Sehari Bersama Politikus Islam

Sehari Bersama Politikus Islam

“Politik itu kotor dan kejam.” Mungkin itu pandangan sebagian besar masyarakat terhadap politik. Sebab memang, dewasa ini dunia politik sedang disorot oleh jutaan pasang mata warga Indonesia. Kasus korupsi yang merajalela, apalagi dilakukan oleh seorang pimpinan tinggi perwakilan rakyat di DPR-RI. Sampai grafik naiknya hutang Indonesia yang disebut-sebut sampai 4.928 T berikut dengan kenaikan harga dollar yang hampir mencapai 14000 rupiah dan diprediksi akan mengalami kenaikan.

Namun, berbeda dengan cara pandang politikus asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Banten yang satu ini. Ia menganggap politik itu tidak seperti itu, politik itu sebenarnya tergantung kepada siapa yang memegang. Jadi jika tidak benar, yah bukan masalah politiknya, tapi orangnya.

Namanya, Juheni M Rois, lahir di Ciruas, Serang pada 1967 lalu. Ia menekuni dunia perpolitikan sejak jaman orde baru. Jaman Jenderal bintang 4 yang memimpin dan terkenal ‘galak’ terhadap aktifis tukang kritis.

Tepatnya pada awal tahun 90an, ia aktif dalam menjalankan fungsi kontrol masyarakat terhadap pemerintah, hingga tahun 1998 Partai Keadilan (PK) berdiri, ia masuk dan menjadi pimpinan di daerahnya.

Dalam perjalanan tersebut ia menerapkan sistem dakwah Islam dalam perpolitikannya. Menurutnya Islam tidak dapat dipisahkan dengan politik.

“Jadi sebetulnya berpolitik bukan sebuah kesengajaan tapi sebuah tuntutan. Berpolitik diawali dengan dakwah, di kampus, masjid-masjid. Otomatis politik dan Islam tidak bisa dipisahkan,” jelasnya di kediamannya di Serang, Rabu (28/3/2018).

Bukti dari nilai Islam yang dia selalu teguhkan, ia bersama temannya mendirikan sekolah berbasis Islam di daerah Serang, Banten bernama Al Izzah pada tahun 1996 lalu, bertahan dan berkembang hingga kini.

 

Teladan Peduli Sosial

Selain berpolitik hingga sempat mencicipi bangku perwakilan rakyat, ayah dengan 6 orang anak ini juga peduli terhadap sosial. Terutama isu global yang menimpa rakyat Palestina dan daerah konflik yang membutuhkan banyak sekali bantuan.

Berawal dari Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) hingga menjadi ketua Yayasan Sahabat Palestina Memanggil (SPM) diambilnya penuh resiko dan tantangan. Resiko mungkin akan dirasakannya pada saat penyaluran bantuan langsung di daerah konflik, atau tantangan untuk membuat rakyat Indonesia peduli dengan Negara yang tercatat berperan besar dalam berdaulatnya Merah Putih.

“Tidak bisa diam ketika melihat umat,” ungkapnya ditemani desir angin di sekitar saung diatas kolam itu.

Puncaknya pada tahun lalu, di bulan suci umat Islam. Ia bersama timnya rela untuk berkemas untuk melompat ke Negeri penuh konflik tersebut.

“Alhamdulillah Romadhon kemarin saya mengirimkan bantuan kepada teman-teman Palestina melalui Lebanon, Yaman, dan Turki langsung,” ucapnya tegas.

Sebelum jauh untuk memberikan bantuan, ia tidak pernah menyerah menginspirasi masyarakat untuk peduli terhadap Palestina. Setidaknya ada dua cara yang ia lakukan untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah yang gemar disimpan oleh warga ditimbang melakukan investasi akhirat.

Yang pertama ia melakukan edukasi. Setidaknya setiap bulan suci ia kerap mendatangkan ulama Palestina untuk menceritakan kondisi riil dari Palestina di berbagai tempat, seperti kampus, masjid bahkan tempat-tempat kerja yang bersedia untuk didatangi.

Selanjutnya, ia melakukan agenda dengan kegiatan konser amal. Menurutnya, ini cara yang cukup efektif untuk menginspirasi masyarakat guna berbagi. Ketua Ikatan Dai Indonesia atau IKADI Serang ini menggaet Event Organizer untuk mendatangkan artis peduli Palestina. Yang terakhir adalah Opik dan Melly Goeslaw.

Respon yang diterima masyarakat sangat antusias. Buktinya, milyaran rupiah yang dikonversi menjadi bentuk-bentuk bantuan sudah diterima warga Palestina yang sangat bergantung kepada bantuan ini. Pun dengan Rohingya, sama perlakuannya untuk semua negara konflik yang notabene rakyatnya butuh bantuan.

Meski begitu, ia tetap menyayangkan sikap pemerintah untuk Palestina dan kemanusiaan lain. Pemerintah dinilainya masih ‘malu-malu’ untuk sekadar membantu. Tidak seperti negara tetangga yang sampai memberikan biaya pendidikan gratis untuk ribuab warga Palestina.

“Kalau Indonesia rakyatnya mendukung tapi pemerintahnya malu-malu,” papar dia lirih.

 

Saatnya menjadi masyarakat cerdas Politik

Yang lalu biarkanlah berlalu, mungkin satu kalimat terkenal ini bisa masih relevan untuk diterima. Namun, masyarakat jaman now harus cerdas melihat politik. Lebih baik lagi terlibat aktif dalam politik.

“Masyarakat sekarang harus cerdas untuk memilih, dukunglah yang memperjuangkan nilai Islam. Pilihlah wakil-wakil Anda yang memperhatikan umat Islam,” celotehnya.

Ia bergumam, jika saja para praktisi politik itu amanah dan benar memikirkan rakyat, tidak mungkin contoh diatas terjadi. Ini bermula dari pemilihan yang tidak baik oleh rakyat sendiri. Rakyat lebih memilih warna biru dan merah dibanding warna putih hati nurani. Padahal jika dikonversi dalam 5 tahun kekuasaan, sangat rendah sekali harga yang diberikan.

“Orang-orang yang baik itu harus berkuasa, Islam harus berkuasa. Kalau tidak, orang-orang yang tidak berkompeten akhirnya masuk dan merusak tatanan masyarakat,” kritiknya.

Sebab memang, semua lini kehidupan ada unsur perpolitikan didalamnya. Mulai dari pendidikan, kesejahteraan dan yang lain sebagainya diatur oleh eksekutor politik.

Begitulah kehidupan, baik dan buruknya tergantung siapa dan apa yang dijadikan tujuannya. Begitu juga dengan negara, maju dan berkembangnya negara kepulauan ini bagaimana sang penguasa. Seperti kutipan ketua bidang BPU DPW PKS Banten dan pengurus MUI Serang ini di akhir obrolannya: “Manusia itu baik karena baiknya agama raja-raja mereka, penguasa-penguasa mereka.”

Bagikan