Muhammadiyah Desak Kominfo Blokir Aplikasi Gay ‘Grindr’

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti meminta Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) memblokir aplikasi ‘Grindr’ yang digunakan kalangan gay untuk berkomunikasi. Pemblokiran harus segera dilakukan mengingat bahaya yang mengintai akibat aplikasi tersebut.

“Jangan tunggu sampai ada kasus, perusakan bangsa tak boleh dibiarkan,” kata dia dilansir Republika, Kamis (8/9/2016).Mu’ti mendesak Kemenkominfo untuk aktif dan proaktif mengawasi semua situs yang mengarah pada tindakan menyimpang, apalagi di dalamnya ada muatan pornografi.

Kalau tidak, kata dia, maka kasus seperti di Bogor bukan tidak mungkin akan merembet ke tempat lain di Indonesia.

Mu’ti menambahkan, pemerintah dan aparat tidak perlu khawatir dengan jerat undang-undang kebebasan informasi untuk melakukan pemblokiran terhadap aplikasi gay. Sebab, menurutnya, fakta-faktanya sudah jelas dengan terbongkarnya kasus di Bogor yang melibatkan puluhan anak menjadi korban.

“Bahkan kalau perlu bisa menyasar dan menyisir situs lain yang berpotensi merusak moralitas masyarakat,” ujar dia.

Sebelumnya, Kemenkominfo mengaku belum bisa melakukan pemblokiran terhadap aplikasi tersebut. Kepala Biro Humas Kemenkominfo Noor Iza mengatakan, Kemenkominfo sejauh ini masih melakukan pendalaman terhadap aplikasi tersebut. Ia mengaku berhati-hati dalam mengambil langkah. Sebab, kata dia, pemblokiran tak bisa dilakukan dengan gegabah.

Kasus Prostitusi Gay Bukti Indonesia Darurat LGBT

SOLO (Jurnalislam.com) – Isu LGBT kembali mencuat pasca terkuaknya kasus prostitusi anak laki-laki untuk kaum gay di Bogor. Menanggapi fenomena tersebut, juru bicara Jamaah Ansharusy Syariah, ustadz Abdul Rachim Ba’asyir mengatakan, masyarakat Indonesia tidak boleh memberi ruang gerak bagi kaum Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT).

“Masyarakat Indonesia sudah tidak boleh tutup mata lagi terhadap keberadaan LGBT ini. Perkembangan mereka kan cukup pesat. Mereka juga sudah berani memanfaatkan pejabat-pejabat negara seperti kehadiran menteri agama dalam acara HUT AJI kemarin,” terang pria yang karib disapa ustadz Iim itu kepada Jurnalislam melalui sambungan telepon, Rabu (7/9/2016).

Ia khawatir jika perkembangan LGBT dibiarkan bebas seperti saat ini akan mengundang azab Allah SWT seperti azab yang diterima kaum Nabi Luth AS dahulu.

“Kalau masyarakat Indonesia baik pejabat-pejabatnya maupun rakyatnya memberi angin kepada mereka, maka jangan salahkan kalau nanti mereka akan meraja lela. Dan mereka itu hanya akan mengundang azab Allah SWT,” tegasnya.

Ustadz Iim menegaskan, munculnya kasus prostitusi anak laki-laki untuk kaum gay membuktikan bahwa mereka mempunyai ruang untuk bergerak bebas di Indonesia. Untuk itu ia mendesak pemerintah untuk bersikap tegas terhadap kaum LGBT.

“Saat ini mereka juga kan bukan hanya dikenal dengan penyimpangan orientasi seksual saja, tapi juga mereka kerap melakukan tindakan kriminal. Maka dari itu perlu ada tindakan tegas. Kasus itu juga membuktikan bahwa Indonesia sedang darurat LGBT,” pungkasnya.

Setelah Dirikan Sekolah Disabilitas, Peggi Melati Sukma Kini Jalankan Program Persalinan di Gaza

SOLO (Jurnalislam.com) – Mantan pemain sinetron lawas yang kini menjadi pendakwah, Peggi Melati Sukma mengatakan, perjuangan rakyat Palestina tidak akan pernah padam selama zionis Israel masih ada. Pernyataan itu ia sampaikan dalam acara kajian di Masjid Rohmah, Laweyan, Solo, Senin (5/9/2016).

“Selama masih ada Zionis Israel, perjuangan mereka tidak akan berhenti. Meski selalu diancam dengan pembunuhan, pemboman, ya memang seperti itu, tapi saudara-saudara kita gak akan mundur,” kata Inspirator Hijrah yang telah berdakwah di 20 negara itu.

Pendiri satu-satunya Sekolah Disabilitas di Gaza itu kini sedang menjalankan program persalinan bagi ibu-ibu Gaza. Wanita yang bangga dengan perjuangan rakyat Palestina itu terus mengajak masyarakat Indonesia untuk membantuk rakyat Palestina.

“Ya masih saya jalankan, Insya Allah gak berhenti. Seperti program persalinan ibu di jalur Gaza yang kami punya sudah mencapai seribu. Pemberdayaan ekonomi janda-janda syuhada. Untuk itu saya akan berikan hadiah bagi yang mau bersedekah minimal 200 ribu,” ujar penulis buku “Kujemput Engkau di Sepertiga Malam” itu.

Bersama Ponpes Daruttauhid, Peggi juga akan membangun sekolah-sekolah di jalur Gaza dan mendirikan perkampungan anak yatim dan janda syuhada di Palestina.

Ansharusyariah: Istiqomah dalam Jalan Dakwah dan Jihad Dijamin Kemenangan

SERANG (Jurnalislam.com) Menanggapi berbagai peristiwa yang terjadi di negeri ini, mulai dari persoalan rusaknya moral hingga kepemimpinan kafir, Amir Jamaah Ansharusyariah (JAS) Ustadz Muhammad Achwan mengatakan, kondisi tersebut sudah disampaikan Rasulullah SAW dahulu.
“Sudah dinashkan oleh Rasulullah bahwa umat ini akan disaring oleh satu saringan dimana hanya tersisa ampasnya manusia saja,” katanya saat ditemui jurnalislam didaerah Salira, Serang, Ahad (5/9/2016).
Menurutnya, fenomena kekejaman negeri ini bak kekejaman pada zaman Fira’un. “Semakin kejam, semakin dekat pula runtuhnya negeri,” ujarnya sembari mengutup Al Qur’an surat Al-An’am ayat 44.
“Ketika mereka sudah bangga dan sukses dengan hasil mereka, Allah akan menurunkan adzabnya karena perbuatan istidrajnya,” sambungnya.
Untuk itu, ia mengimbau umat untuk fokus dan konsentrasi memegang erat Sunnah Nabi SAW meski seperti memegang batu bara.
“Kita kembali dan menargetkan ridho Allah, sukses di tangan Allah. Teruslah bekerja, jalan dakwah dan jihad akan mendapatkan garansi kemenangan oleh Allah, janjinya jelas,” pungkasnya.

ICMI DKI Kecam Pemda Menggusur Mushala Tapi Izinkan Vihara

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kebijakan diskriminatif pemerintah DKI Jakarta yang menginzinkan berdirinya sebuah Kelenteng di Muara Angke tapi menggusur Mushala di Pulau Pari, diprotes keras Pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) DKI Jakarta, Mustaqim Dahlan.

Fungsionaris ICMI yang akrab disapa Alan ini mengungkapkan, pada Senin (5/9/2016) pagi telah terjadi dua kegiatan yang menurut dia kontraproduktif. Pertama, di Muara Angke yang hampir 100 persen penduduk di sana Muslim, tapi ada pihak yang ingin mendirikan kelenteng atau vihara, padahal tidak ada umatnya.

Kemudian di sisi lain, lanjutnya, di waktu yang hampir bersamaan, sebuah Mushala di Pulau Pari akan dibongkar oleh Satpol PP, atas Surat Perintah Bongkar (SPB) dari Wakil Bupati Kepulauan Seribu. Padahal, di Pulau Pari hampir 100 persen penduduknya Muslim.

“Di Muara Angke, yang menginginkan didirikan kelenteng di sana bos-bos Cina yang punya kapal. Padahal tidak ada umatnya, ini sudah kami tolak. Sedangkan sekarang masyarakat sedang melawan pembongkaran Mushala di Pulau Pari,” ujar Alan kepada dilansir dari Republika, Senin (5/9/2016).

Alan mengatakan, kalau kelenteng atau vihara di Muara Angke dibiarkan berdiri, nanti rumah ibadahnya ada, tapi umatnya tidak ada. Tapi di sisi lain, kalau mushala di Pulau Pari dibiarkan digusur, ada Muslim baik penduduk di sana atau pengunjung pulau yang tidak mendapatkan akses ibadah.

Sebagai warga negara, ia paham semua rumah ibadah, termasuk kelenteng dan mushala, itu hak dasar umat. Akan tetapi, pendiriannya harus tetap sesuai dengan aturan dan undang-undang. Kalau hari ini warga sudah mendirikan mushala di sana tapi ada upaya pemerintah lewat surat perintah bongkar (SPB), baginya sudah tentu yang memerintahkan Kepala Daerah DKI. Alasan yang dikemukakan, pembongkaran dilakukan karena area pembangunan mushala bukan peruntukkannya.

“Dan kasus ini sebenarnya bukan mendirikan, tapi merenovasi mushala,” sambungnya. Sedangkan pembangunan kelenteng atau vihara di Muara Angke, masyarakat heran kenapa dibiarkan, sampai adanya protes dari warga.

Cegah Perayaan Asyura Syiah, Da’i MADINA: ‘Jika Perlu dengan Tangan’

SERANG (Jurnalislam.com) – Salah satu da’i Majelis Dakwah Islam Indonesia (MADINA), Ustadz Abu Umar Abdillah mengatakan, umat Islam terus berupaya mencegah perayaan Asyura Syiah. Sebab, Syiah adalah aliran sesat yang mengkafirkan para sahabat Rasul SAW.

“Salah satu titik kesesatan Syiah adalah mengkafirkan para sahabat. Maka, bentuk taqriruddin (menguatkan agama-red) adalah dengan menguatkan umat dengan pemahaman para sahabat dengan baik dan benar,” katanya kepada Jurniscom di Masjid At Taubah Serang, Sabtu (3/9/2016).

Baca juga: Umat Islam Jawa Barat Siap Hadang Perayaan Asyura Syiah

Ustadz Abu Umar menjelaskan, kaum Syiah adalah aliran sesat yang menganut aqidah taqiyah (berbohong/menyembunyikan aqidah). Keyakinan itulah yang kerap membuat umat Islam tertipu oleh pencitraan kelompok Syiah. Sehingga mereka dengan bebas bisa melakukan ritual-ritual keagamaan seperti perayaan hari Asyura setiap tanggal 10 Muharam.

Ritual perayaan hari Asyura oleh Jemaat Syiah Indonesia
Ritual perayaan hari Asyura oleh Jemaat Syiah Indonesia

“Karena di Indonesia ini jualan pencitraan masih terus laku dan kelompok-kelompok sesat paling strategis menggunakan itu sebagai pencitraan. Bahkan pada tahap mengesankan pihak yang terdzalimi,” ungkap Pemimpin Redaksi Majalah Ar Risalah itu.

Untuk itu, lanjutnya, pencegahan sangat penting dilakukan untuk membangun kepekaan umat Islam akan bahaya Syiah.

“Dengan pencegahan, kepekaan umat akan muncul, tidak peduli jika kita sempat kecolongan ritual sesat itu. Perayaan sesat Asyuro yang sangat tidak wajar harus dicegah baik dari lisan hingga tangan jika dibutuhkan,” pungkasnya.

Warga Menolak, LUIS: Pemerintah Jangan Paksakan Pembangunan RS Siloam

SOLO (Jurnalislam.com) – Ketua Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) Edi Lukito menjelaskan, keberadaan Rumat Sakit Siloam dengan segala misi di dalamnya akan menciptakan keresahan. Sebab warga Kratonan tidak setuju dengan pembanguan Rumah Sakit yang kabarnya dibiayai bos Lippo James Riyadi itu.

“Kalimat sederhana adalah pembangunan Siloam kita tolak. Dasarnya yang paling prinsip adalah adanya warga yang menolak. Dan yang kedua sederhana pula, kita minta dukugan anggota dewan untuk warga, dukungan moril,” tegas Edi di ruang rapat DPRD Kota Solo, Jumat (2/9/2016).

“Jangan dipaksakan berdiri. Kalau dipaksakan kita akan lawan siapapun ndak peduli, nyawa taruhannya, aku ra wedi,” sambungnya.

Menanggapi penolakan warga Kratonan itu, Ketua DPRD Kota Solo Teguh Prakoso menegaskan akan menghentikan pembangunan RS tersebut jika menyalahi izin awal, yaitu pendirian RS.

Menurutnya, RS Siloam hanya mengantongi izin pendirian Rumah Sakit saja. Akan tetapi berdasarkan invetigasi elemen umat Islam Solo, RS Siloam juga akan membuka hotel dan kegiatan pendidikan. Hal itulah yang dinilai akan meresahkan umat Islam khususnya warga Kratonan.

“Setahu saya izinnya hanya Rumah Sakit, jadi kalau nekat berdiri itu Rumah sakit didalamnya ada hotel, ada pendidikan, jenengan rasah ngoyak-oyak saya. Saya ketua DPRD yang akan menghentikan bangunan itu,” ujar Teguh.

Lebih tegas lagi, Ketua Forum Umat Islam (FUI) Klaten mengatakan, umat Islam Solo akan tetap menolak Siloam dengan atau tanpa hotel maupun pendidikan.

“Jadi jangan sampai salah, kita terjebak, ijinnya nanti rumah sakit tok, tidak ada Hotel, tidak ada Pendidikan. Yang kedua, sudah ada penolakan semacam ini kalau dilanjutkan pasti akan terjadi keresahan terus. Kalau anggotan Dewan menginginkan keresahan seperti ini silahkan dilanjutkan” tegas Syafei.

Ratusan warga Kratonan bersama elemen umat Islam Solo pada Jumat (2/9/2016) kemarin melakukan aksi unjuk rasa di depan DPRD Kota Solo menolak pembangunan RS Siloam di Jalan Honggowongso 137, Kratonan, Serengan, Kota Solo.

Unjuk Rasa Penolakan RS Siloam Kembali Digelar, Umat Islam Datangi DPRD Kota Solo

SOLO (Jurnalislam.com) – Upaya penolakan pembangunan Rumah Sakit Siloam di Jalan Honggowongso 137, Kratonan, Serengan, Solo terus berlanjut. Kemarin, Jumat (2/9/2016) ratusan elemen umat Islam bersama warga Kratonan mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Solo di Jl. Adi Sucipto 143A, Karangasem, Laweyan, Solo.

Ratusan umat Islam dari Laskar Umat Islam Surakart (LUIS), Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan yang lainnya itu membawa spanduk bertuliskan “Warga Solo Menolak Siloam Apapun Alasannya”.

Dalam kesempatan itu, Sekjen DSKS Ustad Tengku Azhar membacakan Surat Terbuka untuk Presiden RI Jokowi dan Walikota Solo FX Rudi dan pernyataan sikap warga kota Solo.

“Setelah mencermati aspirasi warga Kratonan, kami DSKS menolak RS Siloam di kota Solo jalan Honggowongso 137 dan 139 Rt 05/05. Pada tahap sosialisasi, pemerintah mengabaikan semua tokoh masyarakat dibuktikan beberapa ketua RT dan RW keberatan dengan pembangunan RS Siloam,” kata ustadz Tengku.

DSKS menilai Walikota lebih memberi izin dan berpihak kepada aspirasi investor asing daripada aspirasi warga Kratonan. Ustadz Tengku menambakan, proyek pembangunan RS Siloam yang memakan waktu 32 bulan itu dipastikan akan mengganggu kegiatan belajar di sekolah terdekat.

“Semoga dengan aksi kami Presiden Jokowi dan Walikota peka terhadap kegelisahan sosial, mengerti perasaan warga, membela nasib wong cilik,” tuturnya usai membacakan Surat Terbuka yang juga akan disampaikan kepada Panglima TNI, Kapolri, Mentri Kesehatan RI dan Ketua DPRD Solo itu.

Tokoh masyarakat Kratonan H.Muhammad Rofi’i mengatakan, pembangunan RS Siloam mengatakn keberadaan RS Siloam akan berdampak buruk kepada masyrakat Kratonan dan sekitarnya yang mayoritas beragama Islam.

Sementara itu, Amir Jamaah Ansharusy Syariah Jawa Tegah Ustadz Suro Wijoyo, Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) Solo Ustadz Aris Munandar, Ketua Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Klaten Ustadz Boni Azwar juga ikut menyampaikan orasi sebelum mereka menemui anggota DPRD Solo diruang rapat.

Aksi kemudian dilanjukan dengan konvoi kendaraan menuju Tanah Kosong Jl. Honggowongso, lokasi dimana RS Siloam akan dibangun. Disana massa memasang spanduk penolakan.

Forum Me-DAN Bima Gelar Jum’at Sodaqoh

BIMA (Jurnalislam.com) – Sebagai bentuk kepedulian kepada sesama, Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-DAN) Kota Bima menggelar kegiatan Jum’at Berbagi, Jumat (3/9/2016) di tiga lokasi sekaligus.

Kegiatan berupa pembagian nasi bungkus sebanyak 70 paket di tiga tempat yaitu di Kelurahan Na’e, kompleks Dinas Kebersihan Kota Bima, serta di panti asuhan Nurul Mubin Jalan Soekarno – Hatta, Kota Bima.

Selain untuk meningkatkan ukhuwah, Ketua forum Me-DAN Kota Bima Dian Ramadhan mengatakan aksi itu juga sebagai bentuk solidaritas serta kepedulian forum Me-DAN kepada sesama.

“Kami melihat pada hari ini masih banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan serta perhatian dari kita, oleh karena itu kami dari forum Me-DAN tergerak untuk bisa membantu mereka semua,” katanya kepada Jurniscom, Jumat (3/9/2016).

Kegitan itu juga merupakan langkah formal Me-DAN, dimana Me-DAN adalah sebuah forum yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan yang otomatis akan turun langsung untuk mengayomi serta membantu masyarakat, terlebih mereka yang tidak mampu.

“Kegiatan-kegiatan seperti ini akan terus kita intensifkan kedepannya untuk terus bisa berpartisipasi dan berkontribusi secara langsung bagi masyarakat, karena merupakan kebanggaan tersendiri bagi kami apabila bisa membantu mereka secara langsung,” terangnya.

Teror Masa Depan Anak, Pemuda Muhammadiyah: Pemerintah Harus Nyatakan Perang Terhadap LGBT

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan bahwa perilaku gay adalah ancaman nasional dan telah menjadi teror bagi masa depan anak Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan menanggapi terkuaknya prostitusi anak laki-laki untuk melayani kaum gay dewasa di kawasan Puncak, Bogor.

“Fakta ini membuktikan bahwa perilaku gay ini adalah ancaman nasional. Mengancam masa depan Anak-Anak Indonesia, ancaman kelompok gay yang menggunakan prostitusi anak ini adalah fakta bahwa mereka sudah menjadi teror bagi masa depan anak-anak Indonesia,” tegasnya dalam pernyataan yang diterima Jurniscom, Kamis (1/9/2016).

Menurut Dahnil, kasus ini juga dapat menjadi landasan kuat bagi pemerintah untuk mengkriminalkan pelaku homoseksual dan menghukum seberat-beratnya para pelaku perdagangan anak dibawah umur untuk pemuas nafsu bejad kaum gay.

“Masa depan anak-anak kita dan keamanan mereka sedang dibawah teror para teroris yang berperilaku menyimpang tersebut, maka pemerintah harus bersikap tegas dan terang perang terhadap mereka, dan kami percaya pemerintah bisa melakukan hal tersebut, jangan sampai masyarakat yang bereaksi berlebihan,” terangnya.

Untuk diketahui, Subdit Cyber Crime Bareskrim Polri berhasil mengungkap jaringan prostitusi pada Selasa (30/8/2016) malam kemarin di wilayah Cipayung, Puncak, Jawa Barat. Seorang residivis berinisial AR yang baru enam bulan keluar penjara adalah germo yang menawarkan anak-anak laki-laki kepada sesama jenis atau homoseksual lewat media sosial atau secara online.