Trauma Perang Picu Bunuh Diri, Militer Israel Tambah 800 Petugas Kesehatan Mental

PALESTINA (jurnalislam.com)- Sebagian besar kasus bunuh diri terbaru di kalangan prajurit Pasukan Pertahanan Israel (IDF) disebabkan oleh trauma terkait perang. Hal ini mencakup paparan berkepanjangan terhadap zona pertempuran, menyaksikan kekejaman di medan perang, serta kehilangan rekan sesama prajurit, menurut hasil penyelidikan internal militer yang dikutip Kan News (3/8/2025).

“Sebagian besar kasus bunuh diri berkaitan dengan realitas kompleks yang ditimbulkan oleh perang. Perang memiliki konsekuensi,” ujar seorang pejabat militer senior kepada media tersebut.

Menanggapi temuan tersebut, militer Israel menyatakan telah mengambil langkah sistematis, termasuk meningkatkan pelatihan bagi para komandan dan memperkuat sistem deteksi dini terhadap potensi risiko psikologis. Selain itu, jumlah petugas kesehatan mental juga ditambah sebanyak 200 orang untuk prajurit aktif dan 600 orang untuk pasukan cadangan.

Menurut laporan Haaretz, sedikitnya 17 prajurit Israel dilaporkan meninggal akibat bunuh diri sepanjang tahun 2025. Para pejabat militer mengkhawatirkan bahwa angka ini dapat terus meningkat jika dampak psikologis dari perang tidak segera ditangani secara menyeluruh. (Bahry)

Sumber: TOI

Hamas Bantah Siap Serahkan Senjata, Tegaskan Hak Perlawanan terhadap Pendudukan Israel

GAZA (jurnalislam.com)- Hamas membantah laporan yang menyebutkan bahwa mereka bersedia melucuti senjata dalam proses negosiasi gencatan senjata Gaza dengan Israel. Kelompok perlawanan Palestina itu menegaskan bahwa mereka memiliki hak “nasional dan hukum” untuk melawan pendudukan Israel di wilayah Palestina.

Pernyataan tersebut disampaikan Hamas pada Sabtu (2/8/2025), menanggapi pernyataan yang diklaim disampaikan oleh utusan khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dalam pertemuan dengan keluarga tawanan Israel yang ditahan di Gaza.

Mengutip rekaman pertemuan tersebut, media Israel Haaretz melaporkan bahwa Witkoff mengatakan Hamas menyatakan “siap untuk didemiliterisasi”.

Namun dalam pernyataan resminya, Hamas menegaskan bahwa “perlawanan dan persenjataan adalah hak nasional dan hukum selama pendudukan [Israel] masih berlangsung”.

Hak tersebut, lanjut Hamas, “tidak akan dilepaskan sampai seluruh hak nasional kami dipulihkan, terutama pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat penuh dengan Yerusalem sebagai ibu kota”.

Witkoff diketahui bertemu dengan keluarga tawanan Israel di Tel Aviv pada Sabtu, sehari setelah kunjungannya ke lokasi distribusi bantuan di Gaza yang didukung AS dan Israel serta dikelola oleh lembaga kontroversial, Global Humanitarian Foundation (GHF).

Hamas sebelumnya mengecam kunjungan Witkoff sebagai “pertunjukan sandiwara” yang bertujuan menyesatkan opini publik mengenai situasi di Gaza, yang tengah menghadapi blokade Israel serta krisis kelaparan yang telah memicu kecaman global.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari 1.300 warga Palestina telah terbunuh saat mencoba mendapatkan bantuan makanan di lokasi-lokasi yang dikelola GHF sejak lembaga itu mulai beroperasi di Gaza pada Mei lalu.

Kendati mendapat kritik internasional, pemerintahan Trump tetap mendukung GHF. Pada Juni lalu, Washington mengumumkan persetujuan pendanaan sebesar 30 juta dolar AS (sekitar Rp490 miliar) untuk mendukung operasional lembaga tersebut di Gaza.

Pernyataan Witkoff soal perlucutan senjata muncul di tengah meningkatnya tekanan global untuk mengakui negara Palestina, menyusul krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Gaza.

Inggris dalam konferensi dua hari Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pekan ini menyatakan kemungkinan akan mengikuti langkah Prancis mengakui negara Palestina pada September mendatang.

Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy menegaskan bahwa London akan memberikan pengakuan jika Israel gagal memenuhi sejumlah prasyarat, termasuk penerapan gencatan senjata di Gaza. Pernyataan itu sejalan dengan pernyataan sebelumnya dari Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan dari 17 negara, Uni Eropa, serta Liga Arab, yang menyepakati dokumen tujuh halaman yang mendorong kembali solusi dua negara atas konflik Israel-Palestina.

Dalam dokumen itu, Hamas didesak untuk “mengakhiri kekuasaan di Gaza dan menyerahkan senjata kepada Otoritas Palestina dengan dukungan dan keterlibatan internasional, sebagai bagian dari upaya membentuk negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.” (Bahry)

Sumber: Al Jazeera.

Brigade Qassam Rilis Video Tawanan Israel Kurus Kering, Tekan Pemerintah Netanyahu untuk Gencatan Senjata

GAZA (jurnalislam.com)– Sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, merilis sebuah video pada Jumat (1/8/2025) yang memperlihatkan kondisi seorang tawanan Israel, Evyatar David, dalam keadaan kurus kering dan tampak menderita malnutrisi. Video tersebut meningkatkan kekhawatiran internasional atas krisis kemanusiaan dan kelaparan yang terus memburuk di Jalur Gaza akibat pengepungan Israel.

Dalam video yang diunggah ke kanal Telegram resmi, tampak Evyatar David duduk di atas tempat tidur di sebuah ruangan sempit, dengan tulang-tulang menonjol di lengan dan dadanya, memperlihatkan tanda-tanda penurunan berat badan yang parah. Keterangan dalam video menyebut bahwa ia “menunggu pembebasan melalui pertukaran tawanan”.

Rekaman tersebut juga menampilkan klip yang menunjukkan David sebelumnya sempat dipindahkan menggunakan kendaraan selama jeda kemanusiaan dan pertukaran tawanan pada Januari lalu. Keterangan video ditulis dalam bahasa Arab, Inggris, dan Ibrani, dengan narasi yang menyatakan: “Pemerintah pendudukan telah memutuskan untuk membuat mereka kelaparan… mereka makan apa yang kami makan, mereka minum apa yang kami minum.”

Video itu juga menyertakan cuplikan anak-anak dan bayi Palestina dalam kondisi kekurangan gizi akut, dengan tubuh kurus dan tulang mencuat di balik kulit mereka pemandangan yang kini kerap terlihat di Gaza.

Menyusul rilis video tersebut, pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, mengecam pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Dalam pernyataan di platform X (dulu Twitter), ia berkata, “Setiap anggota pemerintahan harus menonton video Evyatar malam ini sebelum tidur dan membayangkan ia berjuang bertahan hidup di dalam terowongan.”

Stasiun penyiaran publik Israel kemudian mengutip pernyataan ibu tawanan tersebut, Galia David. “Saya hancur, tapi saya memiliki satu kepastian putra saya masih hidup. Evyatar masih hidup,” katanya. Ini merupakan pertama kalinya ia melihat rekaman anaknya sejak penculikan terjadi.

Sementara itu, media Israel Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa beberapa keluarga tawanan mendesak pemerintahan Netanyahu segera menyetujui perjanjian gencatan senjata untuk menyelamatkan para sandera yang masih ditahan di Gaza.

Menurut data resmi Israel, saat ini masih terdapat 50 tawanan Israel di Gaza, dengan 20 di antaranya diyakini masih hidup. Di sisi lain, Israel diketahui menahan sekitar 10.800 warga Palestina, termasuk anak-anak, banyak di antaranya ditahan tanpa dakwaan atau pengadilan, dan tidak memiliki akses rutin ke pengacara maupun kunjungan keluarga.

Dalam pernyataan yang dirilis Kamis (31/7), Hamas menyatakan kesiapan untuk kembali ke meja perundingan guna membahas gencatan senjata, seraya menuntut diakhirinya pengepungan dan dibukanya akses bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Kelompok tersebut memperingatkan bahwa tingkat kelaparan di Gaza kini telah mencapai “tahap yang belum pernah terjadi sebelumnya” dan mengancam lebih dari dua juta jiwa warga Palestina.

Pernyataan ini muncul setelah Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, Ted Chaiban, mengecam kondisi anak-anak di Gaza usai kunjungan ke wilayah konflik, termasuk Israel dan Tepi Barat.

“Lebih dari 18.000 anak telah tewas di Gaza sejak perang dimulai. Itu berarti rata-rata 28 anak per hari setara satu ruang kelas hilang setiap hari. Anak-anak kehilangan orang tua mereka, kelaparan, ketakutan, dan mengalami trauma,” ujar Chaiban.

Ia juga menyebut bahwa lebih dari 320.000 anak balita di Gaza kini terancam menderita malnutrisi akut.

“Saya juga pernah mengunjungi Tepi Barat. Di sana, anak-anak pun hidup dalam ancaman. Tahun ini saja, 39 anak Palestina telah terbunuh. Saya bahkan menyaksikan langsung komunitas Badui di timur Ramallah yang terpaksa mengungsi akibat kekerasan,” tambahnya. (Bahry)

Sumber: TNA

Jenderal Tertinggi Israel: Pertempuran Akan Berlangsung Tanpa Henti Jika Sandera Tidak Dibebaskan

GAZA (jurnalislam.com)– Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, memperingatkan bahwa operasi militer di Gaza akan terus berlangsung tanpa jeda jika negosiasi pembebasan sandera tidak segera membuahkan hasil.

“Saya perkirakan dalam beberapa hari mendatang kita akan tahu apakah kita dapat mencapai kesepakatan untuk pembebasan sandera kita,” kata Zamir dalam pernyataan resmi militer, Jumat (1/8/2025).

“Jika tidak, pertempuran akan terus berlanjut tanpa henti,” lanjutnya saat berbicara di hadapan para perwira militer di pusat komando Gaza. Dalam rekaman yang dirilis militer Israel, Zamir tampak berdialog langsung dengan tentara dan komandan di lapangan.

Menurut data militer Israel, dari total 251 orang yang diculik dalam serangan Hamas pada Oktober 2023, sebanyak 49 orang masih diyakini berada di Gaza, termasuk 27 orang yang telah dinyatakan tewas.

Pekan ini, kelompok Hamas merilis dua video yang menunjukkan para sandera dalam kondisi fisik lemah dan tampak kurus, memicu kekhawatiran publik serta memperkuat tekanan terhadap pemerintah Israel untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata.

Upaya diplomatik yang dimediasi oleh Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar sebelumnya gagal mencapai kesepakatan bulan lalu. Beberapa pihak di Israel bahkan menyerukan tindakan militer yang lebih keras sebagai respons atas kegagalan negosiasi tersebut.

Tekanan dari komunitas internasional dan keluarga para sandera pun meningkat, mendesak pemerintah Israel untuk kembali mengupayakan jalan damai dalam konflik yang telah berlangsung hampir 22 bulan ini.

Sementara itu, organisasi bantuan kemanusiaan memperingatkan bahwa Gaza berada di ambang bencana kelaparan, akibat pembatasan pengiriman bantuan oleh Israel.

Menurut data resmi Israel, serangan Hamas pada Oktober 2023 mengakibatkan 1.219 orang tewas, sebagian besar warga sipil. Di sisi lain, militer Israel menyatakan sebanyak 898 tentaranya telah tewas sejak invasi darat ke Gaza diluncurkan.

Kementerian Kesehatan Gaza, yang datanya diakui PBB sebagai data kredibel, mencatat setidaknya 60.332 orang terbunuh akibat agresi militer Israel mayoritas merupakan warga sipil. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Trump Kerahkan Kapal Selam Nuklir, Tanggapi Ancaman dari Rusia

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (1/8/2025) menyatakan telah memerintahkan pengerahan dua kapal selam nuklir AS ke “wilayah yang tepat” sebagai respons atas pernyataan provokatif dari mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev.

Melalui unggahan di media sosial miliknya, Trump mengatakan bahwa keputusan tersebut diambil menyusul pernyataan dari Medvedev yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia yang dinilai berpotensi membahayakan stabilitas internasional.

“Berdasarkan pernyataan yang sangat provokatif dari mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, saya telah memerintahkan dua kapal selam nuklir untuk ditempatkan di wilayah yang tepat, untuk berjaga-jaga jika pernyataan bodoh dan provokatif ini lebih dari sekadar itu,” tulis Trump.

Ia menambahkan bahwa kata-kata memiliki dampak besar dan bisa menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan. “Saya harap ini tidak akan menjadi salah satu contohnya,” ujarnya.

Dalam pernyataan terpisah kepada wartawan saat hendak berangkat berlibur ke klub golf miliknya di Bedminster, New Jersey, Trump menegaskan bahwa pemerintahannya akan mengambil langkah untuk melindungi rakyat Amerika.

“Telah ada ancaman dari mantan Presiden Rusia, dan kami akan melindungi rakyat kami,” tegasnya.

Sebelumnya, Dmitry Medvedev mengecam tekanan yang dilancarkan Trump terhadap Kremlin terkait konflik Rusia-Ukraina. Dalam unggahan di platform X (sebelumnya Twitter), Medvedev memperingatkan bahwa tindakan Trump dapat memicu konflik yang lebih luas, tak hanya antara Rusia dan Ukraina, tetapi juga antara Rusia dan Amerika Serikat.

“50 hari atau 10… Ia harus mengingat dua hal: 1. Rusia bukanlah Israel atau bahkan Iran. 2. Setiap ultimatum baru adalah ancaman dan langkah menuju perang. Bukan hanya dengan Ukraina, tetapi dengan negaranya sendiri. Jangan terjebak dalam situasi Sleepy Joe!” tulis Medvedev, merujuk pada julukan yang biasa digunakan Trump untuk Presiden AS Joe Biden.

Dalam unggahan terpisah di Telegram, Medvedev kembali mengeluarkan peringatan keras dengan menyebut sistem “Dead Hand” peninggalan era Perang Dingin. Sistem tersebut dirancang untuk meluncurkan serangan nuklir secara otomatis jika kepemimpinan Uni Soviet hancur akibat serangan musuh.

Medvedev mengklaim sistem itu masih aktif hingga kini, meskipun keberadaannya tidak pernah dikonfirmasi secara resmi oleh pemerintah Rusia. (Bahry)

Sumber: AA

Fatwa MUI Tetap Berlaku Meski Sound Horeg Berganti Nama

SURABAYA (jurnalislam.com)– Para pelaku usaha persewaan sound system yang tergabung dalam Paguyuban Sound Malang Bersatu resmi mengganti istilah ‘horeg’ menjadi “Sound Karnaval Indonesia”. Pergantian nama ini dilakukan untuk menghindari stigma negatif terhadap istilah ‘horeg’ yang selama ini melekat.

Namun demikian, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Dr. KH. M. Hasan Ubaidillah, M.Si., menegaskan bahwa pergantian nama tersebut tidak menggugurkan kewajiban untuk mematuhi fatwa MUI terkait batas tingkat kebisingan (desibel) yang diperbolehkan dalam kegiatan masyarakat.

“Mau namanya diganti, aturan soal desibel tetap berlaku. Kami tidak mengurus soal nama ‘sound horeg’ atau istilah lainnya, tapi yang kami soroti adalah kadar kebisingannya yang harus diatur sesuai standar WHO,” ujar kiai Ubaidillah seperti dikutip dari detikJatim, Kamis (31/7/2025).

Ia menjelaskan bahwa fatwa MUI Jawa Timur tidak hanya menyentuh aspek istilah atau merek, karena pada dasarnya istilah tersebut muncul dari masyarakat. Maka, selama tingkat kebisingan melebihi ambang batas normal yakni di atas 85 desibel sesuai standar WHO maka tetap dinilai sebagai pelanggaran terhadap ketertiban umum dan membahayakan kesehatan.

“Ganti istilah apapun mau ‘sound horeg’, ‘sound festival’, atau lainnya selama melebihi batas desibel, tetap mengganggu pendengaran dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan permanen, termasuk gangguan kognitif,” jelasnya.

MUI Jawa Timur menegaskan pentingnya kesadaran para pelaku usaha hiburan untuk menjadikan keselamatan dan kenyamanan masyarakat sebagai prioritas dalam setiap kegiatan, sesuai dengan prinsip maqashid syariah yang menjaga jiwa (hifzhun nafs) dan akal (hifzhul ‘aql).

Sumber: muijatim

Korban Serangan Rusia di Kyiv Bertambah: 26 Tewas, 159 Terluka

KYIV (jurnalislam.com)— Jumlah korban tewas akibat serangan rudal dan drone (pesawat nirawak) Rusia di ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Kamis (31/7/2025), meningkat menjadi 26 orang, termasuk tiga anak-anak. Hal ini diumumkan oleh Kementerian Dalam Negeri Ukraina pada Jumat (1/8).

Sebelumnya, jumlah korban dilaporkan sebanyak 16 orang, termasuk dua anak-anak. Namun, angka itu diperbarui setelah tim penyelamat menemukan sepuluh jenazah tambahan dari reruntuhan bangunan tempat tinggal di distrik Sviatoshynsky, termasuk seorang anak berusia dua tahun.

“Tim penyelamat menemukan 10 jenazah, termasuk anak-anak,” tulis Kementerian Dalam Negeri Ukraina melalui kanal Telegram resminya.

Selain korban tewas, sedikitnya 159 orang dilaporkan terluka dalam serangan tersebut, termasuk 16 anak-anak.

Serangan terpisah terjadi pada Jumat dini hari di Zaporizhzhia, Ukraina tenggara, yang menyebabkan satu orang tewas, menurut laporan administrasi militer wilayah tersebut melalui Telegram.

Pemerintah kota Kyiv menetapkan hari berkabung pada Jumat sebagai bentuk penghormatan bagi para korban. Serangan pada Kamis tersebut disebut sebagai salah satu yang paling mematikan sejak invasi skala penuh Rusia dimulai pada Februari 2022.

Menanggapi serangan itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kembali mendesak negara-negara sekutu untuk mengambil langkah lebih tegas terhadap Moskow, termasuk mendorong perubahan kekuasaan di Rusia.

Beberapa jam setelah serangan terjadi, mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kini kembali menjabat mengecam tindakan Rusia dan mengisyaratkan akan menjatuhkan sanksi tambahan dalam waktu dekat.

“Rusia… menurut saya, tindakan mereka sangat menjijikkan,” kata Trump kepada wartawan. Ia juga menyatakan telah memberi ultimatum kepada Moskow selama “10 atau 12 hari” untuk menghentikan agresi militer mereka atau menghadapi sanksi baru dari Washington.

Invasinya kini memasuki tahun keempat dan terus menimbulkan korban jiwa serta kehancuran infrastruktur sipil di berbagai wilayah Ukraina. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Pemerintahan Baru Suriah Buka Peluang Tinjau Ulang Perjanjian dengan Rusia

MOSKOW (jurnalislam.com)– Rusia dan Suriah mengisyaratkan akan memperkuat hubungan bilateral dan meninjau kembali sejumlah perjanjian yang dibuat pada era pemerintahan Presiden Bashar al-Assad, menyusul ketidakpastian mengenai masa depan dua pangkalan militer Rusia di Suriah.

Isyarat tersebut muncul dalam pertemuan antara Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shaibani, dan Menlu Rusia, Sergei Lavrov, di Moskow pada Kamis (31/7). Kunjungan Shaibani merupakan yang pertama kali dilakukan oleh pejabat tinggi Suriah ke Rusia sejak tergulingnya Assad dalam serangan kilat oleh kelompok pejuang tahun lalu.

“Tentu saja, kami tertarik agar Rusia tetap berada di pihak kami,” ujar Shaibani dalam pernyataan kepada Lavrov. Namun ia juga menekankan bahwa hubungan kedua negara menghadapi tantangan dan memerlukan penyesuaian.

Pangkalan militer Rusia di Tartus (angkatan laut) dan Hmeimim (angkatan udara) yang terletak di pesisir Mediterania Suriah selama ini menjadi satu-satunya pos militer resmi Moskow di luar wilayah bekas Uni Soviet. Kedua fasilitas tersebut berperan penting dalam dukungan militer Rusia terhadap rezim Assad selama konflik berkepanjangan di Suriah sejak 2015.

Namun, tidak jelas apakah pemerintahan baru di Suriah, yang kini dipimpin kelompok Islamis, akan mengizinkan Rusia mempertahankan kehadiran militernya di negara itu.

Lavrov menyatakan kesiapan Moskow untuk membantu Suriah dalam proses rekonstruksi pascakonflik, serta untuk meninjau kembali “perjanjian dan kontrak yang dibuat dalam konteks politik yang berbeda.”

Pernyataan senada disampaikan Shaibani, yang menyebut bahwa peninjauan ulang terhadap perjanjian-perjanjian lama diperlukan demi memastikan bahwa isi kesepakatan tersebut “benar-benar melayani kepentingan rakyat Suriah.”

Kedua menteri tidak memberikan keterangan apakah status sewa dua pangkalan militer Rusia, yang dijadwalkan berlaku hingga tahun 2066, turut dibahas dalam pertemuan tersebut.

“Suriah membutuhkan teman dan mitra dalam jalur transisinya,” ujar Shaibani dalam konferensi pers seusai perundingan.

Lavrov, dalam kesempatan yang sama, menegaskan bahwa dukungan Rusia terhadap Suriah bersifat konsisten dan tidak bergantung pada perubahan pemerintahan.

“Kami memiliki sejarah panjang dalam mendukung rakyat Suriah, dan hal itu tidak akan berubah karena dinamika politik,” ujarnya. (Bahry)

Sumber: TNA

Aktivis Teluk Luncurkan Kapal Kemanusiaan untuk Menembus Blokade Israel di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Sekelompok aktivis hak asasi manusia dan pegiat masyarakat sipil dari kawasan Teluk mengumumkan peluncuran Kapal Ketahanan Teluk, sebuah kapal kemanusiaan yang bertujuan menembus blokade Israel di Jalur Gaza dan mengirimkan bantuan makanan serta obat-obatan.

Berbicara kepada The New Arab edisi bahasa Arab pada Kamis (31/7/2025), salah satu inisiator, Mohammed Al-Hayki, mengatakan kapal ini merupakan bagian dari upaya besar untuk menanggapi krisis kemanusiaan yang memburuk di Gaza akibat blokade yang telah berlangsung selama 18 tahun.

“Ini adalah respons sipil dan damai terhadap krisis kemanusiaan yang terus berlanjut. Kami adalah pemuda dari Teluk yang tidak bisa tinggal diam ketika rakyat Palestina menderita karena kelaparan dan pengepungan,” ujar Al-Hayki.

Kapal ini beroperasi secara independen, tidak terafiliasi dengan pemerintah maupun kelompok politik mana pun, dan berada di bawah naungan Koalisi Global untuk Mematahkan Pengepungan jaringan aktivis internasional yang menentang blokade Israel atas Gaza dengan pendekatan damai dan tanpa kekerasan.

Para penyelenggara telah meluncurkan kampanye di media sosial untuk menggalang dukungan publik, termasuk donasi dan perekrutan relawan. Mereka berharap misi ini dapat membuka jalur kemanusiaan independen guna mengirimkan bantuan langsung ke Gaza.

“Ini bukan tindakan politik, melainkan tindakan moral. Kami ingin menggerakkan opini publik global dan menunjukkan bahwa masyarakat Teluk mendukung Gaza dalam menghadapi ketidakadilan,” tegas Al-Hayki.

Gaza telah berada di bawah blokade penuh oleh Israel dan Mesir sejak tahun 2007, mencakup darat, udara, dan laut. Berbagai upaya sebelumnya untuk mematahkan pengepungan melalui laut kerap dibalas dengan tindakan militer oleh Israel. Beberapa kapal telah dicegat di perairan internasional, dan para aktivisnya ditahan serta dideportasi.

Meski menyadari risiko, para aktivis menilai kondisi di Gaza telah mencapai titik darurat yang memerlukan aksi nyata dari masyarakat sipil.

“Pengepungan telah menyebabkan kelaparan, kekurangan obat-obatan, dan runtuhnya layanan dasar. Gaza kini seperti penjara,” ujar salah satu relawan asal Teluk yang enggan disebutkan namanya. “Kami ingin mengingatkan dunia bahwa kondisi ini tidak normal dan tidak boleh dibiarkan berlanjut.”

Kapal Ketahanan Teluk melanjutkan tradisi perjuangan maritim melawan blokade Gaza. Salah satu insiden paling dikenal adalah tragedi Mavi Marmara pada 2010, ketika pasukan komando Israel menyerbu kapal dalam armada Freedom Flotilla dan menewaskan 10 aktivis di perairan internasional.

Baru-baru ini, kapal kemanusiaan seperti Handala, Madleen, dan Conscience yang berangkat dari Eropa juga dicegat oleh militer Israel. Aktivis yang berada di atas kapal ditahan dan dideportasi.

Penyelenggara mengatakan bahwa Kapal Ketahanan Teluk terinspirasi oleh perjuangan serupa di masa lalu serta oleh meningkatnya solidaritas masyarakat Arab terhadap Gaza. Mereka juga menjalin koordinasi dengan aktivis Malaysia yang pada Juni lalu mengumumkan inisiatif armada Seribu Kapal menuju Gaza.

Saat ini kapal masih dalam tahap perencanaan. Tim penyelenggara terus mencari dukungan finansial dan logistik dari masyarakat.

“Kami mengundang warga Teluk untuk terlibat baik melalui donasi, menjadi sukarelawan, atau menyebarkan pesan ini,” kata Al-Hayki.

“Ini adalah bagian dari gerakan rakyat global yang menolak untuk berpangku tangan terhadap blokade Gaza.” pungkasnya. (Bahry)

Sumber: TNA

Swedia Desak Uni Eropa Bekukan Kerja Sama Dagang dengan Israel atas Krisis Gaza

SWEDIA (jurnalislam.com)- Swedia pada Kamis (31/7/2025) mendesak Uni Eropa untuk menangguhkan bagian perdagangan dalam perjanjian asosiasi dengan Israel, menyusul kekhawatiran atas tindakan militer Israel dalam perang di Jalur Gaza.

“Situasi di Gaza benar-benar memprihatinkan, dan Israel gagal memenuhi kewajiban serta komitmen dasarnya terkait bantuan darurat,” ujar Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson dalam pernyataan yang diunggah melalui akun resminya di platform X (sebelumnya Twitter).

“Oleh karena itu, Swedia menuntut agar Uni Eropa segera membekukan bagian perdagangan dari perjanjian asosiasi tersebut,” lanjutnya, seraya mendesak Israel untuk mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza tanpa hambatan.

Perjanjian asosiasi Uni Eropa–Israel merupakan kerangka kerja utama yang mengatur hubungan perdagangan dan politik antara kedua pihak. Uni Eropa adalah mitra dagang terbesar Israel, menyumbang hampir sepertiga dari total perdagangan global negara tersebut, berdasarkan data resmi Uni Eropa.

Pernyataan Kristersson muncul hanya dua hari setelah Belanda mengambil sikap serupa. Menteri Luar Negeri Belanda Caspar Veldkamp menyatakan bahwa negaranya akan mendorong penangguhan elemen perdagangan dalam perjanjian tersebut apabila Israel gagal memenuhi kewajiban kemanusiaannya.

Perang yang berkecamuk antara Israel dan Hamas di Gaza semakin memecah belah posisi negara-negara anggota Uni Eropa. Sebagian negara, seperti Jerman, terus menegaskan dukungan terhadap hak Israel untuk membela diri selama dalam koridor hukum internasional. Sementara itu, negara lain seperti Spanyol dengan tegas mengecam aksi militer Israel yang mereka sebut sebagai “genosida” terhadap warga Palestina.

Sebelumnya, sebuah laporan internal Uni Eropa yang disampaikan kepada 27 negara anggotanya pada akhir Juni mengindikasikan bahwa Israel kemungkinan besar telah melanggar kewajiban hak asasi manusia yang diatur dalam perjanjian kerja sama dengan blok tersebut. (Bahry)

Sumber: TNA