Trump Beri Waktu Dua Pekan, AS Akan Gabung Perang Israel-Iran?

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan tenggat waktu dua minggu untuk memutuskan apakah Negeri Paman Sam akan ikut bergabung dalam perang antara Israel dan Iran. Langkah ini diambil untuk memberi ruang bagi upaya diplomasi sebelum konflik meluas ke skala yang lebih besar, demikian pernyataan dari Gedung Putih pada Kamis (19/6/2025).

Keputusan ini muncul setelah pernyataan terbuka Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang menyatakan bahwa perubahan rezim di Iran menjadi tujuan perang mereka. Dalam kunjungan ke rumah sakit Soroka di Beersheba yang menjadi sasaran rudal Iran, Katz menyebut bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, “tidak boleh dibiarkan hidup.”

“Khamenei telah secara terbuka menyerukan penghancuran Israel dan memerintahkan serangan langsung ke rumah sakit. Orang seperti itu tidak boleh dibiarkan ada,” tegas Katz di hadapan wartawan.

Israel, yang sebelumnya hanya menargetkan situs militer dan fasilitas nuklir Iran, kini mulai menyerang target-target nonmiliter seperti stasiun penyiaran nasional yang disebut Katz sebagai “simbol rezim.”

Serangan rudal Iran ke rumah sakit Soroka sendiri tidak menimbulkan korban jiwa karena pasien dan staf telah berlindung di tempat aman. Namun, kerusakan bangsal dan suasana panik yang terjadi memicu kemarahan publik Israel.

Rudal lainnya menghantam wilayah sekitar Tel Aviv, menyebabkan lebih dari 200 orang terluka, termasuk empat luka berat. Salah satu rudal menghantam dasar gedung pencakar langit di Ramat Gan, hanya 200 meter dari pusat perdagangan berlian Israel.

“Rasanya seperti bom atom. Seperti gempa bumi,” kata Asher Adiv (69), warga sekitar. Adiv, yang memiliki darah Yahudi Iran dan fasih berbahasa Persia, menyampaikan harapan agar rakyat Iran bangkit menentang rezim Ayatullah.

“Kami berjuang bukan hanya untuk Israel, tapi untuk dunia. Kami minta Trump untuk turun tangan dan selesaikan ini,” ujarnya.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mencoba meredam ketegangan dengan menyatakan bahwa perubahan rezim Iran “bukanlah tujuan resmi” dari operasi militer mereka.

Namun, tekanan dari dalam Israel terhadap AS untuk terlibat secara langsung terus meningkat. Terutama karena hanya Amerika Serikat yang memiliki senjata konvensional sekuat bom penghancur bunker GBU-57, yang diyakini mampu menembus situs nuklir Iran yang paling terlindungi seperti Fordow, yang terkubur lebih dari 100 meter di bawah gunung dekat kota suci Qom.

Netanyahu dan para pejabat senior Israel terus mendorong Trump agar tidak hanya mendukung dari belakang, tetapi ikut serta dalam serangan langsung ke jantung program nuklir Iran. Sumber di pemerintahan AS menyebutkan bahwa rencana serangan sudah disusun, namun Trump masih menunggu kemungkinan kesepakatan terakhir dari Teheran untuk menghentikan pengayaan uranium.

Fordow bukan satu-satunya sasaran. Situs Natanz yang sudah beberapa kali diserang sebelumnya dan reaktor air berat lainnya juga dianggap sebagai target utama karena potensinya dalam menghasilkan plutonium, bahan baku alternatif untuk senjata nuklir.

Iran sendiri bersikeras bahwa program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai. Meski demikian, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sebelumnya telah mengecam Iran karena memperkaya uranium hingga 60%, hanya satu langkah teknis menuju tingkat senjata nuklir.

Ironisnya, Israel yang menuduh Iran, justru merupakan satu-satunya kekuatan nuklir di kawasan meski tidak pernah secara resmi mengakui memiliki senjata tersebut. Negara Zionis itu juga belum pernah menandatangani perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Di tengah meningkatnya eskalasi, sejumlah negara mulai bersiap mengevakuasi warganya dari Iran dan Israel. Pemerintah Israel juga tengah mengupayakan pemulangan puluhan ribu warganya yang terdampar di luar negeri, sementara bandara utama Israel tetap ditutup sejak gelombang serangan pertama terhadap Iran dimulai. (Bahry)

Sumber: The Guardian

Brigade Al-Qassam Hancurkan Tiga Tank Merkava Israel, Al-Quds Tembak Jatuh Drone Canggih

GAZA (jurnalislam.com)– Brigade Al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Palestina Hamas, mengklaim telah menghancurkan tiga tank tempur Merkava milik Israel menggunakan alat peledak berkekuatan tinggi.

Dalam pernyataan resminya, Al-Qassam menyebut aksi ini terjadi pada pertengahan Juni 2025 di kawasan timur kamp pengungsi Jabaliya, Jalur Gaza bagian utara.

“Setelah kembali dari garis pertempuran, para pejuang kami mengonfirmasi penghancuran tiga tank Merkava dengan tiga bom darat berdaya ledak tinggi,” tulis Al-Qassam dalam rilis yang dipublikasikan pada 19 Juni.

Mereka juga mengklaim berhasil menembak mati seorang tentara Israel di timur lingkungan Shuja’iyya, Kota Gaza, pada 6 Juni lalu.

Sementara itu, Brigade Al-Quds—sayap militer Gerakan Jihad Islam—mengumumkan telah menembak jatuh sebuah drone tempur Israel jenis Matrice 600 di kawasan Al-Tuffah, Gaza timur.

Menurut mereka, drone tersebut bersenjata dan membawa bom serta mortir yang dapat dijatuhkan secara vertikal.

Brigade Al-Quds juga mengklaim telah meledakkan kendaraan militer Israel menggunakan alat peledak di dekat Masjid Riyadh al-Salehin, timur Jabaliya, tiga hari sebelumnya. Dalam serangan itu, mereka menyatakan juga meluncurkan tembakan mortir ke arah pasukan Israel dan mengenai sasaran secara langsung.

Tak hanya itu, para pejuang mereka juga disebut berhasil menghancurkan kendaraan militer Israel lainnya dengan alat peledak laras tinggi yang telah ditanam lebih dulu di daerah Jouret al-Lout, selatan Khan Yunis, Gaza bagian selatan.

Dalam pernyataan terpisah, militer Israel mengonfirmasi tewasnya empat tentaranya di Jalur Gaza. Salah satunya adalah Sersan Staf Stav Halfon (20 tahun) dari Batalyon Teknik Tempur ke-603, yang tewas akibat tembakan penembak jitu di Khan Younis, Gaza selatan, pada Rabu (18/6).

Selain itu, seorang prajurit cadangan dari Brigade Parasut Cadangan ke-646 juga mengalami luka parah di lokasi yang sama. Dua prajurit lainnya, Kapten (Purn.) Tal Movshovitz dan Sersan Staf Naveh Leshem, sebelumnya dilaporkan tewas dalam insiden terpisah di Khan Younis. Hingga saat ini, total korban tewas dari pihak Israel dalam serangan darat di Gaza dan operasi militer di sepanjang perbatasan Gaza telah mencapai 433 personel. (Bahry)

Sumber: PC & TOI

IRGC Klaim Kuasai Langit Israel, Rudal Fattah Tembus Pertahanan Udara Zionis

TEHERAN (jurnalislam.com)– Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada Rabu (18/6/2024) mengklaim telah menguasai sepenuhnya wilayah udara Israel setelah meluncurkan gelombang serangan rudal hipersonik Fattah-1 dalam Operasi True Promise 3.

IRGC menyatakan bahwa rudal Fattah generasi pertama berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel dan menghantam tempat-tempat perlindungan militer dengan presisi tinggi. Serangan ini diklaim sebagai balasan terhadap agresi militer Israel terhadap situs militer dan nuklir Iran pekan lalu.

“Rudal Fattah yang kuat dan sangat lincah telah menembus perisai pertahanan rudal, mengguncang perlindungan para pengecut Zionis berkali-kali,” demikian kutipan pernyataan resmi IRGC.

“Serangan rudal malam ini membuktikan bahwa kami kini memegang kendali penuh atas langit wilayah yang diduduki.”

Pernyataan tersebut merupakan respons terhadap klaim sebelumnya dari pejabat militer Israel dan Amerika Serikat yang menyatakan telah menguasai wilayah udara Iran. Dalam beberapa hari terakhir, militer Israel melancarkan serangan udara intensif dan menyebut kini dapat terbang di atas Teheran tanpa perlawanan signifikan, usai melumpuhkan sistem pertahanan udara Iran.

Israel juga memperingatkan warga sipil di Teheran untuk mengungsi, dan dilaporkan telah menyerang kantor pusat televisi pemerintah Iran saat sedang melakukan siaran langsung. Serangan tersebut merupakan bagian dari Operasi Lion’s Courage yang dicanangkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

“Serangan ini akan terus berlanjut hingga semua fasilitas nuklir dan persenjataan rudal Iran dihancurkan,” tegas Netanyahu.

Presiden AS Donald Trump, melalui akun Truth Social miliknya, juga mendukung operasi Israel. Ia menulis bahwa pasukan AS dan Israel kini memegang kendali penuh atas langit Iran, menyebut dominasi udara itu sebagai hasil kekuatan teknologi buatan Amerika.

Namun IRGC menegaskan bahwa dengan pengerahan rudal Fattah-1, mereka kini juga memegang kekuasaan penuh atas langit Israel. Rudal hipersonik ini pertama kali diluncurkan Iran pada 2023 dan dirancang khusus untuk menghindari sistem pertahanan seperti Iron Dome dan Arrow.

Fattah-1 adalah rudal jarak menengah sepanjang 12 meter, dengan hulu ledak seberat 200 kilogram, jangkauan hingga 1.400 kilometer, dan kecepatan maksimum Mach 14,6 atau sekitar 17.900 km/jam. Ditenagai bahan bakar padat satu tahap dan dilengkapi wahana luncur hipersonik (HGV), rudal ini mampu bermanuver selama penerbangan untuk menghindari intersepsi.

IRGC menegaskan bahwa penggunaan rudal Fattah-1 dalam konflik saat ini merupakan pengerahan militer strategis pertama sejak konflik eskalatif dimulai pada pertengahan Juni, dan diproyeksikan akan menjadi titik balik signifikan dalam dinamika militer di kawasan.

Dengan kedua pihak kini saling mengklaim supremasi udara, eskalasi konflik tampaknya akan terus berlanjut, belum ada tanda-tanda bahwa ketegangan akan mereda dalam waktu dekat. (Bahry)

Sumber: Cradle

Bunker Nuklir Iran Terlalu Kuat, Bom Amerika Jadi Harapan Terakhir?

IRAN (jurnalislam.com)- Bom penghancur bunker milik Amerika Serikat menjadi satu-satunya senjata konvensional yang mampu menghancurkan fasilitas nuklir Iran yang tersembunyi jauh di bawah tanah. Senjata ini disebut-sebut sebagai pilihan utama Presiden Donald Trump jika ia memutuskan untuk secara militer mendukung Israel menghadapi Iran.

Bom tersebut adalah GBU-57 atau Massive Ordnance Penetrator (MOP) — hulu ledak seberat 30.000 pon (sekitar 13.600 kilogram) yang mampu menembus hingga 200 kaki (61 meter) ke dalam tanah sebelum meledak. Meskipun dirancang untuk menghancurkan target strategis seperti fasilitas nuklir, bom ini tidak tersedia dalam gudang senjata Israel.

𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗽𝗮 𝗕𝗼𝗺 𝗜𝗻𝗶 𝗦𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴?

Dalam beberapa hari terakhir, militer Israel telah melakukan serangkaian serangan yang menewaskan sejumlah komandan militer Iran dan merusak berbagai instalasi di permukaan. Namun, serangan tersebut justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

“Stok rudal, peluncur, pangkalan militer, fasilitas produksi, ilmuwan nuklir, serta sistem komando dan kendali militer Iran telah mengalami kerusakan serius,” ujar Behnam Ben Taleblu, Direktur Program Iran di lembaga kajian Foundation for Defense of Democracies (FDD) yang berbasis di Washington.

Meski begitu, lanjut Taleblu, masih menjadi tanda tanya besar apakah serangan Israel benar-benar mampu menarget jantung program nuklir Iran.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) melaporkan bahwa fasilitas pengayaan uranium Fordow, yang terletak di selatan Teheran, tidak mengalami kerusakan. Berbeda dengan situs Natanz dan Isfahan yang lebih mudah diakses, Fordow dibangun jauh di bawah tanah, dan diyakini berada 300 kaki di bawah permukaan batuan keras, membuatnya di luar jangkauan bom konvensional Israel.

“Semua mata tertuju pada Fordow,” kata Taleblu sebagaimana dilansir dari The New Arab (18/6).

𝗛𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗔𝗦 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗣𝘂𝗻𝘆𝗮 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗸𝗻𝗶𝘀

Mantan Letnan Jenderal Angkatan Darat AS sekaligus peneliti di Rand Corporation, Mark Schwartz, menegaskan bahwa hanya Amerika Serikat yang memiliki kapasitas konvensional untuk menghancurkan situs semacam itu — yang dimaksud adalah bom GBU-57.

Militer AS menyatakan bahwa bom ini dirancang khusus untuk menembus struktur bawah tanah yang sangat dalam. Tidak seperti bom pada umumnya yang meledak setelah benturan, GBU-57 memiliki selongsong baja khusus yang diperkeras, serta sekering tahan tekanan tinggi agar mampu menembus batuan dan beton sebelum meledak di dalam tanah.

Pengembangan bom ini dimulai pada awal 2000-an dan kontrak produksi sebanyak 20 unit diberikan kepada Boeing pada 2009.

𝗕𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗕𝗼𝗺 𝗜𝗻𝗶 𝗗𝗶𝗸𝗶𝗿𝗶𝗺𝗸𝗮𝗻?

Satu-satunya pesawat yang mampu membawa dan menjatuhkan GBU-57 adalah pesawat pengebom siluman B-2 milik AS. Beberapa unit B-2 sempat terlihat dikerahkan ke pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia, pada awal Mei lalu. Namun, berdasarkan analisis citra satelit dari Planet Labs yang dikutip AFP, pesawat-pesawat ini tak lagi tampak pada pertengahan Juni.

Dengan jangkauan penerbangan yang sangat jauh, B-2 mampu terbang langsung dari AS menuju Timur Tengah untuk melakukan misi pengeboman — sesuatu yang telah dilakukan sebelumnya, menurut peneliti pertahanan CSIS, Masao Dahlgren.

Setiap B-2 mampu membawa dua bom GBU-57, dan menurut Schwartz, satu kali serangan tidak cukup.

“Mereka tidak akan cukup hanya dengan satu bom, kemungkinan besar perlu beberapa bom untuk mencapai efektivitas maksimal,” ujar Schwartz. Ia juga menambahkan bahwa dominasi udara Israel atas wilayah Iran saat ini dapat mengurangi risiko misi pengeboman jika dilakukan oleh AS.

𝗔𝗽𝗮 𝗗𝗮𝗺𝗽𝗮𝗸𝗻𝘆𝗮?

Taleblu menekankan bahwa intervensi militer AS seperti ini akan membawa beban politik besar, mengingat dampaknya terhadap kawasan dan dunia internasional. Ia juga menegaskan bahwa GBU-57 bukan satu-satunya cara untuk menangani program nuklir Iran.

Tanpa bom GBU-57 dan tanpa adanya solusi diplomatik, Israel kemungkinan akan memilih cara alternatif, seperti menyerang pintu masuk fasilitas bawah tanah, menghancurkan jalur listrik dan sistem pendukung lainnya, sebagaimana yang pernah dilakukan terhadap situs Natanz. (Bahry)

Sumber: TNA

Malaysia Inisiasi Armada Seribu Kapal untuk Menembus Blokade Gaza

KUALA LUMPUR (jurnalislam.com)– Organisasi masyarakat sipil di Malaysia pada Sabtu (14/6/2025) mengumumkan rencana peluncuran “mobilisasi maritim terbesar di dunia” untuk memutus blokade Israel di Jalur Gaza. Kampanye ini diberi nama “Armada Seribu Kapal” dan bertujuan mengirim kapal dari berbagai benua secara terkoordinasi guna menyalurkan bantuan kemanusiaan dan menekan Israel untuk mengakhiri pengepungan terhadap Gaza.

Inisiatif tersebut diumumkan dalam konferensi pers di Kuala Lumpur oleh Azmi Abdul Hamid, Ketua Dewan Konsultatif Organisasi Islam Malaysia (MAPIM). Menurutnya, kampanye ini merupakan respons terhadap aksi militer brutal Israel dan kejahatan genosida yang sedang berlangsung di Gaza.

“Ini adalah tanggapan global terhadap kekejaman yang dilakukan terhadap rakyat Palestina. Kami tidak bisa lagi diam,” ujar Azmi.

Azmi menyampaikan bahwa koordinasi telah dimulai dengan berbagai kelompok masyarakat sipil di Eropa, Asia, dan Amerika Latin. Ia mengklaim bahwa gagasan armada ini telah mendapatkan dukungan internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Penyitaan kapal bantuan Madleen oleh militer Israel beberapa waktu lalu disebut sebagai titik balik dalam upaya global untuk menembus blokade Gaza. Meskipun gagal mencapai tujuannya, kapal itu disebut berhasil menarik perhatian dunia terhadap situasi kemanusiaan yang memburuk di Jalur Gaza.

“Armada kali ini akan jauh lebih besar dan lebih terorganisasi dibanding Mavi Marmara pada tahun 2010,” tambah Azmi, merujuk pada misi bantuan yang berakhir tragis dengan terbunuhnya 10 aktivis oleh pasukan Israel.

Dalam pernyataan bersama yang ditandatangani puluhan organisasi di Malaysia, kampanye ini memiliki empat tujuan utama:

1. Mencabut blokade Israel terhadap Gaza,

2. Memfasilitasi pengiriman bantuan kemanusiaan,

3. Mengamankan perlindungan internasional bagi warga Palestina,

4. Menuntut pertanggungjawaban atas kejahatan perang yang dilakukan oleh Israel.

Penyelenggara juga menyerukan perlindungan internasional bagi para relawan dari berbagai negara yang akan berpartisipasi dalam armada ini. Seruan ini ditujukan untuk mendorong tekanan diplomatik tidak langsung terhadap Israel melalui jalur hukum dan diplomasi.

Secara paralel, aktivis Malaysia juga menggelar aksi demonstrasi di depan kantor Otoritas Pengembangan Investasi Malaysia (MIDA). Mereka menuntut pemutusan hubungan dagang dengan perusahaan-perusahaan yang masih beroperasi di wilayah pendudukan Palestina.

Salah satu target kritik adalah perusahaan asal AS, Caterpillar, yang dituding terlibat dalam penghancuran rumah warga Palestina karena menyediakan buldoser untuk militer Israel.

Sebagai bagian dari inisiatif ini, MAPIM mengumumkan pembentukan sekretariat internasional dan dana keuangan khusus untuk mengoordinasikan logistik, pengadaan kapal, dan dukungan dari kelompok-kelompok kemanusiaan di seluruh dunia. MAPIM juga mengajak individu, organisasi, dan perusahaan untuk memberikan bantuan teknis maupun material.

Kampanye ini muncul di tengah meningkatnya frustrasi global atas kegagalan komunitas internasional dalam menghentikan perang di Gaza atau menegakkan hukum humaniter internasional.

Penyelenggara menyatakan bahwa persiapan tengah berlangsung dan pengumuman lebih lanjut akan disampaikan dalam beberapa pekan mendatang. (Bahry)

Sumber: TNA

AS Waspadai Iran Tanam Ranjau di Selat Hormuz jika Terlibat Dukung Israel

WASHINGTON, DC (jurnalislam.com)– Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat, dan kini muncul kekhawatiran baru dari pejabat Amerika Serikat bahwa Iran dapat menanam ranjau di Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia, jika Washington memutuskan untuk secara langsung mendukung operasi militer Israel terhadap Teheran.

Menurut laporan The New York Times, Selasa (17/6), informasi intelijen yang telah ditinjau oleh pemerintahan Presiden Donald J. Trump menunjukkan bahwa Iran kemungkinan besar akan menempuh strategi militer tersebut dalam upaya menjebak kapal-kapal perang Amerika yang beroperasi di Teluk Persia.

“Para pejabat mengatakan bahwa jika terjadi serangan, Iran dapat mulai menambang di Selat Hormuz, sebuah taktik yang dimaksudkan untuk menjepit kapal perang Amerika di Teluk Persia,” tulis laporan tersebut.

Ancaman ini memperkuat kekhawatiran bahwa konflik berskala terbatas antara Israel dan Iran bisa meningkat menjadi konflik regional besar yang melibatkan bentrokan langsung antara Iran dan Amerika Serikat.

Situasi menjadi semakin genting dengan munculnya laporan bahwa Iran telah menyiapkan rudal balistik dan persenjataan lainnya untuk menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah, termasuk di Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, dan Yordania. Target utama Iran disebut-sebut adalah fasilitas nuklir bawah tanah Fordo yang mungkin akan diserang oleh Israel.

Sebagai respons atas potensi ancaman tersebut, militer AS dilaporkan telah menempatkan lebih dari 40.000 tentaranya di kawasan dan meningkatkan kesiagaan di berbagai pangkalan militer di Arab Saudi, UEA, dan Yordania.

Sementara itu, Iran secara terbuka menyatakan siap membalas jika mendapat serangan dari AS atau Israel. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam pernyataannya pada Senin (16/6) menegaskan bahwa:

“Musuh kita harus tahu bahwa mereka tidak dapat mencapai solusi dengan serangan militer terhadap kita dan tidak akan dapat memaksakan keinginan mereka kepada rakyat Iran.” ungkapnya.

Ia juga memperingatkan bahwa AS dan Israel akan bertanggung jawab atas setiap bentuk eskalasi konflik di kawasan.

Pejabat intelijen AS mengatakan, banyak pangkalan rudal Iran saat ini sudah dalam jangkauan pangkalan-pangkalan militer Amerika, sehingga Iran tidak memerlukan persiapan besar-besaran untuk melancarkan serangan balasan.

Di sisi lain, Pentagon disebut tengah mempersiapkan kemungkinan operasi militer, termasuk penggunaan pesawat pembom siluman B-2 dan bom penghancur bunker Massive Ordnance Penetrator, jika Israel kesulitan menembus fasilitas nuklir bawah tanah Iran yang diperkuat.

Namun, sejumlah analis memperingatkan bahwa keterlibatan langsung AS hanya akan memperburuk situasi. Rosemary Kelanic, analis dari lembaga pemikir Defense Priorities yang berbasis di Washington, menyatakan:

“Tidak ada kata terlambat untuk tidak memulai perang. Intervensi AS hanya akan melipatgandakan secara dramatis dorongan Iran untuk mengembangkan senjata nuklir.” terang Kelanic. (Bahry)

Sumber: AA

Khamenei Bersumpah Tak Akan Ampuni Pemimpin Israel, Trump: Kami Tahu Lokasinya

TEHERAN (jurnalislam.com)– Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, pada Rabu (18/6) bersumpah bahwa Iran tidak akan menunjukkan belas kasihan terhadap para pemimpin Israel. Pernyataan keras ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara yang telah berujung pada saling serang dalam beberapa hari terakhir.

“Kita harus memberikan respons yang kuat terhadap rezim Zionis teroris. Kita tidak akan menunjukkan belas kasihan kepada Zionis,” tulis Khamenei dalam sebuah unggahan di platform X (dulu Twitter).

Pernyataan ini muncul hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyerukan “penyerahan tanpa syarat” dari Teheran. Dalam sebuah unggahan di platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa pihaknya mengetahui keberadaan Khamenei dan menyebutnya sebagai “target yang mudah.”

“Kami tahu persis di mana yang disebut ‘Pemimpin Tertinggi’ itu bersembunyi. Ia adalah target yang mudah, tetapi aman di sana – Kami tidak akan menghabisinya (membunuhnya!), setidaknya untuk saat ini. Namun, kami tidak ingin rudal ditembakkan ke warga sipil, atau tentara Amerika. Kesabaran kami sudah menipis. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!” tulis Trump.

Konflik antara Israel dan Iran memasuki babak baru sejak Israel melancarkan kampanye pengeboman besar-besaran terhadap fasilitas nuklir, militer, dan kawasan permukiman di Iran pada pekan lalu. Sebagai balasan, Iran menembakkan rudal dan mengerahkan pesawat nirawak ke wilayah Israel. Pada Rabu pagi, Iran menyatakan telah meluncurkan rudal hipersonik ke arah Israel sebagai bagian dari gelombang serangan terbaru.

Situasi semakin memanas seiring dengan saling ancam antara para pemimpin kedua negara. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

50 Pesawat Tempur Israel Hujani Teheran, Targetkan Pabrik Senjata

TEHERAN (jurnalislam.com)– Militer Israel mengonfirmasi telah melancarkan serangkaian serangan udara besar-besaran ke Teheran pada Rabu dini hari (18/6/2025). Serangan ini menargetkan fasilitas nuklir, termasuk lokasi produksi sentrifus dan pembuatan senjata milik Iran, dalam babak terbaru eskalasi militer antara kedua negara.

“Lebih dari 50 jet tempur Angkatan Udara Israel melancarkan serangkaian serangan udara di wilayah Teheran selama beberapa jam terakhir,” bunyi pernyataan militer Israel.

Target utama serangan tersebut adalah fasilitas produksi sentrifus yang diyakini berperan dalam pengembangan senjata nuklir Iran. Selain itu, beberapa lokasi produksi bahan baku dan komponen rudal permukaan-ke-permukaan juga dihantam.

Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Israel mengeluarkan peringatan kepada warga sipil Teheran untuk segera meninggalkan distrik ke-3, yang disebut sebagai lokasi infrastruktur militer rezim Iran.

Tak tinggal diam, Iran membalas lewat peluncuran rudal hipersonik Fattah-1 ke arah Israel. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim rudal tersebut “berulang kali mengguncang tempat perlindungan” di pusat kota Tel Aviv.

“Gelombang ke-11 dari Operasi True Promise 3 telah dilakukan menggunakan rudal Fattah-1,” kata IRGC dalam siaran televisi pemerintah.

Rudal hipersonik diketahui mampu melaju lebih dari lima kali kecepatan suara dan sulit dilacak oleh sistem pertahanan udara karena kemampuannya bermanuver di udara.

Selain rudal, Iran juga mengirimkan “segerombolan drone” ke wilayah Israel. Militer Israel melaporkan telah berhasil mencegat dua drone di atas wilayah Laut Mati.

Sementara itu, mantan Presiden AS Donald Trump mendesak Iran untuk menyerah tanpa syarat, dan menegaskan bahwa Washington tidak terlibat dalam serangan udara Israel. Namun, ia memperingatkan bahwa kesabaran Amerika terhadap Iran semakin menipis seiring berlanjutnya konflik yang kini memasuki hari keenam.

Sejak Israel memulai kampanye militer belum pernah terjadi sebelumnya pada Jumat lalu, lebih dari 700 warga negara asing telah meninggalkan Iran menuju negara tetangga seperti Azerbaijan dan Armenia. Di antara mereka terdapat warga Rusia, Jerman, Italia, Tiongkok, hingga negara-negara Asia Tengah.

Ketakutan akan serangan besar-besaran juga membuat banyak warga Teheran mengungsi. Antrian panjang terlihat di SPBU dan toko roti pada hari Selasa. Serangan siber bahkan melumpuhkan Sepah Bank, salah satu bank milik negara Iran, menurut laporan kantor berita Fars.

Di Tel Aviv, sirene peringatan udara terus berbunyi. Beberapa warga memilih tinggal di tempat parkir bawah tanah pusat perbelanjaan sebagai tempat perlindungan sementara.

“Kami memutuskan untuk mendirikan tenda permanen di sini sampai semuanya aman,” kata Mali Papirany (30) kepada AFP. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Tragedi Kemanusiaan Gaza Terus Berlanjut, 338 Warga Sipil Tewas Saat Mengantre Bantuan

GAZA (jurnalislam.com)– Serangan brutal kembali menghantam warga sipil Palestina di Jalur Gaza. Sedikitnya 338 warga sipil tewas ketika pasukan Israel menyerang titik distribusi bantuan kemanusiaan di wilayah yang terkepung itu, menurut laporan dari Kementerian Kesehatan Palestina.

Dalam insiden terbaru yang terjadi pada Senin dini hari (16/6/2025), sedikitnya 20 orang tewas dan lebih dari 200 lainnya luka-luka, saat mereka mengantre bantuan makanan dan air bersih, yang kini menjadi barang langka akibat blokade ketat Israel.

Wilayah Gaza kini mengalami krisis kelaparan yang semakin dalam. Bantuan kemanusiaan pun hanya disalurkan melalui Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), sebuah lembaga kontroversial yang dikelola Amerika Serikat dan didukung Israel.

Namun, penembakan terhadap warga yang sedang mengantre bantuan oleh pasukan Israel dan tentara bayaran yang disebut berpihak pada GHF kini menjadi pemandangan sehari-hari.

Kementerian Kesehatan Palestina mencatat bahwa 50 korban luka berada dalam kondisi kritis, dan menyebutkan bahwa setidaknya 2.831 orang terluka dan 9 orang lainnya masih hilang di titik distribusi bantuan.

“Kami menyerukan mekanisme alternatif dalam distribusi bantuan tanpa membahayakan nyawa warga sipil yang kelaparan,” demikian pernyataan resmi dari kementerian.

Philippe Lazzarini, Komisaris Jenderal UNRWA (badan PBB untuk pengungsi Palestina), mengkritik keras sistem distribusi bantuan yang dibentuk oleh AS dan Israel. Ia menyebut sistem tersebut sebagai “sistem distribusi yang mematikan.”

Menurutnya, pembatasan distribusi bantuan oleh lembaga-lembaga kemanusiaan terpercaya seperti UNRWA masih terus berlanjut, meskipun banyak bantuan telah siap didistribusikan ke Gaza. Kekurangan bahan bakar pun melumpuhkan layanan penting seperti rumah sakit dan transportasi darurat.

“Pembunuhan dan perang hanya akan melahirkan lebih banyak perang. Warga sipil akan selalu menjadi korban pertama dan paling menderita,” kata Lazzarini.

Serangan Israel juga menargetkan infrastruktur komunikasi. Pada Kamis (13/6) lalu, Israel memutus seluruh layanan internet dan telekomunikasi di Gaza dengan menghancurkan jalur serat optik utama terakhir yang tersisa.

Kantor Media Pemerintah Palestina menyebut pemutusan itu sebagai “kejahatan yang disengaja untuk mengisolasi Gaza dari dunia luar dan menutupi kebenaran.”

Wilayah utara, tengah, dan selatan Gaza kini mengalami pemadaman komunikasi total, membuat upaya pertolongan medis dan distribusi bantuan menjadi nyaris mustahil.

Hingga kini, total korban tewas akibat agresi Israel di Jalur Gaza telah mencapai 55.432 jiwa, dengan 128.923 orang luka-luka, sebagian besar dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. (Bahry)

Sumber: MEE

MUI Tegaskan Boikot Produk Israel sebagai Wujud Solidaritas Nyata untuk Palestina

JAKARTA (jurnalislam.com)— Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Tausiyah resmi bernomor Kep-63/DP-MUI/VI/2025 pada Selasa (17/6/2025) di Jakarta. Dalam tausiyah tersebut, MUI menyampaikan seruan kepada umat Islam Indonesia dan dunia untuk bersatu dalam menghadapi krisis kemanusiaan yang berlangsung di Gaza serta meningkatnya eskalasi konflik Israel–Iran.

Tausiyah yang ditandatangani Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar dan Sekretaris Jenderal Buya Amirsyah Tambunan ini memuat sembilan poin penting sebagai berikut:

Pertama, MUI menyerukan agar umat Islam di seluruh dunia bersatu dan mengerahkan segala potensi untuk melawan kezaliman dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel.

“Seluruh umat Islam sedunia untuk terus menjaga dan meningkatkan gerakan saling tolong menolong di antara sesama negara-negara Muslim untuk menjaga marwah dan martabat kemanusiaan dan hak asasi manusia seutuhnya,” tulis MUI dalam poin pertama.

Kedua, MUI menegaskan bahwa keterlibatan umat Islam Indonesia dalam perjuangan Palestina merupakan bagian dari ukhuwah Islamiyah dan tanggung jawab sebagai bangsa yang bermartabat serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Ketiga, MUI mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk mengambil langkah diplomatik yang paling tinggi, tegas, dan cepat guna menghentikan kejahatan kemanusiaan di Gaza.

“Mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk mengambil langkah diplomatik tertinggi, tertegas, dan tercepat guna menghentikan kejahatan kemanusiaan di Gaza,” sebut poin ketiga tausiyah.

Keempat, MUI mendorong Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) serta semua negara cinta damai untuk melakukan langkah-langkah politik dan diplomasi yang lebih terukur dalam menghentikan agresi Israel.

“Termasuk juga mengimbau untuk membuka jalur bantuan kemanusiaan di negara untuk rakyat Palestina,” tulis MUI.

Kelima, MUI mengutuk keras tindakan genosida yang dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina dan agresi militer terhadap Iran yang dinilai memperburuk stabilitas kawasan dan penderitaan umat manusia.

Keenam, MUI menyerukan dukungan moral, material, dan spiritual dari umat Islam terhadap perjuangan rakyat Palestina.

“Menyeru seluruh umat Islam untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina melalui berbagai bentuk solidaritas moral, material, dan spiritual, serta memberikan dukungan penuh terhadap setiap upaya Pemerintah Republik Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan perdamaian di Timur Tengah,” bunyi poin keenam.

Ketujuh, MUI menyatakan dukungan terhadap hak Republik Islam Iran sebagai negara berdaulat untuk membela diri dari segala bentuk ancaman.

“Misalnya, terhadap keselamatan ilmuwan, keamanan sumber daya alam, dan pangkalan militer sebagai wajah kewibawaan dan kesehajaan kekuatan negara Islam,” demikian pernyataan dalam poin ketujuh.

Kedelapan, MUI mengajak seluruh umat Islam untuk memperkuat gerakan boikot terhadap semua produk yang berasal dari, berafiliasi dengan, atau mendukung Israel.

“Sebagai bentuk perlawanan ekonomi terhadap kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel, serta sebagai wujud solidaritas nyata terhadap perjuangan rakyat Palestina,” tulis MUI.

Kesembilan, MUI mengimbau seluruh pengurus masjid di Indonesia untuk rutin membaca qunut nazilah dalam shalat berjamaah dan menggelar istighatsah.

“Mengimbau seluruh pengurus masjid di Indonesia untuk membaca qunut nazilah secara rutin dalam shalat berjamaah, dan juga menggelar istighatsah memohon pertolongan Allah Subhanahu wa taala sebagai bentuk doa kolektif demi kemenangan perjuangan rakyat Palestina dan terwujudnya perdamaian di Timur Tengah dan dunia,” tulis MUI dalam penutup tausiyahnya.