya atas kota tersebut sebagai ibukota Israel.

Sebanyak 128 anggota memilih resolusi Yerusalem, sembilan negara – Guatemala salah satunya – memilih menentang resolusi dan 35 lainnya abstain. Dua puluh satu negara tidak memberikan suara.

Pasukan Penjajah Israel Tangkap 30 Warga Palestina dalam 1 Malam

RAMALLAH (Jurnalislam.com) – Pasukan penjajah Israel menahan 30 warga Palestina dalam serangan semalam yang dilakukan di Tepi Barat hari Ahad, Anadolu Agency melaporkan Senin (25/12/2017).

Dalam sebuah pernyataan hari Senin, tentara zionis yahudi mengatakan bahwa anak-anak tersebut ditahan untuk diinterogasi atas dugaan keterlibatan dalam aksi yang digambarkan oleh pasukan penjajag Israel sebagai “gerakan teroris populer.”

Menurut tentara zionis, delapan dari mereka yang ditahan berasal dari desa Qasra di Tepi Barat bagian utara.

Para Syuhada Terus Bertambah dalam Aksi Perlawanan di Gaza dan Tepi Barat

Tentara Israel sering melakukan operasi penangkapan besar-besaran di wilayah pendudukan Tepi Barat dengan dalih terorisme, mencari warga Palestina yang “dicari (wanted).”

Tokoh Palestina mengatakan, lebih dari 6.400 warga Palestina saat ini ditahan di fasilitas penahanan di seluruh Israel.

Penangkapan terakhir terjadi di tengah ketegangan yang sedang berlangsung di wilayah Palestina menyusul keputusan nyeleneh Presiden AS Donald Trump pada 6 Desember untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Targetkan Pemberontak Syiah Houthi, 71 Warga Tewas dalam Serangan Udara di Yaman

YAMAN (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 71 warga sipil tewas selama 48 jam terakhir dalam serangan udara koalisi militer pimpinan Saudi yang menargetkan pemberontak Syiah Houthi di Yaman, kata penduduk dan media setempat.

Warga mengatakan kepada Al Jazeera, bahwa beberapa serangan udara menghujani ibu kota Sanaa pada Senin pagi (25/12/2017), menewaskan sedikitnya 11 orang, termasuk tiga anak dan dua wanita.

Delapan warga sipil, termasuk dua wanita, juga tewas dalam serangan di provinsi Hodeidah, 226km barat Sanaa, sementara empat warga sipil tewas dalam serangan di sebuah gedung pemerintah di provinsi pusat Dhamar

Sedangkan pada hari Ahadnya 48 warga sipil, termasuk 11 anak-anak, tewas dalam 51 serangan udara di Yaman.

83 Rudal Balistik Syiah Houthi Yaman Targetkan Arab Saudi

Tidak ada komentar langsung dari koalisi pimpinan-Saudi.

Menurut jurnal medis The Lancet, dampak perang terhadap lingkungan sipil padat di Yaman sangat menghancurkan.

Lebih dari 18 juta warga sipil tinggal di daerah yang dikuasai pemberontak, dengan persediaan makanan berkurang dan perawatan medis terbatas.

Yaman terkoyak oleh konflik sejak tahun 2014, ketika pemberontak Houthi, yang bersekutu dengan tentara yang setia kepada mantan presiden Ali Abdullah Saleh, berhasil menguasai daerah-daerah terpencil di negara tersebut, termasuk Sanaa.

Arab Saudi meluncurkan serangan udara besar-besaran melawan pemberontak sejak Maret 2015 untuk memulihkan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.

Sejak saat itu, pemberontak Syiah Houthi berhasil disingkirkan dari sebagian besar wilayah selatan, namun tetap memegang kendali atas ibu kota dan sebagian besar wilayah utara.

Kerajaan Saudi mengintensifkan embargonya di Yaman bulan lalu, setelah pemberontak Houthi melepaskan sebuah rudal balistik ke Riyadh.

Blokade tersebut dimaksudkan untuk memotong pasokan senjata kepada pemberontak Houthi yang diduga berasal dari Iran, namun memiliki dampak buruk bagi jutaan warga, dan mendorong lebih dari delapan juta penduduknya menuju “sebuah kondisi kelaparan.”

Menurut PBB, perang telah menewaskan lebih dari 10.000 orang dan melukai lebih dari 40.000 orang sampai saat ini.

Negara ini juga menghadapi wabah kolera yang mematikan, konsekuensi langsung dari perang tersebut, yang telah menewaskan sekitar 2.000 orang dan mempengaruhi lebih dari satu juta orang lainnya sejak April.

Turki akan Terus Perjuangkan Palestina di Forum Internasional

ANKARA (Jurnalislam.com) – Perdana Menteri Binali Yildirim mengatakan pada hari Ahad (24/12/2017) bahwa Turki akan terus meningkatkan upayanya untuk memperjuangkan Palestina dan negara-negara tertindas lainnya di forum internasional.

Selama demonstrasi di provinsi Adiyaman, Turki timur, Yildirim memuji resolusi Majelis Umum PBB yang menolak langkah AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

“Turki akan terus mendukung negara-negara Palestina dan negara-negara tertindas. Kami akan terus berjuang untuk perdamaian dunia,” katanya, lansir Anadolu Agency.

193 anggota Majelis Umum PBB pada hari Kamis mengadopsi sebuah resolusi mengenai Yerusalem dengan mayoritas suara meminta AS untuk menarik pengakuannya atas kota tersebut sebagai ibukota Israel.

Keputusan nyeleneh Presiden AS Donald Trump pada 6 Desember tersebut membangkitkan aksi bela Palestina di seluruh dunia Muslim. Presiden Recep Tayyip Erdogan dan pejabat tinggi Turki lainnya berada di garis depan internasional dalam menentang langkah AS.

Erdogan Kembali Ajak Dunia untuk Dukung Palestina Lawan Veto AS

Kepala Partai Justice and Development (AK) untuk provinsi Adiyaman, Mehmet Erdogan, mengatakan partai yang berkuasa akan memenangkan pemilihan presiden 2019.

“Kami akan membuat Recep Tayyip Erdogan menjadi presiden lagi,” kata Mehmet Erdogan.

70 persen suara di provinsi Adiyaman mendukung Partai AK dalam referendum konstitusi pada 16 April.

Dalam referendum tersebut Turki kemudian memilih untuk mengadopsi sistem pemerintahan presidensial.

Erdogan menambahkan bahwa mereka akan mencapai target pada tahun 2023 bertepatan dengan peringatan seratus tahun Republik Turki.

Turki telah menetapkan target dan sasaran spesifik mencakup perbaikan besar dalam hal ekonomi, energi, perawatan kesehatan dan transportasi untuk tahun 2023, berbarengan dengan peringatan seratus tahun Republik Turki, dan juga tahun 2053 bersamaan dengan peringatan 600 tahun penaklukan Istanbul.

Seorang Mayor dan 3 Pasukan India Tewas dalam Baku Tembak dengan Tentara Pakistan

INDIA (Jurnalislam.com) – Seorang mayor tentara angkatan darat termasuk di antara empat tentara India yang tewas dalam baku tembak lintas batas di sepanjang perbatasan de facto yang membagi wilayah sengketa Kashmir antara Pakistan dan India, kata seorang pejabat, lansir World Bulletin, Ahad (24/12/2017).

Dalam sebuah pernyataan, juru bicara Kementerian Pertahanan India Kolonel N.N. Joshi mengatakan insiden tersebut terjadi di sektor Keri di Rajouri di Jammu dan Kashmir.

“Mereka [empat tentara India yang tewas dibunuh] sebelumnya terluka parah dalam baku temabaj tentara dengan tentara Pakistan dan kemudian tewas akibat luka-luka mereka,” kata Joshi.

Dua tentara juga terluka dan menerima perawatan medis, katanya, menambahkan tentara India membalas dengan “tembakan yang tak kalah kuat dan sengit.”

Menlu India: Sekneg AS Setuju Pakistan Bongkar Tempat para Pejuang di Wilayahnya

Kashmir, sebuah wilayah Himalaya yang berpenduduk mayoritas Muslim, dikendalikan oleh India dan Pakistan di beberapa bagian namun diklaim oleh keduanya secara penuh. Sepotong kecil Kashmir juga dikendalikan oleh China.

Kedua negara telah bertempur dalam tiga perang – pada tahun 1948, 1965 dan 1971 – sejak dipisah pada tahun 1947, dua di antara perang tersebut memperebutkan Kashmir.

Di gletser Siachen di Kashmir utara, tentara India dan Pakistan sesekali juga terlibat pertempuran sejak 1984. Gencatan senjata mulai berlaku pada tahun 2003.

Kelompok perlawanan Muslim Kashmir di Jammu Kashmir telah berperang melawan penjajahan India untuk kemerdekaan, atau untuk penyatuan dengan negara tetangga Pakistan.

Lebih dari 70.000 orang dilaporkan terbunuh dalam konflik tersebut sejak 1989. India mengerahkan lebih dari setengah juta tentara di wilayah yang disengketakan tersebut.

Menteri Zionis Luncurkan Pembangunan 300 Ribu Unit Rumah Baru di Al Quds

AL QUDS (Jurnalislam.com) – Menteri Perumahan dan Konstruksi Israel Yoav Galant telah meluncurkan sebuah kampanye untuk mempromosikan pembangunan 300.000 unit pemukiman di Yerusalem Timur, menurut media Israel.

Saluran Israel 10 mengatakan bahwa pembangunan yang direncanakan merupakan bagian dari RUU “Greater Jerusalem” Israel, yang bertujuan untuk mencaplok permukiman di atas tanah yang direncanakan warga Palestina sebagai masa depan mereka.

Menurut Israel 10, sebagian besar rumah direncanakan akan dibangun di daerah-daerah di luar Jalur Hijau, mengacu pada wilayah-wilayah yang diduduki Israel selama perang Timur Tengah 1967.

Langkah tersebut dilakukan kurang dari tiga pekan setelah Presiden AS Donald Trump secara nyeleneh mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel meski mendapat tentangan dari kalangan dunia.

Pemerintah Israel belum mengomentari laporan tersebut.

Pemukiman Ilegal Yahudi Israel Usir Warga Muslim Yerusalem Secara Sistematis

Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam rencana zionis tersebut dan menyebutnya sebagai “jawaban langsung” akibat pengakuan Trump atas Yerusalem sebagai ibukota Israel.

“Ini adalah bagian dari proyek penjajah yang berlangsung secara perlahan-lahan di Yerusalem, Lembah Yordan, Hebron dan tempat lain,” katanya dalam sebuah pernyataan, lansir Anadolu Agency, Ahad (24/12/2017).

Yerusalem tetap menjadi jantung konflik Timur Tengah yang abadi, dimana warga Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur – yang saat ini diduduki oleh Israel – pada akhirnya dapat berfungsi sebagai ibukota negara Palestina yang merdeka.

Israel menduduki Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, selama Perang Arab-Israel 1967. Israel lalu mencaplok seluruh kota pada tahun 1980 dan mengklaimnya sebagai “ibukota negara Yahudi yang abadi dan tak terbagi” – sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.

Hukum internasional memandang Tepi Barat dan Yerusalem Timur sebagai “wilayah yang dijajah” dan menganggap semua pembangunan permukiman Yahudi di sana adalah ilegal.

Gaza Kembali Menyambut Syuhada dalam Bentrokan Terbaru dengan Pasukan Zionis

GAZA (Jurnalislam.com) – Seorang pria Palestina gugur akibat luka-lukanya selama bentrokan dengan pasukan penjajah Israel di sepanjang perbatasan antara Jalur Gaza dan Israel awal pekan ini, menurut Kementerian Kesehatan Palestina, Anadolu Agency melaporkan, Ahad (24/12/2017).

Mohamed Sami al-Dahdouh terluka setelah ditembak dalam sebuah aksi di sebelah timur Kota Gaza menentang keputusan nyeleneh Presiden AS Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

“Dia meninggal karena luka-lukanya pada hari Ahad,” juru bicara kementerian Ashraf al-Qudra mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Perlawanan di Tepi Barat Tetap Berkobar Meski Hadapi Peluru Tajam Zionis

Ia adalah warga Palestina ke 15 yang menjadi syuhada dalam bentrokan dengan pasukan penjajah Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza sejak keputusan Trump pada 6 Desember.

Pada hari Kamis (21/12/2017), Majelis Umum PBB dengan luar biasa mengeluarkan sebuah resolusi terhadap keputusan Trump, dengan kemenangan resolusi atas Trump 128 melawan 9 suara.

Yerusalem tetap menjadi jantung konflik Timur Tengah yang abadi, dimana warga Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur – yang saat ini dijajah oleh Israel – pada akhirnya dapat berfungsi sebagai ibukota negara Palestina yang merdeka.

Dukungan untuk Bayi Karim yang Cacat Akibat Pemboman Rezim Syiah Assad Meningkat

ANKARA (Jurnalislam.com) – Dukungan untuk seorang bayi Suriah berusia 2 bulan yang kehilangan mata kirinya juga kehilangan ibunya dalam serangan rezim Assad di pinggiran ibukota Damaskus yang terkepung semakin terlihat dunia.

Sejak Anadolu Agency Turki pertama kali melaporkan kisah balita Suriah yang menjadi simbol Ghouta Timur, sebuah wilayah yang dikepung oleh rezim Syiah Bashar al-Assad, ribuan orang, baik warga biasa maupun tokoh-tokoh terkenal, ingin menunjukkan dukungan untuk Karim dan telah bergabung dalam kampanye di media sosial.

Amer Almohibani, agen freelancer Anadolu Agency di Suriah yang pertama kali melaporkan kasus tragis tersebut, mengatakan bahwa kunjungan pertamanya ke bocah yatim piatu yang terluka tersebut melemparkannya ke dalam kesedihan mendalam.

#SolidarityWithKarim.
#SolidarityWithKarim.

“Wajahnya terbakar di pikiranku, itu adalah perasaan yang tak terungkapkan,” katanya.

Setelah mencoba tanpa berhasil untuk melepaskan diri dari pandangan bocah yang cacat itu, Almohibani mengatakan bahwa dia memutuskan meluncurkan sebuah kampanye untuknya di media sosial di bawah hashtag #SolidarityWithKarim.

Dukungan Dunia untuk Bayi Suriah yang Dibom Rezim Syiah Assad di Ghouta Timur

Di samping kampanye media sosial, liputan Anadolu Agency terus berlanjut untuk menarik lebih banyak pendukung. Bahkan beberapa negarawan dan selebriti ikut mendukung, seperti Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri, Duta Besar Inggris untuk PBB Matthew Rycroft, dan pesepak bola Prancis Franck Ribery. Ketiganya memposting foto diri sambil menutup salah satu mata mereka menunjukkan solidaritas dengan Karim.

Pejabat tinggi Turki juga meningkatkan dukungan mereka dengan suara keras dan jelas. Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Numan Kurtulmus memposting banyak dukungan untuk balita yang menjadi simbol malang penderitaan manusia yang terus berlanjut akibat perang Suriah.

#SolidarityWithKarim.
#SolidarityWithKarim.

Mengikuti Anadolu Agency, beberapa outlet berita internasional seperti Daily Telegraph Inggris, kantor berita Prancis AFP, harian Jerman Bild, dan The Washington Post juga berbagi foto solidaritas mereka di Twitter.

Ghouta Timur dikepung oleh pasukan rezim Syiah Suriah sejak akhir 2012.

Pengepungan Rezim Assad di Timur Ghouta Bunuh 527 Bayi

Blokade yang terus berlanjut telah membuat sekitar 400.000 penduduk distrik tersebut berjuang mengatasi kekurangan gizi dimana fasilitas kesehatan setempat juga telah lumpuh.

Suriah telah dikepung dalam perang global yang menghancurkan sejak awal 2011, ketika rezim Syiah Bashar al-Assad menindak protes pro-demokrasi – yang meletus sebagai bagian dari pergerakan Spring Arab – dengan keganasan yang tak terduga.

Sejak saat itu, 450.000 lebih orang diyakini terbunuh dan jutaan lainnya mengungsi akibat konflik tersebut.

Pasukan Zionis Tahan 3 Warga Turki yang Coba Lakukan Shalat Jumat di Al Aqsha

YERUSALEM (Jurnalislam.com) – Polisi zionis menahan tiga warga Turki yang mencoba melakukan shalat Jumat di Masjid Al-Aqhsa di Yerusalem, menurut laporan saksi mata.

“Sebelumnya hari Kams (22/12/2017), polisi Israel melarang sejumlah peziarah Turki memasuki kompleks masjid Al-Aqsa,” kata seorang saksi mata kepada Anadolu Agency.

Saksi mata tersebut mengatakan bahwa para peziarah – dua di antaranya adalah dua warga Belgia-Turki, yang memegang paspor Belgia – mengenakan kaos bendera Turki saat mereka mencoba memasuki kompleks suci.

Polisi Israel mengatakan bahwa mereka harus melepaskan kaos tersebut jika ingin masuk, kata saksi mata tersebut. Penolakan warga Turki tersebut kemudian diikuti oleh sebuah perkelahian dan ketiganya ditangkap.

Polisi zionis belum mengomentari kejadian tersebut.

Erdogan Kembali Ajak Dunia untuk Dukung Palestina Lawan Veto AS

Seorang diplomat dari Konsulat Turki di kota tersebut dilaporkan berada di kantor polisi sekarang, menurut wartawan Anadolu Agency di lokasi kejadian.

Iras al-Dibs, juru bicara Otoritas Wakaf Islam Yordania (Wakaf), mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa sekitar 45.000 jamaah telah melakukan shalat Jumat di masjid al Aqsha.

Dalam khotbah Jum’atnya, imam Al-Aqsha Syeikh Mohamed Salim mengecam keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru-baru ini untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Menekankan sikap Arab dan Muslim pada kota suci tersebut, Salim mengucapkan terima kasih kepada negara-negara yang memilih untuk sebuah resolusi Majelis Umum PBB yang menolak keputusan AS pada Kamis ini.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan pejabat tinggi Turki lainnya telah berada di garis depan internasional untuk menentang langkah AS, dengan mensponsori resolusi PBB dan mengadakan pertemuan darurat Organisasi Kerjasama Islam, juga tindakan lainnya.

Setelah 128 Negara Tolak Veto AS, Erdogan, Jerman, Palestina Bahas Yerusalem Lebih Lanjut

ANKARA (Jurnalislam.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Jumat (22/12/2017) malam berbicara secara terpisah dengan rekan-rekannya dari Jerman dan Palestina tentang Yerusalem, kata sumber yang dekat dengan presiden kepada Anadolu Agency.

Erdogan berbicara dengan Frank-Walter Steinmeier dan Mahmoud Abbas tentang keputusan AS yang banyak dikritik untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, kata sumber tersebut, yang meminta tidak disebutkan namanya karena pembatasan untuk berbicara dengan media.

Percakapan tersebut muncul menjelang pemilihan anggota Majelis Umum PBB hari Kamis yang sangat menolak upaya AS di Yerusalem.

Mahmoud Abbas Desak EU Pimpin Upaya Perdamaian, Bukan AS lagi

Pada 6 Desember, Presiden AS Donald Trump mengumumkan keputusannya untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel meski mendapat tentangan di seluruh dunia. Keputusan tersebut memicu demonstrasi kemarahan di seluruh dunia Muslim.

Sebuah resolusi Dewan Keamanan sebenarnya yang akan lolos dengan suara bulat namun dipatahkan hanya dengan sebuah hak veto AS. Setelah itu Majelis Umum mengeluarkan sebuah resolusi yang menolak langkah AS, dengan kemenangan 128 suara yang mendukung dan 9 suara yang menolak.

Suara Majelis Umum tidak mengenal veto.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan pejabat tinggi Turki lainnya telah berada di garis depan internasional untuk menentang langkah AS, dengan mensponsori resolusi PBB dan mengadakan pertemuan darurat Organisasi Kerjasama Islam, juga tindakan lainnya.

Yerusalem tetap menjadi jantung konflik Timur Tengah, dengan warga Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur pada akhirnya dapat berfungsi sebagai ibukota negara merdeka di Palestina.