Mantan Aktivis Gereja Sebut ‘Salib’ di Koridor Jensud Disengaja

SOLO (Jurnalislam.com) – Mantan aktifis Gereja, Ustazah Dewi Purnamawati menilai, penataan batu andesit yang diduga mirip bentuk ‘salib raksasa’ di jalan Jendral Sudirman depan Balaikota Solo adalah sebuah kesengajaan. Bentuk mirip lambang Salib Raksasa ini sendiri dapat terlihat jika difoto mengunakan drone dari atas.

“Kalau menurut saya pribadi itu sebuah kesengajaan, karena salib itu lambang Kristen, seluruh dunia tau bahwa salib itu lambang Kristen,” katanya saat ditemui wartawan di Solo, Selasa (15/1/2019).

“Dan salib menurut orang Kristen sekarang melambangkan yang ke atas hubungan manusia dengan tuhan, yang ke samping hubungan manusia dengan manusia,” sambungnya.

Ustazah Dewi yang juga Inisiator Komisi Nasional Anti Pemurtadan (KNAP) menyebut bahwa mayoritas masyarakat jika melihat foto dari atas pasti akan mengatakan paving batu andesit tersebut berbentuk lambang mirip Salib raksasa.

“Kalau kita melihat paving di depan balaikota bila di foto dengan drone dari atas, secara Bodon (orang bodoh pun tau-red) itu menunjukan salib. Itu tidak mungkin tidak sengaja pasti kesengajaan,” ujarnya.

“Ditambah lagi patung yang ada di slamet riyadi, itu ada kesinambungan antara itu,” tandasnya.

Sementara Walikota Solo FX Hadi Rudiyatmo sendiri membantah tudingan adanya simbol salib, ia juga menjelaskan bahwa perencanaan penataan batu andesit tersebut bukan dirinya namun dari konsultan perencana.

“Kalau saya menggambar salib di jalan, saya melecehkan agama saya sendiri. Salib itu benda sakral yang dihormati umat Kristen dan Katolik. Pasti saya akan diprotes umat Kristen dan Katolik,” katanya dilansir dari Solopos.com, Selasa (15/1/2019).

LUIS Layangkan Protes ‘Mozaik Salib’ di Koridor Jensud

SOLO (Jurnalislam.com) – Warganet dihebohkan dengan postingan di akun Instagram @pariwisata Solo yang menunjukkan adanya penampakan lambang seperti ‘salib’ di Jl. Jenderal Sudirman Solo (koridor Jensud). Mozaik Salib dari batu andesit itu tepat berada di depan Balaikota Solo.

Humas Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), Endro Sudarsono memberikan surat terbuka kepada Walikota Solo FX Hadi Rudiyatmo memprotes dugaan adanya bentuk Salib Raksasa tersebut.

“Beberapa Komunitas Muslim di Solo Raya mulai mempertanyakan kemiripan mozaik Salib di Tugu Pemandengan,” katanya kepada jurnalislam.com rabu, (16/1/2019).

“Nama jalan tersebut adalah jalan Jenderal Sudirman, tokoh Muhammadiyah, ahli perang gerilya dan pahlawan nasional,” imbuhnya.

Endro menyebut, Pemkot yang menyiapakan anggaran 40 Miliar guna renovasi itu justru dikeluhkan oleh warga, pergantian dari aspal hitam biasa menjadi paving batu andesit justru dirasa malah membuat pengendara tidak nyaman saat melintas

“Warga mengeluhkan perubahan aspal menjadi paving, jalan terasa nggronjal, kurang nyaman,” ujarnya.

Untuk itu, Endro berharap agar Walikota mendengarkan keluhan warga dan menjaga perasaan umat Islam terkait dugaan adanya lambang Salib Raksasa di koridor Jensud.

“Renovasi dan kreasi yang mengarah pada peningkatan pariwisata tidaklah harus berpolemik dan menciptakan isu sara yang akan berdampak pada kondusivitas dan kenyamanan kota Solo,” ungkapnya.

“Mengevaluasi dan mengganti mozaik mirip salib dengan motif lainnya yang sebisa mungkin tidak menimbulkan keresahan warga,” tandasnya.

Kontroversi adanya dugaan bentuk ‘Salib Raksasa’ sendiri bermula akun instagram @pariwisatasolo yang dikalim sebagai akun resmi milik dinas Pariwisata Solo memosting hasil pemasangan batu andesit pertama pada Senin (14/1/2019) yang kemudian di unggah ulang (repost) oleh @jelajahsolo yang membuat banyak dikomentari warga net.

Heboh, Penataan Batu Andesit di Koridor Jensud Solo Berbentuk ‘Salib’?

Heboh, Penampakan Bentuk ‘Salib’ Raksasa di Depan Balaikota Solo.

SOLO (Jurnalislam.com) – Penataan Jalan Jenderal Sudirman (koridor Jensud) Solo menuai kecaman dari warganet. Pasalnya, penataan batu andesit jalan tersebut membentuk seperti lambang salib jika dilihat dari atas. Posisinya tepat di depan Balaikota Solo.

Jalan Jendral Sudirman sendiri awalnya aspal hitam biasa, kemudian pemerintah kota (Pemkot) mengantinya dengan batu andesit sejauh 100 meter dari Tugu Pemandengan depan Balaikota Solo sampai depan Bank Indonesia.

Menurut penelusuran Jurniscom, netizen mulai mengomentari wajah baru koridor Jensud di akun instagram @pariwisatasolo pada Senin (14/1/2019) dengan judul ‘Wajah Baru Kota Solo’ yang kemudian direpost oleh akun @jelajahsolo pada hari yang sama.

Postingan akun Instagram @pariwisatasolo

“Kuk jadi simbol agama ya,” kata @mnur2018 mengomentari postingan @pariwisatasolo

“Astagfirulloh.!! Lihat itu berbentuk Salib, FPI.!!,” Tulis @asassinbuild_a ikut berkomentar di akun @jelajahsolo.

Tujuan penataan koridor Jendsud sendiri menurut Pemkot untuk memperkuat aroma kota Surakarta sebagai kota bersejarah dan menambah destinasi wisata.

“Koridor Jenderal Sudirman, mulai Gladag sampai Tugu Pemandengan bahkan Pasar Gede, berada di lokasi yang sangat bersejarah. Sebab keberadaannya tidak terlepas dari eksistensi Keraton Surakarta. Termasuk keberadaan Benteng Vastenburg yang dulu digunakan untuk memata-matai aktivitas Keraton oleh penjajah,” ungkap Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Surakarta, Endah Sitaresmi Suryandari, dikutip dari Surakarta.go.id.

Sementara biaya yang disiapkan Pemkot untuk menganti aspal koridor Jensud dengan bayu andesit sebesar 4 Miliar rupiah.

“Anggarannya untuk tahap pertama di dari BI (Bank Indonesia) ke Tugu Pamandengan atau depan Balai Kota itu Rp 4 miliar,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Solo Endah Sitaresmi Suryandari, sebagaimana dikutip Tribunsolo.com Sabtu (21/7/2018).

Diantar Ayah Angkat, Anak Ini Mantap Bersyahadat di Ponpes Sukamanah Tasikmalaya

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Namanya Calvin (11) asal Bekasi, Jawa Barat. Anak keluarga penganut Budha ini mantap mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Ponpes KH Zaenal Musthofa, Sukamanah, Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya, Ahad (13/1/2019).

Usai shalat ashar ratusan santri dengan khidmat menyaksikan prosesi Calvin masuk Islam yang dituntun langsung oleh Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Tasikmalaya yang juga Sekretaris Ponpes Sukamanah, KH Atam Rustam.

Secara perlahan, Kiai Atam membimbing Calvin membaca penggalan-penggalan dua kalimat syahadat lengkap dengan artinya. Calvin pun mengikuti apa yang disampaikan oleh KH. Atam dengan cukup fasih.

“Setelah resmi memeluk agama Islam, Calvin berganti nama menjadi Isham Musthafa Najih,” kata Kiai Atam.

Kiai Atam pun membenarkan jika Isham akan menjadi santri Pondok Pesantren Sukamanah untuk belajar mendalami ilmu Agama Islam sembari menempuh pendidikan formal. Mengingat usia Isham yang masih berada pada usia wajib belajar.

“Kita doakan mudah-mudahan bisa istiqomah dalam belajar mendalami ilmu agama Islam dan menjadi seorang Muslim yang taat. Amin,” tutur Kiai Atam.

Uniknya, Calvin yang sudah berganti nama menjadi Isham Musthafa Najih diantar oleh ayah angkatnya yang juga beragama Budha ke Pondok Pesantren Sukamanah dan meminta agar Calvin dibimbing membacakan dua kalimat Syahadat sebagai syarat memeluk agama Islam.

Isham mengaku, memeluk agama Islam atas kamauan sendiri tanpa adanya pemaksaan maupun tekanan dari siapapun. Keinginan memeluk agama islam itu pun mendapatkan dukungan dari keluarga.

“Masuk Islam ini, kemauan saya. Tidak ada paksaan dari siapapun. Saya senang tinggal di pesantren ini dan ingin tahu lebih tentang Islam,” Isham.

Sumber : Ayotasik.com

Mantan Tahanan Kamp Penyiksaan Cina Kabarkan Kondisi Muslim Uighur

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gulbakhar Cililova, mantan tahanan Kamp Konsentrasi (Kamp Penyiksaan) mengaku mendapat amanah dari masyarakat Uighur, khususnya yang ditahan di Kamp Penyiksaan rezim komunis Cina, untuk menyampaikan penindasan yang dialami Muslim Uighur kepada Dunia.

“Mereka (masyarakat Uighur) mengatakan kepada saya bahwa kita di sini tidak bisa bagaimana keluar. ‘Ketika kamu keluar, saya amanahkan kamu agar dunia tahu apa yang sebenarnya terjadi’,” ujar Gulbakhar menirukan ucapan teman-temannya saat di tahanan dalam acara diskusi dan konferensi pers bertajuk ‘Kesaksian dari Balik Tembok Penjara Uighur’, di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (12/1/2019).

Dalam diskusi dan konferensi pers yang diinisiasi lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Jurnalis Islam Bersatu (JITU) itu, Gulbakhar juga menceritakan penderitaan yang dialami oleh Muslim Uighur.

“Pernah suatu hari saya dibawa ke rumah sakit di kamp tersebut, dan saya melihat seseorang dibawa dari penjara. Para sipir mengatakan tahanan itu akan dibebaskan, namun sejatinya mereka ternyata dihukum mati,” ujar ibu dari tiga anak ini seperti dilansir INA News Agency (INA) — sindikasi berita bentukan JITU.

Gulbakhar menceritakan ketika ada warga, seorang ibu, yang ditahan, pingsan, dan ada tahanan lain ingin menolong, maka tahanan yang mau menolong itu langsung disiksa.

Dia juga bercerita, ada seorang wanita yang melahirkan di dalam kamp. Ketika baru melahirkan di ruangan tempat Muslim Uighur ditahan, pihak rezim Cina langsung merebut bayi yang baru dilahirkan itu. Mereka tidak membiarkan wanita tersebut menyusui bayinya.

“Saya baru diinterogasi ketika sudah masuk bulan ketiga di tahanan. Saya diperiksa selama 24 jam tanpa diberi makan dan minum. Bahkan saya diancam ditahan selama 10 tahun. Di kamp tersebut, sudah ada Muslim yang ditahan selama 30 tahun lebih,” paparnya.

Gulbakhar sendiri sebenarnya berasal dari negara Kazakhstan. Lalu, mengapa dia sampai bisa ditahan di Kamp Penyiksaan Cina? Ceritanya dalam dua dekade terakhir, dia berbisnis di perbatasan Cina-Kazakhstan. Namun pada Mei 2017, rezim Cina menangkapnya di Kota Urumqi, Cina. Ia dituduh mentransfer dana secara ilegal sebesar 17 ribu Yuan (sekitar 3.500 dolar USD) dari Cina dan Turki.

Setelah ditangkap, dia ditempatkan di kamp, disiksa dan terpisah dengan anak-anaknya. Gulbakhar mengaku, di dalam kamp dia kerap dipukuli. Ketika pertama kali masuk Kamp Penyiksaan, Gulbakhar memiliki berat 76 kg. Tetapi dalam sebulan berat badannya menyusut sampai 20 kilo lebih.

“Tujuan akhir dari kamp-kamp konsentrasi itu adalah untuk menghilangkan orang-orang Uighur, kaum Muslimin,” terangnya.

Gulbakhar akhirnya dapat keluar (bebas) dari tahanan Kamp Penyiksaan itu setelah adanya upaya lobi yang terus menerus dilakukan oleh pemerintah Kazakhstan dan keluarganya.

“Saya dibebaskan dari Kamp Konsentrasi tiga bulan lalu, tetapi setiap hari situasi di Kamp Konsentrasi masih terbayang-bayang di pelupuk mata Saya,” ungkapnya. “Tangisan rakyat Uighur masih terngiang di telinga saya,” kata Gulbakhar seperti dikutip Republika.co.id, Jumat (11/1).

Selain Gulbakhar, diskusi ini juga menghadirkan Senior Vice President ACT Syuhelmaidi Syukur, Anggota DPR, Almuzzammil Yusuf, Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur (Uighur), Seyit Tümtürk, Tim Komunikasi & Advokasi Amnesty International Indonesia, Haeril Ilham, dan moderator, Ketua Umum JITU, Pizaro.

Muhammad Jundii (INA)

Muslim Uighur Apresiasi Solidaritas Indonesia

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur di Istanbul, Seyit Tümtürk, berterimakasih kepada seluruh masyarakat Indonésia, Ormas Islam, lembaga-lembaga dan media atas solidaritasnya kepada Muslim Uighur. Dia, mewakili 35 juta warga Muslim Uighur, menyampaikan salam keselamatan kepada Indonésia.

Dalam diskusi dan konferensi pers bertajuk ‘Kesaksian dari Balik Tembok Penjara Uighur’ yang diinisiasi Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Jurnalis Islam Bersatu (JITU), Seyit Tümtürk menjelaskan bahwa sudah sejak lama Turkistan Timur ditindas oleh rezim komunis Cina. Atas alasan itu, Tümtürk dan beberapa perwakilan masyarakat Uighur datang ke Indonesia.

“Dalam hitungan PBB, angka masyarakat Uighur yang ditahan dalam Kamp Konsentrasi Cina sebanyak lebih satu juta orang. Akan tetapi, menurut data yang kami kumpulkan ada sekitar 3 sampai 5 juta orang. Mereka mendapat siksaan lebih dari yang dilakukan oleh Nazi,” ujar Tümtürk dalam bahasa Turki, di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (12/1/2019).

Dia menjelaskan Kamp Penyiksaan terhadap Muslim Uighur disebut oleh rezim komunis Cina sebagai proyek “Persaudaraan Keluarga”, padahal sejatinya itu adalah sebuah kamp genosida terhadap muslim Uighur. Muslim Uighur yang ditahan di sana pun karena dituduh sebagai teroris, radikalis.

“Amat kita sayangkan, 3 hingga 5 juta Muslim Uighur disiksa, tapi dunia buta dan tuli terhadap apa yang terjadi di sana. Dan atas semua penindasan itu, alhamdulillah masyarakat Muslim Indonesia turun ke jalan menyuarakan pembebasan Muslim Uighur,” ujarnya yang dikutip INA News Agency (INA) — sindikasi berita bentukan JITU, Sabtu (12/1).

Sikap Muslim Indonesia itulah yang menyebabkan perwakilan Uighur datang ke Indonesia. Umat Islam Indonesia menyuarakan kebebasan Uighur.

“Setelah aksi itu dilakukan, efeknya kedutaan Cina langsung mempersilakan ormas Islam untuk datang ke Xinjiang, melihat kondisi Muslim Uighur, supaya kabar penindasan itu terkesan tidak benar” ujarnya.

Tümtürk mengungkapkan, dua tahun lalu, Cina juga mengingkari penindasan yang dilakukanya. Namun, tiga bulan terakhir ini, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan Parlemen Eropa melakukan penelitian. Dari angkasa terungkap fakta yang membenarkan adanya Kamp Penyiksaan itu.

Setelah parlemen Eropa dan PBB mendesak Cina untuk mengakui hal itu, Cina mengatakan benar adanya kamp tersebut, tapi (Cina) tidak mengakui penindasan tersebut.

“Setelah dikeluarkan angka satu juta Muslim Uighur ditahan, Cina tetap berusaha mengelak. Setelah seperti Gulbakhar yang baru keluar dan mengalami penindasan, kita bawa ke hadapan media, rezim Cina tetap saja mengelak. Cina berdalih Kamp Penyiksaan itu adalah kamp konsentrasi dan pelatihan kerja untuk warga,” jelasnya.

Reporter : Muhammad Jundii (INA)

Mengerikan, Begini Kondisi Muslim Uighur Dalam Penjara Cina

JAKARTA (Jurnalislam.com) – 22 Mei tahun 2017 lalu adalah momen paling mencekam bagi Gulbakhar Cililova (55). Ibu tiga anak ini tiba-tiba ditangkap oleh tentara komunis Cina dan mendapatkan siksaan yang tak mampu ia gambarkan. Wanita berkulit kuning langsat khas Asia Timur ini sebenarnya warga negara Kazakhstan, namun memiliki darah Turkistan Timur atau Uighur.

Cililova mengisahkan pengalaman pahitnya itu dalam acara yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu (JITU) dan lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) bertema “Kesaksian dari Balik Tembok Penjara Uighur” di sebuah kafe di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (12/01/2019).

Ia menceritakan, selama 13 bulan berada penjara Cina, dirinya diperlakukan tidak manusiawi.

“Saya ditempatkan di ruangan sempit yang seluruh aktivitas sehari-hari digabung dengan tempat buang air besar,” kenangnya.

Setiap harinya, di penjara yang ia sebut kamp penyiksaan itu, Cililova bersama tahanan lainnya dikumpulkan dan diperintahkan menghadap ke dinding ruangan. Mereka tidak boleh bergerak sedikit pun tanpa makan dan minum. Ruangan itu dilengkapi dengan kamera CCTV. Kabarnya, CCTV tersebut tersambung langsung ke ruangan Xi Jinping, Presiden Cina.

“Kalau ada satu orang yang bergerak saja sedikit kepalanya karena pegal mungkin, maka kami semua kena siksa karena kita dituduh sedang melakukan ibadah,” ungkapnya.

Para tahanan di penjara itu tangan dan kakinya diborgol dengan diberi pemberat 5kg dan hidup dalam keadaan lapar dan dahaga.

“Ketika ada yang mengeluh, langsung disiksa,” katanya.

“Pernah suatu hari ada wanita tua pingsan. Satu orang ingin menolong, maka langsung disiksa,” lanjutnya.

Kisah yang dituturkan Cililova hanyalah salah satu bukti kekejaman pemerintah Cina terhadap Muslim Uighur di Xinjiang. Dia berharap kisahnya ini dapat membuka mata dunia untuk membantu perjuangan Muslim Uighur dan menekan pemerintah Cina untuk menghentikan segala bentuk penindasan kepada mereka.

Puting Beliung Rancaekek, 16 Orang Luka, Ratusan Rumah Rusak

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat (Humas) BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, angin Puting Beliung yang melanda Rancaekek Kabupaten Bandung pada Jum’at (11/1/2019) menyebabkan puluhan rumah warga rusak berat dan ringan serta beberapa orang mengalami luka-luka.

“Dampak sementara puting beliung Rancaekek, Bandung, 1 orang luka berat, 15 orang luka ringan, 15 rumah rusak berat dan 71 rumah rusak ringan,” katanya dalam akun Twiter resmi miliknya Sabtu (12/1/2019).

Menurut Sutopo, jumlah kerusakan akibat Puting Beliung tersebut akan terus bertambah. “Lebih dari 300 rumah rusak (belum diklarifikasi),” ujarnya.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan ringan akan terjadi di Bandung dari siang hingga malam hari dan kembali berawan pada dini hari.

Suhu berkisar antara 20-30 derajat celcius dengan kelembaban 60-90 persen dengan potensi angin kencang dan kilat/petir saat terjadi hujan di siang hingga malam hari.

Puting Beliung Menerjang Rancaekek Kabupaten Bandung, Puluhan Rumah Rusak

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Angin puting beliung menerjang wilayah Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jumat (11/1/2019). Menurut penuturan warga, puting beliung disertai hujan deras terjadi dari pukul 15.00 – 15.30 WIB. 

“Dari jam 3 sampai setengah 4,” kata Fajar (32) warga Desa Rancabatok, Kecamatan Rancaekek Wetan, Kabupaten Bandung kepada Jurniscom, Jumat (11/1/2019).

Menurutnya, ada tiga desa yang diterjang puting beliung di Kecamatan Rancaekek Wetan, diantaranya Perumahan Rancaekek Permai, Desa Rancakendal, dan Desa Ciherang. 

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Akan tetapi sejumlah bangunan rusak parah.

“Iya yang paling parah itu di Perumahan Rancaekek Permai sama di Rancakendal,” ujar Fajar.

Fajar mengungkapkan suasana mencekam saat kejadian. Ia melihat pohon tumbang dan menimpa tiang listrik yang mengakibatkan aliran listrik mati.

“Tidak ada yang azan (ashar-red) karena listrik mati, soalnya tiang listriknya ketimpa pohon,” ungkapnya.

 

 

Semakin Otoriter

Penulis: M Rizal Fadillah (Ketua MAUNG Institute)

JURNISCOM – Perintah Presiden kepada Kapolri untuk menindak mereka yang mendeligitimasi KPU dinilai berlebihan dan menunjukkan sikap emosional. Semestinya jangan bersikap “over protective”. KPU disorot hal yang biasa, itupun karena ada sebab. Publik tak akan mengkritisi jika sesuatunya wajar dan tidak ada yang membuatnya ragu. Setiap langkah tentu dibaca, dianalisis, dan dimungkinkan adanya input untuk perbaikan.

Dugaan pasangan Jokowi Ma’ruf “diselamatkan” oleh KPU mestinya dinetralisisasi. Umumkan saja dengan lantang bahwa “Saya Jokowi sebagai kandidat siap untuk menyampaikan visi misi sendiri dan siap pula untuk berdebat tanpa diberitahu daftar pertanyaan terlebih dahulu”. Nah selesai. Tak akan ada kecurigaan apa apa lagi. Tapi dengan gaya “sradak sruduk” seperti ini, apalagi dengan perintah kepada polisi agar menindak pendelegitimasian KPU, maka muncul dugaan lebih kuat adanya “kerjasama” Jokowi dengan KPU. Disamping makin kental dugaan KPU dan Polisi menjadi alat kepanjangan tangan dari kepentingan pemenangan Jokowi.

Perlu dicermati bahasa “mendelegitimasi KPU” Apa makna dan bukti yang bisa dijadikan acuan ? Fakta yang ada adalah bahwa semua elemen masyarakat menginginkan adanya lembaga KPU yang kuat, mandiri, dan berwibawa. Mengharap menjadi penyelenggara pemilu yang baik sehingga pemilu dapat berlangsung jujur dan adil.
Mengkritisi tidak sama dengan mendelegitimasi. Bila disamakan maka yang terjadi adalah tafsir sepihak. Dengan asumsi telah terjadi “delegitimasi” maka kritik pasti akan dibungkam. Inilah sikap otoriter yang kita haramkan

Pembungkaman dengan memakai alat penegak hukum sama saja dengan merendahkan hukum itu sendiri. Hukum dijadikan subordinat dari kemauan politik. Model demikian bukanlah ciri Negara Hukum (Rechtstaat) tapi wujud dari Negara Kekuasaan (Machtstaat) dan hal ini jelas bertentangan dan menyimpang dari asas yang dianut oleh Konstitusi Negara.

Sikap otoriter hakekatnya menutupi kelemahan diri. Dampak dari jiwa yang penuh dengan ketakutan. Takut kesalahan dibully, takut gagal melewati fase debat, takut mitra tak menunjang, ujungnya ya itu takut kalah dalam pertandingan. Sangat takut kekuasaan jatuh. Petahana memiliki beban psikologis yang lebih berat. otoritarianisme adalah musuh abadi rakyat. Semakin otoriter semakin terbuka dan tergalang perlawanan rakyat yang lebih kuat. Cepat atau lambat.