Iran Luncurkan Rudal Kheibar Shekan Generasi Ketiga ke Israel, Targetkan Bandara Ben Gurion dan Fasilitas Strategis

TEHERAN (jurnalislam.com)– Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada Ahad (22/6/2025) mengumumkan telah meluncurkan rudal balistik Kheibar Shekan generasi ketiga dengan hulu ledak ganda ke wilayah Israel. Ini merupakan pertama kalinya rudal tersebut digunakan sejak dimulainya serangan Israel yang didukung oleh Amerika Serikat.

Menurut IRGC, dalam serangan terbaru ini Iran mengerahkan 40 rudal balistik berbahan bakar padat dan cair, termasuk rudal Kheibar Shekan generasi terbaru. Rudal canggih ini dirancang dengan beberapa hulu ledak manuver yang mampu diarahkan hingga saat benturan untuk meningkatkan akurasi dan daya hancur.

“Dalam operasi ini, untuk pertama kalinya, Pasukan Dirgantara IRGC mengerahkan rudal balistik Kheibar Shekan generasi ketiga dengan hulu ledak ganda, menggunakan taktik baru dan mengejutkan demi presisi, daya destruktif, dan efektivitas yang lebih tinggi,” demikian pernyataan resmi IRGC.

Kheibar Shekan generasi ketiga merupakan rudal balistik jarak menengah berbahan bakar padat dengan jangkauan sekitar 1.450 hingga 1.500 kilometer. Versi terbaru ini dilengkapi dengan sistem panduan fase terminal yang memungkinkan rudal bermanuver saat fase penurunan, guna menghindari intersepsi dari sistem pertahanan seperti Arrow dan David’s Sling milik Israel.

Kemampuan manuver rudal ini di tengah penerbangan menjadikannya sulit dicegat, sementara muatannya yang besar mampu menghantam infrastruktur strategis dan diperkeras. Ini menandai kemajuan signifikan dalam teknologi rudal Iran, karena pertama kalinya menggunakan kendaraan masuk kembali yang dapat ditargetkan secara independen (MIRV).

Menurut IRGC, sasaran serangan terbaru meliputi Bandara Internasional Ben Gurion, pusat penelitian biologi Israel, dan pusat komando dan kontrol cadangan. IRGC juga mengklaim sirene peringatan di Israel hanya berbunyi setelah rudal menghantam target, serta menegaskan bahwa sebagian besar kekuatan militer Iran belum dikerahkan.

Media Israel melaporkan sedikitnya 86 orang mengalami luka akibat serangan rudal tersebut. Israel telah meningkatkan penyensoran militer terhadap berbagai lokasi strategis, membatasi informasi terkait efektivitas serangan Iran.

IRGC memperingatkan bahwa gelombang serangan ini—bagian dari Operasi True Promise 3—belum menunjukkan kekuatan penuh Iran, dan menyebut masih ada potensi eskalasi yang lebih besar bila agresi terhadap Iran berlanjut.

Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat melakukan pengeboman terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyambut baik serangan AS tersebut dan menyampaikan terima kasih kepada Presiden Donald Trump, menyebut langkah itu sebagai wujud “perdamaian melalui kekuatan.” (Bahry)

Sumber: Cradle

Cemas Diserang Rudal Iran, Rumah Sakit Militer Israel Pindah ke Bawah Tanah

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Dalam waktu kurang dari 48 jam, Sheba Medical Center, rumah sakit terbesar dan paling lengkap di Israel, telah melakukan transformasi besar dengan mengalihkan operasionalnya ke fasilitas bawah tanah yang terlindungi. Langkah ini dilakukan sebagai respons cepat terhadap situasi darurat setelah serangan balasan rudal dari Iran sejak Jumat (13/6/2025).

“Jumat pagi, Israel diserang,” ujar Yoel Har-Even, Kepala Sheba Global, dikutip dari situs resmi Sheba pada Selasa (17/6).

“Sebagai pusat medis nasional, kami punya tanggung jawab untuk siap dalam segala situasi.” sambungnya.

Dalam hitungan jam, Sheba memindahkan berbagai unit penting seperti NICU (unit perawatan intensif neonatal), hemato-onkologi, ruang bersalin, ortopedi, dan departemen berisiko tinggi lainnya ke dalam rumah sakit bawah tanah yang telah disiapkan untuk situasi krisis. Selain itu, rumah sakit juga mulai membangun dapur darurat di area bawah tanah untuk mendukung operasional jangka panjang.

“Fasilitas ini bukan hanya untuk pasien, tapi juga siap menampung warga sipil di sekitar Sheba yang tidak memiliki tempat berlindung,” kata Har-Even.

Saat ini, Sheba beroperasi pada Level D, status siaga tertinggi dalam sistem tanggap darurat rumah sakit tersebut, dengan 95 persen staf telah berada di lokasi.

Menurut laporan terkini, Sheba telah menangani 176 warga yang terluka, dengan 13 pasien dirawat inap, 8 dalam kondisi darurat, dan 69 pasien dari konflik sebelumnya (Operasi Iron Swords di Gaza) yang masih dirawat. Dalam 24 jam terakhir, 68 pasien dengan gangguan kecemasan akut juga datang, mencerminkan dampak psikologis dari eskalasi konflik.

Guna memastikan kelangsungan pelayanan medis, rumah sakit mengalihkan 50 persen layanan rawat jalan ke platform virtual mereka, Sheba Beyond, dan mendirikan pusat komando khusus untuk mengelola layanan kesehatan jarak jauh.

“Kami semua berada di bawah tekanan, tetapi misi kami tetap melayani masyarakat dengan kasih sayang dan profesionalisme,” tegas Har-Even.

Sebagaimana diketahui, Sheba Medical Center memiliki divisi khusus yang melayani kebutuhan medis tentara Israel, menjadikannya bagian dari infrastruktur pendukung militer negara tersebut. (Bahry)

Sumber: Sheba

Kapal Induk Amerika Lewati Perairan Indonesia, TNI: Tak Perlu Izin tapi Diawasi

JAKARTA (jurnalislam.com)– Pusat Penerangan (Puspen) TNI menanggapi informasi yang beredar di masyarakat terkait pelayaran kapal induk Amerika Serikat, USS Nimitz, yang melintasi perairan Indonesia pada Senin (16/6/2025).

Kepala Puspen TNI, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, menjelaskan bahwa kapal perang tersebut sedang berlayar dari Laut China Selatan menuju Selat Singapura, Selat Malaka, dan selanjutnya ke Samudera Hindia.

Menurutnya, pelayaran USS Nimitz di Selat Malaka dilakukan dengan memanfaatkan hak lintas transit sebagaimana diatur dalam Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS) 1982.

“Kapal tersebut berlayar di Selat Malaka dengan menggunakan Hak Lintas Transit. Sesuai ketentuan UNCLOS 1982, kapal-kapal asing, termasuk kapal perang, diperbolehkan melintas tanpa harus meminta izin kepada negara pantai, selama tetap mematuhi aturan pelayaran internasional dan tidak membahayakan keamanan wilayah yang dilintasi,” ujar Mayjen Kristomei, dikutip dari situs resmi TNI, Sabtu (21/6).

Ia menegaskan bahwa TNI secara aktif memantau setiap aktivitas pelayaran asing yang melintasi wilayah yurisdiksi nasional. Seluruh satuan TNI yang berkaitan juga tetap dalam kondisi siaga dan melakukan koordinasi guna menjamin stabilitas serta melindungi kepentingan nasional di wilayah perairan strategis Indonesia.

Israel Serang Warga Pengungsi, 202 Orang Tewas dalam Dua Hari

GAZA (jurnalislam.com)– Sedikitnya 26 warga Palestina dilaporkan tewas dalam serangan terbaru militer Israel di Jalur Gaza, termasuk para pencari bantuan kemanusiaan. Serangan terjadi saat warga yang kelaparan masih terus menunggu distribusi bantuan di tengah krisis pangan yang kian memburuk akibat blokade Israel.

Menurut laporan, 11 dari korban tewas merupakan penerima bantuan di pusat distribusi milik Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga yang didukung Amerika Serikat dan Israel. Serangan terhadap pusat distribusi bantuan ini dikecam oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang menyebut Israel telah “mempersenjatai bantuan kemanusiaan”.

Sementara itu, kantor berita Palestina, Wafa, melaporkan bahwa tiga orang lainnya tewas dan beberapa terluka akibat serangan drone Israel yang menargetkan warga pengungsi di wilayah al-Mawasi, Gaza selatan. Serangan itu menghantam tenda pengungsian milik keluarga Shurrab, yang terletak di zona yang sebelumnya ditetapkan militer Israel sebagai “zona aman”.

Dalam 48 jam terakhir, sedikitnya 202 warga Palestina tewas, termasuk empat jenazah yang ditemukan setelah serangan, serta 1.037 lainnya luka-luka akibat agresi Israel di berbagai wilayah Gaza, menurut laporan Kementerian Kesehatan Palestina.

Sejak awal perang pada Oktober 2023, total korban tewas akibat serangan Israel di Gaza telah mencapai 55.908 orang, dengan 131.138 lainnya terluka.

𝗦𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝗟𝗼𝗸𝗮𝘀𝗶 𝗗𝗶𝘀𝘁𝗿𝗶𝗯𝘂𝘀𝗶 𝗕𝗮𝗻𝘁𝘂𝗮𝗻

Dalam beberapa hari terakhir, serangan terhadap titik-titik distribusi bantuan semakin intensif. Ribuan warga Palestina berkumpul setiap hari untuk mendapatkan jatah makanan di tengah blokade pengiriman bantuan yang sudah berlangsung dua bulan.

Pada Sabtu (21/6), tiga orang dilaporkan tewas di lokasi distribusi GHF di Khan Younis akibat tembakan pasukan Israel. Beberapa lainnya mengalami luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit.

Seorang pengungsi Palestina, Omar al-Hobi, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pergi ke titik distribusi berarti mempertaruhkan nyawa.

“Saya menyebutnya titik kematian. Tank ada di depan kami, senapan mesin di depan kami, drone di atas kami, dan penembak jitu di darat. Siapa pun yang bergerak lebih awal langsung ditembak. Ketika tank mundur, kami baru bisa berlari,” ungkapnya.

Militer Israel mengklaim bahwa serangan dilakukan untuk mengendalikan massa. Namun, para saksi dan kelompok kemanusiaan menyebut bahwa penembakan sering kali dilakukan tanpa alasan yang jelas, menyebabkan ratusan warga menjadi korban.

Palang Merah Internasional juga menyampaikan bahwa sejak bantuan GHF mulai didistribusikan akhir bulan lalu, sebagian besar pasien yang datang ke rumah sakit lapangan di Gaza mengalami luka akibat mencoba mengakses bantuan atau berada di sekitar lokasi distribusi.

Sementara itu, Otoritas Regulasi Telekomunikasi Gaza, seperti dikutip Wafa, melaporkan adanya gangguan layanan internet dan telepon rumah di beberapa wilayah, termasuk Kota Gaza dan Gaza utara. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Dapat Bantuan AS, Netanyahu: Terima Kasih Presiden Trump!

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengonfirmasi bahwa serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat telah berhasil menghancurkan fasilitas nuklir utama milik Iran. Pernyataan ini disampaikan Netanyahu dalam sebuah video resmi pada Ahad (22/6/2025), menyusul serangan AS terhadap situs nuklir Iran pada Sabtu malam.

“Sejak awal operasi, saya berjanji kepada Anda bahwa fasilitas nuklir Iran akan dihancurkan, dengan satu atau lain cara. Janji itu telah terpenuhi,” ujar Netanyahu dalam pernyataannya.

Ia menyebut bahwa serangan udara AS merupakan kelanjutan dari operasi militer yang dilakukan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan badan intelijen Mossad terhadap program nuklir Iran, yang menurutnya mengancam eksistensi Israel dan mengganggu perdamaian global.

“Amerika Serikat dengan kuat melanjutkan serangan IDF dan Mossad terhadap program nuklir Iran. Program ini mengancam keberadaan kita dan membahayakan perdamaian seluruh dunia,” katanya.

Netanyahu menyampaikan bahwa tak lama setelah serangan udara tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghubunginya secara langsung untuk menyampaikan ucapan selamat, begitu pula para pejabat militer Israel dan rakyat Israel.

“Presiden Trump dengan berani memimpin dunia bebas. Dia adalah teman Israel yang luar biasa, teman yang tak tertandingi,” kata Netanyahu.

Ia juga menyebut serangan udara terhadap fasilitas nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan pada Ahad pagi sebagai tindakan yang belum pernah dilakukan negara manapun.

“Tindakan ini benar-benar tak tertandingi karena telah melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh negara lain di Bumi,” ujar Netanyahu, sembari menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada Presiden Trump.

Dalam pernyataannya, Netanyahu menilai bahwa keputusan Presiden Trump akan tercatat dalam sejarah sebagai momen penting dalam mencegah proliferasi senjata pemusnah massal di Timur Tengah.

“Keputusan berani Trump untuk menargetkan fasilitas nuklir Iran dengan kekuatan Amerika Serikat yang luar biasa dan benar akan mengubah sejarah,” katanya.

“Sejarah akan mencatat bahwa Presiden Trump bertindak untuk menolak rezim paling berbahaya di dunia dari senjata paling berbahaya di dunia,” tambahnya.

Netanyahu juga menekankan filosofi yang kerap diucapkannya bersama Trump: “perdamaian melalui kekuatan.”

“Pertama datanglah kekuatan, kemudian datanglah perdamaian. Dan malam ini, Presiden Trump dan Amerika Serikat bertindak dengan sangat kuat,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Netanyahu mengucapkan terima kasih tidak hanya atas nama dirinya, tetapi juga atas nama rakyat Israel dan apa yang ia sebut sebagai “kekuatan peradaban.”

“Saya berterima kasih kepada Anda, rakyat Israel berterima kasih kepada Anda, kekuatan peradaban berterima kasih kepada Anda,” tutupnya. (Bahry)

Sumber: TJP

AS Turun Tangan Bantu Israel, Tiga Situs Nuklir Iran Dihancurkan

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa militer AS telah melancarkan serangan terhadap tiga lokasi nuklir utama Iran, termasuk fasilitas pengayaan Fordow yang dijaga ketat. Trump menyebut operasi tersebut sebagai “serangan yang sangat berhasil”.

Dalam unggahan di platform Truth Social pada Sabtu (21/6/2025) waktu setempat, Trump mengatakan bahwa pasukan AS telah menyerang fasilitas nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan.

“Kami telah menyelesaikan serangan kami yang sangat berhasil terhadap tiga lokasi nuklir di Iran, termasuk Fordow, Natanz, dan Isfahan,” tulis Trump.

“Pesawat kami kini sedang dalam perjalanan kembali. SEKARANG WAKTUNYA UNTUK PERDAMAIAN!” imbuhnya.

Tak lama setelah pernyataan tersebut, Trump menyampaikan pidato singkat berdurasi tiga menit lebih di Ruang Oval yang disiarkan secara nasional. Ia mengatakan bahwa masa depan Iran kini berada di antara “perdamaian atau tragedi”, dan memperingatkan bahwa masih banyak target lain yang dapat diserang oleh militer AS jika diperlukan.

“Fasilitas pengayaan nuklir utama Iran telah sepenuhnya dihancurkan,” tegas Trump.

𝗜𝗿𝗮𝗻: 𝗦𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝗦 𝗟𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗿 𝗛𝘂𝗸𝘂𝗺 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam keras serangan tersebut dan menuduh Amerika Serikat melanggar hukum internasional serta perjanjian nuklir internasional.

“Amerika Serikat, sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, telah melakukan pelanggaran berat terhadap Piagam PBB, hukum internasional, dan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dengan menyerang fasilitas nuklir damai Iran,” ujar Araghchi melalui media sosial.

Ia menyebut serangan ini sebagai tindakan yang “keterlaluan” dan menegaskan bahwa akan ada konsekuensi jangka panjang. “Setiap anggota PBB harus waspada terhadap tindakan yang sangat berbahaya, ilegal, dan kriminal ini,” katanya.

Iran, lanjut Araghchi, akan menggunakan segala opsi untuk mempertahankan kedaulatan dan kepentingan nasionalnya.

Serangan AS ini menandai eskalasi besar dalam konflik bersenjata antara Israel dan Iran yang telah berlangsung lebih dari sepekan. Kedua negara saling melancarkan serangan udara, yang menewaskan dan melukai ratusan orang di kedua belah pihak.

Israel sebelumnya meluncurkan serangan ke wilayah Iran dengan dalih untuk mencegah pengembangan senjata nuklir oleh Teheran. Iran bersikeras bahwa program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai.

𝗜𝗿𝗮𝗻: 𝗧𝗮𝗸 𝗔𝗱𝗮 𝗞𝗲𝗯𝗼𝗰𝗼𝗿𝗮𝗻 𝗥𝗮𝗱𝗶𝗮𝘀𝗶, 𝗣𝗿𝗼𝗴𝗿𝗮𝗺 𝗡𝘂𝗸𝗹𝗶𝗿 𝗧𝗲𝘁𝗮𝗽 𝗕𝗲𝗿𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻

Badan Energi Atom Iran pada Ahad (22/6) menyatakan bahwa serangan yang dilakukan AS tidak menimbulkan kontaminasi radiasi atau ancaman bagi penduduk di sekitar lokasi.

“Setelah serangan ilegal AS terhadap situs nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan, hasil survei lapangan dan data sistem radiasi menunjukkan: tidak ada kontaminasi yang tercatat. Tidak ada ancaman terhadap masyarakat sekitar. Situasi keamanan stabil,” bunyi pernyataan resmi lembaga tersebut.

Badan tersebut juga menegaskan bahwa serangan ini tidak akan menghentikan kemajuan program nuklir Iran.

“Organisasi Energi Atom Iran meyakinkan bangsa Iran bahwa meskipun musuh terus berupaya menghentikan kemajuan kami, dengan dukungan ribuan ilmuwan dan teknisi revolusioner, kami tidak akan membiarkan industri nasional ini hasil perjuangan dan pengorbanan para syuhada nuklir dihentikan,” tegasnya.

𝗦𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗹𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗝𝗲𝘁 𝗦𝗶𝗹𝘂𝗺𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗥𝘂𝗱𝗮𝗹 𝗝𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗵

Menurut laporan media AS, serangan terhadap fasilitas nuklir Iran dilancarkan menggunakan pesawat pengebom siluman B-2 yang menjatuhkan bom penghancur bunker (bunker-buster bombs), serta rudal jelajah Tomahawk yang diluncurkan dari kapal selam.

CBS News melaporkan bahwa Washington telah menyampaikan pesan diplomatik kepada Teheran pada hari yang sama, menegaskan bahwa serangan tersebut adalah satu-satunya tindakan militer yang direncanakan dan tidak bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Iran. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Serangan Israel Hantam Situs Nuklir Iran di Isfahan, Konflik Telah Tewaskan 430 Orang

TEHERAN (jurnalislam.com)– Situs nuklir utama Iran di Provinsi Isfahan menjadi sasaran serangan udara Israel pada Sabtu pagi (21/6/2025), dalam eskalasi terbaru konflik Timur Tengah yang kini memasuki pekan kedua. Pejabat setempat menyatakan tidak ada kebocoran radiasi akibat serangan tersebut.

Asap terlihat mengepul dari kawasan pegunungan dekat kota Isfahan setelah serangan semalam yang memicu sistem pertahanan udara Iran. Ini adalah serangan kedua yang terjadi di Isfahan sejak konflik memanas.

Menurut Kementerian Kesehatan Iran, serangan udara dan rudal yang dilancarkan sejak awal konflik telah menewaskan sedikitnya 430 orang dan melukai hampir 3.500 lainnya di seluruh Iran. Namun, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dari serangan terbaru di Isfahan.

Sementara itu, media Iran juga melaporkan bahwa pasukan Israel menargetkan sebuah instalasi militer di kota Shiraz, Provinsi Fars, Iran selatan.

Di pihak Israel, ledakan terdengar di atas langit Tel Aviv. Sejumlah bangunan dilaporkan terbakar. Layanan darurat merilis gambar kebakaran di atap sebuah gedung hunian bertingkat di kawasan Israel tengah, yang menurut laporan lokal disebabkan oleh puing rudal Iran yang berhasil dicegat namun jatuh di area permukiman.

Otoritas Israel melaporkan sedikitnya 24 orang tewas akibat serangan rudal Iran ke wilayah mereka, menjadikan ini sebagai salah satu konflik paling mematikan antara kedua negara dalam beberapa dekade terakhir.

Dalam perkembangan terpisah, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan bahwa militer Israel telah membunuh Saeed Izadi, kepala Korps Palestina dari Pasukan Quds—sayap eksternal Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC)—dalam sebuah serangan udara terhadap sebuah apartemen di kota suci Qom, Iran.

Katz menyebut pembunuhan Izadi sebagai “pencapaian besar intelijen Israel dan Angkatan Udara”, dan menuduhnya sebagai tokoh utama yang membiayai dan mempersenjatai kelompok Hamas menjelang serangan ke Israel pada 7 Oktober 2023. Meski media Iran menyebut lima anggota IRGC tewas dalam serangan Israel, nama Izadi tidak termasuk di antara mereka.

Sebagai informasi, Izadi masuk dalam daftar sanksi Amerika Serikat dan Inggris.

Permusuhan antara kedua negara pecah sejak 13 Juni, ketika Israel meluncurkan gelombang serangan udara ke sejumlah lokasi di Iran, termasuk fasilitas militer dan nuklir. Serangan tersebut memicu balasan dari Teheran dalam bentuk serangan rudal dan drone.

Israel mengklaim bahwa operasi militer mereka bertujuan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Namun, berdasarkan penilaian Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan intelijen Amerika Serikat, belum ditemukan bukti bahwa Iran sedang membangun bom nuklir, meski level pengayaan uranium Iran telah melebihi batas kebutuhan sipil.

Presiden AS Donald Trump membantah klaim tersebut dan menyebut kepala intelijen AS, Tulsi Gabbard, “salah” karena menyatakan Iran tidak sedang mengembangkan senjata nuklir.

Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, kepada Al Jazeera mengatakan bahwa Teheran tetap terbuka untuk jalur diplomasi, termasuk dalam forum internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Kami percaya pada pentingnya mendengarkan pihak lain. Itulah sebabnya para diplomat kami berada di Jenewa. Tapi diplomasi sejati hanya bisa dimulai jika dunia mengakui bahwa Iran telah diserang lebih dulu oleh Israel,” tegas Mohajerani.

Sementara itu, jurnalis Al Jazeera Tohid Asadi melaporkan dari Teheran bahwa warga sipil Iran kini berada dalam tekanan berat akibat serangan yang tidak hanya menyasar instalasi militer, tetapi juga kawasan permukiman.

“Banyak warga Ibu Kota memilih mengungsi. Tapi kita harus ingat, ada lebih dari 10 juta orang tinggal di Teheran dan 14 juta di seluruh provinsinya. Ini memberikan tekanan luar biasa bagi wilayah sekitar,” ujarnya. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Korea Utara Kirim Ribuan Personel Militer ke Rusia, Tanda Aliansi Moskow-Pyongyang Kian Erat

MOSKOW (jurnalislam.com)– Korea Utara akan mengirim ribuan personel militer dan penjinak ranjau ke wilayah Kursk, Rusia, sebagai bagian dari bantuan rekonstruksi di wilayah yang sebelumnya dikuasai pasukan Ukraina selama berbulan-bulan. Langkah ini menjadi sinyal terbaru dari semakin eratnya hubungan militer antara Moskow dan Pyongyang.

Mengutip laporan media pemerintah Rusia, RIA Novosti, Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Sergei Shoigu mengungkapkan bahwa Korea Utara akan mengirim “satu divisi pembangun dan dua brigade militer sebanyak 5.000 orang serta 1.000 penjinak ranjau” ke wilayah barat Rusia tersebut.

“Ini adalah semacam bantuan persaudaraan dari rakyat Korea dan pemimpin Kim Jong Un untuk negara kita,” ujar Shoigu dalam pernyataan yang disampaikan Selasa (17/6/2025) saat kunjungannya ke Pyongyang untuk bertemu langsung dengan Kim Jong Un.

Korea Utara diketahui menjadi salah satu sekutu utama Rusia sejak invasi ke Ukraina berlangsung lebih dari tiga tahun lalu. Pyongyang dilaporkan telah mengirim ribuan tentara dan persenjataan konvensional untuk mendukung Moskow mengusir pasukan Ukraina dari wilayah Kursk.

Amerika Serikat dan Korea Selatan menyatakan kekhawatiran mendalam atas kerja sama militer tersebut. Mereka menilai, sebagai imbal balik, Korea Utara kemungkinan memperoleh transfer teknologi militer canggih dari Rusia yang bisa memperkuat kemampuan nuklirnya.

Kantor berita Rusia TASS menyebutkan bahwa kedua negara juga sepakat untuk “melanjutkan kerja sama yang konstruktif”, mengutip pernyataan Shoigu.

Hubungan Moskow dan Pyongyang kian menguat setelah penandatanganan perjanjian militer besar-besaran pada November tahun lalu. Perjanjian tersebut, yang disepakati saat kunjungan langka Presiden Rusia Vladimir Putin ke Korea Utara, mencakup klausul pertahanan bersama antara kedua negara.

Bulan April lalu, kedua negara secara terbuka mengonfirmasi pengerahan pasukan Korea Utara ke wilayah Rusia untuk pertama kalinya. Mereka mengklaim bahwa pasukan Korea Utara telah berperan dalam merebut kembali wilayah Kursk klaim yang dibantah oleh pihak Ukraina.

Dalam pertemuan dengan Kim Jong Un dan jajaran militer Korea Utara pada 4 Juni lalu, Shoigu menegaskan komitmen kedua negara untuk memperluas hubungan strategis yang komprehensif dan berjangka panjang. Kantor berita pemerintah Korea Utara, KCNA, menyebut kerja sama tersebut sebagai langkah menuju “kemitraan strategis yang kuat”.

Presiden Vladimir Putin sendiri sebelumnya telah menyampaikan rasa terima kasih kepada Korea Utara atas dukungannya dalam perang. Ia juga berjanji tidak akan melupakan “pengorbanan” yang diberikan. Menurut laporan dari Intelijen Pertahanan Inggris, lebih dari 6.000 tentara Korea Utara dilaporkan tewas dalam konflik di Ukraina. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Iran Retas CCTV Warga Israel untuk Tingkatkan Akurasi Serangan Rudal

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Iran diduga telah meretas kamera keamanan pribadi di seluruh wilayah Israel guna mengumpulkan informasi intelijen dan meningkatkan akurasi serangan rudal ke wilayah pendudukan. Serangan siber ini dikonfirmasi oleh pakar keamanan siber Israel dan diberitakan oleh Bloomberg pada Jumat (20/6).

Refael Franco, mantan Wakil Direktur Jenderal Direktorat Siber Nasional Israel (INCD), mengatakan bahwa dalam dua hingga tiga hari terakhir, Iran berusaha mengakses kamera-kamera tersebut untuk memantau lokasi jatuhnya rudal, dan mengarahkan serangan lanjutan dengan presisi lebih tinggi.

“Kami tahu bahwa dalam dua atau tiga hari terakhir, Iran telah mencoba terhubung ke kamera untuk memahami apa yang terjadi dan di mana rudal mereka mengenai sasaran, demi meningkatkan akurasinya,” ungkap Franco.

Seorang juru bicara INCD juga membenarkan adanya upaya peretasan yang sedang berlangsung selama masa perang, dan menyatakan bahwa serangan ini tengah diperbarui dengan taktik terbaru.

Pejabat INCD lainnya, Gaby Portnoy, menyebut bahwa peretasan kamera serupa juga pernah dilakukan oleh Hamas menjelang Operasi Badai Al-Aqsa pada Oktober 2023. Ia menambahkan bahwa metode ini juga digunakan dalam konflik lain, termasuk oleh Rusia dalam perang di Ukraina.

Sebelumnya pada pekan ini, seorang mantan pejabat keamanan siber Israel memperingatkan publik melalui siaran radio untuk mematikan kamera keamanan rumah atau segera mengganti kata sandinya.

Perang siber kini telah menjadi strategi utama dalam berbagai konflik global, dan Israel dikenal sebagai salah satu negara terdepan dalam pengembangan perangkat mata-mata dan operasi peretasan. Salah satu kelompok peretas yang berafiliasi dengan Israel, Predatory Sparrow, baru-baru ini mengklaim bertanggung jawab atas serangan siber terhadap beberapa bank besar di Iran serta platform pertukaran mata uang kripto.

Dalam serangan tersebut, Predatory Sparrow dikabarkan berhasil mencuri mata uang kripto, termasuk bitcoin, senilai lebih dari Rp1,4 triliun (sekitar USD 90 juta).

Sebagai respons atas serangan itu, Iran memberlakukan pemadaman internet nasional guna menekan infiltrasi digital yang diyakini berasal dari intelijen Israel. Menurut laporan kantor berita Tasnim, langkah ini juga disebut berhasil menonaktifkan sejumlah drone yang diluncurkan dari dalam negeri oleh agen-agen yang berafiliasi dengan musuh.

Di tengah meningkatnya intensitas perang, akurasi serangan rudal Iran pun meningkat drastis. Pada Jumat pagi, sebuah rudal balistik Iran menghantam kota Beersheba, dan pertahanan udara Israel dilaporkan gagal mencegatnya.

Pihak berwenang Israel kini melarang media asing menyiarkan rekaman atau dokumentasi lokasi jatuhnya rudal, dengan alasan bahwa “musuh memantau setiap gambar untuk meningkatkan efektivitas serangan balasan.”

Sementara itu, pada Kamis (19/6), seorang pejabat Israel yang dikutip NBC News menyatakan bahwa tingkat keberhasilan intersepsi pertahanan udara Israel menurun hingga 25 persen hanya dalam dua hari terakhir. (Bahry)

Sumber: Cradle

Israel Rugi Triliunan Rupiah per Hari Akibat Serangan Rudal Iran

ISRAEL (jurnalislam.com)– Perang yang berkecamuk antara Israel dan Iran sejak 13 Juni 2025 dilaporkan menelan biaya hingga ratusan juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara triliunan rupiah per hari di pihak Israel.

Menurut laporan Wall Street Journal (WSJ) pada Kamis (19/6), beban finansial yang ditanggung Israel berasal dari penggunaan rudal pencegat untuk menangkis serangan rudal balistik Iran, serta amunisi, operasional pesawat, dan kerusakan besar akibat serangan yang disebut para ahli sebagai “belum pernah terjadi sebelumnya”.

Para analis menyebut, besarnya biaya ini akan sangat memengaruhi berapa lama serangan militer Israel terhadap Iran akan berlangsung.

“Faktor utama yang benar-benar akan menentukan besaran biaya perang adalah durasinya. Jika hanya berlangsung selama seminggu, itu satu hal. Namun jika mencapai dua minggu atau sebulan, itu cerita yang sangat berbeda,” ujar Karnit Flug, mantan Gubernur Bank Israel yang kini menjadi peneliti senior di lembaga pemikir Israel Democracy Institute.

Sejak Israel memulai operasi militer terhadap Iran pada 13 Juni, Teheran telah menembakkan lebih dari 400 rudal balistik ke wilayah Israel. Untuk menangkisnya, Israel mengerahkan sistem pertahanan udara Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow 3.

𝗕𝗶𝗮𝘆𝗮 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗽𝘀𝗶 𝗖𝗮𝗽𝗮𝗶 𝗥𝗽𝟯,𝟮𝟴 𝗧𝗿𝗶𝗹𝗶𝘂𝗻 𝗽𝗲𝗿 𝗛𝗮𝗿𝗶

Menurut para ahli, operasi intersepsi rudal saja diperkirakan menghabiskan biaya hingga USD 200 juta per hari, atau sekitar Rp3,28 triliun.

Setiap kali sistem David’s Sling diaktifkan, biayanya sekitar USD 700 ribu (sekitar Rp11,48 miliar), dengan asumsi penggunaan minimal dua rudal pencegat.

Sementara itu, sistem Arrow 3 disebut menghabiskan biaya hingga USD 4 juta per satu kali intersepsi, atau sekitar Rp65,6 miliar.

𝗞𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗕𝗲𝘀𝗮𝗿 𝗱𝗶 𝗜𝗻𝘀𝘁𝗶𝘁𝘂𝘁 𝗦𝗮𝗶𝗻𝘀 𝗪𝗲𝗶𝘇𝗺𝗮𝗻𝗻

Serangan besar terjadi pada 14 Juni, ketika puluhan rudal Iran menghantam Tel Aviv dan Haifa. Salah satu targetnya adalah Institut Sains Weizmann di Rehovot, yang sering disebut sebagai “MIT-nya Israel”.

Menurut pihak kampus, serangan itu mengakibatkan kerusakan pada tiga gedung utama laboratorium dan memengaruhi sekitar 45 laboratorium lain, dengan total kerugian mencapai 2 miliar shekel atau setara dengan sekitar USD 570 juta (Rp9,35 triliun).

Kerugian tersebut hanya mencakup infrastruktur fisik dan belum termasuk kerugian ilmiah seperti hancurnya bahan penelitian langka, sampel yang tak tergantikan, dan terhentinya riset jangka panjang. Diperkirakan biaya pembangunan ulang tiap laboratorium bisa mencapai puluhan juta dolar (setara ratusan miliar rupiah per laboratorium).

𝗥𝗶𝗯𝘂𝗮𝗻 𝗥𝘂𝗺𝗮𝗵 𝗛𝗮𝗻𝗰𝘂𝗿, 𝗥𝗶𝗯𝘂𝗮𝗻 𝗞𝗹𝗮𝗶𝗺 𝗔𝘀𝘂𝗿𝗮𝗻𝘀𝗶

Iran terus melancarkan serangan hampir setiap hari sejak 13 Juni. Serangan ini mengakibatkan kehancuran atau kerusakan parah pada ribuan bangunan, dan menyebabkan ribuan warga Israel kehilangan tempat tinggal.

Data dari Otoritas Pajak Israel mencatat, hingga awal pekan ini, telah ada 9.900 klaim kompensasi, yang terdiri dari:

– 8.549 klaim untuk kerusakan struktural rumah,

– 668 klaim untuk kerusakan kendaraan, dan

– 683 klaim untuk kerusakan isi rumah dan properti lainnya.

Antara 13 hingga 16 Juni saja, serangan rudal Iran diperkirakan menyebabkan kerugian hingga 1 miliar shekel, atau setara USD 277 juta (sekitar Rp4,54 triliun).

𝗞𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗶𝗻𝘆𝗮𝗸 𝗱𝗮𝗻 𝗘𝗸𝗼𝗻𝗼𝗺𝗶 𝗧𝗲𝗿𝗱𝗮𝗺𝗽𝗮𝗸

Risiko keamanan yang meningkat juga berdampak pada aktivitas ekonomi dan perusahaan internasional di Israel.

Stasiun televisi Channel 12 Israel melaporkan bahwa perusahaan pelayaran raksasa Maersk telah menangguhkan aktivitas di Pelabuhan Haifa karena ancaman serangan rudal dari Iran.

Sementara itu, kilang minyak terbesar di Israel milik Bazan Group di Haifa terpaksa ditutup sejak 16 Juni setelah dihantam rudal Iran. Serangan itu menewaskan tiga pekerja dan melumpuhkan pembangkit listrik utama di kompleks tersebut.

Kilang tersebut menyuplai hampir 60 persen kebutuhan solar Israel dan sekitar 50 persen kebutuhan bensin nasional, sehingga penutupan ini sangat berdampak pada pasokan energi nasional. (Bahry)

Sumber: Cradle