Rekatkan Ukhuwah, Ribuan Umat Islam Bima Ikuti Pawai Sambut Tahun Baru 1438 Hijriyah

BIMA (Jurnalislam.com) – Dalam rangka menyambut tahun baru Islam 1438 H, ribuan umat Islam Bima menggelar longmarch, Ahad (2/10/2016). Rute longmarch diawali dari lapangan Paruga Na’e di jalan lintas Sumbawa, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima menuju Tambe dan kembali ke Lapangan Paruga Na’e.

“Aksi longmarch serta dirangkaikan dengan jalan sehat ini adalah untuk menyambut datangnya tahun baru islam serta untuk merekatkan ukhuwah Islamiyah,” terang Ketua Panitia, Ustadz Jabir Abdullah S.Pd kepada Jurniscom disela-sela acara.

Ustadz Jabir menyayangkan, penyambutan tahun baru Islam mulai pudar dan tergerus oleh euforia penyambutan tahun baru Masehi. “Padahal itu hanyalah kebiasaan dan tingkah laku orang kafir dan kita tidak boleh mengikuti mereka,” ujarnya.

Selain itu untuk merekatkan ukhuwah islamiyah umat Islam dan ormas Islam, aksi itu juga digelar untuk memudahkan kerja sama dalam hajatan umat Islam lainnya yang lebih besar.

“Kami berharap ke depan momen-momen besar seperti ini bisa kita sambut dengan suka cita sembari menyadarkan kepada umat bahwa tahun baru Islam ini adalah momen kita sedangkan momen tahun baru masehi itu momennya orang kafir dan tidak boleh diikuti,” tegasnya.

Acara bertema “Dengan Menyambut Tahun Baru Islam Kita Rekatkan Ukhuwah Islamiyah” itu diikuti oleh berbagai ormas Islam di Bima. Diantaranya Jamaah Ansharusy Syariah, Khilafatul muslimin, Panitia Hari Besar Islam (PHBI), Muhammadiyah, Pondok Pesantren Al-Madinah, Hizbut Tahrir Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bima, masyarakat Kecamatan Bolo, serta seluruh sekolah yang ada di Kecamatan Bolo.

Pendiri JITU Sayangkan Munculnya Fenomena Jurnalis Instan

BOGOR (Jurnalislam.com) – Wartawan Al Jazeera, Harjito Warno menyayangkan munculnya fenomena jurnalis instan yang tak lagi memperhatikan kaidah-kaidah jurnalistik dan tidak bertanggung jawab dengan tulisannya. Pria yang karib disapa Dito itu menilai, fenomena tersebut akan membahayakan umat.
“Banyak jurnalis instan yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah jurnalistik. Tidak gentle untuk bertanggung jawab atas tulisannya,” katanya dalam acara Seminar Jurnalistik Bidik Global Foundation di Hotel Salak The Heritage Bogor, Sabtu (1/10/2016).
Menurutnya, meskipun niat mereka untuk berdakwah akan tetapi jika tidak berhati-hati dalam menulis hanya akan merusak citra dakwah itu sendiri.
“Dengan adanya fenomena ini, setidaknya sebelum kita menulis dan mempublish sebuah tulisan hendaknya ditimbang dengan hati yang paling dalam,” ujar salah satu pendiri Jurnalis Islam Bersatu (JITU) itu.
Oleh sebab itu, ia menyarankan agar setiap jurnalis mengedepankan ideologi dalam tulisannya, yaitu ideologi Islam.
“Insting jurnalistik diasah, hadirkan militansi, menjaga komunikasi yang baik, menjaga independesi dan terakhir menjaga niat agar bermanfaat untuk umat,” pungkasnya.

Siaran Pers Hasil Mukernas Jama’ah Ansharusy Syari’ah

P R E S S R E L E A S E
JAMA’AH ANSHARUSY SYARIAH

Tentang:

Hasil Musyawarah Kerja Nasional Jamaah Ansharusy Syariah 1438-1440H

Bismillahirrahmaanirrahiem

 

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (٣٨)

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka (Qs. Asyuro 42:38)

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (١٥٩)

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Ali Imran 3:159)

Musyawarah Kerja Nasional Jamaah Ansharusy Syariah 1438-1440H ini diadakan di Islamic Center, Bekasi dengan mengangkat Tema : Membangun Kemauan dan Kemampuan Jama’ah yang Handal dan Kompetitif Dalam Memperjuangkan Syariat Islam. Menghasilkan poin-poin berikut:

  1. Bahwa merupakan bagian dari tuntutan iman seorang Mukmin adalah kesiapan dirinya untuk memperjuangkan tegaknya Islam dan Dienullah (Iqomatuddien). Karena beriqomatuddien adalah merupakan perintah Allah yang dipesankan kepada para Rasul Ulul Azmi. Allah SWT berfirman:

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ (١٣)

Dia telah mensyari´atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. (Qs. Asyuro 42:13)

  1. Konsep Iqomatuddien yang merupakan bagian dari bentuk ibadah kepada Allah SWT hendaknya dilaksanakan sesuai yang dicontohkan Rasulullah SAW. Dan konsep beliau dalam beriqomatuddien adalah dengan Dakwah dan Jihad fisabilillah yang diamalkan sesuai kondisi dan situasinya yang tepat. Dakwah yang dilaksanakan dengan Hikmah dan Mau’idzah hasanah (Ilmu dan Nasehat) dilengkapi dengan kelembutan serta sabar dan Akhlaqul Karimah sebagai bekal dalam upaya mengajak ummat manusia menuju cahaya Hidayah Allah SWT. Dan kemudian jalan Jihad fisabilillah yang dilaksanakan dengan lisan, harta dan jiwa demi tegaknya Kalimah Allah di Negeri tercinta ini.
  2. Jamaah Ansharusy Syariah adalah Jamaah yang diwujudkan untuk upaya Iqomatuddien (menegakkan Dienullah) dengan menjalankan konsep Rasulullah SAW. Dan sebagai salah satu wadah bagi ummat Islam di negeri ini guna ikut bergabung dalam kafilah perjuangan penegakan dienul Islam dalam kehidupan masyarakat negeri ini. Jamaah Ansharusy Syariah bukan sebuah kelompok jamaah yang terafiliasi dengan kelompok manapun di belahan dunia, namun Jamaah Ansharusy Syariah adalah bagian dari kesatuan Ummat Islam di dunia ini, membangun persaudaraannya dengan sesama Muslim dimanapun dan apapun latar belakang pemikirannya.
  1. Hari ini Jamaah Ansharusy Syariah telah selesai melaksanakan Musyawarah Kerja Nasional yang merumuskan Program-program kerja untuk dilaksanakan pada tahun 1438-1440H. Program-program tersebut telah dibahas dan disahkan oleh Amir Jamaah serta Insya Allah siap dilaksanakan oleh jajaran pengurus dan anggota Jamaah Ansharusy Syariah. Dalam Musyawarah Kerja Nasional ini, Jamaah Ansharusy Syariah telah melakukan evaluasi dan perbaikan pada berbagai bagian dari program kerja yang selama ini dilaksanakan guna memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh jamaah demi membentuk struktur jamaah yang handal, kompetitif, kokoh dan menghasilkan kinerja terbaik dari para anggotanya sesuai batas kemampuan sebagaimana yang di perintahkan Allah SWT :

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لأنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (١٦)

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan berinfaqlah dengan infaq yang terbaik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Qs. Attaghabun 64:16)

  1. Jamaah Ansharusy Syariah berharap dapat menjadi salah satu elemen ummat Islam di Indonesia yang berperan dalam gerak nyata di masyarakat demi mengajak dan mengembalikan kehidupan masyarakat Muslim di negeri ini bukan hanya berkehidupan yang Islami serta diridhoi Allah swt.Saja, Namun juga menjadi Masyarakat Muslim yang siap dan sadar akan kewajibannya untuk ikut berupaya memperjuangkan tegaknya Nilai-nilai Syariat Allah SWT di Bumi Indonesia demi mencapai kehidupan di negeri berkah yang “Baldatun Thayyibatun wa rabbun Ghafuur”.
  1. Jamaah Ansharusy Syariah membuka pintu selebar-lebarnya untuk bekerjasama dengan berbagai lembaga atau elemen ummat Islam di negeri ini, atas dasar ta’awun alal birri wa taqwa, demi tegaknya izzatul Islam wal muslimin dan tanpa tendensi apapun atau kepentingan pribadi sesaat selagi bentuk kerjasama tersebut sesuai dengan nilai-nilai Syariat Islam.
  1. Dalam Musyawarah Kerja Nasional ini, Jamaah Ansharusy Syariah juga menyatakan sikap terhadap beberapa isu berikut:

a. Jamaah Ansharusy Syariah menyatakan bahwa Umat Islam dilarang oleh Allah SWT untuk dipimpin oleh orang kafir, apalagi memilih mereka sebagai pemimpin kaum muslimin. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an :

لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ (٢٨)

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu) (QS. Ali Imran 3:28)

يَٰٓأَيُّهَاٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡكَٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۚ أَتُرِيدُونَ أَن تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗا مُّبِينًا ١٤٤

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu). (QS. Annisa 4:144)

يَٰٓأَيُّهَاٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلَّذِينَٱتَّخَذُواْ دِينَكُمۡ هُزُوٗا وَلَعِبٗا مِّنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلِكُمۡ وَٱلۡكُفَّارَ أَوۡلِيَآءَۚ وَٱتَّقُواْٱللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ٥٧

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. (QS. Al Maidah 5:57)

Maka Jamaah Ansharusy Syariah melarang seluruh anggotanya dan mengajak seluruh kaum muslimin Indonesia, untuk tidak mengangkat orang kafir menjadi pemimpin atau memilih mereka dalam Pemilu.

Jamaah Ansharusy Syariah juga menolak berbagai kebijakan zalim para pejabat negeri ini, yang menzalimi hak-hak rakyat serta bertindak sewenang-wenang tanpa mempedulikan nilai-nilai perikemanusiaan dan moral.

b. Jamaah Ansharusy Syariah juga mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya terhadap para korban bencana alam di negeri ini. Sembari mendoakan agar kiranya Allah SWT menerima mereka yang menjadi korban meninggal diterima di sisi-Nya sebagai hamba yang dimuliakan Allah SWT.

Jamaah Ansharusy Syariah juga tidak melupakan korban bencana yang luka-luka dan kehilangan harta benda dan menasehati agar mereka bersabar dan menerima taqdir llahi dengan hati yang lapang dalam harapan agar Allah SWT mengampuni dosa-dosa dan membimbing ke jalan yang diridhai Allah SWT.

Namun demikian, Jamaah Ansharusy Syariah juga tidak tinggal diam, tapi menggerakkan potensinya untuk ikut membantu para korban dengan mengirimkan para relawan dan mengumpulkan bantuan untuk meringankan beban berat yang sedang menimpa saudara-saudara kita di Garut, Sumedang, korban kebakaran massal di Bajo Pulo dan korban gempa di daerah Wera, Kabupaten Bima dan berbagai daerah lain yang tertimpa musibah bencana.

Jamaah Ansharusy Syariah berdoa kepada Allah SWT agar menghindarkan negeri ini dari berbagai musibah dan melindungi bangsa ini dari segala keburukan dan mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menghindarkan berbagai perbuatan yang membawa murka Allah SWT yang dapat mengundang kemurkaan-Nya dan menimpakan berbagai musibah pada bangsa ini.

c. Jamaah Ansharusy Syariah juga bersikap tegas terhadap para penghina Islam dan penghina Nabi saw. Seperti apa yang dilakukan oleh Ahmad Fauzi di Semarang dan bergerak melakukan pembelaan terhadap sikap-sikap diskriminatif terhadap Islam dan Umat Islam, dengan bekerjasama dengan pihak berwajib untuk menangkap dan menghukum para pelaku dengan hukum yang berlaku. Hingga kini Jamaah Ansharusy Syariah masih terus mengikuti perkembangan kasus mereka dan akan terus berupaya untuk menasehati,mengingatkan serta menghentikan perbuatan buruk mereka yang menghina Agama dan Nabi junjungan Umat Islam.

d. Jamaah Ansharusy Syariah juga berupaya aktif untuk membendung segala potensi kemunculan gerakan dan Ideologi bathil yang mengganggu ummat Islam dan merusak keamanan umat Islam negeri ini seperti kelompok ISIS, Syi’ah dan Komunis serta mengajak masyarakat agar lebih waspada dari upaya adudomba dan penjajahan gaya baru oleh pihak-pihak asing yang ingin menguasai negeri ini dengan cara yang bathil.

e. Jamaah Ansharusy Syariah juga mengecam kedzaliman yang terjadi ke atas ummat Islam di berbagai belahan dunia, khususnya pembantaian kemanusiaan hingga saat ini masih terjadi di Aleppo, dan Suriah secara umum. Jamaah Ansharusy Syariah menyayangkan sikap PBB yang tidak adil terhadap mereka, seakan menutup mata terhadap negara-negara adidaya yang melakukan pembunuhan massal terhadap masyarakat Muslim Suriah tanpa membedakan anak-anak, wanita dan orang tua. Jamaah Ansharusy Syariah berharap negara Indonesia berani bersikap tegas di forum-forum tingkat Internasional demi membela kemanusiaan yang dibantai agar kiranya dapat segera dihentikan.

f. Jamaah Ansharusy Syariah mengecam pembantaian umat muslim di Kashmir, Myanmar, serta perlakuan tidak adil yang dihadapi oleh kaum muslimin di Eropa dan Amerika yang masih sering menghadapi sikap diskriminatif oleh masyarakatnya akibat pengaruh Islamphobia yang massif di sana.

  1. Dan akhirnya, hanya kepada Allah lah kami bergantung dan memohon bantuan serta berharap pada-Nya agar kiranya Allah SWT mengangkat berbagai kesulitan yang sedang menimpa umat Islam di dunia dan semoga menjadikan kami sebagai salah satu alat yang digunakan oleh-Nya untuk tegaknya Dienullah.

اللهم استعملنا و لا تستعمل علينا

Ya Allah gunakanlah kami dan janganlah engkau gunakan )orang lain( keatas kami.

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرٗا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَآۚ أَنتَ مَوۡلَىٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِٱلۡكَٰفِرِينَ ٢٨٦

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” (Qs. Albaqarah 2:286)

Bekasi, 1 Muharram 1438H / 2 Oktober 2016 M

Juru Bicara

 

Abdul Rochim Ba’asyir

 

Sejarah Lahirnya Komunisme Di Indonesia (Bagian 2) Sarekat Islam tanpa Islam?

Sarekat Islam tanpa Islam?

Revolusi di Rusia semakin membakar militansi kaum merah di Sarekat Islam. Kerjasama dua kubu dan saling silang soal prinsip mewarnai perjalanan Sarekat Islam. Namun konflik makin tajam saat Tjokroaminoto dituduh terlibat korupsi

 

Diantara berbagai ketidaksepahaman kubu kiri di Sarekat Islam, satu hal yang cukup krusial adalah soal agama. Kubu kiri ingin menarik Sarekat Islam ke arah netral agama. Mereka beralasan bahwa agama tidak menyediakan basis yang luas bagi aksi politk. Hal ini diperparah nantinya oleh usul Alimin Prawirodirdjo, yang menginginkan nama Sarekat Islam diganti menjadi Sarekat Hindia.[1] Persoalan agama sebagai landasan berjuang Sarekat Islam memang menjadi isu yang melandasi pertentangan antara kubu kiri dan Islam di SI. Isu ini nantinya akan semakin santer diperdebatkan, khususnya pasca terjadinya Revolusi 1917 di Rusia.

Revolusi 1917 mendapatkan sambutan hangat orang-orang kiri di Hindia Belanda khsusunya Sneevliet. Ia menulis sebuah artikel berjudul ”Zegepraal“ yang berarti kemenangan. Artikel ini memberikan dukungan agar rakyat Indonesia berjuang melawan imperialisme dan keterbelakangan feodal. Diserukannya,

”Disini ada satoe bangsa jang bersabar hati, sengsara, memikoel kesengsara’an, jalah satoe bangsa dari beberapa million djiwa telah beberapa abad…dan sesoedahnja Dipo Negoro, tiadalah ada bangoen lagi saorang banjak aken mereboet hak beoat mengatoer nasibnja sendiri. Hei, rajat bangsa Djawa, revolutie Rusland mengandoeng pengadjaran djoega bagi kamoe![2]

Tulisan ini membawa Sneevliet ke dalam masalah. Pemerintah kolonial bereaksi dengan menyeretnya ke pengadilan dan kemudian mengusirnya dari Hindia Belanda. Di Hindia Belanda orang-orang lintas pergerakan seperti Mas Marco hingga H. Fachrodin bereaksi menentang pengusiran Sneevliet.

1-4-sneevliet

Gambar 1.4 Sneevliet di Semarang tahun 1917. Sumber foto: iisg.nl

Memang, revolusi di Rusia bukan hanya disambut kaum kiri di Hindia Belanda, tetapi juga tokoh nasionalis semacam Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, yang pertama kali menerbitkan tulisan Sneevliet pada 19 Maret 1917 di De Indier, media massa yang dipimpinnya. Selain Dr Tjipto, Mas Marco juga menulis artikel yang menyambut revolusi tersebut. Ki Hajar Dewantara juga menyambutnya dengan menerjemahkan lagu Internationale. Semangat anti kapitalisme memang menjadi bahasa pada zaman itu. Tetapi Revolusi 1917, secara khusus semakin memperlihatkan kubu kiri yang bergerak diatas prinsip marxisme. Hal ini menjadi persoalan ketika kubu kiri juga turut meluaskan pengaruhnya di Sarekat Islam. Kecurigaan tokoh-tokoh Islam dalam SI seperti Abdoel Moeis dan Haji Agus Salim pada sepak terjang kubu kiri di SI sudah sejak lama. Menurut mereka dibalik Semaoen, ada sosok Sneevliet yang mengendalikannya.

”Lihatlah pekerdjaan Sneevliet, lebih dahoeloe ia petjah persekoetoean jang sebidji-bidjinja!

Sarekat Islam digojang Sneevliet!

Padahal masih banjak pekerdjaan jang lain, jang akan lebih berhasil dari ini kelakoean, jang ia soedah bikin.“[3]

Haji Agus Salim pun bereaksi atas pandangan marxis kubu kiri di SI. Dalam artikelnya di surat kabar Neratja pada 1 Oktober 1917, Haji Agus Salim menyebut kelompok SI Semarang sebagai kaum yang,
”…hendak membagi bangsa kita atas ’kaoem pekerdja‘ dengan ’kaoem bermodal.‘ Kaoem itoe jang membatalkan hak-milik, jang memakai nama ‘socialist‘ jang dibangoenkan dan dikembangkan dalam negeri ini oleh toean-toean Sneevliet, Baars d.l.l.“[4]

Haji Agus Salim juga mengkritik mereka dengan mengatakan, ”…kaoem ’socialist‘ itoe memboeta toeli sadja hendak memindahkan sengketa dan perselisihan di roemah tangganja (Eropa) ke tanah air kita.”[5]

Abdoel Moeis juga senada dengan Haji Agus Salim dan dengan terang menunjuk Sneevliet berada di balik Semaoen. Dalam tulisannya yang diterbitkan Sinar Djawa pada 2 Oktober 1917, Moeis menyebut,

”…SI Semarang masih koeat melengkat pada Sneevliet, karena dijwanja SI Semarang ialah Semaoen, sedang toelang tonggong Semaoen ialah Sneevliet.

Boekankah kita tahoe penghidoepan Semaoen ialah dari perkoempoelan VTSP, sedang Djiwanja VTSP ialah Sneevliet poela.“[6]

1-5-abdoel-moeis

Gambar 1.5 Abdoel Moeis. Sumber foto: Keith Foulcier (2005)

Semaoen menolak tuduhan Moeis ini. Dalam brosur Anti Indie Werbaar, Semaoen menyanggahnya seraya menyebutkan,”Sneevliet BOEKAN toelang poenggoeng saja, sebab semoea manoesia poenja fikiran sendiri-sendiri. Begitoepoen saja. Perkara SI tida ada perhoeboengan atoe pengaroeh dari Sneevliet.”[7]

Semaoen bisa saja menyanggah, tetapi tuduhan Abdoel Moeis kelak terbukti oleh pernyataan Sneevliet sendiri. Sneevliet menyebutkan,“The Sarekat Islam has provided us with the people for the unions which are developing in Java. The Sarekat Islam has also given us railway workers, the rest of the government employees and also workers in private enterprise. It is the task of the revolutionaries to develop the Sarekat Islam into a communist organisation; an organisation which will be a member of the Third International”[8]

Bagi Sneevliet, infiltrasi gerakan kiri ke dalam Sarekat Islam memberikan akses pada massa (kelompok) pekerja khsusunya buruh pekerja rel kereta. Adalah tugas bagi kelompok komunis untuk mengubah Sarekat Islam menjadi organisasi komunis, dan menjadikan Moskow dan Petrograd sebagai ‘Mekkah’ baru bagi Timur.[9] Senada dengan Sneevliet, aktivis ISDV,-organisasi kiri yang menjadi bagian dari Sarekat Islam- aktivis ISDV, Adolf Baars, menginginkan keterlibatan kelompok kiri di SI hanyalah sebuah ‘batu loncatan.’ Menurutnya ketika perkembangan SI mencapai titik akhir, SI akan kehilangan karakter relijius dan nasionalisnya dan hanya menganggap satu karakter kelas, saat itulah orang ISDV (sebagai organisasi kiri) yang ada di dalam SI hanya akan membiarkan perbedaan di tubuh SI (yang sudah lenyap ) menjadi persatuan aksi massa sosialis.[10]

1-6-pamplet-isdv

Gambar 1.6 Salah satu pamflet ISDV

Pengaruh kubu kiri dipimpin Semaoen kuat. Di Kongres Nasional Sarekat Islam ke-2 pada 20-27 Oktober 1917, kehadiran Semaoen menimbulkan dua mosi. Yang pertama penolakan indie werbaar dan yang kedua mosi pemecatan Semaoen.Akhirnya dicapai kompromi. Kedua mosi tersebut dicabut. CSI tetap mendukung indie Werbaar sebagai daya tawar untuk perjuangan menuju kedaulatan politik dan kesejahteraan. Kapitalisme juga menjadi pembahasan penting. Semaoen menolak adanya kapitalisme pribumi. Namun sikap SI diputuskan untuk menolak kapitalisme jahat sekaligus tidak menolak kapitalisme pribumi. Kongres CSI kedua tersebut menghasilkan keputusan yang membahas antara agama, kekuasaan dan kapitalisme dan menyimpulkan:

“Dengan tiada ferdoelikan segala igama jang lain, dan mengoesahakan kesabaran hati sebagai jang terboeka oleh Al-Qoeran dalam soerat Qoelya, maka Centraal Sarekat Islam pertjaja igama Islam itoe memboeka rasa fikiran demokratis.

Sambil mendjoendjoeng tinggi pada koeasa negeri. Maka Centraal Sarekat Islam menoentoet bertambah-tambah koeasa negeri, pengaroehnja segala golongan ra’jat Hindia di atas djalannja Pemerintahan agar soepaja kelak mendapat koeasa pemerintah sendiri (zelfbestuur). Boeat mentjapai hal itoe maka Centraal SI akan menggunakan segala kekoeatannja menoeroet djalan jang patoet. Centraal Sarekat Islam tidak menjoekai soeatoe bangsa berkoeasa di atas bangsa jang lain dan menoentoet soeatoe pihak keoasa negri akan memberikan perlindoenagna jang besar oentoek orang-orang jang lembek dan miskin baik beoat keperloean mentjari kepandaian, moepoen boeat keperloean mentjari makan. Centraal Sarekat Islam memerangi kekoeasannja kapitalsime jang djahat pada kejakinannja bahagian terbesar daripada pendoedoek boemipoetra amat boeroek adanja.[11]

Pengaruh kiri pada Sarekat Islam memang tak bisa dipungkiri. Perseteruan kedua kubu tidak bisa tidak juga saling mempengaruhi dan mencapai kompromi.

Hubungan tarik-menarik antara kedua kubu ini tetap dijaga oleh Tjokroaminoto. Tjokroaminoto adalah sosok pemersatu di Sarekat Islam. Baginya kedua kubu ini tetap harus dijembatani oleh dirinya. Pada kongres nasional kedua Sarekat Islam tahun 1918, Tjokroaminoto mengakomodir kubu kiri dengan mengangkat Semaoen sebagai komisaris CSI dan Dharsono, sebagai propagandis resmi CSI.[12]

Menjelang akhir 1918 keadaan semakin memburuk. Harga-harga melambung tinggi. Tak lagi terjangkau oleh rakyat. Pemerintah colonial dan sebagian besar anggota Volksraad lebih memihak pada pengusaha industri gula yang menolak untuk mengurangi wilayah perkebunan mereka untuk tanaman rakyat. Sarekat Islam mengadakan sidang di September 1918 untuk merespon keadaan ini. Kongres ini membicarakan badan penyokong untuk para aktivis yang terkena hantam tangan besi penguasa. Perbedaan pandangan kubu Semaoen dan Abdoel Moeis masih sangat tajam. Beberapa pokok perbedaan itu antara lain soal nasionalisme dan kapitalisme. Kubu Abdoel Moeis menolak dominasi satu bangsa atas bangsa lainnya. Sedangkan bagi kubu Semaoen, melawan kapitalisme adalah yang paling utama. Pun dalam menyikapi kapitalisme keduanya tak sejalan. Abdoel Moeis menganggap modal capital harus diserahkan kepada pengusaha-pengusaha pribumi, sedangkan kubu Semaoen menganggap harus diserahkan pada koperasi-koperasi. Dalam ihwal politik, Abdoel Moeis bagaiamanapun masih mengupayakan kerjasama dengan pemerintah, sesuatu yang ditolak sama sekali oleh kubu kiri.[13]

Semaoen, selain hal tadi, berhasil mempengaruhi kongres sehubungan dengan status Sneevliet. Semaoen mengusulkan agar Sneevliet menjadi wakil Sarekat Islam di Belanda. Namun usul ini ditentang banyak pihak karena khawatir SI akan menjadi alat dari Sneevliet. Akhirnya dicapai kompromi, Sneevliet diangkat menjadi wakil SI dengan mandate terbatas yang dapat dicabut sewaktu-waktu. Usul ini diterima dengan 5 : 4 dengan satu suara abstain. Usul lain Semaoen terkait dengan sikap SI terhadap orang-orang tionghoa. Semaoen mengusulkan agar Sarekat Islam tak lagi memusuhi orang-orang tionghoa. Karena musuh sebenarnya adalaha kapitalisme. Sidang memutuskan SI akan menyambut jika ada tawaran perdamaian dari orang-orang tionghoa, selama mereka mendukung pergerakan, membantu menghilangkan perbedaan dan tidak merintangi SI melawan kapitalisme. Lolosnya beberapa usulan Semaoen mencerminkan besarnya pengaruh kubu kiri kala itu.[14]

Perseteruan kubu kiri dan Islam di SI memang terus terjadi, namun mereka juga tetap bekerja sama dalam persoalan-persoalan lainnya. Termasuk perhatian Sarekat Islam pada buruh. Perhatian SI pada buruh sebenarnya bukan hal baru. Sejak awal, aktivis Sarekat Islam seperti Abdul Muis dan Haji Agus Salim sudah memberikan perhatian dan pembelaan mereka pada kaum buruh, terutama kuli kontrak di Deli, Sumatera Utara yang amat tertindas.[15]

Perhatian SI pada buruh semakin menguat dengan dibentuknya serikat buruh Personeel Fabriek Bond (PFB) yang dibentuk oleh Surjopranoto, seorang komisaris CSI yang dilantik berdasarkan kongres 1918. Surjopranoto yang lahir tahun 1871, adalah keturunan bangsawan dari keraton Pakualaman. Ia terlibat dalam pembelaan buruh di kelompok Prawiro Pandojo in Joedo, cabang perkumulan Adhi Dharmo. Surjopranoto, Voorszitter Sarekat Islam Jogjakarta. yang mendapat julukan ‘Si Raja Mogok ini,’ menegaskan perjuangannya membela kaum buruh. Ia menggugat “tuan-tuan kapitalis” yang hanya bertindak seenaknya, “tanpa berbitjara dengan boeroehnja? Pada taraf jang paling ringan mereka hanja memakinya; dan pada poentjak jang tertinggi mereka memoekoeli dan memetjatnya.[16]

PFB menjadi salah satu serikat buruh yang berkembang pesat diperkebunan pulau Jawa. Surjopranoto bersama PFB berhasil mengorganisir pemogokan-pemogokan buruh yang berhasil memperbaiki pendapatan kaum buruh. Disebabkan aksi-aksi pemogokannya, Soerjopranoto sampai dijuluki ‘Si Raja Mogok.’ PFB pada tahun 1920 memiliki anggota sebanyak 32 ribu orang. Tak ayal PFB menjadi salah satu serikat buruh terbesar di Hindia Belanda, bersama dengan VTSP yang diorganisir oleh SI Semarang di bawah Semaoen. Surjopranoto berhasil ‘menarik’ pusat pergerakan dari Semarang ke Jogjakarta. Persaingan ini kemudian semakin mengokohkan perseteruan dengan kubu kiri di Sarekat Islam.

1-7-buruh-pabrik-gula

Gambar 1.7 Buruh pabrik gula di Jawa tahun 1919. Sumber foto: lens.blogs.nytimes.com

Selain Semarang dan Jogjakarta, satu daerah lain memunculkan peta kekuatan baru di Sarekat Islam, yaitu Surakarta, dengan munculnya nama Haji Misbach. Nama Haji Misbach tak bisa dilepaskan dari terjadinya peristiwa penistaan terhadap Nabi Muhammad (SAW) oleh artikel Djojodikoro dalam Djawi Hisworo pada awal Januari 1918. Artikel tersebut menghina Rasulullah (SAW) dengan menyebut Rasulullah sebagi peminum Gin (sejenis minuman keras) dan penghisap opium. Sontak terbitnya artikel ini menimbulkan kemarahan dan protes umat Islam. Sarekat Islam dibawah Tjokroaminoto kemudian membentuk milisi bernama Tentara Kandjeng Nabi Moehammad (TKNM). TKNM berhasil mengadakan protes serentak pada 24 Februari 1918 dilebih dari 42 tempat di Jawa dan Sumatera, dan mengumpulkan massa sebanyak 150 ribu orang.[17]

Di Surakarta sendiri, SI Surakarta menolak untuk mendukung aksi ini, karena menganggap apa yang dilakukan oleh Djawi Hisworo sebagai kebebasan pers. Aksi anti Djawi Hisworo digerakkan oleh Haji Misbach. Ia adalah mubaligh yang banyak berdakawah di berbagai lapisan masyarakat dan menyentuh beragam sektor termasuk ekonomi dan media massa. Lewat media massa yang dipimpinnya, yaitu Medan Moeslimin dan kemudian Islam bergerak ia banyak menyampaikan aksi protesnya. Mengendornya TKNM dan diikuti dengan kacaunya kordinasi serta pengelolaan keuangan di TKNM membangkitkan kekecewaan Haji Misbach.[18]

Haji Misbach yang bergabung dengan Mas Marco Kartodikromo dalam Inlandsche Journalisten Bond (IJB) memang menjadi tokoh yang frontal mengkritik pemerintah kolonial. Hal ini membuatnya dipenjara oleh pemerintah kolonial. Selepas dari penjara, pandangan-pandangannya yang menentang kapitalisme kemudian membuatnya dikenal sebagai Haji komunis, tokoh yang menggabungkan pemikiran Islam dengan komunisme.

Kepedulian H. Misbach pada rakyat kecil dan kebenciannya terhadap sistem kapitalisme yang mengeksploitasi rakyat pada masa itu membuatnya tertarik dengan pemikiran komunisme. Bagi H. Misbach seorang muslim sejati pasti adalah seorang komunis, begitu pula sebaliknya. Seorang komunis yang masih membenci agama Islam, maka dia bukanlah komunis sejati atau orang yang belum mengerti hakikat komunisme. H. Misbach menganggap Muhammadiyah dan kubu Tjokroaminoto di Sarekat Islam adalah kapitalis. Dalam tulisannya yang berjudul Islamisme dan Komunisme, Haji Misbach menganggap Sarekat Islam dan Muhammadiyah sebagai racun. ”Sebaliknya untuk orang yang […] mengakunya, seperti: Mohammadiyah dan SO Tjokro, musti saya keterangan hal […] dianggap sebagai racun saja. Keduwa golongan ini (M.D dan Tjokrio) bukannya mereka menggerakkan agama […] yang sejati…“[19]

 

Serangan-serangan Haji Misbach kepada Muhammadiyah semakin keras selepas disiplin partai di Sarekat Islam. Dalam Medan Moeslimin No. 24 tahun 1922 misalnya, Haj i Misbach menulis,

”Nah sekarang tuan-tuan pembaca bisa fikir sendiri, sudah terang sekali H.A Dahlan dan sikap Muhammadiyah pada waktu sekarang ini perlu membuang IMAM kepada Al-quran, bisa juga H. A. Dahlan menjalankan sikapnya kanjeng Nabi Muhammad, sebab Kanjeng Nabi tidak suka menjilat kepada orang Musyrik di Mekkah,…“[20]

Tuduhan Muhammadiyah adalah kapitalis sebetulnya tak berdasar. H. Fachrodin, salah seorang tokoh SI dari Muhammadiyah telah terang menolak kapitalisme. Bahkan ia pernah dipenjara oleh pemerintah kolonial karena mengkritik praktek eksploitasi terhadap rakyat di Jawa. Meski demikian tuduhan agen kapitalis tetap ditujukan kepada dirinya. Hal ini bermula dari upaya H. Fahcrodin meminjamkan uang untuk Perserikatan Pegawai Pegadaian Boemipoetra (PPPB). KH. Ahmad Dahlan lewat Muhammadiyah mencarikan pinjaman bagi PPPB. Dan Muhammadiyah terpaksa meminjam uang dan menanggung bunganya. Hal ini langsung diserang oleh Haji Misbach yang menganggapnya melakukan praktek rentenir dan mencap Haji Fahcrodin sebagai ´agen kapitalis.‘[21]

Menanggapi serangan-serangan ini, Haji Fachrodin dalam Kongres Muhammadiyah tahun 1925, mengingatkan para peserta kongres. Majalah Soewara Moehaammadiyah No. 6 tahun 1925 melaporkan pernyataan Haji Fahcordin tersebut,

”Zaman baroe, fikiran orang baroe djoega. Moesoeh-moesoeh Islam memakai djalan baroe djoega, dengan djalan jang roepa-roepa sekali. Kita haroes membaharoe roh kita lagi, djangan senantiasa banjak loepa. Koerang hati-hati itoe menjebabkan keroegian Islam. Djangan kita salah, mana jang memang teman dan mana jang memang boekan…“[22]

1-8-fachrodin

Gambar 1.8 Haji Fachrodin. Sumber foto: Mu’arif. 2010. Benteng Muhammadiyah; Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Haji Fahcrodiin. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah

Hadirnya Haji Misbach di Surakarta, memberikan peta baru konflik di Sarekat Islam. Di Kubu kiri SI Semarang bersama SI Surakarta menjadi seteru sengit kelompok Islam dibawah Haji Agus Salim – Abdul Muis, Haji Fachrodin, dan Surjopranoto. Keputusan Tjokroaminoto mengakomodir Semaoen dan Darsono dalam kepengurusan CSI tak meredam konflik. Kedua kubu bersaing dalam kedudukan di federasi Serikat buruh yang dibentuk pasca kongres SI tahun 1919. Federasi itu bernama Persatoean Pergerakan Kaoem Boeroeh (PPKB) dan berdiri pada 15 Desember 1919. Semaoen menjadi Presiden federasi sementara Surjopranoto menjadi wakilnya. Semaoen berhasil menggerakkan PPKB sebagai salah satu kekuatan yang membela kepentingan buruh. Seperti pada aksinya yang berhasil menekan percetakan Van Dorp untuk menaikkan upah buruh dengan menggalang pemogokan pada bulan Februari hingga April 1920. Keberhasilan ini tak lepas dari sikap Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum yang cukup netral. [23]

Sayangnya, PPKB juga menjadi ajang tarik menarik antar dua kubu. Wakil presiden PPKB, Surjopranoto meminta agar Yogyakarta menjadi pusat dari federasi ini. Semaoen menganggap pergeseran pusat federasi sebagai upaya mengurangi pengaruhnya kiri di PPKB. PPKB Meski sempat bekerja sama dalam PPKB, namun perpecahan antara diantara kedua gerakan buruh tersebut terjadi ketika PFB di bawah Surjopranoto hendak melaksanakan pemogokan dan menekan Sindikat Pabrik Gula. Namun Sindikat Pabrik Gula menolak melakukan negosiasi dengan PFB. Di satu sisi, permintaan PFB kepada PPKB (Semaoen) untuk mendukung pemogokan ditanggapi tak sepenuh hati oleh PPKB. Semaoen menganggap pemogokan ini tak efektif. Semaoen pun mengirimkan pesan untuk membatalkan rencana pemogokan, namun ternyata rencana ini bocor dan disiarkan oleh reporter Belanda. Rencana pemogokan ini hancur, meruntuhkan gerakan PFB. Kubu Surjopranoto dan Haji Agus Salim menuding Semaoen tak mendukung mereka.[24]

Sikap kubu kiri dibalas oleh kubu Surjopranoto dan Haji Agus Salim. Menjelang kongres Sarekat Islam di bulan Oktober, Semaoen yang sedang berada di Moskow mengirimkan Darsono sebagai wakil ISDV, namun ditolak oleh pengurus CSI karena Dharsono bukan anggota penuh. Absennya Tjokroaminoto yang saat itu tengah disibukkan oleh kasus ‘SI Afdeling B’ di Cimareme, membuat kedua kubu tak terjembatani. Anehnya sikap CSI dibalas oleh Dharsono dengan menuduh Tjokroaminoto terlibat skandal penggelapan dana.

Tanggal 9 Oktober 1920, Dharsono menulis di Sinar Hindia, “Mengapa CSI tidak punya uang, sedang Tjokro kelimpahan?” Tulisan ini menuduh Tjokro melakukan penggelapan uang. Tuduhhan yang sampai-sampai memunculkan istilah “Men-Tjokro”, sebuah istilah yang merujuk pada kegiatan penggelapan. Buya Hamka mengingat segala serangan pada Tjokroaminoto tersebut. Menurutnya ketika itu Tjokroaminoto, “Dihantam, ditjatji, dan dimaki habis-habisan dalam ssk, kaum Komunis, dituduh pemeras rakjat, penipu dan penggelapkan uang. Orang-orang jang menggelapkan uang kas-negeri disebut ‘mentjokro!’ Tidak dibedakan urursan person dengan urusan faham.”[25]

1-9-darsono

Gambar 1.9. Darsono. Sumber foto: De Tribune, 21 Juni 1929

Tuduhan tersebut sangatlah berlebihan. Karena bagaimana pun, ketidakcakapan mengelola keuangan bukan berarti penggelapan dalam mengelola keuangan.[26] Semaoen sendiri menanggapi negatif kritik Dharsono, terutama melihat akibat buruk dari kritik tersebut. Dan memang tuduhan Dharsono pada Tjokroaminoto tak pernah dapat dibuktikan. Tan Malaka pun mengakui kritik ini mengacaukan kerjasama kelompok kiri dengan kubu Islam di Sarekat Islam.[27]

 

[1] McVey, Ruth. 2010. Kemunculan Komunisme di Indonesia. Depok: Komunitas Bambu.

[2] Kemenangan dalam Surat Kabar Pertimbangan, 22 Maret 1917.

[3] Soewarsono. 2000.

[4] Surat kabar Neratja 1 Oktober 1917

[5] Ibid

[6] Soewarsono. 2000.

[7] Ibid

[8] Bing, Dov. Lenin and Sneevliet: The Origins of The Theory of Colonial Revolution in The Dutch East Indies dalam New Zealand Journal of Asian Studies, 11, 1 (June 2009)

[9] McLane , Charles B. 1966. Soviet Strategies in Southeast Asia. New Jersey: Princeton University Press.

[10] McVey, Ruth. 2010.

[11] Gie, Soe Hok. 1999.

[12] Ibid

[13] Ibid

[14] Ibid

[15] Rizkiyansyah, Beggy. 2014. Membela Peluh Buruh. http://jejakislam.net/?p=340. Diakses pada 2 September 2016

[16] Budiawan. 2006. Anak Bangsawan Bertukar Jalan. Yogyakarta: LKiS.

[17] Shiraishi, Takashi. 2005.

[18] Ibid

[19] Misbach, H.M. 2016. Islamisme dan Komunisme dalam Haji Misbach Sang Propagandis. Yogyakarta: Octopus.

[20] Misbach, H.M. 2016. Verslag dalam Haji Misbach Sang Propagandis. Yogyakarta: Octopus.

[21] Mu’arif. 2010. Benteng Muhammadiyah; Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Haji Fahcrodiin. Yogyakarta: Swara Muhammadiyah.

[22] Ibid

[23] Soewarsono. 2000.

[24] McVey, Ruth. 2010, Rambe, Safrizal. 2008 dan Soewarsono. 2000.

[25] Hamka. 1957. Ajahku; Riwajat Hidup DR. H. Abd Karim Amrullah dan Perdjuangan Kaum Agama di Sumatera. Djakarta: Penerbit Djajamurni.

[26] McVey, Ruth. 2010 dan Shiraishi, Takashi. 2005.

[27] Malaka, Tan. 1922. Komunisme dan Pan-Islamisme. https://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/1922-PanIslamisme.htm. Di akses pada 1 September 2016.

Sejarah Lahirnya Komunisme di Indonesia (Bagian 1) Berawal dari Sarekat Islam

Berawal dari Sarekat Islam

Lahirnya Sarekat Islam menandai gerakan baru pribumi di Hindia Belanda. Kemudian dari dalam muncul kaum merah yang radikal. Cikal bakal gerakan komunis di Indonesia. Perselisihan dalam tubuh Sarekat Islam pun tak bisa dihindari.

 

Hindia Belanda (Indonesia) diawal abad ke 20 adalah sebuah negeri yang telah melalui zaman yang berbeda. Selepas sistem ekonomi kolonial yang mengeksploitasi alam habis-habisan melalui tanam paksa (culturstelsel), tanah air kembali diperas bersama manusianya dengan munculnya perkebunan-perkebunan milik swasta asing. Situasi sosial dan ekonomi di Hindia Belanda ditandai dengan berbagai perubahan. Kantor pelayanan publik bermunculan, perusahan-perusahan swasta hadir di Hindia Belanda, industri seperti gula dan tembakau menjadi tulang punggung baru ekonomi di Hindia Belanda. Namun semua itu hadir bukan demi rakyatnya, tetapi demi mengokohkan kolonialisme di Hindia Belanda.

Orang-orang pribumi saat itu juga mulai menikmati pendidikan di sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial. Politik etis yang mendorong pendidikan untuk orang pribumi sejatinya hanyalah kaki-kaki untuk menopang kolonialisme di Hindia Belanda. Kelak orang-orang pribumi yang mengecap pendidikan diproyeksikan sebagai petugas-petugas dalam sistem ekonomi kolonial. Meskipun begitu, bagi orang-orang pribumi pendidikan dapat menjadi pendongkrak status sosial. Pendidikan di sekolah kolonial tetap dianggap sebagai sesuatu yang menjanjikan bagi masa depan.

Orang-orang pribumi terdidik secara barat ini kemudian mendapatkan pencerahan baru dengan memasuki era media massa. Media massa lokal menjamur menjadi sumber pencerahan. Ratna Doemillah, Medan Prijaji atau Sinar Djawa dikenal sebagai media massa lokal saat itu. Media massa bukan satu-satu penanda perubahan zaman. Penanda lain adalah dimulainya organisasi-organisasi bagi orang pribumi, terutama Sarekat Islam sebagai simbol kebangkitan orang-orang pribumi. Hadirnya Sarekat Islam memberikan rasa harga diri bagi orang pribumi. Meski awalnya didirikan sebagai perkumpulan untuk dagang, namun dalam perkembangannya Sarekat Islam menjadi organisasi massa yang menyuarakan kepentingan rakyat, bukan sekedar perkumpulan tetapi menjadi pergerakan nasional.

Sarekat Islam meroket dan merebut hari masyarakat pribumi ketika itu. Jumlah anggotanya meledak, Dari 35 ribu orang di Agustus 1914, pada tahun1915, Sarekat Islam telah memiliki 490.120 anggota. Bahkan pada tahun 1919, anggota Sarekat Islam telah mencapai 2 juta orang.[1] Sarekat Islam memang mampu menyatukan penduduk pribumi. Agama Islam sebagai pengikat yang erat diantara masyarakat Hindia Belanda ketika itu. Kala itu, menyebut orang pribumi berarti adalah orang Islam. Sarekat Islam mampu menyatukan rakyat pribumi dari berbagai lapisan, mulai dari kalangan bangsawan, terdidik barat, petani, buruh hingga para ulama.

Atas azas Islam ini pula SI memilki daya ikat yang luar biasa. Bagi SI, agama Islam bukanlah sekedar ‘jualan’ untuk mengumpulkan massa, seperti yang dituduhkan sebagian kalangan. Dampak dari hadirnya Sarekat Islam amat terasa pada sisi keshalehan. Masjid-masjid menjadi lebih penuh, bukan hanya di hari Jumat, tetapi juga di hari-hari biasa. Ada kalanya masjid-masjid sampai penuh sesak tak mampu menampung jamaah. Banyak pekerja yang meminta libur pada hari Jumat. Di Menggala, Lampung, misalnya, warung tutup saat waktu Jumat.[2]

Tak dapat dipungkiri, Sarekat Islam mendapatkan tempatnya di hati rakyat juga karena karisma HOS Tjokroaminoto sebagai pemimpin pergerakan. Ia membawa Sarekat Islam menjadi organisasi nasional yang memihak kepentingan rakyat. Sarekat Islam memang tak dikekang oleh pemerintah kolonial. Gubernur Jenderal Idenburg menanggap kemunculan Sarekat Islam sebagai dampak dari politik etis yang mereka lakukan. Cepat atau lambat akan ada pergerakan semacam Sarekat Islam. Alih-alih mengekangnya, pemerintah kolonial memilih bersikap koperatif terhadap Sarekat Islam. Tjokroaminoto di lain sisi juga tidak bersikap frontal terhadap pemerintah kolonial. Indische Partij (IP) yang digerakkan oleh Douwes Dekker, dr. Tjipto Mangoenkoeseomo dan Ki Hajar Dewantara menjadi contoh dari sikap frontal terhadap pemerintah kolonial. Mengusung slogan “Hindia untuk Hindia”, IP dengan cepat dibungkam oleh pemerintah.

Di bawah kepemimpinan Tjokroaminoto, Sarekat Islam berdiri di berbagai daerah, bahkan hingga luar pulau Jawa seperti Bali, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan hingga Maluku. Untuk memudahkan kordinasi dengan berbagai cabangnya (afdeling), dibentuk Centraal Sarekat Islam (CSI). CSI tidak memiliki kuasa atas cabang-cabangnya. Setiap afdeling SI memiliki otonomi tersendiri.[3] Salah satunya adalah Sarekat Islam cabang Surakarta dan Semarang, yang akan banyak berseberangan dengan CSI di bawah Tjokroaminoto.

SI Surakarta setelah menjadi tempat berdirinya Sarekat Islam, lama-kelamaan kehilangan pengaruhnya di bawah Haji Samanhoedi. Dilanda beberapa pengunduran diri pengurusnya yang berasal dari kalangan Kesunanan akibat tekanan pemerintah kolonial, SI Surakarta kemudian mendapat suntikan tenaga muda dari sosok Mas Marco Kartodikromo. Mas Marco yang sebelumnya bekerja di Medan Prijaji, menjadi editor Sarotomo, penerbitan media massa berkala dari Sarekat Islam Surakarta. Ia juga ditunjuk sebagai Komisioner SI. Mas Marco memiliki pendirian yang berbeda dengan Tjokroaminoto.[4]

1-1-rapat-si

Gambar 1.1 Pertemuan Sarekat Islam di Blitar tahun 1914. Sumber foto: KITLV Digital Media Library

Mas Marco Kartodikromo lahir di Cepu tahun 1890. Seperti mentornya, Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara), ia adalah tokoh yang frontal mengkritik kebijakan pemerintah kolonial. Tahun 1914 ia mendirikan Indische Journalisten Bond (Ikatan Jurnalis Hindia). Ia juga menerbitkan Doenia Bergerak. Lewat Doenia Bergerak, ia mengkiritk Dr. Rinkes, Penasehat Urusan Pribumi, yang juga berhubungan baik dengan Tjokroaminoto. Sikap frontal Marco mengkritik pemerintah kolonial membuatnya dijerat dengan delik pers (persdelichten). Tahun 1915 ia dihukum selama 7 bulan penjara.[5] Sikap berseberangan CSI dengan cabang Sarekat Islam bukan hanya terjadi pada SI Surakarta saja, tetapi juga dengan SI Semarang.

SI Semarang memiliki sikap yang berseberangan dengan CSI sejak Semaoen, memegang kendali Sarekat Islam Semarang. Semaoen, yang lahir tahun 1899, awalnya adalah seorang juru tulis di Staatsspoor. Ia kemudian bergabung dengan SI Surabaya tahun 1914 dan terpilih menjadi sekertarisnya. Tahun 1915, Semaoen bertemu dengan Sneevliet dan segera tertarik dengan aktivitasnya. Semaoen kemudian bergabung dengan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), sebuah perkumpulan yang awalnya adalah klub debat kaum sosial demokrat di Hindia Belanda. Selain ISDV, Semaoen juga bergabung dengan VSTP (Vereniging van Spoor Tramweg Personal), serikat buruh kereta di Hindia Belanda. Di VSTP, Semaoen segera berperan besar terutama dalam menggerakan pemogokan-pemogokan buruh.[6]

1-2-semaoen

Gambar 1.2 Semaoen. Sumber foto: wikipedia

Sosok Semaoen memang tak bisa dilepaskan dari figur Sneevliet sebagai mentornya. HJFM Sneevliet awalnya adalah aktivis serikat buruh di Belanda. Ia kemudian datang ke Hindia Belanda, mendirikan ISDV dan bergabung dengan VSTP. Di tangan Sneevliet, VSTP yang awalnya didominasi orang Eropa dan indo segera didominasi orang-orang pribumi.

Semaoen di VSTP segera menjadi salah satu pemimpinnya. Ia mampu menggerakkan berbagai pemogokan buruh. Begitu pula dengan perannya di Sarekat Islam. Sejak pindah dari SI Surabaya ke SI Semarang, Semaoen mampu menjadi ketua SI Semarang. Ia mampu menggaet anggota SI Semarang dari 1700 orang di tahun 1916, setahun kemudian menjadi 20 ribu orang. Melalui surat kabar Si Tetap dan Sinar Djawa, Semaoen menyuarakan berbagai kritik kerasnya kepada pemerintah kolonial.

Keadaan tahun 1917-1918 menyengsarakan. Kebijakan pemerintah kolonial semakin menjadi-jadi. Di tengah situasi sulit yang mencekik rakyat, keberpihakan pemerintah kolonial malah condong kepada pengusaha perkebunan. Air untuk irigasi sawah rakyat hanya diperbolehkan pada malam hari. Siang hari air mengalir untuk perkebunan. Rakyat yang pada siang hari sudah bekerja, harus bekerja keras lagi pada malam harinya mengawasi irigasi. Semaoen dalam Sinar Hindia menulis,”Ra’jat Hiindia tidak poenya keperloean sama sekali fatsal adanja fabrik goela, ondermining thee, koffie, rubber dan sebagainja jang bagitoe banjak, sebab hasilnja kapitalis loear Hindia dan loear negeri Belanda, sebab adanja ini semoa meroesak kemadjoen peroesahaan tanah boemipoetra, peroesahaan jang mana perloe sekalo boeat keselamatan ra’jat Hindia jang sebagian besar bikin merdeka boemipoetra dalam pentjarian idoepnja dan bikin makanan di sini.“[7]

Kritik keras Semaoen lewat SI Semarang ternyata bukan saja ditujukan pada pemerintah kolonial, namun juga kepada Centraal Sarekat Islam (CSI). SI Semarang di bawah Semaoen menjadi oposisi bagi CSI. Beberapa isu keduanya bersebarangan. Salah satunya adalah mengenai Ketahanan Aksi Hindia (Indie Werbaar Actie). Meletusnya Perang Dunia I, membuat para pengusaha di Belanda khawatir, ditambah lagi bahwa Hindia Belanda akan terseret juga ke dalam kancah peperangan tersebut dan merugikan kedudukan dan modal mereka di Hindia Belanda. Untuk itu mereka hendak memperkuat pertahanan mereka. Ini berarti orang-orang pribumi di Hindia Belanda dilibatkan sebagai milisi untuk mempertahankan wilayah mereka.

Wacana ini disambut dengan berbagai pendapat. Bagi CSI, Indie Werbaar dapat menjadi daya tawar untuk memperoleh kedaulatan politik di Hindia Belanda. CSI mendukung Indie Werbaar, dengan syarat rakyat Hindia Belanda memperoleh perbaikan kesejahteraan, perluasan pendidikan, hingga kedudukan yang sama dengan orang eropa di mata hukum. Melalui mosi pada kongres nasional pertama Sarekat Islam, mengemukakan bahwa lembaga perwakilan di Hindia Belanda yang dipilih oleh orang-orang pribumi (Indonesia) sendiri dan dipercayakan untuk mengelola pertahanan Indonesia. CSI, khususnya Moeis memang melihat Indie Werbaar lebih dari sekedar soal pertahanan tetapi juga ekonomi dan politik. Melalui lembaga perwakilan rakyat orang-orang pribumi, pada akhirnya nanti Indonesia akan memperoleh kemerdekaan penuh.[8]

Sebaliknya, kubu SI Semarang dibawah Semaoen menolak keras rencana ini. Menurut Semaoen, Indie Werbaar hanya akan merugikan rakyat. Menjadikan rakyat tameng kepentingan kolonial di Hindia Belanda. Dalam tulisannya di Sinar Hindia bulan Agustus tahun 1918, Semaoen menyebutkan orang-orang Jawa sudah melarat, hidup di kandang babi, hanya tulang dan berbalut kulit, maka ”djangan gembar-gembor paksa wong djowo djadi pemboenoeh.“[9]

Sikap SI di mata pemerintah kolonial sebenarnya juga dianggap sikap yang meragu. Rinkes dalam suratnya pada Gubernur Jenderal tanggal 10 Maret 1916 menyimpulkan bahwa alih-alih membuat satu mosi mendukung Indie Werbaar, Tjokroaminoto malah mengusulkan adanya Volksvertegen woordiging, atau perwakilan rakyat dijamin adanya.

Abdoel Moeis adalah salah satu tokoh CSI yang mempropagandakan perlunya dewan rakyat di Hindia Belanda. Bahkan ketika ia berkunjung ke Belanda untuk bertemu dengan pemerintah Belanda dengan tegas menyebutkan tujuan SI adalah otonomi politik. Meskipun ia juga menambahkan sejauh ini CSI puas di bawah kekuasaan Belanda selama pemerintah bisa bersikap cukup adil. Bagaimanapun, pernyataan Moeis membuat Gubernur Jenderal risau. Pemerintah kolonial pada desember 1916 memang akhirnya mengesahkan UU mengenai Volksraad (dewan rakyat). Namun dewan ini baru dipilih oleh pemerintah kolonial saat tahun 1918. Meski Volksraad hanya sebatas penasehat tanpa ada kewenangan lebih, namun CSI mendukung adanya Volksraad dan bersedia mengirimkan wakilnya duduk di Volksraad. Hal ini disebabkan karena CSI menganggap Volksraad sebagai transisi menuju otonomi politik.[10]

 

Gambar 1.3 Delegasi Indiewerbaar di negeri Belanda. Abdoel Moeis ketiga dari kiri. Sumber foto: Foulcier, Keith. 2005. Biography, History and The Indonesian Novel Reading Salah Asuhan. BKI 161-2/3

SI Semarang lagi-lagi bersikap berseberangan dengan CSI. Menurut mereka Volksraad hanyalah toneel (komedi) dan omong kosong. Kritik Semaoen sebagai wakil dari SI Semarang sangat pedas. Baginya Volksraad hanya mengelabui rakyat, seakan-akan pemerintah mendengarkan suara rakyat, padahal sebaliknya. Persoalan komposisi pemilihan anggota pun dianggap bermasalah karena hanya Tjoroaminoto yang dianggapnya mewakili kaum kromo. Semaoen mengajak rakyat untuk dijadikan wayang orang dalam toneel volksraad. Bagi Semaoen,“ Boekan ’Volksraad‘ jang akan bikin baik nasibnja ra’jat, tetapi gerakannja ra’jat sendiri“. Bersambung

Penulis: Tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU) dan Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

 

1 Korver, A.P.E. 1985. Sarekat Islam Gerakan Ratu Adil? Jakarta: Grafiti Pers

2 Ibid

3 Jaylani, Timur. 1959. Sarekat Islam: Its Contribution to Indonesian Nationalism. Tesis tidak diterbitkan untuk Institute Islamic Studies, McGill University, Montreal, Canada.

[4] Shiraishi, Takashi. 2005. Zaman Bergerak; Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti

[5] Ibid

[6] Soewarsono. 2000. Berbareng Bergerak; Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Semaoen. Yogyakarta: LKiS

[7] Gie, Soe Hok. 1999. Di Bawah Lentera Merah. Yogyakarta: Bentang Budaya

[8] Noer.

[9] Rambe, Safrizal. 2008. Sarekat Islam Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905 -1942. Yayasan Kebangkitan Insan Cendikia

[10] Ibid

 

Adakan Seminar Jurnalistik , BGF Targetkan 1 Jurnalis Tiap Masjid Se-Jabar

BOGOR (Jurnalislam.com) – Bidik Global Foundation bersama Jurnalis Islam Bersatu (JITU) menggelar seminar dan pelatihan jurnalistik. Acara bertajuk “One Masjid One Journalist” digelar di Hotel Salak The Heritage Bogor, Sabtu (1/10/2016).

Inisiator acara, Iyus Khaerunnas Malik mengatakan, acara seminar dan pelatihan dimaksudkan untuk melahirkan satu orang jurnalis untuk satu masjid. Sebab, itu merupakan agenda yang efektif untuk memperlebar sayap informasi Islam.

“Untuk memantau isu-isu yang berkembang, harus mempunyai kemampuan jurnalistik agar mempunyai data. Bukan cuma sekadar tulisan yang kurang jelas,” katanya dalam pembukaan acara.

Direktur Bidik Global Foundation itu menegaskan, pihaknya akan serius menggarap gagasan itu dengan menargetkan Jawa Barat daerah awalan untuk mengimplementasikan program tersebut.

“Membuat laskar media, satu masjid satu jurnalis. Kita akan mengembangkan se-Jawa Barat,” tegasnya.

Seminar menghadirkan para jurnalis-jurnalis muslim senior seperti Surya Facrizal Ginting (Hidayatullah), Beggy Rizkiyansyah (jejakislam.net), Dr. Erma Pawitasari (penulis) dan Syaiful Falah ( suara-islam.com).

Ikutilah! Apel Siaga Laskar Islam DIY dan Jawa Tengah Tolak Syi’ah

FUIS ( FORUM UMAT ISLAM SEMARANG)
APEL SIAGA LASKAR ISLAM DIY DAN JAWA TENGAH MENOLAK SYIAH
SELASA
11 OKTOBER 2016 .
Meeting point : Bundaran simpang lima semarang
Jam : 08.30

Agenda Aksi:

Hadirilah!!! Aksi turun ke jalan menolak perayaan ritual Syi’ah di semarang

Kami mengajak kepada seluruh kaum muslimin Kota Semarang & sekitarnya yg rindu berjumpa dengan Tuhannya, cinta tanah air & bangsanya, untuk bersama-sama membela Islam & ummat Islam serta negri ini.

PKI & Syi’ah ANTI ISLAM
PKI & Syi’ah mengancam negri
PKI & Syi’ah membahayakan Ummat Islam & Bangsa Indonesia

Korlap :
Marzuki 089668854381

Ajak Kerabat, Sahabat dan sebanyak-banyaknya Ummat Mengahadiri Agenda Pembebasan negri Dari Bahaya Laten SYIAH dan PKI ..

Acara diramaikan oleh:
Jama’ah Anshorusy Syariah Jawa Tengah | UBK (Umar Bin Khatab) Semarang | PERSIS Semarang | | HIDAYATULLAH Semarang | GPK (Gerakan Pemuda Ka’bah) Yogjakarta | LUIS (Laskar Umat Islam Surakarta) |Harokah Islam Jogja | dll

Sebarkan..!!
Semoga Alloh mengampuni semua dosa dan menyelamatkan hidup kita fiddunia wal akhirat…

Ada Biksu di Lokasi Banjir, FPI Garut: ‘Mereka Hanya Membagikan Sembako’

GARUT (Jurnalislam.com) – Musibah bencana alam di Garut mengundang simpati dari berbagai kalangan, tak terkecuali bagi para misionaris. Daerah bencana memang kerap dijadikan sasaran mereka untuk menyebarkan pengaruhnya.

Pada hari Selasa (27/9/2016) dua biksu terlihat mendatangi lokasi pemukiman warga korban banjir di perbatasan Kecamatan Karang Pawitan dan Banyuresmi, Garut. Informasi itu dibenarkan oleh koordinator Posko FPI, Kang Opan.

“Kemarin pagi, ada dua orang Biksu dan sekitar 15 orang etnis Cina melakukan aktifitasnya dengan modus pemulihan trauma anak,” katanya kepada Jurniscom melalui sambungan telepon, Rabu (28/9/2016).

Menurut penelusuran FPI, para biksu itu hanya membagikan sembako dan mengumpulkan anak-anak korban banjir untuk memulihkan trauma pascabencana.

“Mendengar laporan dari warga, FPI langsung terjun ke lokasi pada Sore hari. Kami menanyakan kepada warga sekitar perihal aktifitas mereka. Namun, laporan dari warga sekitar mereka hanya memberi sembako sambil mengumpulkan anak-anak untuk pemulihan trauma,” terangnya.

“Modus ini yang kami khawatirkan,” sambungnya.

Untuk memastikan tidak ada upaya pemurtadan, Kang Opan menegaskan akan terus memantau setiap misionaris yang datang untuk membantu korban banjir.

“Alhamdulillah, setelah kita datang kembali hari ini dan menanyakan warga sekitar perihal misionaris itu. Mereka tidak datang,” ujarnya.

Kang Opan juga mengungkapkan kekhawatiran ulama setempat akan kembalinya para misionaris jika masa operasi tangga darurat telah selesai.

“Menjaga akidah umat harus intens, saya cemas setelah tanggap darurat dengan posko-posko dibubarkan, mereka bisa masuk dengan mudah,” ungkap Kang Opan meniru perkataan KH Mimar.

Sebelumnya, para biarawati juga terlihat di lokasi korban banjir. Dalam pantauan Jurniscom di lapangan, selain misionaris, posko-posko non Muslim juga berdiri di sekitar Sungai Cimanuk. Ada Posko Bersama kelompok Syiah melalui PERMABI (Perduli Masjid Ahlulbait Indonesia) dan posko Rotary Club yang dikenal sebagai salah satu sayap organiasasi Yahudi di Indonesia.

Aktivis Anti Riba Banyuwangi: ‘Cegah Praktek Rentenir dengan Sistem Ekonomi Syariat’

Jurnalislam.com) – Menanggapi wacana Perda Pelarangan Rentenir oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, praktisi bisnis syari’ah dan Aktifis Masyarakat Anti Riba Banyuwangi, Sunaryo, SH mengatakan, dengan perda tersebut setidaknya masyarakat bisa selamat dari terkaman sistem riba.

Rentenir yang merajalela khususnya di Kabupaten Banyuwangi, menurut Sunaryo disebabkan sistem ekonomi yang tidak syar’i yang membuat kemiskinan menjadi penyakit turunan.

“Menjauhnya pemerintah dan masyarakat dari penggunaan sistem ekonomi yang syar’i membuat kemiskinan jadi penyakit turunan,” katanya kepada Jurniscom, Selasa (26/9/2016).

Sekjen Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-DAN) itu menambahkan, praktek rentenir adalah bukti nyata akan bahayanya sistem riba. Dia pun mengingatkan ancaman Allah bagi pelaku riba.

“Riba itu ada 73 pintu dosa. Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri,” ujarnya mengutip sebuah hadits.

“Solusi mencegah praktik rentenir saat ini adalah penerapan Syariat Islam di semua bidang dan sendi kehidupan,” tambahnya.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah mengajukan Rencangan Peraturan Daerah tentang Pelarangan Praktik Rentenir kepada DPRD yang diharapkan menjadi “jangkar” melindungi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil dan menengah.

Bupati Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi, Jawa Timur, pada Senin (26/9/2016) mengatakan, Raperda yang kini dibahas bersama dengan DPRD Banyuwangi tersebut diharapkan bisa segera disahkan dalam waktu dekat.

 

Deradikalisasi, BNPT Gelar Baksos Melalui Program ‘Pesantren Bersinar’

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Sebanyak 10 pesantren se-Solo Raya mendapat bantuan pembagian 1000 paket lampu LED dan 300 lampu penerangan jalan dari Program “Pesantren Bersinar” yang digagas Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Acara yang digelar di Pondok Pesantren Ulul Albab, Glodok, Sukoharjo pada Senin (26/9/2016) itu dihadiri langsung oleh Ketua BNPT, Komjen Pol Suhardi Alius. Ponpes Ulul Albab adalah tempat dimana istri-istri trio bom Bali I menetap.

Suhardi menjelaskan, 10 pesantren se-kota Solo Raya dijadikan sebagai peletakan awal implementasi dari Program “Pesantren Bersinar ” dan akan dilanjutkan di beberapa kota di Indonesia di antaranya Sulawesi Selatan, Nusa tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Tengah (Sulteng)

“Ada empat daerah, yang pertama Soloraya, kemudian NTB, kemudian Sulsel dan Sulteng. Nah tempat-tempat ini kita anggap sebagai model proses asimilasi, proses deradikalisasi. Sehingga kita perlu kerjasama, disini ada sepuluh pesantren,” ujar mantan Kabareskrim Polri itu.

Diakui Suhardi, pondok yang mendapat bantuan adalah pondok-pondok yang mempunyai hubungan erat dengan para pelaku terorisme. Menurut Suhardi, radikalisme dan terorisme disebabkan oleh kesenjangan sosial dan ekonomi. Oleh sebab itu, dengan adanya program Pesantren Bersinar diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan di lingkungan pesantren.

“Lampu yang kami bagikan ini hemat energi dengan daya rendah, sehingga pesantren bisa berhemat. Lampu hemat energi berdaya 60 watt memiliki tingkat cahya setara 600 watt. Jika sebelumnya bayar listrik untuk lampu Rp 4 juta sebulan misalnya, bisa ditekan mejadi Rp 400 ribu perbulan. Dengan begitu anggaran pembayaran listrik bisa dialokasikan untuk kegiatan produktif atau modal usaha,” paparnya.

Dijelaskan Suhardi, program Pesantren Bersinar merupakan program yang dicanangkan Presiden Jokowi, namun Presiden yang dijadwalkan membuka acara tersebut batal hadir.

“Sejatinya program Pesantren Bersinar ini bentuk kepedulian kami dari BNPT bersama BRI dengan CSR nya untuk melengkapi sarana dan prasarana pondok pesantren dengan listrik yang memadai. Program ini telah dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo. Sedianya memang bapak Presiden akan hadir sendiri pada acara ini, tetapi kali ini belum belum bisa hadir,” ujar Suhardi.

Sepuluh pondok pesantren di Solo Raya yang mendapat bantuan dari BNPT antara lain Ponpes Ulul Albab Polokarto Sukoharjo, Ponpes Hidayatullah Al Kahfi Mojosongo Surakarta, Ponpes Ummul Quro Jlegong Klego Boyolali, Ponpes Darusy Syahadah Simo Boyolali, Ponpes Darul Hasan Mranggen Polokarto Sukoharjo, Ponpes Mah’ad Aly Baitul Qur’an Wonoboyo Wonogiri, Ponpes Mamba’ul Hikmah Selogiri Wonogiri, Ponpes Nurul Ummah Karangpandan Karanganyar, dan Ponpes DarussalamTanon Sragen.

Adapun bantuan yang diberikan berupa 20 paket bermerek limar (listrik mandiri rakyat), 6 unit tiang lampu dan 1 unit genset 2.500 KVA. Pemberian bantuan tersebut dilakukan secara simbolis oleh Kepala BNPT kepada pembina Ponpes Ulul Albab, KH Shoimin.*