Novel Baswedan dalam Pusaran Benang Kusut Kekuasaan

JURNALISLAM.COM – Ba’da subuh tepatnya 3 hari lalu publik dikejutkan kejadian yang begitu memilukan, salah satu anak terbaik bangsa harus merasakan sakit yang sungguh luar biasa akibat perbuatan teror biadab yang dilakukan oleh dua pelaku misterius atas titah sang majikan. Peristiwa ini menambah deretan kado pilu negeri ini di tengah miskinnya nilai integritas serta kejujuran yang melanda para elit kekuasaan.

Novel Baswedan merupakan Penyidik KPK yang berdedikasi tinggi, berintegritas yang dikapasitaskan sebagai musuh oleh para koruptor. Perlu kita akui rentetan kasus korupsi besar yang melibatkan para elit pemangku kebijkan berhasil diungkap dan diseret ke meja pesakitan. Dan baru-baru ini publik pun dikejutkan dengan skandal mega proyek E-KTP. Novel Baswedan terlibat dalam penanganan kasus tersebut.

Hingga saat ini, proses kasus masih bergulir, secara politik tentu begitu mengancam bangunan kekuasaan yang sudah dibangun oleh penguasa dan para kompradornya. Para kader partai penguasa yang hari ini berada dalam tampuk elit kekuasaan eksekutif maupun legislatif diindikasi terlibat dalam skandal mega proyek tersebut. Tidak usah sebut nama, publik pun tahu siapa saja pejabat yang terlibat dalam pusaran skandal tersebut.

Proses penyidikan kasus yang ditangani Novel Baswedan akan membuka kotak pandora yang selama ini terkunci rapat. Tentu jika kasus ini dibuka secara terang benderang akan meruntuhkan wibawa kekuasaan. Hadirnya KPK, terlepas dari pro dan kontra mampu menjadi oase di tengah keringnya pengananan korupsi yang begitu massif.

Lembaga anti rasuah ini menjadi lebih populer di hadapan public. Kinerja KPK dalam melumpuhkan para koruptor terbukti ampuh dibanding lembaga penegak hukum lainya terutama yang memiliki anggaran besar tetapi tidak mampu menuntaskan penanganan skandal kasus besar. Maka tidak heran ketika ada wacana pembubaran KPK, revisi UU KPK yang berujung pada pelemahan KPK, ini merupakan strategi mereka untuk menjaga stabilitas kekuasaan. Sebab KPK dianggap sebagai “kuda troya” alat kontrol kekuasaan paling efektif yang disinyalir akan menghancurkan kekuasaan dari dalam. Tetapi gelombang perlawanan publik yang masif masih mengokohkan posisi KPK sampai detik ini.

Mengaitkan teror yang dialami Novel Baswedan dengan kasus-kasus besar yang ditanganinya tidaklah mutlak menjadi salah. Sebab sudah banyak contoh kasus serupa di negeri ini yang polarisasi pembungkamannya memiliki kesamaan, ketika penanganan kasus-kasus besar yang ada irisan dengan penyelenggara kekuasaan dipaksa berhenti dengan cara konspiratif maupun represif, konspiratif dengan cara mengkriminalisasi dengan kasus yang tidak objektif.

Kalau cara ini tidak mempan, maka strategi refresif dilakukan dengan cara melukai bahkan menghilangkan nyawa. Dua strategi ini sudah dirasakan oleh Novel Baswedan. Maka penanganan kasus ini tidak cukup hanya dengan empati para elit kekuasaan. Agar kasus ini menjadi happy ending, aparat penegak hukum harus berani mengungkap aktor intelektual di balik kasus teror yang menimpa Novel Baswedan.

Meminjam kalimat bangsawan Inggris, Lord Acton: Power Tend to corrupt: kekuasaan cenderung korup. Kutipan tersebut kiranya menjadi gambaran dengan apa yang mendera negeri ini. Penyalahgunaan kekuasaan lazim dilakukan untuk melanggengkan kekuasaan, tindakan teror terhadap Novel Baswedan merupakan fenomena de javu yang tak pernah jelas ujung penanganannya. Kasus-kasus serupa sebelumnya selalu menggantung tanpa ujung.

Tragedi ini merupakan pesan ancaman dari para penjaga kekuasaan bagi mereka yang menganggu aktivitas persekongkolan jahatnya. Sebab mereka sadar membangun kekuasaan menghabiskan materi dan energi yang luar biasa besar. Maka si empunya kekuasaan beserta para sengkuninya akan habis-habisan menjaga kekuasaan dengan menghalalkan cara apapun.

Rekam jejak sejarah telah membuktikan, tatkala kekuasaan dibangun atas pijakan khianat maka akan menjadi bom waktu yang meruntuhkan kekuasaan tersebut. Kiranya para pemimpin negeri serta para penyelenggara kekuasaan patut merenungkan pesan Nabi SAW akan ancaman bagi pemimpin yang dzalim terhadap rakyatnya,

“Barangsiapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Wallahu a’lam.

 

Bela TGB, Ribuan Umat Islam Tumpah Ruah di Islamic Center Mataram

MATARAM (Jurnalislam.com) – Kasus penghinaan setelah terhadap Gubernur NTB mendapat respon keras dari umat Islam di Mataram. Ribuan massa Aliansi Umat Islam NTB pada hari Jum’at (14/4/2017) berkumpul di Islamic Center Mataram usai shalat Jum’at mengecam penghinaan oleh Steven Hadisurya Sulistya kepada Gubernur NTB, TGB. M Zainul Majdi.

Meski SHS telah mengakui kesalahan dan melayangkan permohonan maaf kepada TGB, namun aksi ribuan massa Aliansi Umat Islam itu untuk menunjukkan bahwa umat Islam senantiasa menjaga marwah para ulama.

“Ini soal marwah dan kewibawaan pemimpin kita apalagi beliau seorang ulama. Boleh beliau memaafkan pelaku, tetapi tetap harus diproses hukum dan kita tidak boleh tinggal diam,” kata ketua AUI NTB, Deddy AZ sebagaimana dilansir suaranw.

Sebelumnya masyarakat Indonesia, khususnya warga Nusa Tenggara Barat (NTB) dibuat geram dengan kejadian tak mengenakkan yang dialami oleh ulama’ sekaligus Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi yang mendapatkan umpatan kasar dari seorang pengusaha muda bernama Steven Hadisurya Sulistyo. Peristiwa ini terjadi saat Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi ini melakukan atrian di Bandar Udara Changi, Singapura pada 9 April 2017 lalu.

Dimana Steven Hadisurya Sulistyo yang merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia itu mengeluarkan makian dan umpatan yang sangat tidak etis kepada Gubernur yang hafal Al Qur’an tersebut. Diawali salah paham antrian di bandara, Steven Hadisurya Sulistyo terus memaki-maki Muhammad Zainul Majdi. Bahkan setelah tahu yang dia maki adalah seorang gubernur, namun Steven terus melakukan penghinaan.

Reporter: Sirath

Penutupan STQ Ke-15 Jabar, Aher Ajak Masyarakat Jadikan Al Qur’an Sebagai Pedoman Hidup

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heriawan (Aher), resmi menutup penyelenggaraan Seleksi Tilawatul Qur’an (STQ) ke-15 tingkat Provinsi Jawa Barat pada Kamis (13/4/17) malam, di Plaza Pusdai Bandung. Penutupan dilakukan dengan prosesi pemukulan bedug.

Dalam kesempatan itu, Aher berpesan agar Al Qur’an dijadikan sebagai pedoman hidup umat Islam untuk melahirkan generasi-generasi terbaik.

“Kita berharap pada momentum ini kita bisa menjadikan Al Quran sebagai rujukan pedoman hidup, karena kalau Al Qur’an sudah dijadikan pedoman hidup, maka insha Allah akan melahirkan generasi-generasi terbaik yang memiliki moral baik,” kata Aher kepada wartawan.

Hasil STQ ke-15 ini melahirkan 72 orang juara dari 6 kategori yang dilombakan. Juara terbaik I/II/II akan mendapat pembinaan sebelum nantinya mewakili Jawa Barat pada STQ nasional yang akan dilaksanakan di Provinsi Kalimantan Utara mendatang. Ahmad Heriawan juga memberikan hadiah paket umroh pada empat orang qori dan qoriah melalui nama yang ditentukan. Hal tersebut dilakukan untuk menambah semangat pada peserta yang telah menjadi juara.

Juara terbaik I/II/III nantinya akan mendapat pembinaan terlebih dahulu sebelum berlaga di tingkat nasional. Pembinaan ini akan mulai dilakukan oleh panitia seleksi sebelum memasuki bulan Ramadhan nanti.

“Insha Allah sebelum memasuki bulan Ramadhan kita suda akan mulai pembinaan,” jelas Dadi Iskandar selaku ketua panitia STQ ke 15 kepada wartawan.

Berikut ini daftar pemenang STQ ke-15 Provinsi Jawa Barat. Dari enam kategori yang dilombakan melahirkan 72 orang juara, terdiri dari juara terbaik I/II/II sebanyak 36 orang dan juara harapan I/II/II sebanyak 36 orang.

Dari hasil yang diumumkan, menghasilkan juara terbaik I sebagai berikut: Juara Harapan I Qori anak-anak atas nama Ma’bad Maula dari Kabupaten Bandung Barat. Untuk qoriah, Nadia Nur Fatimah dari Kota Bandung. Golongan dewasa, untuk Qori, diraih Suryadi Suryanulloh dari Kota Bandung, sedangkan qoriah diraih Syifa Aulia dari Kota Tasikmalaya. Untuk cabang musabaqoh hifdzil qur’an 1 juz, pada Muhammad Faisal Fadhil dari Kota Bandung, dan untuk hafidzah, Dini Kurniati dari Kabupaten Pangandaran.

Untuk 5 juz, hafifz, M. Tsabit Banani dari Kabupaten Cianjur, hafidzah, Fara Maftuhah dari Kabupaten Bekasi. Untuk 10 juz: hafidz, M. Nabil Haqqi Maulana, untuk Hafidzah, Binta Zakiya dari Kabupaten Bandung. Untuk 20 juz; Hafidz, H. Moh. Mafruf Baidhowi dari Kabupaten Sukabumi, untuk hafidza, dari Kabupaten Tasikmalaya. Untuk hafidz 30 juz: hafidz, Hadian Akbar dari Kabupaten Bandung, hafidzah, Idah Saidah dari Kabupaten Indramayu.

Pada cabang mufasir Bahasa Arab jatuh pada Mifthah Farid dari Kota Bandung dan mufasiroh diraih oleh Ulfiarurrohman Azizah dari Kota Cimahi.

Reporter: Saifal

Rangkaian Kegiatan ‘Subuh Ukhuwah’ Diikuti Ratusan Warga Desa Cemani

SOLO (Jurnalislam.com) – Forum Silaturahmi Komunikasi Antar Masjid Cemani (FOSIKOM) bekerja sama dengan ‘Melangkah Dengan Sedekah (MDS), dan Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-DAN) menggelar kegiatan Subuh Ukhwuah di masjid Baitussalam, Sukoharjo, Jumat (14/4/2017). Acara yang dihadiri ratusan umat Islam Soloraya ini diawali dengan shalat subuh berjamaah dan dilanjutkan dengan sarapan bersama serta pengobatan gratis untuk masyarakat sekitar.

“Dengan mengadakan subuh berjamaah yang dirangkai dengan tausyiah dan pengobatan gratis ini, kami berharap ukhwuah untuk masyarakat sekitar ini dapat berjalan rutin, dan semoga dengan ukhwuah ini yang Insya Allah kita lanjut ke masjid-masjid sekitar Cemani khususnya dan bisa menular ke tempat lain dan menjadikan kita, umat Islam kuat, membahana serta menggentarkan musuh-musuh Allah,” kata Perwakilan MDS, Abu Adam Al-Banna kepada Jurniscom di sela-sela kegiatan.

Sementara itu, Ustadz Widiasih dari Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki, dalam tausyiahnya menyampaikan tentang pentingnya shalat berjamaah terutama shalat subuh. Ia menjelaskan, berjamaah shalat subuh akan menjadi sumber kekuatan bagi umat Islam.

“Shalat berjamaah sangat ditekankan oleh Rasulullah, baik dalam kondisi damai maupun kondisi konflik (perang-red). Bahkan Rasulullah pernah memberikan ancaman bagi para pemuda yang tidak shalat berjamaah dengan membakar rumahnya, dan umat Islam tidak akan bisa dikalahkan apabila shalat subuhnya sama dengan shalat jum’at,” paparnya.

Kegiatan juga diisi dengan pemeriksaan kesehatan gratis dari tim Forum Me-Dan. Puluhan warga diperiksa kesehatannya, mulai dari tensi darah, cek gula darah dan asam urat.

“Kami berterima kasih bisa berpartisipasi dalam subuh ukhwuah ini, dan kami Me-DAN akan terus mengikuti roadshow gerakan subuh berjamaah atau subuh ukhwuah ini,” kata Sekjen Forum Me-DAN Soloraya, Muhammad Nahar.

Reporter: Arie Ristyan

Keterangan Saksi Meringankan, Ranu Muda Berharap Majelis Hakim Bijaksana

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Wartawan Panjimas.com, Ranu Muda Adi Nugroho berharap Majelis Hakim bersikap bijaksana setelah mendengarkan keterangan para saksi. Pernyataan itu disampaikan usai menjalani sidang lanjutan kasus nahi munkar di Kafe Social Kitchen di Pengadilan Negeri Semarang, Kamis (13/4/2017) siang.

Dalam persidangan, keterangan saksi bisa disebut meringankan para terdakwa. Pasalnya, tak satu pun dari mereka yang melihat para terdakwa melakukan pelanggaran yang didakwakan Jaksa Penuntut Umum (JPU), yakni perusakan dan penganiayaan.

Alhamdulillah, saksi menyebutkan tidak mengetahui kami melakukan pelanggaran yang didakwakan oleh jaksa penuntut umum, baik perusakan dan penganiayaan itu sendiri,” kata Ranu kepada Jurniscom di PN Semarang.

Endro Sudarsono: Keterangan Saksi Meringankan Kami

Oleh sebab itu, Ranu berharap Majelis Hakim dapat bersikap bijaksana dan mempertimbangkan kembali tuntutan JPU.

“Saya berharap hakim berlaku bijak, sebab dari keterangan beberapa saksi, tidak ada satupun saksi mengatakan kami terbukti melakukan pelanggaran,” tuturnya.

Reporter: Agus Riyanto

Endro Sudarsono: Keterangan Saksi Meringankan Kami

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Sidang lanjutan kasus nahi munkar di Kafe Social Kitchen dengan terdakwa para tokoh Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) dan seorang wartawan Panjimas.com, kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Kamis (13/4/2017).

Agenda sidang mendengarkan keterangan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU). Ada 4 saksi yang dihadirkan, diantaranya Purwoko seorang polisi, Supardi S.H dari Polsek Banjarsari, Reni Oktavia karyawati Social Kitchen, dan Junaidi Rahmat Manager Social Kitchen.

Semua keterangan saksi menyatakan bahwa para pengurus LUIS tidak terlibat perusakan maupun penganiayaan seperti yang dituduhkan oleh JPU. Hal itu seperti yang disampaikan Manager Social Kithcen Solo, Junaidi Rahmat.

“Saya tidak melihat mereka (terdakwa) melakukan kekerasan,” ungkapnya.

Pernyataan itu juga diperkuat oleh keterangan saksi lainnya, Supardi, dari Polsek Banjarsari. Supardi mengatakan, LUIS selalu berkoordinasi dengan kepolisian setiap kali akan melakukan kegiatan amar ma’ruf nahi munkar dan tidak terlibat dalam perusakan di Kafe Social Kitchen Solo.

“Jika melakukan aksi pasti berkoordinasi dengan polisi. Mereka (LUIS) tidak terlihat melakukan tindakan apapun,” katanya.

Mendengar keterangan saksi tersebut, Humas LUIS Endro Sudarsono yang merupakan salah satu terdakwa, menyatakan keterangan saksi meringankan.

“Saksi itu menyampaikan bahwa kita tidak berbuat, mereka tidak mengetahui tentang apa yang dituduhkan oleh jaksa baik penganiayaan maupun pengrusakan. Dan itu jelas meringankan kami,” ujarnya kepada Jurniscom usai sidang.

Reporter: Agus Riyanto

Habib Rizieq Bagikan ‘Amunisi’ di Masjid Sunan Ampel Surabaya

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Meski sempat mendapat penolakan dari sekelompok orang, Tabligh Akbar Habib Rizieq Shihab di Masjid Sunan Ampel Surabaya, Selasa (11/4/2017) malam berlangsung lancar. Dalam kesempatan itu, Imam besar Front Pembela Islam (FPI) itu membagikan ‘amunisi’ bagi umat Islam Surabaya.

“Sebelum saya akhiri, saya akan membagikan satu amunisi untuk Anda semua,” kata Habib.

Ketua Pembina GNPF-MUI itu kemudian membacakan firman Allah dalam Surat An Nisa ayat 104:

Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu rasakan, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.”

Habib menjelaskan, ayat tersebut menyeru agar umat Islam tidak merasa lemah dalam mengejar dan menghadapi musuh.

Lebih lanjut, Habib Rizieq menegaskan bahwa melalui ayat ini Allah membongkar rahasia musuh. Yakni, jika umat Islam merasa sakit saat melawan musuh, musuh-musuh Islam juga merasa sakit.

“Allah memberi tahu, kalau kita sakit melawan musuh, musuh lebih sakit dari kita. Kita pusing, musuh lebih pusing. Kita pusing mikir musuh, musuh lebih pusing lagi. Kadang-kadang kita bergetar sedikit takut kepada musuh, musuh lebih takut dari kita, sampai terkencing-kencing,” tegasnya.

Namun, kata dia, perbedaannya adalah umat Islam mempunyai harapan untuk dapat ridha Allah dan surga Allah, sedangkan musuh-musuh Islam tidak.

Reporter: Yan Aditya

Kepada Aktivis Media Ranu Muda Berpesan Untuk Terus Lakukan Kaderisasi

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Wartawan Panjimas.com yang menjadi pesakitan dalam kasus perusakan Social Kitchen, Ranu Muda Adi Nugroho, berpesan agar aktivis media terus melakukan pengkaderan. Pesan itu disampaikan kepada Jurniscom sehari sebelum persidangan keempatnya, Rabu (12/4/2017).

Menurutnya, peran media Islam sangat penting dalam menyampaikan kabar kondisi umat Islam di belahan dunia lain yang sedang didzalimi.

“Kita harus menyebarkan berita secara imbang, kita masih minim berita Islam padahal kita tahu kabar Rohingnya, Suriah dan lainnya,” tuturnya.

Oleh sebab itu, ia mengimbau kepada para aktivis media untuk terus mencetak kader-kader baru jurnalis-jurnalis Islam dengan menggelar daurah-daurah jurnalistik.

“Begitu pentingnya media islam saat ini, kami berharap kepada teman-teman untuk lebih giat dalam menulis berita dan mengadakan daurah jurnalistik,” ujarnya.

Dalam kasus perusakan Kafe Social Kitchen, Ranu Muda dituding sebagai propagandis dalam aksi penggerebekan kafe tersebut. Padahal saat itu ia sedang melakukan tugas peliputan. Ranu ditangkap pada Kamis (22/12/2016) dini hari di rumahnya, Ngasinan RT 03/04, Desa Kwarasan, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Reporter: Arie Ristyan

Ketua LUIS: Jangan Patah Semangat, Ini Resiko Perjuangan

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Para tokoh Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) pada Rabu (12/4/2017) dibesuk perwakilan sejumlah elemen umat Islam di Surakarta dari Jamaah Ansharusy Syariah, anggota LUIS dan Al Islah . Kedatangan mereka untuk memberi dukungan moral kepada para aktifis nahi munkar yang saat ini ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kedungpane Semarang.

Pada kesempatan itu, perwakilan JAS, Mursidi, berharap para anggota tokoh LUIS dan Ranu Muda yang menjadi pesakitan dalam kasus sosial kitchen itu segera dibebaskan. Menurutnya, LUIS adalah ormas yang dalam aksinya selalu mengedepankan prosedur hukum yang berlaku.

“Kami berharap mereka segera divonis bebas, karena mereka tidak melakukan perusakan dan penganiayaan. Selama ini LUIS selalu melalui prosedur dalam beramar ma’ruf nahi mungkar dan di Sosial Kitchen itu mereka hanya memberikan surat peringatan,” terangnya kepada Jurniscom di Semarang, Rabu (12/4/2017).

Disela-sela kunjungan, Ketua LUIS, Edi Lukito berpesan kepada umat Islam khususnya di Surakarta, bahwa apa yang saat ini dialami oleh para tokoh LUIS adalah resiko bagi orang yang berjuang menegakan kebenaran.

“Jangan patah semangat, amar ma’ruf nahi munkar harus tetap diadakan, resiko itu pasti ada dan justru dengan resiko itu kita lebih bersemangat,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, sebanyak 12 orang aktivis amar ma’ruf nahi munkar beserta satu orang wartawan media Islam menjadi terdakwa dalam kasus perusakan Kafe Social Kitchen Solo. Mereka dituding terlibat dalam perusakan kafe yang pernah digruduk LUIS karena menyajikan tarian striptis dan kerap melanggar jam malam itu.

Reporter: Arie Ristyan

Ustadz Iim Ba’asyir: Video Kampanye Ahok Menunjukkan Siapa Dia Sebenarnya

Sebar Video Kampanye Kontroversial, Ahok Dinilai Blunder

SOLO (Jurnalislam.com) – Terkait tersebarnya video kampanye Ahok, Juru bicara Jama’ah Ansharusy Syari’ah, Abdul Rochim Ba’asyir menilai itu adalah tindakan blunder. Pria yang karib disapa Ustadz Iim ini mengatakan, video tersebut telah membuka kedok Ahok yang sebenarnya.

“Video itu membuka kedok Ahok dan barisannya, yang sebenarnya adalah kaum rasis yang sangat suka perpecahan dan dan suka memprovokasi kepada bangsa ini,” katanya kepada Jurniscom, Senin (10/4/2017).

Ustadz Iim menjelaskan, video itu bertujuan untuk membeda-bedakan etnis mengunggulkan satu etnis tertentu.

“Islam mengecam tindakan seperti ini di dalam Al Qur’an dan kemanusiaan manapun tidak akan bisa menerima perlakuan perlakuan seperti ini, maka apa yang dilakukan ahok dan timnya dalam rangka mencari simpati malah ini menjadikan sebuah blunder dan menunjukan jati diri yang sebenarnya,” terangnya.

Selain itu, video kampanye itu juga menjadi bukti bahwa Ahok mengunakan segala cara untuk memenangkan pilkada DKI. Oleh sebab itu, kata dia, masyarakat Jakarta harus mewaspadai calon pemimpin seperti Ahok yang selalui menuai kontroversi dan memecah persatuan bangsa.

“Saya yakin 1000% Ahok akan melakukan kecurangan pada upaya dia untuk memenangkan dirinya dalam pilkada kali ini, karena dia sudah menyatakan diri dan sudah terlihat saat ini dengan kampanye dengan cara-cara jahat,” paparnya.

Seperti biasanya, putra bungsu Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ini mengingatkan umat Islam Indonesia untuk kembali kepada Al Qur’an dan selalu dekat dengan Allah dan para ulama.

“Yang jelas umat Islam harus kembali pada AL-Qur’an, kembalilah pada para ulama-ulama yang ikhlas, agar anda semua selamat dan bahkan bangsa dan negeri ini selamat,” pungkasnya.

Reporter: Arie Rystian