Turki dan PBB Kirim 26 Truk Bantuan Kemanusian ke Benteng Mujahidin di Idlib

TURKI (Jurnalislam.com) – Sebuah lembaga bantuan Turki dan PBB mengirim 26 truk pasokan bantuan kemanusiaan ke wilayah oposisi di kota Idlib Suriah barat laut pada hari Rabu (28/3/2018).

Pejabat Otoritas Dinas Bencana dan Darurat Turki (Disaster and Emergency Management Authority-AFAD) mengatakan bahwa mereka mengirim enam truk yang membawa tempat tidur, tenda, dan kontainer.

Menuju Benteng Mujahidin di Idlib, Begini Perkembangan Terakhir Evakuasi di Ghouta

Para pejabat, yang berbicara dengan syarat anonimitas karena pembatasan berbicara dengan media, mengkonfirmasi truk memasuki wilayah Suriah dari Turki pada hari Rabu melalui gerbang perbatasan Cilvegozu di provinsi Hatay, Turki selatan.

Seorang koresponden Anadolu Agency di wilayah itu mengatakan bahwa 20 truk bantuan PBB tambahan juga melintasi perbatasan pada hari Rabu menuju Idlib.

Analisis: Turki Perhitungkan Kekuatan Hayat Tahrir al Sham di Idlib

Bantuan itu akan dibagikan kepada keluarga Suriah yang tinggal di pedesaan Idlib, kata koresponden.

Suriah tetap terkunci dalam konflik dahsyat yang dimulai pada 2011 ketika rezim Syiah Nushairiyah Bashar al-Assad membantai para aksi unjuk rasa dengan keganasan militer yang tidak terduga.

Menurut pejabat PBB, ratusan ribu orang tewas dalam konflik itu.

Hadapi Aksi ‘Land Day’ Militer Zionis Tempatkan 100 Penembak Jitu di Perbatasan Gaza

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Militer Israel menempatkan lebih dari 100 penembak jitu, dengan kondisi untuk menembak, di perbatasan Gaza, sebelum berlangsungnya aksi unjuk rasa warga Palestina yang direncanakan di dekat perbatasan Gaza dengan Israel, kata jenderal tertinggi zionis dalam wawancara yang diterbitkan pada hari Rabu (28/3/2018).

“Kami telah mengerahkan lebih dari 100 penembak jitu dari semua unit militer, terutama dari pasukan khusus … Jika nyawa dalam bahaya, ada izin untuk melepaskan tembakan,” Letnan Jenderal Gadi Eizenkot, kepala militer staf, mengatakan kepada koran the Israel Yedioth Ahronoth, lansir Aljazeera.

Protes tahunan “Hari Tanah (Land Day)” akan dimulai pada 30 Maret. Land Day adalah hari simbolis di mana enam warga Arab Israel dibunuh oleh pasukan Israel selama demonstrasi pada tahun 1976 atas pencaplokan tanah oleh Israel.

Dua Serdadu Israel Tewas dalam Bentrokan Hari Jumat dengan Rakyat Palestina

Protes selama enam pekan tersebut adalah untuk hak kembalinya para pengungsi Palestina ke rumah mereka di tempat yang sekarang dikuasai oleh penjajah Israel.

Protes ini akan berakhir pada 15 Mei, hari yang disebut warga Palestina sebagai “Nakba” atau “Bencana”, menandai perpindahan ratusan ribu warga Palestina dalam konflik yang mengelilingi pembentukan Israel pada tahun 1948.

Palestina telah lama menuntut bahwa sebanyak lima juta keturunan langsung dari para pengungsi Palestina asli diberikan hak untuk kembali ke rumah leluhur mereka. Israel mengesampingkan hal ini, dengan alasan bahwa kembalinya orang Palestina ke tempat yang sekarang bernama Israel akan melebihi jumlah warga Yahudi.

Ancam Zionis, Jubir al Qassam: Kami Siap Lawan Serangan Laut, Darat dan Udara Israel

Aksi protes ini didukung oleh beberapa partai politik Palestina, termasuk Hamas, kata penyelenggara.

Diharapkan bahwa ribuan orang di Gaza yang terkepung akan berkumpul di kota-kota tenda di lima lokasi di sisi perbatasan Palestina, jauh dari zona “no go“.

Militer Israel memaksakan zona “no go” bagi warga Palestina di daratan Gaza yang berbatasan dengan perbatasan Israel yang berpagar.

Para demonstran Palestina di perbatasan di sisi Gaza telah sering dikonfrontasi oleh tentara Israel menggunakan gas air mata, peluru karet dan peluru tajam.

Turki Segera Lancarkan Operasi Militer ke Manbij Jika

ANKARA (Jurnalislam.com) – Turki pada Rabu (28/3/2018) memperingatkan akan mengambil tindakan di wilayah Manbij utara Suriah, jika belum bersih dari milisi YPG, lansir Anadolu Agency.

Dewan Keamanan Nasional (The National Security Council) bertemu di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan di ibukota Ankara.

Pernyataan tertulis dirilis setelah pertemuan.

Milisi Dukungan AS akan Keluar dari Manbij, Menlu Turki: Tidak Cukup Hanya Itu

“Dinyatakan [selama pertemuan] bahwa teroris di Manbij harus dikeluarkan dari wilayah itu sesegera mungkin, atau jika tidak Turki akan mengambil inisiatif,” kata sebuah pernyataan.

Ia menambahkan bahwa Turki juga akan “mengambil tindakan” jika Irak gagal menghentikan kegiatan kelompok teroris PKK di wilayahnya.

Sehari Bersama Politikus Islam

“Politik itu kotor dan kejam.” Mungkin itu pandangan sebagian besar masyarakat terhadap politik. Sebab memang, dewasa ini dunia politik sedang disorot oleh jutaan pasang mata warga Indonesia. Kasus korupsi yang merajalela, apalagi dilakukan oleh seorang pimpinan tinggi perwakilan rakyat di DPR-RI. Sampai grafik naiknya hutang Indonesia yang disebut-sebut sampai 4.928 T berikut dengan kenaikan harga dollar yang hampir mencapai 14000 rupiah dan diprediksi akan mengalami kenaikan.

Namun, berbeda dengan cara pandang politikus asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Banten yang satu ini. Ia menganggap politik itu tidak seperti itu, politik itu sebenarnya tergantung kepada siapa yang memegang. Jadi jika tidak benar, yah bukan masalah politiknya, tapi orangnya.

Namanya, Juheni M Rois, lahir di Ciruas, Serang pada 1967 lalu. Ia menekuni dunia perpolitikan sejak jaman orde baru. Jaman Jenderal bintang 4 yang memimpin dan terkenal ‘galak’ terhadap aktifis tukang kritis.

Tepatnya pada awal tahun 90an, ia aktif dalam menjalankan fungsi kontrol masyarakat terhadap pemerintah, hingga tahun 1998 Partai Keadilan (PK) berdiri, ia masuk dan menjadi pimpinan di daerahnya.

Dalam perjalanan tersebut ia menerapkan sistem dakwah Islam dalam perpolitikannya. Menurutnya Islam tidak dapat dipisahkan dengan politik.

“Jadi sebetulnya berpolitik bukan sebuah kesengajaan tapi sebuah tuntutan. Berpolitik diawali dengan dakwah, di kampus, masjid-masjid. Otomatis politik dan Islam tidak bisa dipisahkan,” jelasnya di kediamannya di Serang, Rabu (28/3/2018).

Bukti dari nilai Islam yang dia selalu teguhkan, ia bersama temannya mendirikan sekolah berbasis Islam di daerah Serang, Banten bernama Al Izzah pada tahun 1996 lalu, bertahan dan berkembang hingga kini.

 

Teladan Peduli Sosial

Selain berpolitik hingga sempat mencicipi bangku perwakilan rakyat, ayah dengan 6 orang anak ini juga peduli terhadap sosial. Terutama isu global yang menimpa rakyat Palestina dan daerah konflik yang membutuhkan banyak sekali bantuan.

Berawal dari Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) hingga menjadi ketua Yayasan Sahabat Palestina Memanggil (SPM) diambilnya penuh resiko dan tantangan. Resiko mungkin akan dirasakannya pada saat penyaluran bantuan langsung di daerah konflik, atau tantangan untuk membuat rakyat Indonesia peduli dengan Negara yang tercatat berperan besar dalam berdaulatnya Merah Putih.

“Tidak bisa diam ketika melihat umat,” ungkapnya ditemani desir angin di sekitar saung diatas kolam itu.

Puncaknya pada tahun lalu, di bulan suci umat Islam. Ia bersama timnya rela untuk berkemas untuk melompat ke Negeri penuh konflik tersebut.

“Alhamdulillah Romadhon kemarin saya mengirimkan bantuan kepada teman-teman Palestina melalui Lebanon, Yaman, dan Turki langsung,” ucapnya tegas.

Sebelum jauh untuk memberikan bantuan, ia tidak pernah menyerah menginspirasi masyarakat untuk peduli terhadap Palestina. Setidaknya ada dua cara yang ia lakukan untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah yang gemar disimpan oleh warga ditimbang melakukan investasi akhirat.

Yang pertama ia melakukan edukasi. Setidaknya setiap bulan suci ia kerap mendatangkan ulama Palestina untuk menceritakan kondisi riil dari Palestina di berbagai tempat, seperti kampus, masjid bahkan tempat-tempat kerja yang bersedia untuk didatangi.

Selanjutnya, ia melakukan agenda dengan kegiatan konser amal. Menurutnya, ini cara yang cukup efektif untuk menginspirasi masyarakat guna berbagi. Ketua Ikatan Dai Indonesia atau IKADI Serang ini menggaet Event Organizer untuk mendatangkan artis peduli Palestina. Yang terakhir adalah Opik dan Melly Goeslaw.

Respon yang diterima masyarakat sangat antusias. Buktinya, milyaran rupiah yang dikonversi menjadi bentuk-bentuk bantuan sudah diterima warga Palestina yang sangat bergantung kepada bantuan ini. Pun dengan Rohingya, sama perlakuannya untuk semua negara konflik yang notabene rakyatnya butuh bantuan.

Meski begitu, ia tetap menyayangkan sikap pemerintah untuk Palestina dan kemanusiaan lain. Pemerintah dinilainya masih ‘malu-malu’ untuk sekadar membantu. Tidak seperti negara tetangga yang sampai memberikan biaya pendidikan gratis untuk ribuab warga Palestina.

“Kalau Indonesia rakyatnya mendukung tapi pemerintahnya malu-malu,” papar dia lirih.

 

Saatnya menjadi masyarakat cerdas Politik

Yang lalu biarkanlah berlalu, mungkin satu kalimat terkenal ini bisa masih relevan untuk diterima. Namun, masyarakat jaman now harus cerdas melihat politik. Lebih baik lagi terlibat aktif dalam politik.

“Masyarakat sekarang harus cerdas untuk memilih, dukunglah yang memperjuangkan nilai Islam. Pilihlah wakil-wakil Anda yang memperhatikan umat Islam,” celotehnya.

Ia bergumam, jika saja para praktisi politik itu amanah dan benar memikirkan rakyat, tidak mungkin contoh diatas terjadi. Ini bermula dari pemilihan yang tidak baik oleh rakyat sendiri. Rakyat lebih memilih warna biru dan merah dibanding warna putih hati nurani. Padahal jika dikonversi dalam 5 tahun kekuasaan, sangat rendah sekali harga yang diberikan.

“Orang-orang yang baik itu harus berkuasa, Islam harus berkuasa. Kalau tidak, orang-orang yang tidak berkompeten akhirnya masuk dan merusak tatanan masyarakat,” kritiknya.

Sebab memang, semua lini kehidupan ada unsur perpolitikan didalamnya. Mulai dari pendidikan, kesejahteraan dan yang lain sebagainya diatur oleh eksekutor politik.

Begitulah kehidupan, baik dan buruknya tergantung siapa dan apa yang dijadikan tujuannya. Begitu juga dengan negara, maju dan berkembangnya negara kepulauan ini bagaimana sang penguasa. Seperti kutipan ketua bidang BPU DPW PKS Banten dan pengurus MUI Serang ini di akhir obrolannya: “Manusia itu baik karena baiknya agama raja-raja mereka, penguasa-penguasa mereka.”

Warga Tal Rifaat Desak Militer Turki Bebaskan Kotanya dari Milisi Dukungan AS, YPG

AZAZ (Jurnalislam.com) – Penduduk setempat di kota Tal Rifaat di Aleppo utara Suriah dan banyak anggota Tentara Pembebasan Suriah (Free Syrian Army-FSA) meminta Turki untuk membantu membebaskan tanah mereka dari milisi dukungan AS, YPG.

Sekitar 500 orang dari Tal Rifaat – termasuk warga sipil dan anggota FSA, dan orang-orang yang dipaksa untuk melarikan diri oleh paasukan YPG – meminta Turki untuk memperpanjang Operasi Olive Branch saat ini dari Afrin ke Tal Rifaat.

Mahmoud Allito, kepala dewan lokal Tal Rifaat di kota terdekat Azaz, mengatakan kepada Anadolu Agency, Selasa (27/3/2018): “PKK merebut wilayah tersebut pada tahun 2016. Lebih dari 50 desa diduduki menyusul serangan PKK. Di tengah serangan teror berat, keluarga terpaksa melarikan diri ke perbatasan Turki … Hampir 250.000 warga sipil terpaksa mengungsi dari wilayah itu.”

Mengenai signifikansi Tal Rifaat, Allito mengatakan: “Tal Rifaat berbatasan dengan wilayah yang dikuasai rezim. Para teroris telah menduduki wilayah itu dan menyita hasil panen penduduk setempat … Di sini [Tal Rifaat] penting bagi mereka [YPG] dalam membangun ‘negara’ mereka di sepanjang perbatasan Turki-Suriah.”

Mendekati Manbij, Operasi Militer Turki Kini Berlanjut ke Tal Rifaat

“Pembebasan Tal Rifaat penting untuk stabilitas wilayah Operasi Perisai Eufrat,” tambahnya, mengacu pada operasi Turki yang sukses di 2016-2017 untuk membersihkan wilayah teroris.

Allito menekankan bahwa banyak penduduk Tal Rifaat memilih untuk tinggal di tenda-tenda di Azaz daripada diperintah oleh teroris YPG, cabang teroris PKK Suriah.

Dia mengatakan: “Kami berharap saudara-saudara Turki kami dan FSA melanjutkan operasi mereka dan membebaskan Tal Rifaat dan wilayah sekitarnya dari para milisi PKK yang menduduki.”

AS Bentuk 30.000 Pasukan Teror di Suriah, Erdogan: Tenggelamkan!

Bashar Allito, kepala biro dewan militer Tal Rifaat, mengatakan Tal Rifaat adalah wilayah pertama yang bergabung dengan pergerakan.

“Dewan lokal dan militer mengambil semua langkah yang diperlukan jika penduduk Tal Rifaat sewaktu-waktu dapat kembali ke rumah,” tambahnya.

Dia mengatakan para ektrimis YPG telah menjarah semua milik warga sipil di wilayah tersebut.

Jawdat Dirbas, seorang warga Suriah yang terpaksa melarikan diri, mengatakan: “PKK memaksa kami meninggalkan Tal Rifaat dan kami sudah berada di kamp selama dua tahun … Kami berterima kasih kepada FSA dan tentara Turki dan berharap mungkin suatu hari mereka akan membantu kami kembali ke rumah.”

Abdurrahman Abu Ali memanggil tentara Turki untuk melanjutkan Operasi Olive Branch, dengan harapan kembali ke rumah.

Turki meluncurkan Operation Olive Branch pada 20 Januari untuk membersihkan kelompok-kelompok teroris dari Afrin, Suriah barat laut di tengah meningkatnya ancaman dari kawasan itu.

Pada hari Selasa, warga Tal Rifaat berdemonstrasi, meneriakkan slogan-slogan melawan kelompok teroris YPG dan berterima kasih kepada Turki atas operasinya di Afrin.

Membawa bendera Turki dan FSA, mereka juga memegang spanduk yang mengatakan: “Kami menantikan operasi Free Syrian Army yang didukung oleh Angkatan Bersenjata Turki di Tal Rifaat.”

Pada awal 2016, milisi YPG menggunakan dukungan serangan udara intens Rusia pada saat hubungan dengan Turki menegang, dan memiliki kesempatan untuk menyebar ke tenggara Afrin.

Selama invasi Tal Rifaat, YPG memaksa sekitar 250.000 orang Arab keluar. Penduduk kota mencari perlindungan di Azaz, yang bersebelahan dengan daerah Perisai Eufrat dan di bawah kendali oposisi.

Para teroris mulai mengakomodasi keluarga Kurdi di Tal Rifaat yang mereka bawa dari Afrin. Saat ini, sekitar 15.000-20.000 suku Kurdi dan Arab tinggal di distrik itu, tetapi hanya 700-800 dari mereka adalah warga Arab Tal Rifaat.

Pada hari Ahad, Presiden Recep Tayyip Erdogan berkata tentang Operation Olive Branch: “In sya Allah, kami akan mencapai tujuan operasi ini dengan mengambil alih Tal Rifaat dalam waktu singkat.”

Pada hari Sabtu, warga Tal Rifaat mengadakan unjuk rasa lain menyerukan operasi militer Turki melawan kelompok teroris YPG di kota.

Inilah Perbandingan Kerusakan Kota Akibat Operasi Militer oleh Turki, Rusia, AS dan Suriah

warga sipil Tal Rifaat

Begini Tanggapan Raja Salman Setelah Ibukotanya Ditarget Rudal Syiah Houthi

RIYADH (Jurnalislam.com) – Raja Saudi Salman pada hari Selasa (27/3/2018) menegaskan bahwa Arab Saudi akan menanggapi dengan tegas upaya apa pun yang mengancam keamanannya.

Arab Saudi menegaskan setelah menghancurkan tujuh rudal yang diluncurkan ke wilayahnya Ahad malam dimana milisi Syiah Houthi mengekspos intervensi dan peran destruktif Iran yang terus berlanjut, lansir Al Arabiya.

Raja Salman menyampaikan terima kasih dan penghargaannya kepada para pemimpin negara-negara persaudaraan atas kecaman mereka terhadap serangan rudal milisi Houthi yang didukung Iran yang diluncurkan ke arah Kerajaan pada Ahad malam.

Pertahanan Sipil Saudi menyatakan bahwa seorang warga Mesir tewas dan dua lainnya terluka di Riyadh, menyusul jatuhnya pecahan peluru kendali rudal Houthi.

Gerilyawan Houthi yang berhaluan Iran menembakkan tiga rudal ke Riyadh dan empat rudal lainnya di kota-kota selatan yaitu Khamis Mushait, Jizan dan Najran, yang menurut koalisi semuanya mengincar kawasan padat penduduk.

Turki Dukung Afghanistan untuk Perundingan Tanpa Syarat dengan Taliban

TURKI (Jurnalislam.com) – Menteri luar negeri Turki pada hari Selasa (27/3/2018) menyambut seruan Afghanistan untuk negosiasi tanpa syarat dengan Taliban, lansir World Bulletin.

“Kami menyambut panggilan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani untuk memulai negosiasi dengan Taliban tanpa prasyarat,” kata Mevlut Cavusoglu, sambil berbicara pada Konferensi Tashkent mengenai Afghanistan (the Tashkent Conference on Afghanistan) di ibukota Uzbekistan.

Pada bulan Februari, presiden Afghanistan menawarkan sebuah cabang zaitun kepada Taliban, yang telah mengobarkan perjuangannya di negara itu sejak invasi AS dan NATO, dalam 17 tahun terakhir.

Ratusan Petugas Pemerintah Afghanistan Tewas dan Terluka dalam Serangan Bom di Kabul

Ghani mengatakan gencatan senjata akan diberlakukan, kerangka politik akan dibentuk, dan langkah-langkah akan diambil untuk membebaskan tahanan Taliban.

Mevlut Cavusoglu

“Kami menginginkan semua kelompok di Afghanistan mengakui pemerintah Afghanistan, mengutuk kekerasan dan menjadi bagian dari politik yang sah,” tambah Cavusoglu.

Dia menekankan perlunya partisipasi mitra regional dan internasional dalam proses rekonsiliasi.

Cavusoglu juga menyuarakan dukungan Turki untuk Afghanistan yang stabil, aman dan sejahtera, mengingatkan dukungan keuangan Turki senilai 1 miliar dolar sejak tahun 2001.

Kemenangan Taliban Meningkat, NATO Kirim 3.000 Pasukan Tambahan ke Afghanistan

Berbicara pada konferensi yang sama, Menlu Rusia Sergey Lavrov menggarisbawahi pentingnya dialog konstruktif antara Aghanistan dan Taliban untuk perdamaian dan stabilitas di negara tersebut.

Kepala urusan kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, menggambarkan seruan Ghani untuk Taliban tersebut sebagai tawaran berani dan konkrit, dan menyebutnya sebagai peluang teladan untuk perdamaian.

Ini Alasannya, Mengapa Puluhan Negara Serentak Usir Diplomat Rusia

LONDON (Jurnalislam.com) – Puluhan negara telah memerintahkan pengusiran lebih dari 100 diplomat Rusia saat meningkatnya sengketa diplomatik besar antara Rusia dan Inggris karena kasus serangan zat beracun, Aljazeera melaporkan Selasa (27/3/2018).

Australia, Kanada, Amerika Serikat dan 23 negara Eropa pada hari Senin dan Selasa mengumumkan bahwa mereka akan mengusir 121 diplomat Rusia selama pekan mendatang.

Pengumuman itu muncul beberapa hari setelah Inggris mengusir 23 pejabat Rusia karena menuduh Rusia atas dugaan serangan terhadap mantan agen ganda Sergei Skripal dan putrinya, Yulia.

Keduanya sakit kritis di sebuah rumah sakit di Inggris setelah diracuni oleh gas saraf kelas militer di kota Salisbury, Inggris selatan bulan lalu.

Rusia membantah terlibat dalam kasus ini.

Pada 4 Maret, Skripal dan putrinya ditemukan pingsan di bangku dekat pusat perbelanjaan di Salisbury, 120km barat daya ibukota Inggris, London.

Skripal adalah mantan perwira intelijen militer Rusia yang dituduh memata-matai Rusia untuk Inggris.

Ia dipenjara pada tahun 2006 dan kemudian ditukar dengan warga Rusia yang dituduh melakukan spionase di AS.

Ketegangan dalam hubungan Inggris-Rusia meningkat setelah Perdana Menteri Inggris Theresa May menuduh bahwa Rusia “sangat mungkin” berada di balik percobaan pembunuhan Skripal dan putrinya.

May memberi Rusia batas waktu hingga 13 Mei untuk menjelaskan bagaimana sebuah gas saraf era Soviet bisa berada di Salisbury, Inggris bagian selatan.

“Mereka telah memperlakukan penggunaan gas saraf kelas militer di Eropa dengan sarkasme, penghinaan dan pembangkangan,” kata May di parlemen, sebelum memerintahkan pengusiran para diplomat Rusia.

Perdana menteri Inggris juga membatalkan undangan bagi Sergey Lavrov, menteri luar negeri Rusia, untuk mengunjungi Inggris.

Di antara berbagai respon, menteri kabinet dan anggota keluarga kerajaan juga tidak akan menghadiri Piala Dunia di Rusia musim panas ini.

Kementerian luar negeri Rusia menyanggah tuduhan Inggris, menyebut bahwa tuduhan tersebut bermotif politik dan merupakan “pertunjukan sirkus”.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Inggris harus menyelidiki apa yang terjadi sebelum melemparkan tuduhan terhadap Rusia.

“Anda pertama-tama harus sampai ke hal-hal mendasar di sana, dan setelah itu, kita bisa mendiskusikannya,” kata Putin seperti dikutip.

Sebagai langkah balasan, Moskow memerintahkan pengusiran 23 diplomat Inggris dan menutup konsulat Inggris di St Petersburg dan badan kebudayaan British Council.

Duta besar Rusia untuk AS juga menyatakan keprihatinannya atas keputusan Washington untuk mengusir Rusia.

“Apa yang dilakukan Amerika Serikat hari ini, mereka menghancurkan yang masih tersisa dari hubungan AS-Rusia,” kata Anatoly Antonov.

“Saya menambahkan bahwa semua tanggung jawab atas hancurnya hubungan Rusia-Amerika ada di AS.”

Tanggapi Serangan Zat Beracun di Inggris, AS Usir 60 Diplomat Rusia dari Negaranya

Dalam solidaritas dengan Inggris, sejauh ini, 23 negara Eropa – 18 negara anggota Uni Eropa dan lima negara non-UE – telah mengumumkan bahwa mereka akan mengusir 55 diplomat Rusia selama pekan mendatang.

Negara-negara UE termasuk: Prancis (4), Polandia (4), Jerman (4), Lituania (3), Republik Ceko (3), Denmark (2), Italia (2), Spanyol (2), Belanda (2) , Estonia (1), Latvia (1), Swedia (1), Finlandia (1), Rumania (1), Kroasia (1), Hongaria (1), Irlandia (1) dan Belgia (1).

Negara-negara Eropa Non-UE adalah: Ukraina (13), Moldova (3), Albania (2), Norwegia (1) dan Makedonia (1).

Sementara itu, sekutu NATO – AS dan Kanada – juga telah memutuskan untuk mengambil tindakan.

Pada hari Senin, Presiden AS Donald Trump memerintahkan pengusiran 60 warga Rusia, termasuk 12 perwira intelijen dari misi Rusia untuk markas PBB di New York.

AS mengatakan pihaknya juga menutup konsulat Rusia di Seattle.

Kanada mengusir empat warga Rusia yang diduga bekerja sebagai mata-mata atau mencampuri urusan Kanada di bawah perlindungan diplomatik.

NATO juga bergabung dengan paduan suara negara-negara yang menghukum Rusia.

Sekretaris Jenderal Jens Stoltenberg mengatakan pada hari Selasa bahwa NATO akan mengurangi misi NATO di Rusia dari 30 menjadi 20.

Pada 19 Maret, perwakilan badan PBB Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (the Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons-OPCW), , mengumpulkan sampel dari gas saraf Novichok yang digunakan untuk meracuni Skripal.

Hasil mereka diharapkan akan dirilis dalam sepekan.

Ada kekhawatiran krisis diplomatik dapat memburuk jika hasil investigasi OPCW menunjukkan keterkaitan dengan Rusia.

“Moskow sekarang akan mencoba membagi Uni Eropa menjadi dua kubu – kubu pro-Inggris radikal dan orang-orang yang mereka pikir akan mengikuti Uni Eropa karena tuntutan solidaritas daripada karena keyakinan,” Konstantin Eggert, seorang analis dan wartawan Rusia, kepada Al Jazeera.

Menurutnya, Inggris juga akan meningkatkan tindakannya secara bertahap terhadap Rusia.

“Menurut saya sangat mungkin bahwa sebentar lagi akan ada Hukum Magnitsky versi Inggris dan tampaknya keinginan untuk menekan kejayaan Rusia di Inggris adalah yang paling serius dari semua pihak lain selama 15-17 tahun terakhir,” katanya.

Militer Yahudi Persulit Perayaan Paskah di Yerusalem Bagi Kristen Gaza

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Tiga hari sebelum hari Jumat Agung bagi penganut Nasrani, Israel belum mengeluarkan izin bagi umat Kristen Gaza untuk melakukan perjalanan ke Yerusalem demi merayakan Paskah, kata pihak berwenang Gereja, lansir Aljazeera Selasa (27/3/2018).

Patriarkat Latin dari Yerusalem mengatakan, otoritas gereja telah mengajukan sekitar 600 izin bagi umat Kristen Palestina untuk melakukan perjalanan, tetapi belum menerima apapun.

Gaza berada di bawah blokade Israel dan akses keluar-masuk dibatasi ketat oleh militer Israel.

Otoritas militer yang dijalankan Israel yang beroperasi di Tepi Barat membela kebijakannya menolak para pemohon akses ke kota Yerusalem di Tepi Barat, dengan mengatakan bahwa mereka hanya akan mengeluarkan izin bagi orang yang berusia sedikitnya 55 tahun.

Rayakan Hari Raya Zionis, Ratusan Pemukim Yahudi Serbu Masjid al Aqsha

Pastor Ibrahim Shomali, kanselir dari Patriarkat Latin di Yerusalem, mengatakan bahwa umat Kristen seharusnya tidak perlu meminta izin.

“Kita harus memiliki akses gratis ke Tanah Suci, akses bebas ke tempat-tempat suci kita,” katanya di Gereja Makam Suci, yang dihormati sebagai tempat penyaliban dan kebangkitan kristus.

Tentu saja, kami mengajukan izin, tetapi seharusnya tidak perlu izin untuk datang mengunjungi tempat Anda sendiri.”

Para pemimpin gereja khawatir akan lebih banyak pembatasan dari biasanya tahun ini karena Paskah jatuh pada akhir pekan yang sama dengan dimulainya Passover, hari besar Yahudi dimana militer zionis meningkatkan keamanan.

Para pemimpin Kristen mengatakan keputusan Presiden AS Donald Trump pada bulan Desember untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel bisa memberatkan pembatasan otoritas Israel ke situs suci mereka.

“[Israel] akan menutup setiap pos pemeriksaan, dan akan lebih ketat daripada tahun lainnya karena proklamasi Trump dan efek yang kami dapatkan darinya, dan yang akan kami dapatkan,” kata Shomali.

Youssef Daher, dari Pusat Inter-Gereja Yerusalem, mengatakan keputusan Trump dapat menyebabkan tekanan Israel lebih lanjut pada otoritas Kristen, karena “mereka berpikir bahwa mereka memiliki kebebasan.”

Pada bulan Februari, para pemimpin Kristen mengambil keputusan langka untuk menutup Gereja Makam Suci selama tiga hari, sebagai protes terhadap kebijakan pajak baru Israel dan undang-undang pengambilalihan lahan yang diusulkan.

Gara-gara Pajak Israel, Para Pemimpin Gereja Tutup Gereja Paling Bersejarah di Dunia

Gaza memiliki 1.000 orang Kristen – sebagian besar dari mereka adalah Ortodoks Yunani – di antara populasi 2 juta orang di garis pantai yang sempit. Otoritas Ortodoks Yunani tidak tersedia untuk berkomentar pada hari Selasa.

Di Gaza, George Antone dari Patriarkat Latin mengatakan Israel mengizinkan hampir 570 orang Kristen keluar dari Gaza tahun lalu, dan berharap mereka akan berhasil lagi kali ini.

“Sejauh ini, belum ada tanggapan. Saya tidak akan kehilangan harapan tetapi saya akan sedih jika izin tidak didapat,” katanya.

Umat ​​Kristen Ortodoks merayakan Paskah sepekan kemudian, ketika orang Palestina dan peziarah dari seluruh dunia menghadiri upacara Api Kudus.

Mendekati Manbij, Operasi Militer Turki Kini Berlanjut ke Tal Rifaat

AZAZ (Jurnalislam.com) – Sejak milisi YPG di Suriah melarikan diri dari Afrin ke kota Tal Rifaat saat pasukan Turki dan Free Syrian Army membebaskan pusat kota Afrin pada 18 Maret, sebagai bagian dari Operation Olive Branch, Tal Rifaat menjadi perpanjangan alami dari operasi tersebut, Anadolu Agency melaporkan Senin (26/3/2018).

Setelah tanah mereka dibebaskan dari teroris, ratusan ribu warga Tal Rifaat akan memiliki kesempatan untuk kembali ke rumah mereka.

Turki meluncurkan Operation Olive Branch pada 20 Januari untuk membersihkan kelompok-kelompok teroris dari Afrin, Suriah barat laut, di saat ancaman dari kawasan itu meningkat.

Pada awal 2016, pasukan YPG bertujuan untuk menguasai daerah antara tepi timur Sungai Eufrat dan Afrin barat, untuk menghubungkan tanah yang sudah diambilnya.

YPG bergerak dari Afrin ke tenggara dan dari Manbij ke barat, mencoba menguasai Tal Rifaat dan Al-Bab dan menghubungkan wilayah-wilayah itu. Dengan demikian, YPG berusaha untuk mendapatkan dominasi di sepanjang perbatasan Suriah-Turki.

Milisi Dukungan AS akan Keluar dari Manbij, Menlu Turki: Tidak Cukup Hanya Itu

Menggunakan dukungan serangan udara intens Rusia pada saat hubungannya dengan Turki menegang, para milisi memiliki kesempatan untuk menyebar ke tenggara dari Afrin.

Kelompok teroris YPG meninggalkan Afrin dan dengan cepat menyerang Tal Rifaat dan desa-desa terdekat yang berada di bawah kendali oposisi.

Tal Rifaat memainkan peran sebagai jembatan untuk garis invasi yang dibentuk para teroris di utara.

Struktur administrasi teroris YPG di Suriah terdiri dari tiga “wilayah” dan enam “suku (canton).”

Kelompok teror menggambarkan struktur wilayah tersebut sebagai “Jazira (Hasakah dan Qamisli), Eufrat (Kobane dan Tal Abyad), dan Afrin (Afrin dan Shahba)”.

Mereka juga memberikan status khusus bagi Raqqah, yang masih terus mereka kendalikan.

Mereka menyebut garis yang membentang dari Tal Rifaat ke Manbij “Shahba Canton.”

Tetapi distrik Al-Bab antara Tal Rifaat dan Manbij terletak di dalam area yang dibebaskan oleh Operation Euphrates Shield Turki, sehingga mustahil bagi para teroris untuk menghubungkan Tal Rifaat dengan Manbij.

Operation Euphrates Shield dimulai pada Agustus 2016 dan berakhir pada akhir Maret 2017 untuk meningkatkan keamanan, mendukung pasukan koalisi, dan menghilangkan ancaman teror di sepanjang perbatasan Turki.

Merasa Kena Tipu di Suriah, Erdogan Kecam Amerika

Selama invasi Tal Rifaat, YPG memaksa sekitar 250.000 penduduk Arab keluar.

Penduduk lalu mencari perlindungan di Azaz, yang bersebelahan dengan daerah Euphrates Shield dan berada di bawah kendali oposisi.

Para teroris mulai mengakomodasi keluarga Kurdi di Tal Rifaat yang mereka bawa dari Afrin.

Saat ini, sekitar 15.000-20.000 suku Kurdi dan Arab tinggal di distrik tersebut, hanya 700-800 di antaranya adalah penduduk Arab Tal Rifaat.

Berbicara di Kongres Provinsi Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) pada hari Ahad, Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan: “Insya Allah, kami akan mencapai tujuan operasi ini dengan mengambil alih Tal Rifaat dalam waktu singkat.”

Pada Sabtu, warga Suriah Tal Rifaat menggelar unjuk rasa untuk menuntut operasi militer Turki terhadap kelompok teroris YPG di kota itu.

Info grafik