Serangan Militer AS Dinilai Hanya Menunda Program Nuklir Iran, Trump Geram pada Bocoran Intelijen

WASHINGTON DC (jurnalislam.com)– Sebuah laporan awal rahasia dari Badan Intelijen Pertahanan Amerika Serikat (DIA) menyimpulkan bahwa serangan militer AS terhadap fasilitas nuklir Iran akhir pekan lalu hanya menunda program nuklir Teheran selama beberapa bulan—tidak menghancurkannya secara total seperti yang diklaim oleh Presiden Donald Trump.

Dikutip dari sejumlah media AS pada Selasa (24/6/2025), laporan tersebut menyebut bahwa serangan udara dan rudal yang dilancarkan AS tidak berhasil merusak seluruh fasilitas pengayaan uranium maupun menghancurkan sentrifugal utama Iran. Beberapa pintu masuk fasilitas memang tertutup akibat ledakan, namun bangunan bawah tanah sebagian besar tetap utuh.

Temuan ini memicu kemarahan Presiden Trump yang menuduh media seperti CNN dan The New York Times sengaja “meremehkan” capaian militer AS. Dalam unggahannya di media sosial Truth, Trump menulis dengan huruf kapital: “Situs nuklir di Iran HANCUR TOTAL!”

Gedung Putih, melalui juru bicaranya Karoline Leavitt, membenarkan adanya laporan intelijen tersebut, namun menyebutnya sebagai informasi “sangat rahasia” yang bocor secara tidak bertanggung jawab. Ia juga menyebut kesimpulan laporan itu “keliru besar”.

“Semua orang tahu bahwa ketika Anda menjatuhkan empat belas bom seberat 30.000 pon dengan presisi, hasilnya adalah kehancuran total,” ujar Leavitt di platform X (Twitter).

Utusan Khusus Presiden Trump untuk Timur Tengah, Steven Witkoff, juga membantah laporan tersebut dalam wawancaranya di Fox News. Ia menegaskan bahwa fasilitas nuklir Iran di Natanz, Isfahan, dan Fordow “sebagian besar, jika tidak semua, telah dihancurkan.”

Menurut Witkoff, serangan tersebut merusak sistem sentrifugal Iran secara signifikan.

“Hampir mustahil bagi mereka untuk menghidupkan kembali program nuklir itu dalam waktu dekat. Bisa memakan waktu bertahun-tahun,” ujarnya.

Serangan besar-besaran itu melibatkan pembom siluman B-2 AS yang menjatuhkan bom penghancur bunker GBU-57 ke dua lokasi, serta rudal Tomahawk yang ditembakkan dari kapal selam ke situs ketiga.

Presiden Trump menyebut operasi itu sebagai “keberhasilan militer yang spektakuler”, sementara Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menambahkan bahwa Washington telah “menghancurkan program nuklir Iran.”

Namun Jenderal Dan Caine, perwira tinggi militer AS, memberi nada lebih hati-hati. Ia menyebut serangan tersebut memang menyebabkan “kerusakan yang sangat parah”, namun belum tentu berarti kehancuran total.

𝗜𝗿𝗮𝗻 𝗧𝗮𝗸 𝗧𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹 𝗗𝗶𝗮𝗺

Sementara itu, Pemerintah Iran melalui Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menyatakan bahwa negaranya telah mengambil langkah cepat untuk memastikan kelangsungan program nuklir.

“Rencana untuk memulai kembali fasilitas telah disiapkan sebelumnya. Strategi kami adalah memastikan bahwa proses produksi dan layanan tidak terganggu,” kata Eslami kepada televisi pemerintah.

Seorang penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei bahkan mengatakan bahwa Iran masih memiliki cadangan uranium yang diperkaya dan memperingatkan, “Permainan belum berakhir.”

Sebelumnya, pada 13 Juni, Israel meluncurkan serangan udara terhadap sejumlah situs nuklir Iran sebagai bagian dari upaya untuk menggagalkan ambisi nuklir Teheran.

Trump, yang sebelumnya mencoba menempuh jalur diplomasi untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 yang ia batalkan pada masa jabatan pertamanya, akhirnya memilih opsi militer dalam menghadapi Iran.

Operasi militer tersebut merupakan salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir, melibatkan lebih dari 125 pesawat tempur, pembom siluman, pesawat pengisian bahan bakar, kapal selam rudal, serta pesawat pengintaian. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Tujuh Tentara Israel Tewas di Gaza Selatan, Kendaraan Tempur Terbakar Akibat Ledakan

GAZA (jurnalislam.com)– Militer Israel (IDF) mengumumkan bahwa tujuh prajuritnya tewas dalam pertempuran sengit di Jalur Gaza selatan pada Selasa (24/6/2025). Para tentara tersebut berada di dalam kendaraan tempur lapis baja yang terkena ledakan kuat saat beroperasi di kawasan Khan Younis.

Menurut pernyataan resmi IDF, kendaraan tempur lapis baja jenis Puma yang ditumpangi para prajurit terkena bahan peledak yang ditanam oleh pejuang Palestina. Ledakan tersebut menyebabkan kebakaran hebat yang menghanguskan kendaraan dan menewaskan seluruh awak di dalamnya. Upaya pemadaman gagal dilakukan, dan kendaraan tersebut akhirnya ditarik keluar dari Jalur Gaza dalam kondisi hangus.

IDF mengidentifikasi enam dari tujuh korban tewas sebagai berikut:

– Letnan Matan Shai Yashinovski (21), dari Kfar Yona

– Sersan Staf Ronel Ben-Moshe (20), dari Rehovot

– Sersan Staf Niv Radia (20), dari Elyakhin

– Sersan Ronen Shapiro (19), dari Mazkeret Batya

– Sersan Shahar Manoav (21), dari Ashkelon

– Sersan Maayan Baruch Pearlstein (20), dari Eshhar

Seluruh korban merupakan anggota Batalyon Teknik Tempur ke-605. Nama prajurit ketujuh yang juga tewas dalam insiden ini masih belum diumumkan secara resmi.

Dalam pernyataan terpisah, IDF juga melaporkan bahwa satu tentara lainnya dari batalyon yang sama mengalami luka parah dalam insiden berbeda di wilayah selatan Gaza pada hari yang sama. (Bahry)

Sumber: TOI

Al-Qassam Rilis Video Baru Operasi “Batu Daud”, Klaim Tewaskan Puluhan Tentara Israel di Khan Yunis

GAZA (jurnalislam.com)– Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, merilis video terbaru pada Selasa (24/6/2025) yang menampilkan dokumentasi serangan dalam rangkaian operasi yang mereka sebut sebagai “Batu Daud”. Video ini memuat sejumlah aksi perlawanan yang menargetkan tentara dan kendaraan militer Israel di wilayah timur Khan Yunis, Jalur Gaza selatan.

Dalam tayangan tersebut, sejumlah operasi disebut berhasil menimbulkan korban di pihak militer Israel. Berikut rincian waktu dan lokasi serangan yang diungkapkan Al-Qassam:

– 11 Juni 2025, di Al-Sanati, Abasan al-Kabira, timur Khan Yunis:
Operasi penembakan oleh penembak jitu terhadap pasukan Israel mengakibatkan dua tentara mengalami luka serius.

– 15 Juni 2025, di Al-Qudayhat, Abasan al-Kabira:
Sebuah bangunan yang diklaim digunakan oleh 11 tentara Israel menjadi sasaran rudal TBG dan roket. Serangan ini menyebabkan sejumlah tentara tewas dan luka-luka. Brigade Al-Qassam juga melaporkan keberhasilan dalam menargetkan pengangkut personel lapis baja dengan alat peledak.

– 16 Juni 2025, di Abasan al-Kabira:
Operasi gabungan antara Brigade Al-Qassam dan Brigade Al-Quds diklaim menewaskan dan melukai beberapa tentara Israel.

– 18 Juni 2025, di Al-Sanati, Abasan al-Kabira:
Operasi penembak jitu gabungan dengan Saraya al-Quds dilaporkan menewaskan seorang sersan pertama dari Unit Teknik militer Israel.

Selain video, Brigade Al-Qassam juga merilis pernyataan tertulis pada hari yang sama. Dalam keterangan resminya, mereka menyebut:

“Pejuang Al-Qassam melakukan penyergapan kompleks terhadap pasukan Zionis yang bersembunyi di sebuah rumah dengan rudal ‘Yassin 105’ dan rudal ‘RBG’, menewaskan dan melukai tentara musuh. Setelah itu, bangunan tersebut kembali dihantam dengan tembakan senapan mesin di area ‘Old License’, selatan Khan Yunis.”

Masih dari wilayah yang sama, Brigade Al-Qassam juga mengklaim telah menargetkan tank Merkava milik Israel dengan alat peledak jenis “Shawaaz” dan rudal “Yassin 105”.

Seluruh informasi ini belum dapat diverifikasi secara independen oleh media internasional karena keterbatasan akses ke wilayah konflik.

Warga Teheran Mulai Kembali, Ketegangan Masih Bayangi Pasca Gencatan Senjata

TEHERAN (jurnalislam.com)- Ribuan warga kembali memadati jalan-jalan utama di Teheran, Iran, menyusul laporan bahwa Iran dan Israel telah menyepakati gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat, pada Selasa (24/6/2025). Sebelumnya, warga ibu kota sempat berbondong-bondong meninggalkan kota setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran.

Kini, banyak warga yang kembali ke Teheran dengan harapan situasi akan membaik. Namun, seperti dilaporkan The Guardian, kehidupan di ibu kota Iran masih diwarnai ketegangan, gangguan, dan ketidakpastian.

Anahita, seorang perempuan berusia 30-an yang tinggal di Teheran, mengaku pekan terakhir menjadi masa yang penuh kecemasan bagi warga.

“Internet mati selama tiga hari. Kami tidak tahu kota mana yang diserang atau di mana evakuasi diumumkan. Orang-orang benar-benar ketakutan,” ungkapnya kepada media Inggris tersebut.

Serangan udara Israel beberapa jam sebelum gencatan senjata diumumkan menyebabkan kerusakan besar di Teheran dan sejumlah kota lainnya. Di Provinsi Gilan, sembilan orang dilaporkan tewas akibat serangan tersebut.

Meski televisi pemerintah Iran telah mengonfirmasi adanya gencatan senjata, sebagian warga tetap khawatir konflik belum benar-benar usai.

“Bom belum benar-benar berhenti,” kata Anahita.

“Banyak teman saya kembali ke kota hanya karena harus bekerja. Mereka tidak bisa terus tinggal di luar Teheran.”

Di jalan-jalan utama, keamanan diperketat. Pos pemeriksaan didirikan, dan aparat melakukan pemeriksaan kendaraan serta ponsel warga. Media pemerintah juga melaporkan adanya puluhan penangkapan terkait tuduhan spionase dan kolaborasi dengan Israel.

“Hari ini mereka umumkan penangkapan dan eksekusi,” tambah Anahita.

“Itu menakutkan. Bahkan jika seseorang bersalah, seharusnya tetap ada pengadilan yang adil.”

Banyak warga juga mengaku khawatir akan kemungkinan keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam konflik berikutnya.

“Kami takut fasilitas nuklir seperti di Bushehr akan diserang lagi. Itu bisa memicu bencana seperti Chernobyl,” ungkap narasumber The Guardian.

Gencatan senjata diumumkan beberapa jam setelah operasi militer Amerika Serikat terhadap fasilitas Iran. Presiden Trump mengklaim bahwa operasi tersebut berhasil menghancurkan target-target utama milik Iran. Gedung Putih juga menyatakan bahwa mereka telah “menghilangkan ancaman nuklir dan balistik” dari Iran, serta memperingatkan akan ada respons tegas jika perjanjian gencatan senjata dilanggar. (Bahry)

Sumber: TRT

Iran dan Israel Setujui Gencatan Senjata Setelah 12 Hari Saling Serang

IRAN (jurnalislam.com)- Iran dan Israel dikabarkan telah menyepakati gencatan senjata setelah 12 hari saling melancarkan serangan udara, termasuk serangan “menit-menit terakhir” yang dilakukan Teheran.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa pagi (24/6/2025) menyatakan bahwa Israel menyetujui usulan gencatan senjata yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada malam sebelumnya. Televisi pemerintah Iran juga melaporkan bahwa gencatan senjata telah mulai berlaku.

“Gencatan senjata sekarang berlaku. Tolong jangan langgar!” tulis Trump melalui akun media sosialnya.

Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan merespons dengan keras apabila terjadi pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut. Meski demikian, perjanjian ini memunculkan harapan akan meredanya ketegangan dalam konflik yang meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir, setelah AS menggempur fasilitas nuklir Iran dan Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Qatar.

“Dengan mempertimbangkan tercapainya tujuan operasi dan koordinasi penuh dengan Presiden Trump, Israel menyetujui usulan gencatan senjata bilateral dari Presiden,” ujar Netanyahu.

𝗚𝗲𝗹𝗼𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴 𝗦𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗥𝘂𝗱𝗮𝗹

Situasi yang relatif tenang terlihat pada Selasa pagi, menyusul enam gelombang peluncuran rudal yang dilakukan Iran hingga menjelang dimulainya gencatan senjata.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengisyaratkan bahwa serangan rudal diluncurkan tepat sebelum batas waktu gencatan senjata pukul 07.30 GMT.

“Operasi militer Angkatan Bersenjata kami yang kuat untuk menghukum Israel atas agresinya berlanjut hingga menit terakhir,” tulis Araghchi di media sosial.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan beberapa orang, menurut keterangan dari militer dan layanan darurat Israel. Tak lama kemudian, warga Israel diimbau dapat meninggalkan tempat perlindungan rudal karena tidak ada lagi serangan lanjutan yang terpantau.

Melaporkan dari Teheran, jurnalis Al Jazeera Tohid Asadi mengatakan bahwa serangan udara Israel terhadap ibu kota Iran telah berhenti. Ia menyebut ketenangan tersebut sebagai “indikasi menjanjikan terhadap prospek gencatan senjata,” meski menegaskan bahwa situasi tetap rapuh karena kedua pihak berjanji akan membalas jika kembali diserang.

𝗦𝗼𝗿𝗼𝘁𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗚𝗮𝘇𝗮

Pasca pengumuman gencatan senjata dengan Iran, oposisi di Israel mendesak pemerintah untuk segera menyepakati penghentian perang juga di Gaza yang telah berlangsung selama 20 bulan.

“Dan sekarang Gaza. Sudah waktunya untuk mengakhirinya juga di sana. Bawa pulang para sandera, akhiri perang,” tulis pemimpin oposisi Yair Lapid.

Namun demikian, sejumlah pihak dari kubu garis keras mengkritik gencatan senjata ini, dengan menyebut Iran tetap merupakan ancaman berbahaya.

“Rezim Iran bukanlah rezim yang bisa diajak membuat kesepakatan, tapi rezim yang harus dikalahkan,” ujar anggota parlemen dari Partai Likud, Dan Illouz. Ia menambahkan bahwa jika tidak dikalahkan, Iran akan terus mencari cara untuk menyerang Israel.

Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 13 Juni, dengan tudingan bahwa Teheran hampir berhasil mengembangkan senjata nuklir. Pernyataan senada disampaikan Presiden Trump menjelang serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Sabtu sebelumnya.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada Senin menuntut akses ke fasilitas nuklir Iran guna memverifikasi keberadaan dan kondisi uranium yang diperkaya. Ada spekulasi bahwa Iran telah memindahkan cadangan bahan nuklirnya sebelum serangan udara AS terhadap fasilitas Fordow, Isfahan, dan Natanz.

Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, mengatakan pada Selasa bahwa pihaknya tengah menilai kerusakan pada instalasi nuklir, dan telah mengambil langkah pemulihan.

“Rencananya adalah untuk mencegah gangguan dalam proses produksi dan layanan,” ujar Eslami, seperti dikutip kantor berita Reuters. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Serang Pangkalan AS di Qatar, Iran Dikecam Keras Saudi dan UEA

RIYADH (jurnalislam.com)— Arab Saudi pada Senin malam (23/6/2025) mengutuk keras serangan rudal yang dilancarkan Iran terhadap Qatar, menyebut tindakan tersebut sebagai agresi yang tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.

“Kerajaan Arab Saudi mengutuk dan mengecam dengan keras agresi yang dilancarkan oleh Iran terhadap Negara Qatar,” demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Saudi.

“Agresi ini merupakan pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan prinsip-prinsip bertetangga yang baik. Hal ini tidak dapat diterima dan tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun,” lanjut pernyataan tersebut.

Saudi menegaskan solidaritas penuh terhadap Qatar dan menyatakan siap mengerahkan segala kemampuannya untuk mendukung negara Teluk tersebut dalam segala tindakan yang diambil.

Sebelumnya, militer Iran mengklaim telah meluncurkan serangan rudal “menghancurkan dan dahsyat” ke arah Pangkalan Udara al-Udeid di Qatar instalasi militer Amerika Serikat terbesar di kawasan sebagai pembalasan atas serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran.

Pemerintah Qatar mengutuk keras serangan tersebut dan menyatakan bahwa mereka berhak untuk memberikan respons langsung yang sepadan sesuai hukum internasional.

Sikap senada disampaikan oleh Uni Emirat Arab (UEA). Melalui pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri yang disiarkan kantor berita WAM, UEA mengecam “dengan kata-kata yang paling keras” tindakan Iran.

“UEA mengutuk dengan sekeras-kerasnya tindakan [Iran] yang menargetkan Pangkalan Udara al-Udeid di negara saudaranya Qatar, menganggapnya sebagai pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan dan wilayah udara Qatar,” tegas pernyataan tersebut. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Trump Sebut Serangan Balasan Iran ke Pangkalan AS di Qatar “Sangat Lemah”

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (23/6/2025) menyebut serangan balasan Iran yang menargetkan pangkalan udara al-Udeid di Qatar sebagai “sangat lemah”. Ia juga menyampaikan apresiasi atas pemberitahuan awal dari Teheran yang memungkinkan tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut.

“Iran secara resmi telah merespons penghancuran fasilitas nuklir mereka dengan serangan yang sangat lemah, seperti yang kami harapkan, dan telah kami tangani dengan sangat efektif,” tulis Trump di platform media sosial miliknya, Truth Social.

Presiden Trump mengungkapkan bahwa Iran telah memberikan pemberitahuan dini sebelum peluncuran rudal, yang menurutnya memungkinkan pasukan AS untuk bersiaga dan menghindari korban.

“Saya ingin berterima kasih kepada Iran karena telah memberi kami pemberitahuan awal, yang memungkinkan tidak ada nyawa yang hilang, dan tidak ada yang terluka,” tambahnya.

Trump juga menyerukan kepada Iran untuk mengejar perdamaian dengan Israel, seraya menyatakan keyakinannya bahwa tidak akan ada balasan lebih lanjut dari Teheran terhadap Amerika Serikat.

“Iran tampaknya telah mengeluarkan semuanya dari sistem mereka, dan mudah-mudahan, tidak akan ada lagi kebencian,” kata Trump.

“Mungkin Iran kini dapat melangkah menuju perdamaian dan harmoni di kawasan, dan saya akan dengan antusias mendorong Israel untuk melakukan hal yang sama,” lanjutnya.

Sebelumnya, militer Iran mengonfirmasi telah meluncurkan rudal ke arah pangkalan militer AS di al-Udeid, Qatar, pada Senin malam, sebagai bentuk balasan atas serangan udara AS terhadap tiga fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan.

Menurut pejabat militer Iran, serangan rudal itu bersifat “menghancurkan dan dahsyat”. Namun, pihak militer AS menyatakan bahwa tidak ada personel yang tewas maupun terluka dalam insiden tersebut.

Sumber diplomatik regional mengungkapkan kepada Reuters bahwa Iran telah memberi tahu AS mengenai serangan tersebut melalui dua saluran diplomatik beberapa jam sebelumnya, serta memberitahu otoritas Qatar.

Qatar sendiri mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal yang mengarah ke pangkalan al-Udeid, yang merupakan instalasi militer AS terbesar di Timur Tengah.

Serangan Iran ini terjadi menyusul aksi bom seberat 30.000 pon (13,6 ton) yang dijatuhkan pesawat pembom strategis AS ke fasilitas nuklir bawah tanah Iran akhir pekan lalu. Serangan tersebut dilakukan bersamaan dengan serangan udara Israel terhadap Iran. Presiden Trump juga sempat mengisyaratkan kemungkinan pergantian rezim di Teheran.

Pangkalan udara al-Udeid di Qatar adalah pangkalan militer terbesar Amerika Serikat di Timur Tengah, yang menjadi pusat komando utama untuk operasi militer AS di kawasan. Pangkalan ini menampung sekitar 10.000 personel militer AS dan koalisi, serta menjadi markas bagi Komando Pusat AS (CENTCOM), dengan fasilitas strategis seperti landasan pacu sepanjang 3,6 kilometer, pusat pengendali operasi udara, dan tempat parkir bagi pesawat pembom dan pengintai. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Krisis Energi Ancam Kelangsungan Hidup Warga Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Krisis energi akibat blokade yang diberlakukan Israel kian memperburuk kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Dewan Pengungsi Norwegia (NRC) memperingatkan bahwa kurangnya akses terhadap energi yang andal kini menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup warga Palestina.

Dalam pernyataan yang dirilis pada Senin (23/6/2025), NRC menyebut bahwa penolakan akses terhadap listrik dan bahan bakar oleh Israel merupakan bentuk pelanggaran terhadap kebutuhan dasar manusia.

“Di Gaza, energi bukan tentang kenyamanan ini tentang bertahan hidup,” ujar Benedicte Giaever, Direktur Eksekutif NORCAP, bagian dari NRC.

Giaever menegaskan bahwa ketika keluarga tidak dapat memasak, rumah sakit tidak dapat beroperasi, dan pompa air berhenti bekerja, dampaknya sangat menghancurkan. Ia mendesak komunitas internasional untuk memprioritaskan kebutuhan energi dalam seluruh upaya kemanusiaan di Gaza.

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) memperkirakan sebanyak 2,1 juta penduduk Gaza tidak memiliki akses terhadap listrik. Akibatnya, fasilitas kesehatan lumpuh: operasi darurat terpaksa ditunda, ventilator dan mesin dialisis tidak berfungsi, dan inkubator bayi tidak dapat digunakan.

Kekurangan energi juga memengaruhi fasilitas desalinasi, membuat 70 persen rumah tangga tidak memiliki akses air bersih. Banyak warga terpaksa membakar plastik dan puing-puing untuk memasak, yang turut membahayakan kesehatan.

NRC juga menyoroti meningkatnya risiko kekerasan berbasis gender di malam hari akibat ketiadaan penerangan.

“Sudah terlalu lama, masyarakat Gaza mengalami siklus konflik, blokade, dan kekurangan. Namun, krisis saat ini menghadirkan keputusasaan baru yang mengancam kelangsungan hidup dan masa depan mereka,” kata Sekjen NRC, Jan Egeland.

Di tengah krisis tersebut, militer Israel dilaporkan terus melancarkan serangan ke titik distribusi bantuan yang dikelola Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) organisasi yang kontroversial karena didukung oleh Israel dan Amerika Serikat.

Dalam laporan hariannya pada Senin (23/6/2025), Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan bahwa sedikitnya 39 jenazah telah dibawa ke rumah sakit dalam 24 jam terakhir, dan sedikitnya 317 orang terluka akibat serangan Israel.

Sejak Israel melonggarkan blokade totalnya bulan lalu, lebih dari 400 warga dilaporkan tewas saat mencoba mengambil bantuan makanan dari pusat distribusi.

Peringatan juga disampaikan oleh Kepala OCHA untuk Gaza dan Tepi Barat, Jonathan Whittall, pada Minggu (22/6/2025). Ia menyoroti pola serangan Israel terhadap warga yang tengah berupaya mencari makanan.

“Kami melihat pola mengerikan pasukan Israel yang melepaskan tembakan ke kerumunan yang berkumpul untuk mendapatkan makanan. Upaya bertahan hidup disambut dengan hukuman mati,” ujarnya. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

25 Pesantren Terpilih dari Jawa Timur dan Bali Ikuti Pelatihan Ramah Lingkungan oleh PPIM UIN Jakarta

PAMEKASAN (jurnalislam.com)— Dalam upaya memperkuat peran pesantren dalam menjaga kelestarian lingkungan, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta menyelenggarakan Pelatihan Pengembangan Kapasitas Pesantren Ramah Lingkungan selama empat hari, sejak Jumat, (20/6/2025) pukul 15.00 WIB hingga Senin, (23/6/2025) pukul 12.00 WIB. Kegiatan ini bertempat di Hotel Odaita, Kabupaten Pamekasan, Madura.

Pelatihan ini diikuti oleh perwakilan dari 25 pesantren terpilih yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Bali. Di antaranya: Bustanul Ulum, Matholi’ul Anwar, Raudlatul Islamiyah, KH. Abdul Chalim, Sabilur Rahmah, Royan Al-Manshurien, Miftahul Ulum Al Asy’ariyah Putri Bunten, Madrasatul Quran Tebuireng, Modern Hikmatuddien, Nurul Hidayah, Miftahul Khoir, MTA Tahfidz Al Amien Prenduan, Firdaus, Arraudhah Utara, Fathul Ulum, Al-Ishlah, Bayt Al Hikmah Pasuruan, Salafiyah Kapurejo Pagu Kediri, Darut Tholabah, PPTQ Al Himmah Dau Malang, Gadingmangu, Thursina International Islamic Boarding School Malang, Bustanus Syubban, Miftahul Ulum, dan Al Azhar.

Selama kegiatan, para peserta dibekali pemahaman menyeluruh tentang pentingnya ekosistem berkelanjutan dan peran pesantren dalam menciptakan budaya ramah lingkungan berbasis nilai-nilai keislaman. Tidak hanya dalam bentuk seminar, pelatihan ini mengedepankan metode komunikasi dua arah yang interaktif, memperkuat jejaring antar-pesantren, serta mendorong kolaborasi program nyata di lapangan.

Salah satu agenda spesial dari pelatihan ini adalah kunjungan lapangan ke Pesantren Ramah Lingkungan Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, yang menjadi model praktik pengelolaan lingkungan berbasis pesantren. Para peserta diajak langsung melihat proses pemilahan, pengolahan, hingga pemusnahan limbah, serta meninjau Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang terintegrasi dengan sistem pesantren. Pengalaman lapangan ini menambah wawasan konkret dan inspirasi baru bagi para peserta.

Apresiasi luar biasa datang dari seluruh peserta. Mereka bahkan berharap pelatihan serupa bisa digelar dalam durasi lebih panjang agar pembahasan semakin komprehensif.

“Saya berharap kegiatan semacam ini diagendakan selama 7 hari sehingga pembahasan semakin tuntas,” ungkap Al-Ustadz Ammar Zainuddin dari Pesantren KH. Abdul Chalim, Pacet-Mojokerto.

Sementara itu, ucapan terima kasih tulus disampaikan oleh Al-Ustadz Ali Hasan Al Banna dari Pesantren Firdaus, Bali.

“Kami atas nama pribadi dan lembaga mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Prof. Iim beserta tim PPIM UIN Jakarta atas semua ilmu, pengalaman dan pelayanan yang telah diberikan. Terima kasih juga kepada semua kiai, bu nyai, gawagis, nawaning, lawair, ustadz dan ustadzah atas ukhuwah dan sharingnya. Semoga silaturahmi ini tetap bahkan harus berlanjut dan membawa kemanfaatan serta keberkahan ke depan,” katanya.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga dapat menjadi pelopor dalam gerakan pelestarian lingkungan berbasis nilai-nilai Islam.

Semoga upaya ini menjadi langkah besar menuju pesantren hijau yang mandiri, edukatif, dan berkelanjutan di masa depan.

Kontributor: Nofa Miftahudin

Bom Bunuh Diri ISIS di Gereja Damaskus Tewaskan 22 Orang, 63 Terluka

DAMASKUS (jurnalislam.com)– Sebuah serangan bom bunuh diri yang dilakukan oleh kelompok teroris ISIS menargetkan sebuah gereja di Damaskus, Suriah, pada Ahad malam (22/6/2025). Serangan itu menewaskan sedikitnya 22 orang dan melukai 63 orang lainnya, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Suriah.

Peristiwa tragis ini menjadi serangan bom bunuh diri pertama di Suriah sejak Presiden Bashar al-Assad digulingkan pada Desember lalu dan digantikan oleh pemerintahan baru yang dipimpin oleh kelompok Islamis.

Kementerian Dalam Negeri Suriah menyatakan bahwa seorang pelaku bom bunuh diri yang berafiliasi dengan ISIS menyerang Gereja Ortodoks Yunani Saint Elias di kawasan Kristen lama Damaskus. Pelaku masuk ke dalam gereja saat ibadah berlangsung, melepaskan tembakan, dan kemudian meledakkan rompi peledaknya. Saksi mata menyebut adanya pelaku kedua yang juga melepaskan tembakan ke arah sekitar 150 jemaat namun tidak meledakkan dirinya.

“Orang-orang ibadah dengan aman di bawah pengawasan Tuhan,” ujar Fadi Ghattas, seorang saksi mata yang mengaku melihat sedikitnya 20 korban tewas. “Ada 350 orang yang ibadah di gereja itu,” tambahnya.

Video yang beredar menunjukkan kondisi di dalam gereja yang hancur berantakan, bangku-bangku roboh, dan mayat-mayat berserakan di lantai, berlumuran darah. Warga sekitar mendengar ledakan besar disusul suara tembakan dan sirene, sementara pasukan keamanan langsung mengepung lokasi kejadian.

Issam Nasr, seorang jemaat yang selamat, mengatakan bahwa ia menyaksikan orang-orang “terbakar berkeping-keping”. “Kami tidak pernah memegang pisau seumur hidup kami. Yang kami bawa hanyalah doa-doa kami,” ucapnya haru.

Serangan ini terjadi setelah beberapa bulan terakhir ISIS melakukan aktivitas dan propaganda berskala kecil, memanfaatkan kekosongan keamanan pasca jatuhnya Assad untuk kembali bangkit. Menurut pejabat Suriah, kelompok teroris tersebut telah menyita sejumlah besar senjata dan amunisi yang ditinggalkan tentara Assad untuk memperkuat persenjataan mereka.

Pemerintah baru Suriah, yang dipimpin oleh eks-komandan Hayat Tahrir al-Sham (HTS), terus melancarkan operasi kontra-ISIS. HTS yang sebelumnya merupakan kelompok perlawanan, kini menjadikan keamanan nasional sebagai prioritas dan menganggap ISIS sebagai ancaman serius.

Namun, ISIS mencoba menarik simpati pejuang Islamis yang kecewa dengan arah baru pemerintahan Islamis moderat. Media propaganda ISIS bahkan menyebarkan foto Presiden Suriah Ahmed Al-Sharaa saat bertemu Presiden AS Donald Trump di Riyadh, menyebutnya sebagai bentuk “pengkhianatan terhadap perjuangan jihad”.

Meski begitu, pemerintah Suriah tetap menegaskan komitmennya terhadap perlindungan kelompok minoritas. Aparat keamanan terus memperketat penjagaan di kawasan Kristen Damaskus, termasuk memeriksa semua kendaraan yang masuk.

Menteri Informasi Suriah, Hamza Al-Mustafa, menyatakan, “Tindakan pengecut ini bertentangan dengan nilai-nilai kewarganegaraan yang menyatukan kita semua. Kami menyerukan persatuan nasional dan penguatan ikatan antarkomunitas.”

Pemerintah kota Damaskus menyebut penyelidikan sedang berlangsung untuk mengungkap latar belakang serangan tersebut. Kementerian Luar Negeri Suriah mengecam keras kejadian ini, menyebutnya sebagai “upaya putus asa untuk merusak kerukunan nasional dan stabilitas negara”.

Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Geir Pedersen, juga menyampaikan kecaman keras. Dalam pernyataannya, ia menyebut serangan tersebut sebagai “kejahatan keji” dan mendesak investigasi menyeluruh oleh otoritas Suriah.

Hingga kini, pemerintah Suriah masih berupaya memperluas kendali atas seluruh wilayah negara yang masih dipenuhi kelompok milisi bersenjata. Kementerian Pertahanan sedang dalam proses menggabungkan milisi ke dalam angkatan bersenjata nasional dan melucuti kelompok-kelompok yang menolak.

Sementara itu, Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin suku Kurdi dan didukung Amerika Serikat, tetap menjadi kekuatan utama dalam memerangi ISIS. Kerja sama antara SDF dan pemerintah baru Suriah terus dibangun meski masih berada pada tahap awal.

Pemerintah AS dan negara-negara koalisi anti-ISIS lainnya menyatakan kebangkitan ISIS di Suriah sebagai perhatian utama mereka dalam menjaga stabilitas kawasan.

Sebagai catatan, ISIS telah masuk dalam daftar kelompok teroris internasional dan sebelumnya sempat menguasai wilayah luas di Suriah dan Irak, sebelum kekuasaannya dipukul mundur secara militer. Mereka masih menjadi ancaman nyata melalui serangan sporadis dan jaringan bawah tanah yang tersebar di berbagai wilayah. (Bahry)

Sumber: Guardian