Qatar Tandatangani Kesepakatan Militer dengan NATO

ANKARA (Jurnalislam.com) – NATO dan Qatar pada hari Rabu (7/3/2018) menandatangani sebuah perjanjian militer yang akan memungkinkan pasukan dan personil NATO untuk masuk dan transit di negara tersebut dan menggunakan pangkalan udara di sana, menurut sebuah pernyataan tertulis dari NATO, lansir Anadolu Agency.

Berharap Krisis Qatar dapat Diselesaikan, Dewan Kerjasama Negara Teluk Libatkan Trump

Kesepakatan tersebut terjadi saat Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menerima Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani di markas besar NATO di Brussels dan kedua pemimpin tersebut membahas situasi keamanan di kawasan Teluk dan kemitraan antara NATO dan Qatar, kata pernyataan tersebut.

Pernyataan itu mengatakan bahwa kesepakatan tersebut akan memungkinkan pasukan NATO dan personil untuk menggunakan Pangkalan Udara Al-Udeid Qatar.

Begini Kata Sekjen NATO atas Operasi Militer Turki di Suriah

“Ini akan memfasilitasi misi dan operasi NATO di wilayah tersebut, termasuk the Resolute Support Mission di Afghanistan,” kata pernyataan tersebut.

Pernyataan tersebut menambahkan bahwa pasukan NATO dan Qatar telah beroperasi secara berdampingan di Libya dan bersama-sama mengatasi tantangan pembajakan di lepas pantai Somalia.

Situasi Kemanusian Semakin Mengerikan di Ghouta, White Helmets Minta Bantuan PBB

ANKARA (Jurnalislam.com) – Badan pertahanan sipil The White Helmets telah meminta PBB mengambil “langkah-langkah yang diperlukan” untuk meredakan situasi kemanusiaan yang mengerikan di distrik Ghouta Timur yang dikepung rezim Suriah.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu (7/3/2018), agensi tersebut mengatakan bahwa serangan oleh rezim Assad masih berlangsung meski baru-baru ini mengadopsi Resolusi 2401 Dewan Keamanan PBB, yang menyerukan gencatan senjata 30 hari.

White Helmets: 200 Lebih Warga Sipil Ghouta Timur Dibantai Rezim Assad

The White Helmets melanjutkan dengan mengatakan bahwa 30 warga sipil telah terluka dalam serangan gas klorin pada hari Selasa, yang dilaporkan terjadi sesaat setelah konvoi bantuan PBB memasuki daerah tersebut.

Konvoi tersebut tidak dapat mendistribusikan pasokan medis yang menyelamatkan nyawa akibat serangan tersebut, kata agensi tersebut, menambahkan bahwa 42 warga sipil telah tewas pada hari yang sama dalam serangan terpisah oleh rezim Syiah Nushairiyah.

Hancurkan Masjid, Klinik, Pasar dan Sekolah, Pasukan Dukungan AS Lakukan Pelanggaran HAM

“Sejak 19 Februari, lebih dari 661 warga sipil terbunuh – dan 2.373 lainnya terluka – di Ghouta Timur,” baca pernyataan tersebut.

PBB pada hari Selasa mengumumkan bahwa pihaknya tidak dapat menurunkan muatan 14 dari 46 truk yang mengangkut bantuan ke Ghouta Timur karena meningkatnya kekerasan.

Penduduk Ghouta Timur “telah bertahan berbulan-bulan tanpa akses ke bantuan kemanusiaan,” Jens Laerke, juru bicara Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Pasokan kakanan sangat kurang atau harganya mahal. Tingkat malnutrisi akut meningkat,” tambah Laerke.

Sevagai rumah bagi sekitar 400.000 orang, Ghouta Timur, pinggiran kota Damaskus, tetap berada di bawah pengepungan rezim Syiah Assad yang melumpuhkan selama lima tahun terakhir.

Dalam delapan bulan terakhir, pasukan rezim telah meningkatkan pengepungan, sehingga hampir tidak mungkin makanan atau obat masuk ke distrik tersebut.

Hancurkan Masjid, Klinik, Pasar dan Sekolah, Pasukan Dukungan AS Lakukan Pelanggaran HAM

SURIAH (Jurnalislam.com) – Penyelidik PBB melaporkan the Syrian Democratic Force (SDF), bersama dengan pihak-pihak yang bertikai lainnya, melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan serangan terhadap warga sipil di Suriah sebagai kejahatan perang.

Laporan tersebut, yang dikeluarkan pada hari Selasa (6/3/2018) oleh Komisi Penyelidik PBB mengenai Suriah (the UN Commission of Inquiry on Syria) mencatat pelanggaran yang terjadi antara Juli 2017 dan Januari 2018, didasarkan pada lebih dari 500 wawancara.

“Di Suriah, Masjid, pusat pertahanan sipil, rumah, fasilitas medis, pasar, toko roti dan sekolah terus diserang secara reguler oleh pihak-pihak yang bertikai dengan bebas tanpa mendapat sanksi hukuman,” laporan tersebut menambahkan.

Turki Ancam Rezim Assad jika Bantu Milisi Dukungan AS di Afrin

Dalam laporan 37 halaman yang dikeluarkan oleh Komisi Penyelidik PBB di Suriah, SDF dituduh melakukan wajib militer anak-anak, termasuk anak perempuan dan anak-anak berusia 13 tahun, bertentangan dengan kehendak mereka. Laporan tersebut berbunyi:

“Sebagai bagian dari kampanye wajib militer di wilayah-wilayah yang berada di bawah kendalinya, SDF terus mewajibkan pria dan anak-anak untuk melakukan layanan wajib militer selama periode pelaporan.

Para pelaku wajib militer, termasuk anak-anak berusia di bawah 13 tahun, menerima pelatihan dasar sebelum dikirim ke lini depan yang aktif.

Pada bulan Juli 2017, dua anak laki-laki, berusia 15 dan 16, terdaftar di SDF di Tabaqah (Raqqah). Yang termuda kemudian mengalami cedera lengan dalam pertempuran.

924 Target Militer Teror Dukungan AS Dihancurkan Turki

Dalam kasus lain, seorang warga Raqqah bersama keluarganya yang melarikan diri dari kota tersebut pada pertengahan Juli 2017 dihentikan pada saat tiba di wilayah yang dikuasai oleh SDF dan diinterogasi oleh seorang anak laki-laki Kurdi yang berseragam.

Meski tidak banyak, anak perempuan juga direkrut; seorang gadis remaja direkrut oleh Pasukan SDF di Raqqah pada bulan Oktober 2017.

Protokol Opsional untuk Konvensi Hak-hak Anak (The Optional Protocol to the Convention on the Rights of the Child) tentang keterlibatan anak-anak dalam konflik bersenjata, yang diadopsi oleh Republik Arab Suriah pada tahun 2003, tanpa syarat – menetapkan 18 tahun sebagai usia minimum untuk berpartisipasi langsung dalam pertempuran, perekrutan menjadi anggota kelompok bersenjata dan rekrutmen wajib ke angkatan bersenjata oleh pemerintah.”

SDF adalah aliansi pasukan Kurdi dan Arab yang didukung AS yang didominasi oleh kelompok bersenjata Kurdi Suriah YPG.

Pada bulan Januari, Kantor Urusan Publik untuk koalisi pimpinan AS di Suriah, mengatakan kepada Al Jazeera: “Apa yang dapat kami katakan kepada Anda adalah bahwa koalisi internasional diputuskan untuk melatih, membekali dan mendukung mitra SDF (Pasukan Demokratik Suriah) kami untuk mengalahkan IS selamanya.”

AS Bentuk 30.000 Pasukan Teror di Suriah, Erdogan: Tenggelamkan!

Juga pada bulan Januari, koalisi pimpinan AS telah mengumumkan bahwa mereka melatih sekitar 15.000 pasukan SDF untuk menjadi bagian dari kekuatan perbatasan 30.000 pasukan di utara negara tersebut.

YPG dianggap oleh Turki sebagai “kelompok teroris” yang memiliki hubungan dengan Partai Pekerja Kurdistan yang dilarang (PKK).

Lagi, Armada Perang Turki Bebaskan 6 Desa dan 1 Kota di Provinsi Afrin

ANKARA (Jurnalislam.com) – Militer Turki dan Free Syrian Army (FSA) pada hari Selasa (06/03/2018) membersihkan teroris dari pusat kota Sharan di wilayah barat laut Afrin, Suriah, menurut koresponden Anadolu Agency di lapangan.

Pasukan Turki dan FSA membebaskan tiga desa lagi, termasuk Khirabat Sharanli, Sharanli dan Shirkan yang terletak di barat laut Afrin.

Juga pada hari Selasa, desa Tall Hamu di distrik Jinderes barat daya dan desa Metina di distrik Sharan dibebaskan dari milisi YPG dukungan AS.

Kemudian di hari itu, desa Qatma, juga di distrik Sharan, juga dibebaskan oleh militer Turki dan FSA.

Pada 26 Februari, sebuah koridor berbentuk bulan sabit, membentang di sepanjang provinsi Idlib di barat laut dan distrik Azaz di Aleppo, memotong koneksi milisi YPG ke perbatasan Turki.

924 Target Militer Teror Dukungan AS Dihancurkan Turki

Sejak peluncuran Operation Olive Branch pada 20 Januari, militer Turki dan FSA telah membebaskan 150 lokasi, termasuk 120 desa, 30 wilayah strategis, dan satu basis YPG/PKK.

Menurut Staf Umum Turki, operasi yang diluncurkan untuk membebaskan teroris dukungan AS YPG/PKK dari Afrin, bertujuan untuk membangun keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan dan wilayah Turki serta untuk melindungi penduduk Suriah dari penindasan dan kekejaman teroris.

Operasi tersebut dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, resolusi Dewan Keamanan PBB, hak pembelaan diri berdasarkan piagam PBB, dan penghormatan terhadap integritas teritorial Suriah.

Otoritas militer dan Turki telah berulang kali mengatakan bahwa operasi tersebut hanya menargetkan unsur-unsur militer dan “perhatian sepenuhnya” diambil untuk menghindari bahaya terhadap warga sipil manapun.

Korban Tewas di Ghouta Akibat Serangan Brutal Rezim Assad dan Rusia Capai 800 Orang

GHOUTA TIMUR (Jurnalislam.com) – Lebih dari dua pekan pemboman brutal rezim Syiah dan Rusia di daerah Ghalda yang dikuasai oposisi Suriah telah menyebabkan 800 warga sipil tewas, sebuah kelompok pemantau mengatakan pada hari Selasa (06/03/2018) dalam sebuah laporan korban baru, lansir kantor berita AFP.

The Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) mengatakan sedikitnya 177 anak termasuk di antara korban tewas.

Pasukan rezim Syiah Assad yang didukung agresor Rusia melancarkan serangan kejam mereka di Ghouta Timur, benteng oposisi terakhir di dekat Damaskus, pada 18 Februari.

Sedikitnya sembilan warga sipil dilaporkan tewas sebelumnya pada hari Selasa di Ghouta Timur Suriah saat serangan udara rezim dan bentrokan mengguncang daerah kantong oposisi di luar Damaskus, seorang koresponden SOHR dan AFP mengatakan.

WHO: Konvoi Bantuan Obat-obatan dan Peralatan Medis ke Ghouta Disita Rezim Assad

Serangan udara rezim Nushairiyah menewaskan sembilan warga sipil di kota Jisreen pada hari Selasa pagi, kata the Syrian Observatory for Human Rights yang berbasis di Inggris.

Dengan laporan kematian terakhir itu, 95 warga sipil terbunuh dalam pemboman rezim Assad di daerah kantong yang sudah babak belur sejak Senin pagi, katanya.

Pasukan rezim yang didukung Rusia terus maju sejak melancarkan serangan ke kubu oposisi utama terakhir di dekat ibu kota tersebut pada 18 Februari.

Pada awal Selasa, mereka menguasai sekitar 40 persen wilayah kantong tersebut setelah merebut daerah lebih jauh dalam semalam, kata Observatorium.

Observatorium ini melaporkan bentrokan hari Selasa di timur laut, tengah dan tenggara daerah kantong.

Sebanyak lebih dari 780 warga sipil – termasuk 170 anak – telah terbunuh di Ghouta Timur sejak 18 Februari, menurut Observatorium.

Pesawat Tempur Rusia jatuh di Suriah, 39 Tentara Tewas Seketika

400.000 penduduk di kantong itu telah dikepung sejak tahun 2013, menghadapi kekurangan makanan dan obat-obatan yang parah bahkan sebelum serangan terakhir. Pengiriman bantuan pada hari Senin harus ditunda akibat pertempuran yang terus berlanjut.

Pesawat tempur rezim menyerang daerah-daerah lain di Ghouta Timur termasuk kota utama Douma dini hari Selasa, serta kota-kota Sabqa dan Hammuriyeh semalam, kata Observatorium.

Serangan terhadap Douma merubah rumah menjadi tumpukan reruntuhan di sisi jalan, kata seorang koresponden AFP di sana.

Seorang reporter AFP di Hammuriyeh mengatakan serangan udara semalam menargetkan kota tersebut. Hanya beberapa penduduk yang muncul dari ruang bawah tanah mereka yang aman.

Senin malam, Observatorium melaporkan 18 orang mengalami kesulitan bernafas menyusul serangan oleh sebuah pesawat militer di Hammuriyeh, tanpa dapat menentukan penyebab penyakit tersebut.

Lebih dari 450.000 orang telah terbunuh di Suriah sejak dimulainya perang global di tahun 2011.

Serangan Koalisi Arab desak Pasukan Besar Houthi ke Pinggir Kota Haradh

YAMAN (Jurnalislam.com) – Pasukan Koalisi Arab mendorong pasukan besar Syiah Houthi ke perbatasan kota Haradh di provinsi Hajjah, barat laut Yaman, Al Arabiya melaporkan Selasa (6/3/2018).

Menurut sumber militer, unit Saudi telah mendorong sebuah brigade militer ke pinggir kota Haradh sebagai bagian dari operasi militer untuk mengakhiri kontrol milisi Houthi di kota tersebut.

Kedatangan pasukan Saudi bertepatan dengan peluncuran operasi militer melawan milisi Syiah Houthi di kota tersebut dengan partisipasi terbatas pasukan Sudan dan Yaman dari zona militer kelima.

Masjid Bersejarah Abad ke 8 Dibombardir Syiah Houthi Yaman dengan Artileri

Front Saada dan Hajjah menyaksikan bentrokan dan tembakan artileri dari pasukan the National Army, yang didukung oleh the Joint Saudi Forces, yang menargetkan posisi dan pertahanan milisi Houthi.

Pemboman tersebut bertepatan dengan penerbangan pesawat koalisi Arab, yang melakukan sejumlah serangan menargetkan milisi Syiah Houthi di jalan internal di Saada dan Jouf.

Di bagian timur Saada, tim teknik dari the National Army dapat membongkar sekitar 150 ranjau dan alat peledak yang ditanam oleh milisi Houthi, dengan dukungan teknis dari pasukan koalisi.

WHO: Konvoi Bantuan Obat-obatan dan Peralatan Medis ke Ghouta Disita Rezim Assad

JENEWA (Jurnalislam.com) – Pejabat World Health Organization (WHO) dan the UN Children’s Fund (UNICEF) mengumumkan pada hari Selasa (6/3/3018) bahwa peralatan medis penting dan obat-obatan dilarang masuk oleh petugas kesehatan rezim Suriah dan dikeluarkan dari konvoi sebelum mereka memasuki daerah kantong yang terkepung.

Christophe Boulierac, juru bicara UNICEF, mengatakan bahwa pejabat kesehatan rezim Suriah juga memindahkan peralatan medis penting dari persediaan UNICEF, terutama perlengkapan bedah, kebidanan, dan untuk pertama kalinya, barang-barang yang digunakan untuk penyakit diare, lansir Aljazeera.

Pejabat WHO, Tarik Jasarevic, juga mengkonfirmasi penyitaan sekitar 70 persen pasokan dalam pengirimannya, termasuk “antara lain persediaan pengobatan trauma dan bedah, juga insulin.”

Terhenti oleh Serangan Brutal Rezim Assad, Tim Bantuan Kemanusian Lanjutkan Pengiriman Besok

“WHO merasa perlu untuk mengirimkan kembali daftar barang yang ditolak dalam konvoi berikutnya. Namun, jelas bahwa satu konvoi tidak cukup, dan banyak orang perlu dievakuasi untuk mendapatkan perawatan medis yang mendesak.”

Jasarevic mengatakan bahwa tahun lalu, 50 ton dari total 130 bantuan ditolak.

Staf UNICEF di konvoi mengatakan bahwa krisis di daerah kantong sangat banyak.

“Mereka melaporkan bahwa kemarahan dan ketakutan keluarga di sana sangat terasa,” kata Boulierac.

Hingga Kemarin Rezim Syiah Assad Tetap Bantai Warga Sipil Ghouta, 38 Tewas

“Keluarga-keluarga itu telah hidup secara amat sangat prihatin di lapangan hampir selama empat pekan terakhir ini. Tinggal di ruang bawah tanah telah menjadi kebiasaan, beberapa diantaranya berisi hingga 200 orang, karena sejumlah keluarga yang melarikan diri dari wilayah lain tiba di Douma untuk berlindung.”

Warga tidak memiliki akses terhadap air bersih dan mereka mencari pompa yang dioperasikan secara manual untuk menarik air dari sumur dangkal.

Sanitasi adalah tantangan besar, kata Boulierac, dimana para keluarga itu harus menggunakan ember dan toilet darurat di ruang bawah tanah.

Terhenti oleh Serangan Brutal Rezim Assad, Tim Bantuan Kemanusian Lanjutkan Pengiriman Besok

JENEWA (Jurnalislam.com) – PBB akan mencoba untuk melanjutkan pengiriman makanan dan pasokan kesehatan ke kota Douma di Ghouta Timur Suriah pada Kamis tanggal 8 Maret jika memungkinkan, pejabat PBB mengumumkan.

Seorang juru bicara PBB mengatakan pada hari Selasa (6/3/2018) bahwa sebuah konvoi bantuan kemanusiaan yang membawa persediaan makanan dan kesehatan untuk 75.000 orang hanya sebagian yang dapat membongkar isinya pada hari Senin, karena tembakan berat dari dan ke Ghouta Timur masih terus berlanjut, memaksa konvoi untuk mundur, Aljazeera melaporkan.

Ghouta Timur, pinggiran ibukota, Damaskus, dikepung oleh pasukan rezim Syiah Suriah sejak 2013, saat mereka berusaha mengusir oposisi bersenjata yang beroperasi di sana.

Tapi saat perang di Suriah, yang dimulai pada 2011, semakin meningkat, 400.000 penduduk Ghouta Timur, seperti banyak daerah yang terkepung di seluruh negeri oleh Rezim Nushairiyah.

46 Truk Kemanusian Memasuki Ghouta Timur Namun 70% Obat-obatan Disita Rezim Assad

Pada hari Senin, badan-badan bantuan berusaha memfasilitasi masuknya persediaan makanan dan obat-obatan, yang belum diizinkan memasuki daerah kantong selama hampir sebulan, membuat banyak orang menderita kelaparan dan membutuhkan perawatan medis mendesak di tengah penembakan terus-menerus.

Sebanyak 10 truk dari total 46 berhasil menurunkan seluruh muatannya, dan empat truk hanya berhasil menurunkan sebagian muatannya, kata Jens Laerke, juru bicara Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan.

Konvoi tersebut mendistribusikan makanan yang cukup bagi 27.500 orang, selain obat-obatan, kata Laerke, ketika dipaksa untuk memotong perjalanan.

“Truk-truk itu masuk jam 2 siang, dan sekitar sembilan jam saat masih menurunkan muatan, penembakan brutal dari Damaskus ke Ghouta dan dari Ghouta ke Damaskus tidak pernah berhenti,” kata Laerke.

“Karena sangat khawatir dengan kondisi di lapangan, mereka memutuskan pergi untuk melindungi tim di lapangan. Kami tetap siap untuk memberikan bagian kedua dari bantuan tersebut pada hari Kamis seperti yang direncanakan.”

Pesawat Tempur Rusia jatuh di Suriah, 39 Tentara Tewas Seketika

MOSKOW (Jurnalislam.com) – Pesawat tempur Rusia An-26 jatuh di Suriah saat mendarat di bandara Khmeimim, menewaskan 39 orang di dalamnya, menurut Kementerian Pertahanan Rusia pada hari Selasa (06/03/2018).

Sebelumnya, kementerian tersebut menyebutkan korban tewas sejumlah 32 orang, namun kemudian merevisinya, lansir Anadolu Agency.

Pesawat Rusia Jatuh di Moskow, 71 Penumpang Tewas

Sebanyak 33 penumpang dan enam awak yang berada di atas pesawat, semuanya adalah prajurit Angkatan Bersenjata Rusia, kata kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan tertulis. Tewas Seketika, tak satu pun dari mereka bertahan, tambahnya.

Komite investigasi Rusia membuka sebuah kasus kriminal setelah kecelakaan di Suriah tersebut.

Sebelumnya, kementerian itu mengatakan bahwa pesawat tersebut menabrak tanah hanya 500 meter dari landasan pacu.

Mujahidin HTS Tembak Jatuh Pesawat Tempur Rusia di Idlib

Kegagalan teknis dianggap sebagai alasan kecelakaan, tambahnya.

Komisi khusus Kementerian Pertahanan memeriksa semua kemungkinan penyebab terjadinya kecelakaan itu.

Ribuan Warga Kashmir Turun ke Jalan Hadapi Tentara India

KASHMIR (Jurnalislam.com) – Puluhan ribu pengunjuk rasa yang marah tumpah ke jalan-jalan di Kashmir yang dijajah India, melemparkan batu dan meneriakkan slogan-slogan anti-India setelah tentara membunuh empat warga sipil dan dua pejuang Muslim Kashmir.

Protes pada hari Senin (5/3/2018) terutama berpusat di sekitar kota Shopian, tempat penembakan tersebut terjadi. Tidak ada laporan langsung tentang kematian atau luka-luka selama demonstrasi, yang oleh pasukan India ditanggapi dengan tembakan gas air mata, lansir Aljazeera.

Penembakan semalam di sebuah pos pemeriksaan militer tampaknya akan memicu lebih banyak kerusuhan di wilayah yang dalam beberapa tahun terakhir telah mengalami serangan pemberontakan baru dan demonstrasi publik berulang terhadap pemerintah India.

6 Tentaranya Tewas oleh Mujahidin Kashmir, India Justru Ancam Pakistan

Pihak berwenang menempatkan bagian-bagian wilayah tersebut di bawah penguncian setelah penembakan Ahad malam, mengerahkan tentara dan polisi anti huru hara, menutup sekolah dan layanan internet, dan memerintahkan orang-orang di jalanan di beberapa daerah untuk menggagalkan demonstrasi.

Namun kemarahan yang meluas, bersamaan dengan pemakaman enam korban dan seruan separatis untuk menghentikan bisnis, membantu memicu demonstrasi yang marah.

Masalahnya dimulai pada Ahad larut malam, ketika pejabat mengatakan sebuah mobil menolak untuk berhenti di sebuah pos pemeriksaan di luar sebuah pangkalan militer Shopian dan para pejuang di dalamnya menembaki tentara tersebut.

Juru bicara militer India Kolonel Rajesh Kalia mengatakan seorang pejuang dan tiga warga sipil terbunuh saat tentara melepaskan tembakan. Mayat warga sipil keempat ditemukan di sebuah mobil di dekatnya, kata beberapa pejabat, dan mayat seorang pejuang lainnya ditemukan beberapa kilometer jauhnya. Pihak berwenang mengatakan dia terluka dalam penembakan tersebut dan meninggal kemudian.

Kalia menyebut warga sipil yang terbunuh tersebut sebagai “pekerja darat (over-ground workers)” – sebuah istilah yang digunakan militer India untuk orang-orang yang memberi dukungan kepada pejuang Kashmir.

Namun polisi berhati-hati untuk tidak menggunakan istilah itu, hanya menyebut mereka sebagai “pemuda” dan mengatakan bahwa mereka sedang menyelidiki insiden tersebut.

Pejabat tinggi Kashmir terpilih, Menteri Utama Mehbooba Mufti, menyebut mereka “warga sipil”. Dalam sebuah tweet, Mufti mengatakan bahwa dia “sangat tertekan oleh lebih banyak kematian warga sipil yang terjebak dalam baku tembak di Shopian.”

Tapi di seluruh wilayah, kebanyakan penduduk percaya mereka semua dibunuh dengan tangan dingin. Prajurit-prajurit “bahkan menembak bayang-bayang, dan mereka menggunakan segala taktik untuk menekan orang-orang,” kata Bashir Ahmed, seorang penduduk Shopian.

Mujahidin Kashmir Serang Kamp Militer India, 4 Tentara Tewas

Pemimpin separatis teratas Mirwaiz Umar Farooq menyebut laporan versi tentara tersebut sebagai “propaganda dan kebohongan” dan mengatakan bahwa tentara tersebut telah “melepaskan kekacauan” di Shopian.

Pihak berwenang memotong layanan internet ponsel di kota-kota yang paling bergolak, dan mengurangi kecepatan koneksi di bagian lain Lembah Kashmir, sebuah praktik sama pemerintah untuk mencegah diorganisirnya demonstrasi anti-India.

Di salah satu pemakaman, tentara melepaskan tembakan ke udara untuk membubarkan ribuan pelayat di sebuah desa di daerah Shopian. Tidak ada yang dilaporkan terluka.

Pada bulan Januari, demonstrasi anti-India meletus di Kashmir setelah tentara membunuh tiga warga sipil selama bentrokan di wilayah yang sama.

Aktivis hak asasi manusia menuduh tentara India di Kashmir secara rutin menyalahgunakan kekuasaan mereka, membunuh warga sipil dalam konfrontasi bertahap untuk promosi atau penghargaan.

Kashmir terbagi antara Pakistan dan India, namun kedua negara mengklaim seluruh wilayah tersebut.

Pejuang Muslim Kashmir telah memerangi peraturan India sejak tahun 1989, menuntut Kashmir dijadikan bagian dari Pakistan atau menjadi negara merdeka. India menuduh Pakistan mempersenjatai dan melatih pejuang, tuduhan yang disangkal Pakistan.

Hampir 70.000 orang terbunuh dalam konflik tersebut akibat tindakan militer India pada waarga Kashmir.