Muhammadiyah Buka Sekolah Darurat Korban Bencana Sumedang

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Muhammadiyah Kabupaten Sumedang membuka sekolah darurat di posko bantuan bencana Sumedang. Inisiatif tersebut diambil dengan alasan pendidikan anak-anak harus tetap berjalan.

Posko bantuan bencana Sumedang berlokasi di dua tempat. Pertama di GOR Tadjimalela dan kedua di Makodim 0610 Sumedang. Sementara itu, sekolah darurat yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sumedang terdapat di Makodim 0610 Sumedang.

“Sekolah darurat didirikan oleh relawan Muhammadiyah dengan tujuan untuk memulihkan mental anak anak korban bencana,” ujar Wakil Ketua PDM Kabupaten Sumedang, Supala, dilansir dari situs resmi Muhammadiyah, Selasa (27/9/2016).

Menurut Supala, terdapat 240 anak korban bencana yang mengikuti pendidikan di sekolah darurat ini. Kata dia, anak-anak ini mendapatkan pemulihan mental dari para guru yang berasal dari relawan Muhammadiyah.

Pengungsi yang berada di Markas Kodim 0610 Sumedang sepenuhnya dikelola oleh Muhammadiyah. Jumlah pengungsi di Gor Tadjimalela sebanyak 1.027 orang. Sementara pengungsi yang berada di Markas kodim sebanyak 386 orang.

Supala mengatakan, bantuan yang diharapkan saat ini berupa bantuan alat pendidikan dan keperluan sekolah anak-anak bagi korban bencana. “Bantuan logistik seperti makanan dan minuman siap saji pun masih minim dan sangat dibutuhkan pengungsi di lokasi pengungsian,” ujar dosen STAI Muhammadiyah Bandung ini.

Dari data yang tercatat, pada Senin (26/9/2016) sekolah awal dimulai dengan diikuti sebanyak 196 anak atau siswa. Selasa hari ini, sekolah darurat ini masih digelar oleh PDM Sumedang. Metode yang digunakan dalam sekolah darurat ini, kata dia, adalah metode membangkitkan mental, keceriaan motivasi dan lainnya.

Menurutnya, lama waktu sekolah darurat ini, sampai selesainya penanggulangan bencana di Sumedang, dan pengungsi atau anak-anak bisa kembali ke rumahnya masing masing. Yaitu setelah rumah pengungsi disiapkan atau didirikan kembali.

Banjir Bandang Garut, JFI Minta Pemerintah Sensitif Kebencanaan Nasional

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Jurnalis Filantropy Indonesia (JFI) yang berkolaborasi dengan elemen-elemen kemanusiaan di Garut, Jawa Barat, mengajak kepada seluruh anak bangsa untuk membangun sinergi dalam agenda kemanusiaan bersama masyarakat Garut.

Pernyataan itu disampaikan Sekretaris Jendral Jurnalis Filantropy Indonesia, Irawan Djoko Nugroho dalam rilisnya, Senin (26/9/2016).

“Tragedi kemanusiaan berupa bencana alam yang menimpa masyarakat Garut – Jawa Barat menjadi keprihatian semua masyarakat di penjuru negeri ini. Terlebih bencana ini telah menewaskan 30 orang lebih, dan menyebabkan hancurnya rumah penduduk dan rusaknya fasilitas pelayanan umum sehingga aktifitas ekonomi masyarakat Garut menjadi lumpuh.,” terang Irawan.

Menurut Irawan, banjir bandang Garut tidak lepas dari rusaknya alam yang disebabkan eksploitasi alam yang tak terkendali. Untuk itu, JFI meminta kepada pemerintah untuk memiliki tanggap darurat nasional terhadap daerah-daerah yang rawan bencana.

“Jangan sampai sensitif itu muncul ketika bencana terjadi dan korban berjatuhan,” cetusnya.

Dalam kajian JFI, Indonesia merupakan daerah rawan bencana alam baik gunung berapi, kebakaran hutan, tanah longsor, banjir dan abrasi. Melihat besarnya bencana tersebut yang sulit diprediksikan kapan terjadinya, maka perlu sebuah grand strategi pembangunan tanggap kebencanaan yang melibatkan para stakeholder sehingga masyarakat mampu cepat bersikap jika ada bencana alam.

Selain itu, Irawan juga mengapresiasi kerja tim SAR, TNI, Polri serta lembaga-lembaga filantropy yang dengan cepat membantu korban dan rehabilitasi pascabencana di Garut. JIF mendesak pemerintah untuk segera mengirimkan peralatan berat untuk membantu pencarian korban.

“JFI akan terus melakukan monitoring perkembangan tragedi kemanusiaan dan berharap Garut bisa pulih dan masyarakat bisa beraktifitas lagi,” pungkasnya.

Anak-anak SD di Bima Berikan Santunan untuk Korban Banjir Garut

BIMA (Jurnalislam. com) – Menggandeng Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-DAN) cabang Kota Bima, Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Tolobali dan SDIT Al Hikmah Asakota, Kota Bima menggelar penggalangan dana untuk korban banjir bandang Garut dan Sumedang, Senin (24/9/2016).

Penggalangan dana tersebut digelar sebagai wujud kepedulian masyarakat Bima atas musibah yang menimpa Garut dan Sumedang pada Rabu (20/9/2016) lalu yang telah menewaskan 27 orang itu.

“Kami merasa perlu untuk melakukan kegiatan ini sebagai sebuah simbol kepedulian serta untuk meringankan beban bagi saudara kita di sana,” kata Ketua Me-DAN cabang Bima, Dian Ramadhan kepada Jurniscom.

Dian juga menegaskan, pihaknya akan terus mengajak kaum muslimin untuk berpartisipasi membantu meringankan korban.

“Kami mengajak kepada seluruh kaum muslimin untuk senantiasa memikirkan juga keadaan saudara kita di sana serta ikut berpartisipasi untuk membantu mereka baik secara moril dan materil serta do’a dari kita semua,” terangnya.

Dana yang terkumpul dari kedua sekolah itu sebanyak Rp 2,5 juta yang akan disalurkan langsung oleh Forum Me-DAN.

“Kami juga berharap bantuan yang sedikit ini akan sangat bermanfaat untuk saudara kita di sana serta mereka diberi ketabahan serta kesabaran dalam menghadapi musibah ini,” pungkasnya.

ECR dan IDC Gelar Bakti Sosial di Daerah Rawan Kristenisasi

KARANGANYAR (Jurnalislam.com) – Untuk menghadang kristenisasi di Kampung Gondosuli, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, Emergency and Crisis Response (ECR) bekerja sama dengan Infaq Dakwah Center (IDC) mengadakan bakti sosial pada Ahad (25/9/2016).

ECR dan IDC membuka posko pengobatan gratis, bekam dan rukyah serta membagikan sembako kepada 140 warga Gondosuli yang kurang mampu. Ada juga Komunitas Tauhid (KOHID) yang menyumbangkan 2 karung beras, santunan uang untuk 10 anak yatim dan mushaf Al Qur’an.

Koordinator ECR, Toha mengatakan, meski kondisi ekonomi warga Gondosuli tergolong menengah namun lemahnya akidah keislaman mereka menyebabkan daerah itu rawan kristenisasi. Dia menyebut ada sejumlah warga yang murtad namun beberapa sudah kembali Islam.

“Bakti sosial ini didukung dari donatur IDC, kenapa kita adakan disini, karena Gondosuli sudah mulai ada penduduk yang murtad, namun juga ada yang kembali masuk Islam lagi. Segi ekonomi memang menengah namun untuk kepahaman Islam masih kurang,” kata Toha kepada Jurniscom di sela-sela kegiatan.

Toha menegaskan akan terus berupaya untuk mempererat silaturahim dan memperkuat dakwah dengan aksi-aksi sosial guna melindungi akidah warga Gondosuli dari pemurtadan. Sebab, dahulu mayoritas penduduk Gondosuli adalah Hindu dan Kristen, tapi saat ini Islam telah berkembang cukup pesat di sana.

Pelayanan kesehatan di daerah Gondosuli pun masih kurang, karenanya warga menyambut hangat bakti sosial yang diadakan ECR tersebut

“Senang mas, hari biasa kalau mau periksa Dokter harus turun jauh,” kata Ibu Fitri, salah seorang warga yang mendatangi posko untuk mendapat pemeriksaan kesehatan.

 

ALMUMTAZ Serahkan 1.152 Pasang Sepatu untuk Anak Sekolah Korban Banjir Garut

GARUT (Jurnalislam.com) – Aliansi Aktivis dan Masyarakat Muslim Tasikmalaya (ALMUMTAZ) menyerahkan bantuan 1.152 pasang sepatu untuk anak-anak sekolah korban banjir bandang Garut.

Bantuan yang diserahkan oleh Ketua ALMUMTAZ, Ustadz Hilmy Afwan Hilmawan itu diterima langsung oleh Kabid Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Totong, M.Si di SDN Paminggir IV-V-VI-VII Jalan Cimanuk No. 231 Garut, Ahad (25/9/2016) pagi.

“Ini sangat luar biasa sekali ya dari ALMUMTAZ dan saya atas nama Dinas Pendidikan Kabupaten Garut mengucapkan banyak terimakasih, jazakalloh khoiron katsiron,” tuturnya kepada Jurniscom di SD Paminggir pagi ini, Ahad (25/9/2016).

Totong mengatakan, bantuan tersebut akan disalurkan ke 13 sekolah yang terdampak langsung oleh banjir bandang Sungai Cimanuk pada Rabu (20/9/2016) lalu. Sekolah-sekolah itu terdiri dari 2 SD, 8 SLTP, 1 SLTA, 2 SLB dan 1 PAUD.

“Memang ini sangat dibutuhkan oleh anak-anak kita yang terkena dampak banjir. Kami mendata ada 2.200 anak-anak kita yang terkena dampak banjir,” ucapnya.

“Bantuan ini nanti akan kita distribusikan per kecamatan, ada lima kecamatan yang terdampak banjir, Tarogong Kidul, Garut Kota, Banyuresmi, Bayongbong dan Karangpawitan,” sambungnya.

penyerahan-dana-bantuan-untuk-relawan

Selain ribuan pasang sepatu, ALMUMTAZ juga memberikan donasi sebesar 10 juta rupiah untuk kebutuhan relawan di lapangan yang diserahkan kepada Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-DAN) serta di Posko Me-DAN Jalan Sumbersari, Regol, Kecamatan Garut Kota.

Koordinator ALMUMTAZ Peduli Banjir Garut, Abu Hazmi mengatakan, pihaknya akan terus menggalang bantuan moril dan materil serta relawan hingga semua kebutuhan pascabencana terpenuhi.

“Kami akan terus menggalang bantuan baik materil dan tenaga relawan secara kontinyu sampai kembali pulih,” katanya.

“Kami haturkan Jazakumulloh khoir pada para Relawan yang tanggap untuk membantu korban dan menggalang bantuan. Terima kasih juga pada para muhsinin..yang telah memberikan bantuannya,” pungkasnya.

Ini adalah bantuan tahap 2 ALMUMTAZ setelah sebelumnya memberikan puluhan karung pakaian laik pakai, daleman, ratusan paket bahan makanan pokok, dll. ALMUMTAZ sendiri adalah gabungan ormas Islam dan pondok pesantren di Tasikmalaya yang diantaranya Front Pembela Islam, Majelis Mujahidin Indonesia, Jamaah Ansharusy Syariah, LPPU, FORSIL, FPIS, Jundullah ANNAS, Pengajian Asholeh, Pemuda Persis, Brigade Tholiban, Brigade Syuhada, Pondok Tahfidz Daarul Ilmi, Formassalam, Forum Me-DAN, dll.

Berikut rincian bantuan tahap ke 2 ALMUMTAZ Peduli Banjir Garut:
1. 1.152 pasang sepatu

2. 100 pasang sandal

3. 110 Air Mineral

4. 55 Dus Mie Instan

5. 15 Dus Mie Cup

6. 100 Stel Pakaian

 

Reporter: Aby Athifa

Hingga Saat Ini, 33 Korban Tewas Banjir Bandang Garut Ditemukan

GARUT (Jurnalislam.com) – Posko Penanggulan Bencana Garut hingga Ahad (25/9/2016) sudah menemukan 33 jenazah korban banjir bandang.

Komandan Kodim (Dandim) 0611 Garut sekaligus Komandan Posko Penanggulangan Bencana Garut, Letkol Arm Setyo Hani Susanto mengatakan, tim gabungan dari sejumlah instansi dan sukarelawan disebar di beberapa titik untuk melakukan pencarian. Pencarian terus dilakukan karena masih ada 20 orang yang dilaporkan hilang.

“Tanggap darurat hari kelima masih proritaskan pencarian korban yang hilang,” kata Letkol Arm Setyo dilansir Republika, Ahad (25/9/2016).

Ia menjelaskan, berdasarkan data terakhir yang dihimpun Posko Penanggulangan Bencana Garut, sudah ditemukan 33 orang korban banjir dalam keadaan meninggal. Tapi, dua korban di antaranya masih diidentifikasi identitasnya.

Ia berharap proses pencarian dapat segera berhasil menemukan warga yang dilaporkan hilang pascabencana. Letkol Arm Setyo mengatakan selain fokus pada pencarian korban hilang, anggotanya diperintahkan membantu membersihkan tempat yang penuh puing-puing bangunan rumah.

“Daerah mana saja yang banyak puingnya maka akan saya kerahkan banyak petugas untuk membersihkannya, termasuk kendaraan angkutannya,” ujarnya.

Bazda Sebagai Harapan Umat yang Kurang Mampu

SERANG (Jurnalislam.com) – Wakil Ketua II Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) Provinsi Banten, HM Supri Usman mengatakan, Banten sebagai provinsi dengan umat Islam besar sangat berpotensi menjadi ladang zakat.

“Luar biasa, Banten ini sangat berpotensi sekali. Umat Islam disini mayoritas dan sangat banyak, fanatik dengan agamanya. Hanya saja perlu dipahamkan kembali tentang aturan main,” katanya kepada jurniscom saat ditemui kantornya, Jl. Veteran No. 31 B Serang, Kamis (22/9/2016).

Menurutnya, untuk mencapai hasil yang maksimal, pemda harus ikut untuk membantu mensosialisasikan program-program Bazda.

“Pemerintah kurang melakukan komunikasi yang persuasif dengan masyarakat sehingga masyarakat kurang senang. Sebenarnya masyarakat butuh dan senang dipimpin, kami mengharapkan dapat terpilih pemimpin yang mendukung program zakat yang sangat dibutuhkan bagi umat,” ujarnya.

Supri mengaku telah menyalurkan zakat dalam berbagai bidang, salah satunya dalam pendidikan. Bazda Provinsi banten telah memberikan jaminan pendidikan kepada tujuh orang dari berbagai wilayah untuk mengenyam bangku kuliah.

“Kami konsen di pendidikan karena dengan pendidikan masalah kemiskinan dapat teratasi. Kami juga melakukan bedah rumah di 8 daerah serta menyantuni 100 aki-aki dan nini-nini (jompo-red) yang sudah tidak punya keluarga,” terangnya.

Selain itu, Bazda juga menyalurkan zakatnya kepada para narapidana di salah satu LP di Banten. “Kemarin pada saat bulan ramadhan, saya disuruh pimpinan untuk ke salah satu penjara. Saya Tanya mereka mau tidak untuk menerima fitrah, mereka mau menerima 30 ribu, saya kasih uang seneng mereka. Dikasih sarung juga untuk solat ied,” ungkapnya.

Bazda Provinsi Banten menargetkan 100 Milyar pertahun, namun tahun lalu Bazda Banten baru mampu mengumpulkan 30 Milyar.

“Bazda sangat diharapkan bagi umat tidak mampu disini. Mulai dari kesehatan hingga pendidikan. Untuk itu melalui surat-surat kami sampaikan kepada kaum muhsinin. Pedagang hingga anggota dewan harus diajak untuk membiasakan memberi,” pungkasnya.

 

Ratusan Jama’ah Jum’at Masjid An Nur Ngasinan Nikmati Makan Siang Gratis dari MDS

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Warung Ikhlas ‘Melangkah Dengan Sedekah’ (MDS) membagikan 150 paket makan siang kepada jemaah Shalat Jum’at di Masjid An Nur Ngasinan, Grogol, Sukoharjo, Jum’at (23/9/2016).

Joko Widodo selaku imam dan khotib Masjid An Nur mengatakan, bahwa warga Ngasinan yang dulunya bergulat dengan premanisme dan kemiskinan, sekarang telah berubah. Banyak penduduk mulai sadar pentingnya beragama Islam secara benar dan beramar makruf nahi munkar.

“Alhamdulillah ini bagus, menjadi kesadaran untuk memakmurkan masjid, semoga MDS bisa terus eksis dengan program amal ini. Sekarang disini sudah pada sadar untuk beribadah secara benar,” ucap Joko.

Ketua MDS, Pak Jack mengatakan, kedatangan MDS untuk mendukung dakwah para aktivis masjid. Pak Pihaknya juga menyatakan kesiapannya jika ada permintaan ikhwan yang menginginkan kehadiran MDS.

“Kita siap jika ada ikhwan yang meminta kita datang demi mengokohkan perjuangannya mendakwahkan Islam di lingkungannya. Dengan bersedekah makan siang kita siap bakti sosial di tempat muslim yang minus. Tujuannya agar mempererat ukhuwah sesama muslim,” ujarnya.

Nampaknya, jumlah makan siang yang dibawa MDS melebihi target jama’ah yang hadir. Dengan sigap salah satu anggota MDS membagikannya kepada warga sekitar.

Dikhitan, Lucas Senyum Bangga Menjadi Muslim Sempurna

MENTAWAI (Jurnalislam.com) – Lucas ( 27 tahun) sumringah. Sebagai laki-laki, Ia baru saja menyempurnakan keislamannya. Lucas baru saja dikhitan oleh tim medis Islamic Medical Service (IMS).

“Alhamdulillah lega rasanya setelah dikhitan. Sebagai laki-laki sempurnalah ke-islaman saya karena telah mengikuti salah satu kewajiban yang dicontohkan Nabi. Semoga dengan khitan ini semakin sehat dan mantap keyakinan saya,” ujar Lucas seusai dikhitan, Sabtu (17/9/2016) silam.

Lazimnya bagi laki-laki Muslim, dikhitan biasanya dilakukan saat usia anak-anak atau remaja. Namun, Lucas yang dikhitan pada usia dewasa ini, bukan karena Ia menunda-nunda dikhitan. Melainkan Lucas adalah seorang mualaf. Ia baru memeluk Islam pada 2014 lalu.

Lucas yang setelah berislam berganti nama menjadi Sulaiman ini adalah warga pedalaman Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat yang hidup dibawah garis kemiskinan. Sehingga, meski sudah bersyahadat dua tahun lalu, baru saat ini Ia dikhitan. Lucas tidak memiliki uang untuk menyegerakan khitan.

Kehadiran tim IMS yang menggelar khitan massal gratis disambut gembira oleh Lucas dan puluhan mualaf Mentawai lainnya.
IMS menyelenggarakan khitan massal di Kepulauan Mentawai adalah untuk kesekian kalinya.

Kegiatan khitan massal kali ini dirangkai dengan momen kegiatan Idul Adha 1437 Hijriah. Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama IMS dan Yayasan Sosial dan Dakwah Mentawai yang didukung penuh oleh Mandiri Amal Insani (MAI).

Ustadz Irwan Rahman, Ketua Yayasan Sosial dan Dakwah Mentawai mengucapkan terima kasihnya kepada berbagai pihak yang turut membantu memikirkan kesehatan para muallaf di Pedalaman. Beliau berharap kerjasama seperti ini bisa terus dilakukan, karena masih banyak para pria mualaf di Kepulauan Mentawai yang belum dikhitan.

“Belum lama ini 26 KK telah bersyahadat, mereka semua butuh pendampingan dan bimbingan agar paham dengan Islam yang benar. Sudah bisa dipastikan bahwa para prianya belum dikhitan. Didata kami ada sekitar 75 mualaf yang belum dikhitan dan jumlah ini akan terus bertambah,” jelas Ustadz Irwan.

Sementara itu, IMS juga mendistrubusikan hewan kurban ke sejumlah daerah Pada tahun ini ada 4 lokasi pedalaman yang mampu dijangkau oleh IMS. Diantaranya adalah Papua, Mentawai, NTT dan Mahakam Ulu. Selain ke empat lokasi tersebut, hewan kurban juga didistribusikan ke Parung Panjang Bogor, Jawa Barat.

Adapun kegiatan yang akan dilakukan dalam waktu dekat adalah khitanan massal mualaf pedalaman di Mahakam Ulu. Kegiatan ini dalam rangka menyambut Tahun Baru 1438 Hijriyah, sudah terdaftar 200 peserta mualaf.

Bappenas Incar Dana Zakat, Bazda Provinsi Banten: ‘Tidak Sekarang’

SERANG (Jurnalislam.com) – Rencana Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro, menggunakan dana zakat umat untuk program pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan dikritisi oleh sejumlah pihak.

Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) Provinsi Banten, melalui wakil ketua II HM Suri Usman mengatakan, rencana Bappenas itu terkesan terburu-buru dan tidak melihat kondisi Badan Amil Zakat di daerah-daerah.

“Pada dasarnya kami setuju dengan program tersebut. Hanya waktunya panjang, tidak untuk sekarang, ini masih sangat jauh. Butuh langkah yang pasti untuk diterapkan,” katanya kepada jurniscom saat ditemui di Kantor Bazda Provinsi Banten, Jl. Veteran No. 31 B Serang, Kamis (22/9/2016).

Pimpinan SMK Walisongo Pandeglang itu menilai, Bazda tidak bermasalah jika Bappenas melirik dana zakat untuk pengentasan kemiskinan, tapi harus dibuat perarturan yang jelas.

“Jika tidak didukung dengan regulasi yang jelas dan terarah kita juga resikonya berat. Berhadapan dengan audit, syariah dan perbankan yang diatur oleh kementerian keuangan. Aturan harus jelas karena masalah uang ini sensitif,” ucapnya.

Suri mengatakan, dalam acara Seminar Nasional Baznas bulan lalu di Museum Nasional, Ketua Bappenas, Bambang Brodjonegoro menyinggung soal penggunaan dana zakat untuk program pengentasan kemiskinan. Suri menilai pemaparan Bambang waktu itu cukup bagus karena menyangkut umat secara nasional. Akan tetapi, untuk menyukseskan rencana pengentasan kemiskinan melalui zakat ini harus direalisasikan dengan benar dan terarah.

“Estimasi jika umat Islam Indonesia yang mampu untuk berzakat sebesar 217 Triliun, sebuah nilai yang besar untuk menyukseskan pengentasan kemiskinan. Tapi sosialisasi untuk umat saja kita belum mampu, bagaimana untuk skala nasional?” cetusnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, asas kemiskinan sendiri adalah kurangnya pendidikan umat sehingga tidak dapat bersaing, berujung kepada kemiskinan.

“Itu adalah tugas negara untuk mencerdaskan masyarakat, tanpa pendidikan “No”. Umat manusia harus diselamatkan, jangankan manusia kucing mati kelaparan dosa pemiliknya,” pungkasnya.